05 November 2025

Remaja yang Berlari Secepat Kuda di Anime 100 Meters

 

Togashi dan Tomiya yang masih kecil (TMDB).

Setelah dirilis global gim gawai aneh bernama Uma Musume: Pretty Derby, sekitar bulan Juni lalu, dan dirilisnya musim kedua Cinderella Gray di bulan Oktober, tampaknya animo anime olahraga semakin menarik di bulan November ini.

Sekarang judul filmnya adalah 100 Meters, yang mengisahkan balap lari sprint 100 meter. Karakternya bahkan ditampilkan mulai dari berumur kecil, remaja, hingga menjadi atlet profesional.

Okeh, karena sekali lagi cuplikannya tidak cukup menceritakan plot utama filmnya, maka mending dibahas saja beberapa anime yang berkutat pada olahraga.

Kalau membahas Uma Musume, maka spin-of-nya yang berjudul Cinderella Gray memang terlalu fantastis. Isinya adalah cerita sekolah khusus 'gadis kuda,' yang diperlakukan layaknya seorang idola dan atlet sekaligus.

Di dunia Uma Musume, dewa di masa lalu menganugrahi kemampuan dan genetik kuda pada gadis yang belum lahir, sehingga muncullah sebuah ras baru bernama Uma Musume.

Anak gadis yang lahir memiliki kemampuan setara kuda, dengan kemampuan berlari yang kuat nan cepat. Bagi mereka, berlari sprint, berarti mencapai jarak 1000 meter!

Nah, kalau di cerita Cinderella Gray, berfokus pada karakter bernama Oguri Cap, yang sebenarnya tidak dapat berlari karena kakinya lemah sejak kecil. Namun, karena ketelatenan ibunya, justru Oguri Cap berhasil menantang dunia balap Uma Musume. 

Bahkan, di musim keduanya ini, Oguri Cap tampil sebagai perwakilan Jepang melawan seluruh dunia! Cukup berbeda memang, tapi tampaknya mengacu pada satu atlet sepakbola yang mirip kisahnya, yaitu Leonel Messi. 

Entah bagaimana, begitu penulis menonton cuplikan musim kedua Cinderella Gray, langsung teringat akan Messi. Bagi yang mengecek sejarahnya, pasti tahu bahwa Messi adalah anak yang terlahir dengan autisme dan kekurangan fisik. Tapi, Messi kini telah menjadi legenda di dunia sepakbola!

Dan sekarang, coba kembali tahun 2000an, yaitu anime berjudul Eyeshield 21. Tokoh utamanya adalah Sena Kobayakawa, yang berposisi sebagai running back di olahraga American Football. Sena sanggup berlari cepat, karena itu posisi running back yang membawa bola menuju garis gol adalah perannya.

Karena American Football adalah olahraga yang seperti game papan, alias langsung terhenti begitu bola jatuh ke lapangan, maka Eyeshield 21 memberikan animo berbeda. Trope Anime yang suka 'cerewet' justru cocok, karena American Football memang menyajikan olahraga yang lebih taktis.

Kalau sekarang, tentu harus kembali ke jaman 90an, dengan anime legendaris berjudul Slam Dunk. Kisahnya berfokus pada Hanamichi Sakuragi, yang niatnya mendekati seorang gadis pujaan di SMA, lalu malah bergabung dengan tim basket yang dikelolanya.

Hanamichi yang memang bertubuh tinggi dan atletis, cukup cocok dengan basket yang kompetitif. Hanamichi cocok diberi posisi center forward, yang memiliki khas melompat tinggi dan menahan bola rebound. Saking tingginya lompatan Hanamichi, dia diandalkan pula untuk Slam Dunk.

Tidak hanya keunikan Hanamichi, namun beberapa anggota tim Shohoku memiliki bakat tersendiri, yang menyajikan animo 'kerasnya' dunia basket. Dan diantara anime olahraga lainnya, Slam Dunk adalah yang paling realistis dengan gambar yang paling bagus (manganya). 

Daaan, sedikit kembali ke film 100 Meter, tampaknya sedikit mengambil referensi dari Slam Dunk. Hanamichi di timnya sendiri merasa bersaing dengan Kaede Rukawa, yang merupakan jagoan di tim Shohoku.

Di film 100 Meter, plot utamanya berfokus pada Togashi (Tori Matsuzaka) sebagai seorang atlet lari muda yang mendominasi balap 100 meter di sekolahnya. Namun keadaan berubah saat Komiya (Shota Sometani) pindah ke sekolahnya. Keduanya pun bersaing, bahkan hingga mencapai kompetisi atlet profesional.

31 Oktober 2025

Romansanya jadi Seniman Terlalu Niat di Film Komedi Si Paling Aktor

 

Rachel dan Tegas yang heran kenapa Gilang ternyata OP (TMDB).

DAAAAAN, akhirnya bulan Oktober ini mencapai kisah film yang Full Circle alias Lengkap, dengan film komedi berjudul Si Paling Aktor yang sedang tayang di sinema-sinema Indonesia.

Nah, di film Si Paling Aktor ini, mengisahkan suatu tantangan dari pendatang baru, yang mencoba segalanya demi berkiprah di dunia industri kreatif, khususnya perfilman.

Rasanya di dunia internet jaman sekarang ini, dengan berbagai jenis streamer, vtuber, dan kreator konten, layaknya film ini bisa menjadi pelajaran tersendiri. Kadang membuat konten terlalu niat, hingga akhirnya kelepasan juga. Padahal berniat ngetren, malah bikin ngiler bablas ala se-Indonesia.

Mungkin, perlu diingat sekalian, jaman band indie Bandung, dan berbagai kota serta banyak wilayah lainnya, saat awal 2005-an hingga awal 2010an. 

Jaman tersebut, band seperti Alone at Last, Boys Are Toys, Buckskin Bugle, Closehead, Efek Rumah Kaca, Inspirational Joni, Koil, Kuburan, Kungpow Chicken, Maliq D'Essentials, Netral, Panas Dalam, Rocket Rockers, Rosemary, The Changcuters, dan The Sigit, masih meramaikan ranah musik no-label Indonesia.

Bahkan saking mendunianya, setiap minggu dibuka panggung yang diramaikan oleh berbagai band indie, khususnya di seluruh sudut kota Bandung.

Walau kini tidak seramai sekarang di dunia fisik, tapi berbagai kanal YouTube, bahkan yang resmi, masih meramaikan ranah indie Indonesia dengan berbagai gimmick barunya. Banyak pula musisi lain yang merambah YouTube dengan pembawaan no-labelnya.

Yah, daripada bawa-bawa bendera fiktif, lalu bikin rusuh di jalan sambil bakar-bakar gedung DPR. Mending, berolahrasa dan berolahraga sambil moshing di tengah konser.

Okeh, kembali ke film Si Paling Aktor, yang mengisahkan seorang aktor yang terlalu niat mendalami perannya, padahal hanya berperan figuran. Walau disajikan dengan kisah komedi, mungkin perlu ditelaah, sebenarnya seorang kreator harus bertindak atau bersikap seperti apa, tentu dengan tidak mengesampingkan seluruh karyanya.

Nah tapi... memang setiap seniman yang berkontribusi dalam sebuah karya, membutuhkan gimmick-nya sendiri. Selain agar tetap eksis, tentu dengan dukungan komunitasnya, akan dinilai mampu, dan bahkan sanggup menyelesaikan tantangan di industri kreatif.

Oh, ya Romansa juga artinya petualangan loh... bukan berarti langsung mengacu pada sesuatu yang romantis.

Sinopsis Film Si Paling Aktor

Gilang Garnida (Jourdy Pranata) adalah seorang aktor yang telah berkarir lama, yaitu selama 10 tahun lamanya dikutuk menjadi aktor pecicilan, alias figuran. Gilang sulit mendapatkan peran utama maupun stabil, akibat terlalu sering berimprovisasi, hingga di-blacklist oleh banyak sutradara.

Bahkan, sang Mad Dog Yayan Ruhian sempat terpukul olehnya, karena Gilang belajar bela diri selama tiga bulan, hanya untuk beradu gelut dengan sang raja silat perfilman Indonesia ini.

Di film yang lain, Gilang bahkan belajar menembakkan senapan api, karena dirinya memerankan seorang tukang bubur teroris, yang karakternya langsung mati meledak di awal film.

Kenalan produsernya, Ramli (Indra Birowo) bahkan menyebut Gilang sebagai sok tahu, yang tidak mau menuruti arahan sutradara film.

Suatu saat, lawan mainnya yang bernama Kevin Sumitro (Kenny Austin) diculik oleh Koh Chen (Verdi Solaiman), padahal niatnya ingin menculik Gilang. Saking sayangnya, jika Kevin berhasil ditemukan, akan ada imbalan Satu Milyar!

Bersama sang cemceman hati yang sebenarnya lebih menyukai Kevin, Rachel Hesington (Beby Tsabina) dan sutradara Tegas Julius (Kevin Julio), yang cukup linglung karena aktornya hilang, mereka bertiga lalu mencoba mencari Kevin.

Tentu berniat mendapatkan imbalan Satu Milyar, menyelamatkan karir Gilang, mendapatkan hati Rachel, serta melanjutkan kembali produksi filmnya Tegas, Gilang yang telah sakti mandraguna akibat improvisasi yang terlalu mengena, mencoba membuktikan seluruh kemampuannya yang ada.

Silat Tradisional Bugis ala Pendekar Makassar di Film Badik

 

Mike Lucock dan Donny Alamsyah yang tengah berduel (YouTube).

Akhirnya, kisah gelut silat tradisional pun difilmkan di tahun 2025 ini, dengan judul Badik, yang kini sedang tayang di sinema Indonesia bulan Oktober ini.

Sebelumnya, film Indonesia mengenai kisah gelut silat didaptasi di Panji Tengkorak, sejak Agustus lalu. Walau menggunakan media animasi dua dimensi, namun tetap berlatar silat Indonesia bersama kelihaian para pendekarnya. Di bulan Mei lalu, film berjudul Pengepungan di Bukit Duri pun dirilis sebagai aksi gelut, yang berkutat pada atmosfer tawuran ala Indonesia. 

Nah, kalau dari segi gelut silat Indonesia, tentu masih teringat mengenai film Raid (2011, 2014), yang membuka jalan agar film aksi gelut silat Indonesia kembali mendunia. Saking mendunianya, Cecep Arif Rahman dan Yayan Ruhiyan meramaikanya sebagai lawan John Wick alias Keanu Reeves, di film John Wick 4, tahun 2023 lalu. 

Sekilas mengenai silat Indonesia, memang memiliki kekhasan tersendiri. Yaitu banyak gerakan silat yang fatal, dan khusus tidak hanya untuk mengenai serangan, menangkis balik, dan mengunci sendi tubuh lawan saja, namun langsung mematikan. Karena itu, banyak gerakan silat dilarang di MMA UFC.

Satu kekhasan lainnya, adalah digunakannya berbagai senjata tajam pendek khas Indonesia, seperti keris, golok, kujang, atau sejenis belati lainnya, agar setiap gelut diakhiri cepat (!)

Sama seperti kisah para pendekar yang tidak jelas arah tujuannya, contohnya para Ronin dari Jepang atau Wuxia dari China. Mereka mengelana untuk mendalami ilmu gelut, atau sekedar berduel dengan lawan yang disukainya. Animo kisah silat tersebut mungkin masih belum dijabarkan di dunia fiksi saat ini, namun suatu saat mungkin kembali lagi.

Nah, bagaimana dengan film Badik yang mengisahkan silat ala suku Bugis dari Sulawesi Selatan ini? Nama khas daerahnya adalah Mencak Sangge, yang masih beraliran silat, yaitu dengan gerakan ampuh nan mematikan. 

Khasnya dari film ini adalah Badik, yaitu belati dari suku Bugis. Badik memiliki lengkungan ala senjata Khukri dari Nepal, namun berukuran lebih kecil, lebih lurus, dan lebih mirip golok mini dengan ukuran mata pisaunya lebih lebar.

Oh ya, terlihat pada cuplikannya pula, satu gerakan yang dibolehkan oleh silat adalah serangan telapak tangan menuju leher, agar lawan langsung sulit bernapas.

Donny Alamsyah, Mike Lucock, Prisia Nasution pun berperan dalam film ini dengan mendukung tokoh utamanya, yaitu Badik yang diperankan oleh Wahyudi Beksi.

Kisahnya pun mengangkat masalah sosial yang kadang terjadi di Indonesia, adalah kisah rundungan yang terjadi saat orientasi mahasiswa baru (ospek), yang berujung kematian korban.

Sinopsis Film Badik

Badik (Wahyudi Beksi) kaget akan kabar kematian adiknya, Unru (Fandy AA). Padahal, Unru baru saja berhasil masuk kuliah, dan sedang mengikuti Masa Orientasi Mahasiswa Baru di kampusnya.

Badik pun mendengar kabar, bahwa adiknya dirundung di kampus tersebut. Berita tersebut sempat viral, dengan mahasiswa yang berprotes mengenai 'Bullywood,' yang istilahnya diramaikan oleh Nur (Prisia Nasution) sebagai anggota pers mahasiswa.

Badik lalu mencoba mencari lebih banyak mengenai kabar kematian adiknya, dengan menyamar sebagai petugas kebersihan di lokasi kampus. Dengan belati Badik wasiat miliknya, dia bergerilya dan mencari para 'tersangka' rundungan.

Ternyata, kisah rundungan di kampus tidak hanya terjadi pada Unru, namun terkait dengan beberapa kematian mahasiswa lainnya, yang semakin mengacu pada target Badik.

Badik yang merasa bahwa ini bukan kasus biasa, lalu mencoba menantang pada perundung, yang berakhir gelut parah. Walau tidak berhenti disitu saja, ternyata memang para perundung adalah ahli silat, yang cukup cekatan dan sanggup melawan Badik. Para perundung pun semakin panik, karena aksi mereka selama ini bisa dilaporkan pada polisi.

Sanggupkah Badik melawan mereka semua dan mengungkap bukti perundungan Unru? Atau malah berujung petaka bagi semuanya?

Jawabannya bisa dicek saja di sinema Indonesia.

Indonesia Mengadaptasi Horornya Thailand di Film Shutter

 

Darwin yang masih setia dengan kamera lamanya (TMDB).

Walau agak aneh juga, tetapi sineas perfilman Indonesia pun mengikuti cara Hollywood, yaitu mulai rajin me-reka ulang berbagai film rame terdahulu, dengan bumbu khas Indonesia tentunya.

Padahal penulis masih ingat, jaman mulai ramainya kembali film Indonesia di awal tahun 2000an, saat banyak film lokal dianggap plagiat dari film luar. Entah bagaimana produksinya, pokoknya banyak yang kurang suka dan menyajikan perbandingan langsungnya.

Nah, kali ini di akhir Oktober ini, justru sineas Indonesia melangkah berbeda, dengan membeli lisensi film luar, berjudul Shutter dari Thailand. Film Shutter adalah satu film legendaris dari Thailand, yaitu dirilis pada tahun 2004 lalu, yang membuka jalan bagi perfilman Thailand sebagai rajanya horor Asia Tenggara. 

Seperti sudah dibahas di blog ini, Shutter adalah film yang cukup berbeda dari Thailand, karena lebih mirip film Jepang, yang khas dengan gaya investigasi plot utamanya, daripada menunjukkan banyak kengerian atau jumpscare.

Mungkin, film Jepang saat itu lebih mengemukakan bahwa, sejarah adalah hal terpenting dari suatu kisah, walau kebudayaannya sudah menyerap dan begitu lekat pada setiap warga dan kesehariannya. Visualnya bahkan lebih menunjukkan kengerian yang bikin merinding, dengan desain suara yang cukup 'dingin,' daripada sekedar Shock Value-nya (efek kejut).

Jadi ya..., istilahnya Primbon atau Paririmbon-nya memang harus dicek terlebih dahulu, daripada langsung pada tipe takhayulnya saja. Nilainya hidupnya adalah yang terpenting.

Okeh, kembali ke Shutter, yang mirip dengan Ringu (1998), yaitu mengisahkan seorang fotografer yang diterpa jurig. Berbeda dengan Ringu, yang terkutuk bukanlah rekamannya, tetapi foto yang dihasilkan kameranya.

Bahkan, kisah kemunculan foto penampakan sudah sering terjadi di dunia nyata, sejak ditemukannya kamera genggam pertama pada tahun 1826 lalu. Sejarah penampakan foto ini bisa dicek sejak tahun 1891 lalu, yang berisi siluet bangsawan Sybell Corbet, di perpustakaan Combermere, Inggris.

Banyak yang berspekulasi, bahwa kamera memang dapat melihat sejenis mahluk lain dari dunia sana. Kisah perkembangan teknologi memang sering dikaitkan dengan mistis, apalagi saat awal jaman industrialisasi. Digunakannya telepon secara umum saja, dianggap sebagai alat yang bisa menyebarkan kutukan.

Nah, kembali ke Shutter dari Indonesia, pemainnya pun cukup mumpuni, yaitu aktor kawakan Vino G. Bastian, yang sudah dikenal lama dan anak Bastian Tito, sang novelis penulis Wiro Sableng. Anya Geraldine dan Donny Alamsyah pun mengisi pula film ini.

Okeh, sekali lagi, dicek saja sinopsisnya yaaa...

Sinopsis Shutter dari Indonesia

Darwin (Vino G. Bastian) adalah seorang fotografer eksentrik profesional. Dirinya unik karena di jaman sekarang, lebih suka menggunakan kamera manual dengan teknik pencucian fotonya, daripada menggunakan media digital.

Namun, selang berkarir lama, entah mengapa beberapa hasil foto jepretannya, banyak gambar 'noise' yang mengaburkan gambarnya. Darwin pun perlu berkonsultasi dengan temannya, Nugie, yang menganggap bahwa dia berhasil menangkap foto jurig, sambil bercanda.

Karena dianggap masalah teknis saja, akhirnya Darwin berkelakar saja kepada kekasihnya, Pia (Anya Geraldine), bahwa dirinya berhasil mendapatkan foto jurig. Tidak hanya kepada Pia, Darwin menunjukkan banyak foto horor tersebut kepada seluruh temannya.

Sayang memang tersayang, banyak penampakan mistis mulai menyelimuti Darwin, dan seluruh orang yang ditunjukkan fotonya. Pia yang sering membantu Darwin untuk mencetak fotonya, bahkan paling sering diteror jurig.

Satu persatu temannya Darwin pun menjadi korban, dengan berbagai kejadian aneh menimpa mereka. Darwin akhirnya perlu mengecek seluruh cetak fotonya, sekaligus menemukan profil wanita yang terus muncul di gambarnya.

Dapatkah Darwin menguak maksud jurig? Ataukah ada yang tersembunyi dibalik sosok fotografer atau kameranya?

Jawabannya, tentu ada di sinema Indonesia.

30 Oktober 2025

Rasanya Korea Selatan Sangat Terkutuk di Film The Cursed: Insatiable Desires

 

Bisa sampai kayang melayang akibat kesurupan (TMDB).

Okeh, saatnya kembali ke ranah jurig Asia, khususnya di film The Cursed dari Korea Selatan, yang kini sedang tayang di banyak sinema Indonesia.

Nah, karena seperti biasanya di berbagai film horor, cuplikan film The Cursed ini berisi adegan-adegan acak nan kurang nyambung, jadi kita cek saja premise-nya yaaa...

Terlihat memang, dari sedikit narasinya yang muncul, film ini mengisahkan ritual mistis aneh lainnya. Yaitu, membeli sebuah jurig, demi mendapatkan ambisi pribadi.

Sudah pernah dijelaskan di blog ini dengan berbagai nama ritualnya, namun ada satu perbandingan khusus di Indonesia, yaitu sebutan untuk istilah 'membeli jin,' atau pesugihan.

Entah apa istilahnya di Korea Selatan, namun kalau disini, ritual tersebut memang cukup terkenal. Istilahnya bahkan lebih acak lagi, yaitu kalau pengen kerjaan sukses, maka harus 'ditunggu,' 'diawasi,' dan 'dibantu,' oleh kekuatan dari dunia lain.

Saking harfiahnya, banyak paranormal sejenis dukun sakti, 'menyewakan' ilmu sakti ini kepada warga awam, namun 'butuh' ritual anehnya. Padahal, dari segi agama dan hukum negara, praktek sejenis ini sebenarnya telah dilarang.

Mungkin Sinopsis Film The Cursed: Insatiable Desires

Nah, khusus di film The Cursed ini, justru ilmu sakti 'ala jin' ini langsung berbalik. Langsung dari cuplikannya, banyak karakter dalam film ini berhasil menemukan sebuah 'pasar gelap' supernatural di malam hari.

Namun, selang beberapa lama 'menikmati hasil jeri payah jurig,' ilmu sakti tersebut malah mengejar sang 'klien.' Banyak kasus kematian aneh, terjadi di sekitar lokasi 'pasar malam' tersebut. 

Konon katanya, sekali 'dibeli,' jurig tidak bisa dikembalikan alias 'direfund.' Jadi ya... sekali bayar biaya ongkir, jurig akan terus berperan sebagai 'debt collector,' hingga saatnya menyeberang ke dunia berikutnya.

Okeh, pokoknya jangan sampai isekai, dengan begitu banyaknya kenikmatan duniawi yang membuat tergiur, tidak perlu lekat 'romansa' dengan para jurig. 

Oh, ya jangan lupa, tidak ada kemungkinan pasti, bahwa 'berkomunitas,' bersama jurig, akan ikut tertular pula 'kesaktiannya.'

Dan selalu ingat pula, selalu ADA yang membantu, jika memang melawan sesuatu yang tidak bisa dinalar sama sekali.

Serial The Cursed (2020) dan The Cursed: Dead Man's Prey (2021)

Oh ya, penulis akhirnya ngeuh dengan film The Cursed ini, setelah mengecek beberapa karya sebelumnya yang berjudul sama. Bahkan, cerita ini layaknya mengingatkan bagaimana kisah dunia perjurigan ala Indonesia terdahulu.

Setelah menonton beberapa episode serial The Cursed (Bangbeob) dari tahun 2020, ternyata satu karya ciamik dari Korea Selatan sana. Film ini, berkisah bagaimana ritual mistis, khususnya untuk mencari rejeki hingga santet, dijabarkan dengan modern. 

Bahkan, para karakternya bukan dukun semata, melainkan klien dari perusahaan besar Informatika, yang segera masuk bursa pasar di Korea Selatan. Mereka pun cukup menggila dalam menjalankan bisnisnya, bahkan hingga perlu menyewa dukun sakti dari beberapa negara Asia Timur, seperti China dan Jepang.

Saking menggilanya, dalam serial ini mereka berurusan langsung dengan polisi setempat. Kasus yang menjerat mereka, adalah akibat ulah mereka sendiri, yang cukup serakah dalam membasmi (nyawa) setiap pegawai, media, maupun aparat, yang bertindak melawan target mereka untuk segera viral dan cuan. 

Animo ini masih dilanjutkan hingga film dari serialnya, yang masih berisi karakter dan latar cerita yang sama. Namun, dengan sub-judul tambahan, yaitu Dead Man's Prey di tahun 2021. Oh ya, Yeon Sang-ho yang terkenal sejak pemimpin sebagai sutradara Train to Busan (2016), berkecimpung sebagai penulis naskah serial dan film Bangbeob ini.

Justru filmnya di tahun 2025 (dalam artikel ini), bersub-judul Insatiable Desires adalah yang paling beda dari waralaba The Cursed ini, dengan sutradara Hong Won-ki dan Yoo Young-seon sebagai penulis naskahnya.

Kisah Perusahaan Mistis Indonesia

Serial ini bak mengingatkan, bagaimana horornya kisah perusahaan besar di Indonesia terdahulu. Jaman tahun 80an, 90an, hingga awal 2000an, sempat ramai kabar bahwa kita sebagai pegawai biasa, harus bertindak dengan kinerja yang sesuai minat dan target perusahaan.

Jika tidak sanggup, maka bukan hanya diberhentikan, tetapi akan dilawan dengan kekuatan dari dunia lain. Ya, kisah mistis mengenai pembelian jin atau jurig, terjadi di banyak perusahaan besar Indonesia (istilahnya jin pelindung). Tidak hanya itu, istilah lainnya adalah korban perusahaan besar alias 'tumbal proyek,' yang masih ramai di ranah mistis dan maya ala internet.

Padahal, film ini dirilis di tahun 2020 loh. Namun, mirip sekali dengan Indonesia, sineas perfilman Korea Selatan memang sering membocorkan kisah Primbon-nya sendiri dengan jelas nan kentara, tidak seperti kisah dari Jepang maupun China (yang pemerhati pasti tahu kenapa).

Sudah beberapa kali penulis menonton film dari Korea Selatan yang mirip dengan film nasional, yaitu berbumbu komedi gelap nan kasar, serta bocornya para aparat korup, yang dengan senang hati digambarkan oleh para sineasnya. Bahkan, kisah jurig-nya pun makin mirip dengan gosip dari Indonesia terdahulu.

Memang ironi tersendiri, bagaimana kisah Korea Selatan, sangat mirip dengan kondisi nasional di Indonesia, baik lama maupun sekarang.

Dokumenter Horor ala Found Footage di Film Shelby Oaks

 

Entah jurig mana yang muncul di Shelby Oaks (TMDB).

Akhirnya, ada film sub-genre horor found footage yang dirilis di sinema Indonesia di bulan Oktober ini, yaitu Shelby Oaks

Sedikit Penjelasan Mengenai Found Footage

Nah, sebelum membahas sinopsis Shelby Oaks, coba dibahas dulu bagaimana found footage disajikan bagi penontonnya. Dari ranah sinematografi, justru film sejenis ini menerobos batas dasar prinsipnya, dan semakin sulit untuk direkomendasikan.

Dan, bahkan ada sub-genre lainnya yang lebih aneh lagi, yaitu mockumentary. Film sejenis ini menampilkan format film dokumenter, dengan setiap bab (chapter) ceritanya, disajikan ala berita investigasi. Namun, setiap ada perkembangan plot, pasti menyajikan 'plot twist' yang cukup mencengangkan. 

Contoh jelek dari film found footage ini, adalah kamera amatir berkualitas High Definition (HD) dengan gambar yang goyang, dialog terlalu 'biasa' sehingga terdengar kurang dramatis, lokasi yang terlalu gelap karena ingin 'realistis,' serta plot cerita yang kurang jelas fasenya (pacing).

Namun, justru seluruh 'keunikan' tersebut menjadi khasnya tersendiri, karena memang terasa seperti sebuah rekaman pribadi, dengan posisi penonton sebagai orang pertama. Bahkan, 'kesederhanaan' tersebut terasa meyakinkan, sehingga penonton lebih mudah 'terbawa' oleh ceritanya.

Sejak dimulai oleh film The Blair Witch Project di tahun 1999 lalu, puluhan film found footage telah 'ditemukan' oleh Hollywood dan banyak sineas dari seluruh dunia, khususnya dari Jepang, Korea Selatan, Perancis dan bahkan Indonesia.

Contoh dari Indonesia, para sineas nasional sering berperan di seri found footage berjudul V/H/S (2012), V/H/S/2 (2013), V/H/S: Viral (2014), V/H/S/94 (2021), V/H/S/99 (2022), V/H/S: 85 (2023), V/H/S: Beyond (2024), dan terakhir di tahun 2025 ini, V/H/S: Halloween.

Jadi, ramainya film found footage bagi sineas perfilman, layaknya para produser, penulis naskah, sutradara, aktor-aktris, kameramen, desainer suara, animator, dan editor di banyak kanal YouTube. 

Banyak kanal di portal ini, berisi khusus film horor pendek (sekitar 15 menit), namun menyajikan cerita dan visual yang cukup memukau. Bahkan, berbagai film pendek yang tersaji di YouTube, kadang dibeli karyanya, dan tercipta menjadi satu film panjang, yang bisa dirilis di bioskop atau layanan streaming daring.

Jadi, semakin mirip dengan berbagai cerita horor Indonesia, yang akhirnya diadaptasi sebagai naskah film. Satu contoh terakhirnya, adalah film Getih Ireng yang masih tayang di sinema Indonesia, yaitu adaptasi aslinya dari cerita horor di akun Threads @Jeropoint.

Okeh, tampaknya sudah terlalu panjang, jadi coba cek saja sinopsisnya. Eh, ga jadi, karena cuplikannya tidak terlalu jelas, alias 'misterius' ala film horor.

Sedikit saja, yaitu tokoh utamanya menemukan rekaman dari camcorder, yang berisi berbagai film pendek tidak jelas. Padahal, dirinya telah dinyatakan hilang dari Shelby Oaks, yaitu sebuah lokasi wahana hiburan terbengkalai.

Oh, ya, satu tips saja, karena tampaknya mengisahkan Urbex alias Urban Exploration (jelajah urban) khusus reruntuhan, yang memang sering dilakukan oleh para kreator konten, khususnya Indonesia pula.

Coba bawa sejenis senjata, khususnya yang tumpul, seperti tongkat kasti atau linggis, saat melaksanakan urbex. Bukan untuk melawan jurig, tetapi khusus bertahan diri (gelut) melawan sejenis gelandangan sangar, anjing liar rabies, atau terjebak di dalam lokasi terbengkalai tersebut.

Seluruh kemungkinan diatas mungkin terjadi, karena lokasi urbex yang terbengkalai, dan perlu dicek tingkat keamanannya. Jadi, tidak hanya membawa kamera saja, apalagi kalau memang ber-solo karir (!) Lebih bagus kalau bawa anjing penjaga sendiri. 

Jangan lupa bawa masker, karena tidak tahu zat (biologis dan kimiawi) apa yang tersisa dan terhirup oleh napas saat menjelajah. Sekaligus pula disinfektan, karena kalau tidak terhirup, mungkin tersentuh tangan.