Analisa Film Nasional serta Internasional sebagai Akulturasi Budaya


Memahami Kisah Film Return to Silent Hill yang Absurd Nan Abstract

Dua sisi Silent Hill yang sama horornya (TMDB).

Berikutnya dalam Monsterisasi kesehatan mental, penulis akan membahas satu film yang baru tayang di sinema. Judulnya adalah Return to Silent Hill, yang tayang pada bulan Januari tahun ini. 

Film yang dirilis berselang satu tahun sejak Silent Hill 2 Remastered di tahun 2024 lalu, memang menggambarkan karakter utama James Sunderland (Jeremy Irvine). Mirip kisah gimnya yang sulit dimengerti, filmnya pun berisi perjalanan James di kota Silent Hill demi menemukan istrinya, Mary (Hannah Emily Anderson).

Penulis tidak akan membuka banyak adegan filmnya, karena baru rilis dan masih mirip dengan kisah gimnya. Justru mengacu pada tema kesehatan mental, akan menggambarkan kisah Silent Hill seperti artikel sebelumnya tentang DID.

Tetapi yang dibahas bukanlah keperibadian ganda, melainkan trauma berat yang berkepanjangan, dan berbahaya bagi pasiennya. Ya, artikel ini lebih membahas PTSD (Post Traumatic Stress Disorder), yang menjangkiti James Sunderland sebagai tokoh utama dalam film Return to Silent Hill dan gim Silent Hill 2.

Dalam beberapa adegan Return to Silent Hill, terdapat karakter yang mirip dengan kisah dari gim Silent Hill 2. Selain kedua tokoh utama, muncul anak kecil bernama Laura (Evie Templeton) dan Eddie (Pearse Egan), yang keduanya memang muncul dalam gimnya.

Dari segitu saja, sudah jelas bahwa film Return to Silent Hill adalah interpretasi ulang dari gimnya. Mungkin ditujukan untuk para penggemar film, dan bukannya gamer yang senantiasa bermain gim. Bahkan, mungkin hanya sekedar mengingatkan, dan memasarkan ulang gimnya melalui film, yang tentu sanggup dilaksanakan oleh perusahaan gim sebesar Konami.

James dan Mary saat masih kasmaran (TMDB).

PTSD Ala James Sunderland

Nah, sudah jelas mengenai PTSD yang dialami oleh James Sunderland dalam film ini. Sangat terasa mengerikan, bahkan dirinya sampai masuk ke dimensi horornya Silent Hill. 

Namun, terdapat sedikit petunjuk saat awal film. Yaitu James yang seringkali kabur dari sesi terapi bersama psikolognya. Itu pun diisi dengan mabuk-mabukan di bar setempat. Sesi tersebut tampaknya berlangsung lama (bulanan), sebelum akhirnya James menemukan surat dan berinisiatif kembali ke Silent Hill.

Justru disitulah potensi bahayanya PTSD dalam sesi ini, yang dapat digambarkan melalui halusinasi. Ya, seluruh adegan film bisa dibilang sebagai halusinasi dari James saja, dan tidak ada efek nyata dari kengerian Silent Hill sama sekali.

Buktinya yaitu sesi terapi yang harus dilaksanakan James bersama psikolognya. Berarti selama sesi tersebut, dirinya sudah sering meminum obat anti-depressant dan sebagainya, sebagai bagian dari terapi (dan resep dokter). Lebih parah lagi, Sunderland yang memang stres malah memilih mabuk di bar. Efek dari obat-obatan serta alkohol, dapat menyebabkan kerusakan mental yang berbahaya.

Jadi, ini sudut pandang siapa? (TMDB).

Sesi halusinasi pun dimulai sejak Sunderland menemukan surat berisi tulisan tangan Mary, yang menyuruhnya datang ke Silent Hill. Perlu diingat, bahwa Mary sudah meninggal hampir satu tahun lamanya, sementara James yang trauma perlu mengikuti sesi terapi. Namun sejak adegan tersebut, James malah berpikir bahwa Mary masih hidup di kota asal dan tempat mereka bertemu, yaitu Silent Hill. 

Dari situ semakin jelas, bahwa adegan di bar hingga dirinya ditelpon oleh M (Nicola Alexis) sebagai psikolognya, adalah adegan di awal film yang nyata terjadi. Namun semenjak James menemukan surat dari Mary dan berangkat menuju Silent Hill, lalu banyak bertemu horor di kota tersebut, adalah bagian dari halusinasi saja.

Bahkan terdapat satu adegan yang semakin membuktikan bahwa seluruh film hanya halusinasi saja. Saat James hampir tertabrak truk dengan cahaya terang dari lampu depannya, terdengar suara M dan suster yang merawatnya. Cahaya terang itu pun bukan berasal dari truk, melainkan dari senter kecil yang biasa digunakan oleh dokter saat mengecek (mata) pasien.

Bahkan seluruh sesi adegan dalam film ini, bisa disimbolkan sebagai sesi menjelang kematian James. Maksudnya adalah, James kemungkinan mengalami Rigor Mortis (badan kaku dan kejang) saat menjelang kematiannya (near death experience / sekarat). Menurut hasil penelitian kesehatan melalui gelombang otak, sesi ini seringkali dihinggapi halusinasi dari sudut pandang pasien yang sekarat.

Ya, memang penggambaran halusinasi yang sangat berbahaya, akibat kombinasi obat-obatan, alkohol, PTSD akut, serta kematian yang tiba menghampiri pasien. 

Mary yang kesepian (TMDB).

Latar yang Menarik dari Return to Silent Hill

Ada satu latar menarik, yang sebenarnya dapat dianalisa namun tidak ingin dibahas oleh penulis, karena terlalu membuka cerita filmnya (alias spoiler). Film Return to Silent Hill tidak hanya berisi sejarah pertemuan James dan Mary di kota Silent Hill, melainkan asal-muasal horor serta seluruh kengerian di dalamnya.

Tidak akan disebutkan disini, namun kengerian yang berlatar dari Mary bernama belakang Crane (alias nama gadisnya sebelum dirubah menjadi Sunderland sebagai istri James), bisa disebut sebagai asal-usul seluruh kisah Silent Hill. 

Ya, baik itu dari film maupun gimnya, latar kota Silent Hill seringkali diperbarui. Jadi, Return to Silent Hill pun lumayan berhasil mengukuhkan, bahwa keluarga Crane adalah pihak yang bertanggung-jawab atas seluruh horor di kota bukit sunyi ini.

Hotel Lakeview yang terbakar kembali (TMDB).

Kisah yang Nihil dari Return to Silent Hill

Justru menurut penulis, film ini sulit direkomendasikan. Alasannya pun bukan hanya filmnya sulit dimengerti, atau hanya mengulang kisah gimnya, melainkan film ini memang pecicilan semata.

Mungkin sudah banyak yang tahu, bahwa kisah di Silent Hill 2 dari tahun 2001 atau tahun 2024 sebagai versi terbarunya, hanyalah halusinasi James Sunderland saja. Teori ini sudah ada sejak perilisan awalnya, yang berarti terpaut 25 tahun sejak teori ini pertama kali diungkapkan oleh fans Silent Hill 2.

Jadi, film Return to Silent Hill hanya mengulang cerita dari gimnya, lalu tercampur adegan sebagai bukti halusinasi James. Memang terdapat sesi orisinal saat James mabuk di bar, atau berada di rumah sakit bersama M sebagai psikolognya. Lalu latar belakang Mary bernama belakang Crane, sebagai sudut pandang orisinal mengenai asal usul horornya Silent Hill. 

Namun mayoritas isi cerita, berisi adegan yang mirip gimnya. Untuk rekomendasi yang lebih tepat, tentu para gamer bisa saja memainkan langsung gim Silent Hill 2. 

Untuk para penggemar film, justru direkomendasikan untuk menonton saja film pertama Silent Hill dari tahun 2006 lalu. Ya, film yang terpaut 20 tahun ini memiliki cerita yang lebih orisinal, menarik, dan bahkan efek spesialnya masih mumpuni.

Lalu ada film keduanya, yaitu berjudul Silent Hill: Revelation 3D di tahun 2012, yang merupakan sekuel langsung dari film tahun 2006. Walau latar dan kisahnya mirip, namun film kedua memiliki karakter utama yang beda dengan film sebelumnya. Jadi, menyajikan sudut pandang serta akhir kisah yang baru dari film pertamanya.

Adapula satu khas adegan dalam Return to Silent Hill yang lebih mirip kedua film prekuel dari tahun 2006 dan 2012, namun belum pernah muncul dalam gim Silent Hill manapun. 

Yaitu sirene nyaring di seluruh kota, yang merubah atmosfer menjadi merah-darah, lalu muncullah para jurig atau monster. Jadi, khas sirene ini mengukuhkan bahwa Return to Silent Hill adalah bagian dari trilogi film Silent Hill, dan bukan hanya adaptasi dari gimnya saja.

Okeh, Ciao.

Siapkah kembali ke Silent Hill? (TMDB).
Bagikan:

Mengenai Saya

Foto saya
Warga dan Narablog saja...

Kontak Saya

Kontak Saya
Klik Gambar Menuju Laman FB Sedia Saja

Total Tayangan Halaman

Label

Referensi Film Dari Berbagai Perspektif

Referensi Film Dari Berbagai Perspektif
Klik Gambar Menuju Laman Monsterisasi

Cerita Pendek Horor Orisinal dari Penulis

Cerita Pendek Horor Orisinal dari Penulis
Klik Gambar Menuju Laman Cerpenhor

Rekomendasi Artikel

Mengenal Luffy Sang Topi Jerami dari One Piece