13 Januari 2026

Terjebak di Alam Lain Akibat Angkernya Jalanan Film Alas Roban

 

Busnya saja sudah angker (TMDB).

Berikutnya dalam minggu ketiga Januari yang penuh aura horor ini, kembali juga satu kisah yang merupakan legenda urban Nusantara, berjudul Alas Roban, yang akan tayang di sinema Indonesia. Ratingnya pun cukup tinggi, alias umurnya harus 17 tahun keatas (D17).

Berbeda dengan beberapa film sebelumnya, legenda urban jalan raya angker memang mengisahkan satu kisah yang sering ada di dunia nyata. Kali ini, Alas Roban yang berada di jalur Pantura, tepatnya di kabupaten Batang, Jawa Tengah. 

Terlihat pada cuplikannya, tampaknya mengambil latar jaman dimana Pantura masih ramai dilalui, alias sebelum jalur tol Trans-Jawa, antara jalur Cisumdawu, Cipali, Palikanci, dan seterusnya dibuka untuk umum.

Memang pada jaman tersebut, bukan hanya tingginya jumlah kecelakaan di jalur Pantura, namun panjangnya jalan yang membuat banyak kisah legenda urban. Banyak pengemudi yang melalui jalur Pantura, akhirnya terpaksa mencoba jalur lain, walau lebih memutar arahnya.

Sedikit Kisah Angker dari Jalan Raya

Daripada membahas area Alas Roban yang akan disajikan dalam filmnya, maka penulis coba mengangkat jalan raya angker lainnya. 

Ya, yang coba diangkat adalah jalan angker bernama Tanjakan Emen, yang berada di antara Subang dan Lembang, Jawa Barat. Jalan tanjakan ini memang sempat melegenda, akibat seringnya kecelakaan kendaraan bermotor dan terjalnya jalur tersebut. Jalan yang menanjak dan berbelok dengan tikungan sulit, menyebabkan kecelakaan mudah terjadi di Tanjakan Emen. 

Kecelakaannya itu sendiri terjadi pada tahun 1956 lalu, saat sebuah oplet dengan kernet bernama Emen, jatuh ke jurang. Akibat lokasi tanki bahan bakar yang dekat dengan dasbor dan kelengkapan listriknya, oplet seketika terbakar, dan melahap jiwa ke-27 penumpangnya. 

Ngerinya kecelakaan tersebut, menyebabkan tanjakan curam tersebut dinamai sesuai dengan korbannya, yaitu Tanjakan Emen. Padahal, nama asli korbannya berbeda, alias hanya sebutan saja. 

Karena mitos angkernya Tanjakan Emen merebak, maka banyak ritual bagi para pengendara saat melaluinya. Diantaranya adalah membunyikan klakson, melempar koin ke jalan, hingga menyalakan rokok baru, lalu membuangnya langsung. Ritual tersebut dipercaya, dapat mengamankan kendaraan mereka dari celaka.

Namun, setelah beberapa kali direnovasi dan dikonstruksi ulang, Tanjakan Emen kini telah mencapai tingkatan aman. Sejalan dengan menurunnya jumlah celaka dan ritual aneh di sekitarnya, jalan ini pun dirubah namanya menjadi Tanjakan Aman oleh pemerintah lokal, sejak tahun 2018 lalu.

Agak berbeda memang, namun penulis percaya, bahwa keangkeran mistis bisa ditanggulangi dengan merubah medianya. Yaitu, dengan memperbaiki infrastruktur jalur tersebut, lalu merubah namanya, agar kesan dan atmosfer angker pun berlalu. Warga pun akan kembali melaluinya dengan perasaan lebih aman. Jadi, tidak perlu dikaitkan langsung dengan mistis.

Sinopsis Film Alas Roban 

Sita (Michelle Ziudith) adalah seorang ibu tunggal, dengan anaknya yang tunanetra, bernama Gendis (Fara Shakila). Suatu hari, karena dirinya mendapatkan pekerjaan baru di Semarang, harus berangkat ke Semarang saat hari mulai sore. 

Walau supir busnya sempat menolak, namun karena kasihan, maka mengantar kedua insan tersebut. Padahal, supirnya tahu bahwa jalur Alas Roban adalah lokasi angker, apalagi dilalui saat hari mulai gelap. Alas Roban sudah dianggap jalur ramai kecelakaan, yang semakin angker dengan banyak ditemukannya sisa tubuh di lokasi tersebut.

Sita berhasil tiba di Semarang, dan mulai bekerja di rumah sakit. Namun, semenjak saat itu, Gendis mulai bertingkah aneh. Gendis dapat menggambar dengan baik, padahal matanya sulit melihat. Gendis pun sering kerasukan tiap malam harinya, yang menambah panik Sita serta keluarga dekatnya.

Apakah yang terjadi di rumah Sita dan Gendis? Apakah ada hubungannya dengan lokasi angker Alas Roban? Atau ada yang bermaksud lain pada gadis cilik ini?

Jawabannya, tentu ada di legenda angker sinema Indonesia.

0 comments:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.