03 Februari 2026

Repotnya Terjangkit Diabetes di Korea Selatan Ala Film Sugar

 

Dong-myeong yang terjangkit penyakit berat (TMDB).

Berikutnya adalah film drama mengenai kesehatan yang cukup jarang namun fatal terjadi, yaitu berjudul Sugar dari Korea Selatan, yang berkisah terjangkitnya penyakit Diabetes Tipe 1. Film berating Semua Umur ini memang ditujukan bagi seluruh anggota keluarga, untuk ditonton bersama di sinema Indonesia.

Diabetes Tipe 1

Seperti dilansir dari Healthline, Diabetes Tipe 1 adalah sejenis penyakit auto-imun, yaitu saat sistem kekebalan menyerang tubuhnya sendiri. Diabetes ini memang berasal dari tubuh penderitanya tanpa ada penyebab dari luar, atau akibat pola makan dan gaya hidup yang kurang sehat. Kadang terdapat pula faktor keturunan, sehingga perlu dicek riwayat kesehatan dari orangtua atau kakek-neneknya. Karena itu, Diabetes Tipe 1 seringkali menjangkit pada anak kecil, atau remaja.

Dilansir dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Diabetes disebabkan oleh tubuh yang tidak menghasilkan insulin, atau kurang memprosesnya. Sehingga darah akan terus menyimpan gula, yang seharusnya diproses dan masuk ke dalam tubuh sebagai nutrisi. Akibatnya, kadar gula darah naik tinggi, sementara tubuh penderitanya kurang menerima nutrisi, lalu berakibat menurunnya berat badan, serta banyak gejala malnutrisi lainnya.

Khusus untuk Diabetes Tipe 1 yang terjadi akibat tubuhnya sendiri, maka tidak ada obatnya sama sekali. Karena Diabetes Tipe 2 terjadi akibat pola makan dan gaya hidup kurang sehat, maka kesehatan tubuh dapat disembuhkan dengan merubah kedua faktor tersebut. Menjaga pola makan dan gaya hidup yang sehat, adalah cara utama untuk mencegah terjangkitnya Diabetes, sekaligus pula obatnya. Namun saat pasien masih terjangkit, maka suntikan insulin diperlukan secara berkala oleh pasien, bagi kedua tipe diabetes tersebut.

Jadi, tidak ada satu obat khusus untuk Diabetes tipe manapun, selain asupan insulin yang dibutuhkan oleh tubuh, sebagai penanggulangannya. Biasanya, pasien Diabetes diminta mengenakan sejenis detektor, untuk mengecek kadar gula. Saat kadar gula darah tinggi, di saat itulah pasien membutuhkan suntikan insulin. Tergantung tingkat gejalanya, insulin harus diberikan setiap hari, atau beberapa kali setiap harinya.

Nah karena itu, film Sugar ini mengisahkan tentang sejenis Diabetes Tipe 1 yang tidak ada obatnya. Walau jarang penderitanya, namun ternyata cukup merepotkan banyak praktisi kesehatan, apalagi bagi pasien dan anggota keluarganya. 

Saatnya untuk mengecek sinopsis film Sugar ini.

Sinopsis Film Sugar

Mi-ra (Choi Ji-woo) adalah seorang ibu tunggal yang sangat bangga dengan anaknya, Dong-myeong (Ko Dong-ha). Dirinya selalu menjaga anaknya yang kuat dan aktif berolahraga, sehingga tidak akan menyerah begitu saja.

Namun, suatu hari Dong-myeong tiba-tiba jatuh sakit saat sedang bermain bola kasti, yang menyebabkan Mi-ra harus membawanya ke dokter. Setelah dicek di rumah sakit, ternyata Dong-myeong mengidap penyakit Diabetes Tipe 1, yang sama sekali tidak ada obatnya. Mi-ra yang kaget, tetap berusaha untuk membantu anaknya dalam menanggulangi penyakit berat ini. Mi-ra perlu memotivasi Dong-myeong, bahwa mengidap penyakit bukanlah suatu hal yang memalukan.

Salah satu cara mengecek gejala Diabetes, adalah dengan suntikan kecil setiap beberapa jam sekali, untuk mengecek kadar gula dalam darah pasien. Namun, Dong-myeong masih takut dengan jarum suntik, apalagi jika perlu menahan perih serta meneteskan darah. Karena itu, Mi-ra lalu mengecek alat detektor kadar gula darah, yang lebih mudah digunakan untuk anak. Dirinya pun berhasil meraih info, tentang alat bernama Dexcom, walau perlu diimpor dari luar negeri. 

Alat Dexcom yang berhasil dimodifikasi kembali oleh Mi-ra, ternyata cukup efektif dalam membantu anaknya, tanpa adanya rasa sakit berlebih. Mi-ra pun mulai berinisiatif, untuk membagikan alat modifikasi Dexcom kepada pasien Diabetes lainnya. Mi-ra lalu menjadi cukup terkenal di kalangan pasien Diabetes.

Namun, modifikasi serta penyebaran alat Dexcom tersebut, ternyata menyalahi aturan dagang dan produk di Korea Selatan. Pihak Bea Cukai pun menyita seluruh impor Dexcom, yang dipesan oleh Mi-ra. Penyitaan dan penahanan Mi-ra atas kasus ini, justru mengobarkan semangat bagi penderita Diabetes, dengan turun ke jalan dan berunjuk rasa demi mendukung Mi-ra beserta produknya.

Sanggupkah Mi-ra berhasil keluar dari tuduhan impor dan modifikasi ilegal ini? Hingga bahkan meraih paten atas modifikasi produk detektornya? Bagaimana pula dengan kesehatan Dong-myeong setelah lama terjangkit Diabetes?

Jawabannya, tentu ada di drama keluarga ala sinema Indonesia.

5 CM Per Second versi Live Action Muncul di Sinema Indonesia

 

Akari dan Takaki yang Gaje (TMDB).

Saatnya menikmati dirilisnya karya Sensei Makoto Shinkai berjudul 5 Centimeters Per Second, yang diadaptasi ala aktor-aktris nyata alias Live Action. Ratingnya pun masih sama, yaitu R13 alias remaja. Film yang dirilis awal bulan Februari 2026 di sinema Indonesia, cukup berbeda dengan versi anime. 

Makoto Shinkai tidak ikut berandil dalam produksi Live Action-nya. Bagi yang ingin mengecek beberapa film anime hasil karya Makoto Shinkai, bisa membaca artikel referensinya di Blog ini. Sensei Shinkai memang sudah senku sebagai sineas di perfilman Jepang, khususnya drama dengan banyak karya hebat, yang semuanya dimulai dari film anime 5 Centimeters Per Second ini.

Drama Live Action di Jepang

Nah, bagi yang agak risih dengan istilah Live Action, menurut penulis sih tidak perlu ragu untuk menontonnya. Justru karena tema anime ini adalah Drama Romansa pemuda-pemudi Jepang, maka akting yang ditampilkan lebih natural, dengan karakter yang realistis. Biasanya drama semacam ini di ranah perfilman Jepang, justru lebih kental dengan budayanya sendiri, dan berbeda dengan hebohnya anime.

Penulis sempat menonton beberapa anime yang kurang layak diadaptasi sebagai Live Action, contohnya adalah Attack on Titan (2015), yang berakhir Cringefest. Padahal AoT tidak seperti kebanyakan anime, yaitu atmosfernya yang serius, brutal, dan dingin, karena berlatar cerita militer. Namun, di AoT Live Action, malah jadi cringefest yang kurang nyambung sama sumber cerita aslinya.

Contoh karya lama bergenre drama dari Jepang, adalah film One Liter of Tears di tahun 2005, dan My Boss My Hero di tahun 2006. Keduanya memang menyajikan cerita yang bisa dikategorikan sebagai kisah drama sehari-hari, namun tetap menyanyat hati karena cukup dalam momennya. 

Versi Anime dan Live Action

Nah sesuai khasnya karya Makoto Shinkai, maka banyak latar tempatnya yang mengambil referensi lokasi di dunia nyata, dengan penggambaran yang tepat dan mendetail. Visual animenya pun sangat ciamik, dengan warna dan pencahayaan yang hangat, layaknya sebuah lukisan hidup.

Dari segi cerita, mungkin dijabarkan lebih panjang dan mendetail lagi. Jujur, penulis kurang ngeuh saat menonton anime 5 Centimeters Per Second ini, apalagi kurang terbiasa dengan drama romansa. Namun ceritanya cukup dingin, dengan adegan yang kurang begitu nyambung. Alias anime ini layaknya sebuah timeline saja, tanpa adegan dialog atau drama yang kentara. Justru karya Makoto Shinkai setelahnya, lebih banyak menggambarkan adegan yang lebih heboh.

Apalagi dengan durasinya yang hanya sekitar satu jam, maka adegan pun kurang dramatis. Nah karena itu di artikel sebelumnya yang membahas anime ini, justru penulis hanya menganjurkan untuk mendengarkan lagu di akhir film, berjudul One More Time, One More Chance. Maksudnya ada beberapa kekosongan adegan di anime ini, yang terisi saat lagu ini dimainkan di akhir film.

Segitu saja membahas versi animenya. Lalu, bagaimana dengan versi cerita Live Action-nya? Justru tidak begitu terlihat dalam cuplikannya, namun bisa dicek saja pada durasinya. Ya, film di tahun 2026 ini justru berdurasi dua kali lipat, alias dua jam. Menurut penulis, daripada seluruh kekosongan cerita justru berada di akhir film dengan lagunya, film ini akan diisi dengan banyak adegan yang lebih kentara di seluruh durasi penayangannya.

Realistisnya Cerita 5 Centimeters Per Second

Nah penulis tetap akan membahas, bahwa kisah di film ini sangat realistis. Saat masa muda yang penuh gejolak, hingga melangkah menuju dunia dewasa dan segala kesibukannya, hubungan komunikasi dan batin akan menjadi suatu halangan tertentu, atau terhalang oleh sesuatu.

Seperti kisah di 5 Centimeters Per Second, dimana karakternya telah kasmaran sejak berumur kecil. Namun, keduanya terpisah oleh jarak dan waktu. Ceritanya lalu berlanjut tentang kisah Long Distance Relationship (LDR), lalu mulai Lost Contact (LC), dan akhirnya tidak kenal sama sekali. Bahkan keduanya mungkin tidak akan kenal lagi dengan wajahnya, walau bertemu langsung. 

Keduanya memang digambarkan dengan alurnya masing-masing. Kedua karakter utama, yaitu Akari (Noa Shiroyama, Mitsuki Takahata) dan Takaki (Haruto Ueda, Yuzu Aoki, Hokuto Matsumura), melalui jalan hidup yang berbeda satu sama lainnya, semenjak terpisah. Keduanya sempat berhubungan dengan surat menyurat, walau akhirnya hilang kontak saat jaman ponsel tiba. 

Terdapat pula karakter ketiga lainnya, yaitu bernama Kanae Sumida (Nana Mori), yang sempat mengisi kekosongan Takaki saat masih bersekolah SMA, dan telah hilang kontak dengan Akari sejak lama. 

Bahkan, cerita ini berlanjut hingga Takaki yang telah dewasa, kuliah dan mulai bekerja di kota yang sama dengan Akari. Walau begitu, momen galau keduanya tetap disajikan berbeda. Kota yang telah dianggap (oleh Takaki) sebagai dunianya Akari, membuat dirinya tertekan akan masa lalu. Coba dicek saja, bagaimana perubahan Takaki di film ini, saat dirinya menginjak umur dewasa, dan kembali bernostalgia tanpa Akari.

Nah segitu saja, dan jangan heran bahwa artikel ini mengisahkan semuanya. Kenapa? Karena berbeda dengan film lain yang lebih Dramatis dan Epik sekaligus, film Romansa dan Drama ini justru tidak begitu 'Liar' ceritanya, dan mementingkan adegan yang lebih 'Relate' dengan penontonnya. Ya sekali lagi, adegannya memang cukup wajar namun nyambung, seperti khas karya drama dari Jepang sana. Jadi bagi yang menontonnya, harus lebih menjiwai setiap adegan yang muncul di layar.

Okeh, saya pun bingung. Sayounara!

29 Januari 2026

Tanpa Batasnya Simbol Saat Gelut Saitama vs Boros di One Punch Man

 

Saitama vs Boros (Fiction Horizon).

Hehe, saatnya membahas satu anime yang sangat kentara dengan referensinya, OPM alias One Punch Man. Bagi para penggemar anime, tentu tahu bahwa OPM adalah parodi dari segala jenis anime, khususnya Battle Shonen atau Super Hero. 

Namun menurut penulis, ada satu adegan yang sangat kentara simbolismenya, daripada referensi Budaya Populernya. Ya sesuai judul, sangat kentara saat akhir musim pertama alias tahun 2016 lalu, saat Saitama duel melawan Boros diatas pesawat invasi. Bagi yang kurang ingat dengan gelutnya, bisa dicek saja di YouTube. Banyak kanal yang mengunggah klip khusus Saitama vs Boros.

Oh ya, sebelum membahas gelut yang lebih kentara ke penggambaran Boros, maka perlu diingat bahwa Saitama adalah referensi simpel. Saitama mengacu pada Biksu Shao Lin dari China, yang jelas berpakaian kuning dengan kepala botaknya. Bahkan selama bertahun-tahun, hidup Saitama hanya diisi latihan berat seharian, dengan hanya memakan pisang saja, layaknya biksu yang berlatih dengan pola makan vegetarian.

Simbol Ouroboros (Wikimedia).

Nama Boros

Boros mengambil referensi dari Ouroboros, yaitu sejenis simbol dari Mesir dan Yunani Kuno. Gambarnya cukup aneh, yaitu sejenis naga atau ular, yang memakan ekornya sendiri. Secara simbolis, interpretasi gambar ini adalah siklus tanpa akhir untuk kehidupan, kematian, dan kebangkitan kembali. Tetapi simbol ini berbeda jauh dengan Infiniti, yaitu bentuk pita berkesinambungan lebih jelas.

Padahal jika dicek secara sainsya, ular yang melahap ekornya sendiri, berarti ular tersebut sedang di penghujung hidupnya. Ular berarti gagal memangsa hewan lain, sehingga satu-satunya pilihan adalah melahap ekor sendiri. Atau, akibat ular yang stres dan salah mengartikan ekornya sendiri. Sesuai dengan anehnya sikap ular, dalam satu istilah frase bule, menggigit ekor sendiri berarti maksudnya adalah menyakiti diri sendiri.

Dari situ, cocok sebagai referensi langsung tentang kegilaan Boros, yang tiada habisnya. Boros adalah karakter jahat yang bertualang antar galaksi bersama anak buah dan pesawat miliknya, demi mencari gelut yang sepadan. Namun saat tiba di bumi, hasilnya adalah Saitama sanggup mengalahkannya. Bahkan, Boros merasa gelut tersebut tidak sepadan sama sekali, karena Saitama tidak mengeluarkan seluruh kemampuannya.

Dua Mata Boros

Kalau yang kurang ngeuh, pasti menganggap bahwa mata Boros hanyalah satu, alias di wajah saja. Padahal jika dicek adegannya, mata Boros ada dua, yaitu satu lagi berada di perutnya, yang menutupi kristal regenerasinya. Ya, dua mata ini adalah simbol dari dua dewa Mesir Kuno, yaitu Dewa Ra dan Dewa Horus. 

Oh ya, simbol satu mata ini tidak mengacu ke satu tokoh terkenal itu loh, yang memang matanya hanya satu, dan suka bikin kisruh sedunia, dari jaman terdahulu hingga sekarang.

Di mitologi Mesir Kuno, Dewa Ra adalah Dewa Matahari, dengan mata (kanan)-nya sebagai simbol. Dewa Ra bisa diartikan pula sebagai kekuatan besar dunia, yang dapat menghalau musuh manapun. Matahari bukan hanya simbol, karena dalam kesehariannya, warga Mesir Kuno menggunakan penanggalan matahari, alias 365 hari setahunnya. Khusus di Boros, berarti ini adalah mata di bagian wajahnya, alias penunjuk arah dan identitas.

Sementara mata kedua yang berada di perut, mengambil referensi simbol Mata Horus. Dewa yang satu ini, menyimbolkan kesejahteraan, kesembuhan, dan perlindungan. Maka, mata yang satu ini cocok ditempatkan di perut, walau tidak begitu jelas penggambarannya di tubuh Boros. Tetapi, Boros berkemampuan regenerasi yang sangat kuat dan cepat, sesuai dengan simbol Dewa Horus, dan siklus Infiniti (tanpa batas) ala Ouroboros.

Ada dua adegan yang perlu dicek mengenai kemampuan regenerasi Boros saat melawan Saitama. Yaitu saat Saitama memukul keras Boros, tepat di bagian perut. Lalu saat Saitama memukul cepat dan banyak, untuk menghancurkan seluruh tubuh Boros. Sayangnya, masih tersisa kristal regenerasinya, sehingga Boros berhasil menyembuhkan tubuhnya.

Bumi, Bulan, dan Matahari

Kali ini, bukan hanya mengacu pada simbol kedua karakter, tetapi adegan langsung saat gelutnya. Saat Boros akhirnya berhasil menendang keluar Saitama dari Bumi, dan berakhir di permukaan Bulan. Dari situ, Saitama tetap berhasil loncat kembali ke Bumi, dan langsung berhadapan dengan Boros.

Simpel saja seperti sudah diutarakan sebelumnya, Saitama adalah visualisasi Biksu Shao Lin dari China. Berarti, dengan dirinya yang berakhir di Bulan, layaknya mengingatkan China yang (secara tradisional) masih menggunakan penanggalan Bulan dalam kehidupan sehari-hari. Sementara Boros dari Mesir Kuno, sudah pasti berlandaskan siklus Matahari sebagai penanggalannya. 

Tidak ada definisi berarti dalam keduanya, karena memang menggambarkan dua jenis penanggalan berbeda. Di negara seperti China dengan kalender Bulannya, Hijriyah ala negara Muslim, serta penanggalan Jawa yang kental, Bulan memang menjadi landasan utama di kalender.

Sementara di seluruh dunia, Masehi alias penanggalan matahari, masih menjadi standar kerjasama internasional. Jika dicek sejarahnya, Mesir Kuno memang mempengaruhi banyak kerajaan dalam penanggalan mataharinya, sementara Yunani hingga Romawi Kuno masih menggunakan tanggal ala Bulan. Baru mendekati tahun Masehi, Romawi akhirnya mengadaptasi penanggalan Matahari.

Pendapat Penulis tentang Siklus Ouroboros

Penulis sendiri memiliki pendapat khusus dengan Ouroboros, yang sangat destruktif pada diri sendiri (dan orang lain), padahal bagian utama dari siklusnya. Ya, bukannya penulis memiliki masalah menyakiti diri sendiri (atau orang lain), tetapi terdapat suatu bentuk destruktif yang perlu dihindari.

Tidak hanya mengacu pada Biksu yang damai, atau Ouroboros yang destruktif, tetapi penulis memang perlu menjabarkan simbol ini di banyak media. Dari segi ini, walau saya menulis dan menjabarkan simbol yang ada di banyak media terkenal, namun cukup sulit untuk menghindari pola destruktif-nya. Ya, setiap media memang memiliki pola ancur-ancurannya sendiri.

Apalagi jika mengacu pada Seni Populer atau bahkan Jurnalistik, yang kehilangan dasar konsep serta Primbonnya (seakan Politik Praktis). Bahkan, beberapa media seperti itu, layaknya ngalor-ngidul di artikel Monsterisasi, yang (bisa jadi) tidak cocok referensinya, dan bahkan kurang sesuai dengan kebutuhan kesehariannya.

Nah karena itu, (mungkin) One Punch Man menjadi artikel terakhir Monsterisasi berisi anime. Nantinya artikel sejenis ini tidak akan ditulis setiap minggunya, dengan referensi yang lebih berat di genre dan media lain, khususnya horor.

Okeh, Amitabha.

27 Januari 2026

Horornya Jurig Orok dari Taiwan di Film Mudborn

 

Kisah keluarga yang menunggu momongan (TMDB).

Sudah saatnya mengalihkan perhatian ke ranah perfilman dari Taiwan, khususnya dalam genre horor. Contohnya akhir Januari ini, dirilis film berjudul Mudborn di sinema Indonesia, dengan rating yang sama seperti sebelumnya, yaitu D17. Walau sudah dirilis tahun 2025 lalu dan baru masuk Indonesia di tahun 2026, Mudborn tampaknya melanjutkan animo horor berbeda dari Taiwan sana.

Sedikit Kabar Horor dari Taiwan

Taiwan memang sudah cukup jarang terdengar mengenai ranah perfilmannya lagi, khususnya di Nusantara. Namun, menjelang tahun 2020an, gaung horor mulai terdengar dari negara kepulauan di semenanjung China ini. 

Awalnya (menurut penulis), adalah hasil dari film yang sudah mencapai seri ketiganya, yang berjudul The Rope Curse. Film yang dirilis tahun 2018, 2020, lalu 2023 ini, mengambil kisah yang sangat kentara budayanya. 

Mengambil referensi jurig Thailand yang suka menjebak manusia dengan ikatan tali tambang, dalam film The Rope Curse memang jurignya tiba dari negara Siam. Cara melawan kutukannya pun cukup unik, yaitu sejenis opera tradisional China-Taiwan. Bahkan hingga seri keempatnya (yang belum dirilis), khas opera tradisional sebagai ritual anti jurig, masih lekat dalam waralaba film ini. 

Berikutnya adalah film yang lebih mengacu pada legenda urban, dalam film The Bridge Curse (2020). Film ini mengisahkan tentang legenda jembatan di sebuah kampus, yang sering dipakai sebagai bagian jurit malam dari mahasiswa. Cukup seram dan aneh, karena banyak adegan berjumpalitan, sehingga menyajikan misteri berbeda dalam duo film ini. Bahkan jika ingin mengerti seluruh kisahnya, maka perlu menonton sekuelnya yang bersub-judul The Ritual, di tahun 2023. 

Terakhir adalah contoh film Taiwan yang sangat viral di tahun 2022 lalu, berjudul Incantation. Berbeda dengan dua waralaba film sebelumnya, film Incantation ini lebih mengisahkan tentang ritual aneh di penghujung desa Taiwan. Karena lokasi terpencil desa serta ritual tradisinya yang berbeda, film ini layaknya menggunakan teknik sineas perfilman Jepang terdahulu. Ya, layaknya film Ringu (1998, 2003, 2005), kisah investigasi sejarah dan budaya tradisional di lokasi urban terpencil, sangat kentara dalam film Incantation ini.

Nah, film Incantation ini cocok sebagai perbandingan dengan film Mudborn, karena memiliki plot yang mirip. Dalam film tahun 2022 lalu, lebih mengisahkan tentang seorang ibu yang ingin anaknya tetap bertahan hidup, tanpa gangguan jurig. Kali ini di film Mudborn, justru sepasang suami istri yang ingin segera memiliki anak. 

Tidak hanya kisah keluarga yang dihororkan, namun mengacu pada benda keramat serta ritual aneh lainnya, yang ditampilkan dalam kedua film ini. Di film Incantation, terdapat banyak jimat serta penggambaran dewa yang seharusnya melindungi insan sang anak. Namun di film Mudborn, justru banyak kejadian aneh yang muncul akibat patung tanah liat kecil berbentuk anak. Patung ini justru tidak seharusnya horor, karena dipercaya membawa keberuntungan di Taiwan sana.

Sinopsis Film Mudborn

Xu Chuan (Tony Yang) secara tidak sengaja membawa kutukan berat ke rumahnya. Dirinya yang tengah menunggu istrinya, Mu Hua (Cecillia Choi) untuk segera hamil, malah menyebabkan rumahnya menjadi horor. Mu Hua sebagai seorang kolektor barang antik, yang diberikan boneka tanah liat berbentuk anak oleh Xu Chuan. Dirinya malah terobsesi oleh patung tersebut, dan bahkan mulai berubah seluruh kepribadiannya, hingga terbalik 180 derajat. 

Mu Hua pun semakin sakit fisiknya, namun turut sakti mandraguna, sehingga Xu Chuan menganggapnya kerasukan. Saat dicek, ternyata boneka tersebut bukan patung jimat biasa, melainkan digunakan untuk menyegel sejenis mahluk mistis berbahaya. Mu Hua semakin terlihat kesurupan, sementara Xu Chuan tidak bisa tinggal di rumah lagi. Dirinya lalu mulai mencari banyak dukun bersama teman-temannya, demi menyembuhkan Mu Hua dari godaan jurig laknat tersebut.

Dapatkah keluarga kecil ini selamat? Atau malah menyebabkan kerusuhan besar di seantero lingkungan rumah?

Jawabannya, tentu ada di ritual keluarga kecil ala sinema Indonesia.

Terjebak Pulau Terpencil Ala Sam Raimi di Film Send Help

 

Linda yang berhasil menyalakan api (IMDB).

Bagi yang ingat dengan nama Sam Raimi, tentu bakal ingat seaneh apa penulis naskah sekaligus sutradara film ini. Apalagi film terbarunya di tahun 2026 ini, berjudul Send Help, yang tayang di sinema Indonesia dengan rating D17. Walau plot utamanya mengisahkan terjebak di pulau terpencil, namun bumbu horor ala Sam Raimi tentu meramaikan film ini.

Sam Raimi dan Genre Horor

Lebih baik membahas terlebih dahulu Sam Raimi, yang dikenal dengan genre horor nyelenehnya. Agak berbeda dengan kebanyakan sutradara, penulis naskah, atau produser film horor dari Hollywood, Sam Raimi memang menceritakan kisah horor yang lebih absurd, abstrak, dan ditambah anehnya adegan.

Kisah Sam Raimi yang nyeleneh diawali saat berkarya dalam film The Evil Dead, tahun 1981 lalu. Begitu tidak suka dengan hasil akhirnya, Sam Raimi lalu memulai reka ulang langsung di film keduanya, yang rilis tahun 1987. Walau tidak begitu berbeda plot serta lokasi latarnya, namun adegan yang ditampilkan justru lebih aneh dengan akting yang berlebihan, sehingga banyak penggemar yang suka. 

Keanehan cerita dan adegan pun dilanjutkan pada film ketiga Evil Dead bersub-judul Army of Darkness (1992), yang sangat kental dengan adegan campy. Mungkin Sam Raimi adalah pionir sineas perfilman Hollywood, yang berhasil pertama kalinya dalam mengombinasikan film horor dengan nyelenehnya pemuda-pemudi sana. Walau begitu, di film Night of Living Dead yang khas dari George A Romero (tahun 1968 lalu), berhasil direka ulang oleh Sam Raimi saat tahun 1990. 

Kombinasi genre horor serius, dengan karakter yang terlalu unhinged sekaligus nyentrik, menjadi khas Sam Raimi selama berkarya dalam genre ini. Bahkan, gaya sutradara miliknya ikut terserap dalam film pahlawan super Spider-Man (2002, 2004, 2007). 

Dalam trilogi ini, lebih banyak adegan yang mirip film horor. Contohnya adalah saat Green Goblin yang memiliki keperibadian ganda, atau saat Doctor Octavius yang membasmi dokter bedah, di ruangan darurat rumah sakit. Tidak hanya itu, khas Sam Raimi adalah drama dibalik setiap karakternya. Peter Parker dalam film ini tetap terpukau pada Mary Janes, padahal karakter cewek ini jelas memiliki banyak red flag, sekaligus toxic relationship.

Hingga kini, beberapa film unik yang berhasil disutradarai, ditulis naskah, atau dipimpin sebagai produsernya oleh Sam Raimi, telah meramaikan ranah horor di Hollywood. Contoh filmnya yaitu 30 Days Of Night (2007), Drag Me To Hell (2009), Poltergeist (2015), Don't Breathe (2016), Crawl (2019), dan 65 (2023).

Okeh, saatnya membahas film Send Help yang disutradarai dan ditulis naskahnya langsung oleh Sam Raimi. Walau plot utamanya adalah terjebak di pulau terpencil, namun bukannya menjadi cerita para penyintas dalam bertahan hidup, karena satu karakter malah jadi psikopat dan memburu tokoh lainnya.

Sinopsis Film Send Help

Linda Liddle (Rachel McAdams) adalah seorang pegawai kantoran yang sedang stres parah. Dirinya baru saja disepelekan langsung oleh seorang bos, selaku pemilik perusahaan tempatnya bekerja, yang bernama Bradley Preston (Dylan O'Brien). 

Dengan nada yang sinis, Bradley mengajak Linda untuk berkunjung ke situs lokasi investasi perusahaan di Bangkok, Thailand. Namun, jika Linda gagal memberi kesan baik pada Bradley, maka dirinya akan langsung dipecat.

Naas terjadi saat keduanya tengah menaiki kapal eksekutif pribadi milik Bradley. Pesawat terjebak badai hebat, sehingga jatuh dan karam di lautan. Keduanya berhasil selamat, namun terjebak di sebuah pulau kecil dan terpencil. 

Walau sudah terbiasa hidup nyaman di kota, Linda ternyata sanggup bertahan hidup dengan mencari makan, membuat hunian sementara, serta menyembuhkan luka di kaki Bradley. Namun Bradley masih penuh gengsi, berlagak ala bos, sambil menganggap Linda hanyalah bawahan. Maka, Linda berontak dan mulai bertindak brutal. Bradley yang panik, lalu melarikan diri ke tengah pulau, sementara Linda memburunya dengan senang hati.

Bagaimana akhir kisah dua insan yang masih terjebak gengsi di pulau terpencil ini? 

Jawabannya, tentu sama dengan rasanya terjebak tanpa penerangan ala sinema Indonesia.

Jason Statham Mencari Perlindungan di Film Shelter

 

Mason dan Jesse yang kalang kabut (IMDB).

Jason Statham sebagai aktor aksi yang masih berkecimpung, kini kembali di 2026 dengan film terbarunya, berjudul Shelter, yang tayang di sinema Indonesia dengan rating D17. Cukup berbeda dengan kebanyakan aktor-aktris aksi, Statham adalah satu aktor yang sama sekali tidak terkait dengan animo pahlawan super.

Aktor kelahiran Inggris dan mantan atlet selam ini, lebih mirip dengan aktor aksi lawas, yang berlatar seorang jago fisik serta olahraga. Statham sudah disejajarkan dengan banyak aktor aksi lawas Hollywood, contohnya dengan mengisi film The Expendables (2010, 2012, 2014, 2023). Banyak sinematografi Statham, dijelaskan dalam artikel tahun 2025 kemarin, saat membahas film A Working Man

Apalagi selama ini Statham dikenal sebagai ahli beladiri, yang berlatar karate, kickboxing, wing chun, dan jiu jitsu. Dengan minat awal karir perfilman sebagai pemeran pengganti, Statham akhirnya sukses berkarir sebagai aktor aksi, dengan sering melaksanakan koregrafi gelutnya sendiri. 

Menurut dirinya, aktor dan aktris pemeran pengganti seharusnya diberikan lebih banyak pujian, daripada terlalu berfokus pada aktor dan kemampuan aktingnya saja. Contohnya adalah saat di film Transporter (2002) yang menaikkan namanya di ranah Hollywood. Hampir seluruh koregrafi gelut dan aksi sulit, dilaksanakan sendiri oleh Statham di film ini.

Kembali ke film Shelter, Statham yang telah berumur hampir 60 tahun, tepatnya 59, sudah selayaknya berperan sebagai veteran. Umur segitu, layaknya aktor lawas Sylvester Stallone, yang berumur 63 tahun saat film The Expendables pertama (bersama Statham) dirilis pada tahun 2010 lalu.

Latar film ini pun cocok dengan istilah kembali ke kampung halaman. Yaitu, dengan kembali ke ranah Inggris Raya, tepatnya di Skotlandia, serta lokasi syuting asli di Irlandia. Logat Inggris yang khas pun, mengisi film ini dengan kental.

Okeh, memang rasanya berbeda membahas aktor lawas, apalagi saat berperan dalam film aksi gelut. Kali ini, mending dibahas saja sinopsisnya, yang ternyata cukup mirip dengan khas Statham selama ini.

Sinopsis Film Shelter

Mason (Jason Statham) adalah seorang penyendiri yang tinggal di sebuah pulau mercusuar terpencil, di pesisir pantai Skotlandia. Selama ini, dirinya dikirim suplai oleh seorang gadis remaja, bernama Jesse (Bodhi Rae Breathnach). Suatu hari, Jesse terjebak di pulau tersebut akibat badai yang tiba menerjang, dan terpaksa mengungsi di mercusuar, hunian Mason.

Namun saat malam tiba, satu skuad pasukan bersenjata tiba di pulau tersebut, dan mulai memburu Mason. Jesse yang tidak mengerti, disembunyikan oleh Mason agar tidak terlibat pertikaian hebat ini.

Jesse akhirnya menjadi satu buronan akibat terlihat bersama Mason, yang tidak rela akan keadaan tersebut. Mason lalu mulai mencari banyak kenalan lamanya, bukan untuk melarikan diri, tetapi menjamin keselamatan Jesse yang jelas tidak bersalah atas semua ini.

Apalagi, Mason sebenarnya telah mengenal, bahwa pasukan yang mengejarnya bukanlah sembarang organisasi. Mason menganggap bahwa dirinya ditarget lagi akibat masalah lama, saat dirinya masih bertugas. Jika Jesse sampai terlibat, maka dirinya bisa diburu hingga akhir hayat, layaknya Mason.

Sanggupkah Mason melawan semua kisruh ini? Sempatkah Jesse selamat tanpa masalah berkelanjutan? Atau malah berakhir buruk akibat semuanya?

Jawabannya, tentu ada di aksi veteran ala Sinema Indonesia.