Analisa Film Nasional serta Internasional sebagai Akulturasi Budaya


Mengingat Faedah Gadis Remaja Ala Horornya Film Let Me In dan Hatching

Abby yang mencari mangsa baru (TMDB).

Sekarang membahas dua film yang horor penggambarannya, khususnya gadis remaja yang mulai berubah. Artikel sebelumnya membahas romansa wanita dan pria yang tergantikan oleh robot dan AI, dan berujung dunia yang berubah drastis. Kali ini, justru kembali ke awal horornya perubahan tersebut, sebelum romansa dimulai.

Dua film yang dibahas adalah Let Me In (2010) dan Hatching (2022), yang keduanya berlatar horor dan bertokoh utama gadis remaja. Kedua gadis berumur tepat 12 tahun, namun berlatar horor yang mengerikan, yaitu sejenis monster. 

Artikel ini tidak hanya membahas horornya, tetapi simbol yang mengacu perubahan gadis remaja. Gadis berumur 12 tahun keatas, biasanya sudah tahap menstruasi. Perubahan ini mirip dengan pemuda, yang memasuki umur remaja disertai gejolak hormon dan tingkah lakunya. Kedua filmnya mengacu pada tahap menuju wanita dewasa, yang disimbolkan horor.

Abby yang Toxic (TMDB).

Gadis Pengisap Darah ala Film Let Me In

Film Let Me In dari tahun 2010, dibintangi oleh aktris remaja yang terkenal pada masanya, yaitu Chloe Grace Moretz. Uniknya Moretz, adalah banyak film yang diperankannya berisi adegan horor atau sadis, yang tidak mencerminkan rating umurnya sama sekali. Namun menjadi unik, karena berbeda dengan film gadis remaja seumuran Moretz.

Film ini adalah adaptasi dari film Swedia berjudul Let The Right One In (2008). Film orisinal dari negara asalnya pun, diadaptasi dari buku berjudul sama dari tahun 2004. Penulis yang membuat naskah filmnya sama dengan bukunya, yaitu novelis John Ajvide Lindqvist. Karena meraih banyak penghargaan di Swedia, maka Hollywood pun berinisiatif untuk mengadaptasinya dengan latar yang berbeda.

Latar film Let Me In adalah sama, yaitu kisah Abby (Chloe Grace Moretz) yang ternyata seorang vampir. Karena Abby digigit saat masih berumur 12 tahun, dan seorang vampir tidak pernah menua, maka dirinya kekal abadi dengan perawakan gadis remaja.

Walau Abby adalah vampir dengan kemampuan fisik yang lebih kuat dari manusia, tetapi ukuran tubuhnya tetap saja kecil. Karena itu, ritual berburu darah manusia lebih sering dilaksanakan oleh ayahnya. Banyak warga dimana mereka tinggal, menjadi korban akibat darah yang diperas habis. Demi menghindari kecurigaan polisi, keduanya pun sering berpindah tempat hunian.

Nah dari situ, dapat disimbolkan sesuatu yang mengerikan. Gadis atau wanita, kadang disamakan (dalam film horor) sebagai pengisap darah. Walau sudah dibahas beberapa kali (dalam blog ini), vampir biasanya mengacu pada aristokrat yang semena-mena. Pada beberapa penggambaran cerita fiksi lainnya, vampir kadang disimbolkan untuk para wanita juga.

Dari kisah Let Me In, Abby adalah penggambaran vampir tersebut. Selain memburu warga di sekitarnya, Abby perlu membebani ayahnya dengan pembunuhan yang mengerikan. Aksi ini telah terjadi selama puluhan tahun lamanya, akibat Abby yang tergigit saat masih kecil. Jadi, semakin jelas bagaimana vampir adalah sosok beban tertentu, yang sangat mengerikan.

Terdapat plot twist mengenai identitas asli ayahnya dan latar Abby sebagai vampir, tetapi tidak akan dibahas disini (karena spoiler). 

Telur yang betulan raksasa (TMDB).

Perubahan Gadis Remaja Menjadi Monster dalam Film Hatching

Nah film Hatching pun bukan berasal dari Hollywood, melainkan dari Finlandia. Film ini meraih banyak penghargaan di negara asalnya, karena latar, sinematografi, akting, kuatnya simbol, serta cerita yang gelap.

Kisah Hatching berfokus pada gadis remaja bernama Tinya (Siiri Solalinna), yang diminta untuk mengikuti sekolah senam oleh ibunya (Sophia Heikkila). Tinya berlatih senam hingga profesional, sementara adiknya Mattias (Oiva Ollila) adalah anak yang pintar. Walau Tinya adalah gadis yang kalem, tetapi ibunya adalah sosok yang ambisius, dan ingin kesan keluarganya selalu sempurna. 

Namun, terdapat perubahan besar yang terjadi dari Tinya, saat menemukan sebuah telur berukuran besar di hutan dekat rumahnya. Karena penasaran, dirinya lalu mengerami telur tersebut di kamarnya, secara tersembunyi hingga menetas. 

Namun setelah menetas, bayi yang awalnya terlihat seperti burung unta, justru berubah drastis dalam waktu yang singkat. Dalam beberapa minggu saja, Tinya menemukan bahwa bayi yang dinamai Alli ini, tumbuh menjadi sosok dirinya. Walau peringainya berbeda, masih belum dapat berbicara, serta mata dan cakarnya belum hilang, dengan sekilas keduanya terlihat kembar.

Tidak akan diceritakan kelanjutan ceritanya, karena (masih) spoiler. Namun dari segitu saja, dapat disimbolkan dengan jelas, bahwa Tinya mengalami perubahan saat memasuki remaja. Walau Tinya memiliki karakter yang kalem, namun dirinya memasuki umur yang penuh gejolak. Karena itu, telur besar yang menetaskan mahluk aneh pun, disembunyikan dan diasuh olehnya.

Bahkan, simbol berikutnya lebih kentara lagi, yaitu monster sejenis skinwalker atau doppleganger. Skinwalker adalah istilah dari AS, sementara Eropa lebih mengacu pada doppleganger. 

Monster semacam ini, meniru wujud manusia untuk dapat berbaur, dan memangsa manusia jika ada kesempatan. Bahkan terdapat kisah mitos dari Eropa, saat monster doppleganger justru menggantikan sosok (manusia) asli yang ditiru olehnya.

Monster inipun menjadi simbol khusus, mengenai pergolakan umur remaja (dalam film ini). Banyak remaja tiba-tiba menjauhi keluarganya, dan menentang banyak peraturan rumah. Sering disepelekan sebagai perubahan umur saja, tetapi dalam film ini memiliki maksud yang lebih jelas.

Dengan mengacu pada ambisiusnya sang ibu untuk menjaga kesan keluarga, maka kisah monster disini adalah fase berontak dari Tinya. Walau dirinya tidak bertingkah didepan keluarga, namun menyembunyikan dan mengasuh monster, adalah bagian dari simbol itu sendiri. 

SJW yang baru menetas (TMDB).

SJW yang Menarget Remaja

Saatnya beralih ke situasi yang harus ditanggulangi langsung, daripada mengacu pada fiksi saja. Di jaman informasi dengan banyaknya konten berlebihan, maka ada suatu pihak yang menyalahgunakannya, dan khusus menarget para remaja.

Semacam SJW (Social Justice Warrior) yang berkeliaran di media, memiliki wacana khusus untuk remaja. Usia yang memang penuh pergolakan ini, dimanfaatkan oleh SJW untuk menjalankan wacananya. Apalagi bagi remaja yang terbiasa menonton konten di ponselnya, maka semakin mudah terpapar informasi SJW.

SJW yang dimaksud adalah Feminisme Modern, yang mengacu pada perubahan posisi wanita di jaman modern. 

Feminisme dulunya didukung oleh para wanita demi menyejajarkan status sosial. Memang dahulu, para wanita tidak bisa bekerja layaknya laki-laki, atau bahkan memilih saat Pemilihan Umum (Pemilu) berlangsung. Jaman tersebut, urusan wanita hanya kasur dan dapur. Sekarang tentu sudah berubah, dengan banyak figur wanita yang bekerja dan mengisi posisi penting.

Namun, wacana Feminisme ini diubah menjadi istilah lebih Modern, yaitu mengacu pada kesetaraan bersama pria. Kesetaraan yang dimaksud bukan hanya status sosial dan pekerjaan, melainkan fisik dan karakter. Bidang yang sudah terbukti sains seperti olahraga, bahkan dipaksakan untuk setara antara pria dan wanita.

Lebih parah lagi, adalah bidang yang sangat wanita, tetapi dipaksakan setara. Yaitu, wanita diperbolehkan aborsi bagi janin yang tidak diinginkannya, dengan alasan apapun juga. Dengan begitu, mereka membuang posisi ibu dari tahapan status sosial mereka.

Seakan Feminisme Modern ini mengacu pada kedua film, dengan menggambarkan monster gadis remaja dan gejolaknya, yang dilanjutkan hingga dewasa. Ya, sangat berbeda dengan pergerakan asli Feminisme, gejolak sementara (seperti remaja) adalah sesuatu yang sering ditarget oleh SJW.

Vampir adalah pengisap darah manusia, dan Doppleganger adalah monster peniru dan pelahap manusia. Jika simbolisme dari kedua monster berhasil (di dunia nyata), maka feminisme asli gagal, dan feminime modern semakin menggila.

Paradoks kontradiktif yang mengerikan.

Wassalam dan Titik.

Bagikan:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Mengenai Saya

Foto saya
Warga dan Narablog saja...

Kontak Saya

Kontak Saya
Klik Logo Menuju Laman FB Sedia Saja

Total Tayangan Halaman

Label

Rekomendasi

Mengenal Luffy Sang Topi Jerami dari One Piece