![]() |
| Nadia yang tidak ingin bungkam (TMDB). |
Sekarang saatnya membahas kompilasi tiga film isu sosial dari sinema Indonesia, yang rilis minggu ini dan minggu depan. Judulnya adalah Saat Aku Bersuara, Tanah Runtuh, dan Tanah Sengketa.
Selain berisi banyak aktor-aktris terkenal Indonesia, ketiganya mengadaptasi isu sosial yang cukup berat dari Nusantara, walau masih memiliki rating umur R13 alias Remaja untuk penontonnya.
Saat Aku Bersuara
Film yang dibintangi oleh Marshanda ini mengadaptasi isu hak perempuan, yang sering tergerus oleh tindakan tidak senonoh dari masyarakat. Stigma perempuan sebagai pengurus dapur dan kasur semata, memang masih kental di Nusantara.
Bisa disebut, film ini mendukung wacana Feminisme di Indonesia, yang membahas masalah perempuan. Komisi Nasional Perempuan yang memperjuangkan hak wanita dan anti kekerasan, adalah lembaga resmi dari pemerintah yang mengurusi masalah ini. Setelah terpisah dengan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), instansi ini fokus untuk mengurusi hak asasi perempuan di Indonesia.
Tentu tidak dapat disamakan dengan feminisme modern, yang terpengaruh SJW dari luar negeri. Perlindungan perempuan yang diwacanakan oleh pemerintah, dengan bantuan pemerhati dan aktivis sosial, tentu lebih aman daripada modus lain yang berbahaya bagi wanita Indonesia.
Kembali ke filmnya, Marshanda dalam film Saat Aku Bersuara berperan sebagai Nadia, yaitu wanita yang bekerja sebagai pengacara hukum. Sempat stres akibat upacara pernikahannya batal, Nadia berinisiatif untuk lebih banyak bergerak, dalam mendukung dan memperjuangan hak perempuan di Indonesia.
Dengan dibantu oleh aktivis lainnya, Nadia mengikuti banyak kegiatan demonstrasi dan administratif, demi mendukung wacana perlindungan perempuan. Kisah ini menjadi babak baru bagi dirinya, yang tidak ingin terjebak sebagai korban (play victim) saja, tetapi seorang penyintas yang membantu perempuan se-Indonesia.
![]() |
| Ringgo, Idham, dan Kai yang saling mengisi (TMDB). |
Tanah Runtuh
Berikutnya adalah film mengenai konflik besar yang sempat terjadi di Indonesia, yaitu kerusuhan beda agama. Film Tanah Runtuh disutradarai oleh Rudi Soedjarwo, diproseduri oleh Danny Siregar, dan dibintangi oleh Vino G. Bastian. Film ini mengundang pula aktor cilik yang memiliki Down Syndrome, bernama Ridho Khaliq yang sedang naik daun.Filmnya yang rilis minggu depan ini berlatar di Tanah Runtuh, Poso, Sulawesi Tengah, saat tawuran antar agama merebak dan membahayakan banyak warga. Akibatnya, Emmy (Sigi Wimala) terpisah dengan kedua anaknya, bernama Kai (Yoan Cocohamida) dan Ringgo (Ridho Khaliq). Satu keluarga ini terpisah, akibat hiruk-pikuk saat konflik berlangsung, lalu lokasi pengungsian yang berbeda.
Di pengungsian Kai dan Ringgo, keduanya ditemani seorang petugas kepolisian bernama Idham (Vino G Bastian). Duo kakak beradik yang selalu dekat ini, akhirnya belajar banyak dari Idham mengenai arti kehidupan. Walau keduanya merasa kangen dengan ibunya, namun Idham dapat mendamaikan dengan berbicara, bahwa Idham pun kini tengah terpisah dengan ibunya sendiri.
Tidak hanya menggambarkan konflik beragama, namun film ini mencanangkan bahwa perbedaan dan faedah dasar setiap agama adalah saling toleransi satu sama lain. Melalui kisahnya, serta perbedaan latar setiap karakter yang muncul dalam adegan, tentu memberi arti khusus bagi kita sebagai penontonnya.
Bagaimana kombinasi banyak talenta perfilman Indonesia ini menyajikan kisah berat dari Nusantara, tentu perlu ditonton sepenuhnya di sinema Indonesia.
![]() |
| Lina, Yuni, dan Raka yang mendukung pendidikan (TMDB). |
Tanah Sengketa
Dalam film yang dibintangi oleh duo penyanyi terkenal, bernama The Virgin dari jaman musik terdahulu, kisahnya mengadaptasi masalah pendidikan. Tanah Sengketa yang rilis minggu depan, mengacu pada ironi pendidikan Nusantara.
Ironi pendidikan sangat digemari warganet, namun film Tanah Sengketa adalah lahan yang cocok untuk membahas pendidikan dengan suasana lebih baik, aman, nyaman, dan berfaedah.
Dalam film ini, Dara memerankan Yuni, yang berinisiatif membantu Kampung Degong dengan mendirikan sekolah dan perpustakaan gratis. Gedung ini nantinya, adalah lokasi sekolah yang lebih bebas, daripada sekolah resmi terdekat.
Namun, lokasi yang digunakan sekolah gratis ini, adalah tanah sengketa yang bermasalah dari segi hukum dan budaya (alias keramat). Kepercayaan warga, bahwa lokasi ini berbahaya, menyulitkan Yuni untuk dapat mendirikan sekolahnya.
Seorang pemuda setempat bernama Raka (Awan Reyhan), bersama pemudi lainnya Lina (Mita), tetap membantu Yuni saat keadaan yang berbahaya ini. Ketiganya tetap semangat, walau dengan stigma aneh mengenai pendidikan dan lokasi tanah di Kampung Degong.
Stigma Pendidikan di Inet
Setelah dibahas filmnya, tentu perlu tahu bahwa keyword SEO pendidikan di inet Indonesia adalah haram untuk dibahas. Entah berapa banyak konten, kreator dan komentator gila, yang menanggapi pendidikan Indonesia layaknya jurig. Warga SDM rendah, atau kurangnya literasi, adalah istilah khas dari edannya warganet.
Padahal dilihat dari segi nyata (alias bukan di monitor dan data), faktanya adalah kondisi pemerintah Indonesia dan lapangan pekerjaan yang kurang mengacu arahnya, menyebabkan kisruh ini. Jadi, memang perlu ditanggulangi bersama antara pemerintah, perusahaan, lembaga pendidikan, dan warga sekaligus.
Bahkan para warganet ini lebih licik lagi, yaitu dengan menggunakan istilah SDM dan Literasi Rendah. Seluruh mahluk internet ini, sebenarnya hanya clipper yang harus buzzer ga jelas. Jika dilihat dari kontennya, maka tidak memiliki monetisasi dan hanya mengandalkan anggota semata.
Dilihat dari teknik bisnis, maka penulis dapat menebak bahwa mahluk pecicilan ini berasal dari dunia bitcoin mining. Grup ini hanya mengandalkan peralihan data di internet, walau se-kontroversial apapun juga. Lalu, pendidikan adalah (satu dari banyak) target serangan mereka.
Bahkan saking ngenesnya warganet, mereka beralih pada situs pemerintah, situs berita, atau bahkan sekedar film yang lebih ringan. Mengapa? karena Botti-ng ini sudah dipertanyakan arah konten dan bisnisnya sendiri. Sementara itu, warganet membutuhkan acuan yang jelas demi pembaruan informasi mereka.







