![]() |
| Bingungnya Meta diantara temannya (TMDB). |
Sekarang ada film horor yang berbeda dari Nusantara, yaitu berjudul Kamu Harus Mati, yang tayang di sinema Indonesia dengan rating R13 alias Remaja. Walau terdengar aneh judulnya, ternyata film ini menggambarkan tentang kesehatan mental yang tercampur dengan efek horornya.
Kesehatan Mental vs Raga di Film Horor Psikologis
Sebelum membahas film yang sangat terlihat efek halusinasinya, terlebih dahulu perlu dicek mengenai masalah utama yang dikemukakan. Dalam film ini tergambar kisah halusinasi, terlebih saat kesehatan mental sedang menurun. Walau begitu, karena penulis bukanlah dokter, maka akan ditelaah dengan sederhana, demi menjaga keabsahan pendapat.
Dalam cuplikannya terlihat, bahwa tokoh utamanya sering mengalami mimpi buruk. Lalu dilanjutkan dengan banyaknya halusinasi mengerikan, dari pandangan dirinya. Namun, momen halusinasi horor terjadi saat tidak ada karakter lain, dan hanya mencakup momen dari satu sudut pandang saja. Berarti, kisah emosional dan psikologis dari tokoh utamanya, adalah akibat kesehatan mentalnya.
Sub-genre ini memang sempat muncul di perfilman dunia, khususnya dari Eropa dan AS. Film horor psikologis kurang menggambarkan kengerian dari segi supernatural dan paranormal ala kisah mistis, atau sadis ala film monster dan psikopat. Justru lebih banyak diisi adegan dari satu sudut pandang saja, yaitu dari tokoh utamanya yang terjebak halusinasi, panik, atau berbagai jenis emosi lainnya.
Sayangnya, karena lebih mementingkan akting dan atmosfer horornya saja, film seperti ini jarang diadaptasi oleh studio. Namun, karena kesehatan mental adalah sisi psikologis yang seringkali membebani warga, jenis sub-genre film ini kadang bermunculan di dunia sinema.
Contoh terakhirnya adalah dari studio film horor terkenal bernama A24, berjudul Lamb (2021). Demi menghilangkan rasa sedih setelah kehilangan anaknya, tokoh utamanya yang berperan sebagai ibu rumah tangga, perlu mengasuh seekor anak kambing. Bahkan, sang kambing diasuh layaknya anak sendiri, lengkap dengan kamar serta pakaiannya. Film ini kurang terlihat efek horornya, melainkan fokus pada dinamika paradoks dalam hubungan aneh tersebut.
Masih banyak contoh film dari A24 yang menggambarkan film horor psikologis, karena studio ini memang khas dengan sub-genre tersebut. Apalagi disandingkan dengan arahan sinematografi ala studio ini, yang seringkali membuat adegan biasa menjadi sangat merinding, padahal tidak terlihat begitu mengerikan.
Nah kembali ke kesehatan mental, justru ada satu pendapat penulis yang lebih sederhana dan bisa diterapkan langsung. Yaitu jika seseorang mengalami emosi berlebih atau masalah mental, tanpa ada faktor signifikan dari luar (ekstrinsik), maka lebih baik dicek terlebih dahulu ragawinya (fisiologis).
Contohnya adalah saat seseorang sedang pilek akibat infeksi influenza. Wajarnya, dirinya sama sekali tidak merasa semangat, melainkan ngantuk dan lesu akibat perlu banyak istirahat. Justru jika merasa semangat saat pilek, berarti ada efek kelainan dari pikiran dan mental.
Jadi yang perlu diingat, tubuh berisi banyak reaksi biologis serta kimiawi, yang tentunya menentukan pula suasana hati. Banyak saran dari dokter pula, bahwa kondisi kesehatan raga (fisiologis) dan pola makan, akan berpengaruh langsung pada suasana hati seseorang.
Perlu diingat pula satu istilah Latin, yaitu 'mens sana in corpore sano,' yang berarti 'didalam raga yang sehat terdapat jiwa yang sehat pula.' Maka sebelum mulai berpikir dan mengeluarkan emosi yang aneh, akibat suasana hati tertentu, perlu ditelaah dahulu dari segi ragawinya. Apakah terdapat masalah infeksi penyakit, atau pola makan. Tidak seperti kisah aneh dari dunia mistis, dimana langsung mengacu pada banyak gangguan jurig.
Dan karena cuplikan Kamu Harus Mati (sekali lagi) tidak banyak menggambarkan plot serta adegan filmnya, perlu dijabarkan sederhana saja. Yaitu saat tokoh utama bernama Meta (Sahila Hisyam), yang baru saja kehilangan kekasihnya Sam (Leo Consul) akibat meninggal dunia.
Semenjak ditinggalkan, Meta seringkali mengalami mimpi buruk dan halusinasi, akibat trauma dan rasa kehilangan yang menimpanya. Saking seringnya, banyak visual yang dipandang matanya berisi kengerian tertentu. Contohnya adalah barang yang bergerak sendiri, atau mimpi yang semakin parah ngerinya.
Sisa dari kisah film ini pun bisa kurang ditebak, karena tercampur antara adegan nyata atau halusinasi Meta saja. Kelanjutan kisahnya tentu perlu dicek di sinema Indonesia.







Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.