![]() |
| Kisah menarik di bawah pohon beringin (TMDB). |
Film horor dari Nusantara semakin menarik saja, dengan banyaknya tema unik. Kali ini di pertengahan bulan Oktober, terdapat film Lobang Buaya, 309 Hari Sebelum Tragedi Berdarah. Film ini menambah kisah G30SPKI dengan ranah horor, yang terjadi satu tahun sebelum hari kejadian berlangsung. Karena itu, rating umurnya pun tinggi, yaitu D17 (17 Tahun Keatas).
Perlu mengingat, bahwa G30SPKI adalah kisah yang miris dalam sejarah Indonesia. Peristiwa ini terjadi akibat penculikan dan pembunuhan banyak perwira militer, oleh anggota PKI di tahun 1965 lalu.
Saking berbahayanya, saat itu Presiden Sukarno meminta kepada Jenderal Soeharto untuk turun tangan langsung. Hingga akhirnya seluruh tersangka ditangkap, dan PKI secara keseluruhan dibubarkan di seluruh wilayah Nusantara.
Walau menggambarkan kisah bersejarah di Lubang Buaya, yang menjadi lokasi sentral G30SPKI, namun film ini tidak mengadaptasi langsung latar sejarahnya. Dengan hanya berlokasi di area Lobang Buaya, dan memfokuskan pada kisah horor, maka filmnya pun berubah dengan kesan mistis yang kentara.
Adaptasi seperti ini cukup jarang diproduksi di Indonesia, apalagi dengan latar sejarah yang sangat kontroversial. Berbeda keadaannya dengan di luar negeri, banyak sineas perfilman dari banyak negara, mengadaptasi sejarah dengan merubahnya menjadi film horor.
Contoh terkenal dari kisah sejarah yang berubah horor, adalah Frankenstein's Army (2013) dan Overlord (2018). Kedua film merubah kesan perang melawan Nazi, menjadi kisah horor melawan monster dan dunia supernatural.
Contoh terkenal lainnya adalah From Hell dari tahun 2001 lalu, yang diperankan oleh aktor kawakan Johnny Depp. Film ini mengadaptasi kasus pembunuhan yang belum terpecahkan hingga kini, yaitu Jack The Ripper. Investigasi saat tahun 1888 tersebut, menjadi kisah yang menarik sebagai drama misteri dan kriminalitas.
Sementara dalam cuplikan film Lobang Buaya, tidak terlihat penampakan Partai Komunis sama sekali. Justru dimunculkan dalam adegannya, beberapa pejabat yang korup. Malah mirip dengan keadaan realita para pejabat. Sutradara Hanung Bramantyo, tampaknya ingin mengadaptasi kisah ini dengan sudut pandang baru yang berbeda.
Kemunculan mistisnya pun, lebih mirip kisah horor lainnya. Plotnya adalah banyak korban yang meninggal mengenaskan, setiap tanggal 30 per bulannya. Korban berlatar sebagai figur publik, atau kenalan pejabat. Masalah ini memicu horor dari warga, dan memulai investigasi pembunuhan bagi kepolisian. Namun anehnya, tidak terdapat banyak bukti mengenai modus operandi tersangkanya.
Petunjuknya pun hanya satu, yaitu berlokasi dekat area Lobang Buaya. Daerah rawa banyak pesawahan ini, sebenarnya tidak memiliki desas-desus tertentu. Namun karena banyaknya pembunuhan di area sekitar, sehingga investigasi sepenuhnya dilaksanakan disana.
Petunjuk pun semakin mengarah ke ranah mistis, dengan kehadiran sesosok mahluk yang sulit dinalar, bernama Sundel Bolong. Jurig ini khas dengan sosok wanitanya, dan punggung yang bolong di tengah. Entah masalah dendam kesumat atau apa, tetapi banyaknya jumlah korban di area Lobang Buaya, semakin mengukuhkan kehadiran sosok supernatural nan berbahaya ini.
Untuk Sundel Bolong, justru sempat ramai di dunia perfilman Nasional, oleh sang ratu Horor Suzzanna. Aktris tahun 1970an ini, sempat berperan sebagai Sundel Bolong di tahun 1981.
Khusus untuk Hanung Bramantyo sebagai sutradara Lobang Buaya, sempat pula mengadaptasi kisah mahluk ini pada tahun 2007 lalu, berjudul Legenda Sundel Bolong.
Jadi, semengerikan apa kisah sosok mahluk legendaris perfilman, jika disatukan dalam film berlatar sejarah kelam Nusantara? Tentu hasilnya, terdapat di sinema Indonesia.





