![]() |
| Jurig mana lagi ini anjrit (TMDB). |
Berikutnya dalam artikel kompilasi ini, adalah film yang mengacu pada wanita sebagai pemikat dunia mistis.
Dalam film Pemikat Jiwa yang rilis bulan depan, tepatnya pertengahan Juli, adalah film mengenai pelet kepada wanita. Sementara film Lastri Arwah Kembang Desa yang dirilis satu minggu setelahnya, adalah film mengenai kedekatan mistis dengan seorang wanita.
Terakhir adalah film yang mengombinasikan aksi dengan horornya mistis, dalam kisah kesurupan ala film Juminten Edan. Film yang dirilis tepat satu minggu setelah Lastri, alias akhir bulan Juli, adalah kisah yang berisi aksi gelut yang mantap ala silat Nusantara.
Ketiga film berating D17 alias 17 tahun keatas di sinema Indonesia. Tentu karena tema pada setiap filmnya, yang menggugah selera penikmat sinema Nusantara, apalagi dari sudut pandang kewanitaannya.
Pemikat Jiwa
Film dari khas Nusantara ini, adalah sejenis kisah mistis pemikat manusia lainnya yang FOMO. Ya, kisahnya mengenai 'pemaksaan' keadaan emosi dan kedekatan batin satu manusia dengan lainnya, dengan menggunakan kemampuan mistis. Sejenis pelet untuk menarik perhatian, atau susuk untuk menarik sukma dari aura tersembunyi, adalah fokusnya.
Kisah Pemikat Jiwa diawali oleh Jay (Fajra Nugra) yang memendam cinta kesumat Wulan (Givina Lukita). Keduanya memang cukup dekat, karena tinggal di kampung dan bekerja di pasar yang sama.
Namun setelah lama bersua, Wulan ternyata didekati oleh seorang polisi yang sudah mapan, bernama Damar (Erdin Wedrayana) dan sudah tak ingat lagi dengan Jay. Akibat calon istrinya direbut begitu saja (karena masalah ekonomi), Jay pun langsung melarikan diri ke dukun setempat. Dengan ilmu pelet barunya, dirinya lalu melancarkan modus operandi kepada Wulan.
Sayang seribu sayang memang, pelet ternyata tidak hanya merubah emosi dan rasa cinta Wulan semata. Gadis muda ini malah terjebak lingkaran mistis edan, yang membuat dirinya menjadi brutal dan sakti mandraguna sekaligus.
Banyak korban di sekitarnya pun terbantai dengan mudahnya, dan Jay adalah kunci untuk menghentikan aksi gila Wulan.
![]() |
| Lastri yang tidak pernah kehilangan minat pada lelaki (TMDB). |
Lastri Arwah Kembang Desa
Berikutnya adalah kisah jurig yang lebih sakti lagi, yaitu dari Lastri. Kisah Kembang Desa ini diadaptasi dari cerita jurig lokal, yang berseliweran di warga.
Terdapat kisah aneh, dimana banyak pemuda yang terbangun di makam terpencil desa, setelah malamnya bermimpi didekati oleh gadis muda nan cantik jelita. Naas, gadis cantik tersebut adalah seorang arwah, yang penjelmaannya selalu muncul untuk mengejar lelaki didesanya.
Justru dari cuplikannya, dikisahkan asal-usul dengan lebih mendetail dan brutalnya kisah ini. Lastri (Hana Saraswati) adalah seorang gadis muda, yang terkena gosip mandul. Dirinya bahkan diceraikan oleh suaminya sendiri, Turenggo (Gary Iskak), yang sangat menginginkan momongan.
Naas, kisah jalinan romansa cinta ini berubah menjadi kekuatan paranormal dan ikatan supernatural. Lastri yang tidak rela diceraikan, mulai cermat berkonsultasi dengan dukun setempat. Dengan benda keramat berbentuk cincin akik, Lastri lalu memikat siapa pun juga, baik dirinya masih hidup atau sudah mati sekalipun.
Hingga akhirnya, kisah warga yang terikat romansa jurig pun, sering terjadi di desa sekitar dirinya bersemayam.
![]() |
| Juminten yang semakin edan (TMDB). |
Juminten Edan
Satu minggu setelah Lastri pun, film Juminten Edan dirilis dengan segala kegilaan dari sisi wanitanya. Jauh lebih banyak aksi dari film sebelumnya, kisahnya memang fokus pada karakter Juminten yang sakti mandraguna.
Mirip dengan film Pemikat Jiwa, namun berunsur aksi gelut ala silat yang mumpuni, Juminten yang diperankan oleh Meisya Amira adalah seorang gadis yang awalnya memang beda. Sempat dinyatakan gila, padahal dirinya kesurupan dan memang tuna wicara, Juminten pun terpaksa dipasung oleh keluarganya sendiri.
Namun entah jurig darimana, yang terpikat dengan kehadiran Juminten yang baru kembali ke desa kelahirannya. Juminten lalu sanggup bebas dari pasung, lalu mulai membalas dendam dengan gagahnya, melawan semua orang yang pernah ganggu dirinya dan keluarganya.
Aksi silat ala film beladiri pun, menjadi kentara di pertengahan cuplikan. Memang film yang berbeda, yang bahkan lebih mengandalkan aksi gelut daripada horor dan atmosfernya yang gelap-gelapan.
Film horor Indonesia, memang sedang berwacana untuk menyusul Thailand, dan merebut kursi tahta Raja Jurig sesungguhnya di Asia Tenggara. Dengan kombinasi film komedi dan aksi silat, tampaknya wacana ini akan terus dilanjutkan. Apalagi, dengan kompilasi film berikutnya.







