27 April 2026

Membobol Bank Saat Bom akan Meledak di London Ala Film FUZE

Hehehehe, cuan... (TMDB).

Sekarang film pembobolan Bank ala Inggris Raya sana, berjudul FUZE, yang tayang minggu ini di sinema Indonesia dengan rating D17. Layaknya film aksi kriminalitas ala Hollywood yang ramai dengan miripnya plot, FUZE layak ditonton sebagai aksi pencurian yang heboh diluar nalar.

Kisah Pembobolan Bank Disertai Bom

Dari ranah perfilman internasional yang memukau nalar dan visual, kisah berisi pembobolan bank cukup sering diadaptasi. 

Contoh paling lama yang pernah ditonton oleh penulis, adalah Die Hard: With A Vengengeace, dari tahun 1995 lalu. Film bersama Bruce Willis saat masih muda ini, berkutat pada letnan polisi bernama John Mcclane. Karakter fiktif ini khas dengan tagline Yippie Kay Yay Motherf****r, saat membasmi tokoh antagonis di setiap seri Die Hard. 

Sesuai dengan film FUZE, film seri ketiga Die Hard ini memiliki plot pembobolan bank berisi emasnya di New York, yang dilaksanakan tepat saat bom tertanam di banyak lokasi kota sebagai pengalihan operasi kepolisian. 

Bruce Willis yang kini telah berumur 71 tahun, didiagnosa Dementia sejak tahun 2022 lalu. Kondisinya semakin memburuk, yang mengakibatkan Willis tidak sanggup berkomunikasi dengan baik.

Untuk contoh terbarunya, adalah film dari sutradara favorit penulis, bernama Zack Snyder dengan film Army of the Dead dari tahun 2021 lalu. Film ini berlatar pula minat pecicilan penulis, yaitu zombie di Las Vegas sana. Walau begitu, aksi dan lokasi pembobolan (brankas) bank tetap kentara dengan resiko pemboman, yang dicanangkan untuk membasmi seluruh zombie di Las Vegas.

Dave Bautista tentu meramaikan film ini dengan khas aktingnya yang serba bisa. Ella Purnel dari Inggris Raya yang kini terkenal sebagai karakter utama di seri adaptasi gim Fallout (2024-2025), ikut meramaikannya pula. 

Film keduanya berjudul Army of Thieves, adalah prekuel dari cerita di Army of the Dead, yang masih berplot pembobolan bank dan tahap awal zombie apocalypse. Dave Bautista masih mengisi film ini sebagai cameo, sementara ahli pembobol kunci brankas bernama Ludwig yang diperankan oleh Matthias Schweighofer dari Jerman, menjadi karakter utamanya.

Tampaknya film aksi dengan kombinasi pembobolan bank dan bom selalu diisi dengan aktor-aktris terkenal internasional. FUZE mengisi animo tersebut dengan kehadiran Aaron Taylor-Johnson (28 Years Later; 2025), yang berkebangsaan Inggris Raya dan sering berkecimpung di Hollywood. Theo James yang sama-sama dari Inggris Raya pun terkenal sejak berperan sebagai Four di trilogi Divergent, Insurgent, dan Allegiant.

Aktor satu ini lebih terkenal lagi, yaitu Sam Worthington yang berperan sebagai manusia setengah Na'vi di film terlaris sepanjang masa, Avatar (2009, 2022, 2025), lalu Hacksaw Ridge (2016) bersama Andrew Garfield, serta duo seri mitologi Yunani di Clash of the Titans (2010) dan Wrath of the Titans (2012). Worthington memang aktor yang cocok dengan sub-genre fantasi.

Nah, bagaimana kombinasi banyak aktor terkenal ini dalam film kriminal pembobol bank dan pemboman sekaligus?

Sinopsis Film FUZE

Sebuah bom sisa Perang Dunia 2 ditemukan tertanam di bawah lokasi konstruksi, pusat kota London, Inggris Raya. Polisi berjibaku mengevakuasi seluruh warga kota, sementara penjinak bom dari militer, berusaha mengamankan hulu ledak tersebut. Penjinak bom bernama Will Tranter (Aaron Taylor-Johnson) bersama timnya pun memulai operasi penjinakan dan pemindahan bom tersebut.

Sementara dari pihak lainnya, Karalis (Theo James) memanfaatkan kekisruhan ini demi membobol bank lokal di sekitar lokasi evakuasi. Dengan menyamar sebagai anggota evakuasi dan pembersihan gorong-gorong kota, Karalis bersama timnya berusaha mencuri emas batangan melalui terowongan menuju bank setempat.

Kekisruhan pun berlanjut dengan bom yang sulit dibongkar dan dijinakkan oleh tim Tranter. Sementara tim pembobol bank hampir berhasil menyelamatkan diri dari pusat kota. Namun, terdapat pihak ketiga yang dipimpin oleh X (Sam Worthington), yang mengetahui operasi Karalis dan mengejar dirinya. 

Diantara kekisruhan banyak pihak, terdapat satu orang yang berhasil memantau semua polanya. Seorang operator darurat bernama Zuzana (Gugu Mbatha-Raw), sanggup mengecek keanehan di pusat evakuasi, yang berbeda dengan operasi penjinakan bom. Zuzana pun menjadi kunci, bahwa seluruh kekisruhan antara bom, pembobolan bank, serta pihak ketiga yang misterius akan saling berkaitan.

Bagaimana akhir kisahnya yang sangat berbelit ini? Bisa dicek melalui hebohnya London ala sinema Indonesia.

22 April 2026

Publikasi Buku di Jaman Modern

 

Ilustrasi buku cetak (Freepik).

Buku masih menjadi sumber utama ilmu di jaman ponsel pintar ini. Khususnya di dunia sastra, literasi dan linguistik, banyak cara dilaksanakan demi menjaga keabsahan buku dan penerbitannya.

Ramainya media sosial kadang tidak berdasar pada referensi ilmu yang sah ala buku. Karena itu, coba kita cek di artikel ini, mengenai standar operasi penerbitan buku di jaman modern. 

Dilansir dari Britannica, setiap penerbit buku memiliki departemen manufaktur, pemasaran, dan akunting, tetapi bisnis utamanya tetap pada fungsi editorial. Selama bertahun-tahun lamanya, standar kinerja berubah dan bervariasi dari satu penerbit, atau bahkan setiap negaranya. Namun, esensinya tidak berubah sama sekali.

Editor, yang kadang disebut pula sponsor atau redaktur, memilih buku untuk diterbitkan, dikerjakan bersama penulisnya, membaca kritis naskah tersebut, lalu merevisi isinya bersama penulis. Editor akan berkoordinasi dengan departemen manufaktur dan pemasaran, demi menyelesaikan penerbitan sebuah buku. Jadi, kehadiran editor adalah faktor utama bagi penerbit untuk menarik minat para penulis. Editor yang handal berkontribusi besar bagi terbitnya banyak buku berkualitas. 

Selain editor, terdapat pula departemen editorial yang bertanggung jawab saat naskah belum dicetak. Fakta, angka, dan referensi akan dicek ulang, serta ketidaksesuaian format penulisan akan diperbaharui oleh departemen editorial. 

Penerbitan Buku Pendidikan

Kinerja editorial semakin penting sejak tahun 1940an lalu (yaitu saat bisnis percetakan telah berkembang drastis dan standar pendidikan telah dicanangkan), dengan fokus pada konsep, perencanaan, dan penerbitan buku pendidikan yang dibutuhkan sekolah untuk semua tingkatan kelas dan mata kuliah di kampus.

Editor yang berlatar buku sekolah akan mengunjungi para guru, dosen dan cendekiawan agar mempromosikan teks yang dibutuhkan. Editor tentu harus menyesuaikan isi buku dengan silabus dan kurikulum di sekolah atau universitas (atau bahkan negara) tersebut.

Jarang sekali editor memiliki naskah buku pendidikan yang langsung disetujui. Dengan kunjungan reguler kepada para ahli materi pelajaran, yang mengacu pada kurikulum negara, editor harus banyak merevisi buku sebelum akhirnya diterbitkan.

Dasar Hak Cipta

Penerbitan buku tergantung pada hak cipta, yaitu wewenang utama untuk menyalin dan memproduksi hasil karya penulis, melalui kesepakatan penulis bersama penerbitnya. Kesepakatan ini memberi hak bagi penulis untuk memiliki wewenang, demi mengamankan hasil karyanya dan kompensasi yang sepadan. 

Saat hak cipta telah kadaluarsa, semua orang bebas menerbitkan kembali hasil karya tersebut, tanpa royalti kepada penulis aslinya. Banyak jenis hak cipta tergantung pula pada kesepakatan dan banyak pasal di dalamnya. 

Terjemahan menjadi satu jenis hak cipta yang membutuhkan kerjasama antar negara, agar buku dapat diterjemahkan dengan baik, sesuai dengan tipe linguistik setiap bahasa, dan terpublikasi sesuai aturan penerbit dari negara asalnya.

Kesepakatan Antara Penerbit dan Penulis

Kontrak publikasi hasil karya antara penulis dan penerbitnya berdasar pada jenis pembayaran royalti, yang dicanangkan selama diskusi hak cipta berdasarkan hukum, serta wewenang eksklusif untuk memproduksi dan merilis ulang buku di seluruh dunia. 

Setelah banyak pasal mengenai hak cipta disetujui, maka pasal mengenai royalti akan didiskusikan kembali antara kedua belah pihak. Biasanya, pasal royalti berisi jumlah cetakan yang terdistribusi. Royalti tambahan akan diberikan kepada penulis jika buku berhasil mencapai batas minimum jumlah cetakan (alias laris). 

Pasal lainnya yaitu bagaimana penerbitan buku antar media dan antar negara diberlakukan. Koreksi dan revisi cetakan buku (jilid buku) adalah satu pasal yang ditulis dalam kontrak penerbitan tersebut.

Pasal alternatifnya adalah bagaimana penerbit mencanangkan kontrak, mengenai buku hasil karya berikutnya dari penulis. Jika pasal tidak disepakati, maka penulis bebas menerbitkan karyanya di penerbitan manapun.

Agen Literasi

Agen literasi berperan penting di jaman modern ini. Banyak penulis buku atau novelis terkenal memiliki agen, yang berfungsi untuk menghubungi penerbit. Jika cocok, agen akan bernegosiasi dengan penerbit, dan mendapat komisi dari penulis jika berhasil.

Kadang, agen literasi berbentuk biro, yang menanggulangi seluruh urusan hak cipta dan komunikasi dengan penerbit. Karena agen mengerti tentang pasar sirkulasi penerbitan buku, maka sebuah buku dapat dicek potensinya. Saran mengenai buku yang dapat ditulis, potensi karir dari penulis, dan jumlah penghasilan dari buku, adalah pekerjaan utama para agen literasi.

Namun, karena fungsinya mirip agen pemasaran (yang diminta oleh penulis), maka agen lebih fokus pada cara agar buku dapat dicetak, dan tidak melaksanakan banyak urusan teknis linguistik maupun literasi.

Penjualan dan Promosi Buku

Teknik penerbit dalam mempromosikan buku semakin maju di jaman modern. Biasanya mereka memiliki ijazah pendidikan tinggi, diberi pengarahan dari kantor penerbit, dan menghubungi banyak biro lainnya. Setiap agen pemasaran buku akan menghubungi banyak toko buku, perpustakaan, atau perwakilan dari sekolah dan kampus. Kantor penerbit meminta mereka agar memenuhi kuota distribusi buku. 

Kantor penerbit memiliki katalog buku yang diterbitkan, buku yang akan terbit, dan katalog buku tahunan. Terakhir, agen akan meminta pers, komunitas literasi dan linguistik, untuk mengkaji buku tersebut.

Komunikasi, katalog, serta kajian buku adalah tiga tahap utama dalam distribusi buku, yang sulit dicapai tanpa profesionalisme kantor penerbit. Kapasitas seorang penulis dalam memproduksi sebuah buku yang pantas, dapat membantu penerbit untuk mencapai tujuan distribusi. Standar buku dan minat publik tetap menjadi penyebab utama keberhasilan buku tersebut.

Ritual Kerasukan Ala Punggawa Pawai Seni di Film Para Perasuk

AING MAUNG! (TMDB).

Okeh, saatnya membahas film Nusantara yang menjadi pamungkas di bulan April ini, berjudul Para Perasuk, yang tayang di sinema Indonesia dengan rating R13. Film ini memang cukup beda, yaitu mengacu pada tanah adat dan ritual seninya, yang terancam digerus oleh pihak kapitalis.

Dago Elos Never Lose (via Acerax).

Dago Elos Never Lose

Sebelum membahas film yang kentara konflik antara budaya versus kapitalis, coba penulis bahas terlebih dahulu tentang wilayah terdekat. Yaitu, daerah Dago alias sepanjang Jalan Ir. H. Juanda di Kota Bandung, yang menjadi hunian penulis. 

Istilah Dago Elos Never Lose dibuat oleh warga Dago sendiri, yang mengacu pada pergerakan khusus. Yaitu, menentang penggusuran dari tanah yang disengketakan, karena dimiliki oleh warga lain yang merasa memiliki semuanya. Bahkan, sejarah warga tersebut bisa dilacak hingga jaman penjajahan Belanda dahulu, yang sudah lama ditinggalkan oleh pemilik (sertifikat) aseli.

Cerita ini sudah turun temurun menjadi kisah masalah hukum di daerah dago, yang notabene tanahnya mayoritas dimiliki oleh beberapa kampus negeri besar, seperti Unpad (Universitas Padjajaran) dan ITB (Institusi Teknologi Bandung). Namun, banyak wilayah kedua kampus akan pindah ke Jatinangor, atau menetap di Dago. Tanah pun beralih kepemilikan menjadi milik Pemerintah Daerah. Jadi, untuk wilayah yang dimiliki oleh Pemda, sudah tidak bermasalah lagi.

Tetapi kisah ini terus menerus terjadi. Contohnya adalah masalah sertifikat tanah dan hotelnya di sekitar Terminal Dago. Baru-baru ini, masalah sewa-menyewa lahan Kebun Binatang Bandung pun sempat bermasalah, akibat salahnya sendiri. 

Namun, konflik perdata lama ikut mencuat saat masa tersebut, yaitu masalah tanah SMAN 1 Bandung dengan pemilik lahan, yaitu dari PLK. Kisruh SMAN 1 Bandung diakhiri dengan putusan akhir dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat, dan ditolak Kasasinya oleh Mahkamah Agung, bulan Maret lalu.

Pergerakan Dago Elos Never Lose memang asli dari warga, yang dibantu oleh pemerintah, tanpa campur tangan sensasional dari Warta. Media berita ini hanya diikutsertakan saat pemberitaan utamanya tiba, tanpa campur tangan berlebih. 

Warga Dago sebenarnya berpengalaman untuk urusan ini, tanpa campur tangan warta. Contohnya masalah Asrama Bank Indonesia di jalan Tubagus. Keadaan sekarang memang berbeda dengan keadaan terdahulu, saat literasi warga masih kurang. Bahkan banyak warga generasi berikutnya di Dago, adalah lulusan dari banyak universitas Bandung, sehingga cukup mampu untuk memahami urusan hukum di daerah ini.

Karnaval 17 Agustus 2025 di Jalan Tubagus (GMaps via Acerax).

Perlu kembali ke urusan film Perasuk, yang lebih mengacu ke tanah adat dan ritual seninya. Justru disitu kemiripan utama antara Dago Elos Never Lose dengan ritual ala film Para Perasuk. Setiap pawai karnaval 17 Agustus demi Hari Kemerdekaan Indonesia, banyak para punggawa seni serta sanggarnya dari daerah Dago, tetap ikut meramaikannya. Ikutserta mereka dengan warga yang berkostum acak ala seniman pun, turut meramaikan setiap tahunnya. 

Saking ramainya karnaval ini, cukup heran mengapa ada banyak kendaraan motor dan mobil, yang melewati daerah Dago saat acara berlangsung jam 12an siang. Padahal satu sisi jalan akan dipenuhi karnaval, yang bisa berlangsung selama satu hingga dua jam di satu ruas saja. Ya, bagi para 'perasuk' ala Dago ini, bisa seharian untuk mencapai satu keliling saja. Tidak heran, banyak yang akhirnya euforia dan hampir 'AING MAUNG' alias Pamacan yang terbawa intensifnya atmosfer.

Jadi intinya, tidak perlu khawatir dengan kisah di Dago Elos ini, karena kami Never Lose. Apalagi dengan Track Record sejarah turun-temurun yang sudah terwaris selama beberapa generasi lamanya. Karena kami cukup paham dan mengambil jalur rapih dan baik, tanpa mencari sensasi berlebih. Kecuali kalau sedang pawai karnaval 17an, tentunya tanpa jurus Pamacan. 

Wassalam untuk pihak lain yang tidak berkepentingan disini. Dan tentunya terima kasih kepada sineas perfilman Indonesia, yang berani mengadaptasi isu sosial di ranah fiktif tanpa sensasi berlebih. Semangat Berkarya!

Sinopsis Film Para Perasuk

Desa Latas adalah wilayah pinggiran kota, yang terkenal dengan ritual pawai seni sekaligus kesambet ala kesurupan euforia. Gurunya adalah Asri (Anggun), sebagai pewaris ritual Merasuk ini. Animo ini masih ramai dan terlatih di Desa Latas, layaknya tanah adat khusus dengan lokasi keramat bernama Mata Air Roh.

Bayu (Angga Yunanda) adalah pemuda peniup suling yang sangat berniat untuk mengikuti ritual Desa Latas, dan selalu ikut meramaikannya. Posisinya sebagai penyuling, menyebabkan dia berinisiatif untuk mendekati gadis cantik dari Desa Latas bernama Laksmi (Maudy Ayunda). Bayu yang sangat berminat menjadi punggawa seni Merasuk, sekaligus Laksmi yang berkecimpung sebagai penarinya, menyebabkan keduanya cocok untuk berlatih bersama.

Sayangnya, Bayu diminta oleh ayahnya (Indra Birowo) untuk ikut menjual rumah dan pindah ke kota. Alasannya adalah wilayah tersebut akan dibangun semacam pabrik. Tidak hanya lokasi rumah Bayu, Desa Latas serta Mata Air Roh-nya akan tergusur jika pabrik jadi dibangun. Keluarga dan teman dekat Bayu pun tetap meragukan, bahwa ritual Perasuk Desa Latas yang Pamacan ala AING MAUNG masih berlanjut hingga generasi berikutnya.

Mulailah kekisruhan wilayah tanah konflik dengan tanah adat. Tidak hanya mendekati dengan cara bisnis, perwakilan dari perusahaan pabrik mulai meneror, hingga memakai kekerasan untuk mengusir warga desa yang tidak menurut.

Sanggupkah Bayu, Laksmi, Asri, dan seluruh Desa Latas mempertahankan tanah dan adatnya? Atau memang warisan budaya hanyalah kenangan dari masa lalu yang tidak perlu dipertahankan demi cuan semata? Senihil itukah hidup di jaman modernisasi jurig ini?

Jawabannya, tentu ada dalam ritual kesurupan ala kerasukan ala pamacan alias AING MAUNG di sinema Indonesia.

Jurig dari Sulawesi yang Tiada Habisnya di Film Songko

 

Sulitnya dipercaya oleh warga desa jaman sekarang (TMDB).

Film jurig dari perfilman Indonesia muncul kembali dengan judul Songko, yang tayang di sinema indonesia saat minggu keempat bulan April ini. Film berating R13 ini mengisahkan mahluk legenda urban dari Sulawesi, khususnya dari Manado dan Minahasa.

Kisah jurig yang berasal dari luar pulau Jawa dengan segala mistisnya, memang jarang diadaptasi menjadi sebuah film. Karena itu, Songko perlu ditelaah terlebih dahulu.

Songko adalah sejenis legenda urban, yang muncul di Manado dan Minahasa sejak tahun 1980an lalu. Bentuknya adalah mahluk tinggi yang mengenakan jubah, serta songkok sebagai topinya, karena itu namanya adalah Songko. Mahluk ini dipercaya sebagai jelmaan manusia yang telah meninggal. Namun karena semasa hidupnya selalu mengejar kemampuan paranormal, sehingga arwahnya tidak tenang di alam baka, dan bahkan kembali ke dunia manusia untuk menebar teror.

Bahkan, kisah Songko sebenarnya muncul dalam arsip Belanda sejak tahun 1907 lalu, yang merupakan kompilasi cerita rakyat. Arsipnya berjudul Tontemboansche Teksten: Vertaling (1907) dan Tontemboansch-Nederlandsch Woordenboek (1908). Dalam kedua arsip tersebut, Songko adalah sejenis mahluk supernatural, yang mengejar warga pelanggar pantangan, atau sedang rentan.

Mirip dengan kisah supernatural lainnya, para peneliti menganggap Songko adalah bentuk instrumen sosial. Tujuannya adalah menanamkan kedisiplinan bagi warga, agar taat dan tidak macam-macam, apalagi di jaman yang penerangan malamnya kurang. Khusus Songko yang dipetuahkan oleh tetua seperti Tonaas dan Walian, adalah untuk menjaga batas aman wanua. 

Sementara Songko dari tahun 1980an, muncul kembali sebagai legenda urban. Kemunculannya kembali adalah akibat kasus mengerikan saat jaman tersebut. Mahluk mengerikan berjubah ini mengejar darah suci perempuan muda, yang tentunya masih perawan dan belum terjamah sama sekali. 

Songko yang harfiah mengancam masyarakat Sulawesi, menjadi peringatan khusus bagi pemuda dan pemudi pada jaman tersebut, sesuai dengan fungsi awalnya sebagai cerita rakyat.

Sinopsis Film Songko

Desa Tomohon di Sulawesi adalah lokasi yang taat dengan agamanya, dan selalu hidup rukun antar tetangganya. Namun suatu petaka tiba, dengan banyaknya pemudi desa yang ditemukan meninggal bersimbah darah. 

Layaknya mengenang petuah terdahulu, warga lalu mengingat bahwa teror ini mirip dengan cerita rakyat bernama Songko. Mahluk ini akan tiba di satu lokasi, jika ada warganya yang melaksanakan ritual mistis, atau melanggar pantangan.

Warga mulai menyalahkan satu keluarga yang cukup berbeda, yaitu Ekel (Tegar Satrya) sebagai kepala keluarga, bersama istrinya Helsye (Imelda Therinne), Mikha (Annette Edoarda) sebagai anak pertama, dan adiknya Lina (Fergie Brittany). Keluarga ini dituduh sebagai jelmaan Songko, karena lebih banyak  beranggota perempuan, dan belum satupun yang menjadi korban.

Hingga akhirnya keadaan berubah seketika, saat Lina yang merasa tertekan oleh sikap warga desa, akhirnya diteror pula oleh kemunculan mahluk Songko. Namun warga masih belum percaya, dan bahkan semakin buas menolak kehadirannya. Ekel yang lihai menembakkan senapan, harus berinisiatif gelut, demi menghalau serangan Songko, warga desa, atau sekaligus pihak agresor manapun.

Sanggupkah keluarga ini bertahan sampai akhir? Atau ada maksud khusus dari warga desa yang terus menyalahkan? Atau bahkan Songko sebenarnya adalah sisa dosa dari warga desa itu sendiri, yang kembali untuk membalaskan dendam?

Jawabannya, tentu ada di cerita rakyat ala sinema Indonesia.

Aksi Gelut Live Action Ala Jepang di Film Wind Breaker

 

Haruka yang suka gelut (TMDB).

Okeh, saatnya menyambut film Live Action yang berbeda dari Jepang sana, berjudul Wind Breaker, yang telah tayang sejak minggu lalu di sinema Indonesia dengan rating D17. Film ini agak unik, jika dibandingkan dengan banyak film Live Action Jepang. Yaitu khas gelut anak SMA berandalan, yang tentu tidak seaneh animo anime lain.

Manga Wind Breaker dan Crows

Nah, sebelum membahas cerita filmnya, justru perlu dibahas animo gelut anak SMA dari Jepang sana. Wind Breaker memang diadaptasi dari manga dan anime yang berjudul sama, hasil karya Satoru Nii. Dan Ya, animo ini sempat ramai sejak film Crows Zero, yang rilis tahun 2007 lalu. Crows Zero sempat menjadi bahan rekomendasi legendaris di Indonesia, khususnya dari kalangan teman terdahulu. Apalagi, film ini khas dengan sinematografi ala Jepang.

Sayangnya, penulis belum menonton sama sekali film Crows Zero, yang rilis manganya pada tahun 1994 dari Hiroshi Takahashi. Mengapa? Karena penulis sempat menamatkan manga Crows, yang baru rilis di Indonesia pada awal 2000an. Ditambah lagi, jaman tersebut adaptasi Live Action dari manga atau anime sering mengecewakan, walau tentunya ada pengecualian khusus untuk Crows yang berlatar gelut SMA.

Nah jadi, mengapa penulis tidak mengikuti hype film Crows Zero? Jaman tersebut, memang animo-nya berubah, khususnya dari penulis sendiri. Pas sedang ramai rekomendasi Crows Zero, penulis telah lulus SMA, dan sedang fokus untuk kuliah. Ditambah lagi, teman yang dulu sering merekomendasikan manga, khususnya Crows, bahkan tidak ikut merekomendasikan filmnya.

Tidak hanya faktor luar, tetapi penulis memiliki animo berbeda untuk waralaba Crows, manga dan filmnya sekaligus. Kesinambungan yang agak berbeda, yaitu saat penulis memahami Arc terakhir manga Crows. Jadi, terasa lebih intrinsik, daripada pengaruh luar.

Entah kenapa, sepertiga manga yang tersisa hingga serialnya tamat, Crows justru berubah menjadi cerita yang antiklimaks. Banyak isi cerita, lebih mengisahkan slice of life, yang berfokus pada kegalauan anak SMA menjelang lulus. Ada yang berinisiatif langsung gabung Yakuza, ada yang fokus kerja ala Rindaman, atau bahkan lucu-lucuan bersama cewek pujaan. 

Bahkan ritual sang tokoh utama Harumichi Boya, lebih aneh lagi di akhir manga Crows. Harumichi yang biasanya telat untuk mengikuti gelut (di Arc sebelumnya), tambah telat lagi di akhir serial manganya. Karena lebih sering curhat bersama temannya yang sedang dekat sama cewek SMA, jadinya Harumichi ikut mengejar romansa masa SMA. Lucunya lagi, semua Build-Up cerita di akhir serial, ternyata diakhiri dengan sedikit duel saja, dan tidak seheboh awal manga.

Nah ternyata, manga Crows terisi banyak kegalauan anak SMA, yang fokus pada cara komunikasi ala laki remaja. Karena itu, karena terasa cukup nyambung, dan penulis sangat pesimis dengan filmnya, akhirnya tidak berinisiatif untuk menonton film Crows Zero.

Sedikit Sinopsis Wind Breaker

Lalu, apa hubungannya dengan Wind Breaker? Nah justru disinilah asyiknya kesinambungan tersebut. Dari sedikit sinopsis plot Wind Breaker di Inet, ternyata animo akhir Suzuran mirip dengan kisah Wind Breaker. Tokoh utama Haruka Sakura, ternyata baru masuk SMA dengan gang-nya yang fokus menjaga wilayah. 

Animo seperti ini, mirip dengan akhir kisah Crows, dimana para bujangan gelut ini bergabung dalam satu aliansi, untuk melindungi Suzuran dari serangan luar. Ya, berbeda dengan kisah di seluruh awal manga Crows, yang berfokus pada gelut antar karakternya.

Ya, segitu saja setelah panjang lebar. Pokoknya sinopsis lebih singkat lagi, karena cuplikan filmnya memang berisi gelut semua. Haruka Sakura (Koshi Mizukami) ternyata heran, saat dirinya gelut tepat satu hari sebelum hari pertama sekolah. Haruka dibantu oleh geng dari sekolah barunya, yang menjadi pertama kalinya. 

Haruka pun langsung dianggap teman, dan layak untuk bergabung dengan geng bernama Bofurin ini. Haruka yang selama ini gelut demi Flexing dan mengejar Rank pun, tertegun dengan niat geng Bofurin untuk menjaga wilayahnya. Bahkan Haruka akhirnya terenyuh, bahwa masa SMA ini, akhirnya dia punya teman juga.

Jadi, silahkan saksikan saja bagaimana film gelut SMA ala Jepang ini, yang kadang lebih nyambung alias relate dengan khas komunikasi bujang baragajul, di sinema Indonesia.

21 April 2026

Mengenang Raja Pop di Film Biografi Michael (Jackson)

 

Jaafar yang sanggup menari ala Michael (TMDB).

Daaaan, film untuk mengenang King of Pop pun dirilis di bulan April 2026 ini, berjudul singkat saja Michael, yang tayang di banyak sinema Indonesia dengan rating Semua Umur. Mendiang Michael Jackson yang wafat tahun 2009 lalu adalah sosok legendaris, yang berhasil mendobrak kesenggangan rasis di AS sana, dan bahkan hingga sedunia.

Michael Jackson Sang King Of Pop

Tampaknya kurang sreg membahas film biografi Michael Jackson, tanpa terlebih dahulu membahas kiprahnya di dunia seni populer. Michael Jackson hingga kini dijunjung sebagai artis paling menghibur sedunia, yang sangat berpengaruh pada keadaan seni dan politik pula.

Michael adalah seorang anak yang fantastis sejak kecil. Saat baru berumur enam tahun, dirinya langsung menjadi vokalis utama bersama grup band keluarganya, bernama Jackson Five. 

Saat Michael Jackson berkarir solo dan merilis album Thriller di tahun 1982 lalu, dirinya sangat sukses hingga sekarang, karena album tersebut masih meraih rekor sebagai album tersukses sepanjang masa. Di saat itu pula, Michael Jackson berhasil menggabungkan musik dengan video klip yang sangat sinkron, layaknya karya sinema.

Tidak hanya dari video klip, artis serba bisa ini sempat menciptakan berbagai gerakan dansa terkenal. Contoh terkenalnya adalah Moon Walk dan Robot. Gerakan dansa yang energetik dan suara vokalnya yang masih nyaring dan kuat, memang selalu dirindukan oleh penggemarnya. 

Kombinasi bakat alami dan sosok Michael Jackson, menyebabkan dia mencapai tahap sebagai artis dengan jumlah penjualan album terbanyak. Jumlahnya sangat fantastis, yaitu mencapai 500 juta kopi. Michael meraih pula banyak penghargaan, diantaranya adalah 13 dari Grammy, sebagai Grammy Legend, sebagai Grammy Lifetime Achievement, 26 dari American Music, 8 dari MTV Video Music, 6 dari Brits, dan 3 penghargaan dari Presiden AS.

Michael Jackson pun salah satu artis yang dermawan, dengan donasi mencapai 500 juta Dolar AS selama hidupnya. Utamanya adalah melalui organisasi yang didirikan olehnya sendiri, bernama Heal The World Foundation. 

Pada tahun 1980an, Michael Jackson sempat menuai kontroversi dengan berubah kulit. Artis kulit hitam (Negroid) ini menjalani operasi, agar seluruh tubuhnya berubah menjadi putih, mirip dengan ras Kaukasia. Padahal Michael menderita penyakit kulit langka bernama Vitiloid, yang merubah warna kulitnya menjadi pucat. Jika tidak dioperasi, maka Michael akan semakin sensitif dengan cahaya matahari, dan warna kulitnya akan belang. Tentu sebagai seorang artis, akan terlihat aneh.

Akhir masa hidupnya pun cukup kontroversial, yaitu Michael meradang overdosis obatnya, akibat anjuran dokter pribadinya. Padahal, dirinya sedang menyiapkan konser khusus, demi meramaikan dunia pop dan menghibur fansnya yang telah lama merindukan. Siaran langsung upacara pemakamannya sangat ramai, dengan rekor mencapai 2,5 milyar penonton dari seluruh dunia.

Uniknya dalam film Michael ini, yang memerankan dirinya adalah anggota keluarga Jackson. Jaafar Jackson adalah keponakan langsung Michael, yang berlatar sama dengan Jackson lainnya, yaitu penyanyi dan penari. Namun artis berumur 29 tahun ini ditantang pula untuk memerankan pamannya sendiri yang legendaris. 

Dari cuplikannya, sangat terlihat kemiripan antaranya Jaafar dan Michael. Bahkan, gaya menari dan menyanyi Michael, sanggup ditirukan langsung oleh Jaafar. Dengan hanya merubah tipe rambutnya menjadi keriting Afro ala Michael muda, dan berkostum ala King of Pop, Jaafar sanggup terlihat layaknya Michael Jackson yang masih hidup di tahun 1980an lalu.

Jadi, para penikmat musik dan khususnya penggemar Michael Jackson, film ini menjadi animo tersendiri yang sangat dirindukan. Tidak hanya mengenang dengan menonton video lama Michael Jackson saja, tetapi menjadi interpretasi baru dari Hollywood, dan khususnya langsung dari keluarga Jackson.