Artikel Analisis untuk Film Nasional serta Internasional sebagai Akulturasi Budaya


Romansa Buaya Cinta Beda Spesies di Film Air Mata Buaya, atau Shaka Oh Shaka

 

Buaya oh buaya... (TMDB).

Sudah beberapa kali dibahas, penulis kurang memahami film Romansa yang terlalu buta cintanya. Namun di minggu pertama bulan Mei, dua film yang cukup memukau dan menggugah selera (sesuai judul) dirilis di sinema Indonesia. 

Film pertama yaitu Air Mata Buaya yang memiliki rating umur D17 (17 tahun keatas), dan berikutnya adalah Shaka Oh Shaka yang memiliki rating umur Remaja (R13). Keduanya adalah film ironis mengenai hubungan cinta pemuda-pemudi, yang (kadang) berujung (landasan teori) Toxic Relationship.

Film Air Mata Buaya alias Crocodile Tears

Untuk film yang (sangat) mengutamakan buaya cinta ini (harfiah), memang berlatar di sebuah penangkaran buaya. Kisahnya pun cukup miris, yaitu hanya dari tiga sudut pandang karakter saja.

Karakter pertama adalah Johan (Yusuf Mahardika), yang seumur-umur tinggal dan mengurus seluruh buaya ternaknya. Bersama Mamanya (Marisa Anita), Johan hidup dengan jauh dari ranah sosial biasa. Keduanya memang tertutup dan memilih sibuk sebagai peternak buaya, daripada bergosip-ria dengan tetangga.

Kabar yang beredar pun sama sekali tidak mengenakkan bagi kesan keduanya. Tetangganya tahu, bahwa sang ayah alias kepala keluarga Johan, hilang tiba-tiba pada suatu hari di masa lampau. Banyak yang bergosip miring, bahwa sang suami dibunuh oleh istrinya sendiri, akibat entah kenapa.

Memang dari segi keperibadian, Mama Johan terlihat aneh, selain gelagatnya yang kurang bersosialisasi. Demi menghapus kesedihan, dirinya menganggap buaya langka berwarna putih (albino) sebagai suami sejatinya, daripada harus mencari gerangan kemana suami aslinya yang (masih) berbentuk manusia.

Sementara Johan yang hidup terisolir, mulai memasuki umur dewasa. Di saat inilah, Johan berkenalan dengan gadis muda cantik bernama Arumi (Zulfa Maharani). Namun, kedekatan keduanya diketahui oleh Mama, dan langsung tidak disetujui. Johan dan Mama bahkan mengguyur badan dengan air buaya, agar terbersihkan dari gangguan dunia luar.

Memang film berlatar unik, walau romansanya tetap kentara ala hubungan keluarga Indonesia, sekaligus urusan pekerjaan yang berbeda nasib. Padahal dari segi sains, buaya tidak memiliki air mata sama sekali (!)

Idolaku, tetapi bukan Milikku semata... (TMDB).

Film Shaka Oh Shaka

Untuk urusan berbeda nasib, berikutnya adalah Shaka Oh Shaka yang diadaptasi dari novel hasil karya Jocelyn Suherman. Lucunya, film ini mengisahkan buaya lain yang sama eksotisnya, yaitu anggota band terkenal. Memang berbeda spesies, tetapi Buaya Cinta (BuCin) memang tiada habisnya.

Kisahnya diawali dengan perkenalan Ocel (Arla Ailani) bersama vokalis band pamor bernama Shaka (Kiesha Alvaro). Pertemuan keduanya dibalik panggung, dan seringnya Ocel mengikuti Intimate Concert bersama band-nya, menyebabkan keduanya saling tertarik. 

Shaka bahkan mengaku, bahwa hubungannya bersama kekasihnya saat ini yang bernama Violetta (Adzana Shaliha), adalah settingan saja alias hanya kesan di depan dan atas panggung. Selama ini dirinya ingin menapaki kisah cinta biasa, bersama gadis lainnya.

Ocel yang selalu terpukau pada Shaka, akhirnya merelakan dirinya sebagai kekasih simpanan. Bahkan selama lima tahun berlalu, Ocel memilih untuk tidak melanjutkan jenjang karir setelah lulus kuliah, demi kepentingan Shaka. 

Sayangnya, Ocel yang sudah tidak tahan disimpan (ala kucing dalam karung), akhirnya berinisiatif untuk move-on. Ocel mulai menolak kehadiran Shaka lagi, dan menjalin asmara dengan pemuda lainnya. Namun dirinya masih terasa terkejar oleh Shaka, yang selalu berada di sekitar dirinya.

Memang film yang beda nasib sekaligus beda spesifikasi Buaya Cinta-nya. Kisah Ocel yang ingin melanjutkan hidup ke arah yang lebih baik pun, terasa terhalangi oleh ego besar dari seorang idola, idaman para wanita diatas panggung.

Sanggupkah kedua cerita menyatukan romansa manusia yang sepadan? Padahal kedua cerita berbeda spesies yang tentu nasibnya pun beda jauh? Atau hanya kenangan evolusi mahluk semata yang membuaya ala bualan cinta baheula?

Jawabannya, tentu ada di sinema spesies Buaya Cinta ala bioskop Indonesia.

Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Mengenai Saya

Foto saya
Warga dan Narablog saja...

Total Tayangan Halaman

Daydreamer

Daydreamer

Label

Arsip Blog

Rekomendasi

Mengenal Luffy Sang Topi Jerami dari One Piece