27 April 2026

Berjibaku Masalah Hak Asuh dalam Film Kupeluk Kamu Selamanya

Kisah anak dan ibu yang sulit terpisahkan (TMDB).

Film drama dari Indonesia ini, membahas sulitnya mengurus hak asuh anak ala Hukum Indonesia, berjudul Kupeluk Kamu Selamanya. Film yang sangat kuat penggambaran dramanya ini, tayang di sinema dengan rating R13.

Drama Hak Asuh Indonesia

Karena mengacu pada urusan hukum nyata, khususnya di negara Indonesia, langsung saja membahas tutor hukum yang berasal dari situs Mahkamah Agung Indonesia. Dari situs ini, tepat sekali menjabarkan hak asuh anak dibawah umur, lengkap dengan Undang-Undangnya, akibat perceraian suami dan istri. 

Dalam Kompilasi Hukum Islam yang ditujukan bagi umat muslim, anak dibawah 12 tahun harus diasuh oleh ibunya sendiri, demi kebaikan tumbuh kembang anak. Namun ketentuannya tidaklah absolut, melainkan harus mengacu kepentingan terbaik bagi anak, seperti ditegaskan pada UU Perlindungan Anak. 

Hak asuh anak kepada ibu setelah putusan sidang, dapat dialihkan kepada ayah dengan alasan hukum dan bukti yang kuat saat persidangan. Kondisi yang menjadi dasar pengalihan hak asuh adalah kekerasan fisik atau mental dari salah satu pihak, menelantarkan anak, tindakan berbahaya bagi keselamatan dan perkembangan moral anak, serta fungsi pengasuhan yang tidak layak. 

Kondisi objektif dapat dinilai sebagai dasar permohonan pengalihan hak asuh, seperti kondisi kesehatan serius, gangguan kejiwaan, atau kondisi psikologis yang berpengaruh pada fungsi pengasuhan anak. 

Secara yuridis, hak asuh anak tidak dapat disamakan dengan hak kepemilikan anak, yang berarti bisa dikaji dan dievaluasi ulang oleh pengadilan.

Hakim tidak hanya menilai normatif mengenai hak asuk anak, tetapi dari aspek psikologis dan sosial anak. Karena itu, pemeriksaan perkara perlu melibatkan para ahli sosial, diantaranya dari pekerja sosial dan psikolog, untuk menilai kondisi emosional dan kebutuhan tumbuh kembang anak. 

Hakim dapat mendengar dan mempertimbangkan pendapat anak, apalagi jika telah mencapai usia dan memiliki kematangan psikologis. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip bahwa anak adalah subyek hukum yang harus didengar, sesuai dengan kebutuhan, tumbuh kembang, serta kepentingan terbaiknya. 

Sementara pertimbangan utama hakim menurut Yuriprudensi Mahkamah Agung, adalah stabilitas emosional anak, lingkungan pengasuhan, dan komitmen orangtua terhadap pemenuhan hak anak.

Sinopsis Film Kupeluk Kamu Selamanya

Naya (Hana Malasan) adalah ibu tunggal yang sangat bahagia. Walau berusaha sendiri demi anaknya Aksa (Jared Ali), namun dirinya sangat sumringah dalam memberi yang terbaik. Seluruh usaha jiwa raga dan kasih sayang sepenuhnya fokus diberikan kepada Aksa, yang menjadi kebahagiaan terbesar Naya.

Namun naas, kehadiran kembali mantan suami bernama Bagaskara (Ibnu Jamil), beresiko merusak segalanya. Naya dianggap tidak layak untuk mengasuh Aksa, dan Bagaskara mencoba merebut anaknya lagi. Persidangan Hak Asuh pun akan segera dilaksanakan, dengan kondisi Naya yang memiliki pembelaan pas-pasan.

Sayangnya lagi, malang pun tiba tanpa pamrih. Aksa didiagnosa penyakit berat oleh rumah sakit. Bahkan Aksa harus menjalani operasi jantung terbuka, agar dapat sembuh dari sakitnya.

Naya pun berjibaku dengan menjual banyak sisa kekayaannya, termasuk menggadaikan emas perhiasan miliknya. Seluruh usaha dijalankan oleh Naya, termasuk meminjam sana sini, demi mempertahankan kesehatan Aksa.

Sanggupkah Naya menyelamatkan Aksa? Atau ada bantuan lain dari pihak lain-lain demi kembalinya Aksa? Atau pihak peradilan malah menganggap Naya sanggup mengasuh Aksa dan tidak perlu digantikan hak asuhnya?

Jawabannya, tentu ada dalam drama hukum perceraian ala sinema Indonesia.

Uwais Pictures Menelurkan Film Keduanya Berjudul Ikatan Darah

Duo saudari-saudara yang beraksi gelut (TMDB).

Okeh, saatnya membahas film silat alias aksi gelut yang khas dari sini, alias Nusantara-nya Indonesia, berjudul Ikatan Darah. Film kedua dari Iko Uwais dan Uwais Pictures ini, tayang di sinema dengan rating D17. Tentunya, menyajikan gelut silat yang brutal nan membabi buta dan tidak berwibawa.

Film Silat Ala Uwais Pictures

Setelah film Timur dirilis sebagai film pertama Uwais Pictures di bulan Desember tahun 2025 lalu, kali ini menyusul film Ikatan Darah di bulan April 2026. Lebih membumi daripada film Timur yang mengisahkan OPM di Pulau Papua sana, Ikatan Darah memang mengisahkan gelut antar geng di pusat hunian perkotaan.

Di film Timur, Iko Uwais masih berperan sebagai tokoh utamanya. Sementara di Ikatan Darah, perannya diganti oleh Livi Ciananta sebagai Mega, dan Derby Romero sebagai Bilal. Keduanya berperan sebagai saudara yang perlu berjibaku, dalam menghalau lingkar kejahatan di sekitar huniannya.

Film Ikatan Darah tampaknya kembali ke atmosfer gelut ala Indonesia, daripada Timur yang mengadaptasi sebuah misi operasi militer. Terdapat animo tersendiri mengenai film yang berlatar operasi militer nyata, contohnya adalah Hostage's Hero di awal bulan April ini.

Tampaknya (lagi), film Indonesia yang khas pembawaan Nusantara-nya, sedang beralih menjadi atmosfer film yang Nasionalis. Tidak hanya film aksi gelut, tetapi banyak film Kemerdekaan Indonesia, atau bahkan film operasi di Timor ala film Believe: Ultimate Battle, yang mengisahkan militer Indonesia.

Khusus untuk segi, penulis hanya bisa berkomentar satu saja. Indonesia adalah bagian dari G20 dan Gerakan Non Blok secara Internasional. G20 lebih mengacu pada ekonomi, mirip dengan BRICS (Brazil, Russia, India, China, Afrika Selatan, Mesir, Ethiopia, Iran, Uni Emirat Arab, and Indonesia). Namun Gerakan Non Blok, adalah usaha Indonesia dalam tidak memihak saat konflik dunia terjadi.

Sebelumnya penulis berpendapat bahwa film Timur akan dianggap propaganda dari pemerintah saja, bagi para Troll. Kenyataannya, Indonesia memiliki sejarah dan berperan sebagai penjaga perdamaian di banyak lokasi konflik. Bahkan kabar terakhir dari Lebanon, pasukan perdamaian Indonesia yang mewakili PBB, berakhir gugur saat bertugas.

Jadi, daripada mengikuti pihak media lain yang suka ikut berperan sebagai klub alias sekte separatis dengan berbagai jenis kepentingan, coba kita nikmati saja sedikit nasionalisme di filmnya ya.... (HOIST YOUR COLORS OF LIBERTY)

Sinopsis Film Ikatan Darah

Mega (Livi Ciananta) adalah mantan atlet Pencak Silat, yang baru dipecat dari pekerjaannya. Walau sempat berprestasi dalam arena olahraga, Mega perlu mengadu nasib sebagai pramusaji biasa, yang akhirnya dipecat juga.

Karena keadaan rumah yang limbung, apalagi dengan tekanan hutang disana-sini, menyebabkan kakaknya, Bilal (Derby Romero), harus berinisiatif sendiri. Bilal lalu mencuri dari geng sebelah yang terkenal, dan berhasil meraup uang sebesar ratusan juta. Namun karena (mudahnya) ketahuan dan Bilal membasmi saksinya, dirinya lalu dikejar oleh banyak pihak geng sekaligus. 

Banyak geng berseteru di wilayah tersebut, memanfaatkan sikon kehilangan cuan dari geng sebelah, sehingga Bilal layaknya pinata meriah (karung saksak) saja. Alasan utamanya hanya satu, yaitu saling beraksi gelut nan brutal, tidak seperti biasanya yang tanpa alasan.

Pihak yang ikut bertikai diantaranya adalah Aristocrats from the Abyss, The Architect's of Satan's Plans, The Knights of Jahanam, dan Morning Star. Keempat mahluk preman pecicilan ini, mencoba melupakan warna yang dimilikinya, dan mulai turun ke jalan demi mengejar aksi sesungguhnya.

Pokoknya, demi Ikatan Darah lah.....

Jurit Malam di Korea Selatan Ala Film Salmokji: Whispering Water

Horor tapi masih bisa telponan lah... (TMDB).

Saatnya membahas film minat pecicilan penulis, berjudul Salmokji: Whispering Water dari Korea Selatan sana. Film horor berlatar di sekitar area air ini, tayang di sinema Indonesia dengan rating D17. Tidak hanya berlatar air yang cukup jarang diangkat pada sinema horor, film Salmokji menyajikan teknik sinematografi ala Found Footage, walau tidak se-goyang biasanya.

Air, Hydrophobia, dan Film Horor

Horornya air yang diadaptasi film, tentu mengingatkan penggemar mengenai seri Ringu (1995, 1998, 1999, 2000) dari Jepang. Ringu yang disutradarai oleh Hideo Nakata ini, dilanjutkan animo anti-airnya dalam film Dark Waters (2002). Tidak perlu dibahas terlalu jauh, karena sempat dibahas dalam artikel Lift ini.

Apalagi jika dibahas dari segi Found Footage-nya, yang sempat dibahas di film Shelby Oaks dan analisis ala film The Conspiracy. Ternyata, untuk film Found Footage yang tayang di sinema, tidak akan segoyang itu sudut kamera serta adegannya, agar penonton di bioskop tidak terdampak motion sickness.

Salmokji memang mengisahkan tentang atmosfer horor di sekitar Waduk Air, nan gelap gulita (karena malam). Cuplikannya yang agak komedi, dan lokasinya yang berada di sekitar air, seakan mengingatkan film Pee Mak, yaitu film komedi horor dari Thailand, yang rilis tahun 2013 lalu. Ya, memang agak maksa, tetapi adaptasi air dalam horor sangatlah jarang, karena itu coba dibahas saja.

Film Pee Mak dari tahun 2013 lalu memang berlatar di sekitar sungai, yang menjadi perantara desa di Thailand. Walau berlatar komedi horor ala Thailand, ternyata film Pee Mak memiliki cerita yang unik. Terdapat sebuah Plot Twist di akhir cerita, yang mengisahkan bahwa seluruh film adalah rekayasa otak para karakternya, alias Luar Binasa.

Entah bagaimana film Salmokji ini mengisahkan animo horor yang cukup jarang ini. Semoga sebagus seri Ringu, atau seunik film Pee Mak. Untuk film horor lain yang berlatar sekitar air, tidak dapat dibahas karena lebih mengacu pada film monster atau binatang liar, daripada khas mistisnya.

Sinopsis Film Salmokji: Whispering Water

Tim perekam lokasi Waduk Air yang dipimpin oleh Su-in (Kim Hye-yoon), diminta untuk kembali ke lokasi rekaman. Su-in dam timnya perlu kembali akibat terdapat cacat dalam frame rekaman, yang terlihat seperti sosok manusia (yang tentunya mengerikan).

Namun setelah tiba di lokasi, Su-in dan timnya malah memiliki animo lain. Su-in yang ternyata penggemar berat horor, tahu bahwa lokasi Waduk Air tersebut adalah keramat, dan sering muncul penampakan hantu. Su-in beranggapan, bahwa hantu tersebut berbahaya, dan dapat digunakan sebagai bahan viralnya sendiri (alias heboh berkepanjangan).

Su-in yang berhasil meyakinkan anggota timnya untuk merekam hingga malam, mulai berceloteh sompral, bahwa mereka beralih merekam demi menemukan hantu. Namun tidak lama, seluruh tim pun mulai tercerai-berai akibat lokasi yang gelap. Tidak hanya terpisah, banyak anggota tim yang berteriak dari kejauhan, pertanda kedatangan hantu yang sama sekali tidak jinak.

Sanggupkah Su-in bersama timnya selamat dari kejaran hantu? Bahkan berhasil ikut merekam viral serta nan cuan? Atau malah tersisa rekamannya saja ala ritual Found Footage lainnya?

Jawabannya, tentu ada di sinema rekaman langsung ala sinema Indonesia.

Membobol Bank Saat Bom akan Meledak di London Ala Film FUZE

Hehehehe, cuan... (TMDB).

Sekarang film pembobolan Bank ala Inggris Raya sana, berjudul FUZE, yang tayang minggu ini di sinema Indonesia dengan rating D17. Layaknya film aksi kriminalitas ala Hollywood yang ramai dengan miripnya plot, FUZE layak ditonton sebagai aksi pencurian yang heboh diluar nalar.

Kisah Pembobolan Bank Disertai Bom

Dari ranah perfilman internasional yang memukau nalar dan visual, kisah berisi pembobolan bank cukup sering diadaptasi. 

Contoh paling lama yang pernah ditonton oleh penulis, adalah Die Hard: With A Vengengeace, dari tahun 1995 lalu. Film bersama Bruce Willis saat masih muda ini, berkutat pada letnan polisi bernama John Mcclane. Karakter fiktif ini khas dengan tagline Yippie Kay Yay Motherf****r, saat membasmi tokoh antagonis di setiap seri Die Hard. 

Sesuai dengan film FUZE, film seri ketiga Die Hard ini memiliki plot pembobolan bank berisi emasnya di New York, yang dilaksanakan tepat saat bom tertanam di banyak lokasi kota sebagai pengalihan operasi kepolisian. 

Bruce Willis yang kini telah berumur 71 tahun, didiagnosa Dementia sejak tahun 2022 lalu. Kondisinya semakin memburuk, yang mengakibatkan Willis tidak sanggup berkomunikasi dengan baik.

Untuk contoh terbarunya, adalah film dari sutradara favorit penulis, bernama Zack Snyder dengan film Army of the Dead dari tahun 2021 lalu. Film ini berlatar pula minat pecicilan penulis, yaitu zombie di Las Vegas sana. Walau begitu, aksi dan lokasi pembobolan (brankas) bank tetap kentara dengan resiko pemboman, yang dicanangkan untuk membasmi seluruh zombie di Las Vegas.

Dave Bautista tentu meramaikan film ini dengan khas aktingnya yang serba bisa. Ella Purnel dari Inggris Raya yang kini terkenal sebagai karakter utama di seri adaptasi gim Fallout (2024-2025), ikut meramaikannya pula. 

Film keduanya berjudul Army of Thieves, adalah prekuel dari cerita di Army of the Dead, yang masih berplot pembobolan bank dan tahap awal zombie apocalypse. Dave Bautista masih mengisi film ini sebagai cameo, sementara ahli pembobol kunci brankas bernama Ludwig yang diperankan oleh Matthias Schweighofer dari Jerman, menjadi karakter utamanya.

Tampaknya film aksi dengan kombinasi pembobolan bank dan bom selalu diisi dengan aktor-aktris terkenal internasional. FUZE mengisi animo tersebut dengan kehadiran Aaron Taylor-Johnson (28 Years Later; 2025), yang berkebangsaan Inggris Raya dan sering berkecimpung di Hollywood. Theo James yang sama-sama dari Inggris Raya pun terkenal sejak berperan sebagai Four di trilogi Divergent, Insurgent, dan Allegiant.

Aktor satu ini lebih terkenal lagi, yaitu Sam Worthington yang berperan sebagai manusia setengah Na'vi di film terlaris sepanjang masa, Avatar (2009, 2022, 2025), lalu Hacksaw Ridge (2016) bersama Andrew Garfield, serta duo seri mitologi Yunani di Clash of the Titans (2010) dan Wrath of the Titans (2012). Worthington memang aktor yang cocok dengan sub-genre fantasi.

Nah, bagaimana kombinasi banyak aktor terkenal ini dalam film kriminal pembobol bank dan pemboman sekaligus?

Sinopsis Film FUZE

Sebuah bom sisa Perang Dunia 2 ditemukan tertanam di bawah lokasi konstruksi, pusat kota London, Inggris Raya. Polisi berjibaku mengevakuasi seluruh warga kota, sementara penjinak bom dari militer, berusaha mengamankan hulu ledak tersebut. Penjinak bom bernama Will Tranter (Aaron Taylor-Johnson) bersama timnya pun memulai operasi penjinakan dan pemindahan bom tersebut.

Sementara dari pihak lainnya, Karalis (Theo James) memanfaatkan kekisruhan ini demi membobol bank lokal di sekitar lokasi evakuasi. Dengan menyamar sebagai anggota evakuasi dan pembersihan gorong-gorong kota, Karalis bersama timnya berusaha mencuri emas batangan melalui terowongan menuju bank setempat.

Kekisruhan pun berlanjut dengan bom yang sulit dibongkar dan dijinakkan oleh tim Tranter. Sementara tim pembobol bank hampir berhasil menyelamatkan diri dari pusat kota. Namun, terdapat pihak ketiga yang dipimpin oleh X (Sam Worthington), yang mengetahui operasi Karalis dan mengejar dirinya. 

Diantara kekisruhan banyak pihak, terdapat satu orang yang berhasil memantau semua polanya. Seorang operator darurat bernama Zuzana (Gugu Mbatha-Raw), sanggup mengecek keanehan di pusat evakuasi, yang berbeda dengan operasi penjinakan bom. Zuzana pun menjadi kunci, bahwa seluruh kekisruhan antara bom, pembobolan bank, serta pihak ketiga yang misterius akan saling berkaitan.

Bagaimana akhir kisahnya yang sangat berbelit ini? Bisa dicek melalui hebohnya London ala sinema Indonesia.

22 April 2026

Publikasi Buku di Jaman Modern

 

Ilustrasi buku cetak (Freepik).

Buku masih menjadi sumber utama ilmu di jaman ponsel pintar ini. Khususnya di dunia sastra, literasi dan linguistik, banyak cara dilaksanakan demi menjaga keabsahan buku dan penerbitannya.

Ramainya media sosial kadang tidak berdasar pada referensi ilmu yang sah ala buku. Karena itu, coba kita cek di artikel ini, mengenai standar operasi penerbitan buku di jaman modern. 

Dilansir dari Britannica, setiap penerbit buku memiliki departemen manufaktur, pemasaran, dan akunting, tetapi bisnis utamanya tetap pada fungsi editorial. Selama bertahun-tahun lamanya, standar kinerja berubah dan bervariasi dari satu penerbit, atau bahkan setiap negaranya. Namun, esensinya tidak berubah sama sekali.

Editor, yang kadang disebut pula sponsor atau redaktur, memilih buku untuk diterbitkan, dikerjakan bersama penulisnya, membaca kritis naskah tersebut, lalu merevisi isinya bersama penulis. Editor akan berkoordinasi dengan departemen manufaktur dan pemasaran, demi menyelesaikan penerbitan sebuah buku. Jadi, kehadiran editor adalah faktor utama bagi penerbit untuk menarik minat para penulis. Editor yang handal berkontribusi besar bagi terbitnya banyak buku berkualitas. 

Selain editor, terdapat pula departemen editorial yang bertanggung jawab saat naskah belum dicetak. Fakta, angka, dan referensi akan dicek ulang, serta ketidaksesuaian format penulisan akan diperbaharui oleh departemen editorial. 

Penerbitan Buku Pendidikan

Kinerja editorial semakin penting sejak tahun 1940an lalu (yaitu saat bisnis percetakan telah berkembang drastis dan standar pendidikan telah dicanangkan), dengan fokus pada konsep, perencanaan, dan penerbitan buku pendidikan yang dibutuhkan sekolah untuk semua tingkatan kelas dan mata kuliah di kampus.

Editor yang berlatar buku sekolah akan mengunjungi para guru, dosen dan cendekiawan agar mempromosikan teks yang dibutuhkan. Editor tentu harus menyesuaikan isi buku dengan silabus dan kurikulum di sekolah atau universitas (atau bahkan negara) tersebut.

Jarang sekali editor memiliki naskah buku pendidikan yang langsung disetujui. Dengan kunjungan reguler kepada para ahli materi pelajaran, yang mengacu pada kurikulum negara, editor harus banyak merevisi buku sebelum akhirnya diterbitkan.

Dasar Hak Cipta

Penerbitan buku tergantung pada hak cipta, yaitu wewenang utama untuk menyalin dan memproduksi hasil karya penulis, melalui kesepakatan penulis bersama penerbitnya. Kesepakatan ini memberi hak bagi penulis untuk memiliki wewenang, demi mengamankan hasil karyanya dan kompensasi yang sepadan. 

Saat hak cipta telah kadaluarsa, semua orang bebas menerbitkan kembali hasil karya tersebut, tanpa royalti kepada penulis aslinya. Banyak jenis hak cipta tergantung pula pada kesepakatan dan banyak pasal di dalamnya. 

Terjemahan menjadi satu jenis hak cipta yang membutuhkan kerjasama antar negara, agar buku dapat diterjemahkan dengan baik, sesuai dengan tipe linguistik setiap bahasa, dan terpublikasi sesuai aturan penerbit dari negara asalnya.

Kesepakatan Antara Penerbit dan Penulis

Kontrak publikasi hasil karya antara penulis dan penerbitnya berdasar pada jenis pembayaran royalti, yang dicanangkan selama diskusi hak cipta berdasarkan hukum, serta wewenang eksklusif untuk memproduksi dan merilis ulang buku di seluruh dunia. 

Setelah banyak pasal mengenai hak cipta disetujui, maka pasal mengenai royalti akan didiskusikan kembali antara kedua belah pihak. Biasanya, pasal royalti berisi jumlah cetakan yang terdistribusi. Royalti tambahan akan diberikan kepada penulis jika buku berhasil mencapai batas minimum jumlah cetakan (alias laris). 

Pasal lainnya yaitu bagaimana penerbitan buku antar media dan antar negara diberlakukan. Koreksi dan revisi cetakan buku (jilid buku) adalah satu pasal yang ditulis dalam kontrak penerbitan tersebut.

Pasal alternatifnya adalah bagaimana penerbit mencanangkan kontrak, mengenai buku hasil karya berikutnya dari penulis. Jika pasal tidak disepakati, maka penulis bebas menerbitkan karyanya di penerbitan manapun.

Agen Literasi

Agen literasi berperan penting di jaman modern ini. Banyak penulis buku atau novelis terkenal memiliki agen, yang berfungsi untuk menghubungi penerbit. Jika cocok, agen akan bernegosiasi dengan penerbit, dan mendapat komisi dari penulis jika berhasil.

Kadang, agen literasi berbentuk biro, yang menanggulangi seluruh urusan hak cipta dan komunikasi dengan penerbit. Karena agen mengerti tentang pasar sirkulasi penerbitan buku, maka sebuah buku dapat dicek potensinya. Saran mengenai buku yang dapat ditulis, potensi karir dari penulis, dan jumlah penghasilan dari buku, adalah pekerjaan utama para agen literasi.

Namun, karena fungsinya mirip agen pemasaran (yang diminta oleh penulis), maka agen lebih fokus pada cara agar buku dapat dicetak, dan tidak melaksanakan banyak urusan teknis linguistik maupun literasi.

Penjualan dan Promosi Buku

Teknik penerbit dalam mempromosikan buku semakin maju di jaman modern. Biasanya mereka memiliki ijazah pendidikan tinggi, diberi pengarahan dari kantor penerbit, dan menghubungi banyak biro lainnya. Setiap agen pemasaran buku akan menghubungi banyak toko buku, perpustakaan, atau perwakilan dari sekolah dan kampus. Kantor penerbit meminta mereka agar memenuhi kuota distribusi buku. 

Kantor penerbit memiliki katalog buku yang diterbitkan, buku yang akan terbit, dan katalog buku tahunan. Terakhir, agen akan meminta pers, komunitas literasi dan linguistik, untuk mengkaji buku tersebut.

Komunikasi, katalog, serta kajian buku adalah tiga tahap utama dalam distribusi buku, yang sulit dicapai tanpa profesionalisme kantor penerbit. Kapasitas seorang penulis dalam memproduksi sebuah buku yang pantas, dapat membantu penerbit untuk mencapai tujuan distribusi. Standar buku dan minat publik tetap menjadi penyebab utama keberhasilan buku tersebut.

Ritual Kerasukan Ala Punggawa Pawai Seni di Film Para Perasuk

AING MAUNG! (TMDB).

Okeh, saatnya membahas film Nusantara yang menjadi pamungkas di bulan April ini, berjudul Para Perasuk, yang tayang di sinema Indonesia dengan rating R13. Film ini memang cukup beda, yaitu mengacu pada tanah adat dan ritual seninya, yang terancam digerus oleh pihak kapitalis.

Dago Elos Never Lose (via Acerax).

Dago Elos Never Lose

Sebelum membahas film yang kentara konflik antara budaya versus kapitalis, coba penulis bahas terlebih dahulu tentang wilayah terdekat. Yaitu, daerah Dago alias sepanjang Jalan Ir. H. Juanda di Kota Bandung, yang menjadi hunian penulis. 

Istilah Dago Elos Never Lose dibuat oleh warga Dago sendiri, yang mengacu pada pergerakan khusus. Yaitu, menentang penggusuran dari tanah yang disengketakan, karena dimiliki oleh warga lain yang merasa memiliki semuanya. Bahkan, sejarah warga tersebut bisa dilacak hingga jaman penjajahan Belanda dahulu, yang sudah lama ditinggalkan oleh pemilik (sertifikat) aseli.

Cerita ini sudah turun temurun menjadi kisah masalah hukum di daerah dago, yang notabene tanahnya mayoritas dimiliki oleh beberapa kampus negeri besar, seperti Unpad (Universitas Padjajaran) dan ITB (Institusi Teknologi Bandung). Namun, banyak wilayah kedua kampus akan pindah ke Jatinangor, atau menetap di Dago. Tanah pun beralih kepemilikan menjadi milik Pemerintah Daerah. Jadi, untuk wilayah yang dimiliki oleh Pemda, sudah tidak bermasalah lagi.

Tetapi kisah ini terus menerus terjadi. Contohnya adalah masalah sertifikat tanah dan hotelnya di sekitar Terminal Dago. Baru-baru ini, masalah sewa-menyewa lahan Kebun Binatang Bandung pun sempat bermasalah, akibat salahnya sendiri. 

Namun, konflik perdata lama ikut mencuat saat masa tersebut, yaitu masalah tanah SMAN 1 Bandung dengan pemilik lahan, yaitu dari PLK. Kisruh SMAN 1 Bandung diakhiri dengan putusan akhir dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat, dan ditolak Kasasinya oleh Mahkamah Agung, bulan Maret lalu.

Pergerakan Dago Elos Never Lose memang asli dari warga, yang dibantu oleh pemerintah, tanpa campur tangan sensasional dari Warta. Media berita ini hanya diikutsertakan saat pemberitaan utamanya tiba, tanpa campur tangan berlebih. 

Warga Dago sebenarnya berpengalaman untuk urusan ini, tanpa campur tangan warta. Contohnya masalah Asrama Bank Indonesia di jalan Tubagus. Keadaan sekarang memang berbeda dengan keadaan terdahulu, saat literasi warga masih kurang. Bahkan banyak warga generasi berikutnya di Dago, adalah lulusan dari banyak universitas Bandung, sehingga cukup mampu untuk memahami urusan hukum di daerah ini.

Karnaval 17 Agustus 2025 di Jalan Tubagus (GMaps via Acerax).

Perlu kembali ke urusan film Perasuk, yang lebih mengacu ke tanah adat dan ritual seninya. Justru disitu kemiripan utama antara Dago Elos Never Lose dengan ritual ala film Para Perasuk. Setiap pawai karnaval 17 Agustus demi Hari Kemerdekaan Indonesia, banyak para punggawa seni serta sanggarnya dari daerah Dago, tetap ikut meramaikannya. Ikutserta mereka dengan warga yang berkostum acak ala seniman pun, turut meramaikan setiap tahunnya. 

Saking ramainya karnaval ini, cukup heran mengapa ada banyak kendaraan motor dan mobil, yang melewati daerah Dago saat acara berlangsung jam 12an siang. Padahal satu sisi jalan akan dipenuhi karnaval, yang bisa berlangsung selama satu hingga dua jam di satu ruas saja. Ya, bagi para 'perasuk' ala Dago ini, bisa seharian untuk mencapai satu keliling saja. Tidak heran, banyak yang akhirnya euforia dan hampir 'AING MAUNG' alias Pamacan yang terbawa intensifnya atmosfer.

Jadi intinya, tidak perlu khawatir dengan kisah di Dago Elos ini, karena kami Never Lose. Apalagi dengan Track Record sejarah turun-temurun yang sudah terwaris selama beberapa generasi lamanya. Karena kami cukup paham dan mengambil jalur rapih dan baik, tanpa mencari sensasi berlebih. Kecuali kalau sedang pawai karnaval 17an, tentunya tanpa jurus Pamacan. 

Wassalam untuk pihak lain yang tidak berkepentingan disini. Dan tentunya terima kasih kepada sineas perfilman Indonesia, yang berani mengadaptasi isu sosial di ranah fiktif tanpa sensasi berlebih. Semangat Berkarya!

Sinopsis Film Para Perasuk

Desa Latas adalah wilayah pinggiran kota, yang terkenal dengan ritual pawai seni sekaligus kesambet ala kesurupan euforia. Gurunya adalah Asri (Anggun), sebagai pewaris ritual Merasuk ini. Animo ini masih ramai dan terlatih di Desa Latas, layaknya tanah adat khusus dengan lokasi keramat bernama Mata Air Roh.

Bayu (Angga Yunanda) adalah pemuda peniup suling yang sangat berniat untuk mengikuti ritual Desa Latas, dan selalu ikut meramaikannya. Posisinya sebagai penyuling, menyebabkan dia berinisiatif untuk mendekati gadis cantik dari Desa Latas bernama Laksmi (Maudy Ayunda). Bayu yang sangat berminat menjadi punggawa seni Merasuk, sekaligus Laksmi yang berkecimpung sebagai penarinya, menyebabkan keduanya cocok untuk berlatih bersama.

Sayangnya, Bayu diminta oleh ayahnya (Indra Birowo) untuk ikut menjual rumah dan pindah ke kota. Alasannya adalah wilayah tersebut akan dibangun semacam pabrik. Tidak hanya lokasi rumah Bayu, Desa Latas serta Mata Air Roh-nya akan tergusur jika pabrik jadi dibangun. Keluarga dan teman dekat Bayu pun tetap meragukan, bahwa ritual Perasuk Desa Latas yang Pamacan ala AING MAUNG masih berlanjut hingga generasi berikutnya.

Mulailah kekisruhan wilayah tanah konflik dengan tanah adat. Tidak hanya mendekati dengan cara bisnis, perwakilan dari perusahaan pabrik mulai meneror, hingga memakai kekerasan untuk mengusir warga desa yang tidak menurut.

Sanggupkah Bayu, Laksmi, Asri, dan seluruh Desa Latas mempertahankan tanah dan adatnya? Atau memang warisan budaya hanyalah kenangan dari masa lalu yang tidak perlu dipertahankan demi cuan semata? Senihil itukah hidup di jaman modernisasi jurig ini?

Jawabannya, tentu ada dalam ritual kesurupan ala kerasukan ala pamacan alias AING MAUNG di sinema Indonesia.