Analisa Film Nasional serta Internasional sebagai Akulturasi Budaya


Kisah Perjuangan Anak Muda dalam Film Dan Bandung, Ayah Aku Mau Cerita, Operasi Pesta Copet, dan Rumah Singgah

Kisah Bandung atau Belanda-kah? (TMDB).

Kisah pemuda-pemudi di bulan Agustus ini pun berlanjut, demi memerdekakan diri menyambut Dirgahayu Kemerdekaan Indonesia. Berbeda dengan tahun lalu yang diisi beberapa film kemerdekaan, tahun ini justru rilis kombinasi film anak muda. 

Judulnya adalah Dan Bandung dan Ayah (R13), Aku Mau Cerita (R13) yang rilis tanggal 20an Agustus. Sementara Operasi Pesta Copet (R13) dan Rumah Singgah (SU) akan dirilis akhir Agustus mendatang. 

Sesuai dengan animo tengah tahun, saat banyak kampus masih libur hingga awal September mendatang, keempat film memang cocok bagi kaum pemuda-pemudi. Karakter beserta latarnya mencerminkan perjuangan dan kegalauan anak muda Jaman Now.

Walau begitu, setiap aspek yang diadaptasi berbeda pada setiap filmnya. Jadi, tidak hanya fokus pada keluarga, layaknya animo saat film Lebaran kemarin. Apalagi di bulan Agustus, yang diisi tanpa kehadiran film kemerdekaan. Tampaknya sineas perfilman nasional tahun ini, berniat menyambut bulan sakral ini tanpa interpretasi sejarah, dengan fokus pada keadaan sosial sekarang.

Dan Bandung

Film yang jelas berjudul dan berlatar di Bandung ini memang hasil karya novelis terkenal, yaitu Pidi Baiq yang seringkali diadaptasi novelnya. Terakhir kali novelnya diadaptasi pada film, terjadi bulan April lalu dengan judul Dilan ITB 1997. Namun penulis lebih suka novel Pidi Baiq saat masih absurd di seri novel Drunken MoLen (dan seterusnya).

Untuk film Dan Bandung, diadaptasi dari novel berjudul sama yang rilis di tahun 2026 ini. Rudi Soedjarwo pun kembali di tahun 2026, khusus untuk menyutradarai film ini.

Kisahnya pun lebih sederhana, dengan berkutat saat jaman Bandung sekitar tahun 2010an. Jaman tersebut adalah masa saat penulis masih berjibaku dengan urusan kuliah, sementara banyak teman nongkrong yang sibuk berbisnis kaos Clothing-an dengan Distro-nya.

Ya, jaman tersebut diisi dengan oprekan Sotosop (Photoshop) dan Corel (Draw), yang dibutuhkan untuk membuat desain kaus atau stiker. Banyak Warnet pun diisi dengan pemuda yang sibuk mengunduh gambar, yang (biasanya) bertema Emo, Gothic, atau Punk. Memang jaman yang beda, namun semuanya dilancarkan demi kepentingan bisnis kaos sekaligus animo band Indie (khusunya) di Bandung.  

Entah sejauh apa perbedaan antara novel dan filmnya, tetapi tetap berkutat pada karakter Basil (Samo Rafael) dan Elma (Shanna Shannon) di tahun 2000an. Kisah yang menyebalkan, karena pasti terisi banyak nostalgia (haha).

Dari cuplikannya, terdapat perbedaan kasta ala kisah Romeo dan Juliet. Apalagi dengan keluarga Basil, yang ayahnya masih dipenjara, sementara ayah Elma yang keras dan berlatar preman setempat.

Kisah hukum Indonesia yang masih tidak adil (TMDB).

Ayah, Aku Mau Cerita

Film drama yang satu ini berlatar investigasi kejahatan dan hukum, berkarakter satu keluarga yang terjebak kasus hilangnya orang. Animonya mirip dengan film di tahun 2025 lalu, yang berjudul singkat Keadilan. Walau begitu, film Ayah, Aku Mau Cerita ini lebih berfokus pada adegan investigasi serta interogasi angggota kepolisan, dari pada hingar-bingarnya aksi dalam film Keadilan.

Bahkan dalam cuplikannya, terlihat bagaimana ngerinya interogasi polisi. Sangat ditunjukkan pada adegannya, anggota kepolisian yang kasar (secara verbal dan fisik) saat menanyakan kasus hilangnya anak Kapolres, kepada anggota keluarga Andi Budiman (Vino G. Bastian). Bersama istrinya, Marini (Niken Anjani), Andi mencoba untuk bertahan dari tindakan semena-mena polisi dan tidak mengakui tuduhan yang dipaksakan.

Bahkan kedua anaknya pun diteror habis-habisan, walau masih remaja seperti Aisha (Ziva Magnolya) dan kecil seperti Ditta (Queen Lubis). Aisha memang saksi terakhir, sebelum akhirnya korban yang berlatar anak Kapolres tersebut hilang. Bahkan bukan hanya menjadi saksi, Aisha sempat melawan (saat perkara) demi menolak pelecehan yang dilancarkan oleh korban.

Seluk-beluk film ini agak rumit, ala film investigasi lainnya. Walau digambarkan secara kasar dan gamblang, namun belum menguak tersangka asli atas kasus ini. Bisa jadi, salah satu karakter protagonis (dari anggota keluarga Budiman) memang bertindak kriminal dan berakibat hilangnya seorang pemuda.

Awas, ada impostor (copet) (TMDB).

Operasi Pesta Copet

Khusus untuk film ini, Operasi Pesta Copet justru berlatar kriminal untuk para karakternya. Dibintangi empat anak muda, yaitu Iqbal Ramadhan sebagai Ijal, lalu Kristo Immanual sebagai Adut, Zulfa Maharini sebagai Tia, dan Kawai Labiba sebagai Melody, yang keempatnya memang berlatar sebagai anggota tim pencopet.

Animo seperti ini mirip dengan film Alangkah Lucunya (Negeri Ini) dari tahun 2010 lalu, hasil karya aktor kawakan dan sutradara Deddy Mizwar. Berbeda dengan sebelumnya, justru film Operasi Pesta Copet berlatar remaja (kriminal) dan bukannya masalah pendidikan serta kemiskinan sebagai fokus isu sosialnya. 

Walau berlatar kriminalistas, film ini digambarkan ringan alias kocak, dengan perjuangan para pencopet yang banyak berlatih demi cuan semata. Bahkan kali ini, kisahnya mirip animo film Heist. Keempat pemuda-pemudi berlatih kembali, demi mencari cuan di satu konser besar bernama Pestapora.

Mendalami kisah para pasien kanker (TMDB).

Rumah Singgah

Film terakhir dari kompilasi ini, adalah Rumah Singgah yang mengisahkan animo berbeda. Filmnya berlatar tentang kesehatan, yang kini menjadi animo khusus dari sineas perfilman Nusantara. Contohnya dari tahun 2025 saja, terdapat tiga film drama unik dari tema Kesehatan. 

Saat bulan Juli, terdapat film Sore Istri Masa Depan, yang saking ramainya, tayang ulang di bulan Oktober. Animonya memang fantastis, yaitu seorang wanita bernama Sore, yang mengaku dapat menjelajah waktu, demi mengawasi kesehatan calon suaminya di masa depan. Latarnya pun cukup jauh, yaitu di Kroasia dan Finlandia.

Lalu ada Agape: Unconditional Love di bulan September, yang cukup unik latarnya. Film Agape ini berlatar di satu rumah sakit, dengan banyak karakter beserta beda asal-muasalnya. Banyaknya karakter serta perbedaan kisah yang meruak pada adegannya, menyebabkan kisah unik layaknya film antologi yang tidak terpisah.

Terakhir di bulan November, terdapat pula film Sampai Titik Terakhirmu. Film ini bahkan diadaptasi dari kisah nyata, mengenai perjuangan kedua insan yang saling mengisi, saat masalah penyakit kanker tiba. Abi dan Shella adalah kedua nama insan tersebut, yang kisah dan perjuangannya sempat viral di tahun 2024.

Kembali ke Rumah Singgah, berlatar Karla (Adhisty Zara) yaitu seorang atlet lari, namun malah terhinggap penyakit kanker pada bagian kakinya. Karla lalu mengikuti sesi di rumah sementara bagi pasien, yang biasa disebut Rumah Singgah. Disana, Karla banyak belajar mengenai cara menanggulangi kanker, dengan bantuan para anggotanya. 

Karla lalu dekat dengan Pika (Messi Gusti), Luki (Devano Danendra), dan Toni (Ciccio Manassero), yang masih seusia dengannya. Keempatnya pun berjanji satu sama lain, demi mewujudkan 'bucket list' alias daftar impian masing-masing. Kisah mereka pun berlanjut, dengan tantangan penyakit dan tujuan untuk kembali sehat dan menggapai masa depan.

Bagikan:

Mengenai Saya

Foto saya
Warga dan Narablog saja...

Kontak Saya

Kontak Saya
Klik Gambar Menuju Laman FB Sedia Saja

Total Tayangan Halaman

Label

Referensi Film Dari Berbagai Perspektif

Referensi Film Dari Berbagai Perspektif
Klik Gambar Menuju Laman Monsterisasi

Cerita Pendek Horor Orisinal dari Penulis

Cerita Pendek Horor Orisinal dari Penulis
Klik Gambar Menuju Laman Cerpenhor

Rekomendasi Artikel

Mengenal Luffy Sang Topi Jerami dari One Piece