06 April 2026

Raja Korea Selatan yang Diasingkan Ala Film The King's Warden

 

Raja Danjong yang masih mewah saat diasingkan (TMDB).

Akhirnya, ada film drama kerajaan pula dari Korea Selatan, berjudul The King's Warden, yang tayang minggu ini di sinema Indonesia. Film dengan rating R13 (remaja) ini memang kombinasi unik antara sub-genre drama dan kerajaan sekaligus. Latar semacam ini cukup jarang diproduksi oleh sineas perfilman Korea Selatan, karena targetnya mengacu pada ranah internasional ala film Hollywood.

Film drama kerajaan dari Korsel yang pernah penulis tonton pun, cukup sedikit. Terakhir kalinya, penulis baru saja menonton film dan serial The Kingdom (2019-2020, 2021), yang berisi drama kerajaan dan malah bertema zombie pula. Ya, film yang berisi aktris Bae Doona ini memang bergenre horor zombie, cukup jauh dengan judul filmnya. Walau begitu, drama kerajaan ala abad pertengahan hingga renaisans ini, ternyata cocok dengan segala intrik di sistem monarki-nya.

Mengacu pada drama monarki, dan kembali ke film The King's Warden, ternyata cuplikannya memberi kesan berbeda. Biasanya di film kerajaan dari berbagai negara manapun, berisi kisah epik peperangan atau politik monarkinya. Namun dari cuplikan film ini, justru menunjukkan sisi drama monarki, yang langsung terkait dengan rakyat kecil di Korea. 

Kisahnya memang berkutat pada seorang raja, yang terasingkan setelah terjadi kudeta di istana kerajaan. Kisah seperti ini sudah cukup sering diadaptasi di banyak film, yang memang mengambil referensi dari sejarah aslinya. 

Khusus untuk membahas monarki, kisah sejarah ini dapat terjadi akibat kesalahan raja atas kepemimpinannya, kudeta dari pemerintahannya sendiri, aturan garis keturunan raja, peperangan yang menyebabkan raja dan penerusnya meninggal, atau bahkan pemberontakan dari rakyatnya sendiri. Tentu kadang tercampur dengan banyak dinasti bangsawan saat masa tersebut, yang memang tidak suka dengan raja saat ini, atau memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan.

Yah, jangan dibahas-lah dengan keadaan politik saat ini (khususnya di Korsel). Kadang memang mirip, tapi ya sistem dan peradaban jaman sekarang sudah terlampau jauh. Jadi kisah ini, memang selayaknya jadi referensi sejarah saja, dan bukanlah referensi untuk diulang kembali, layaknya petuah dari Soekarno terdahulu.

Oh ya, dari judulnya saja, arti The King's Warden bisa diartikan simbolis. Dalam cuplikannya, terlihat raja masih bersemangat untuk mengembalikan tahtanya. Raja muda ini memang ingin memajukan Korea, dan secara harfiah dengan bantuan langsung rakyatnya di desa pengasingan. Selayaknya simbol tersebut, The King's Warden yang berarti Penjaga Raja, adalah usaha rakyat untuk menjaga rajanya sendiri, walau urusan kerajaan yang terlalu berbelit-belit untuk diurusi oleh rakyatnya langsung.

Sinopsis Film The King's Warden

Eom Heung-do (Yoo Hai-jin) adalah seorang rakyat Korea biasa, yang diinterogasi oleh pejabat kerajaan saat berkunjung ke wilayah kota dekat istana. Dia pun terpaksa menceritakan wilayah desanya, yang memiliki lokasi rumah terpencil mewah milik kerajaan, dan cocok sebagai area pengasingan.

Namun saat pejabat yang diasingkan tiba, dia pun terheran-heran. Bahkan salah satu temannya perlu marah sambil mengingatkan, bahwa yang diasingkan adalah Raja Danjong (Park Ji-hoon) yang dimakzulkan dari tahtanya. Saking merasa bersalah, Heung-do lalu mulai sering berkunjung ke area pengasingan, demi menemani sang mantan raja tersebut.

Ternyata kedekatan keduanya melebihi hubungan antara raja dan rakyatnya. Raja Danjong sangat menyukai kesederhanaan Heung-do bersama seluruh warga desanya. Walau masih tidak rela dimakzulkan, dirinya menikmati keseharian baru di desa kecil tersebut.

Hingga suatu hari drama dari istana kerajaan semakin membesar, dan meruak hampir ke wilayah desa pengasingannya. Raja Danjong yang tidak ingin desa kecil ini ikut tergerus urusan kerajaan, perlu mencoba segala cara demi mengamankan semuanya. Bahkan dengan bantuan langsung dari Heung-do, yang masih heran dengan kedekatannya bersama raja.

Sanggupkah Raja Danjong dan Heung-do mengamankan desa kecil milik semuanya? Atau malah terjadi pengkhianatan dari banyak sudut pandang dan kepentingan?

Jawabannya, ada di drama pangeran Korea Selata ala sinema Indonesia.

01 April 2026

Kebiasaan Drama Ala Indonesia dalam Film Ayah, Ini Arahnya Kemana, Ya?

Entah, ya (TMDB).

Setelah banyak film keluarga yang meramaikan libur Lebaran kemarin, sekarang dirilis lagi film yang mengambil latar sehari-hari Indonesia. Dengan judul yang agak ribet, yaitu Ayah, Ini Arahnya Kemana, Ya? Film ini mengadaptasi latar kelas menengah lokal, dengan rating umur R13 (Remaja).

Aktor kawakan yang sering berperan komedi namun dengan wajah dingin, Dwi Sasono mengisi film ini sebagai fokus utamanya, yaitu sebagai Yudi alias ayah dari keluarga ini. Walau begitu, karakter utama dengan sudut pandangnya yang kental adalah Dira yang diperankan oleh Mawar Eva De Jongh. Film ini diadaptasi pula dari novel hasil karya Khoirul Trian.

Berbeda dengan beberapa bahasan sebelumnya di blog ini mengenai keluarga disfungsional, satu anggota atau seluruhnya, justru di film ini tidak bersudut pandang yang sama. Terlihat pada cuplikannya, bahwa sang ayah masih berada dan cukup berfaedah. Namun hanya kehadiran sosok saja, sementara sosok pribadi yang berperan sebagai ayah, kurang hadir dalam keluarga tersebut.

Bahkan dalam cuplikannya, anak kedua bernama Darin (Rey Bong) adalah seorang anak nakal, yang sering terjebak tawuran di sekitar sekolahnya. Namun kehadiran sosok ayah yang kurang tegas, justru tidak mengacu pada tindakan sewajarnya keluarga. Yudi malah mendiamkan, seakan sosoknya hanya ada untuk mengisi saja di keluarga ini.

Sementara ekonomi keluarga Dira cukup berjalan walau pas-pasan, dengan usaha Soto Bu Lia yang dijalankan oleh Lia (Unique Priscilla) serta dibantu oleh Yudi. Selama ini Yudi memang hanya membantu keluarga saja, tanpa kontribusi lebih selain mengantar barang dan keluarga dengan mobilnya.

Mungkin dari segi cerita ini, lebih baik diingatkan dengan satu aspek saja, yaitu komunikasi. Kadang dalam suatu keluarga, kesenggangan satu sama lainnya dapat menciptakan jarak. Bahkan, setiap anggota keluarga menjadi kurang tertarik dengan yang lainnya.

Bahkan lebih parah lagi, terdapat banyak contoh dimana ayah-ibunya bekerja, namun keluarga tersebut terlihat disfungsional. Setiap anggotanya hanya fokus mengurusi urusannya sendiri, dan berujung tidak dapat menyelesaikan masalah saat konflik keluarga terjadi.

Karena itu, komunikasi satu keluarga harus ditanam dengan baik, tanpa adanya rasa segan berlebih. Selain peran yang terisi, tentu setiap anggota harus mengenal satu sama lain, dengan lebih mendalam karena bukanlah siapa-siapa, melainkan masih satu atap bersama.

Apalagi sosok ayah-ibu sebagai orangtua, adalah pemimpin dan pengemudi keluarga, yang membawa anak-anaknya menuju jalannya masing-masing. Setelah itu, anak yang menumpang pun akan menjalani kehidupannya sendiri, bersama keluarga baru tentunya.

Sinopsis Film Ayah, Ini Arahnya Kemana, Ya?

Dira (Mawar Eva De Jongh) dan Darin (Rey Bong) sangat merindukan istilah keluarga idealnya. Keduanya heran dengan sosok ayahnya, Yudi (Dwi Sasono) yang terasa ada dan tiada di kehidupan rumahnya. Bahkan saat Darin terjebak tawuran sekolah, Yudi tidak menanggapi sama sekali. Sementara ibu mereka, Lia (Unique Priscilla) memilih sibuk di Soto Bu Lia-nya, untuk menghidupi keluarga.

Hingga sang ibu akhirnya celaka di rumah. Akibat kompor yang meledak, Lia terpaksa dilarikan ke rumah sakit dan perlu dirawat inap. Sementara Yudi terpaksa meminjam sana-sini, demi menghidupi rumah serta membayar perawatan Lia.

Saat terjebak banyak masalah, Dira mulai merasa kangen dengan sosok Yudi dan Lia yang sesungguhnya. Walau mereka sebenarnya hidup berkecukupan, namun ketiadaan komunikasi yang lancar diantara mereka, menyebabkan banyak jarak dan kesenggangan. 

Bagaimanakah kelanjutan dan akhir kisah keluarga rata-rata Indonesia saat ini? Jawabannya tentu ada di ranah kelas menengah ala sinema Indonesia.

Menjaga Selat Malaka dari Serangan Bajak Laut Ala Film Hostage's Hero

KRI Karel Satsuitubun yang dipimpin oleh Letkol Taufiq (TMDB).

Okeh, sekarang saatnya membahas film aksi dari Indonesia, berjudul Hostage's Hero, yang tayang di sinema dengan rating umur R13 (alias remaja keatas). 

Setelah banyak film aksi di tahun 2025 kemarin, film bersama Donny Alamsyah ini akhirnya menyusul juga, dengan perbedaan dari segi aksinya. Sebelumnya di bulan Oktober tahun lalu, Donny Alamsyah mengisi film Badik yang kentara adegan aksi ala beladiri silat Nusantara. 

Namun di film Hostage's Hero ini, justru tidak banyak melampirkan adegan gelut beladiri tangan kosong. Terlihat pada cuplikannya, adegan yang disajikan berlatar operasi militer dari penjaga perbatasan lautan Indonesia, daripada langsung gelut saja. Tampaknya film Indonesia mulai mengarah ke animo semacam ini, apalagi dengan presiden saat ini yang berlatar Militer ala Prabowo.

Film (latar moderan) semacam ini memang sudah dimulai tahun kemarin, sejak dirilisnya film Believe: Ultimate Battle pada bulan Juli. Sementara aktor lainnya yang sudah memiliki studio sendiri, Iko Uwais meramaikan animo ini dengan filmnya berjudul Timur pada bulan Desembter tahun lalu. Kedua film masih menyertakan adegan gelut beladiri ala silat dan militer Nusantara. Tetap berbeda dengan keduanya, film Hostage's Hero ini lebih mengedepankan operasi marinir yang lengkap dengan senapannya. 

Lokasinya pun cukup berbeda, yaitu di Selat Malaka sebagai perbatasan Indonesia dan Malaysia. Walau begitu, justru perlu diingat bahwa kisah konflik di lautan Indonesia cukup jarang terjadi. 

Lebih sering mendengar kabar (dari berita), bahwa masalah perbatasan adalah nelayan nakal dari negeri seberang, yang mencari ikan terlalu jauh hingga melewati perbatasan negara. Mereka pun tidak diberi hukuman berlebih. Nelayan yang notabene adalah warga biasa, hanya ditawan lalu dikembalikan ke negaranya. Kadang, kapal nelayan disita hingga dihancurkan, sebagai bentuk hukuman bagi yang melanggar perbatasan negara.

Film Hostage's Hero ini lebih realistis dari segi penggambaran operasi marinirnya. Memang, berfokus pada hebohnya bajak laut (fiktif) saat menyergap dan menyandera kapal dagang dan tanker di perbatasan. 

Sementara anggota operasi marinirnya, perlu bernegosiasi atau buru sergap, sesuai dengan aturan zona laut internasional. Mungkin efek spesialnya belum sekelas film luar negeri, namun patut dicoba juga, karena Indonesia bukan hanya beladiri silat saja.

Sinopsis Film Hostage's Hero

Letkol Taufiq (Donny Alamsyah) adalah seorang petugas Angkatan Laut (AL) yang baru pindah tugas. Kini Letkol Taufiq perlu bertugas di markas militer perbatasan Sumatera dan Malaysia, dengan memimpin kapal laut KRI Karel Satsuitubun. Zona laut di Selat Malaka ini sedang panas dengan pembajakan laut kapal tanker, oleh pihak kriminal yang ternyata cukup lihai.

Hingga suatu hari, para bajak laut akhirnya menyergap dan membajak kapal MT Pematang Tanker. Seluruh awak kapal berhasil disandera, sementara proses negosiasi dari pihak Indonesia masih gagal. Letkol Taufiq bersama petugas Karel Satsuitubun, perlu masuk dan memburu-sergap seluruh anggota kriminal.

Ternyata para kriminal ini cukup beringas dalam melawan balik. Tidak hanya brutal saat melawan anggota AL Indonesia, namun cukup tega untuk membasmi sanderanya satu-persatu, demi mengamankan posisi dan potensi cuan mereka.

Sanggupkah Letkol Taufiq menyelamatkan sandera bersama kapal tanker Pematang? Jawabannya tentu dapat diramaikan ala aksi militer sinema Indonesia.

Mustahilnya Misi Antariksa Dalam Film Project Hail Mary

Grace yang sendirian dalam pesawat antariksanya (IMDB).

Sekarang saatnya membahas film yang dirilis awal April tahun ini, yang sangat kuat dengan genre Sains-Fiksinya, berjudul Project Hail Mary. Film yang tayang di sinema Indonesia dengan rating R13 ini, memang mengacu pada misi antariksa yang heboh, sekaligus ramai efek spesial nan canggih pada setiap adegannya.

Sebelum membahas film ini, perlu dicek terlebih dahulu novel asli yang diadaptasi sebagai sinematografinya. Film Project Hail Mary mengadaptasi novel berjudul sama, hasil karya novelis Andy Weir. Mungkin masih ada yang mengingat, bahwa novelis ini sempat diadaptasi pula karya lainnya, berjudul film The Martian. Film tahun 2015 ini dibintangi oleh aktor kawakan Matt Damon, yang mengisahkan karakter Watney saat terjebak sendiri di planet Mars dan sama sekali tanpa bantuan komunikasi dengan Bumi.

Nah, Project Hail Mary mirip dengan kisah tersebut, yaitu satu karakter manusia yang terjebak sendirian di antariksa. Terlihat dalam cuplikannya, Ryland Grace (Ryan Gosling) sedang sendirian saat di antariksa, demi misi kemanusiaan. Tapi berbeda dengan karakter Watney di The Martian, Grace bukan berlatar seorang kosmonot, astronot, atau ahli antariksa manapun. Grace adalah ahli biologi molekular, yang bekerja sebagai guru di sekolah. 

Kisah yang terasa isekai dari latar karakternya ini, mirip dengan kisah film epik terdahulu, berjudul Armageddon (1998). Film yang dibintangi oleh Bruce Willis dan banyak bintang Hollywood masa tersebut, mengisahkan pekerja kilang minyak. Karena keahlian mereka untuk mengebor dalamnya tanah di tengah samudera, menyebabkan mereka direkrut untuk mengebor komet yang hampir jatuh ke bumi. Terasa beda memang, karena tidak berlatar para ahli antariksa.

Tentu bagi yang sempat menonton film berisi Ryan Gosling, aktor serba bisa ini sudah melanglang buana di perfilman Hollywood sejak pertengahan 2010an lalu. Berbagai karakter unik sempat diperankan olehnya, seperti Sebastian di film La La Land (2016) yang musikal, lalu sebagai Replicant bernama K di Blade Runner 2049 (2017) yang melodramatik, hingga menjadi karakter Ken dalam film boneka Barbie (2023) bersama Margot Robbie. Ryan memang aktor yang memilih film serta karakter unik, sehingga tiap filmnya cukup mudah dikenang.

Oh ya bagi yang ingin menontonnya, perlu menyiapkan waktu berlebih. Film ini ternyata berdurasi sekitar 150 menit, alias dua setengah jam!

Sinopsis Film Project Hail Mary

Ryland Grace (Ryan Gosling) adalah seorang guru di sekolah dasar. Walau dirinya memiliki pekerjaan utama sebagai ilmuwan biologi molekular, namun justru semangatnya adalah mengajar di kelas bersama anak-anak.

Hingga suatu hari seorang komandan dari NASA bernama Eva Stratt (Sandra Huller), merekrut Grace untuk sebuah misi antariksa. Keahlian dirinya dalam biologi molekular sangat dibutuhkan, untuk 'menyembuhkan matahari yang terinfeksi.' Bencana yang sangat mencengangkan, karena banyak bintang di seluruh galaksi Bima Sakti terinfeksi oleh 'penyakit' ini. Jika bintang, khususnya matahari di tata surya ini gagal 'disembuhkan,' maka sumber cahaya ini akan mati dan bencana yang menghancurkan seluruh alam semesta langsung terjadi.  

Sementara Grace yang kurang memahami antariksa, menolak mentah misi tersebut. Dirinya meminta untuk para ahlinya untuk turun langsung, sementara dirinya pasrah saja di bumi. Namun, Grace terpaksa menuruti misi sejauh jutaan tahun cahaya ini, demi meneliti sistem tata surya yang mataharinya tidak terinfeksi sama sekali.

Grace yang baru bangun dari cryosleep pun terjebak sendirian di tengah antariksa. Hingga akhirnya dia bertemu dengan seekor ras alien, yang berada di suatu kapal tanpa awak. Alien tersebut menjadi teman perjalanan dirinya, hingga mencapai tata surya yang ditujunya.

Sanggupkah Grace menyelamatkan diri serta seluruh dunia? Jawabannya tentu ada di megahnya antariksa ala sinema Indonesia. 

30 Maret 2026

Memahami Teater sebagai Ekspresi Sosial Hingga Kajian Perfilman

 

Ilustrasi seni panggung Teater dan Film (Freepik).

Mengacu pada Hari Teater Boneka (21 Maret), lalu Hari Teater Sedunia (27 Maret), hingga hari Film Nasional di tanggal 30 Maret, maka artikel ini akan membahas setiap tanggal pentingnya. Artikel dilansir dari Britannica sebagai sumber utama ensiklopedia, dengan sedikit tambahan dari penulis.

Khusus untuk Hari Teater Boneka, penulis perlu mengacu pada artikel Wayang dari Indonesia sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Karena perkembangan Wayang sebagai teater boneka sejak abad 15 lalu, setelah sebelumnya diadaptasi dengan cerita dari India, maka perkembangannya tentu akan berbeda dengan referensi internasional.

Sementara untuk teater, penulis tidak menulis mengenai versi tradisional dari Nusantara. Tentu, karena penulis mengarahkan artikel menuju konsep blog yang lebih sesuai, yaitu perkembangannya menuju ke arah perfilman. 

Film memang menjadi bahasan utama dalam blog ini, dan sama seperti konsep dasar teater, menyajikan karakter dengan berbagai akting ala aktor-aktrisnya, yang sesuai dengan penggambaran cerita apapun, khususnya keadaan sosial saat ini (selain fantasi). Maka, banyak teater atau film diartikan dengan istilah 'produk dari masanya,' alias langsung mengacu ke jaman dirilisnya karya seni tersebut.

Teater sebagai Ekspresi Sosial

Di banyak konteks, variasi aspek kemanusiaan dianggap penting dan difokuskan sebagai representasi teater di negara Barat. Banyak drama jaman Renaisans, fokus pada khas tiap karakternya. Sementara di abad 17, masih terbatas filosofi dan latarnya, yang karakternya yang tidak disajikan ala mahluk dengan status unik. Melainkan, seseorang yang beradaptasi dan bermotivasi pada lingkungan masyarakatnya. Di akhir abad 17, seni teater memfokuskan pada tema yang mengerucut, dan sesuai dengan target masyarakatnya.

Pada awal abad 19, teater Eropa telah menjadi bagian dari hiburan warga kelas menengah, sama seperti tujuan sebelumnya pada kelas aristokrat. Walau begitu, seorang aktor tidak hanya berbekat, namun dapat berbicara baik dan berpakaian bagus. Banyak seni panggung yang sukses di Eropa, berisi karakter yang berposisi sosial baik, dengan mengacu pada kode sikap.

Namun pada pertengahan abad yang sama, drama literasi oleh Henrik Ibsen muncul untuk menantang kode normatif tersebut. Setelah Revolusi Rusia pada tahun 1917 lalu, teater di Soviet telah keluar dari jalur normatifnya. Sementara di Eropa, kode bersikap masih dilanjutkan hingga tahun 1930an, dengan target teater bergengsi. Namun di Kota New York, AS, masa Depresi Besar pada tahun 1930an menyebabkan perubahan besar pada kode normatifnya. 

Di Eropa setelah Perang Dunia II, teater mulai beralih dengan merefleksikan minat yang lebih luas di masyarakat. Namun di masa tersebut, banyak warga kehilangan minat mengunjungi teater, dan memilih untuk menonton film di sinema atau melalui televisi, sebagai sumber utama hiburannya. Teater lalu mulai diarahkan tidak hanya pada satu golongan masyarakat saja, tetapi kepada siapa pun yang cukup berminat pada sikap seni dan kreatif.

Pada akhir abad 20 dengan banyaknya inovasi teknologi digital, diantaranya adalah pengunaan video rekaman berkualitas tinggi dan suara di teater, telah membuka debat mengenai kehidupan teater itu sendiri. Atau, bagaimana dasar teater telah berubah secara fundamental akibat implementasi teknologi tersebut.

Kajian Studi Perfilman

Selama dua dekade perfilman, banyak diskusi dalam media yang dikembangkan, pada berbagai tingkatan apresiasi dan analisis. Diantaranya, adalah kajian koran, analisis profesional, buku teknik produksi, majalaj fans, dan kolom gosip.

Pada jaman Perang Dunia I, terdapat monograf keilmuan dengan mata kuliah perfilman di universitas. Pada tahun 1930an, arsip diciptakan dengan model yang terhubung di museum seni, demi mengoleksi film dan berbagai teknik produksi sebagai bagian dari apresiasi publik. 

Kajian film di universitas dan kampus semakin meluas pada awal tahun 1970an, yang dianggap sebagai bagian dari kesuksesan artistik. Film akhirnya layak untuk dikaji sebagai pengaruh budaya, politik, dan sikap sosial. Kajian ini ditujukan kepada publik yang membutuhkan kritik serta analisis khusus perfilman.

Pengajaran dan keilmuan yang dibantu dengan banyaknya arsip perfilman lama, televisi, media DVD, serta video, seluruhnya menjelajahi masalah isu sosial, mulai dari ras, kelas sosial, dan gender (SARA) yang direpresentasikan melalui film. 

Genre film, sutradara, aktor-aktris, praktek industri, serta sinema nasional telah menjadi subyek kajian mata kuliah dan penelitian. Universitas merilis puluhan buku setiap tahunnya, yang berisi sejarah, teori, dan estetika film. Kegiatan ini sekaligus mendukung dan mendistribusikan jurnal akademik perfilman.

Dengan banyaknya jenis media baru, yang kadang menyaingi perfilman itu sendiri dari segi kepopulerannya, justru menambah berbagai komentar (dan kritik) pada banyak aspek dari film tersebut.

Media dan Internet sebagai Bagian dari Apresiasi Film

Sejak awal abad 21, internet telah menyediakan ribuan situs untuk informasi dan pendapat mengenai film, aktor-aktris, sutradara, dan sejarah. Media penyiaran secara regular mengabarkan berita mengenai aktor dan produksi film terbaru. Beberapa majalah fokus untuk membahas media hiburan, yang diantaranya berisi publik figur perfilman, film terbaru, dan perkembangan industrinya.

Minat untuk perfilman besar seperti Hollywood telah memicu reportase mengenai film yang akan dirilis setiap minggunya, dimana filmnya dibandingkan langsung layaknya sebuah kompetisi olahraga. Beberapa bahasan ini bahkan bisa disebut sebagai usaha promosi dari media itu sendiri, yang bekerja bersama studio film dengan koran, stasiun televisi, dan situs internet.

Bagi penulis sendiri, yang banyak mengambil referensi serta informasi dari internet, selain observasi sendiri, wacana ini tentunya cocok. Blog Sedia Saja bisa diartikan sebagai promosi film, namun dengan latar penulis sebagai pengkaji cerita, tentu diisi pula pendapat yang langsung mengacu pada isu sosialnya di masyarakat.

Jadi dari artikel ini sudah jelas, bagaimana perkembangan teater dan isu sosial sejak abad 17 lalu, lalu dilanjutkan dengan perkembangan film di awal abad 20 serta apresiasi medianya, menjadi konsep khusus yang mendasar bagi Blog Sedia Saja sebagai situs internet saat abad 21 ini.

Mengajari Anak Mengenai Kearifan Budaya Lokal Melalui Dongeng Nusantara

 

Ilustrasi buku folklor (Freepik).

Menyambut Hari Dongeng Sedunia (20 Maret), lalu dilanjutkan dengan Hari Puisi Sedunia (21 Maret), yang diakhiri dengan Hari Buku Anak Sedunia pada tanggal 4 April mendatang, tampaknya cocok untuk membahas mengenai Buku Dongeng, khususnya sebagai bagian dari tumbuh kembang anak di Nusantara.

Dalam artikel ini, penulis mengkaji studi dari banyak ahli pendidikan nasional, mengenai hubungan antara dongeng dengan tumbuh kembang anak. Dongeng Nusantara memang menjadi satu bahan ajar bagi anak PAUD, TK, hingga Sekolah Dasar. Tentu tujuannya untuk mengajarkan budaya lokal Indonesia, dengan segala kearifan lokalnya.

Untuk referensi mengenai fungsi dongeng di abad 20 hingga 21 sekarang, dapat dicek saja melalui terjemahan dan referensi ensiklopedianya, dalam artikel berjudul Perubahan Dongeng di Abad 20 dan Perannya di Abad 21. Artikel ini ditulis saat bulan November tahun lalu, demi menyambut hari Dongeng Nusantara pada tanggal 28 November setiap tahunnya.

Karena itu, dalam artikel menyambut Hari Dongeng Sedunia, dikombinasikan dengan dua tanggal penting lainnya. Bagaimana pun juga, korelasi serta kolaborasi studi adalah kombinasi yang menciptakan perkembangan budaya, teknologi, dan peradaban manusia hingga kini.

Khusus untuk blog ini, justru penulis dapat menjabarkan pula, bahwa setiap film dan cerita pada umumnya, memiliki nilai moralnya tersendiri. Walau blog ini lebih mengacu pada simbol dan referensi pada setiap artikelnya, namun tentu berlatar pada nilai dan moral yang dipercaya oleh jutaan warga di Nusantara.

Hari Dongeng Sedunia

Hari Dongeng dirayakan di seluruh dunia sejak tahun 1997 lalu, saat ditetapkan oleh banyak negara, contohnya adalah AS dan Australia. Sebelumnya, 20 Maret ditetapkan sebagai hari Mendongeng Nasional di Swedia, sejak tahun 1991. 

Dilansir dari Universitas Muhammadiyah Malang, Hari Dongeng Sedunia dirayakan sebagai wahana imajinasi anak. Pendongeng menutur cerita dengan gestur tubuh, sehingga anak dapat berimajinasi dalam alur cerita dongeng. Dengan berimajinasi bebas, maka kreatifitas anak akan bertambah. Tidak hanya imajinasi, namun rasa empati dan simpati akan muncul dalam diri mereka. Karena, dongeng Nusantara mengandung banyak nilai moral dan pendidikan.

Guru bahkan perlu diberi pendidikan khusus dalam mendongeng. Dengan semacam softskill ala mendongeng, guru akan lebih mudah dalam menanamkan nilai moral serta menumbuhkan sisi kreatifitas bagi anak.

Hari Puisi Sedunia

Menurut Perpustakaan Universitas  Brawijaya, Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) menyatakan pentingnya Puisi saat Konferensi Umum ke-30, pada tahun 1999 lalu. Konferensi yang dilaksanakan di Paris, Perancis ini mencanangkan tanggal 21 Maret sebagai Hari Puisi Sedunia, yang mendukung keragaman bahasa melalui ekspresi puitis, dan kesempatan untuk mengajarkan bahasa yang terancam punah.

Menurut UNESCO, puisi bermemiliki peran strategis dalam seni dan budaya, dan termasuk diantaranya adalah sejarah. Puisi adalah katalis kuat untuk berdialog dan menjaga perdamaian. Kolaborasi puisi dengan karya seni seperti musik, tari, drama, atau lukisan tidak hanya dapat terus dinikmati dan tidak hilang oleh waktu, namun sebagai bagian dari upaya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Dari segi ini, penulis berpendapat bahwa bentuk ekspresif puitis telah terkombinasi dengan menyeluruh pada banyak media, khususnya pada lagu (musik) dan film yang tersaji saat ini. Penulis sendiri sering memasukkan banyak istilah frasa, dalam banyak kajian film di artikel blog ini. Istilah frasa tersebut kadang memiliki rima ala puisi, dengan maksud tidak langsung dan suatu pedoman norma tertentu.

Hari Buku Anak Sedunia

Menurut Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kutai Kartanegara, perayaan Hari Buku Anak Sedunia setiap tanggal 2 April mengacu pada hari lahir penulis dongeng bernama Hans Christian Andersen. Perayaan ini untuk menumbuhkan budaya membaca, meningkatkan kesadaran literasi, serta menghomati karya sastra yang berkontribusi besar dalam dunia pendidikan, khususnya pada anak.

Wacana ini sesuai dengan manfaat dongeng untuk anak, yang dilansir dari Generasi Maju. Keterampilan kognitif anak dalam memproses ingatan, bahasa, pemikiran, dan penalaran dapat terlatih dengan cara mendengarkan dan memahami dongeng.

Aspek perkembangan yang didukung oleh pembacaan dongeng diantaranya adalah merangsang kecerdasan anak dengan aktivasi otak yang berkelanjutan, dan mendukung perkembangan psikologi dengan mempengaruhi perasaan mendalam anak saat menghadapi situasi problematis.

Membaca dongeng dapat dilaksanakan sebagai media belajar bahasa dengan banyak kosakata,  padanan kalimat, serta konteksnya. Selain itu, dongeng dapat membangun minat literasi sejak dini, yang menjadi satu kunci pembelajaran di masa depan.

Membaca dongeng dapat mengasah keterampilan berpikir anak, agar mereka berpikir kritis sejak dini. Mendengarkan dongeng dapat mendorong anak dalam memecahkan masalah, memahami keberagaman serta kerja sama. Anak dapat merespon dengan menunjukkan tanggapannya sendiri atas cerita dongeng yang orangtua sampaikan.

Karena membaca dongeng dilaksanakan dua arah, maka aktifitas komunikasi ini dapat mempererat hubungan orangtua dan anak, yang membangun ikatan kuat antar keduanya. Dengan interaksi positif, maka anak akan merasa aman, dicintai, diperhatikan, dan disayangi. Aktifitas ini membantu anak berkembang secara sosial maupun emosional dalam memahami dunia.

Keunikan Mengenal Dunia Melalui Dongeng

Terdapat pula keunikan lain melalui pembacaan dongeng antara anak dan orangtua, yaitu mengenalkan berbagai jenis suara dan bentuk ilustrasi di sekitar lingkungannya, seperti dilansir dari Kemendikdasmen

Suara ketukan pintu, degup jantung, dan bel sepeda disajikan secara imajinatif, untuk mengasah indra dan rasa ingin tahu anak. Setiap suara memiliki simbol dan tanda sebagai alat komunikasi dengan orang lain atau mahluk hidup di sekitar lingkungannya. Terlebih lagi, anak usia dini membutuhkan pengenalan suara melalui dongeng.

Menunjukkan ilustrasi yang sesuai dengan benda, alam, atau manusia yang diceritakan, dapat mengisi pola imajinasi anak. Isi cerita beserta ilustrasinya yang sederhana, singkat, dan jelas informasinya dalam dongeng, dapat lebih mudah diterima oleh anak-anak.

Tentunya, nilai moral yang berisi kejujuran, doa, dan kemandirian sangat diperlukan oleh anak. Khususnya, cerita yang berasal dari buku, cerita pengalaman, kisah nabi, dan cerita rakyat yang ditujukan untuk meningkatkan kemampuan kognitif dan tumbuh kembang anak usia dini.