21 Januari 2026

Diteror Kera Peliharaan Sendiri Ala Film Primate

 

Ben yang sudah terlihat mengerikan (TMDB).

Akhirnya, film horor dari ranah Hollywood yang berbeda, tiba juga di sinema Nusantara, berjudul Primate alias primata. Kini, sineas perfilman Hollywood masih sanggup berkreasi baru, dengan plot diteror hewan peliharaan sendiri.

Ya, film Primate ini memang mengisahkan sebuah animo film lama, yang berkutat pada serangan binatang liar, dengan segala keganasannya. Namun, di film ini lebih mengacu pada binatang peliharaan sejenis simpanse, yang terjangkit rabies dan meneror pemiliknya sendiri.

Memang, film ini mengacu pada satu isu sosial, saat seekor hewan peliharaan rumahan, yang dapat terjangkit penyakit berbahaya rabies, lalu menularkannya pada manusia di sekitarnya. 

Terlebih lagi, hewan tersebut adalah simpanse, yang bernalar tinggi, dengan fisik melebihi manusia. Banyak penelitian oleh ilmuwan, yang menunjukkan bahwa kepadatan dan jumlah jaringan otot kera, ternyata melebihi manusia, sehingga lebih kuat dalam beraktifitas fisik.

Sedikit Info tentang Rabies

Wacananya, adalah setiap hewan peliharaan rumah perlu divaksin virus Rabies, demi mencegah hilangnya nyawa hewan tersebut, serta manusia disekitarnya.

Menurut Biofarma, rabies disebabkan oleh infeksi virus lyssavirus yang menular melalui air liur, gigitan, atau cakaran hewan terinfeksi. Hewan yang menularkan virus ini contohnya adalah anjing, kelelawar, kucing, dan kera. Manusia pun dapat tertular virus ini dari hewan, walau tidak menular ke manusia lainnya.

Untuk mencegahnya, diperlukan vaksinasi hewan bersama manusianya, karena resiko virus tertular dari hewan liar lebih tinggi daripada hewan peliharaan. Pada hewan pun, terdapat dua tipe gejala, yaitu tipe ganas atau paralitik, seperti dilansir dari KlikDokter

Pada tipe paralitik, justru penderitanya akan paralisis atau lumpuh. Justru gejala sebaliknya pada tipe ganas, penderitanya akan hiperaktif, agresif, dan mudah marah. Karena itu, banyak film horor (zombie khususnya), menggambarkan infeksi virus ini, lalu menjadi buas seketika.

Padahal, masa inkubasi virus rabies sangat bervariasi. Penderita mengalami gejala, antara dua hingga tiga bulan, atau satu minggu hingga satu tahunnya. Semuanya, tergantung dari faktor lokasi gigitan, serta jumlah virus yang masuk. 

Nah, tampaknya film Primate ini mengisahkan seekor simpanse peliharaan, yang lupa tidak divaksin virus rabies, namun telah terjangkit lama tanpa adanya gejala. Karena itu begitu film baru dimulai, langsung mengacu pada horornya.

Sinopsis Film Primate

Lucy (Johny Sequoyah) adalah seorang mahasiswi, yang baru saja pulang ke lokasi rumahnya di Hawaii. Sambil pulang, dia mengajak pula beberapa teman kuliahnya untuk berkunjung.

Setelah tiba, Lucy mengenalkan hewan peliharaannya yang bernama Ben, yaitu seekor simpanse yang sudah terlatih. Lucy menyatakan, bahwa Ben telah diadopsi sejak kecil, sehingga cukup jinak dan cekatan.

Namun suatu malam saat Ben tengah tidur, sedikit celah di sisi kandangnya menyebabkan hewan pengerat kecil menerobos masuk. Ben terluka akibat gigitan hewan tersebut, dan melarikan diri dengan masuk ke dalam rumah.

Tidak berapa lama, gejala rabies ganas pun muncul dalam diri Ben, yang mulai meneror seisi rumah. Seluruh manusia yang tinggal, termasuk diantaranya Lucy, sulit dalam menghadapi kepintaran dan buasnya Ben.

Sanggupkah mereka selamat dari kejaran Ben? Atau berakhir begitu saja dan terjangkit rabies? Adakah yang mampu menghalau masalah penyakit serius ini?

Jawabannya tentu ada di keragaman virus hayati ala sinema Indonesia. 

Kembali ke Masa Kerajaan China Ala Film Back To The Past

 

Hong yang berasa Isekai (TMDB).

Okeh, saatnya film yang beda dari ranah China sana, berjudul Back To The Past, yang tayang di sinema Indonesia. Film ini cocok sebagai film aksi pertama yang rilis di tahun 2026, bagi banyak penonton remaja (R13) tentunya.

Film ini menyatukan antara unsur futuristik dan masa kerajaan China terdahulu, tepatnya jaman Dinasti Qin. Memang, kisahnya diawali dengan sebuah perjalanan waktu, ditambah beberapa anggota tentara modern yang cukup isekai.

Tampaknya, China mulai beralih ke film aksi gelut yang mumpuni dan lebih realistis, daripada kisah epik mitologi bersama Naga dan fantastisnya perang kolosal. Mungkin, sudah saatnya China mengadaptasi kembali segi perfilman HongKong terdahulu, yang lebih mengisahkan adu kungfu.

Mengacu pada animo ini, sebenarnya di tahun 2025 lalu ada dua film China yang dirilis dengan aksi mirip. Keduanya yaitu film Operation Hadal di bulan September, dan Dongji Rescue di bulan Oktober. Kedua film bertema aksi yang lebih modern, yaitu buru sergap di sebuah kilang minyak, dan sesi penyelamatan sandera di kapal laut jaman Perang Dunia.

Dan kali ini, kisahnya lebih menarik lagi. Karena, di film Back To The Past adalah kombinasi antara aksi persenjataan modern, dengan kisah kungfu ala China sana. 

Cukup menarik memang, karena biasanya para tentara modern dilatih beladiri tangan kosong, yang dibantu dengan senapan. Sementara jaman kerajaan lebih fokus pada senjata tombak, perisai, baju zirah, busur-panah, serta pasukan serbu berkudanya.

Terlihat pada cuplikannya, beberapa karakter yang memiliki pistol, senapan serbu, serta rompi kevlarnya. Mereka bahkan sempat memasang ranjau darat, demi menghalau kejaran pasukan berkuda. 

Okeh, saatnya mengecek sinopsisnya saja.

Sinopsis Film Back To The Past

Hong Siu-lung (Louis Koo) adalah mantan pasukan modern China, yang terjebak di jaman kerajaan Dinasty Qin, selama 20 tahun lamanya. Dirinya sempat melalui perjalanan waktu ke masa lampau, demi sebuah misi yang merubah sejarah.

Selama 20 tahun berada di lokasi pengasingan, dirinya sudah cukup terbiasa hidup ala jaman kerajaan. Lokasi tersebut sengaja dibangun demi memantau keadaan Hong, dengan wacana dari Kaisar Qin (Raymond Lam Fung). 

Sebenarnya, keanehan kisah 'isekai' Hong telah dipantau lama, sehingga Kaisar Qin penasaran dengan keberadaannya. Selama beberapa tahun awal tibanya Hong di Dinasti Qin, Kaisar sempat belajar banyak hal tentang perkembangan jaman di China dari Hong.

Hingga tepat tahun ke-20 sejak Hong tinggal, ternyata tiba kabar lainnya yang cukup mencengangkan seantero kerajaan. Kaisar Qin disergap oleh sekelompok pasukan, yang memiliki persenjataan (modern) sama dengan Hong. Hong dan Kaisar Qin pun perlu merencanakan bersama, agar dapat menghalau pasukan tersebut, yang tampaknya memiliki misi sama dengan Hong, 20 tahun lalu.

Sanggupkah Hong menghalau serangan pasukan modern? Atau malah tergiur untuk kembali ke masanya? Dan bahkan mencoba membereskan misi aslinya, sebelum tinggal nyaman di Dinasti Qin?

Jawabannya, tentu ada di sinema aksi kungfu ala Indonesia.

Chris Pratt Melawan Kecerdasan Buatan di Film Mercy

 

Chris yang terjebak kreasinya sendiri (IMDB).

Daaan seperti biasanya, ranah Hollywood pun kembali meramaikan ngerinya AI di film terbarunya berjudul Mercy, yang tayang di sinema Indonesia. Film yang diisi oleh Chris Pratt ini, memiliki rating R13, alias untuk remaja. 

Pada cuplikannya, film ini menyajikan aksi dan ketegangan berbeda, karena memiliki format cerita maju-mundur (alias banyak flashback), akibat tokoh utamanya yang terjebak dalam persidangan khusus AI.

Sedikit Kisah AI dari Ranah Hollywood

Memang, jaman AI kali ini perlu ditelaah dari segi urusan keamanannya. Seperti sebelumnya di film ala nusantara berjudul Esok Tanpa Ibu, beberapa masalah yang mengganggu manusia dapat terjadi akibat AI.

Jika ditelaah dari segi ranah film Hollywood, kisah AI yang agak rusak ini memang dimulai kembali sejak film futuristik, berjudul Deus Ex Machina di tahun 2016 lalu. Walau arti harfiahnya adalah plot armor, tetapi film ini bertema mengenai tentang perkembangan AI, hingga bisa berupa seorang robot.

Nah di film ini, AI yang sudah berbentuk robot ternyata sanggup mengembangkan kepribadiannya sendiri. Hingga akhirnya terjadi ketegangan antara kreatornya, satu jurnalis, dan beberapa AI berbentuk robot wanita. Cek saja bagaimana tegangnya tersebut, karena memang film ini lebih ke drama dan horor sekaligus.

Daaan, tentu tidak cocok rasanya membahas tema rusaknya AI, tanpa mengacu pada satu waralaba film yang meramaikannya, yaitu Terminator (1984, 1991, 2003, 2009, 2015, 2019). Ya, film yang khas dengan Arnold Schwarzenegger ini, memang awalnya mengisahkan tentang kekisruhan dunia akibat AI.

Sejak film awalnya di tahun 1984, memang mengisahkan sedikit bumbu perjalanan waktu, namun tetap berfokus pada AI, dengan sinkronnya para robot pembasmi, bernama Terminator. 

Kacaunya dunia di film Terminator, akibat kecerdasan buatan bernama Skynet, yang malah memberontak dan meretas senjata nuklir sedunia. Banyak lokasi di dunia, kini menjadi puing akibat radiasi nuklir, dan dijajah oleh robot humanoid bernama Terminator dari Skynet.

Dari segitu saja, sudah jelas bagaimana besarnya resiko aplikasi AI, yang tentu dijabarkan dengan heboh dalam film ini. Memang di film Terminator, AI sebenarnya dikembangkan demi keamanan negara, alias program eksperimen persenjataan dari Kementerian Keamanan Nasional AS. 

Kembali ke film Mercy, AI yang ditampilkan disini sudah memiliki kuasa tersendiri, bahkan hingga setara hukum. Ya, film ini mengacu pada sebuah program AI, yang memiliki posisi sebagai Hakim, Jaksa, dan Juri sekaligus dalam sistem peradilan hukum di AS. 

Dari cuplikannya pun terlihat, bahwa AS sudah dalam tahap dystopia, namun justru ditanggulangi oleh pemerintah yang totalitarian. Seluruh fungsi pengawasan dan pemantauan publik, dilaksanakan melalui ponsel, kamera pengawas, drone, dan bahkan pindaian satelit, oleh pemerintahnya.

Sinopsis Film Mercy

Keadaan di AS sudah kacau balau, dengan tingginya aksi kriminalitas dan kesenggangan sosial yang sangat berbahaya. Namun, pemerintahnya justru menerapkan pemantauan publik yang menyeluruh. 

Bahkan, pemerintah perlu mengembangkan sistem hukum AI, yang bernama Hakim Maddox (Rebecca Ferguson). Detektif bernama Chris Raven (Chris Pratt) adalah salah seorang anggota kepolisian, yang turut berkontribusi saat mengembangkan program AI berkuasa hukum ini.

Program ini didesain demi menyambungkan seluruh bukti dari pantauan ponsel, kamera pengawas, drone, pindaian satelit, serta kuasa hukum miliknya, dalam menyidang dan mengeksekusi langsung terdakwa. 

Sayangnya, justru Chris yang terjebak dalam sistem ini, akibat disangka membunuh istrinya sendiri. Chris yang tidak ingin mengalah begitu saja, hanya memiliki waktu 90 menit demi membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah.

Chris pun teringat, bahwa awal kisruh tersebut dimulai saat dirinya tengah melacak keberadaan bom besar, yang dikirimkan melalui sebuah truk trailer. Kasus tersebut memang berakhir buruk, sehingga banyak pihak keamanan kehilangan nyawa.

Chris yang tahu seluk-beluk Hakim Maddox, akhirnya mencoba bekerjasama, demi melacak petunjuk yang hilang dari kasus tersebut, sekaligus membuktikan dirinya tidak bersalah atas pembunuhan istrinya.

Sanggupkan Chris melalui seluruh proses sidang ? Atau malah terpaksa mengaku atas kasus ini? Dan malah, hancur sendiri akibat konspirasi besar dibaliknya?

Jawabannya, tentu ada di drama hukum ala sinema Indonesia.

20 Januari 2026

Sedihnya Ngobrol Dengan AI Ala Film Esok Tanpa Ibu

 

Sekeluarga yang masih lengkap (TMDB).

Nah, saatnya kembali ke jaman saat ini, yang lebih kentara dengan AI-nya, ala film Nusantara berjudul Esok Tanpa Ibu, yang tayang di banyak sinema Indonesia.

Kali ini, banyak aktor yang mengisinya pun berasa mega bintang, yaitu Ringgo Agus Rahman (yang kembali mengisahkan drama keluarga), Dian Sastrowardoyo (yang memang ahli dalam film drama). Keduanya ditemani oleh duo aktris-aktor muda yang tengah naik daun, yaitu Ali Fikry dan Aisha Nurra Datau. 

Sinopsis film ini memang mengisahkan cerita futuristik, tidak seperti kebanyakan film drama Indonesia. Ya, film Esok Tanpa Ibu ini mengisahkan tentang kecerdasan buatan (AI), yang kini sedang ramai digemari oleh banyak remaja dan pemuda-pemudi Indonesia. Ratingnya pun disesuaikan, yaitu untuk remaja (R13) keatas.

Sekilas tentang AI dan Remaja

Mengenai kisah perkembangan AI-nya itu sendiri, khususnya di kalangan warga yang mudah mengaksesnya, adalah sejak munculnya Siri di iPhone 4s dari Apple, pada tahun 2011 lalu. Siri memang dikenal sebagai asisten pribadi, tetapi karena keterbatasan spek ponsel, tidak membuka banyak peluang bagi pengembangan AI.

Lalu loncat ke 11 tahun berikutnya, ChatGPT dari OpenAI meramaikan ranah kecerdasan buatan di ponsel, pada tahun 2022 lalu. Banyak perusahaan lain, contohnya adalah raksasa Google, merilis pula Gemini untuk ponsel androidnya. Bahkan, sejak tahun 2022 hingga sekarang, bisa disebut sebagai jamannya balapan bagi para developer IT, untuk mengembangkan teknologi berbasis AI.

Nah (lagi), kini saatnya di tahun 2026 dengan hingar-bingar dari dunia AI di tahun sebelumnya, tampaknya perlu ditelaah dari segi efeknya bagi remaja. Beberapa kampus dan sekolah bahkan sempat mencanangkan Kurikulum Berbasis AI sebagai bagian dari pendidikannya. 

Namun, karena penulis sendiri (selalu) skeptis dengan AI, dan paham dengan perbedaannya bagi perkembangan anak, maka dilansirkan saja beberapa info dari pemerhati pendidikan. Penulis skeptis, karena AI lebih cocok dipakai oleh kaum tekno, yang sanggup memahami dan mengopreknya langsung, daripada dipakai sehari-hari. Apalagi, banyak gawean manual yang harus dikerjakan manusia. 

Terdapat pula beberapa kasus berujung kehilangan nyawa di luar sana, yang menyangkut hubungan langsung antara AI dan remaja. Berbagai kasus tersebut, adalah satu anomali, yang sempat mempengaruhi perkembangan anak akibat AI.

Bahkan menurut GentaQurani, yang melansir dari penelitian di kampus Universitas Gajah Mada (UGM), dengan melansir kajian oleh Guru Besar Prof. Ridi Ferdiana, menyatakan bahwa 77 persen generasi milenial hingga gen Z menggunakan AI dalam kesehariannya. Sementara 45 ribu dari 60 ribu mahasiswa di UGM, telah menggunakan AI secara intensif.

Sisi terang AI dalam keseharian remaja dan pemuda, adalah sebagai teman belajar yang cerdas. AI dapat menjadi sahabat belajar yang luar biasa bagi anak. Fitur guided learning dari Gemini AI, dapat membantu pelajar untuk memahami konsep mata pelajaran hingga kuliah.

Dengan begitu, seperti dilansir dari DCloud, hubungan remaja dan AI harus meliputi beberapa faktor. Diantaranya adalah pendidikan literasi digital, peningkatan kesadaran etika AI, pengawasan dan pendampingan, kurikulum berbasis AI di pendidikan, regulasi dan kebijakan yang mendukung, serta kerjasama antara industri dan pemerintah.

Namun kembali UGM, Prof. Ridi menyatakan beberapa resiko mengenai penerapan AI yang intensif. Diantaraya kemampuan berpikir kritis dan analisis menurun, sehingga tidak dapat menyelesaikan masalah secara mandiri. Daya ingat akan melemah, akibat mudahnya mencari informasi. Serta efek yang dikenal ramai sebagai brain rot, alias kondisi otak yang tumpul.

Kisah Ado yang Terinspirasi oleh AI bernama Hatsune Miku

Walau begitu, daripada membahas kisah mengerikan tentang AI, dan membahas acuan terpenting digital mengenainya, maka perlu dikenal pula dari segi lainnya, yaitu dunia hiburan. Kenapa? Karena blog ini memang berisi dunia seni hiburan, khususnya film dan banyak kisah berbudaya lainnya.

Dari segi ini, memang sedang kisruh dengan Hak Cipta dan urusan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) akibat AI, terdapat secercah harapan dari ranah lainnya. 

Yaitu, dengan mengacu pada seorang penyanyi terkenal bernama Ado, yang kini tengah ramai dibincangkan di ranah digital, dunia nyata Jepang, dan dunia musik internasional. Penyanyi ini seperti gabungan Vtuber dan Idol ala Jepang, namun dengan bumbu horor ala Gadis Gothik (GeGe). Namun, lagu dan vokalnya memang cukup kuat, sehingga layak disebut sebagai Diva dari Jepang. 

Nah, Ado ini sebenarnya mengidolakan Hatsune Miku sejak remaja, yang memberi inspirasi karirnya sebagai penyanyi di Jepang. Telah debut sejak tahun 2020 lalu, kini di tahun 2026, Ado sebenarnya baru berumur 23 tahun! Sebelum dia debut, Ado adalah bagian dari Utaite, yaitu semacam e-girl yang suka meng-cover lagu.

Okeh, tentunya cukup mengerti bahwa kisah ini, berarti sebuah cerita berbeda, bagaimana seorang penyanyi yang kuat meraih mimpinya berkat bantuan AI, dan berakhir sebagai Diva di Jepang. Ado bahkan sempat menyatakan, bahwa masa remaja dirinya, sering diisi dengan menonton Hatsune Miku pada konsol DS-nya.

Nah, karena sudah panjang lebar, dan akhirnya kembali ke dunia hiburan juga, maka coba kita cek saja sinopsis film Esok Tanpa Ibu. Perlu penulis tegaskan, isu sosial semacam ini memang sudah dikaji oleh banyak profesional. Sehingga, perlu diadaptasi pula sebagai bagian dari sebuah film, baik itu untuk hiburan, maupun meningkatkan kesadaran warga.

Sinopsis Film Esok Tanpa Ibu

Rama (Ali Fikry) adalah seorang remaja yang aktif, namun hanya dekat dengan ibunya saja, Laras (Dian Sastrowardoyo). Rama sering curhat dengan Laras, mengenai dirinya yang kurang dekat dengan ayahnya sendiri, yaitu Hendi (Ringgo Agus Rahman). Karena itu, ibunya yang kocak serta sering bercerita, menjadi bahan keseharian Rama.

Namun, suatu hari Laras mengalami kecelakaan, yang berakibat dirinya harus dirawat dan koma di rumah sakit. Rama yang memang sangat dekat dengan ibunya, merasa kehilangan minat untuk berdiam diri di rumah. Hubungan dirinya dengan Hendi, malah semakin kurang harmonis.

Suatu hari, Rama berkunjung ke rumah temannya, Zyla (Aisha Nurra Datau) yang lihai dalam hal Teknologi Informatika. Zyla menyarakan, untuk mengunggah seluruh video Laras, kedalam mesin kecerdasan buatan miliknya. Dengan begitu, Rama masih bisa mengobrol dengan ibunya.

Keseharian Rama pun diisi kembali dengan hadirnya Laras, walau dalam bentuk digital, pada gawai jam tangan pintar maupun komputernya. Namun, Hendi tidak menyukai Laras versi AI, dan mencoba membongkar instalasi tersebut dirumahnya. Rama dan Hendi sempat bersitegang, hingga akhirnya satu instalasi monitor besar, secara kebetulan memunculkan sosok Laras yang sehat walafiat.

Dapatkan keluarga ini menerima kehadiran AI bersosok ibu? Atau malah semakin galau dalam menunggu kesembuhan Laras di rumah sakit? 

Jawabannya, tentu ada di ranah kecerdasan buatan ala sinema Indonesia.

Stop Motion Ala Coraline Ikut di Remastered Pula

 

Lubang menuju dunia lain (TMDB).

Film Stop-Motion layaknya 'bapak' di dunia perfilman, dengan teknisnya yang memotret satu frame saja, lalu disambungkan dengan frame berikutnya, sehingga terlihat bergerak alias animasi.

Nah, sejak minggu ini di sinema Indonesia, dirilis ulang film Stop-Motion terkemuka berjudul Coraline. Film yang aslinya dirilis tahun 2009 ini, di-remaster pula, dan bahkan dirilis dalam format tayangan 3D. Walau rating umur film ini adalah Semua Umur (SU), namun perlu dipandu oleh orangtua atau orang terdekat, karena banyak menyajikan adegan horor.

Sebelumnya di tahun 2024, versi remastered ini dirilis seluruh dunia, demi menyambut Hari Jadi 15 Tahun sejak awal perilisannya, terkecuali Indonesia. Karenanya, studio LAIKA sebagai rumah produksinya, bekerja sama dengan Universal Pictures sebagai distributornya, baru merilis Coraline pada awal 2026 ini di sinema nasional.

Film Coraline termasuk terkemuka di jamannya, yang sedang dibanjiri kembali oleh film Stop-Motion, sejak awal 90an lalu. Coraline menjadi satu yang terbaik, karena sempat meraih nominasi Oscar Academy Awards. Banyak penghargaan dari kritikus film pun, diraih oleh film ini.

Sutradara yang memimpin produksi film ini memang telah berkecimpung lama sebagai ahli Stop-Motion, bernama Henry Selick. Sebelumnya di tahun 1993, sempat memproduksi film Nightmare Before Christmas, yang sempat meraih pula nominasi film Oscar Academy Awards.

Coraline pun meraih box office tinggi di pasar sinema, walau dengan biaya 60 Juta Dolar AS saja. Perilisan awalnya di tahun 2009 mencapai pendapatan hingga 126 Juta Dolar AS. Hingga kini dengan beberapa kali perilisan ulang, pendapatannya telah mencapai 188 Juta Dolar AS.

Untuk perilisan ulangnya yang telah di-remaster, sangat terlihat mencolok dengan gradasi warna yang lebih tajam, serta resolusi lebih tinggi. Dengan frame yang lebih banyak, bahkan terlihat lebih mulus, layaknya film animasi 3D kekinian. Coba dibandingkan saja, antara cuplikan film Coraline di tahun 2009, dengan cuplikannya tahun 2024 dari LAIKA Studios. 

Versi remastered ini ditambahkan pula teknik tayangan 3D, yang ditayangkan di beberapa sinema berfitur ini.

Sinopsis Film Coraline

Coraline (Dakota Fanning) adalah seorang anak berumur 11 tahun yang bosan dengan keadaan rumahnya. Ayahnya yang bekerja di rumah, lalu ibunya yang bekerja di luar, serta keadaan perkakas dan peralatan rumahnya yang sering rusak, menyebabkan Coraline tidak betah di rumah.

Hingga suatu hari, Coraline menemukan sebuah lubang besar dibalik kabinet kecil kamarnya. Dari lubang tersebut, Coraline sampai di rumahnya sendiri, namun dengan keadaan yang berbeda. Rumahnya terlihat lebih rapih dan hidup, dengan orangtuanya yang tidak membosankan, tidak seperti biasanya.

Namun, orangtua 'dari dunia lainnya' meminta agar Coraline tinggal permanen di rumah tersebut, dengan memasang sepasang kancing di kedua matanya. Coraline yang ragu, tidak langsung memasangnya, namun tetap sering kembali untuk berkunjung.

Banyak mahluk lain yang tidak memakai kancing, contohnya kucing (Keith David) dan jurig (Aankha Neal), terus memperingatkan Coraline, mengenai bahayanya tinggal di 'dunia lain.' Mereka menyarankan, agar tidak pernah kembali lagi, dan menutup lubang portal dimensi di rumahnya.

Sanggupkah Coraline menahan diri untuk mencoba kancing? Atau malah terus keranjingan di dunia lainnya? Lebih parah lagi, yaitu terjebak tanpa sempat kembali?

Jawabannya, tentu ada di lokasi pelarian dari rumah ala sinema Indonesia.

Sejarah Film Stop-Motion

Film dengan menerapkan teknik Stop-Motion adalah teknik awal perfilman saat kamera perekam belum ditemukan. Tepatnya tahun 1850an, sebelum kamera video ditemukan, namun kamera potret telah lumrah di jaman tersebut. Menggunakan rangkaian film yang dimainkan satu persatu dengan kecepatan tinggi, suatu gerak animasi pun dapat ditampilkan.

Satu contoh terkenalnya adalah film Hotel Electrique pada tahun 1908. Film ini menampilkan aktris Julienne Matthieu, dengan adegan seorang wanita yang rambutnya disisir dan dirapihkan otomatis oleh mahluk tak kasat mata. Adegan ini bisa ditampilkan dengan baik, karena teknik Stop-Motion yang cekatan.

Film lainnya berjudul La Maison Ensorecelee pada tahun 1906, mengombinasikan efek spesial dengan film berisi aktor dan aktrisnya. Di film ini, beberapa aktor-aktris yang masuk ke rumah angker, diganggu semacam kekuatan mistis supernatural. Seluruh efek spesial, yaitu saat banyak benda digerakkan oleh mahluk tak kasat mata, diterapkan dengan teknik Stop-Motion. 

Perkembangan lensa kamera serta mekaniknya, dilanjutkan hingga kamera video ditemukan pada tahun 1920an. Namun teknik Stop-Motion masih diterapkan pada berbagai film oleh banyak sineas perfilman, bahkan hingga era modern saat ini.

BoBoiBoy Kembali dalam Film Papa Zola The Movie

 

Zola yang kembali sakti (TMDB).

Okeh, saatnya Malaysia dan Indonesia kembali bersatu, dalam satu film animasi yang menyatukan keduanya, yaitu berjudul Papa Zola The Movie. Tentu yang mengenal karakter ini, paham akan kiprahnya di serial animasi kartun BoBoiBoy.

Ya, karakter Papa Zola adalah satu pahlawan super dalam serial BoBoiBoy, yang telah meramaikan animo kartun Indonesia sejak tahun 2012 lalu. Tentu, ratingnya adalah Semua Umur yang dapat ditonton mayoritas khalayak.

Masih tayang hingga kini dengan sempat berpindah kanal televisi, kartun ini turut melanjutkan kisah kartun Malaysia yang sederhana dan cocok, ala Upin Ipin sebelumnya. Memang, keduanya lebih menceritakan keseharian banyak karakter, yang ditambah bumbu aksi ala pahlawan super di BoBoiBoy.

Kiprah Monsta Studios dari Malaysia

Tidak hanya di televisi nasional, BoBoiBoy telah melanglang buana di siaran internet Netflix, dengan sub-judul Galaxy (2016). Bahkan, bagi yang masih penasaran dengan seluruh musim penayangan BoBoiBoy, dapat menyaksikannya di kanal resmi milik Monsta Studios (Monsta dan Monsta Keren), selaku tim produksinya dari Malaysia.

Berbagai karya yang terkait dengan waralaba BoBoiBoy pun telah ditelurkan oleh Monsta. Diantaranya adalah dua film BoBoiBoy (2016, 2019), satu seri dan film Mechamoto (2021, 2022), dan seri khusus Papa Pipi (2019, 2025). Selain itu, lima film pendek BoBoiBoy pun digelontorkan oleh Monsta Studios, yang diantaranya dirilis tahun 2019, 2020, 2021, 2022, 2023 dan 2024. 

Ranah komik pun dijabani pula oleh Monsta, yaitu serial komik BoBoiBoy Galaxy musim kedua (2020), dan Detektif Yaya (2016). Seluruh karya tersebut, adalah bagian dari Jagat Power Sphera, alias dunia khas berisi BoBoiBoy dan banyak karakter lainnya.

Sedikit Info Karakter Papa Zola

Kembali ke film ini, Papa Zola adalah satu karakter yang seringkali membantu BoBoiBoy, dalam membasmi berbagai serangan alien. Adu Du dan Tengkotak, adalah sejenis mahluk luar angkasa jahat, yang sering mengganggu di Pulau Rintis, lokasi tempat tinggal mereka. Dengan bantuan teman-temannya dan Papa Zola, BoBoiBoy sanggup menggagalkan usaha jahat dari alien.

Uniknya, Papa Zola sebenarnya adalah seorang karakter fiksi dalam dunia BoBoiBoy. Karakter Papa Zola berhasil keluar dari video gim miliknya sendiri, dan sempat linglung akibat berasa isekai. Terpaksa tinggal di Pulau Rintis, dirinya lalu bekerja sebagai guru, sambil menyembunyikan identitas pahlawan supernya.

Nah, kali ini justru dimulai kembali petualangan yang berbeda dari Papa Zola, yang tayang di banyak sinema Indonesia. Bagi yang kangen dengan kerennya BoBoiBoy, berbagai aksi mantap ala animasi 3D terlihat dalam cuplikannya. Beberapa drama pun menyajikan latar belakang Zola, yang masih berjuang keras demi hidup damai sejahtera di Pulau Rintis, bersama keluarganya.

Sinopsis Film Papa Zola The Movie

Papa Zola (Nizam Razak) masih berjuang keras demi menghidupi keluarganya, dengan melaksanakan tiga pekerjaan sekaligus. Zola masih berniat untuk berlibur layak bagi anaknya, Pipi Zola (Ieesya Isandra). Istrinya, Mami Zila (Noor Ezdiani Ahmad Fauwzi) justru memberi saran, bahwa Zola tidak perlu bekerja sekeras itu, dan liburan saja jika memang mampu.

Saat mereka tengah berkemah di tengah hutan, Zola bertemu seorang agen dari PAPA (Protect and Prevent Agency), yaitu organisasi yang berfungsi menghalau serangan alien. Zola diingatkan, bahwa dirinya sempat menjadi anggota dari PAPA, sekaligus mitra lamanya. Karena sudah tidak ingat, Zola malah menyarankan untuk menghubungi BoBoiBoy (Nur Fathiah Diaz) saja, yaitu seorang anak super dengan kemampuan elemen dan bertopi oranye.

Namun, keesokan harinya Pipi diculik oleh sekawanan alien. Kelompok alien baru tersebut, memang tengah mencari anak, yang bisa diculik demi eksperimen. Sementara, kapal utama menyerang ibukota Kuala Lumpur, demi merubah dunia menjadi simulasi jajahan mereka.

Zola yang masih memiliki kemampuan super, perlu mengumpulkan kembali seluruh kekuatannya yang telah lama tidak dipakai. Terlebih lagi, BoBoiBoy dan Gopal (Dzubir Mohamed Zakaria) yang sudah lama berjibaku, malah hilang setelah ditelan oleh portal menuju dunia simulasi lainnya. 

Sanggupkah Zola menyelamatkan Pipi dan seluruh dunianya? Tentu dapat disaksikan di sinema kombo Indonesia dan Malaysia.