Analisa Film Nasional serta Internasional sebagai Akulturasi Budaya


Film Perjuangan Pemuda 90an dalam Adaptasi Novel Laut Bercerita

Biru Laut Wibisana yang ngambang akibat gamang (TMDB).

Okeh, saatnya membahas pergerakan pemuda yang jauh lebih berfaedah daripada jaman bajak laut di September 2025 kemarin, dengan film berjudul Laut Bercerita. Rating umurnya yang tinggi, yaitu D17 alias 17 Tahun Keatas, menyiratkan bahwa pemuda-pemudi yang belum 'lulus sekolah' untuk tidak ikut-ikutan memahaminya. Apalagi menjelang momen 28 Oktober, yaitu Sumpah Pemuda sebagai momen bersejarah untuk menyatukan semuanya.

Sekilas dari cuplikannya, film ini berkutat saat pergerakan pemuda di tahun 90an lalu, menjelang momen Krisis Moneter hingga puncaknya Reformasi di tahun 1998. Apalagi dengan lagu tema Bongkar dari Iwan Fals, yang saat itu sedang dalam puncaknya di kalangan mahasiswa Indonesia.

Novel Laut Bercerita (KPG).

Adaptasi Novel dan Atmosfer 1990an

Film ini adalah adaptasi dari novel berjudul sama, yaitu Laut Bercerita yang ditulis oleh Leila S. Chudori dan rilis tahun 2017 lalu. Novel ini adalah Best-Seller dari Gramedia, yang kini sudah mencapai edisi cetakan ke 100!

Novel ini mengisahkan karakter Biru Laut Wibisana, yang sedang mendalami perjuangan pergerakan mahasiswa menjelang tahun 1998. Memang tahun rilisnya sudah terpaut 19 tahun dari masa reformasi, tetapi kondisi Nusantara yang belum maju, tampaknya menyiratkan Leila S. Chudori untuk mendalami kembali animo ini.

Biru Laut adalah sebagai mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) saat tahun 1991, saat Indonesia masih terdominasi oleh Pemerintah Orde Baru. Biru Laut berusaha untuk mencetak ulang novel terlarang dari novelis Pramoedya Ananta Noer, yang dimulai dalam forum diskusi bernama Winatra dan Wirasena. 

Kisah yang sangat berbeda dengan pergerakan pemuda Inet tahun 2010an hingga 2020an ini, yang tampaknya tergerus oleh Meme dari Brainrot atau Buzzer ala MedSos. Atmosfer yang berbeda, saat mayoritas coba mempopulerkan wacana hingga tidak ada satu pun yang terasa khusus (atau bahkan signifikan).

Tahun 90an dengan ketiadaan Internet dan normatifnya Jurnalistik, memunculkan banyak forum dari para pemuda-pemudi Indonesia. Forum ini seringkali diadakan demi perubahan mendasar bagi Indonesia, maupun sistem sosial yang sanggup menyelaraskan semuanya. Layaknya pemuda yang kritis dan aktif, pemuda-pemuda ini muncul sebagai aktivis yang menyuarakan ketidakadilan warga di Indonesia. 

Puncaknya pun terjadi saat momen unjuk rasa mahasiwa di tahun 1998, saat Indonesia mengalami puncaknya Krisis Moneter Dunia. Sungguh momen yang signifikan, dan menjadi tonggak sejarah demi menghasilkan Reformasi Indonesia. Hasilnya, dominasi politik pun berubah, menjadi kepemimpinan Presiden yang diatur sepenuhnya oleh anggota MPR dan Pemilihan Umum yang setara.

Potensi Jaman (Now) Sekarang

Walau begitu, perubahan ini tidak semerta nyata langsung menjadi solusi bagi isu sosial di Indonesia. Hingga kini, Indonesia belum mencapai tahap negara maju yang sejahtera. Justru masalahnya semakin menyeruak, dengan banyaknya ketimpangan sosial diantara warganya. 

Keadaan pun diperparah dengan keberadaan Buzzer MedSos dari Internet yang seakan membela warga Indonesia, tanpa andil yang jelas di lapangan. Keadaan suram ini, justru malah menyudutkan tingkatan literasi pemuda-pemudi, yang semakin sulit untuk menelaah dunianya sendiri.

Walau begitu, dengan mengambil istilah kekinian yaitu 'in this economy,' maka tidak salah untuk tidak mengandalkan wacana Internet ini sebagai pandangan hidup. Justru terdapat satu wacana yang berhasil dicanangkan oleh pemerintah saat ini, yaitu semakin sulitnya kesempatan berkarya di dunia nyata. 

Kesulitan ekonomi serta berbagai potensi hidup di Indonesia, semakin menyatukan warganya demi terus berjuang mencari sesuap nasi dan penghidupan, tanpa terjebak 'pengalihan' dari mahluk yang seringkali membuat noise ala Buzzer. Selaras, walau dasarnya kurang rapih akibat pihak yang berkepentingan dan berkemampuan untuk membereskannya, yaitu pemerintahnya sendiri, tidak sanggup atau mau untuk menyelaraskan semuanya.

Iwan Fals (SoundCloud).

Rekomendasi Lagu Iwan Fals

Jadi, film ini layaknya tema lagu berjudul 'Bongkar' dari Iwan Fals, yaitu lagu dari tahun 1989 yang menyuarakan dengan lantang bahwa Indonesia perlu dibongkar dan direka ulang oleh warganya sendiri.  Namun, layaknya babak kedua novel Laut Bercerita yang berbeda latar dan sudut pandang, era 2000an dan seterusnya perlu diisi pula dengan tiga lagu rekomendasi penulis.

Ya, layaknya Iwan Fals yang seakan tobat setelah momen reformasi, tiga lagu perlu dicek dan didengar sesuai masanya. Pertama adalah 'Aku Bukan Pilihan' lalu ada 'Ijinkan Aku Menyayanginya' dan terakhir adalah 'Kumenanti Seorang Kekasih.' Ketiga lagu berasal dari album In Love milik Iwan Fals, yang menyiratkan kasmaran baru bagi Nusantara, saat masa euforia reformasi di akhir 90an telah terlewati.

Sinopsis Film Laut Bercerita 

Film ini diisi oleh  banyak aktor-aktris terkenal, yang diantaranya adalah Reza Rahadian, Dian Sastrowardoyo, Kevin Julio dan Christine Hakim. Disutradarai oleh Yosep Anggi Noen, memang kisah epik yang mengenang kembali masa perjuangan pemuda 90an lalu. 

Biru Laut Wibisana (Reza Rahadian) adalah seorang mahasiswa UGM sekaligus pemuda aktivis, yang seringkali membuka forum diskusi untuk melawan pemerintah. Forum ini dibuka bersama kawan mahasiswanya yang bernama Kasih Kinanti (Dian Sastrowardoyo). 

Dibungkamnya media massa oleh Pemerintah Orde Baru, termasuk ayah Biru laut sendiri, yaitu Arya Wibisana (Arswendy Bening Asmara), menyebabkan mereka seringkali turun untuk demonstrasi di jalan raya dan menentang penyalahgunaan kekuasaan.

Namun di akhir 90an, saat Krisis Moneter dan momen Reformasi, Biru Laut dan beberapa kawannya yang ikut berandil telah hilang ditelan bumi. Keluarganya tidak ada yang tahu keberadaannya, hingga menyangka bahwa Biru Laut telah diculik. 

Masalah ini menyebabkan asa yang suram bagi seluruh anggota keluarga, termasuk adiknya yaitu Asmara Jati (Yunita Siregar). Walau sudah mendalami pendidikan sebagai mahasiswa kedokteran di Universitas Indonesia, namun hilangnya Biru Laut selama dua tahun terakhir menyebabkan kegalauan diantara anggota keluarga. 

Walau tidak bertutur kata langsung, namun ibu mereka (Christine Hakim) sempat berprasangka buruk atas aksi Biru Laut selama ini dan menyayangkan bahwa kejadian ini akhirnya terjadi. 

Sanggupkah keluarga Biru Laut menemukan sosok anak sulungnya? Atau malah berujung tragedi yang menyiratkan bahwa seluruh perjuangan ini adalah nilih semata?

Jawabannya, tentu ada dalam liarnya aksi interpretasi ala sinema Indonesia.

Bagikan:

Mengenai Saya

Foto saya
Warga dan Narablog saja...

Kontak Saya

Kontak Saya
Klik Gambar Menuju Laman FB Sedia Saja

Total Tayangan Halaman

Label

Referensi Film Dari Berbagai Perspektif

Referensi Film Dari Berbagai Perspektif
Klik Gambar Menuju Laman Monsterisasi

Cerita Pendek Horor Orisinal dari Penulis

Cerita Pendek Horor Orisinal dari Penulis
Klik Gambar Menuju Laman Cerpenhor

Rekomendasi Artikel

Mengenal Luffy Sang Topi Jerami dari One Piece