Analisa Film Nasional serta Internasional sebagai Akulturasi Budaya


Masifnya Zombie dari Les Affames, 28 Years Later, dan The Girl with All the Gifts

Ironi kematian (TMDB).

Seperti diutarakan dalam artikel Monsterisasi sebelumnya, kali ini akan membahas tiga film zombie dari luar AS. Judulnya ada tiga, yaitu Les Affames dari Kanada, serta dua film dari Inggris Raya, berjudul 28 Years Later dan The Girl with All the Gifts.

Melanjutkan animo zombie dari artikel sebelumnya, ketiga film menggambarkan kengerian mayat hidup yang hanya cuan semata. Apalagi pada film Les Affames dari tahun 2017, yang menggambarkan mahluk dengan segala tingkah materialistisnya.

Namun dalam film 28 Years Later yang baru dirilis tahun 2025 lalu, memiliki informasi yang tepat sebagai arti simbol zombie sistematis ini. Apalagi pada film The Girl with All The Gifts dari tahun 2016, yaitu menggambarkan peran bagi spesies baru, yang terpisah dari para manusianya.

Ketiga judul memang berbeda dengan kombinasi film zombie dari AS, yang lebih mengacu pada simbol kapitalisme serta konflik antar manusianya. Menurut penulis, film dari luar AS lebih sering mengemukakan simbolisme dan referensi yang lebih kental, daripada hebohnya film Hollywood. Itu pun dengan maksud yang lebih normatif, daripada guilty-pleasure-nya film AS. 

Tetap perlu diingat, bahwa mayat hidup sadis nan brutal ini selalu menyajikan gore yang mendarah-darah dan mendaging-daging, jadi rating umurnya tinggi.

Berhala Materialistis (TMDB).

Zombie Materialistis dari Les Affames

Untuk film Les Affames, atau Inggrisnya adalah Ravenous, memang berbahasa Perancis. Bagi yang ingin menontonnya dan bisa berbahasa Inggris, tetap perlu menyalakan subtitle karena seluruh dialognya Perancis. Kanada sebagai asal dan lokasi latar film, memang mencanangkan dua bahasa resmi, yaitu Inggris yang bersanding dengan Perancis. 

Les Affames berlatar di Kanada, dimana 99 persen manusianya telah punah akibat terjangan wabah zombie. Tidak disebutkan alasannya, namun para penyintas tengah kesulitan mencari suplai dan hunian aman. Zombie yang muncul pun masuk spesies yang cepat, yaitu bisa berlari sesuai mahluk yang lapar semata. Jadi para penyintas semakin kesulitan menghadapinya.

Untuk film yang isinya zombie cepat, justru adegannya beratmosfer lebih horor dari mayoritas film lainnya. Keadaan yang sepi, lokasi yang luas, serta zombie yang tiba-tiba muncul, memang lebih 'dingin' dan ngeri dari biasanya. Lebih parah lagi dengan ketiadaan senjata bagi penyintas, sehingga keheningan hanya bisa ditanggulangi oleh senapan saja.

Seperti sudah disebutkan diatas, zombie ini memiliki kebiasaan berbeda dari mayat hidup di film lain. Daripada mengulang kembali kebiasaan, atau mengingat kembali memori serta emosi saat masih hidup, justru para zombie suka menumpuk benda yang ditemukannya. 

Pada beberapa adegan, para zombie berkumpul di lapangan luas, dengan membawa barang untuk ditumpuk. Saking banyaknya barang yang terkumpul, hingga berbentuk sebuah menara setinggi belasan meter. Setelahnya, para zombie hanya menatap diam (ala mengheningkan cipta) ke menara ini, layaknya sebuah berhala (atau totem) yang patut disembah.

Entah inspirasi dari mana, tetapi zombie malah jadi materialistis. Sesi 'penyembahan' berlangsung lama, hingga akhirnya perhatian zombie teralihkan, biasanya oleh para penyintas yang lewat. 

Adegan seperti ini melanjutkan animo kapitalis dari artikel sebelumnya. Saat banyak warga sudah menjadi 'zombie' akibat kemudahan teknologi, manufaktur dan produknya, sehingga memilih jalur konsumerisme, demi menumpuk barang semata.

Resiko materialistis tidak hanya terjadi di negara kapitalis, namun di seluruh negara yang memiliki industri. Tidak hanya kebutuhan barang yang terpenuhi serta segala gengsi yang terbawa, namun terjadi perubahan sosial yang kentara. 

Banyak negara industri mengandalkan produksi barang demi ekonomi negara, walau dengan patokan kapital makro saja. Struktur sosial pun berubah drastis bagi negara, yang semakin kapitalis akibat warga, korporat, dan pemerintahnya yang hanya mementingkan cuan semata. 

Kapitalisme sudah terjadi di seluruh dunia sejak jaman modern dimulai, akibat industrialisasi di akhir abad 19. Setiap negara memiliki tingkat kesulitan tersendiri, dalam menyeimbangkan PDB (Produk Domestik Bruto) per kapita, sebagai acuan perkembangan ekonomi negara. Itupun seringkali menggusur strata budaya dan sosial, karena tidak sesuai dengan program kapitalisme.

Film Les Affames tidak mengumbar konflik antar penyintas manusia, namun lebih mengacu ke horornya suasana post-apocalyptic (kiamat) bersama para zombie. Penggambaran yang cocok, apalagi mengacu masalah materialistis yang sistematis terjadi di dunia nyata.

Bone Totem (TMDB).

Batasan Sumber Daya dan Birokrasi dalam Film 28 Years Later

Sekian banyak film zombie yang membahas simbol kapitalis, perlu menerima bahwa sistem ini sudah lekat dalam keseharian. Manusia modern dengan segala patokan sosial dan ekonominya, memang terikat oleh sistem ini. Tidak hanya urusan negara, setiap warga harus menghadapi tantangan kapitalis, demi memajukan diri pribadi di jaman modern.

Ternyata ada film zombie yang berhasil mengisi simbol kenegaraan, yaitu 28 Years Later. Film ketiga dari waralaba 28 ini, memang berbeda dengan dua prekuelnya. Daripada menggambarkan kengerian saja, jelas terlihat bagaimana satu Kepulauan Inggris Raya sudah ditinggalkan oleh negara lain.

Jika di film 28 Days Later (2002) lebih menggambarkan keadaan sepi setelah wabah Rage Virus merajarela, serta 28 Weeks Later (2007) berlatar kembalinya penyintas ke Inggris Raya, sementara 28 Years Later adalah hasil seluruh kegagalan dari dua film sebelumnya.

Sesuai judulnya yaitu 28 tahun kemudian, film ini menggambarkan keadaan Inggris Raya yang hancur selama hampir tiga dekade. Tanpa ada usaha berarti, Inggris Raya hanya berisi sedikit koloni penyintas, tanpa adanya bantuan dari negara lain, atau internasional secara keseluruhan. Seluruh dunia tampaknya sudah menyerah dengan Inggris Raya, akibat segala mahluk horornya.

Bahkan terdapat satu adegan, dimana ekspedisi militer dari Perancis tiba dan langsung dengan mudah dibasmi oleh kawanan zombie Alpha. Kelompok zombie yang satu ini Memang Beda, dengan tubuh yang belum gemuk dan masih atletis. 

Layaknya kawanan serigala, kawanan alpha sangat berbahaya dengan terus memburu setiap manusia. Bahkan saking kuatnya, sang ketua sanggup membasmi seorang anggota pasukan dengan hanya satu tarikan tangan saja (lengkap dengan helm dan kevlar-nya). 

Tapi, bukan horornya yang akan dibahas. Memang aneh, dalam waktu 28 tahun yang telah berlalu, usaha internasional untuk membasmi para zombie malah tidak berhasil sama sekali. Seluruh Inggris Raya seakan lokasi karantina raksasa bagi Rage Virus dan para carrier-nya. Inggris Raya masih berisi para penyintas yang belum terinfeksi, sementara seluruh dunia tampaknya aman dari Rage Virus.

Keadaan seperti ini mengingatkan secara simbolis, mengenai aturan birokrasi yang membatasi setiap negara untuk bertindak. Apalagi jika konflik atau bencana besar yang terjadi, berbeda negara alias diluar perbatasan. 

Sistem modern masih melanjutkan aturan kewilayahan dari jaman terdahulu, yang membatasi urusan beda negara. Birokrasi seperti ini menjadi acuan setiap negara, yang membatasi kegiatan Geopolitik. Sehingga urusan kenegaraan memang terbatas, apalagi jika terjadi dengan masif, ala Rage Virus di seluruh Kepulauan Inggris Raya (yang luasnya 315 ribu kilometer persegi).

Itupun perlu mengingat, bahwa setiap negara memiliki batas sumber daya. Jika sebelumnya membahas kapitalisme yang kental menjadi acuan ekonomi negara, maka hanya terbatas pada urusan dalam negeri saja. Jika terjadi masalah besar di perbatasan atau luar negeri, maka sumber daya belum tentu dapat dikirimkan. 

Contohnya dalam film ini, selama 28 tahun tidak ada vaksin sama sekali untuk menyembuhkan para korban terinfeksi. Lebih parah lagi, kurangnya ekspedisi militer yang menyeluruh di Inggris Raya, semakin menyimbolkan batas kewilayahan. 

Dalam adegannya pun muncul, anggota ekspedisi yang hanya berjumlah satu skuad saja, adalah rekrutan baru militer dan tidak ada veteran sama sekali. Karena itu, mereka dengan mudah dapat dibasmi oleh kawanan Alpha.

Lebih cocok lagi dibandingkan dengan keadaan berita Geopolitik di jaman sekarang. Banyak lokasi konflik di seluruh Bumi, yang kurang dapat diintervensi, ditengahi, atau dibantu oleh negara internasional. 

Seakan wilayah konflik bukanlah urusan manusia, walau terjadi di perbatasan negara. Hanya urusan pengungsian saja yang diawasi dan terlaksana, sementara negara pendonor semakin kesulitan menyalurkan bantuannya.

Dan kembali ke 28 Years Later, masih terdapat banyak penyintas di Inggris Raya. Standar kehidupan mereka mundur ke jaman Viktoria. Dengan sedikit teknologi yang tersisa, mereka menghalau para zombie seadanya. Berarti selama 28 tahun terakhir, tidak ada usaha untuk menyelamatkan para penyintas. Cocok sekali, dengan kabar para pengungsi di banyak negara konflik.

Ya, memang batasan sistematis yang membuat semua terpisah satu sama lainnya.

Melanie memang sanggup (TMDB).

Generasi (Zombie) Berkelanjutan dari Girl with All the Gifts

Untuk mengakhiri artikel ini, cocok ditutup dengan film yang simbolismenya beda. Judulnya adalah Girl with All the Gifts dari Inggris Raya, dengan mengemukakan kisah mengenai generasi muda, yang sudah berubah spesies.

Filmnya fokus pada kisah sekelompok anak, yang telah terinfeksi oleh virus zombie. Namun berbeda dengan sebelumnya, mereka cukup jinak dan tidak langsung brutal ala zombie. Rata-rata berumur 10 tahun, dan tengah disekolahkan layaknya anak biasa, di sebuah pangkalan militer tentunya.

Infeksi virus pun bukan berasal dari zombie, tetapi unik dalam film ini. Sebuah pohon menjalar aneh, memiliki kantung spora yang menyebarkan virus. Jika terhirup oleh manusia, mereka berubah menjadi zombie. Saat awal spora menyebar, keadaan berubah layaknya wabah zombie di film lain. Banyak korban terinfeksi langsung brutal dan membasmi warga lain yang masih sehat.

Beberapa tahun berlalu, saat para anak yang berbeda dengan generasi terinfeksi sebelumnya. Penelitian pun dilaksanakan, dengan wacana para anak sebagai kunci, untuk menanggulangi masalah zombie. Sebenarnya keadaan lebih damai akibat kantung spora sebagai asal virus, sudah lama tidak meletus. 

Film ini dengan kentara menyimbolkan, bahwa anak adalah harapan berikutnya bagi manusia. Seluruh usaha kapitalis, manufaktur, dan birokrasi adalah bagian untuk mencapai masa depan, yang akan dilancarkan oleh generasi berikutnya. Tanpa adanya generasi berkelanjutan, maka seluruh usaha akan sia-sia.

Namun karena filmnya bergenre horor, tentu perlu dijabarkan pula dengan brutal. Generasi berkelanjutan dalam film Girl with All the Gifts, dengan harfiah memberi simbol manusia sebagai mahluk yang sudah tertinggal. 

Sementara pohon berkantung spora yang entah darimana, walau masih terasa seperti Spesies Asing Invasif (SAI), adalah harapan bagi planet Bumi. Para anak yang sudah imun dan menjadi bagian alami dari ekosistem baru ini, adalah generasi penerus manusia.

Seakan film ini mengingatkan, bahwa perubahan ekosistem (mungkin akibat iklim) dapat merubah pula tatanan sosial manusia. Dengan fantastis akibat SAI yang dapat merubah struktur genetik, dan menjadi spesies baru manusia di muka Bumi.

Perbedaan yang kentara, karena selain anak, tidak ada manusia dewasa yang kebal terhadap ancaman virus. Sementara jumlah spesies baru, sudah mencapai puluhan jumlahnya dan akan terus bertambah.

Seperti karakter Melanie (Sennia Nanua) bilang saat di akhir film, bahwa hidup di Bumi belum berakhir. Tetapi, memang bukan milik manusia lagi. 

Okeh, Wassalam.

Kecuali, jika anda memang Solo Giga Alpha Chad ala gambar dibawah ini (haha).

Solo Giga Alpha Chad (TMDB).

Bagikan:

Mengenai Saya

Foto saya
Warga dan Narablog saja...

Kontak Saya

Kontak Saya
Klik Gambar Menuju Laman FB Sedia Saja

Total Tayangan Halaman

Label

Referensi Film Dari Berbagai Perspektif

Referensi Film Dari Berbagai Perspektif
Klik Gambar Menuju Laman Monsterisasi

Cerita Pendek Horor Orisinal dari Penulis

Cerita Pendek Horor Orisinal dari Penulis
Klik Gambar Menuju Laman Cerpenhor

Rekomendasi Artikel

Mengenal Luffy Sang Topi Jerami dari One Piece