![]() |
| Kisah hiu ganas di tengah samudera (TMDB). |
Hollywood mengembalikan kembali vibe yang sudah lama, dengan film horor dan bencana di wilayah terpencil nan berbahaya. Dengan judul Deep Water dan Fall 2: Deadpoint, kedua film memberi kesan bahaya di luas dan dalamnya samudera, serta tingginya perbukitan, akibat bencana yang mengancam. Kedua film berating umur R13, alias remaja dapat menontonnya dengan aman.
Animo seperti ini mengingatkan kisah bencana hebat ala film terdahulu, yang biasa disebut Disaster Movie. Banyak kisah seperti ini pada jaman 90an hingga 2010an, yang kadang Epik seperti Day After Tomorrow (2004), 2012 (2009) atau ala San Andreas (2015). Ketiga film menggambarkan kisah bencana alam luar binasa, yang hingga kini belum dimulai kembali animonya.
Khusus untuk rilis awal Agustus ini (alias minggu depan), justru berkisah bencana yang lebih mikro. Keadaan pendakian yang curam, lalu kisah jatuhnya pesawat di samudera, memang tidak sebesar film bencana alam. Namun kengeriannya tetap sama, dan bahkan kisahnya lebih nyambung karena sering terjadi dalam berita.
Deep Water
Untuk film yang satu ini, berkisah ngerinya terjebak di tengah samudera, akibat jatuhnya pesawat. Kadang dalam suatu bencana pesawat jatuh, penumpang masih bisa selamat dengan kelihaian para pilotnya dan pesawat tidak hancur seketika.
Namun, lokasi jatuhnya pesawat menjadi bencana lainnya, yaitu kadang terpencil seperti di tengah pegunungan atau samudera. Bencana lainnya pun menghadang, contohnya cuaca buruk atau dalam film ini, tibanya para hiu diantara korban yang masih tergenang di permukaan laut.
Kisah terjebak di tengah laut dengan hiu ganas mulai diramaikan oleh sutradara kawakan Steven Spielberg, dengan film berjudul Jaws pada tahun 1975. Mencapai empat seri (1975, 1978, 1983, 1987), kisah Jaws menarik penggemar film saat masanya. Kisah hiu pun terus dilanjutkan, hingga berakhir di awal tahun 2000an dengan judul Open Water (2004).
Vibe seperti ini kembali diramaikan oleh Hollywood sejak pertengahan 2010an lalu, yaitu sejak film The Shallows (2016). Berkisah seorang peselancar yang terjebak di atas selancarnya sendiri, padahal jaraknya hanya puluhan meter dari pesisir pantai. Dirinya terjebak akibat hiu ganas yang tiba-tiba menyerang.
Berikutnya di tahun 2017, rilis film 47 Meters Down dengan kisah banyak karakter yang sedang berlibur. Mereka menyelam pada wahana menonton hiu secara langsung, dengan kerangkeng sebagai pembatas di kedalaman laut. Akibat tali baja yang putus dengan penariknya diatas perahu, mereka pun terjebak lama hingga hampir habis tabung oksigennya.
Terdapat pula satu film hiu yang menarik, namun berlatar fantastis dengan hadirnya Megalodon (hiu purba) berjudul The Meg pada tahun 2018 lalu. Sangat fantastis, dan bahkan sekuelnya (Meg 2: The Trench) baru saja hadir di tahun 2023 lalu.
Terakhir di tahun 2025, tepatnya bulan Mei terdapat pula kisah Hiu yang tergabung dengan psikopat. Judulnya adalah Dangerous Animals, yaitu kisah seorang psikopat penculik wanita, dengan kehadiran hiu putih sebagai peliharaannya.
Bagaimana dengan film Deep Water yang disutradarai oleh Renny Harlin dari Deep Blue Sea (1999)? Justru filmnya lebih heboh dengan diawali pesawat yang celaka di tengah samudera. Walau kedua pilot yang bernama Ben (Aaron Eckhart) dan Rich (Ben Kingsley) berhasil mendaratkan pesawat diatas permukaan laut, namun bencana sama sekali belum berakhir.
Dengan situasi menunggu tibanya regu penyelamat, para penumpang yang dapat mengapung masih beresiko bencana lainnya. Para hiu yang biasanya damai jika tidak diganggu, menghirup aroma darah di lautan dan siap menyergap para penyintas di lokasi jatuhnya pesawat. Cuaca panas dan badai pun menjadi tantangan lain bagi kondisi para penyintas.
Thalassophobia sebagai fobia atas kedalaman laut, dapat terpicu akibat film ini. Tentunya menjadi peringatan tersendiri, apalagi bagi yang memang memilikinya.
![]() |
| Ketinggian yang mengerikan (TMDB). |
Kali ini justru Lionsgate yang melanjutkan animo bencana di ketinggian, dengan judul Fall 2: Deadpoint. Memiliki judul yang sama, tentunya film ini bukanlah sekuel langsung melainkan kisah yang mirip dengan karakter dan lokasi yang baru.
Seperti sudah dikisahkan dalam artikel Turbulence, kisah terjebak di ketinggian dengan sedikit kemampuan para penyintas untuk dapat menyelamatkan diri, adalah animo yang khas dan baru diadaptasi oleh Hollywood. Mirip dengan kisah Vertical Limit (2000) dan 127 Hours (2010), yang tentunya melanjutkan animo dari film pertamanya, Fall 2 ini masih berkutat pada dua wanita pendaki.
Latarnya pun lebih eksotik lagi, yaitu Gunung Kwan di Thailand (yang sangat vertikal), kisahnya diawali oleh duo wanita pendaki bernama Jax (Harriet Slater) dan Arsema Thomas (Luce). Walau sudah mencapai ketinggian 3,3 kilometer, namun keduanya malah terjebak dan sulit naik atau turun.
Film ini menyiratkan pula masalah pendakian serta ngerinya lokasi. Pada awal cuplikan, sempat dijabarkan beberapa kondisi mengenai pendakian gunung tinggi. Dengan ketinggian 3300 meter diatas permukaan laut (dpl), maka jumlah oksigen dalam udara hanya tersisa 13,7 persen saja.
Dengan kurangnya oksigen dalam tubuh, maka detak jantung meninggi lalu napas menjadi cepat. Jika terdampak panik, maka mempercepat tibanya dehidrasi, yang menyebabkan kebingungan bahkan halusinasi. Jika seluruh tahap gejala terlalui oleh pendaki, maka hasilnya adalah sulitnya menentukan keputusan (akibat daya kognitif berkurang), dan berakhir dengan rasa takut luar binasa.
Memang bukan tutor yang cocok bagi para pendaki, melainkan narasi resiko yang mungkin terjadi. Bahkan penulis perlu menjabarkan resiko vertigo saat menonton film sejenis ini. Dengan lokasi sinema atau layar besar di PC, dan arah kamera yang mengarah kebawah dari atas ketinggian, memang menyebabkan vertigo.






