Rekomendasi dan Analisis Film sebagai Fenomena Budaya


Kembalinya Horor di Waralaba Zombie ala Resident Evil versi 2026

Bryan yang semakin viral dikangenin para zombie (TMDB).

Okeh, saatnya menyambut kembali film Resident Evil alias Biohazard di tahun 2026 ini, dengan judul yang sama persis, yaitu Resident Evil (saja). Sesuai judulnya yang kentara jahat, film ini berating tinggi yaitu D17 (17 Tahun Keatas), karena adegan mendarah-darah dan mendaging-daging ala film zombie.

Ya, sesuai pula dengan judul artikel ini, film Resident Evil di tahun 2026 tampaknya mengembalikan animo horor dari genre-nya sendiri. Terlihat dalam cuplikannya, memang tidak terlihat banyak aksi, ala film adaptasi gim sepanjang masa ini.

Terlebih lagi karena sutradaranya adalah Zach Cregger, yang tahun 2025 lalu memimpin produksi film Weapons. Bahkan Cregger bersama Shay Hatten, berandil pula sebagai penulis naskah dalam film ini. Jadi, waralaba zombie Resident Evil di tahun 2026 akan kentara kesan dan atmosfer horornya, ala seharusnya genre ini.

Mengenang Seluruh Adaptasi Live Action untuk Film Resident Evil

Membahas film Resident Evil, tentu harus kembali ke tahun 2002 lalu, saat filmnya dirilis pertama kali. Dengan fokus karakter baru bernama Alice (Milla Jovovich), film ini sukses di pasaran sinema. Walau latar awalnya masih mengenai perusahaan Umbrella dan Raccoon City, namun karakter dan kisah baru yang mumpuni, menjembatani adaptasi gim menuju film Hollywood ini.

Bahkan bisa dibilang, Resident Evil adalah waralaba yang pertama kali sukses dan menjadi pionir sebagai adaptasi gim menuju ranah sinema. Sebelumnya beberapa film dari gim sudah diadaptasi, tetapi seringkali tidak nyambung dengan gamer dan penggemar film. Sehingga dianggap tidak layak dari kedua dunia, dan berakhir layaknya film jelek.

Walau begitu, Resident Evil sebagai gim horor memang (menurut penulis) lebih mudah diadaptasi dari gim menjadi film. Karena latarnya yang masih horor, yang tentunya menjadi animo tersendiri dari sinema. Para sineas berhasil mengadaptasi gimnya dengan cukup sesuai dan sukses. 

Contoh berikutnya di jaman yang sama, adalah Silent Hill di tahun 2006 lalu, yang berhasil memberi karakter dan kisah baru di bukit sunyi ini. Jadi, keabsahan latar gim serta kreativitas sineas perfilman dalam mengadaptasinya, dapat dipertahankan dengan layak dan baik.

Apalagi dalam beberapa tahun berikutnya, banyak film Resident Evil ala sutradara Paul W. Anderson ini terus diproduksi. Walau kisahnya semakin jauh dari gimnya, tetapi sukses merilis Resident Evil pada tahun 2004 (RE: Apocalypse), 2007 (RE: Extinction), 2010 (RE: Afterlife), 2012 (RE: Retribution), dan 2016 (RE: The Final Chapter). 

Terdapat pula film yang menyambut reka ulang gim Resident Evil 2 (2019) dan Resident Evil 3 (2020), yaitu Welcome to Raccoon City pada tahun 2021. Film ini berisi karakter aseli dari gimnya, tanpa adanya Alice sama sekali. Namun, kisahnya terlalu singkat jika dibandingnya dengan seri gimnya, sehingga tidak memberi tambahan apapun pada dunia Resident Evil.

Kisah yang sama pun terjadi lagi pada film serial Netflix berjudul sama persis, di tahun 2022 lalu. Bahkan kisahnya pun terhenti tepat di satu musim saja, dan tidak ada kabar mengenai kelanjutan kisahnya.

Faedahnya Kisah Animasi 3D Resident Evil

Bagi para penggemar gim, tentu sulit memahami adaptasi live-action-nya. Pastinya, lebih paham dengan adaptasi film animasi 3D, yang berasal dari studio Jepang dan cerita yang canon. Ya, seluruh adaptasi film animasi untuk Resident Evil, memang berfaedah dan merupakan bagian dari kisah utama dunianya.

Dimulai pada RE: Degeneration di tahun 2008, lalu ada RE: Damnation (2012), RE: Vendetta (2017), dan RE: Death Island (2023), adalah seri kisah yang disukai para penggemar gimnya. Seluruh film animasi ini layaknya fan service bagi penggemar, yang menyuguhkan kisah tambahan bagi fans. Apalagi ceritanya yang memang canon dan disisipkan pada linimasa tertentu, sehingga semakin berfaedah saja untuk dunia gimnya.

Bahkan terdapat satu karakter bernama Maria Gomez, yang tampaknya diciptakan dalam film RE: Vendetta sebagai tribute kepada Alice dari film sutradara Anderson. Dengan rambut pirang dan pakaian yang mirip, bahkan teknik gelut yang sama-sama lincah (ala BOW yang berhasil), Maria Gomez adalah simbol perpisahan yang cocok setelah RE: Final Chapter di tahun 2016.

Adapula satu adaptasi serial animasi 3D pada tahun 2021, berjudul RE: Infinite Darkness. Serial Netflix berjumlah empat episode ini, memang layak sebagai kisah yang menjembatani antara Resident Evil 5 (2008) dan Resident Evil 6 (2012). 

Kisah kedekatan antara Claire Redfield dan Leon S Kennedy pun semakin diramaikan akibat serial ini. Walau begitu, kabar terakhir dari pasangan sebenarnya Leon, akibat cincin di jari manisnya (RE: Requiem di tahun 2026), belum dibuka sama sekali oleh Capcom hingga sekarang. 

Mekanik Gim yang Ikut Berubah

Daaan satu lagi, yang entah kenapa teori multiverse pun terjadi diantara film Resident Evil, dengan kembalinya waralaba Silent Hill (sebagai saingan utamanya). Ketika gim dan adaptasi film RE semakin mirip horornya Silent Hill, maka bentrok dunia pun terjadi (secara kompetitif). 

Untungnya, Konami sebagai pengembang Silent Hill pun berinisiatif lain. Selain me-reka ulang Silent Hill 2 di tahun 2024 lalu, Konami pun berimprovisai lebih untuk gim Silent Hill F di tahun 2025. Dengan mengadaptasi mekanik dan perlengkapan ala Dark Souls (dan Elden Ring), serta aplikasi banyaknya ending ala Visual Novel, Konami pun berhasil menghasilkan karya unik untuk waralaba Silent Hill-nya.

Memang persaingan luar binasa dari kedua pengembang gim Jepang ini. Layaknya kisah yang kompetitif, ala Umbrella terdahulu (haha).

Sinopsis Film Resident Evil (2026)

Bryan (Austin Abrams) adalah kurir (atau supir ambulans) yang sedang luar binasa sibuknya, setelah kekacauan di Raccoon City yang luluh lantak. Kisah zombie yang berkeliaran, serta monster BOW yang berbahaya, menjadi tantangan khusus bagi kurir berumur muda ini. Bahkan dirinya termasuk spesialis, karena harus mengirim banyak kebutuhan alat medis di rumah sakit setempat.

Hingga akhirnya satu kesialan pun menjemput dirinya. Tepat saat Bryan sedang mengemudikan mobil, seorang warga tertabrak akibat gelapnya malam bersalju. Bryan yang sudah paham (akan literasi Biohazard) pun, langsung mengecek dan melarikan diri ke rumah terdekat. 

Kebetulan menemukan senapan serbu (double barrel shotgun) yang nganggur, dirinya panik karena tidak menemukan amunisinya (shell) sama sekali. Bahkan semakin panik pula, setelah korban yang tertabrak mulai muncul di seberang jendela, dan siap menerkam. Bryan pun semakin sulit mengisi ulang (reload) senapannya, yang menyebabkan banyak peluru terbuang (ala pemain gim RE).

Kisahnya pun semakin epik saja, dengan kehadiran banyak zombie dan monster yang tiba sekaligus. Akhirnya Bryan pun kelimpungan di pusat kota Raccoon City, sementara dirinya hanyalah kurir diantara horornya masa kini.

Okeh, selamat isekai di sinema Biohazard nanti.

Bagikan:

Mengenai Saya

Foto saya
Warga dan Narablog saja...

Kontak Saya

Kontak Saya
Klik Gambar Menuju Laman FB Sedia Saja

Total Tayangan Halaman

Label

Arsip Blog

Referensi Film Dari Berbagai Perspektif

Referensi Film Dari Berbagai Perspektif
Klik Gambar Menuju Laman Monsterisasi

Cerita Pendek Horor Orisinal dari Penulis

Cerita Pendek Horor Orisinal dari Penulis
Klik Gambar Menuju Laman Cerpenhor

Rekomendasi Artikel

Mengenal Luffy Sang Topi Jerami dari One Piece