30 Maret 2026

Mengajari Anak Mengenai Kearifan Budaya Lokal Melalui Dongeng Nusantara

 

Ilustrasi buku folklor (Freepik).

Menyambut Hari Dongeng Sedunia (20 Maret), lalu dilanjutkan dengan Hari Puisi Sedunia (21 Maret), yang diakhiri dengan Hari Buku Anak Sedunia pada tanggal 4 April mendatang, tampaknya cocok untuk membahas mengenai Buku Dongeng, khususnya sebagai bagian dari tumbuh kembang anak di Nusantara.

Dalam artikel ini, penulis mengkaji studi dari banyak ahli pendidikan nasional, mengenai hubungan antara dongeng dengan tumbuh kembang anak. Dongeng Nusantara memang menjadi satu bahan ajar bagi anak PAUD, TK, hingga Sekolah Dasar. Tentu tujuannya untuk mengajarkan budaya lokal Indonesia, dengan segala kearifan lokalnya.

Untuk referensi mengenai fungsi dongeng di abad 20 hingga 21 sekarang, dapat dicek saja melalui terjemahan dan referensi ensiklopedianya, dalam artikel berjudul Perubahan Dongeng di Abad 20 dan Perannya di Abad 21. Artikel ini ditulis saat bulan November tahun lalu, demi menyambut hari Dongeng Nusantara pada tanggal 28 November setiap tahunnya.

Karena itu, dalam artikel menyambut Hari Dongeng Sedunia, dikombinasikan dengan dua tanggal penting lainnya. Bagaimana pun juga, korelasi serta kolaborasi studi adalah kombinasi yang menciptakan perkembangan budaya, teknologi, dan peradaban manusia hingga kini.

Khusus untuk blog ini, justru penulis dapat menjabarkan pula, bahwa setiap film dan cerita pada umumnya, memiliki nilai moralnya tersendiri. Walau blog ini lebih mengacu pada simbol dan referensi pada setiap artikelnya, namun tentu berlatar pada nilai dan moral yang dipercaya oleh jutaan warga di Nusantara.

Hari Dongeng Sedunia

Hari Dongeng dirayakan di seluruh dunia sejak tahun 1997 lalu, saat ditetapkan oleh banyak negara, contohnya adalah AS dan Australia. Sebelumnya, 20 Maret ditetapkan sebagai hari Mendongeng Nasional di Swedia, sejak tahun 1991. 

Dilansir dari Universitas Muhammadiyah Malang, Hari Dongeng Sedunia dirayakan sebagai wahana imajinasi anak. Pendongeng menutur cerita dengan gestur tubuh, sehingga anak dapat berimajinasi dalam alur cerita dongeng. Dengan berimajinasi bebas, maka kreatifitas anak akan bertambah. Tidak hanya imajinasi, namun rasa empati dan simpati akan muncul dalam diri mereka. Karena, dongeng Nusantara mengandung banyak nilai moral dan pendidikan.

Guru bahkan perlu diberi pendidikan khusus dalam mendongeng. Dengan semacam softskill ala mendongeng, guru akan lebih mudah dalam menanamkan nilai moral serta menumbuhkan sisi kreatifitas bagi anak.

Hari Puisi Sedunia

Menurut Perpustakaan Universitas  Brawijaya, Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) menyatakan pentingnya Puisi saat Konferensi Umum ke-30, pada tahun 1999 lalu. Konferensi yang dilaksanakan di Paris, Perancis ini mencanangkan tanggal 21 Maret sebagai Hari Puisi Sedunia, yang mendukung keragaman bahasa melalui ekspresi puitis, dan kesempatan untuk mengajarkan bahasa yang terancam punah.

Menurut UNESCO, puisi bermemiliki peran strategis dalam seni dan budaya, dan termasuk diantaranya adalah sejarah. Puisi adalah katalis kuat untuk berdialog dan menjaga perdamaian. Kolaborasi puisi dengan karya seni seperti musik, tari, drama, atau lukisan tidak hanya dapat terus dinikmati dan tidak hilang oleh waktu, namun sebagai bagian dari upaya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Dari segi ini, penulis berpendapat bahwa bentuk ekspresif puitis telah terkombinasi dengan menyeluruh pada banyak media, khususnya pada lagu (musik) dan film yang tersaji saat ini. Penulis sendiri sering memasukkan banyak istilah frasa, dalam banyak kajian film di artikel blog ini. Istilah frasa tersebut kadang memiliki rima ala puisi, dengan maksud tidak langsung dan suatu pedoman norma tertentu.

Hari Buku Anak Sedunia

Menurut Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kutai Kartanegara, perayaan Hari Buku Anak Sedunia setiap tanggal 2 April mengacu pada hari lahir penulis dongeng bernama Hans Christian Andersen. Perayaan ini untuk menumbuhkan budaya membaca, meningkatkan kesadaran literasi, serta menghomati karya sastra yang berkontribusi besar dalam dunia pendidikan, khususnya pada anak.

Wacana ini sesuai dengan manfaat dongeng untuk anak, yang dilansir dari Generasi Maju. Keterampilan kognitif anak dalam memproses ingatan, bahasa, pemikiran, dan penalaran dapat terlatih dengan cara mendengarkan dan memahami dongeng.

Aspek perkembangan yang didukung oleh pembacaan dongeng diantaranya adalah merangsang kecerdasan anak dengan aktivasi otak yang berkelanjutan, dan mendukung perkembangan psikologi dengan mempengaruhi perasaan mendalam anak saat menghadapi situasi problematis.

Membaca dongeng dapat dilaksanakan sebagai media belajar bahasa dengan banyak kosakata,  padanan kalimat, serta konteksnya. Selain itu, dongeng dapat membangun minat literasi sejak dini, yang menjadi satu kunci pembelajaran di masa depan.

Membaca dongeng dapat mengasah keterampilan berpikir anak, agar mereka berpikir kritis sejak dini. Mendengarkan dongeng dapat mendorong anak dalam memecahkan masalah, memahami keberagaman serta kerja sama. Anak dapat merespon dengan menunjukkan tanggapannya sendiri atas cerita dongeng yang orangtua sampaikan.

Karena membaca dongeng dilaksanakan dua arah, maka aktifitas komunikasi ini dapat mempererat hubungan orangtua dan anak, yang membangun ikatan kuat antar keduanya. Dengan interaksi positif, maka anak akan merasa aman, dicintai, diperhatikan, dan disayangi. Aktifitas ini membantu anak berkembang secara sosial maupun emosional dalam memahami dunia.

Keunikan Mengenal Dunia Melalui Dongeng

Terdapat pula keunikan lain melalui pembacaan dongeng antara anak dan orangtua, yaitu mengenalkan berbagai jenis suara dan bentuk ilustrasi di sekitar lingkungannya, seperti dilansir dari Kemendikdasmen

Suara ketukan pintu, degup jantung, dan bel sepeda disajikan secara imajinatif, untuk mengasah indra dan rasa ingin tahu anak. Setiap suara memiliki simbol dan tanda sebagai alat komunikasi dengan orang lain atau mahluk hidup di sekitar lingkungannya. Terlebih lagi, anak usia dini membutuhkan pengenalan suara melalui dongeng.

Menunjukkan ilustrasi yang sesuai dengan benda, alam, atau manusia yang diceritakan, dapat mengisi pola imajinasi anak. Isi cerita beserta ilustrasinya yang sederhana, singkat, dan jelas informasinya dalam dongeng, dapat lebih mudah diterima oleh anak-anak.

Tentunya, nilai moral yang berisi kejujuran, doa, dan kemandirian sangat diperlukan oleh anak. Khususnya, cerita yang berasal dari buku, cerita pengalaman, kisah nabi, dan cerita rakyat yang ditujukan untuk meningkatkan kemampuan kognitif dan tumbuh kembang anak usia dini.