Analisa Film Nasional serta Internasional sebagai Akulturasi Budaya


Beraksi Ala Penjahat Berkostum dalam Film By Any Means

Strider yang mencoba sabar (TMDB).

Minggu awal September ini pun diisi dengan film Hollywood yang penuh rasisme, berjudul By Any Means. Walau atmosfernya beda, namun film ini menyajikan kisah sekte berkostum di AS sana. Karena itu rating umurnya tinggi, yaitu D17 (17 Tahun Keatas).

Film By Any Means berkisah investigasi FBI saat tahun 1960an, dengan mengacu pada sekte Ku Klux Klan (KKK) yang sesat.

Yahya Abdul-Mateen II dan Mark Wahlberg

Bagi yang ingin menonton film aksi serius, tentu By Any Means menjadi pilihan yang lebih tepat. Apalagi film ini mengacu pada rasisme Ku Klux Klan pada tahun 1960an di AS sana. Bahkan, cuplikannya menjabarkan bahwa kisah film ini diadaptasi dari kasus nyata.

Tokoh utamanya pun bukan sembarang, yaitu aktor kulit hitam bernama Yahya Abdul-Mateen II. Aktor ini baru saja naik daun, dengan peran yang kentara dalam film The Matrix Resurrection dan Candyman (keduanya tayang 2021 lalu).

Abdul-Mateen II memerankan karakter Wayne Strider, seorang agen FBI yang menyelidiki kasus hilangnya orang di negara bagian Mississipi. Wilayah ini pada tahun 1960an, memang lekat dengan kehadiran KKK dan agenda rasisnya. 

Karena tidak begitu paham dengan lingkungan investigasi-nya, maka Strider pun menyewa seorang pembunuh bayaran bernama Gregory Scarpa. Karakter ini diperankan oleh Mark Wahlberg, yang sudah menjadi veteran dalam berbagai film aksi Hollywood.

Film ini tampaknya mengembalikan kesan Wahlberg, ala film aksinya di awal tahun 2000an. Contohnya film The Italian Job (2003) dan Shooter (2007). Sementara pada tahun 2010an, Wahlberg justru terkenal dalam genre lain, yaitu Transformers (2014, 2017) dan Ted (2012, 2015). Kesan aktor aksi ini memang campur aduk di Hollywood sana.

Kembali ke By Any Means, justru digambarkan dengan sangat brutal. Strider yang berlatar polisi, tentu tidak mau seenaknya saat melaksanakan investigasi. Sementara Scarpa yang berlatar kriminal, malah membabi-buta. Scarpa menginterogasi saksi dengan kekerasan. Bahkan tanpa pandang bulu, hingga anggota patroli kepolisian setempat pun menjadi korban Scarpa.

Karakter Strider dan Scarpa menjadi dinamika tersendiri, dalam film yang lebih brutal dalam mengadaptasi ngerinya rasisme KKK di AS sana.

Bagikan:

Mengenai Saya

Foto saya
Warga dan Narablog saja...

Kontak Saya

Kontak Saya
Klik Gambar Menuju Laman FB Sedia Saja

Total Tayangan Halaman

Label

Referensi Film Dari Berbagai Perspektif

Referensi Film Dari Berbagai Perspektif
Klik Gambar Menuju Laman Monsterisasi

Cerita Pendek Horor Orisinal dari Penulis

Cerita Pendek Horor Orisinal dari Penulis
Klik Gambar Menuju Laman Cerpenhor

Rekomendasi Artikel

Mengenal Luffy Sang Topi Jerami dari One Piece