![]() |
| Pagelaran Wayang Golek oleh Dalangnya (Wikimedia). |
Menyambut Hari Wayang Nasional pada tanggal 7 November, rasanya cocok dirayakan dengan mengingat bahwa wayang adalah warisan budaya tak benda yang kental di Indonesia.
Sebelum mengacu pada artikel yang disematkan oleh UNESCO dari PBB (UN), tampaknya perlu mengecek wayang dari sejarahnya. Bagi yang masih ingat pelajaran SD terdahulu, tentu tahu bahwa Wayang adalah media literasi terdahulu, yang biasa diselenggarakan bersama gamelan.
Seperti dilansir dari NU Online, Wayang itu sendiri berasal dari India, yang kental dengan ajaran Hindu. Namun, pada abad 15, salah seorang Wali Songo bernama Sunan Kalijaga, menggunakan wayang sebagai media penyebaran Islam. Setelah masuk ke Nusantara, kisah wiracarita Mahabharata dan Ramayana, lalu dirubah menjadi lakon yang lekat dengan banyaknya ajaran Islam.
Seperti dilansir dari Britannica, wayang sebenarnya bisa ditemukan hingga seluruh Asia Tenggara dan China. Namun khusus di Jawa, konotasi mistis dan religius sangatlah kental.
Wayang bahkan sempat diadaptasi oleh seniman boneka Richard Teschner, yang pada awal abad 20 lalu, mengombinasikan seni dan kesederhanaan wayang, dengan keahlian teknik Jerman, dan sempat diselenggarakan di teater Figuren Spiegel, Vienna, Austria.
Kembali ke Nusantara, terdapat beberapa jenis variasi wayang, yaitu Wayang Kulit khas Jawa Tengah yang berbentuk pipih dan menggunakan bayangan sebagai media visualnya. Satu lagi, Wayang Golek yang berbentuk boneka kayu dengan tongkat dipegang langsung oleh dalangnya dari Jawa Barat.
Terdapat pula Wayang Wong atau Orang, yang lakonnya diperankan langsung oleh seorang aktor. Sementara Wayang Krucil atau Klithik, adalah wayang sejenis pipih, namun berukuran lebih kecil dari Wayang Kulit.
Dan meloncat pada jaman sekarang, banyak kanal YouTube yang memainkan berbagai cerita wayang, melalui konten video atau bahkan siaran langsung. Contohnya adalah Wayang Kulit, yang dimainkan oleh Dalang Seno Nugroho.
Berbagai kanal rekaman lama Wayang Golek dari Dalang legendaris Asep Sunandar Sunarya pun, masih meramaikan YouTube. Video tersebut khas dengan kelucuan lakon Cepot, Udawala, dan Gareng, bersama sang ayah, Semar.
Kiprah Wayang Golek Sunda tahun 2025
Acara Wayang Golek sempat digelar kembali pada tahun 2025 ini, tepatnya pada saat Dies Natalis ke 71 UPI, pada hari Kamis, tanggal 7 November lalu, di Stadion Sepak Bola UPI (Universitas Pendidikan Indonesia), dengan mengundang Ki Dalang Dadan Sunandar Sukarya, dari Putra Giri Harja 3.
Dilansir dari Berita UPI, acara sempat tertunda akibat hujan, jadwal yang sebelumnya dimulai pukul 19.15 WIB, akhirnya diundur menjadi sekitar pukul 20.00 WIB. Acara dilaksanakan hingga pukul 02.00 dini hari.
Pagelaran diawali dengan tarian pembuka bernama Dangiang Isola, dari mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Tari Fakultas Pendidikan Seni dan Desain (FPSD). Tarian ini menggambarkan perjuangan, romantika, kebahagian, dan kesedihan yang meliputi sejarah Gedung Isila, sebagai simbol kejayaan dan kewibawaan UPI.
Wayang Golek serta Tarian Tradisional sebagai bagian dari seni dan kebijaksanaa lokal, perlu dilestarikan sebagai rasa syukur perkembangan adat, budaya, dan peradaban Indonesia, khususnya di tanah Sunda. Pelestarian budaya, kebersamaan, dan dedikasi untuk pendidikan akan terus menggema, di bawah langit Bandung yang membahana.
Artikel UNESCO Mengenai Wayang dari Indonesia
Wayang diterima sebagai Warisan Budaya Tak Benda pada tahun 2008 oleh UNESCO, setelah sebelumnya diklaim oleh Indonesia pada tahun 2003 lalu.
Wayang terkenal dengan ragam boneka dan musiknya yang kompleks, dan merupakan format kuno dalam mendongeng yang berasal dari Pulau Jawa, Indonesia. Selama sepuluh abad lamanya, Wayang ramai dimainkan di banyak kerajaan Jawa hingga Bali, dan bahkan hingga area pelosok.
Wayang pun merambah hingga kepulauan lainnya, seperti Lombok, Madura, Sumatera, hingga Kalimantan. Ragamnya pun disesuaikan dengan seni dan musik lokal, sehingga semakin berkembang dan berbeda.
Wayang dibuat secara tradisional dan bervariasi dalam bentuk, ukuran, dan ragamnya. Dua prinsip dasar tetap menjadi utama bagi Wayang, yaitu boneka kayu tiga dimensi seperti Wayang Golek, atau berbahan kulit pipih Wayang Kulit dan Klithik, dengan media bayangan akibat sorotan cahaya dibelakangnya.
Kedua jenis Wayang diberi karakter dengan kostum, bentuk wajah, dan bagian tubuh yang dapat digerakkan. Dalang menggerakkan Wayang melalui bagian tangannya dan tongkat yang menempel pada bagian bawahnya.
Sementara Dalang memainkan Wayangnya, sinden dan musisi (gamelan) memainkan instrumen berbahan perunggu, hingga menciptakan melodi sebagai latar pagelaran.








0 comments:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.