![]() |
| Kedua teman dekat yang menjaga jarak di sekolah (TMDB). |
Sudah saatnya membahas film yang agak telat ditulis, tetapi cukup menarik dan telah tayang di sinema Indonesia sejak awal Mei. Judulnya adalah Monster, yaitu film Jepang berating umur R13 (Remaja) yang berlatar dunia pendidikan sekolah dasar.
Uniknya, film ini disajikan dengan sinematografi Rashomon-style. Penggambaran cerita seperti ini, menggunakan banyak karakternya yang berbeda perspektif satu sama lain, dan menyebabkan kisah yang saling tumpang tindih.
Rashomon-style dan Film Banyak Latar Karakter
Rashomon tidak bisa disebut sub-genre, karena menceritakan kisah yang sesuai dengan genre utamanya. Namun lebih mirip teknik sinematografi, dimana para karakter memiliki perbedaan sudut pandang dan pendapat. Cerita pun mengalir dengan banyak perbedaan tersebut, sehingga penonton perlu berpikir lebih atas cerita yang disajikan.
Istilah Rashomon mengacu pada film berjudul sama, yaitu Rashomon yang rilis pada tahun 1950, oleh sineas perfilman Jepang bernama Akira Kurosawa. Film ini berisi empat saksi yang mengisahkan modus operandi seorang pembunuh saat tengah menjalankan aksinya. Namun keempat saksi memiliki perbedaan yang kentara, dan bahkan saling tumpang tindih satu sama lain. Sehingga, polisi pun perlu menerka hingga mencari bukti yang tepat agar pelaku bisa didakwa.
Menurut TV Tropes, film Rashomon meminta penonton untuk mengkaji setiap karakter, karena mereka mewakili istilah Unrealiable Narrators alias kurang bisa dipercaya. Daripada artikel film dalam blog ini yang mengacu pada referensinya, ada kalanya beberapa karakter adalah pembohong atau pendapatnya salah, sehingga penonton perlu kritis saat mendengarnya.
Penulis sebenarnya tidak memiliki banyak pengalaman mengenai film sejenis ini. Justru, pernah menonton beberapa film yang memang banyak karakternya, namun masih berlatar di jalinan cerita yang sama. Dalam film sejenis ini, justru setiap karakter memiliki peran utama, walau jalan ceritanya berbeda.
Contohnya adalah film Magnolia (1999) dan Love Actuallys is All Around (2003). Keduanya adalah film drama dengan banyak karakter, latar, serta jalur ceritanya masing-masing. Namun pada satu titik, mereka semua sempat berpapasan satu sama lain, dengan puncak cerita yang mengungkap hubungan semuanya. Memang bukan tipe Rashomon, tetapi menjadi rekomendasi menarik dari dunia perfilman.
Sinopsis Film Monster
Michitoshi Hori (Eita Yagayama) adalah seorang guru sekolah dasar yang sedang bermasalah. Dirinya yang terpaksa memisahkan dua anak bertengkar, sempat salah dengan menampar salah satu muridnya, hingga mimisan.
Akibatnya, anak bernama Minato Mugino (Soya Kuroka) bersama ibunya, Saori Mugina (Sakura Ando), protes kepada dewan sekolah. Kepala sekolah Makiko Fushimi (Yuko Tanaka) pun lebih membela ibu dan anaknya tersebut, daripada gurunya sendiri. Sementara banyak murid lain yang menjadi saksi, melaporkan bahwa guru Hiro sering memukuli Minato.
Namun dibaliknya, ternyata hubungan Minato dan Yori Hoshikawa (Hinata Hiiragi) baik-baik saja di luar sekolah. Keduanya adalah teman dekat yang selalu bermain bersama, walau di sekolah keduanya menjaga jarak.
Ceritanya pun semakin berat dan kontroversial, dimana banyak anak di SD mulai hilang dari sekolah. Mungkin akibat kontroversi, atau ada sesuatu yang berbahaya dibalik seluruh drama tersebut. Sosok Monster yang sering digambar oleh seorang siswa, menjadi kunci jawaban atas situasi berbahaya ini.
Sanggupkah kota kecil ini mengungkap semuanya? Atau malah terjebak drama parah berkepanjangan yang tiada ujung? Apakah anak yang hilang akan kembali, atau malah menjadi korban sebuah kejahatan besar?
Jawabannya, tentu ada festival drama sinema Indonesia.







Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.