![]() |
| Darwin yang masih setia dengan kamera lamanya (TMDB). |
Walau agak aneh juga, tetapi sineas perfilman Indonesia pun mengikuti cara Hollywood, yaitu mulai rajin me-reka ulang berbagai film rame terdahulu, dengan bumbu khas Indonesia tentunya.
Padahal penulis masih ingat, jaman mulai ramainya kembali film Indonesia di awal tahun 2000an, saat banyak film lokal dianggap plagiat dari film luar. Entah bagaimana produksinya, pokoknya banyak yang kurang suka dan menyajikan perbandingan langsungnya.
Nah, kali ini di akhir Oktober ini, justru sineas Indonesia melangkah berbeda, dengan membeli lisensi film luar, berjudul Shutter dari Thailand. Film Shutter adalah satu film legendaris dari Thailand, yaitu dirilis pada tahun 2004 lalu, yang membuka jalan bagi perfilman Thailand sebagai rajanya horor Asia Tenggara.
Seperti sudah dibahas di blog ini, Shutter adalah film yang cukup berbeda dari Thailand, karena lebih mirip film Jepang, yang khas dengan gaya investigasi plot utamanya, daripada menunjukkan banyak kengerian atau jumpscare.
Mungkin, film Jepang saat itu lebih mengemukakan bahwa, sejarah adalah hal terpenting dari suatu kisah, walau kebudayaannya sudah menyerap dan begitu lekat pada setiap warga dan kesehariannya. Visualnya bahkan lebih menunjukkan kengerian yang bikin merinding, dengan desain suara yang cukup 'dingin,' daripada sekedar Shock Value-nya (efek kejut).
Jadi ya..., istilahnya Primbon atau Paririmbon-nya memang harus dicek terlebih dahulu, daripada langsung pada tipe takhayulnya saja. Nilainya hidupnya adalah yang terpenting.
Okeh, kembali ke Shutter, yang mirip dengan Ringu (1998), yaitu mengisahkan seorang fotografer yang diterpa jurig. Berbeda dengan Ringu, yang terkutuk bukanlah rekamannya, tetapi foto yang dihasilkan kameranya.
Bahkan, kisah kemunculan foto penampakan sudah sering terjadi di dunia nyata, sejak ditemukannya kamera genggam pertama pada tahun 1826 lalu. Sejarah penampakan foto ini bisa dicek sejak tahun 1891 lalu, yang berisi siluet bangsawan Sybell Corbet, di perpustakaan Combermere, Inggris.
Banyak yang berspekulasi, bahwa kamera memang dapat melihat sejenis mahluk lain dari dunia sana. Kisah perkembangan teknologi memang sering dikaitkan dengan mistis, apalagi saat awal jaman industrialisasi. Digunakannya telepon secara umum saja, dianggap sebagai alat yang bisa menyebarkan kutukan.
Nah, kembali ke Shutter dari Indonesia, pemainnya pun cukup mumpuni, yaitu aktor kawakan Vino G. Bastian, yang sudah dikenal lama dan anak Bastian Tito, sang novelis penulis Wiro Sableng. Anya Geraldine dan Donny Alamsyah pun mengisi pula film ini.
Okeh, sekali lagi, dicek saja sinopsisnya yaaa...
Sinopsis Shutter dari Indonesia
Darwin (Vino G. Bastian) adalah seorang fotografer eksentrik profesional. Dirinya unik karena di jaman sekarang, lebih suka menggunakan kamera manual dengan teknik pencucian fotonya, daripada menggunakan media digital.
Namun, selang berkarir lama, entah mengapa beberapa hasil foto jepretannya, banyak gambar 'noise' yang mengaburkan gambarnya. Darwin pun perlu berkonsultasi dengan temannya, Nugie, yang menganggap bahwa dia berhasil menangkap foto jurig, sambil bercanda.
Karena dianggap masalah teknis saja, akhirnya Darwin berkelakar saja kepada kekasihnya, Pia (Anya Geraldine), bahwa dirinya berhasil mendapatkan foto jurig. Tidak hanya kepada Pia, Darwin menunjukkan banyak foto horor tersebut kepada seluruh temannya.
Sayang memang tersayang, banyak penampakan mistis mulai menyelimuti Darwin, dan seluruh orang yang ditunjukkan fotonya. Pia yang sering membantu Darwin untuk mencetak fotonya, bahkan paling sering diteror jurig.
Satu persatu temannya Darwin pun menjadi korban, dengan berbagai kejadian aneh menimpa mereka. Darwin akhirnya perlu mengecek seluruh cetak fotonya, sekaligus menemukan profil wanita yang terus muncul di gambarnya.
Dapatkah Darwin menguak maksud jurig? Ataukah ada yang tersembunyi dibalik sosok fotografer atau kameranya?
Jawabannya, tentu ada di sinema Indonesia.








0 comments:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.