Artikel Analisis untuk Film Nasional serta Internasional sebagai Akulturasi Budaya


Terbang Jauh Seantero Galaksi Bersama Film Star Wars: Mandalorian and Grogu

 

Grogu yang masih imut saja (TMDB).

Saatnya melanglangbuana ke luasnya antariksa, dalam film Star Wars: Mandalorian and Grogu. Film pertama dari serial Mandalorian ini kembali mengombinasikan duet pemburu bayaran dan bayi alien mirip Yoda, dalam satu kisah aksi yang heboh.

Film yang tayang di sinema Indonesia dengan rating umur R13 ini, melanjutkan kisah dari serialnya. Mungkin perlu menonton serialnya terlebih dahulu. Tetapi dari segi kisah, biasanya Mandalorian tidak banyak mengungkap plot utama. Jadi aksinya bisa dinikmati tanpa merasa kurang paham. Kisah Mandalorian memang berbeda dengan epiknya waralaba Star Wars, yang kini jumlah film utamanya telah mencapai 9 seri. 

Waralaba Star Wars yang Memulai Semuanya

Perlu diingat, bahwa waralaba Star Wars memulai ramainya kisah fantasi yang futuristik, dengan bumbu supernatural sejak tahun 1977 lalu. Judul pertamanya adalah Star Wars: Episode IV - A New Hope, yang dilanjutkan dengan Star Wars: Episode V - Empire Strikes Back pada tahun 1980, dan Star Wars: Episode VI - Return of the Jedi. Uniknya trilogi ini adalah dirilis mulai seri keempat, karena pada jaman tersebut teknologi yang dimiliki belum mencukupi dunia perfilman.

Film Star Wars menjadi pioner dunia perfilman Hollywood dengan dana yang besar, efek yang spektakuler, dan cerita yang fantastis. Tidak hanya sukses di sinema, trilogi awal ini berhasil meraih banyak penghargaan Oscar, yang melambungkan George Lucas sebagai sutradara dan penulis naskahnya. Seluruh film beserta kisah spin-off-nya, mencapai pendapatan hingga 10 Milyar AS, yang menjadi urutan ketiga sebagai film terlaris sepanjang masa.

Sejak trilogi awal dirilis, banyak studio mulai menciptakan film dengan efek spesial yang hebat, walau kisahnya tidak se-epik Star Wars. Seakan, waralaba ini menjadi inovasi yang memulai seluruh efek spesial bagi sinematografi, yang selaras dengan tujuan komersil yang tepat. 

Hampir dua dekade kemudian, prekuel kisah Star Wars dari episode satu hingga tiga pun dirilis. Dengan teknologi yang mumpuni, kisah kelanjutannya sangat dinanti oleh banyak penggemar, sehingga produksinya sukses di dunia perfilman. Star Wars: Episode I - The Phantom Menace (1999), Star Wars: Episode II - Attack of the Clones (2002), dan Star Wars: Episode III - Revenge of the Sith (2005) lalu menjadi kisah kesuksesan studio LucasFilm berikutnya.

Sementara trilogi terakhir berjudul Star Wars: Force Awakens (2015), Star Wars: The Last Jedi (2017), dan Star Wars: The Rise of Skywalker (2019) ikut sukses di sinema. Namun, banyak penggemar yang kurang suka dengan trilogi ini, akibat Disney selaku pemilik waralaba. LucasFilm memang dijual oleh George Lucas pada tahun 2012 lalu, sehingga dirinya kurang berandil pada seri terakhir.

Kembali ke Mandalorian, kisahnya tepat dimulai setelah Galactic Empire runtuh di episode enam, dengan kesuksesan Luke Skywalker sebagai Jedi. Serialnya yang dimulai tahun 2019 hingga 2023, lebih disukai oleh penggemarnya. 

Berbeda dengan kisah utama Star Wars yang fokus pada aksi Jedi, justru serial Mandalorian fokus pada pemburu bayaran bernama Din Djarin (diperankan oleh aktor terkenal Pedro Pascal), yang membasmi banyak kriminal serta sisa Galactic Empire. Kehadiran alien hijau kecil bernama Grogu pun menjadi animo tersendiri, karena ras yang mirip dengan Yoda ini jarang ditunjukan dalam film Star Wars.

Karena cuplikannya tidak banyak membuka cerita, serta lebih berisi adegan aksi yang memukau, jadi tidak perlu dibahas. Saksikan saja efek memukau dari satu waralaba film ini, yang memulai dunia perfilman hingga se-fantastis sekarang.

Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Mengenai Saya

Foto saya
Warga dan Narablog saja...

Total Tayangan Halaman

Daydreamer

Daydreamer

Label

Arsip Blog

Rekomendasi

Mengenal Luffy Sang Topi Jerami dari One Piece