6 November 2025

Motivasi Guru Idealis di Pelosok Indonesia ala Film Solata

 

Angkasa yang suka berjuang untuk mengajar di daerah terpencil (TMDB).

Okeh, saatnya drama serius yang mengadaptasi kisah seorang guru idealis di Indonesia, yaitu film berjudul Solata, yang kini tengah tayang di sinema-sinema.

Terlihat dari cuplikannya, tampak seorang guru lulusan Jakarta, yang galau tidak terkira masalah pilihan hidupnya. Maka, dirinya memilih jalur yang paling idealis, yaitu mengikuti program guru di lokasi terpencil, dari Dinas Pendidikan.

Nah, sebelum membahas filmnya, perlu ditelaah kembali mengenai program ini. Walau cuplikannya tidak menunjukkan nama programnya, tampaknya mengacu pada program SM3T, yang berarti Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal.

Program ini sudah dimulai sejak tahun 2011 lalu di berbagai kampus Indonesia, khususnya di fakultas dengan jurusan kependidikan guru. Bahkan, saat masa kuliah dulu, program SM3T adalah ajang obrolan sehari-hari, menjelang kelulusan karena takut nganggur.

Memang, posisi guru di Indonesia cukup eksklusif, dengan jumlah batas jam mengajar KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) setiap minggunya, yang memang ditujukan sebagai sertifikasi guru.

Tidak hanya itu, Akta 4 sebagai syarat mendidik di sekolah (negeri), harus dimiliki oleh seorang kandidat guru. Seorang sarjana pendidikan otomatis memiliki mata kuliah mengajar dan ijazahnya setelah lulus, namun bagi jurusan non pendidikan, maka harus mengikuti beberapa program kuliah lagi.

Tentu, bukan hanya latar pendidikan saja, tetapi posisi yang dibutuhkannya. Satu sekolah hanya membutuhkan beberapa guru khusus di mata pelajarannya, itupun masih disesuaikan dengan ketersediaan jam dan murid. 

Seperti contoh berita dalam beberapa minggu terakhir, yang menyatakan banyak sekolah negeri kekurangan murid. Namun, berita tersebut tidak mencontohkan berapa madrasah, pesantren, dan sekolah swasta yang membutuhkan murid.

Nah, kembali ke SM3T, adalah program bagi guru baru yang butuh pengalaman mengajar. Posisi guru di lokasi urban padat memang terlalu penuh, dan dengan gaji pas-pasan. Banyak mahasiswa baru, dari berbagai latar pendidikan, memilih mengajar les saja, yang masih membuka jalur karir lainnya.

Karena itu juga, banyak guru yang mulai mengajar di pelosok, dan hanya sebatas jangka waktu programnya saja, hingga program tahun berikutnya dimulai. Namun, program SM3T ini dihentikan tahun 2017 lalu. Walau begitu, tidak diganti dengan nama program baru, melainkan dipusatkan dengan Program Kemitraan untuk Mewujudkan Peningkatan dan Pemerataan Kualitas Pendidikan di Daerah 3T.

Naaah, sekali lagi, kembali ke film Solata, tampaknya berkisah berbeda, karena sang tokoh utamanya justru galau dan kagum begitu tiba dan mulai mengajar di lokasi terpencil.

Okeh, sudah saatnya mengecek sinopsis filmnya ya...

Sinopsis Film Solata

Angkasa (Rendy Kjaernett) adalah seorang lulusan mahasiswa Jakarta yang galau. Saking galaunya, dia memilih untuk mengajar di lokasi terpencil, yaitu berada di Pegunungan Ollon, Tana Toraja, Sulawesi Selatan. 

Ibunya Angkasa sempat berpesan, bahwa seluruh jawaban kegaulauan dirinya, bisa ditemukan di Ollon. Namun setelah tiba, salah satu muridnya malah memperingatkan, bahwa selama tiga tahun terakhir, tidak ada guru yang bertahan lebih dari satu bulan SD Kecil 3 Ollon.

Memiliki semangat berbeda, justru Angkasa kagum dengan kebetulan yang ditemukan dari nama murid-muridnya. Nama mereka adalah Wahid, Karno, Mega, Bambang, Harto, dan Habidi, yang merupakan singkatan nama keenam Presiden Indonesia terdahulu.

Walau lokasi sekolahnya terpencil dengan bangunan yang agak rusak, dan jalur menuju sekolahnya yang terjal nan jauh dari desa, Angkasa malah semakin bersemangat menikmati pengalaman mengajarnya. Angkasa lalu berhasil meraih dana dan bantuan, agar sekolahnya dapat diperbaiki, dan layak sebagai lokasi kegiatan belajar mengajar.

Sayang, tidak lama kemudian, Dinas Pendidikan setempat justru berinisiatif untuk menutup sekolah 3T di Tana Toraja. Mungkin alasannya, sekolah akan dipusatkan di lokasi yang lebih mudah diakses siswanya.

Sanggupkah Angkasa bersama murid dan orangtua di desanya mempertahankan sekolah SD Kecil 3 Ollon? Atau malah mengalah dan pindah seluruhnya?

Jawabannya tentu ada di sinema-sinema Indonesia.

0 comments:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.