![]() |
| Kelima stereotype yang linglung (TMDB). |
Sekarang saatnya menelaah film yang sebenarnya termasuk parodi, alias ironi dari genre-nya sendiri, berjudul The Cabin in the Woods. Film yang rilis tahun 2012 ini, berkisah sekelompok pemuda-pemudi yang terjebak di sebuah kabin tua, di tengah hutan (sesuai judulnya). Ya, memang dari judul dan plot utamanya saja, sudah menyatakan ironi atas plot dan karakter dari genre horor ala film Hollywood.
![]() |
| Siapakah gerangan trio berkerah putih ini? (TMDB). |
Sedikit Latar Kru Film The Cabin in the Woods
Bagi yang sudah menonton atau mengecek trailernya, tentu tahu beberapa aktor yang mengisinya. Chris Hemsworth sang Thor dari Marvel, tentu menjadi salfok yang khusus. Terdapat pula Franz Kranz, yang sebelumnya terkenal di film 300 (2006). Duo nama aktor yang terkenal, tapi mau juga berperan di genre yang memang pecicilan ini.
Oh ya, ada satu nama aktris yang menjadi cameo pula di akhir film, tetapi tidak akan dibahas karena membuka isi ceritanya.
Bagi yang tahu Drew Goddard, tentu sempat mengenal film berjudul Cloverfield (2008) yang cukup fantastis. Berikut pula dengan sutradara Joss Whedon, yang dikenal sejak film Alien Resurrection (1997), lalu berlanjut di dunia Marvel dengan The Avengers (2012), Avengers: Age of Ultron (2015), dan sempat di DC dengan Justice League (2017).
Bahkan studionya pun memiliki nama tersendiri, yaitu dari Lionsgate Movies. Studio yang satu ini memang sering menyajikan film unik, padahal sudah cukup lama berkecimpung di dunia perfilman Hollywood (sejak 1997 lalu). Contoh terakhirnya, adalah film Turbulence yang dibahas tepat minggu ini dalam blog Sedia Saja.
Referensi Film dalam The Cabin in the Woods
Justru artikel ini tidak hanya merekomendasikan film The Cabin in the Woods, yang memang sangat berbeda dan memuaskan. Artikel ini akan menelaah tentang ironi dibalik produksi film horor.
Sebenarnya banyak referensi horor yang dimasukkan ke dalam film ini, dari banyak waralaba lain. Seakan, film ini memang dibuat untuk homage saja terhadap banyak film lain dengan genre horor.
Referensi tersebut akan dibahas sedikit, dan lebih baik dicek saat menontonnya saja. Bagi penggemar horor, tentu paham referensi dalam film The Cabin in the Woods. Contoh paling wajar adalah berbagai jenis monster dan situasi, dimana sering diadaptasi pada naskah film horor.
Contoh lebih spesifik akan membuat tercengang penonton, yaitu banyaknya mahluk bergentayangan dalam film ini. Bisa dicek satu-satu ya, dan yang sudah atau belum menonton, akan heran mengapa studio bisa mengisi film ini dengan banyak sekali karakter tersebut.
Terdapat referensi dari Friday 13th, Hellraiser, Werewolf, Sejenis Jurig, The Cube, Dreamcatcher, Eight Legged Freaks, Anaconda, Pennywise IT, The Shining, Leatherface, Zombie Pecicilan, KKK, SCP, Bats, Evil Dead, Gremlin, Alien, Psikopat Bertopeng Sok Brutal, Wrong Turn, Merman, Unicorn? dan bahkan Lovecraft!
Masih banyak referensi film lainnya, yang penulis kurang pahami karena tidak selengkap itu menonton film horor. Ya, memang mengherankan bagaimana film berdurasi hanya 90 menit ini, berhasil memasukkan banyak dan variasi referensi film horor. Mungkin sang penulis naskah bernama Goddard ini, terlalu banyak melinting rokok saat menulisnya.
Atau mungkin, film horor sejenis ini menjadi latihan khusus bagi para penonton, penggemar, atau penulis yang berminat, dalam mengecek dan mengombinasikan referensi yang ada. Ranah sejenis ini memang bisa melatih kemampuan analisis, dalam melacak variasi dan sekaligus berkreasi.
![]() |
| Tidak se-ironis ini, kali ya...? (TMDB). |
Ironi Film The Cabin in the Woods
Nah, apakah memang film ini hanya berisi referensi dari film lain saja? Tentu tidak. Terdapat satu hasil (observasi) orisinal dalam film ini, yang berisi ritual ala persembahan. Yaitu, dengan menumbalkan beberapa jenis karakter (ala film), dalam satu sesi pengorbanan tertentu.
Horor versi Amerika memang sering berisi stereotype karakter tertentu, yang dalam film ini berlandaskan The Athlete, The Whore, The Scholar, The Fool, dan The Virgin. Kelima karakter biasanya mengisi film horor pemuda-pemudi dan lainnya, dan terus diulang-ulang di banyak film, hingga seterusnya.
Ironi seperti ini menjadi khas utama di film The Cabin in the Woods. Seakan, seluruh naskah film yang dibuat oleh studio, telah di-setting sebegitu mungkin, agar sesuai dengan kemampuan yang pas bagi sutradara, aktor-aktris, kru, tim efek spesial, dan editornya.
Bahkan, film ini menggambarkan secara harfiah, bagaimana ritual produksi film, bisa menjadi esensi yang mematikan dibalik layar. Tidak akan dibahas lebih lanjut mengenai tim produksi dibalik film ini, karena akan membuka (banyak) kisahnya.
Perbedaan utama di genre film horor sejak The Cabin in the Woods dirilis, adalah berkembangnya horor Hollywood hingga sekarang. Banyak variasi horor yang semakin kreatif, dengan hanya menghindari stereotype diatas saja. Bahkan banyak filmnya yang mengambil referensi dari budaya yang cocok, tanpa perlu (ikut) menyalahgunakan referensi aslinya.
Karena itu, penulis juga heran sendiri, mengapa film horor menjadi minat terbaru. Sebelumnya, penulis lebih suka menonton film aksi, pahlawan super, atau bahkan kisah petualangan. Sementara pada jaman tersebut, film horor adalah pilihan yang aman, karena ceritanya dan adegannya suka sama dan begitu saja.
Bahkan, Plot Twist yang berubah di film horor jaman sekarang, menjadi pilihan cerita yang kurang tertebak. Terlebih lagi, film horor sekarang seringkali bebas dalam menentukan akhirnya, yang bisa berarti Good atau Bad Ending. Kadang akhir film dikombinasikan pula, sehingga berakhir Miris-Manis alias Bittersweet Ending (ala film drama yang antiklimaks).
Ya, film The Cabin in the Woods memang mengacu pada ironi referensi film saat awal 2010an lalu, dan banyak waralaba sebelumnya. Sementara di tahun 2020an ini, film horor telah berkembang jauh, yang terkombinasi genre lainnya.
Oh ya, kisah di Cabin in the Woods ada yang berbeda pula, yaitu para karakter (utamanya) yang mau dan sanggup melawan balik agresornya. Tokohnya tidak terjebak dalam stereotype film horor, yang langsung lemah dan menyerah begitu saja (alias panik berdiam diri).
![]() |
| Wah2, ini film masih sejenis cermin satu arahkah? (TMDB). |
Duduk Manis ala Penonton Film
Nah, singkat saja sebagai penonton, penggemar, dan pemerhati film horor (atau media secara luas), yaitu dengan duduk manis, menikmati, lalu menelaah saja tayangan yang ada. Apalagi setelah mengacu pada film The Conspiracy, yang dibahas di artikel sebelumnya.
Jadi, layaknya karakter Dana Polk sang The Virgin dari satu adegan di film The Cabin in the Woods, yang berselirih pedih "Let's Get This Party Started," sambil menekan tombol merah untuk membuka banyak hal yang berbahaya.
WAAAAARGHHHHH!!!






