Analisa Film Nasional serta Internasional sebagai Akulturasi Budaya


Uniknya Horor Nusantara dalam Film Paket Santet dan Autopsy: Dead Body Can Talk

Kesurupan dari mana lagi? (TMDB).

Akhir Agustus dan awal September pun diisi kembali dengan kombo film horor Nusantara yang unik dan menarik. Pertama berjudul Paket Santet, yang berating umur R13 alias Remaja. Satu lagi adalah Autopsy: Dead Body Can Talk, yang dari judulnya saja sudah menyiratkan rating umur D17 (17 Tahun Keatas).

Dari judul saja, kedua film sudah mencanangkan animo yang berbeda dari horor Nusantara. Biasa terisi dengan kisah jurig atau ritual dedemit, kali ini justru terisi dengan film yang lebih unik latarnya. 

Paket Santet tentu mengisahkan tentang kiriman santet melalui kurir, yang cukup aneh untuk dinalar. Lalu Autopsy Dead Body Can Talk lebih mengerikan, dengan lokasi dan sesi otopsi mayat serta segala kengerian yang menghampirinya.

Paket Santet

Walau banyak adegan mendarah-darah dan mendaging-daging, rating umur film Paket Santet justru masih R13. Mungkin masih ditujukan untuk remaja, walau dari cuplikannya saja sudah terlihat sadis.

Cuplikannya sendiri terisi beberapa efek spesial yang ciamik, yang memunculkan kengerian dengan rapih. Walau dari segi kisah masih tidak begitu spesial, namun efeknya dapat menutupi itu semua.

Ceritanya berkutat pada kiriman santet, namun melalui paket yang dikirim melalui kurir. Jaman e-commerce sekarang, paket seperti ini memang lumrah di Indonesia. Justru dari segi animonya, perlu mengingat istilah kiriman santet dari kisah mistis terdahulu.

Dahulu ketika belum ada internet dan kurir yang intensif, kisah kiriman santet (biasanya) terdengar melalui perasaan aneh dari korban. Itupun setelah konsultasi dengan dukun, dan bukanlah melalui teknik kiriman modern. Jadi, santetnya terkirim melalui jalur mistis, dan bukannya media yang dikirimkan melalui paket.

Mungkin film ini menggunakan referensi lain, yaitu melalui media khusus untuk dikirim menuju korban santetnya. Contohnya adalah darah binatang atau benda keramat lainnya, demi melangsungkan santet di rumah atau jiwa korban.

Kisahnya pun cukup heboh, dengan kiriman paket berisi kotak kayu kecil. Tidak lama setelah paket tiba, Glen (Farandika) meninggal dengan mengenaskan di warung dekat rumahnya.

Seluruh teman dan tetangganya pun melacak, mengenai kehadiran paket serta kemungkinan mereka telah disantet. Kotak kayu yang tiba pun, menjadi petunjuk asal muasal mistis yang merarela di wilayah mereka.

Kisah lain dibalik forensik kejahatan (TMDB).

Autopsy: Dead Body Can Talk

Film horor berlatar sains pun akhirnya diproduksi oleh sineas perfilman Indonesia, dengan judul Autopsy: Dead Body Can Talk. Film ini berlatar sesi otopsi, yang korbannya meninggal akibat kasus mutilasi. Jadi, kondisi mayat yang sudah kaku dengan segala teknik otopsinya, kentara terlihat dan rating umurnya pun tinggi.

Bahkan latar film ini berdasarkan kisah nyata, melalui pengalaman dari Dr. Sumy Hastry. Dokter ini sempat melaksanakan otopsi pada kasus mutilasi di Subang, yang terjadi tahun 2021 lalu. Menurut Dokter Sumy Hastry, mayat seakan dapat berbicara dengan dirinya, tentu selain petunjuk dari tubuh para korban.

Kasus ini pun menginspirasi film ini, yang produksinya dilaksanakan oleh studio Karya Kreatif Utama. Namun sejauh mana film ini mengadaptasi kisah Dr. Sumy Hastry, tentu perlu dicek terlebih dahulu.

Justru film ini mengingatkan satu kisah dari 10 tahun lalu, tepatnya tahun 2016 dengan film Hollywood berjudul Autopsy of Jane Doe. Walau kisahnya diawali sesi otopsi mayat, tetapi penulis justru heran dengan kelanjutannya yang berbau mistis dan kengerian dunia lain. Jadi tidak perlu dibandingkan langsung dengan film dari tahun 2016, karena latarnya beda dengan kasus yang 'lebih nyata.' 

Sementara dari cuplikannya, ternyata tidak menyiratkan banyak plot utama serta adegannya. Justru terdapat ketegangan drama, saat Dr. Sumy Hastry (Masayu Anastasia) yang masih kesulitan menyatakan hasil forensik, dan ditambah dengan gangguan mistis di sekitar mayat korban.

Sebaik apa film Autopsy: Dead Body Can Talk dalam menggambarkan kengerian (ilmiah maupun mistis) dibalik sesi otopsi mayat korban kejahatan, tentu perlu dianalisa langsung di sinema Nusantara.

Bagikan:

Mengenai Saya

Foto saya
Warga dan Narablog saja...

Kontak Saya

Kontak Saya
Klik Gambar Menuju Laman FB Sedia Saja

Total Tayangan Halaman

Label

Referensi Film Dari Berbagai Perspektif

Referensi Film Dari Berbagai Perspektif
Klik Gambar Menuju Laman Monsterisasi

Cerita Pendek Horor Orisinal dari Penulis

Cerita Pendek Horor Orisinal dari Penulis
Klik Gambar Menuju Laman Cerpenhor

Rekomendasi Artikel

Mengenal Luffy Sang Topi Jerami dari One Piece