Analisa Film Nasional serta Internasional sebagai Akulturasi Budaya


Film Akal Imitasi yang Bermasalah dengan Pembelajaran AI

Ya, memang sejenis Akal Imitasi (TMDB).

Film drama Indonesia pun mengadaptasi satu kisah yang sempat gonjang-ganjing di Inet, namun kini sudah reda dan warga mulai sadar akan resikonya. Judulnya adalah Akal Imitasi, yang aselinya adalah sebutan khusus untuk menghalau AI (Artificial Intelligence) alias kecerdasan buatan dalam buku 19 Narasi Besar Akal Imitasi.

Walau penulis belum membaca buku terbitan ITB Press ini, namun memang pesimis mengenai AI dalam pembelajaran sekolah di Indonesia. Mungkin hanya sekedar formalitas saja, setelah banyak kabar berita dari insitusi tempat tinggal penulis (khususnya Bandung), yang banyak FOMO ke AI dalam dunia pendidikan.

Untuk referensi manfaat dan resikonya, pernah ditulis dalam artikel Esok Tanpa Ibu. Film ini menggambarkan drama yang lebih intrinsik dan kekeluargaan, alias sosok seorang ibu yang tergantikan oleh AI yang dimasukkan dalam sejenis purwarupa gawai khusus di rumah. 

Masalah AI Saat Ini

Mengacu pada masalah AI itu sendiri, baik-buruknya AI dalam pembelajaran tentu dapat dicek dalam buku 19 Narasi Besar Akal Imitasi. Namun, penulis sendiri memiliki masalah khusus (terbaru) mengenai AI. 

Setelah sekian lama menulis dalam blog ini, dan mengikuti perkembangan AI yang kini akhirnya diredam oleh Google (alias difokuskan pada Gemini dan satu tab saja pada browser), tampaknya sudah ditanggulangi pula oleh banyak pihak. 

Bahkan kini Oscar Academy Awards sebagai institusi perfilman Hollywood, sudah menghalau karya AI untuk menerima penghargaan. Memang sebelumnya masalah hak cipta, yang memang tergerus oleh sistem copy-paste ala Inet, sempat menguak dan menjadi masalah bagi banyak punggawa dunia seni dan pemilik hak ciptanya.

Sementara dari penulis sendiri, memiliki masalah dengan standar pembelajaran itu sendiri. Selama menulis dalam blog ini, penulis belajar kembali blogging dengan segala sistemnya. Yaitu mulai dari Hosting Domain, Indexing, Edit Template, bahkan hingga Monetisasi (yang menjadi keyword haram di Inet).

Selain menulis tentunya, segala urusan teknis digital dan internet tersebut cukup sulit ditanggulangi oleh penulis, yang memang tidak berlatar Teknologi Informasi. Namun dengan Trial dan Error selama satu tahun (dan lebih), akhirnya penulis dapat memahami dasar serta mengoprek sendiri seluruh masalah teknis dalam blog ini (walau belum maksimal).

Nah, intinya adalah Trial dan Error itu sendiri, dimana seseorang menghadapi masalah, berpikir, lalu mengoprek dalam menyelesaikannya. Contohnya saja dalam Browser Chrome milik penulis, terdapat puluhan artikel sebagai referensi bacaan. Seluruh tautan adalah tutor yang cocok dan paham bagi penulis untuk blogging. 

Bahkan menurut penulis, efek kecerdasan buatan sebenarnya telah terjadi dibanyak pihak, khususnya beberapa industri. Contohnya adalah media berita dan wartanya, serta dunia digital dengan segala keahlian TI-nya. Mereka semua sering berperilaku aneh, dengan ritual (yang kadang) toxic sendiri. 

Penulis sempat menemukan (baik di Inet atau Real Life), tingkah mereka yang memiliki pola tertentu. Akhirnya karena bosan, penulis berpikir dan bertindak untuk langsung menghindari mereka saja. Karena memakai sudut pandang manusia dan normanya saja sudah sulit ditelaah, sekaligus dari segi teknis gawean. Untungnya, banyak urusan teknis dalam blog ini bisa dikerjakan secara otodidak.

Ya, kecerdasan buatan memang sudah merajarela di dunia nyata dan digital, bahkan sebelum ada gonjang-ganjing AI sejak tahun 2022 lalu.

Sinopsis Film Akal Imitasi

Jadi, bagaimana dengan sinopsis film Akal Imitasi ini? Justru kurang bisa dijabarkan, karena alur cerita dan plotnya kurang terbuka dalam cuplikannya. Utamanya adalah para guru (dalam film ini) sudah mengajar melalui monitor besar sejak sekolah dasar, sementara muridnya menggunakan alat (gawai kecil) untuk menjawab pertanyaan. 

Kisah berikutnya pun tidak mengalir langsung, karena yang muncul adalah adegan anak jahil dengan AI-nya, kisah menjahili mahluk Inet, dan perubahan sekolah yang membuat semuanya runyam. Mungkin para sineas perfilman dibalik Akal Imitasi ini ingin agar filmnya ditonton saja, tanpa perlu memahami langsung plot utamanya.

Oh ya, produser dari film ini adalah David Tijoe dan Liani Kawati, yang sebelumnya sempat memproduksi film Cyberbullying. Tentunya menjadi nama khas, karena memang sering berperan dibalik beberapa film anak dan dunianya.

Bagikan:

Mengenai Saya

Foto saya
Warga dan Narablog saja...

Kontak Saya

Kontak Saya
Klik Gambar Menuju Laman FB Sedia Saja

Total Tayangan Halaman

Label

Arsip Blog

Referensi Film Dari Berbagai Perspektif

Referensi Film Dari Berbagai Perspektif
Klik Gambar Menuju Laman Monsterisasi

Cerita Pendek Horor Orisinal dari Penulis

Cerita Pendek Horor Orisinal dari Penulis
Klik Gambar Menuju Laman Cerpenhor

Rekomendasi Artikel

Mengenal Luffy Sang Topi Jerami dari One Piece