![]() |
| Ilustrasi jamu dari Indonesia (TMDB). |
Organisasi Edukasi, Sains, dan Budaya PBB (UNESCO) dikenal sebagai pelindung bagi arsitektur, alam, dan bentuk seni dari seluruh dunia. Ternyata, UNESCO melindungi pula banyak warisan budaya yang terkait untuk merawat kesehatan, yang menjadi bagian dari Warisan Budaya Tak Berwujud.
Dilansir dari National Geographic, daftar UNESCO ini bertujuan agar melindungi ritual, festival, bahasa, serta musik yang ada di seluruh dunia. Jamu dari Indonesia termasuk salah satu diantaranya.
Jamu di Indonesia
Jamu sangat dikenal di Indonesia sebagai minuman herbal yang menyehatkan. Ternyata, jamu ini terukir di kuil Borobodur, yang telah berumur 1200 tahun.
Ukiran kuno ini menggambarkan jamu yang merupakan hasil racikan antara jahe, jeruk limau, kunyit, dan asam jawa. Biasanya racikan herbal ini diberikan kepada orang sakit agar cepat sembuh.
Beda pula suhu jamu yang diberikan kepada orang yang sakit. Jamu yang panas diberikan kepada orang yang sakit flu atau masuk angin, sementara yang dingin diberikan kepada yang sedang demam.
Jamu pun berbeda resep setiap wilayahnya, yang disesuaikan dosisnya dengan variasi usia dan tingkat kesehatan peminumnya. Banyak penjual jamu meramu bahannya dengan alami, dan biasanya dinikmati langsung oleh orang terdekat.
Jamu pun berbeda resep setiap wilayahnya, yang disesuaikan dosisnya dengan variasi usia dan tingkat kesehatan peminumnya. Banyak penjual jamu meramu bahannya dengan alami, dan biasanya dinikmati langsung oleh orang terdekat.
Menurut Kementerian Kesehatan Indonesia, berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar tahun 2018 lalu, data menunjukkan 31,4 persen masyarakat Indonesia mengonsumsi secara tradisional, sementara 12,9 persen meramu jamunya sendiri. Produknya sebanyak 48 persen adalah berupa ramuan, dan 31,8 persen buatan sendiri.
Karena masih berbahan herbal tradisional, maka jamu akan bermanfaat sebagai intervensi dari manusianya, dalam memberi bantuan optimal pada fungsi tubuh, sehingga terbentuklah pertahanan tubuh yang sanggup beradaptasi terhadap penyebab peradangan.
Seperti dilansir dari Direktorat Jenderal Kesehatan Republik Indonesia, jamu adalah sejenis obat tradisional sederhana, yang diwariskan turun temurun, dengan pembuktian khasiatnya secara empiris.
Dalam pemasarannya, maka klaim jamu tentang khasiatnya tidak boleh berlebihan. Contohnya adalah jamu yang dapat 'membantu' atau 'secara tradisional digunakan,' daripada 'menyembuhkan' secara langsung.
Untuk standarisasi produk, maka jamu tidak diwajibkan untuk dapat memenuhinya. Tetapi, tetap harus memenuhi persyaratan mutu yang dicanangkan oleh Farmakope.
Terdapat beberapa rempah dan hasil jamu yang terproses, diantaranya adalah kunyit, temulawak, beras kencur, cabai jawa, paitan, lengkuas, mengkudu, dan galian singset.
Kunyit atau Kunir, terbukti berkhasiat untuk mengurangi nyeri, anti peradangan, tekanan darah tinggi, dan bahkan menurunkan berat badan. Kunyit biasa diramu dengan buah asam agar menjadi jamu Kunir Asam. Kadang, bahan lain seperti sinom, temulawak, kedawung, air jeruk lemon, gula merah, gula putih, dan garam ditambahkan sebagai bahan tambahan.
Temulawak (atau jahe jawa) yang merupakan rempah asli Indonesia, dengan khasiat diantaranya meredakan mual, pusing, gejala pilek, dan menambah napsu makan anak. Temulawak biasa dicampur dengan rimpang temulawak, kencur, asam kawak tanpa biji, gula aren, daun pandan segar, serta jinten.
Beras Kencur, atau biasa disebut sebagai jahe aromatik atau jahe pasir, tercampur dengan beras untuk dapat membantu menurunkan kolesterol, peradangan, dan sistem kekebalan tubuh. Bahan utama beras kencur, tentu adalah beras dan kecur, yang biasa diramu dengan campuran kedawung, jahe, kapulaga, asam kawk, termukunci, kayu keningar, kunyit, kapur, dan pala. Untuk memberi rasa manis, maka gula coklat pasir dan gula putih dapat ditambahkan.
Cabai Jawa atau disebut pula sebagai Cabai Puyang/Lempuyang, biasa digunakan pula sebagai bumbu masakan khas Indonesia. Karena Cabai Jawa mengandung zat besi tinggi, maka dapat membantu produksi sel darah merah dan mencegah anemia.
Untuk khasiatnya, Cabai Jawa membantu mengatasi kelelahan dan otot kaku, masuk angin, menambah energi, mengurangi kembung, membantu beri-beri, reumatik, tekanan darah rendah, kolera, influenza, sakit kepala, lemah syahwat, bronkitis, dan sesak napas.
Ramuan jamu ini diantaranya adalah tambahan temuireng, temulawak, jahe, kudu, adas, polosari, kunyit, merica, kedawung, keningar, asam jawa, dan temukunci. Agar tidak terlalu pahit, maka gula merah, gula putih, dan garam dapat ditambahkan.
Paitan atau Pahitan, adalah sebutan untuk ramuan jamu yang berasa pahit, seperti campuran dari sambiloto, brotowali, meniran, lempuyang, widorolaut, doroputih, babakan pule, adas, dan empon-empon. Walau rasanya kurang mengenakkan, tetapi telah terbukti berkhasiat dalam masalah perncernaan.
Paitan dapat dikonsumsi untuk meringankan masalah kesehatan, seperti cuci darah, penghilang gatal, biduran, menambah napsu makan, diabetes, bau badan, menurunkan kolesterol, kembungnya perut, jerawat, pegal, dan pusing.
Kudu Laos adalah kombinasi dari dua bahan utamanya, yaitu laos atau lengkuas, dengan buah mengkudu. Efeknya adalah menghangatkan tubuh, membantu meredakan kram menstruasi, mengurangi hipertensi, serta menambah napsu makan.
Hasil potongan teriris tipis lengkuas dan mengkudu dapat diseduh langsung, dan ditambahkan dengan bahan lain seperti asam jawa, bawang putih, cabai puyang, garan, dan merica, sesuai kebutuhan nutrisi, fisik, dan selera peminumnya.
Galian Singset adalah nama ramuan yang disesuaikan dengan fungsinya, yaitu 'Singset' alia langsung dan ramping. Maka, ramuan ini terkenl bagi kalanganw wanita. Namun, berbagai khasiat yang baik diantaranya adalah aroma tubuh yang harum serta kulit lebih sehat.
Untuk meramunya, resep yang digunakan dengan dihaluskan dan direbus, diantaranya adalah temulawak, jahe, kunyit, serai, dan kayu manis, yang tercampur pula dengan asam jawa, ketumbah, dan merica.
Perlu diingat pula, terdapat anjuran langsung mengenai konsumsi jamu dari Direktorat Jenderal Kesehatan Republik Indonesia. Walau banyak khasiatnya, tetap hindari konsumsi dengan frekuensi berlebihan dan jangka panjang. Hal itu akibat dampak negatif ginjal serta saluran pencernaan.
Selain itu, karena kondisi tubuh berbeda-beda, maka reaksi alergi dapat terjadi bagi peminumnya. Apalagi, bagi yang sedang mengalami pengobatan modern. Jenis jamu yang dapat dikonsumsi saat mengalami gangguan kesehatan, harus dikonsultasikan kepada dokter.
![]() |
| Ilustrasi botol jamu yang biasa dibakul (Instagram). |
Pengalaman Pribadi Meminum Ramuan Jamu
Penulis sendiri memiliki banyak pengalaman mengonsumsi jamu sedari kecil. Saat Ibu Bakul Jamu dengan gendongan ramuannya lewat depan rumah, biasanya keluarga memesan jamu. Kala itu saat saya masih kecil, diminta pula meminumnya. Karena masih cukup sehat, maka saya dianjurkan untuk meminum jamu manis saja (apalagi kurang tahan dengan rasa yang pahit).
Nah, meloncat ke beberapa tahun kemudian, yaitu saat saya sudah mulai kuliah di kampus terdahulu. Karena kuliah pagi cukup jarang dilaksanakan, maka saya agak santai di pagi hari, tepat saat Ibu Bakul Jamu lewat depan rumah lagi.
Karena itu, saya mulai sering meminum jamu setiap pagi, beberapa tahun lamanya. Apalagi, karena jarak kampus yang jauh, ditambah lokasi gerbang hingga fakultas yang memang cukup menggetarkan kaki, akhirnya saya berinisiatif untuk lebih sering meninum jamu, yang tentu kini sudah lewat pahitnya.
Jika diingat-ingat, jarak saya menuju angkutan umum dari rumah, hingga turun dari gerbang kampus menuju fakultas, lalu naik ke lantai empat melewati tangga, karena lift selalu penuh, menyebabkan kaki terus tergerakkan.
Mungkin, setiap hari saya melangkah sekitar tiga hingga lima kilometer setiap harinya, dari berangkat hingga pula. Kalau jaman tersebut sudah ada Odometer di ponsel, mungkin lebih tepat lagi jarak dan durasinya.
Dan jika diingat-ingat (sekali lagi), kebiasaan berjalan kaki jauh setiap hari sudah saya laksanakan sejak jaman SMP terdahulu. Tentu, akibat jarak angkutan umum serta lokasi sekolah yang kurang terlewati. SMP, SMA, dan Kuliah, berarti mencapai jangka waktu sepuluh tahun. Jadi, rasanya memang kaki sudah terlatih untuk berjalan marathon.
Nah, jika diingat lagi, dulu saya sering diajak berjalan kaki melewati daerah asri di kota, bersama beberapa anggota dari keluarga besar. Mungkin, momen tersebut menumbuhkan kecintaan saya terhadap berjalan kaki dan menikmati asrinya alam bumi nan indah di Bandung.
Lalu, loncat momennya ke saat ini, saat saya tengah rajin menulis kembali. Karena saya merasa menulis akan menambah pusing, maka berinisiatif untuk berjalan kaki tiap pagi, sambil meminum jamu dari Ibu Bakul Jamu. Memang, setiap pagi pasti ada saja yang lewat, walau sekarang lokasinya berada di sekitar pasar.
Tidak hanya berjalan kaki dan meminum jamu setiap pagi saja, tetapi mulai berolahraga pagi di Car Free Day. Targetnya, mencapai 8.000 langkah, atau sekitar lima kilometer jauhnya. Semua itu, karena niat saya dan bantuan jamu, yang sanggup menambah energi setiap paginya. Apalagi, penulis adalah seorang yang jarang sarapan, dan hanya meminum kopi saja setiap paginya.
Seluruh kebiasaan tersebut sudah terlaksana oleh saya, sejak awal tahun (mungkin tepatnya bulan Maret lalu), hingga sekarang. Okeh, saatnya melanjutkan bahasan berikutnya, ya...
Yoga di India
Yoga yang dimulai sejak 5000 tahun lalu, di bagian utara India, mendukung praktisinya agar dapat mencapai pencerahan, kesembuhan fisik, kebersihan emosional dan tujuan pribadi lainnya.
Yoga memang berbentuk dasar fisik, spiritual, dan filosofi. Praktisinya berlatih dengan urutan pose tubuh yang berbeda, dimulai dari pose sederhana sampai yang lebih rumit.
Secara bersamaan saat pose tersebut dilakukan, praktisi yoga akan bermeditasi, membaca mantra, atau melatih kendali pernapasan, agar mencapai kedamaian pikiran dan mental.
Olahraga sekaligus olahrasa ini dapat dipraktekan oleh seluruh golongan umur, dari muda hingga tua, tanpa memandang gender, kelas sosial, atau agama.
Pijat di Thailand
Pijat Nuad Thai adalah terapi fisik dari Thailand yang telah berumur sekitar 2500 tahun lamanya. Pijat ini banyak dipraktekkan oleh warga Thailand sebagai kombinasi dari seni dan sains.
Pemijat Nuad Thai menggunakan tangan, kaki, lutut, dan sikut untuk meremas, melipat, dan melonggarkan tubuh pasien. Tujuannya adalah untuk membuka jalan bagi 72 ribu sen atau jalur energi dari dalam tubuh.
Menurut kepercayaan Buddhisme Thailand, pijatan ini dapat mengembalikan elemen internal tubuh manusia, yang terdiri dari elemen air, angin, api, dan tanah.
Menurut kepercayaan Buddhisme Thailand, pijatan ini dapat mengembalikan elemen internal tubuh manusia, yang terdiri dari elemen air, angin, api, dan tanah.
Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, kita di Nusantara memiliki jenisnya tersendiri, yaitu umumnya bernama Pijat Jawa dan Pijat Bali. Pijat tradisional ini, memang berasal dari dua wilayah tersebut, dan terus mengalir ke seluruh Nusantara.
Karena itu, perkembangan pijat tradisional pun terus merambah hingga jaman modern ini. Kemenkes pun telah membuat standarisasi untuk prakteknya. Bahkan, terdapat buku hasil Kemenkes, sebagai panduan dalam melaksanakannya.
Momen saat ini, pijat tradisional Indonesia belum berhasil diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda di UNESCO.
Akupuntur dari China
Praktek menusukkan jarum ke (titik saraf) dari kulit tubuh manusia, yang bernama akupuntur ini telah dimulai sejak lima ribu tahun lalu di China.
Praktisi akupuntur biasanya menusukkan lima, hingga dua puluh jarum di kulit tubuh pasien, yang mewakili titik syaraf tubuh manusia. Praktek kesehatan ini dapat membantu pasien dari penyakit migrain, mual, nyeri otot, masalah pernapasan, hingga keram menstruasi.
Menurut kepercayaan China, metode ini dapat menyeimbangkan energi gelap Yin dan energi cahaya Yang di dalam tubuh manusia, dan ditujukan agar kesehatan mental dan fisik terjaga serta tetap seimbang.
Yin dan Yang adalah bagian dari energi kehidupan, yang biasa disebut Qi,dan mengalir sebanyak 12 jalur di tubuh manusia. Setiap jalur Qi menghubungkan organ dan fungsi tubuh utama.
Sauna dari Finlandia
Finlandia telah memiliki budaya sauna sejak sepuluh ribu tahun lalu, dan semakin ramai hingga sekarang. 3,3 juta lebih kamar mandi sauna berada di Finlandia, padahal jumlah warganya hanya 5,5 juta saja.
Rata-rata warga Finlandia bermandi sauna satu kali dalam seminggunya. Tidak hanya dapat membuang racun tubuh (lewat keringat) dan stres, mandi sauna adalah ajang sosial di Finlandia.
Banyaknya lokasi mandi sauna yang berada di sisi danau, hutan atau pegunungan, mandi secara sosial ini dianggap sebagai lahan komunikasi antar warga, sekaligus untuk menikmati indahnya alam.
Banyaknya lokasi mandi sauna yang berada di sisi danau, hutan atau pegunungan, mandi secara sosial ini dianggap sebagai lahan komunikasi antar warga, sekaligus untuk menikmati indahnya alam.
Sementara dari Indonesia itu sendiri, terdapat beberapa contoh mengenai sauna tradisional. Namanya pun berbeda-beda, contohnya adalah Leuhang dari Sunda, Batangeh dari Minang, dan Betangas dari Kalimantan.
Khas sauna Leuhang dari Sunda, adalah menggunakan rebusan rempah, yang uapnya dialirkan dalam sebuah kotak tertutup khusus, sementara bagian tubuh (dari batas leher kebawah) menyerap nutrisinya melalui kulit.
Seperti saat diutarakan pada acara Pajajaran Anyar (Pekan Kebudayaan Daerah Jawa Barat 2025) dari Humas Jabar, Leuhang sebagai bentuk sauna tradisional Sunda, masih diusahakan di tahun 2025 ini, sebagai bagian dari daftar Warisan Budaya Tak Benda UNESCO.









0 comments:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.