Artikel Analisis untuk Film Nasional serta Internasional sebagai Akulturasi Budaya


Perlunya Ngakak Menghadapi Pesugihan Ala Film Sekawan Limo 2: Gunung Klawih

Juna yang sudah kembali ke alam sana (TMDB).

Untuk kesekian kalinya, sineas perfilman Indonesia pun mengombinasikan ranah komedi dengan kengerian nusantara, dalam film Sekawan Limo 2: Gunung Klawih. Film yang tayang mulai minggu depan di sinema Indonesia ini, memiliki rating R13 alias cocok dengan anomali para Remaja.

Film Pertama Sekawan Limo 

Perlu dicek terlebih dahulu, bahwa film Sekawan Limo memang banyak berisi bahasa Jawa. Jadi yang tidak mengerti, harus membaca terjemahan dibawahnya, seperti film berbahasa asing. Akting serta dialog Jawa yang kental, seakan film ini adalah Ketoprak Humor yang aneh, nyeleneh, serta khas istilah saklek-nya. 

Bahasa Jawa yang kental, tidak hanya muncul pada percakapannya saja. Film komedi yang dirilis tahun 2024 ini, ternyata mengambil sudut pandang komedi, demi menanggapi keramatnya istilah Satu Suro. Pada penanggalan, budaya serta kepercayaan Jawa, Satu Suro berarti malam keramat saat gerbang antara dunia mistis dan nyata terbuka lebar. Maka banyak pantangan yang harus dituruti, agar tidak ketiban sial dari dunia lain. 

Film ini tampaknya menjadi ironi khusus untuk perfilman Indonesia, yang kentara dengan referensi horor Jawa-sentris-nya. Sementara referensi budaya lain dari Indonesia, segi horornya masih kurang dijelajahi.

Kisah film Sekawan Limo memang diawali oleh lima sekawan nan kocak, yang diantaranya adalah Bagas (Bayu Skak), Lenni (Nadya Arina), Dicky (Firza Valaza), Juna (Benedictus Siregar), dan Andrew (Indra Pramujito). 

Kelimanya mendaki gunung, yang perlu ditelaah, diteliti, ber-eksperimen, dan mengambil kesimpulan dengan banyak pantangannya. Beberapa hal yang dilarang, adalah tidak boleh menengok ke belakang, dan harus berperilaku jujur saat mendaki, layaknya menulis data dan referensi skripsi.

Namun semakin lama justru keadaan tambah melilit dan mules, akibat mereka yang mulai sulit cari arah dan tersesat. Mereka pun setuju, bahwa malam mistis nan supernatural Satu Suro mulai terbuka gerbangnya, dan diantara mereka ada yang tidak jujur (alias jurig). Sehingga banyak mahluk lain dari dunia lain-lain pun mulai menghinggapi mereka selayaknya nyamuk hutan (yang berisik).

Sinopsis Film Sekawan Limo 2: Gunung Klawih

Masih sama namun berbeda dengan film pertamanya, kelima sekawan telah lulus (kuliah dan penelitian jurig), serta tahu bahwa Juna adalah sesosok hantu yang menjaga mereka selama ini. 

Namun, masalah pun tiba dengan kabar wangsit dari pihak Andrew. Dirinya yang sudah punya istri lengkap satu paket dengan anaknya, ternyata terjebak ikatan mistis paling berbahaya. Yaitu, sejenis pesugihan yang meminta tumbal dari satu anggota keluarga tercinta.

Sayangnya dengan kehadiran ritual mistis Kapitelon, Kapindon, dan Kapisan (atau Kapibara), Andrew perlu berangkat menuju Gunung Klawih demi menghalau ritual pesugihan tersebut. Kelima sekawan pun sepakat untuk membantu Andrew, yang lalu berangkat bersama (dengan satu kursi kosong bagi arwah Juna).

Dengan arahan Pak Dukun (Cak Kartolo), mereka mulai mendaki dan mencegah momen Purnomo Ageng yang kental dengan pesugihannya. Namun, Juna yang selama ini berhasil menjaga mereka dari gangguan jurig, karena memang aslinya adalah jurig, seketika menghilang saat pendakian baru dimulai. 

Ternyata Juna baru saja diculik oleh mahluk lain yang kesemsem dengan dirinya. Di dunia mistis tersebut, Juna berhasil menemukan cinta sejatinya, lengkap dengan banyak info mengenai keramatnya momen Purnomo Ageng.

Semakin ngaco dan tidak jelas saja film komedi yang khas Jawa-nya. Mungkin sudah saatnya, film dari Nusantara atau khususnya Jawa, beralih ke ranah komedi agar ringan nan berwibawa.

Memang di Jawa banyak sekali ritual keramat yang layak diadaptasi sebagai film horor. Namun, seluruh interpretasi yang kadang terlalu brutal, dan harusnya konyol ala Nusantara, dapat mencegah terjadinya salah arti istilah Primbon di kalangan masyarakat sinema. 

Film Sekawan Limo 2 bersubjudul Gunung Klawih ini, memang sebuah anekdot khusus untuk menanggapi sistem kepercayaan di Jawa itu sendiri, yang keramat serta 'saklek'-nya sangat kentara dalam keseharian warga. 

Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Mengenai Saya

Foto saya
Warga dan Narablog saja...

Total Tayangan Halaman

Daydreamer

Daydreamer

Label

Arsip Blog

Rekomendasi

Mengenal Luffy Sang Topi Jerami dari One Piece