![]() |
| Ngeri juga ini es krim (TMDB). |
Daaan, brutalnya horor dari ranah bule sana kembali dengan judul Ice Cream Man, yang tayang di akhir Agustus mendatang. Walau kisahnya berkutat pada anak kecil, namun banyak sekali adegan mendarah-darah dan mendaging-daging layaknya gore slasher sekaligus, dan menyebabkan ratingnya tinggi, yaitu D21 alias 21 tahun keatas (tanpa pandang bulu).
Jangan dulu beranggapan bahwa filmnya bakal biasa saja, karena dari cuplikannya sudah memakai label Red Band, dan menyiratkan kengerian yang brutal. Bahkan melebihi brutal ala film zombie, dengan kesan sabetan kapak dan senjata lain oleh para anak kecil (yang kesetanan).
Entah bagaimana sineas perfilman sana sanggup memproduksi filmnya, karena adegannya sangat brutal. Bahkan ratingnya pun sangat tinggi dan tidak boleh ditonton oleh anak-anak hingga remaja, sementara aktor-aktrisnya masih kecil saat memerankan adegan brutal tersebut.
Sutradaranya pun seorang ahli dalam memimpin produksi film gore, yaitu Eli Roth yang terkenal sejak film Hostel (2006, 2007), dan film yang mengembalikan animo Cannibal Holocaust, yaitu The Green Inferno (2014).
Kiprah Perfilman dalam Menjadikan Anak Kecil sebagai Subjek Horor
Ya, film ini memang mengisi kesan anak kecil yang seringkali menjadi korban atau objek horor saja, menjadi pelaku utamanya. Dalam beberapa film horor, kehadiran anak kecil atau bahkan bayi, memberi kengerian berlebih atas film tersebut. Namun, terdapat banyak film yang merubah kesan anak-anak menjadi bagian dari horor.
Sebelum membahas filmnya, tentu harus mengacu pada Raja Novelis Horor dari AS sana, yaitu penulis nyentrik bernama Stephen King. Penulis horor yang satu ini memang seringkali unik, dan sempat menulis cerita pendek berjudul Children of the Corn pada tahun 1997 lalu.
Salah satu animo dari Stephen King adalah merubah kesan anak kecil, menjadi subjek atas horor itu sendiri. Contoh lainnya adalah novel Firestarter (1980) dan Pet Sematary (1983), yang memang tokoh horornya adalah seorang anak kecil.
Dunia perfilman pun melirik animo ini dengan cermat dan sigap, melalui beberapa adaptasinya. Film Children of the Corn dirilis pada tahun 1984, 1992, 2009, dan 2020. Pokoknya, kisah ini sering direka ulang oleh sineas perfilman Hollywood.
Sementara film Firestarter sempat diproduksi tiga kali, yaitu pada tahun 1984, 2002, dan 2022. Film Pet Sematary bahkan sempat diproduksi berjumlah sama dengan CotC, yaitu sebanyak empat kali pada tahun 1989, 1992, 2019, dan 2023.
Setelah animo adaptasi dari Stephen King yang seringkali direka ulang, sineas perfilman pun mulai sering mengadaptasi kisah ngeri anak kecil. Contoh yang perlu diingat (dan direkomendasikan penulis), adalah Weapons dari tahun 2025 lalu. Sepanjang film masih beratmosfer misteri, namun puncak dan akhir ceritanya sangat mengerikan dengan adegan mendarah-darah dan mendaging-daging.
Sebelumnya tentu mengacu pada sub-genre yang jelas sadisnya, yaitu zombie dengan judul The Girl with All the Gifts (2016). Film dari Inggris Raya ini memang berkarakter banyak anak kecil, yang sudah terinfeksi virus zombie namun lebih jinak daripada versi dewasa.
Lalu ada film yang lebih mirip dengan Ice Cream Man, berjudul Sinister (2012, 2015) yang berasal dari studio Blumhouse. Ceritanya mirip dengan Weapons, dimana mayoritas cerita masih berlatar misteri. Namun beberapa adegan memang diisi oleh kengerian brutal, yang dilaksanakan oleh seorang anak kecil.
Sinopsis Film Ice Cream Man
Jadi, bagaimana dengan film Ice Cream Man ini? Justru tidak perlu dikisahkan sama sekali. Cuplikannya sudah menyiratkan, animo yang simpel dan brutal dari film sejenis ini. Bahkan beberapa adegan dan komentar sarkastik dari para karakternya, menyiratkan bahwa film ini adalah satire dari horor berisi anak kecil.
Pokoknya, kisah ini berlatar pada satu komplek perumahan yang aman, nyaman, damai, nan sejahtera. Hingga saatnya sebuah truk penjual es krim tiba, yang aseli dikemudikan oleh The Ice Cream Man (Ari Millen). Setelah beberapa lamanya para anak kecil keranjingan es krim miliknya, lalu mereka berubah menjadi brutal dan membasmi banyak warga di seantero kompleks.
Jadi, siapkah anda menonton film tentang es krim yang manis, dingin, dan melumer di lidah, sementara berhadapan dengan banyaknya daging berserakan ala momen kurban? Silahkan memiliki vibe tersendiri di sinema Indonesia (tentunya setelah rilis).





