20 Januari 2026

Sedihnya Ngobrol Dengan AI Ala Film Esok Tanpa Ibu

 

Sekeluarga yang masih lengkap (TMDB).

Nah, saatnya kembali ke jaman saat ini, yang lebih kentara dengan AI-nya, ala film Nusantara berjudul Esok Tanpa Ibu, yang tayang di banyak sinema Indonesia.

Kali ini, banyak aktor yang mengisinya pun berasa mega bintang, yaitu Ringgo Agus Rahman (yang kembali mengisahkan drama keluarga), Dian Sastrowardoyo (yang memang ahli dalam film drama). Keduanya ditemani oleh duo aktris-aktor muda yang tengah naik daun, yaitu Ali Fikry dan Aisha Nurra Datau. 

Sinopsis film ini memang mengisahkan cerita futuristik, tidak seperti kebanyakan film drama Indonesia. Ya, film Esok Tanpa Ibu ini mengisahkan tentang kecerdasan buatan (AI), yang kini sedang ramai digemari oleh banyak remaja dan pemuda-pemudi Indonesia. Ratingnya pun disesuaikan, yaitu untuk remaja (R13) keatas.

Sekilas tentang AI dan Remaja

Mengenai kisah perkembangan AI-nya itu sendiri, khususnya di kalangan warga yang mudah mengaksesnya, adalah sejak munculnya Siri di iPhone 4s dari Apple, pada tahun 2011 lalu. Siri memang dikenal sebagai asisten pribadi, tetapi karena keterbatasan spek ponsel, tidak membuka banyak peluang bagi pengembangan AI.

Lalu loncat ke 11 tahun berikutnya, ChatGPT dari OpenAI meramaikan ranah kecerdasan buatan di ponsel, pada tahun 2022 lalu. Banyak perusahaan lain, contohnya adalah raksasa Google, merilis pula Gemini untuk ponsel androidnya. Bahkan, sejak tahun 2022 hingga sekarang, bisa disebut sebagai jamannya balapan bagi para developer IT, untuk mengembangkan teknologi berbasis AI.

Nah (lagi), kini saatnya di tahun 2026 dengan hingar-bingar dari dunia AI di tahun sebelumnya, tampaknya perlu ditelaah dari segi efeknya bagi remaja. Beberapa kampus dan sekolah bahkan sempat mencanangkan Kurikulum Berbasis AI sebagai bagian dari pendidikannya. 

Namun, karena penulis sendiri (selalu) skeptis dengan AI, dan paham dengan perbedaannya bagi perkembangan anak, maka dilansirkan saja beberapa info dari pemerhati pendidikan. Penulis skeptis, karena AI lebih cocok dipakai oleh kaum tekno, yang sanggup memahami dan mengopreknya langsung, daripada dipakai sehari-hari. Apalagi, banyak gawean manual yang harus dikerjakan manusia. 

Terdapat pula beberapa kasus berujung kehilangan nyawa di luar sana, yang menyangkut hubungan langsung antara AI dan remaja. Berbagai kasus tersebut, adalah satu anomali, yang sempat mempengaruhi perkembangan anak akibat AI.

Bahkan menurut GentaQurani, yang melansir dari penelitian di kampus Universitas Gajah Mada (UGM), dengan melansir kajian oleh Guru Besar Prof. Ridi Ferdiana, menyatakan bahwa 77 persen generasi milenial hingga gen Z menggunakan AI dalam kesehariannya. Sementara 45 ribu dari 60 ribu mahasiswa di UGM, telah menggunakan AI secara intensif.

Sisi terang AI dalam keseharian remaja dan pemuda, adalah sebagai teman belajar yang cerdas. AI dapat menjadi sahabat belajar yang luar biasa bagi anak. Fitur guided learning dari Gemini AI, dapat membantu pelajar untuk memahami konsep mata pelajaran hingga kuliah.

Dengan begitu, seperti dilansir dari DCloud, hubungan remaja dan AI harus meliputi beberapa faktor. Diantaranya adalah pendidikan literasi digital, peningkatan kesadaran etika AI, pengawasan dan pendampingan, kurikulum berbasis AI di pendidikan, regulasi dan kebijakan yang mendukung, serta kerjasama antara industri dan pemerintah.

Namun kembali UGM, Prof. Ridi menyatakan beberapa resiko mengenai penerapan AI yang intensif. Diantaraya kemampuan berpikir kritis dan analisis menurun, sehingga tidak dapat menyelesaikan masalah secara mandiri. Daya ingat akan melemah, akibat mudahnya mencari informasi. Serta efek yang dikenal ramai sebagai brain rot, alias kondisi otak yang tumpul.

Kisah Ado yang Terinspirasi oleh AI bernama Hatsune Miku

Walau begitu, daripada membahas kisah mengerikan tentang AI, dan membahas acuan terpenting digital mengenainya, maka perlu dikenal pula dari segi lainnya, yaitu dunia hiburan. Kenapa? Karena blog ini memang berisi dunia seni hiburan, khususnya film dan banyak kisah berbudaya lainnya.

Dari segi ini, memang sedang kisruh dengan Hak Cipta dan urusan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) akibat AI, terdapat secercah harapan dari ranah lainnya. 

Yaitu, dengan mengacu pada seorang penyanyi terkenal bernama Ado, yang kini tengah ramai dibincangkan di ranah digital, dunia nyata Jepang, dan dunia musik internasional. Penyanyi ini seperti gabungan Vtuber dan Idol ala Jepang, namun dengan bumbu horor ala Gadis Gothik (GeGe). Namun, lagu dan vokalnya memang cukup kuat, sehingga layak disebut sebagai Diva dari Jepang. 

Nah, Ado ini sebenarnya mengidolakan Hatsune Miku sejak remaja, yang memberi inspirasi karirnya sebagai penyanyi di Jepang. Telah debut sejak tahun 2020 lalu, kini di tahun 2026, Ado sebenarnya baru berumur 23 tahun! Sebelum dia debut, Ado adalah bagian dari Utaite, yaitu semacam e-girl yang suka meng-cover lagu.

Okeh, tentunya cukup mengerti bahwa kisah ini, berarti sebuah cerita berbeda, bagaimana seorang penyanyi yang kuat meraih mimpinya berkat bantuan AI, dan berakhir sebagai Diva di Jepang. Ado bahkan sempat menyatakan, bahwa masa remaja dirinya, sering diisi dengan menonton Hatsune Miku pada konsol DS-nya.

Nah, karena sudah panjang lebar, dan akhirnya kembali ke dunia hiburan juga, maka coba kita cek saja sinopsis film Esok Tanpa Ibu. Perlu penulis tegaskan, isu sosial semacam ini memang sudah dikaji oleh banyak profesional. Sehingga, perlu diadaptasi pula sebagai bagian dari sebuah film, baik itu untuk hiburan, maupun meningkatkan kesadaran warga.

Sinopsis Film Esok Tanpa Ibu

Rama (Ali Fikry) adalah seorang remaja yang aktif, namun hanya dekat dengan ibunya saja, Laras (Dian Sastrowardoyo). Rama sering curhat dengan Laras, mengenai dirinya yang kurang dekat dengan ayahnya sendiri, yaitu Hendi (Ringgo Agus Rahman). Karena itu, ibunya yang kocak serta sering bercerita, menjadi bahan keseharian Rama.

Namun, suatu hari Laras mengalami kecelakaan, yang berakibat dirinya harus dirawat dan koma di rumah sakit. Rama yang memang sangat dekat dengan ibunya, merasa kehilangan minat untuk berdiam diri di rumah. Hubungan dirinya dengan Hendi, malah semakin kurang harmonis.

Suatu hari, Rama berkunjung ke rumah temannya, Zyla (Aisha Nurra Datau) yang lihai dalam hal Teknologi Informatika. Zyla menyarakan, untuk mengunggah seluruh video Laras, kedalam mesin kecerdasan buatan miliknya. Dengan begitu, Rama masih bisa mengobrol dengan ibunya.

Keseharian Rama pun diisi kembali dengan hadirnya Laras, walau dalam bentuk digital, pada gawai jam tangan pintar maupun komputernya. Namun, Hendi tidak menyukai Laras versi AI, dan mencoba membongkar instalasi tersebut dirumahnya. Rama dan Hendi sempat bersitegang, hingga akhirnya satu instalasi monitor besar, secara kebetulan memunculkan sosok Laras yang sehat walafiat.

Dapatkan keluarga ini menerima kehadiran AI bersosok ibu? Atau malah semakin galau dalam menunggu kesembuhan Laras di rumah sakit? 

Jawabannya, tentu ada di ranah kecerdasan buatan ala sinema Indonesia.