10 Februari 2026

Kompilasi Film Horor yang Semua Tokoh Utamanya adalah Wanita: The Strangers: Chapter 3, Whistle, Panor 2, Waru

Maya yang harus ikut-ikutan (IMDB).

Untuk menyambung dengan hangat, hari kasih sayang di tanggal 14 Februari mendatang, sebaiknya kita rayakan dengan empat film horor saja (haha). Sayang seribu sayang memang, tapi mau gimana lagi. Bukannya penulis mau berbagi minat pecicilan, tetapi jadwal rilis keempat filmnya adalah minggu ini, di banyak sinema Indonesia. Apalagi seluruh tokoh utamanya, ternyata semuanya wanita.

Untuk menyambut perilisan film seperti ini, nanti dirilis tiga artikel Monsterisasi, yang semua tokoh utamanya wanita, dan diantaranya bergenre horor atau drama sehari-hari. Ya, tidak akan membahas romansa di minggu ini, namun kita cek saja dari genre lainnya.

Oh ya, ternyata rata-rata film horor ini memiliki rating berat pula, tiga diantaranya berating D17. Satu lainnya berating D21, karena memiliki banyak adegan daging-mendaging dengan latar tokoh utama seorang psikopat yang kesurupan.

The Strangers: Chapter 3

Okeh, ternyata film yang baru dirilis seri keduanya bulan Oktober tahun lalu, diakhiri dengan kisah romansa antara tokoh antagonis dan pemeran utamanya. Karakter Maya (Medelaine Petcsh) di The Strangers: Chapter 3, ternyata harus bergabung dengan grup psikopat, yang sebelumnya terus mengejar dirinya. 

Terlihat sekilas dalam cuplikannya, Maya dipasangkan topeng oleh tokoh psikopat bertopeng lainnya. Bahkan, keduanya hingga curhat di satu adegan, dengan berbincang kisah kematian seorang anggota keluarga atau temannya.

Entah maksud dari dialog tersebut, atau memang ritual khas psikopat bertopeng tersebut. Jadi, jumlah anggota grup psikopat akan terus bertambah atau terisi kembali, dengan menculik salah seorang penyintas sebelumnya. Mungkin sejenis Pansos, kali ya?

Atau, memang sejenis Stockholm Syndrome, yang perlu dibahas di artikel ini. Ya, bagi yang tahu arti dari gangguan mental sejenis ini, pasti langsung ngeuh melihat cuplikan filmnya. Karena antara penculik dan korban, malah saling berbagi empati satu sama lainnya. Bahkan, Maya terlihat dalam satu aksi, dimana dia harus ikut menyiksa korban lainnya, alias ikut 'inisiasi' grup psikopat ini.

Entah bagaimana kelanjutan film ini, apakah Maya perlu bertahan hidup saja, atau ikut berperan sebagai psikopat. Uniknya film horor saat ini, adalah banyak akhir cerita yang tidak terduga. Bukan hanya plot twist, tetapi beberapa kemungkinan (selalu) dapat terjadi setiap akhir film horor, bahkan hingga akhir terburuk.

Chrys dengan peluit Aztec keramatnya (IMDB).

Whistle

Berikutnya adalah film ala standar horor remaja, dengan tokoh utama yang cukup familiar, bernama aktris Dafne Keen sebagai Chrys Willet. Aktris berdarah Spanyol dan Inggris ini awalnya naik daun, semenjak memerankan Laura alias X23 di film Wolverine paling sedih, berjudul Logan dari tahun 2017 lalu. Keen sempat kembali dalam film Deadpool & Wolverine pada tahun 2024 lalu, dengan memerankan kembali X23 yang telah dewasa.

Kembali ke film Whistle, justru memiliki sineas perfilman yang berlatar mumpuni. Dalam cuplikannya tersemat dengan kentara dan bangga, nama sutradara Corin Hardy. Produksi film The Nun (2018) yang dipimpin oleh Hardy, adalah sejenis film sampingan (spin-off) dari waralaba The Conjuring. Studio produksi film Whistle pun cukup unik, yaitu No Trace Camping, yang sempat memproduksi film unik, berjudul Late Night with The Devil (2023).

Cukup mengherankan juga, karena awal cuplikan diisi dengan nama Independent Film Company (IFC), yang tetap setia merilis film bersama Shudder sebagai layanan siarannya. Keduanya memang terkenal dalam merilis banyak film horor unik dengan bujet terbatas. Contoh terakhirnya adalah film Good Boy, yang dirilis bulan Oktober tahun 2025 lalu. Mungkin karena sineasnya memiliki latar berbeda, sehingga film ini cukup banyak diisi para bintang.

Nah di film Whistle ini, Chrys Willet memiliki sebuah peluit keramat dari jaman suku Aztec terdahulu. Ketika ditiup oleh seseorang, maka sejenis jurig akan mengejar semua orang yang mendengar siulannya, dan membasmi mereka semua. Jurig yang muncul pun cukup kontras, karena berupa dan berwujud korbannya di masa depan, namun lebih sangar.

Panor yang kembali menjelma dalam dirinya (TMDB).
Panor 2

Nah, untuk film yang satu-satunya berating D21, Panor 2 cocok bagi para penikmat film sadis, dengan adegan intimidasi, darah-mendarah, daging-mendaging, alias body-horror-nya. Cukup terlihat sadis dari cuplikannya, yang memang berasal dari negara terhoror Asia Tenggara, bernama Thailand.

Film Panor sebenarnya bagian dari dunia Art of the Devil (Long Khong), yang dirilis pertama kalinya sejak tahun 2004. Waralaba film Art of the Devil dilanjutkan hingga menjadi trilogi, dengan perilisan sekuelnya di tahun 2005 dan 2008. Baru di bulan April tahun 2025 lalu, dirilis film Panor pertama dengan animo yang sama.

Berbeda lajur waktu dengan trilogi pertamanya, film Panor adalah prekuel dari Art of the Devil, berfokus latar karakter utamanya yang bernama sama. Panor (Cherprang Areekul) adalah nama seorang gadis terkutuk, yang masih bersekolah dan memiliki aura berbeda. Namun di film tahun 2026 ini, Panor telah lulus sekolah dan sedang mendalami ilmu sebagai pendidikan guru.

Fokus Panor sebagai karakter utamanya, ternyata kontroversial. Karena Panor dalam kesehariannya, adalah gadis biasa yang sedang tumbuh dewasa. Namun akibat memiliki kutukan warisan orangtuanya, maka saat ditindas, karakter kedua Panor akan muncul. Layaknya kepribadian ganda dan kesurupan alias kerasukan sekaligus ala Pamacan, Panor berubah sifat, sikap, dan aksi. Panor melawan balik dengan jahat, sehingga sangat kontras perbedaannya.

Melanjutkan film pertamanya, Panor tengah ditarget oleh keluarga dari korban sebelumnya. Tokoh 'antagonis' tersebut, ternyata tahu semacam ilmu hitam, demi melawan Panor yang lebih sakti mandraguna dari dirinya.

Berbeda dengan film Art of the Devil, justru film Panor lebih kentara dengan adegan sadisnya. Karena itu, ratingnya pun naik dari D17, menjadi D21. Bagi yang tidak suka kengerian sejenis ini, maka disarankan untuk menghindarinya saja.

Pohon Waru yang berwujud lebih ngeri (TMDB).

Waru

Dan kurang lengkap rasanya, jika membahas film horor tanpa mengikut-sertakan film dalam negeri. Kali ini tokoh utamanya masih wanita, yang berjudul film Waru. Masih mirip dengan animo horor lokal yang kental dengan budaya Jawa-nya, serta berbeda dengan mayoritas film luar negeri, Waru menceritakan kisah tumbal di lokasi yang menyeramkan.

Padahal Waru adalah sejenis nama tanaman, yang dikenal sebagai tanaman kapas pesisir pantai, khususnya di Jawa. Nama Waru itu sendiri kental sebagai sebutan di berbagai lokasi Jawa, yaitu di daerah Sunda, Jawa, dan Bali.

Namun di film ini, pohon Waru justru dihuni oleh sejenis jurig jahat, yang memiliki ritual khusus bagi pengikutnya. Dalam cuplikannya sendiri, terdapat satu referensi khusus dengan aksara Jawa, yang selalu kental dengan horornya. Jadi, semakin jelas referensi darimana film ini, beserta ritual pesugihannya. Ya, film ini berkisah tentang ritual pesugihan tumbal, seperti dilansir dari percakapan karakternya.

Surat dengan aksara Jawa yang ditampilkan, mengacu pada Lidya (Dewi Amanda) yang sering kesurupan hingga harus dipasung. Setelah diselidiki oleh anaknya yang bernama Nadine (Bella Graceva), ternyata gangguan mental ibunya adalah akibat perjanjian mistis terdahulu. Demi kesuksesan keluarga, pesugihan meminta tumbal satu kepala setiap tahunnya, namun tidak pernah dilaksanakan.

Karena itu, satu cara untuk membatalkan perjanjian ini, yaitu dengan membakar pohon Waru di sekitar rumah neneknya, yang bernama Waru (Yati Surachman) pula. Entah apa akhir ceritanya, kemungkinan yang terjadi adalah Nadine dan beberapa kawannya, tidak akan selamat dan malah memenuhi janji tumbal.

04 Februari 2026

Memahami Akhir Cerita Manga 20th Century Boys yang Gak Jelas

Kenji yang sudah terlalu lama damai (Pinterest).

Dan mungkin ini saatnya, untuk membahas si tokoh terkenal itu, yang matanya cuman satu, dan suka cari pengikut setia lalu bikin kisruh ala influencer pecicilan atau media abal-abal, alias penghasut dan manipulatif, bernama Sahabat di manga 20th Century Boys

Oh ya, manga ini Seinen loh, alias rating umur D17 dan harus cukup dewasa saat membacanya. Penulis pertama kali membacanya saat jaman kuliah terdahulu.

Sahabat yang manipulatif (Pinterest).
Dajjal-kah?

Ya, bukannya Dajjal ya... yang tampaknya menjadi inspirasi langsung bagi si mata satu ini. Dajjal atau Antichrist di Kristen, memang memiliki khas karakter bermata satu, layaknya Sahabat disana yang mata uangnya bermata satu pula. Ya, itu juga bermata satu dengan piramidnya. Untuk hubungan antara mata satu dengan Mesir, sudah dipecahkan dalam artikel Saitama, jadi tidak ada hubungannya sama sekali. 

Sementara bagi warga muslim, Dajjal memang sudah menjadi bahasan tersendiri. Warga muslim percaya, bahwa penjelmaan Dajjal banyak, tetapi tidak akan muncul hingga akhir dunia tiba. Namun, warga muslim dianjurkan agar tetap waspada dengan penjelmaan Dajjal, yang karakternya berwajah dan berperan baik, namun di baliknya ternyata manipulatif dan penghasut. Karakter paling kentara, adalah suka mencari banyak pengikut, demi kesan sebagai juru selamat.

Entah apa sumber bacaan Sensei Naoki Urasawa sebagai mangaka 20th Century Boys, tetapi seluruh sifat dan sikap karakter Sahabat, sangat mirip dengan Sang Mata Satu itu. Bahkan jika dicek melalui topeng perban di wajahnya, gambarnya adalah satu mata dengan telunjuk tangan kiri yang menunjuk ke atas. Sudah jelas, apa arti tangan kiri menunjuk ke atas?

Bahkan dalam berbagai adegan manga-nya, Sahabat ini sering melancarkan aksi teror manipulatif yang sangat berbahaya. Contohnya saat menyerang Tokyo dengan robot mecha bersenjata gas syaraf mematikan, saat malam tahun baru 2000 (alias Y2K?). 

Banyak tindakan berbahaya Sahabat, ditujukan bukan hanya untuk meneror warga biasa, namun menyalahkan langsung tokoh utama bernama Kenji dan kawan-kawannya. Padahal, Kenji dan buku novel inspirasi miliknya, hanyalah mainan bersama kawannya saat masa kecil terdahulu di tahun 1970an.

Naaaah karena itu, saatnya kembali ke tokoh utama, sang juru damai asli di akhir cerita 20th Century Boys. Seperti dalam judul artikel, cerita manga sebanyak 22 volume ini, diakhiri dengan arc yang kurang dipahami. Penulis sebenarnya baru saja membaca ulang beberapa bab akhir 20th Century Boys di tahun 2025 lalu. Jujur saja, baru ngeuh dengan akhir ceritanya yang agak abstrak.

Kenji Sang Juru Damai Saat Konser Musik

Penulis perlu menjelaskan, bahwa Arc akhir 20th Century Boys terasa aneh, karena dialog, plot, serta misi utama para karakternya kurang eksplisit. Terasa abstrak, karena tidak seperti sebelum time-skip, para karakter utamanya memiliki wacana tersendiri yang kurang nyambung satu sama lainnya. Seakan, klimaks cerita sengaja ditiadakan oleh Sensei Urasawa, demi memberi pesan yang lebih kentara. Yaitu, jalur damai saja senku...

Oh ya, katanya animo tidak jelas ini terus dilanjutkan hingga epilog cerita 20th Century Boys, yang berjudul 21st Century Boys. Dua volume manga ini berfokus pada kisah di dunia VR (Realitas Virtual) hasil cipta Sekte Sahabat. Isinya pun masih purwarupa, yaitu cerita masa kecil Kenji dan kawanan lamanya. 

Ya, kembali ke 20th Century Boys di akhir ceritanya. Kenji yang tidak jelas dan telah lama hilang, sekitar belasan tahun lamanya di akhir manga 20th Century Boys, perlu dijelaskan disini. 

Kenji dituduh sebagai dalang utama teror tahun baru 2000, jadi perlu menghilang sebagai buronan, terutama dari Tokyo. Kenji tidak banyak bertindak selama jadi pelarian, dan kembali menjadi pengamen jalanan, demi mencari makan, hunian sementara, sekaligus menghindari kejaran polisi. 

Perlu diingat pula, impian masa kecil Kenji adalah berperan sebagai seorang musisi, yang akhirnya gagal saat dirinya mengurus toserba milik keluarga, sambil mengasuh keponakannya yang bernama Kanna.

Namun di akhir cerita, Kenji dengan percaya diri tiba di Tokyo bersama motor tua dan gitar kesayangannya. Walau sudah tua (menjelang umur 50 tahun), namun justru terlihat nyentrik dan santai. Tidak terlihat beban yang dahulu dia panggul selama ini, dan lebih mirip musisi veteran dengan segala gimmick musiknya.

Konser Musik ala Kenji Endou (Reddit).

This Song Saved The World!

Okeh, lanjut ke cerita saat Kenji tiba di Tokyo, dengan ancaman pemboman oleh Sekte Sahabat, yang dilaksanakan sekaligus saat Konser Musik berlangsung di pusat kota. Berbeda dengan belasan tahun lalu, Tokyo kini telah berubah menjadi lokasi kumuh berdinding tinggi sebagai pemisah. Banyak warga Tokyo pun, telah sadar dengan keanehan Sahabat, namun takut karena Sekte ini memiliki pengaruh besar kepada pemerintahan Jepang.

Nah, kembali lagi ke anehnya Kenji dalam akhir 20th Century Boys. Sementara Kanna, kawan lama dan anggota grup Anti Sekte Sahabat, sedang sibuk mencari pemicu bomnya, justru Kenji malah asyik mencari jalan ke panggung konser. Tidak ada beban atau misi sama sekali, dengan hanya satu tujuan, yaitu bermain musik dihadapan warga Tokyo. Sementara ancaman bom memang hanya diketahui oleh grup Kenji yang aktif bergerilya, dan sedikit warga Tokyo lainnya.

Namun perlu ditelaah kembali, ternyata damainya Kenji menjadi simbol dan sikap besar dalam menanggulangi anehnya dunia akibat Sahabat. Saat Kenji bersama grupnya berhasil naik ke panggung untuk mulai bermusik, di saat itu pula sosok Sadakiyo yang khas topengnya, tengah memegang detonator bom di tangannya. 

Semakin aneh pula, bahwa kelompok gerilya yang perlu merebut detonator bom, malah dihentikan oleh Kenji. Bahkan Kenji menyarankan salah satu anggota grup lain yang tidak suka Sahabat, untuk menjatuhkan senjata dan membiarkan Sadakiyo dengan detonatornya. Walau begitu, akibat kisruh diatas panggung, Sadakiyo berhasil terlucuti dari detonator bomnya.

Dari situ, sikap damai Kenji menunjukkan hal yang lebih jelas dalam prinsipnya. Walau sudah lama menjadi buronan, dan sering terancam atas tuduhan yang salah, namun jalan kekerasan bukanlah jawabannya. Saking berperan sebagai pasifis, Kenji akhirnya mengambil jalur impian lamanya, yaitu menjadi seorang musisi saja. 

Sementara sosok Sahabat, Sadakiyo, atau siapa-pun yang berada di balik topeng, bagian dari Sekte Sahabat atau tidak, sudah bukan urusannya lagi. Terlebih lagi, dengan banyaknya jumlah penganut Sekte Sahabat, sosok dibalik topeng dapat tergantikan oleh banyak anggota. Sehingga, percuma saja untuk menguaknya.

Kenji mengingat pula dirinya sebagai seorang musisi, yang kenal dengan banyak prinsip dari musisi idolanya. Walau suatu sosok sudah lama tiada, atau bahkan tergantikan, lagu atau hasil karyanya akan terus bernaung hingga akhir jaman, asal ada yang mengingatnya saja. 

DAAAAAN, sang juru damai bernama Kenji ini, layaknya pengamen jalanan baru manggung, malah berkoar-koar di tengah panggung konser. Seakan dengan lantang menyuarakan, bahwa Lagu Ini Baru Saja Menyelamatkan DUNIA!

BWAHAHAHAHAHAHA!

Stay Vigilant, Brothers...

Karakter Utama yang Serba Salah Ala Gim Far Cry 3 Hingga 5


Vaas dengan definisi kegilaannya (Reddit).

Okeh, setelah tiga artikel Monsterisasi tentang tokoh utama alias MC dari anime, saatnya membahas tokoh utama yang serba salah dalam misinya, ala video gim Far Cry. Ya, di seri video gim tetembakan ini, justru pemainnya yang serba salah saat menentukan pilihan, dibandingkan tokoh antagonisnya. Ya (sekali lagi), tokoh antagonis di seri Far Cry memang lebih bijak dalam melaksanakan operasinya, walau secara moral patut dipertanyakan caranya.

Bahkan saking karismatik dan cukup tepat dalam prosedurnya, seri Far Cry sering digadang oleh banyak gamer, sebagai lahan untuk menunjukkan tokoh antagonis yang pintar. Selain itu, lahan gim ini cocok sebagai penggambaran, bahwa tokoh utama (alias pemain) yang banyak gelut dan ikut berkonflik, belum tentu benar dalam perjalanan mencapai tujuannya.

Gim Far Cry ini bergenre tetembakan alias First Person Shooter, dengan segala jenis senjatanya. Pemain diminta bergerilya, dalam melawan pasukan faksi musuh yang dipimpin oleh seorang tokoh kuat, namun otoriter dan diktator. Seri ini paling kentara dengan penggambaran tokoh antagonisnya. Untuk artikel ini, maka akan mengulas seri ke 3, 4 dan 5-nya, yang cukup berbeda setiap karakternya.

Satu konfirmasi dari penulis, bahwa penulis sudah lama tidak main gim FPS, sekaligus jarang main gim 3D, atau bahkan mengikuti ramainya gim mainstream. Hal itu karena spesifikasi minimum gaming yang semakin edan dan mahal, sekaligus dengan ukuran gim-nya (puluhan Gigabyte unduhan dan di-install). 

Selain itu, karena besarnya ukuran layar monitor yang kini dipakai dan kondisi kesehatan, begitu melihat gameplay FPS, justru langsung motion sickness. Kadang efek ini terjadi pula saat memainkan game TPS (Third Person Shooter). 

Karena itu, penulis berhenti bermain game 3D, dan lebih sering bermain gim isometrik 2D, yang kameranya tidak banyak bergerak. Bahkan saking pengen santainya, penulis sekarang lebih banyak bermain gim Roguelike, yang durasi (maksimalnya) hanya satu jam saja, tetapi langsung GG.

Okeh saatnya membahas Far Cry, yang dijabarkan sesuai ingatan penulis dan sedikit info dari Inet.

Jason Brody vs Vaas dan Citra di Far Cry 3

Nah, bagi yang ingat gim ini, tentu sangat kentara dengan referensi Indonesia. Bahkan satu faksi di gim Far Cry 3 bernama Rakyat, yaitu NPC dari suku pribumi lokal. Tidak hanya lokasinya yang berlatar tropis, terdapat bahasa lokal, serta hewan yang berkeliaran, mengambil referensi dari Indonesia. Contohnya adalah Selamat Tengah Hari, yang maksudnya adalah Selamat Siang. Untuk Hewan, contohnya adalah Tapir, Komodo, dan Kasuari yang khas berasal dari Nusantara.

Okeh, tapi di artikel Monsterisasi ini, justru perlu fokus membahas beberapa tokoh utamanya. Jason Brody hanya seorang turis, yang terjebak dalam Power Struggle di Kepulauan Rook. Penulis justru curiga, bahwa misi pengawasan AS di Rook, aslinya adalah milik kakaknya yang bernama Grant Brody, yang berlatar militer. Bahkan di lanjutan ceritanya, terdapat seorang anggota CIA tersembunyi, yang telah memantau Rook selama belasan tahun lamanya.

Nah sekali lagi, bukan itu pula fokus artikel Monsterisasi ini. Fokus utamanya adalah kisruh kekuasaan diantara tokoh antagonis Vaas, melawan Citra yang membantu Jason Brody. Kisruh keduanya pun cukup sederhana ternyata, karena keduanya adalah kakak-beradik yang mengambil jalur berbeda. Vaas memilih untuk bergabung dengan sindikat Narkoba di Rook, sementara Citra memilih melawan bersama gerilya dari Rakyat Warrior.

Penulis berpendapat bahwa, sebenarnya Vaas berniat baik saat bergabung dengan sindikat bajak laut. Walau tetap salah dalam mengalih-gunakan kepulauan milik sukunya sebagai lahan narkoba, namun Vaas yang aslinya berlatar Rakyat Warrior, sanggup menyeimbangkan kekuasaan dan konflik di Rook. Tanpa kehadiran Vaas yang disegani oleh dua kubu, maka konflik berpotensi lebih brutal. 

Lalu muncul pula anomali bernama Jason Brody, yang terpaksa bergabung dengan Rakyat Warrior demi menyelamatkan seluruh temannya. Jason sempat ditangkap oleh Vaas, namun gagal dibasmi langsung. Saat itulah terdapat adegan Vaas yang viral, saat menjelaskan bahwa definisi kegilaan adalah melakukan sesuatu yang sama berulang-ulang, dan berharap akan ada perubahan. Mungkin maksud Vaas disini lebih mirip siklus kekerasan di Rook, yang dihentikan oleh status quo milik dirinya sendiri, dan Jason Brody hanyalah satu anomali saja.

Jason akhirnya mencapai tingkatan Vaas, setelah berhasil mengalahkannya, dan telah beraksi membabi-buta sebagai Rakyat Warrior. Dari situ, muncul kegilaan Jason yang mirip dengan Demam Perang di Belantara Hutan. Jason pun diberi dua pilihan oleh gim-nya, yaitu bergabung selamanya dengan Rakyat Warrior, atau keluar dari Rook sambil menyelamatkan seluruh temannya.

Nah untuk kesekian kalinya, Vaas akhirnya benar lagi. Vaas tidak ingin siklus kekerasan terus berlangsung, dengan mengandalkan status quo kepulauan Rook sebagai lahan produksi narkoba dan pasukan bajak lautnya. Apalagi di pulau Rook selatan, terdapat faksi pasukan bayaran yang lebih berbahaya. Jika bajak laut di utara tidak sanggup menjaga, maka pasukan bayaran dari selatan akan tiba dan memperburuk keadaan. Dan sekali lagi, sang anomali bernama Jason sebagai Boga Lakon (Main Character), berhasil membasmi pasukan di selatan.

Nah sudah cukup penggambarannya, yang ternyata bisa disimpulkan dengan satu hal saja, yaitu status quo yang terlihat sangat buruk, dapat menghindarkan suatu area dengan konflik yang berlebih.

Tetapi di seri berikutnya, yaitu Far Cry 4 dan 5, justru lebih gelap lagi ceritanya. Di dua seri tersebut, dengan lantang menunjukkan bahwa tokoh utama (alias pemain), sebenarnya salah dan tidak ada benarnya sama sekali.

Pagan Min yang ternyata cukup baik bagi Ajay (Reddit).

Ajay Ghale vs Amita dan Sabal vs Pagan Min

Ajay Ghale adalah tokoh utama yang dimainkan saat Far Cry 4, dengan latar dua kewarganegaraan, yaitu negara fiktif bernama Kyrat, dan Amerika. Kyrat adalah negara fiksi dengan referensi mirip Tibet, atau wilayah lain di sekitar pegunungan Himalaya. Perlu tahu, bahwa Ajay tiba di Kyrat hanya untuk menyebarkan abu milik mendiang ibunya di Lakhsmana, sebagai penghormatan terakhir. 

Nah saat awal gim-nya, ada satu ending rahasia yang bisa langsung diungkap oleh pemain. Yaitu dengan menunggu 15 menit saat dijamu makan oleh tokoh antagonis bernama Pagan Min. Jika waktunya terlewati, Ajay akan dikawal oleh Pagan Min menuju lokasi Lakhsmana, lalu dengan damai menyebarkan abu milik ibunya. Dan gim pun tamat, tanpa ada konflik berlebih.

Lalu, bagaimana dengan para pemain yang ingin tembak-menembak di gim Far Cry? Di pilihan awal itulah, saat pemain diminta melarikan diri dari lokasi rumah Pagan Min, lalu bergabung dengan grup pemberontak bernama The Golden Path. Justru disitulah letak uniknya Far Cry 4, dimana justru konflik bersenjata di Kyrat, ternyata menyiratkan sesuatu yang lebih gelap dan berbahaya. 

Tujuan dari Golden Path memang membebaskan diri dari kekangan Pagan Min dan banyak pasukan Royal-nya. Namun di akhir gim terdapat pilihan bagi pemain, untuk membasmi satu ketua pemberontak. Dua yang perlu dipilih pemain, yaitu Amita atau Sabal, yang dapat merubah ending Far Cry 4. Jika memilih salah satunya, maka berpotensi besar menyebabkan Perang Sipil lainnya di Kyrat. Keduanya memang memiliki jalur wacana berbeda, namun sama-sama diktator.

Pilihan apapun yang diambil pemain, maka tetap akan berakhir buruk bagi Kyrat dan banyak warga di dalamnya. Sementara itu, Ajay malah pergi dari Kyrat dan kembali ke hidupnya yang lebih damai di Amerika. Jadi, pilihan ending rahasia, justru menjadi opsi terbaik bagi Kyrat dan warganya.

Okeh, segitu saja sudah memunculkan maksud cerita di Far Cry 4. Bagaimana dengan Far Cry 5? Lebih parah lagi di seri kelima ini, dan hanya bisa disimbolkan dengan satu istilah, yaitu Luar Binasa.

Sang peramal akhir dunia, Joseph Seed (Reddit).

Kita vs Seluruh Dunia di Far Cry 5

Nah justru di Far Cry 5, referensinya langsung dari jaman keemasan hippie dan Perang Dingin sekaligus, alias atmosfer Perang Nuklir yang kentara di Amerika sana. Ya, memang mengisahkan tentang seorang diktator dan penjahat lain berlatar gembong Narkoba. Namun tokoh antagonis bernama Joseph Seed, ternyata benar 100 persen saat di akhir gim.

Tokoh utama yang dimainkan tidak memiliki latar, alias avatar bagi pemainnya. Karakternya bisa di-kustomisasi, walau entah apa gunanya karena tetap saja FPS, alias tidak akan kelihatan. Lokasinya pun mengambil referensi Hope County di Montana, AS. Terlihat lebih damai dari gim sebelumnya, karena berada di Midwest Amerika yang jarang mengalami konflik.

Berbeda dengan seri sebelumnya yang memberi banyak pilihan, gameplay di Far Cry 5 justru lebih linier, dengan pilihannya yang sedikit. Yaitu saat pemain harus memilih membasmi atau tidak Joseph Seed. Uniknya, pilihan apapun yang dipilih pemain, hasilnya akan tetap sama. 

Jika memilih membasmi Joseph Seed, maka Perang Nuklir yang diramalkan oleh Joseph akan terjadi, dan menyebabkan banyak kota luluh lantak. Justru Hope County yang agak jauh dari pemukiman padat, akan selamat dari kehancuran langsung. Kabar mengenai tokoh utama pun tidak diketahui, karena gim berakhir begitu saja.

Sementara jika tidak membasmi Joseph Seed, tokoh utama serta Joseph akan terpenjara di dalam bunker perlindungan bencana nuklir. Keduanya akan terkunci lama, sementara menunggu efek radiasi sisa nuklir mereda dan dunia luar sanggup dihuni kembali oleh manusia.

Jadi, pilihan apapun yang dipilih pemain, berakhir buruk bagi semuanya. Justru selama ini, Joseph dengan sekte sesat dan paranoid akhir dunianya, berhasil membuktikan bahwa dirinya benar dengan Perang Nuklir yang tiba. 

Jadi, apa inti dari Far Cry 5 ini? Tidak ada sama sekali. Far Cry 5 adalah satu contoh, saat suatu video gim diakhiri dengan buruk. Seakan menyimbolkan, bahwa seluruh konflik serta kemajuan jaman tersebut, berakhir seketika oleh dentuman bom nuklir.

Okeh, tamaaaaat.

Oh ya, ada satu simbol lain mengenai video-gim, yaitu kental Guilty Pleasure-nya. Dengan cerita dari tiga seri Far Cry yang seluruhnya berpotensi lebih buruk bagi dunianya, maka yang tersisa hanyalah gameplay bagi pemainnya. Jadi maksud yang paling kentara adalah, gim hanya sekedar tembak-menembak, ditambah Looting Mania, sekaligus Power Creeping yang menggila. 

Okeh, mungkin akan tamat dan berakhir seketika Luar Binasa... 

Alias jangan pula terpapar Main Character Syndrome yaaa.....

03 Februari 2026

Berkelana ke Pulau Papua di Film Teman Tegar Maira

 

Maria, Tegar, dan kawan yang heran dengan apa gerangan di Papua (TMDB).

Saatnya kembali lagi ke pulau besar Papua di penghujung Indonesia, dalam film Teman Tegar Maria, yang tayang di sinema Indonesia dengan rating Semua Umur. Nah, seperti film Tegar sebelumnya di tahun 2022 lalu, kali ini tokoh utamanya tetaplah Tegar, yaitu seorang aktor disabilitas, yang berjibaku dengan semangat hidupnya.

Tegar yang tidak memiliki dua tangan dan satu kaki, memang memiliki banyak tantangan hidup. Seperti dicontohkan dalam filmnya di tahun 2022 lalu yang diproduksi bersama Deddy Mizwar, Tegar masih mencoba untuk bersekolah dan memiliki banyak teman.

Nah di tahun 2026 ini, Tegar justru melanglangbuana hingga Pulau Papua sana. Di sana, Tegar tinggal dan belajar dari suku pribumi Papua, demi memahami kearifan lokal setempat. Dalam film keduanya ini, studio Aksa Bumi Langit merekam lokasi syuting dengan keindahan alam Papua, yang sangat terlihat memukau dalam cuplikannya. 

Film ini adalah kedua kalinya dalam beberapa bulan terakhir, yang mengangkat kisah dari pulau paling ujung Nusantara ini. Sebelumnya pada bulan Desember lalu, film berjudul Timur sempat mengadaptasi kekisruhan di Pulau Papua, namun dengan bumbu aksi ala aktor Iko Uwais dan studio miliknya.

Tentu sama dengan kisah kekayaan alam dan ekspansi kelapa Sawitnya, kisah di film Teman Tegar Maria ini berlatar belakang pula kisruhnya alam Indonesia.

Lowongan Pekerjaan dan Pengalihan Fungsi Lahan

Sayang seribu sayang memang, kisah membuka lowongan pekerjaan di Indonesia, malah menjadi wacana untuk mengalih-gunakan alam menjadi lahan perkebunan. Layaknya banyak meme yang dilancarkan oleh warganet, Wapres kita saat kini sering dianggap kurang paham dengan janjinya sendiri. 

Contohnya di Jawa Barat saja, beberapa lokasi akan dialih-gunakan sebagai Perkebunan Kelapa Sawit. Penanaman ini akhirnya diprotes warga sekitar lahan, dan dilarang oleh Gubernar Jabar saat ini.

Dari segitu, daripada bikin meme lucu-lucuan atau sekedar protes, penulis memiliki pendapat sendiri. Jaman wacana lowongan pekerjaan serta banyak industri yang mendukungnya, sebenarnya sudah lewat. Wacana seperti itu sudah ada sejak dua presiden pertama Indonesia, yaitu Ir. Soekarno dan Jenderal Soeharto. Namun, keduanya memang menjabat saat awal Indonesia baru merdeka, yang perlu diawasi serta dibantu secara langsung oleh pemerintahnya.

Namun selepas jaman reformasi dengan segala wacana barunya, seharusnya dialihkan kepada pengusaha, industri, serta warganya sendiri. Karena Indonesia sudah cukup maju, jadinya Pemerintah tinggal mengawasi, membuat regulasi, mengatur penerapannya, dan mengaudit kinerjanya. Itulah fungsi utama sebuah pemerintahan, yang sesuai dengan konsep dasarnya, yaitu mengurus negara dan segala urusan administrasinya. 

Lalu, mengapa wacana lowongan pekerjaan malah berubah menjadi pengalihan lahan? Justru disitulah batas kuasa pemerintah dalam fungsi administrasinya. Memang, pengalihan fungsi lahan (awalnya) hanya bisa disetujui dan diterapkan oleh pemerintah, sementara sisanya dilaksanakan oleh Pengusaha beserta Perusahaan miliknya (semacam proyek). Warga yang berada di sekitar lahan, serta pegawai yang bekerja di dalamnya, harus diberi perlindungan oleh pemerintah, karena tujuan utama bisnis tetaplah mengejar untung.

Justru, saat ini pemerintah Indonesia berlaku layaknya broker usaha, dengan segala jenis komoditasnya. Sikap seperti ini layaknya pengusaha yang mencari untung, daripada mengatur infrastruktur serta regulasinya. Hasilnya? Pemerintah yang masih kurang becus dalam dasar fungsi administrasinya, apalagi berjibaku pada banyak proyek, yang hanya menguntungkan perusahaan saja. 

Apalagi dengan kekisruhan tahun 2025 kemarin, yang berfokus pada anggota DPR pusat sana. Dari situ saja terlihat, bahwa dengan besarnya gaji, anggota DPR sebenarnya lebih mementingkan urusan Partai dan Komunitasnya. Karena mereka berlaku layaknya Marketing Communication Perusahaan bernama Partai, dan bukannya sebagai perwakilan rakyat. Tidak heran banyak urusan rakyat (yang bahkan mencapai tingkatan konspiratif), tidak diselesaikan sama sekali. 

Mungkin anggota DPR menganggap ada broker lain yang hanya meramaikan media massa saja. Tetapi, anggota DPR bisa pula berperan sebagai broker yang melaksanakan tingkatan konspiratif tersebut. Karena memang berhubungan langsung dengan pekerjaan sehari-hari mereka, lalu dengan gaji besar yang nganggur, serta bisnis dan investasi yang aman di relasi partainya.

Ya, kalau ada yang bertanya mengapa Indonesia tidak maju juga, tetapi makin kacau di pemberitaannya, dapat disederhanakan saja penyebabnya. Karena pemerintah yang berlaku sebagai broker usaha, daripada mengurusi dengan rapih, benar, dan jujur dalam fungsi utamanya, yaitu (sekali lagi) sebagai badan administratif.

Kekisruhan administratif ini pun ditampilkan pula secara gamblang dalam film Teman Tegar Maira. Ya, terdapat satu adegan dalam cuplikannya mengenai alih fungsi lahan di pedalaman Papua. Sementara Tegar dan kawan-kawannya yang paham dari segi administrasi, ingin membereskan masalah tersebut dengan mengurusi lembar kertas kuasanya saja.

Sinopsis Film Teman Tegar Maria

Tegar (Muhammad Aldifi Tegar Rajasa) kali ini berada jauh dari rumahnya, yaitu di Pulau Papua. Disana, Tegar tinggal untuk belajar mengenai kearifan lokal suku Pribumi Papua, serta kekayaan alamnya sekaligus. Tegar pun langsung kagum, dengan indahnya alam disekitar desa tempatnya tinggal.

Namun baru berapa lama tinggal, terjadi masalah pembabatan hutan demi pengalihan fungsi lahan di sekitar lokasi desanya. Apalagi, masalah ini bukanlah penebangan liar, melainkan resmi dengan kuasa dari pemerintah setempat. Tegar yang cukup paham akan masalah administrasi, berinisiatif untuk merusak lembaran dokumen izin penebangan tersebut. Namun temannya tetap melarang, karena lembaran semacam itu pasti ada salinannya.

Mulailah petualangan Tegar, Maria, dan kedua kawannya, dalam menemukan kembali surat wasiat mengenai desa tempat tinggalnya. Jika ditemukan, surat tersebut akan menjadi bukti, bahwa lokasi desa adalah tanah adat milik warisan budaya leluhur beserta warganya. 

Sanggupkah Tegar sekawan menyelamatkan asrinya alam di Papua?

Jawabannya, tentu ada di keberagaman alam ala sinema Indonesia.

Repotnya Terjangkit Diabetes di Korea Selatan Ala Film Sugar

 

Dong-myeong yang terjangkit penyakit berat (TMDB).

Berikutnya adalah film drama mengenai kesehatan yang cukup jarang namun fatal terjadi, yaitu berjudul Sugar dari Korea Selatan, yang berkisah terjangkitnya penyakit Diabetes Tipe 1. Film berating Semua Umur ini memang ditujukan bagi seluruh anggota keluarga, untuk ditonton bersama di sinema Indonesia.

Diabetes Tipe 1

Seperti dilansir dari Healthline, Diabetes Tipe 1 adalah sejenis penyakit auto-imun, yaitu saat sistem kekebalan menyerang tubuhnya sendiri. Diabetes ini memang berasal dari tubuh penderitanya tanpa ada penyebab dari luar, atau akibat pola makan dan gaya hidup yang kurang sehat. Kadang terdapat pula faktor keturunan, sehingga perlu dicek riwayat kesehatan dari orangtua atau kakek-neneknya. Karena itu, Diabetes Tipe 1 seringkali menjangkit pada anak kecil, atau remaja.

Dilansir dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Diabetes disebabkan oleh tubuh yang tidak menghasilkan insulin, atau kurang memprosesnya. Sehingga darah akan terus menyimpan gula, yang seharusnya diproses dan masuk ke dalam tubuh sebagai nutrisi. Akibatnya, kadar gula darah naik tinggi, sementara tubuh penderitanya kurang menerima nutrisi, lalu berakibat menurunnya berat badan, serta banyak gejala malnutrisi lainnya.

Khusus untuk Diabetes Tipe 1 yang terjadi akibat tubuhnya sendiri, maka tidak ada obatnya sama sekali. Karena Diabetes Tipe 2 terjadi akibat pola makan dan gaya hidup kurang sehat, maka kesehatan tubuh dapat disembuhkan dengan merubah kedua faktor tersebut. Menjaga pola makan dan gaya hidup yang sehat, adalah cara utama untuk mencegah terjangkitnya Diabetes, sekaligus pula obatnya. Namun saat pasien masih terjangkit, maka suntikan insulin diperlukan secara berkala oleh pasien, bagi kedua tipe diabetes tersebut.

Jadi, tidak ada satu obat khusus untuk Diabetes tipe manapun, selain asupan insulin yang dibutuhkan oleh tubuh, sebagai penanggulangannya. Biasanya, pasien Diabetes diminta mengenakan sejenis detektor, untuk mengecek kadar gula. Saat kadar gula darah tinggi, di saat itulah pasien membutuhkan suntikan insulin. Tergantung tingkat gejalanya, insulin harus diberikan setiap hari, atau beberapa kali setiap harinya.

Nah karena itu, film Sugar ini mengisahkan tentang sejenis Diabetes Tipe 1 yang tidak ada obatnya. Walau jarang penderitanya, namun ternyata cukup merepotkan banyak praktisi kesehatan, apalagi bagi pasien dan anggota keluarganya. 

Saatnya untuk mengecek sinopsis film Sugar ini.

Sinopsis Film Sugar

Mi-ra (Choi Ji-woo) adalah seorang ibu tunggal yang sangat bangga dengan anaknya, Dong-myeong (Ko Dong-ha). Dirinya selalu menjaga anaknya yang kuat dan aktif berolahraga, sehingga tidak akan menyerah begitu saja.

Namun, suatu hari Dong-myeong tiba-tiba jatuh sakit saat sedang bermain bola kasti, yang menyebabkan Mi-ra harus membawanya ke dokter. Setelah dicek di rumah sakit, ternyata Dong-myeong mengidap penyakit Diabetes Tipe 1, yang sama sekali tidak ada obatnya. Mi-ra yang kaget, tetap berusaha untuk membantu anaknya dalam menanggulangi penyakit berat ini. Mi-ra perlu memotivasi Dong-myeong, bahwa mengidap penyakit bukanlah suatu hal yang memalukan.

Salah satu cara mengecek gejala Diabetes, adalah dengan suntikan kecil setiap beberapa jam sekali, untuk mengecek kadar gula dalam darah pasien. Namun, Dong-myeong masih takut dengan jarum suntik, apalagi jika perlu menahan perih serta meneteskan darah. Karena itu, Mi-ra lalu mengecek alat detektor kadar gula darah, yang lebih mudah digunakan untuk anak. Dirinya pun berhasil meraih info, tentang alat bernama Dexcom, walau perlu diimpor dari luar negeri. 

Alat Dexcom yang berhasil dimodifikasi kembali oleh Mi-ra, ternyata cukup efektif dalam membantu anaknya, tanpa adanya rasa sakit berlebih. Mi-ra pun mulai berinisiatif, untuk membagikan alat modifikasi Dexcom kepada pasien Diabetes lainnya. Mi-ra lalu menjadi cukup terkenal di kalangan pasien Diabetes.

Namun, modifikasi serta penyebaran alat Dexcom tersebut, ternyata menyalahi aturan dagang dan produk di Korea Selatan. Pihak Bea Cukai pun menyita seluruh impor Dexcom, yang dipesan oleh Mi-ra. Penyitaan dan penahanan Mi-ra atas kasus ini, justru mengobarkan semangat bagi penderita Diabetes, dengan turun ke jalan dan berunjuk rasa demi mendukung Mi-ra beserta produknya.

Sanggupkah Mi-ra berhasil keluar dari tuduhan impor dan modifikasi ilegal ini? Hingga bahkan meraih paten atas modifikasi produk detektornya? Bagaimana pula dengan kesehatan Dong-myeong setelah lama terjangkit Diabetes?

Jawabannya, tentu ada di drama keluarga ala sinema Indonesia.

5 CM Per Second versi Live Action Muncul di Sinema Indonesia

 

Akari dan Takaki yang Gaje (TMDB).

Saatnya menikmati dirilisnya karya Sensei Makoto Shinkai berjudul 5 Centimeters Per Second, yang diadaptasi ala aktor-aktris nyata alias Live Action. Ratingnya pun masih sama, yaitu R13 alias remaja. Film yang dirilis awal bulan Februari 2026 di sinema Indonesia, cukup berbeda dengan versi anime. 

Makoto Shinkai tidak ikut berandil dalam produksi Live Action-nya. Bagi yang ingin mengecek beberapa film anime hasil karya Makoto Shinkai, bisa membaca artikel referensinya di Blog ini. Sensei Shinkai memang sudah senku sebagai sineas di perfilman Jepang, khususnya drama dengan banyak karya hebat, yang semuanya dimulai dari film anime 5 Centimeters Per Second ini.

Drama Live Action di Jepang

Nah, bagi yang agak risih dengan istilah Live Action, menurut penulis sih tidak perlu ragu untuk menontonnya. Justru karena tema anime ini adalah Drama Romansa pemuda-pemudi Jepang, maka akting yang ditampilkan lebih natural, dengan karakter yang realistis. Biasanya drama semacam ini di ranah perfilman Jepang, justru lebih kental dengan budayanya sendiri, dan berbeda dengan hebohnya anime.

Penulis sempat menonton beberapa anime yang kurang layak diadaptasi sebagai Live Action, contohnya adalah Attack on Titan (2015), yang berakhir Cringefest. Padahal AoT tidak seperti kebanyakan anime, yaitu atmosfernya yang serius, brutal, dan dingin, karena berlatar cerita militer. Namun, di AoT Live Action, malah jadi cringefest yang kurang nyambung sama sumber cerita aslinya.

Contoh karya lama bergenre drama dari Jepang, adalah film One Liter of Tears di tahun 2005, dan My Boss My Hero di tahun 2006. Keduanya memang menyajikan cerita yang bisa dikategorikan sebagai kisah drama sehari-hari, namun tetap menyanyat hati karena cukup dalam momennya. 

Versi Anime dan Live Action

Nah sesuai khasnya karya Makoto Shinkai, maka banyak latar tempatnya yang mengambil referensi lokasi di dunia nyata, dengan penggambaran yang tepat dan mendetail. Visual animenya pun sangat ciamik, dengan warna dan pencahayaan yang hangat, layaknya sebuah lukisan hidup.

Dari segi cerita, mungkin dijabarkan lebih panjang dan mendetail lagi. Jujur, penulis kurang ngeuh saat menonton anime 5 Centimeters Per Second ini, apalagi kurang terbiasa dengan drama romansa. Namun ceritanya cukup dingin, dengan adegan yang kurang begitu nyambung. Alias anime ini layaknya sebuah timeline saja, tanpa adegan dialog atau drama yang kentara. Justru karya Makoto Shinkai setelahnya, lebih banyak menggambarkan adegan yang lebih heboh.

Apalagi dengan durasinya yang hanya sekitar satu jam, maka adegan pun kurang dramatis. Nah karena itu di artikel sebelumnya yang membahas anime ini, justru penulis hanya menganjurkan untuk mendengarkan lagu di akhir film, berjudul One More Time, One More Chance. Maksudnya ada beberapa kekosongan adegan di anime ini, yang terisi saat lagu ini dimainkan di akhir film.

Segitu saja membahas versi animenya. Lalu, bagaimana dengan versi cerita Live Action-nya? Justru tidak begitu terlihat dalam cuplikannya, namun bisa dicek saja pada durasinya. Ya, film di tahun 2026 ini justru berdurasi dua kali lipat, alias dua jam. Menurut penulis, daripada seluruh kekosongan cerita justru berada di akhir film dengan lagunya, film ini akan diisi dengan banyak adegan yang lebih kentara di seluruh durasi penayangannya.

Realistisnya Cerita 5 Centimeters Per Second

Nah penulis tetap akan membahas, bahwa kisah di film ini sangat realistis. Saat masa muda yang penuh gejolak, hingga melangkah menuju dunia dewasa dan segala kesibukannya, hubungan komunikasi dan batin akan menjadi suatu halangan tertentu, atau terhalang oleh sesuatu.

Seperti kisah di 5 Centimeters Per Second, dimana karakternya telah kasmaran sejak berumur kecil. Namun, keduanya terpisah oleh jarak dan waktu. Ceritanya lalu berlanjut tentang kisah Long Distance Relationship (LDR), lalu mulai Lost Contact (LC), dan akhirnya tidak kenal sama sekali. Bahkan keduanya mungkin tidak akan kenal lagi dengan wajahnya, walau bertemu langsung. 

Keduanya memang digambarkan dengan alurnya masing-masing. Kedua karakter utama, yaitu Akari (Noa Shiroyama, Mitsuki Takahata) dan Takaki (Haruto Ueda, Yuzu Aoki, Hokuto Matsumura), melalui jalan hidup yang berbeda satu sama lainnya, semenjak terpisah. Keduanya sempat berhubungan dengan surat menyurat, walau akhirnya hilang kontak saat jaman ponsel tiba. 

Terdapat pula karakter ketiga lainnya, yaitu bernama Kanae Sumida (Nana Mori), yang sempat mengisi kekosongan Takaki saat masih bersekolah SMA, dan telah hilang kontak dengan Akari sejak lama. 

Bahkan, cerita ini berlanjut hingga Takaki yang telah dewasa, kuliah dan mulai bekerja di kota yang sama dengan Akari. Walau begitu, momen galau keduanya tetap disajikan berbeda. Kota yang telah dianggap (oleh Takaki) sebagai dunianya Akari, membuat dirinya tertekan akan masa lalu. Coba dicek saja, bagaimana perubahan Takaki di film ini, saat dirinya menginjak umur dewasa, dan kembali bernostalgia tanpa Akari.

Nah segitu saja, dan jangan heran bahwa artikel ini mengisahkan semuanya. Kenapa? Karena berbeda dengan film lain yang lebih Dramatis dan Epik sekaligus, film Romansa dan Drama ini justru tidak begitu 'Liar' ceritanya, dan mementingkan adegan yang lebih 'Relate' dengan penontonnya. Ya sekali lagi, adegannya memang cukup wajar namun nyambung, seperti khas karya drama dari Jepang sana. Jadi bagi yang menontonnya, harus lebih menjiwai setiap adegan yang muncul di layar.

Okeh, saya pun bingung. Sayounara!