![]() |
| Skema piramida ala zombie (TMDB). |
Monsterisasi sekarang membahas berbagai kombinasi film yang melanjutkan animo body-horror dan Spesies Asing Invasif (SAI), tanpa latar antariksa alias masih di Bumi. Tema yang dibahas adalah zombie, sebagai mayat hidup yang menebar teror.
Film yang dibahas adalah Night of Living Dead (1990), lalu Dawn of the Dead (2004), Land of the Dead (2005), Slither (2006), dan Army of the Dead (2021) . Sesuai judul, keempat film adalah karya dari sineas perfilman terkenal, yaitu George A Romero, Zack Snyder, dan James Gunn.
Romero sebagai pionir yang meramaikan film zombie, lewat filmnya Night of Living Dead tahun 1968, kini kurang aktif di perfilman. Sementara Snyder dan Gunn masih berkarya, walau lebih sering memimpin produksi film pahlawan super.
Dilihat dari urutan rilis filmnya hingga tahun 2006, maka keempat film adalah awal yang meramaikan animo zombie, khususnya di Hollywood. Tidak sebesar film lain tapi latarnya tetap luas, keempat film adalah contoh yang memulai ramainya animo zombie saat 90an hingga 2000an.
Bahkan jaman tersebut sempat mengalami atmosfer yang sama dengan pahlawan super sekarang, yaitu zombie-fatigue. Banyak media atau fans film, bosan dengan film besar yang berisi horornya zombie saja. Apalagi dengan terus dirilisnya serial zombie sepanjang masa, The Walking Dead (2010-2022).
Terlalu masifnya film zombie akan dibahas di akhir artikel. Namun untuk awal dari semuanya, maka dibahas satu-persatu dari kombinasi empat film horor ini. Perlu diingat pula, bahwa zombie berisi mendarah-darah dan mendaging-daging, jadi rating umurnya selalu tinggi.
![]() |
| Awal kisah zombie di subuhnya hari (TMDB). |
Referensi Awal Zombie
Sebelum membahas filmnya, perlu dicek terlebih dahulu referensi awal monster berbentuk zombie. Tidak akan dijelaskan terlalu panjang, karena sempat ditulis dalam artikel Abadi Nan Jaya.
Film ini mengacu pada jamu sebagai obat herbal tradisional Nusantara, yang menjadi malapetaka zombie. Sehingga cocok sebagai referensi langsung pada awal kisah zombie dari Haiti. Kisah dukun yang menyalahgunakan obat herbal dan pasiennya berubah menjadi 'mayat hidup' lau diperbudak, adalah referensi tersebut.
Bahkan George A Romero sebagai pionirnya, sempat dibahas dalam artikel yang sama. Night of Living Dead (1968) lalu Dawn of the Dead (1978) dari Romero, adalah kisah zombie yang memulai semuanya.
![]() |
| Para penyintas yang terpaksa panik (TMDB). |
Neraka di Dunia Fana Ala Night of Living Dead dan Slither
Karenanya, sub-artikel pertama membahas kisah zombie yang terisolir dan ngeri simbolisnya, sebagai monster yang menguak konflik terpendam antar manusianya.
Night of Living Dead versi tahun 1990, yaitu reka ulang film tahun 1968 dari penulis orisinalnya, Romero tetap menampilkan konflik antar manusia yang sangat kentara. Walau seluruh penyintas harus bekerja sama dalam satu rumah terpencil, namun banyak perbedaan pendapat malah menyulitkan semuanya.
Bahkan beberapa kali, bentrok fisik hingga tembakan senapan terjadi, akibat konflik dari para karakternya. Seharusnya para penyintas dapat bekerja sama selama satu malam penuh, dan selamat hingga subuh di akhir film.
Saat film memasuki epilog, dibahas simbolis dengan quote dari penyintas terakhir, bahwa 'kita adalah mereka' dan 'mereka adalah kita.' Maksudnya para zombie atau manusia, sebenarnya berperilaku sama. Kadang bekerja sama untuk mencapai satu tujuan, atau berkonflik jika ada perbedaan.
![]() |
| Lintah darat yang mesum (TMDB). |
Loncat ke film Slither dari tahun 2006, adalah kisah terisolir mengenai SAI. James Gunn sebagai sutradara kawakan, mulai terkenal sejak film ini. Gunn ikut berandil pula dalam Dawn of the Dead tahun 2004, namun sebagai penulis naskah saja.
Slither sebenarnya mirip The Thing (1982 dan 2011), mengenai spesies alien yang menginfeksi warga Bumi. Daripada virus yang bisa menyamar sebagai manusia lalu bermutasi sebagai monster, film Slither justru berperilaku sebagai brutalnya zombie.
Masih mirip dengan karya Romero, drama antar manusianya pun cukup kentara. Keadaan monster yang sudah merusak satu kota kecil pun, semakin sulit dengan perbedaan pendapat karakternya.
Ironisnya di akhir film, justru ditampilkan solusi yang berbeda. Satu tokoh utama yang kenal baik dengan korban, sanggup berkomunikasi (tidak langsung) dengan sang monster. Jadi sebelum dibasmi, sang tokoh utama dapat 'menipu' monster ini, lalu berhasil menyerangnya dengan lebih aman.
Ironi zombie berkutat pada sudut pandang para manusianya. Entah karena masih berbentuk manusia, atau kesulitan menerima 'neraka di dunia fana.' Sosoknya sebagai manusia yang bangkit dari kematian, menjadi simbol neraka bagi para penyintas di sub-genre ini.
Kedua film kurang menggambarkan asal-muasal infeksi zombie, yang semakin mengukuhkan bahwa manusia selalu kesulitan dalam menghadapi sesuatu yang tidak dipahaminya. Apalagi kisahnya terjadi di lokasi terisolir, yang cakupan areanya hanya memiliki sedikit senjata atau ilmu untuk melawannya.
Sekali lagi, kisah horor terisolir akan dibahas di akhir film. Namun sebelumnya, perlu dibahas pula mengenai masifnya film zombie.
![]() |
| Ratusan zombie yang menghalangi konvoi (TMDB). |
Masifnya Zombie Kapitalis Ala Dawn of the Dead dan Land of the Dead
Nah, disini justru membahas perubahan animo zombie yang asalnya monster dari horor, menjadi kisah yang terlalu masif, bahkan berujung istilah kiamat (zombie post-apocalyptic). Dua film yang dibahas adalah awal mulanya animo tersebut, yaitu Dawn of the Dead versi 2004, dan Land of the Dead di tahun berikutnya.
Dalam film Dawn of the Dead, film tahun 1978 memang direka ulang oleh Snyder sebagai sutradara, dengan naskah yang ditulis langsung oleh Romero dan Gunn. Ketiga sineas legendaris ini, bekerja sama dengan ciamik dalam film tahun 2004.
Arahan dari ketiganya pun sangat terlihat, dengan Snyder yang heboh visualnya, lalu Romero yang menggambarkan adegan ngeri nan sadis, serta Gunn yang lebih wajar mengisahkan drama antar karakternya. Menurut penulis, Dawn of the Dead dengan tiga sineas terkenal ini, adalah film zombie terbaik sepanjang masa.
Namun bukan sinematografi yang akan dibahas, melainkan simbolisme yang kentara dari masifnya para zombie. Film ini memang melanjutkan animo dari 28 Days Later (2002), akibat infeksi zombie yang merajarela di Inggris Raya.
Masih sesuai dengan orisinalnya, kawasan latar Dawn of the Dead hanya berada di sebuah pusat perbelanjaan saja. Masifnya zombie pun berada di seluruh kota, tanpa ada kabar dari lokasi lainnya. Berbeda dengan 28 Days Later dari Cillian Murphy yang menggambarkan perjalanan warga biasa dan militer, justru Dawn of the Dead menggambarkan kisah yang kapitalis.
Kawasan mal adalah lokasi pengungsian penyintas, yang sekaligus mengukuhkan bahwa zombie adalah penggambaran bagi dunia mainstream. Animo zombie telah berubah sejak tahun 90an hingga awal 2000an. Berkembangnya akses digital dan internet beserta forumnya, menguak istilah baru bagi zombie. Jika sebelumnya lebih menggambarkan ironi kematian, mistis dan konflik antar manusianya, justru berubah simbolis dengan manusia sebagai pengejar cuan semata.
Lokasi mal sebagai pengungsian pun, menjadi simbol yang tepat bagi kesan baru zombie di awal 2000an. Tidak hanya sebagai monster pelahap daging manusia, kisahnya semakin mengarah ke manusia yang mudah diperalat. Mirip dengan kisah dari Haiti, zombie memang budak penurut yang bisa diguna-guna oleh dukunnya.![]() |
| Zombie berkerah biru yang sanggup memimpin (TMDB). |
Kisahnya pun berlanjut dengan mirip di Land of The Dead, tahun 2005. Satu tahun setelah trio sineas terkenal bekerja sama dalam film Dawn of the Dead, Romero kembali menelurkan karya yang sama masifnya.
Kisahnya sangat mengarah ke anti-kapitalisme, saat banyak tokoh utamanya yang kesulitan menuruti permintaan seorang kapitalis. Orang kaya ini menguasai lokasi pengungsian di pusat kota, dengan gedung mewah sebagai rumahnya. Sementara banyak warga yang masih kesulitan bertahan hidup, dan para anggota penjaga yang sulit mencari suplai di sekitar kota, kapitalis ini malah beriklan hidup mewah di gedung bernama Fiddler's Green.
Kisah pun berlanjut ironis, dengan para zombie yang belajar menggunakan alat. Dipimpin oleh zombie pintar berkerah biru, banyak zombie berjalan menuju Fiddler's Green untuk membalas dendam. Tujuannya hanya satu, yaitu mereka tidak ingin dibasmi begitu saja layaknya hama.
Akhir film pun diisi dengan quote yang khas dari Romero. Seorang tokoh utama yang berkesempatan untuk membasmi kawanan zombie, justru berhenti dengan segan. 'Mereka sama dengan kita, yaitu mencari lokasi yang bisa dihuni,' ujarnya, saat dunia memang sudah hancur dan berubah brutal tanpa aturan.
![]() |
| Perlukah cuan layaknya judi? (TMDB) |
Konfirmasi Snyder dalam Army of the Dead
Setelah banyak luka-liku akibat animo film pahlawan super yang dipimpinnya, Snyder pun kembali ke sub-genre yang cocok dengan dirinya. Army of the Dead dari tahun 2021, adalah momen comeback bagi Snyder ke area yang dikuasainya.
Army of the Dead masih mengukuhkan zombie sebagai korban kapitalis, dengan berlatar di Las Vegas yang sudah dikuasai oleh mahluk mati nan cuan semata. Kisahnya pun mirip, yaitu regu pasukan bayaran yang harus menyelamatkan jutaan Dolar AS dari brankas yang terbengkalai, tepatnya di sebuah kasino.
Animo yang semakin kapitalis ini, diperparah pula dengan para zombie yang sudah memiliki hierarki. Tidak hanya sosok pemimpin, simbol generasi yang berkelanjutan pun muncul dengan adegan seorang zombie, yang dapat hamil dan melahirkan.
Untungnya lokasi Las Vegas sudah diblokade dan terisolir. Bahaya wabah zombie memang nyata (di film ini), namun dapat ditanggulangi oleh instansi keamanan (polisi dan militer). Sehingga kota lainnya yang tidak terinfeksi, serta warga yang senantiasa bertahan hidup, menyiratkan dunia yang masih aman alias belum kiamat.
Lokasi karantina Las Vegas pun dicanangkan akan dibom (nuklir) dalam waktu dekat, demi membasmi para zombie secara permanen. Tampaknya dalam film Army of the Dead, belum ada obat khusus untuk dapat menyembuhkan mahluk ini, selain melalui kematian itu sendiri.
![]() |
| Perbatasan negara yang mengerikan (TMDB). |
Animo Zombie yang Sesungguhnya
Penulis yang suka dengan arahan film Romero, lalu heran dengan karyanya yang ikut masif, justru memiliki pendapat khusus di penghujung artikel ini. Daripada mengacu pada edannya kapitalis, serta masifnya zombie yang mengakibatkan kiamat, justru filmnya bisa diarahkan secara tertutup, layaknya dasar film horor.
Kesan zombie memang berkelompok banyak atau 'horde.' Tetapi mirip dengan film Night of Living Dead atau Slither, kisahnya bisa difokuskan pada satu area tertentu. Dengan begitu, daripada masif dan berujung kiamat, film zombie bisa lebih terjaga atmosfer horornya, daripada kesan menggilanya infeksi kematian ini.
Film lain yang memiliki banyak body-horror pun, seperti waralaba Alien, The Thing, atau Event Horizon, tidak se-masif itu dengan lokasi yang masih tertutup. Film horor lain yang cocok, adalah [REC] dari tahun 2007, Pet Sematary dari tahun 2019, dan We Bury the Dead dari tahun 2025 lalu.
Terdapat satu film yang cocok sebagai perbandingan langsungnya, yaitu berjudul Savageland dari tahun 2015 lalu. Film ini berupa mockumentery, alias dokumenter fiktif mengenai tibanya zombie ala wabah, namun berakhir dengan cepat. Uniknya film ini adalah tidak menggunakan rekaman video ala found footage, melainkan potret kamera dari tokoh utamanya.Kisahnya pun dijabarkan ala dokumenter, dengan tokoh utamanya yang dianggap sebagai kriminal pembantai warga di kota Sangre de Cristo, perbatasan negara bagian Arizona dan Meksiko. Salazar yang diperankan oleh Noe Montes memang seorang imigran gelap dari Meksiko, namun memiliki bukti kehadiran mahluk lain melalui potret kameranya.
Nah, film ini menguak kengerian lain dari sebuah latar terisolir, dengan zombie sebagai penyalur monsternya. Ngerinya teknik dokumenter, ditambah gambar foto yang kurang ternalar, menyebabkan atmosfer horor yang kuat.
Semakin cocok dengan pendapat penulis, bahwa film zombie dapat dikisahkan ala terjangan wabah. Cepatnya mereka tiba lalu hilang begitu saja, layaknya mengingat animo film monster atau wabah SAI, yang tahun 90an sempat ramai diproduksi. Zombie masif ala Snyder pun, menampilkan kisah epik namun masih terisolir di satu lokasi tertentu (yaitu Las Vegas).
Teknik kisah seperti ini dapat menanggulangi banyak plot-hole mengenai awal kiamat akibat zombie. Banyak film zombie tidak menggambarkan kalahnya para anggota kepolisian, militer, hingga regu penyelamat saat zombie tiba. Sudah tidak jelas, malah dibawa masif hingga kiamat.
Atmosfer horor pun dapat terjaga, ala film dari genre yang sama.
Tetapi penulis memiliki pendapat khusus untuk masifnya zombie, yang dijelaskan pada artikel berikutnya. Berbeda dengan perspektif film AS dan kapitalisnya, artikel setelah ini akan membahas batas birokrasi dari sistem yang dibuat oleh manusia, dengan mengacu pada bencana zombie di luar AS.
Okeh, Ciao.












