![]() |
| Biba dan Rizky yang masih terbebani (TMDB). |
Berikutnya, adalah film drama keluarga Indonesia yang lebih mengena lagi, berjudul Uang Passolo, yang tengah tayang di sinema Indonesia, dengan rating umur cukup membahana, yaitu R13 (Remaja).
Berbeda dengan ketiga film sebelumnya di minggu ini, Uang Passolo cukup mengingatkan, bagaimana drama paling mudah ditemui di keseharian, yaitu saat repotnya mengurus Prasmanan Pernikahan anggota keluarga. Tentu, bukan maksudnya kawin dan kawin lagi ala film lain, tetapi bagi yang sudah merasakan atau tidak, tentu ingat hiruk-pikuknya melaksanakan acara pernikahan.
Oh ya, menariknya film Uang Passolo ini, mengadaptasi budaya Indonesia wilayah Timur, khususnya di Sulawesi, dengan gaya komedi khas dari sana. Tetapi, jika ditelaah kembali, justru keadaan seperti ini lumrah di seluruh Nusantara. Uang Passolo pun artinya uang Prasmanan, yang biasa berada dalam sebuah amplop, dan diberikan saat pengunjung tiba di meja tamu saat acara berlangsung.
Perlu diingat, budaya kekeluargaan di Indonesia, yang begitu lekat hingga leburnya istilah besan, dan cocok sebagai bagian dari keluarga besar. Budaya kekeluargaan tersebut, mengacu pula saat seorang anggota keluarga, menjelang pernikahan mereka. Tentu, seluruh keluarga besar ingin acara tersebut dimeriahkan.
Bahkan, jika mengingat budaya arisan keluarga Indonesia, momen pernikahan menjadi satu tahap dimana seluruh anggota keluarga, berkontribusi langsung. Tergantung dari budaya persukuannya, dan tradisi keluarga itu sendiri, maka keluarga besar tentu turun membantu dalam segi biaya dan persiapan lainnya.
Apalagi, momen tersebut kadang berujung hutang besar, kepada keluarga besar. Tentu, banyak yang tidak ingin terikat hutang sebesar itu, apalagi dengan urusan kedekatan keluarga pula. Namun, justru itulah menariknya. Bayangkan, tidak mirip film dan sinetron Indonesia yang mengedepankan kawin-cerai serta poligami, justru stigma buruk tersebut sangat melekat dalam budaya kekeluargaan Nusantara.
Istilahnya, budaya Nusantara sangat tidak menyukai kawin-cerai atau poligami, karena menjunjung tinggi asas kekeluargaan. Bahkan tidak hanya sebagai norma sehari-hari, namun ditunjukkan saat momen pernikahan, saat seluruh keluarga besar tidak hanya berkumpul, tetapi langsung berkontribusi.
Tentunya, momen pernikahan memang mengundang pula tetangga terdekat, keluarga besar lainnya, kenalan di pekerjaan, dan mungkin Para Pemburu Prasmanan sekaligus (Hehe).
Nah, justru karena hal tersebut, maka gengsi pernikahan semakin tinggi. Dan, penulis juga memiliki beberapa pengalaman aneh mengenai pernikahan di Nusantara. Bukan maksudnya membuka momen pribadi saat pernikahan, tetapi lebih mengemukakan tentang repotnya saat ada momen Prasmanan di jalan raya.
Contohnya, saat sedang berlibur ke luar kota, yang memang saat itu tengah minggu liburan, kadang banyak jalan ditutupi oleh semacam area khusus. Ya, jalan tersebut ditutup karena sedang ada Prasmanan. Mobil serta motor harus berbalik, untuk melanjutkan perjalanan.
Kadang, momen tersebut tidak sepenuhnya memenuhi jalan raya. Tetapi, lokasi parkir yang sempit, serta banyaknya kendaraan yang perlu lewat, menyebabkan jalan yang macet parah. Belum lagi suara sound horeg yang keras, yang betulan meramaikan suasana jalan raya.
Ya, maklum saja kalau begitu, karena momen itu memang jarang dan cukup berharga. Pengemudi yang numpang lewat, mungkin sekalian saja menikmati, karena memang momen tersebut cukup langka terjadi, walau diundang sekali pun.
Okeh, saatnya kembali ke film Uang Passolo, yang jelas animonya mirip dengan acara kekeluargaan ala Nusantara ini. Oh ya, bahasanya pun khas dari Sulawesi sana, jadi siap saja untuk membaca terjemahannya.
Sinopsis Film Uang Passolo
Rizky (Imran Ismail) dan Biba (Masita Aspah) adalah sepasang muda-mudi yang siap menikah. Namun, keduanya justru ingin melaksanakan proses pernikahan yang sederhana, alias hanya mengundang keluarga besar saja.
Namun, orangtua dari kedua belah pihak, justru menolak acara sederhana tersebut. Mereka menginginkan anaknya melaksanakan acara pernikahan yang meriah, lengkap dengan undangan kepada ratusan tetangga dan kenalan.
Bahkan, Biba lebih miris lagi. Jika acara pernikahan besar jadi dilaksanakan, maka rumah ibunya digadai demi menutupi biaya. Sementara orangtua dari Rizky, berpendapat bahwa acara pernikahan yang besar undangannya, tidak hanya memperbanyak doa, namun menambah pula banyak berkah dan rezeki (langsung).
Pernikahan pasti tetap berlangsung, tetapi bagaimanakah caranya mereka semua mencapai tahap tersebut? Jawabannya, tentu dapat dicek melalui ritual pernikahan ala sinema Indonesia.








0 comments:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.