28 Februari 2026

Gajah, Sepeda dan Kue Tart

Ilustrasi Fanny dan Dino sang Gajah (Acerax via Gmaps). 

Sinar matahari kekuningan merembes masuk jendela, menyilaukan mata sepasang kekasih. Sepasang suami istri tepatnya, saling berpelukan mesra diatas kotanya kasur. Fiona sebagai istri, menyambut cahaya pagi ini dengan mata bulatnya. 

"ahhmmm...," Fiona menggeliat santai, meregangkan seluruh jaringan otot tubuh yang telah delapan jam berjibaku di alam mimpi. 

"Kamu dah bangun?" ujar sang suami, Fido, menyambut tangan sang istri, lalu mendekapnya. "Udahlah say," jawab Fiona sambil mengecup mesra di pipi sang suami. 

"Pagi yang indah, ya kan?" ujar Fido.

"Ya, dan akan lebih baik lagi ...," bisik Fiona. 

Memang suatu kegiatan reguler di pagi hari, bagi pasangan muda Fiona dan Fido. Umur perkawinan yang masih muda, selalu disambut dengan kesan masa depan yang terasa cerah. Setelah lima tahun tinggal bersama, pandangan mereka begitu luas membahana, layaknya horison di penghujung lautan biru. 

"Inget yah, pagi ini hari apa?" tanya Fiona. 

"Hari Sabtu, lah,... hari untuk menikmati empuknya kamar, seharian," tutur Fido.

"Haha, lucu...," timpal Fiona, menepis tangan suami yang mulai nakal di perutnya.

"Ini hari besar untuk Fanny," tambah Fiona, dengan alis mata yang naik sedikit dan senyuman tipis. 

"Ah Okeeee, haha. Hampir lupa...," timpal Fido, sambil memandang ke arah langit rumah sewanya. 

Fido adalah seorang karyawan swasta, yang paham agar keluarganya tumbuh bersama. Kegiatan regulernya adalah berangkat pukul 07.00 menggunakan sepeda motor matic-nya, demi bergelut dalam pekerjaannya. Sebagai seorang akuntan berposisi junior di perusahaan swasta, tentu bukan pekerjaanlah yang ditunggu oleh Fido setiap harinya. Namun sambutan sang buah hatilah, yang selalu mencerahkan sore hari sang ayah. Potensi masa depan inilah yang memberi senyuman bagi Fido setiap harinya.

Fiona pun tidak rela melewatkan momen ini, pagi maupun sore. Pekerjaannya sebagai guru les privat, menyebabkan Fiona punya banyak waktu untuk mengurus kegiatan rumah tangga. Sementara Fanny, anak gadis mereka yang baru berumur empat tahun, tentu masih butuh bimbingan langsung sang ibu. Fiona juga cukup lihai dalam masak-memasak, demi kebutuhan seluruh anggota keluarga.

"Dengan insting cinta ibu," begitulah prinsip Fiona, saat tengah memasak menu favoritnya. "Tanpa cabai yang cukup," timpal sang suami, yang tidak tahan dengan masakan kurang pedas ala Fiona.

Candaan inilah yang mengingatkan Fiona, mengenai indahnya setiap momen kehidupan mereka. Momen dimana duduk bertiga bersama, saat "Membanting tulang demi nutrisi otot dan anak", menikmati hidangan spaghetti saus asam manis dan brokoli. Masakan yang terlalu sederhana, mengingat kondisi keluarga muda ini, namun mantap terasa. Mungkin suatu saat, Fiona dapat memasak sesuatu yang lebih sedap, lebih mewah, atau lebih cantik. Namun bukan itu 'Intinya,' sesuai dengan hati nurani Fiona. 

Momen seperti ini pula yang mengingatkan Fiona dengan kisah indah di masa lalu. Momen bersejarah pemicu seluruh keindahan rumah tangganya. Sebuah karangan bunga, cincin di jari manis, hembusan angin pantai, dan semburat cahaya matahari senja. "Will you marry me?" ujar sang pemuda, bersimpuh diatas pasir memandang pasrah sumringah kepada sang gadis, yang kini sedang menangis bahagia. "Tentu..., Of course my love...," timpalnya. "Have I got another choice?" tambahnya, senyuman kini terlukis diwajahnya. 

Lima tahun. Lima tahun sejak momen indah ini, keluarganya tumbuh dengan baik. Tumbuh menjadi keluarga muda ideal, keluarga yang menjadi dambaan setiap gadis muda, atau lebih tepatnya, seorang wanita dewasa. Seluruh memori ini, hanya perlu diingat dengan momen sarapan dan makan malam. 

"Jadi, udah siap?," tanya sang ayah, menyeka saus dari bibirnya. 

"Siap apa yah?" timpal Fanny, menyeruput segelas susu porsi paginya. 

"Kita jalan-jalan sayang," jawab Fiona, "Nih, pake tissue, nak," tambahnya, melambaikan selembar tissue kepada Fanny.

"Makasih Maaa..., jadi kita mau kemana?" timpal Fanny dengan riang. 

Gajah

"Mah, lihat itu GAJAH!", Fanny teriak girang, memandang sesosok gajah nan megah di tengah arena. Kebun Binatang memang pilihan bagi pasangan muda ini, yang notabene tidak memiliki banyak waktu untuk mengisi liburannya. Tidak banyak, namun cukup memberi senyum penuh arti bagi pasangan Fiona dan Fido, serta Fanny. 

"Mah, Yah, ikut naik yu!", tambah Fanny, menarik-narik lengan kedua insan dewasa yang menemaninya. "Iyah, iya... sabar nak...," tutur Fiona. 

Arena gajah memang digunakan bagi pengunjung yang ingin menungganginya, mirip dengan arena unta. Satu gajah dapat dinaiki satu keluarga, mengelilingi rute Kebun Binatang yang asri nan rimbun (dengan ongkos tambahan tentunya, hehe).

Fanny tiba-tiba melepas pegangannya, dan mendekati gajah terdekat. "Fanny!", Fiona dan Fido panik, mengejar anak pertamanya. Fanny sudah berada di samping sang gajah bernama Dino, terbatas pagar setinggi kepalanya. Dino berada di ujung terdekat arena, jauh dari kerumunan gajah lainnya. Fiona bertatap muka dengan mata gajah, saling pandang dengan wajah polos. Satu sama lainnya, tidak ada yang maju maupun mundur, dan ekspresi apapun. 

Fanny  lalu memanjangkan tangannya yang memegang sepetik bunga taman, lalu mencoba meraih belalai sang gajah. Jangkauan tangan Fiona terlalu pendek untuk anak berumur empat tahun, namun Dino tampaknya mengerti. Dino mulai menggerakkan belalainya, untuk menggapai tangan sang anak. 

Fanny, tanpa rasa takut sama sekali, tersenyum lebar. Belalai Dino kini mencapai ujung bunga miliknya, dengan mata yang menatap lirih padanya. Salam perkenalan antara mahluk rimba dan manusia kecil dari kota ini, tiba-tiba terlepas tanpa sempat tersurat. Teriakan nyaring dari seorang ibu pun membahana, "Fanny, bahaya!!!". 

Fiona lalu menggapai sang anak, yang langsung terangkat dengan ringannya. Bunga taman pun terjatuh dengan ringan ke rerumputan. Sementara Fido sibuk menahan belalai sang gajah, dengan memposisikan tubuh tegap diantaranya.

Namun tanpa ada peringatan apapun, Dino dengan sumringah menyemprotkan air dari belalainya, tepat menyirami tubuh Fido yang menghalangi. "Woaaaaah!" teriak Fanny, yang lalu turun dari pelukan Fiona, lalu mengambil kembali bunga taman yang jatuh. "Ini hadiah untukmu, gajah!" tambah Fanny dengan sumringah.

Gelak tawa pun mulai terdengar dari Fiona, tepat dibelakang sang suami, tanpa tersiram sedikit pun. Nyaringnya tawa Fiona, tertular ke seluruh pengunjung di sekitar arena. Bahkan sang petugas penjaga arena gajah, ikut tertawa sambil melerai kedua mahluk berbeda spesies ini. Sang gajah Dino sebelumnya memang tengah meminum air dari kolam di tengah arena, dan teralihkan kegiatannya saat melihat Fanny datang mendekat.

"Maaf-maaf, punten ngariwehkeun...," ujar Fido sambil menunduk malu kepada petugas penjaga kebun binatang, yang setengah serius sambil menahan tawa.

Sementara sang suami meminta maaf kepada seorang petugas dengan sungguh-sungguh, Fiona memeriksa tubuh Fanny. Takutnya sang gadis kecil terluka, atau terdapat kotor sedikit pun. Semprotan dis-infectant pun menjadi senjata terakhir Fiona, tentu tanpa melupakan sang suami yang telah basah kuyup. 

Kejadian yang singkat, namun cukup mencengangkan bagi seluruh pengunjung arena gajah. Tidak ada yang menyalahkan siapa pun, melainkan hanya menatap kagum sambil terus menahan tawa atas kejadian ini. Gajah dan seorang anak empat tahun, dua mahluk Tuhan polos yang berpapasan takdir dalam satu momen sederhana (walau epik).

Kue Tart

Siang yang cukup terik, memisahkan ketiga insan muda ini. Sang Ayah yang baru saja mandi, perlu mengunjungi kota untuk berbelanja. Fanny dan Fiona kini berada di rumahnya yang berwarna biru laut, tanpa Fido yang kini mengendarai motornya menuju toko sepeda.

"Ayah kemana, bu?" tanya Fanny. "Ada deh... nanti dikasih tau yah..." timpal Fiona.

"Ini kan ultah Fanny bu..." ujar Fanny dengan bibir dimanyunkan. "Hehe... ntar yah..." sahut Fiona dengan senyum tipis. 

Tiba di rumah, layaknya seorang ibu rumah tangga idaman, Fiona langsung memasak bahan favoritnya, sayur brokoli. Mengesampingkan momen hari spesial untuk Fanny, sayur harus tersedia dalam setiap menu masakannya. 

"Perut emang harus diisi, nak. Tapi, gizi yang terpenting." ujar Fiona.

"Iya, entar rempong kayak mama pas tua ya, hehe," sahut Fanny.

"Empat sehat, lima sempurna nak...," sambut Fiona, dengan nada yang lembut.

Terkilas obrolan masa lalu Fiona dengan ibunya, Diana. Tersenyum sendiri mengingatnya, Fiona tak pernah menyangka bahwa hal tersebut akan menjadi prinsip hidupnya, sekaligus ekspresi cintanya dalam menjalani hidup. Tapi Fiona adalah seorang penerus, yang harus berkembang. Fanny mungkin tidak mengerti, tetapi kue tart berlapis cokelat dan krim tentu menjadi fokus penantiannya.

Strawberry merah terpucuk layaknya piala api diatas kubah nan megah. Sebuah pesta kerajaan tentu tidak akan lengkap dengan seorang putri beserta mahkotanya. Seorang putri yang baru belajar mengenal dunia, dan saatnya belajar untuk menaiki kelana.

Keadaan yang Berbeda

Fanny yang kelelahan, berbaring manja di kamarnya. Boneka gajah dipeluk olehnya, sambil mengingat kejadian tadi. "Coba aku bisa bawa gajah tadi pulang ke rumah," gerutu Fanny.

Kamar yang baru ditidurinya beberapa bulan terakhir, kini serasa lahan bermain bagi Fanny. Dinding berwarna merah muda cerah mengelilingi kasurnya, yang bermotif bunga kehijauan. Tumpukan buku bergambar binatang terlihat di ujung meja, tepat di sebelah kotak mainan. Suasana yang cerah dengan banyak poster pahlawan super favorit Fido, tidak semudah itu menyerap ke dalam perasaan Fanny.

Kala di malam hari, hembusan angin dari tirai jendela sering membangunkan Fanny, yang baru belajar tidur sendiri.  Fanny cukup berani untuk menatap balik ke arah jendela, yang langsung mengarah ke taman belakang. Pohon pinus serta rerumputan kurang terurus menjadi pemandangan khas dari jendela. Di ujung taman, dibangun dinding pembatas setinggi satu meter. Pagar kayu dengan tinggi setengahnya, menghalangi bagian atasnya. Paduan inovasi modern dan produk alam, sanggup membatasi antara taman dan terjalnya dinding serta sungai deras dibawahnya. 

Kadang Fanny merasa sesuatu menatapnya langsung dari arah jendela, khususnya saat malam hari tiba. Perasaan yang sulit digambarkan, karena dinginnya malam tidak menusuk seperti itu. Fanny sekarang ingat perasaan apa itu, layaknya gajah dalam kandang dengan banyak pengunjung menatapnya. Kagum, lucu, atau takut, namun entah apakah itu. 

Terbangun dari lamunannya, kini Fanny merasa tahu sesuatu. Tahu bahwa di luar jendela terdapat sesuatu, yang selalu menatapnya, mengawasi gerak-gerik dirinya. 

"Oh," Fanny akhirnya tersadar, bahwa itu bukanlah sebuah perasaan saja. Dia pun turun dari kasur, dan bergerak menuju jendela.

Taman tampaknya begitu mengundang di sore mendung tersebut.

Akhir Kisah Fido dan Sepeda Roda Tiga

Naas tidak dapat terhindarkan. Fido yang tengah membawa sepeda roda tiga di jok belakang motornya, tidak pernah kembali bersama Fiona dan Fanny. Akibat tersenggol mobil, motor Fido terpaksa berbelok drastis, hingga menabrak pagar pembatas sungai di pusat kota. Aliran sungai Ciliwung yang sedang deras akibat kiriman air hujan dari daerah gunung, menyeret Fido dan motornya sejauh mungkin. Tubuh serta motornya belum dapat ditemukan untuk beberapa lama, padahal sempat dicek oleh rekaman CCTV di lokasi kecelakaan.

Sementara di rumah...

"Ada apa mah?" tanya Fanny, kepada Fiona yang sedang menangis sesenggukan, dengan ponsel dipegang erat oleh kesepuluh jarinya. Kabar dari ponsel mengenai hilangnya Fido, memang tidak dapat diterima sama sekali.

"Maaf ya nak," ujar Fiona, sambil turun dari kursi dan langsung mendekap erat Fanny. 

"Ayah baru saja celaka. Mungkin dia tidak dapat pulang (lagi)," tambahnya.

"Lah, tadi kan ayah pulang. Baru aja ketemu tadi. Tuh, Fanny sudah punya hadiah ultah hari ini," ujar Fanny dengan polosnya, sambil menunjuk ke arah taman.

"Eh, ngomong apa kamu Fanny?" tanya Fiona, kebingungan. 

"Sini geura, mah," timpal Fanny, sambil menggiring tangan Fiona menuju pintu di arah dapur, menuju lokasi taman belakang.

Tepat setelah membuka pintu belakang menuju taman, disaat guyuran hujan yang dengan rintik-lembutnya turun, sebuah pemandangan ganjil membuat tertegun Fiona. Terdapat sebuah sepeda roda tiga, yang ditempatkan rapih nan bersih akibat terbasahi air, di tengah rerumputan taman. 

Tidak hanya sepeda, terikat pula pada bagian stangnya, pita merah mudah lebar bertuliskan 'Selamat Hari Ultah Fanny'. Tersematnya pita tersebut, mengingatkan momen indah saat Fido dan Fiona, tengah memilih pita hadiah bagi sepeda Fanny.

Tidak sanggup memandangi hadiah terakhir dari suaminya, Fiona lalu terjatuh duduk,  menangis sejadi-jadinya.

Epilog

Beberapa minggu kemudian telah berlalu, setelah prosesi pemakaman Fido yang bersemayam tanpa keberadaan tubuhnya. Keadaan rumah Fido berisi Diana, Fiona, Fanny, masih terasa suram. 

Aura kesedihan semakin terasa, akibat kue tart ulang tahun Fanny yang belum pernah tiba di lokasi rumah. Entah apa yang terjadi pada kurir pengirim kue tart, di hari yang sama saat Fido menghilang, karena masih dalam status pengiriman, hingga kini.

TAMAT.

24 Februari 2026

Terjebak Ngerinya Kotak Logam Berjudul Film Lift

 

Rasanya terjebak dalam lift ala Shareefa Danish (TMDB).

Nah, kali ini film horor unik berasal dari Indonesia, berjudul simple Lift yang tayang akhir Februari, di banyak sinema Indonesia. Mengecek judul dan cuplikannya saja, sudah menyiratkan keunikan film horor ini, yang berbeda dengan jurig supernatural dan paranormal ala Indonesia. Rating umurnya pun cukup tinggi, yaitu D17 alias penonton yang sudah dewasa. Dan seperti biasa ala ritual film horor, cuplikannya sama sekali tidak membuka plot utama.

Claustrophobia dan Lift

Sebelum membahas horornya film ini, tentu perlu mengecek satu gangguan mental bernama Claustrophobia. Gangguan kejiwaan ini, dimiliki banyak orang akibat gejala takut pada ruang tertutup. Pasien mengalami gangguan kecemasan serta rasa takut berlebihan, saat berada di ruang tertutup atau sempit. Bahkan jika gangguannya akut, maka pasien bisa mengalami serangan panik, sulit fokus, dan merasa sesak napas.

Khusus di ranah film horor, phobia sejenis ini sering diadaptasi. Contohnya adalah film Panic Room (2002), The Descent (2005), dan Buried (2010) bersama aktor yang kini telah kawakan, yaitu Ryan Reynolds dan Deadpool-nya.

Salah satu pemicu gangguan phobia adalah Lift, yang memang berukuran pas untuk diisi oleh beberapa orang saja. Untuk filmnya sendiri, dapat dicek melalui beberapa film horor lainnya. 

Contoh paling terkenal adalah Dark Water (2002), yang disutradarai oleh Hideo Nakata. Bagi yang kenal namanya, tentu tahu bahwa sutradara ini terkenal saat memproduksi film Ringu (1998, 1999). Entah apa hubungannya Hideo Nakata dengan Aquaphobia, yang sangat kentara terasa pada Ringu dan Dark Water. Mungkin sutradara Nakata hanya ingin mengombinasikan Claustrophobia dan Aquaphobia sekaligus. Plot twist di akhir film ini pun cukup menarik, dan sangat memicu kedua phobia tersebut.

Nah film berikutnya sangat mirip dengan Lift ini, berjudul Devil dari tahun 2010 lalu. Bahkan, bisa disebut sebagai inspirasi langsung film Lift dari Indonesia ini. Namun, perbedaan kentaranya adalah kesan supernatural yang lebih kentara dalam film Devil. Bahkan, banyak adegannya yang terjebak di satu lift dengan lima penyintas, seakan menjadi film misteri. Karena banyaknya kejadian aneh saat terjebak, menyiratkan sesosok setan yang sedang menguak kejahatan para penyintas dalam lift tersebut. Plot twist-nya pun khas film misteri, alias tidak begitu dapat tertebak.

Masih banyak film horor lain yang mengadaptasi latar situasi terjebak atau berada di sekitar Lift, namun bisa dicek sesuai minat saja. Keenam film yang disebutkan diatas, adalah rekomendasi khusus untuk referensi gangguan Claustrophobia atau terjebak dalam Lift.

Sinopsis Film Lift

Linda (Ismi Melinda) adalah seorang pegawai Relasi Publik alias Humas (Hubungan Masyarakat) di perusahaan bernama PT Jamsa Land. Perusahaan ini sempat diteror enam tahun lalu, akibat kekisruhan internal pegawainya. Sebuah lift utama yang digunakan oleh banyak orang, menyebabkan tragedi yang merebut banyak nyawa.

Suatu hari saat baru mau pulang, Linda menaiki lift tersebut untuk turun menuju lantai dasar. Namun, tiba-tiba lift macet dan dirinya terjebak didalamnya. Tidak hanya panik saat terjebak, namun sebuah suara dari intercom lift, malah tidak membantu Linda sama sekali. 

Sebuah suara ngeri dari orang yang mengaku bernama Doris (Shareefa Danish), menguak suatu cerita yang mengerikan. Doris pun semakin meneror Linda, yang sebenarnya tidak begitu mengetahui tentang kisah tragedi dalam lift perusahaan, karena sudah berselang enam tahun lamanya.

Sanggupkah Linda selamat atas teror dalam kotak logam ini? Atau malah terkuak andil Linda saat tragedi enam tahun lalu?

Jawabannya, tentu ada di ritual persembahan ala sinema Indonesia.

Kembalinya Ghostface dan Sidney di Film Scream 7

Ghostface yang kembali penasaran (IMDB).

Berikutnya adalah film yang betulan jangan ditonton saat shaum, yaitu berjudul Scream 7, yang tayang di banyak kombinasi sinema Indonesia. Bagi penggemar film horor, tentu tahu bahwa waralaba yang dimulai sejak tahun 90an ini, memiliki rating umur tinggi, alias D21.

Waralaba Scream

Bagi penggemar film horor dari tahun 90an, pasti mengenal karakter Ghostface, dan Sidney Prescott sebagai tokoh utama film Scream. Trilogi awal yang dirilis pada tahun 1997, 1998, dan 2000, memang menyajikan kisah psikopat yang sangat pecicilan. 

Saking aneh sang Ghostface alias psikopat ini, karakter dibaliknya selalu saja berbeda di setiap film. Karena itu, trilogi awal ini terkenal dengan misteri dibalik topeng Ghostface, yang telah menjadi khas di setiap serinya. Misteri ini selalu diulang pada setiap perilisannya, namun merubah kesan Scream menjadi horor yang ikonik pada masanya.

Satu lagi khas bagi psikopat berwajah arwah penasaran ini. Jurig bertopeng putih ini selalu menelepon dulu 'mangsanya,' lalu tiba-tiba muncul di sekitar area rumah korban. Sayangnya, si Ghostface ini selalu 'maksa,' akibat obsesif dengan modus operandinya. Karena bukan seorang 'penjahat profesional,' maka Ghostface selalu berlari ala orang kelimpungan, hanya untuk mengejar korbannya yang lari panik. Bisa dibilang, kelebihan Ghostface hanyalah kemampuannya untuk menyelinap dan menyergap korban, di saat yang tepat.

Bahkan menurut penulis, terdapat ironi tersendiri atas cara mengejar Ghostface. Layaknya kartun Looney Tunes yang terkenal di tahun 90an, tingkah Ghostface ini mirip dengan Wile E. Coyoto, yang selalu sial dan jatuh bangun saat memangsa korbannya, yaitu Roadrunner. Jika film ini bukan bergenre horor, maka perlu ditambahkan label genre komedi juga (haha). Lebih konyol lagi, khas Ghostface ini pernah dimasukkan dalam waralaba film parodi, berjudul Scary Movie (2001).

Karakter Sidney Prescott

Satu lagi khas waralaba film Scream ini, yaitu karakter Sidney Prescott yang diperankan oleh Neve Campbell. Selama trilogi awal, hingga seri keempatnya di tahun 2011 lalu, Sidney Prescott selalu menjadi fokus utama film Scream. Hal itu akibat dirinya selalu menjadi penyintas di setiap film Scream, sejak latar filmnya di kota Woodsboro. Walau sering berpindah kota demi keselamatan dirinya, Sidney selalu mengundang sejenis psikopat lainnya, yang sama-sama terobsesi dengan kegilaan ini. 

Khas Ghostface dengan topengnya, serta film 'Stab' yang menjadi inspirasinya, dan kehadiran Sidney di lokasi baru, akhirnya mengundang sejenis Copycat Killer ini. Bagi yang belum tahu, Copycat Killer adalah sebutan dari para psikolog kriminal AS sana, untuk memberi karakter bagi para penjahat yang meniru modus operandi kriminal lainnya. Biasanya, penjahat yang ditiru sudah melegenda kisah kejahatan dan aksinya.

Untuk trilogi terbarunya, Sidney memang kembali ke Woodsboro, untuk membantu kota ini akibat kehadiran sosok Ghostface terbaru. Di film Scream kelima dan keenam yang dirilis tahun 2022 dan 2023 lalu, justru Sidney Prescott tidak menjadi fokus seperti biasanya. Cerita beralih ke duo saudari bernama Tara dan Sam Carpenter, yang diperankan oleh duo aktris muda dan baru naik daun, yaitu Jenna Ortega dan Melissa Barrera.

Nah, untuk seri ketujuh sebagai akhir dari trilogi kedua Scream, karakter Sidney Prescott kembali untuk mengakhiri semuanya. Namun, latar Sidney yang telah tua dengan status seorang ibu, menambah perbedaan kentara bagi karakter yang melegenda di seri ini. Tidak begitu banyak hubungan cerita dengan kedua film sebelumnya. Bagi yang kangen penyintas lainnya bernama Gale Weathers, dapat melihat pula dengan aktrisnya, Courteney Cox di seri ketujuh ini.

Oh ya dalam cuplikannya, terdapat perbedaan paling kentara dalam film Scream 7. Perkembangan jaman internet dan keamanan digital, ikut tersisipkan dalam satu adegannya. Sidney perlu menelpon anaknya melalui ponsel, yang terhubung dengan kamera siaran langsung di CCTV kediaman rumahnya. Cukup berbeda, karena sistem keamanan sejenis ini memang baru dikenalkan tahun 2020an lalu, dan baru mulai dipasang oleh banyak warga. Tentu menjadi tantangan khusus bagi sang pecicilan Ghostface, yang sudah dikenal selalu sembrono saat beraksi.

Sinopsis Film Scream 7

Sidney Prescott (Neve Campbell) kini telah hidup damai bersama suaminya, Mark Evans (Joel McHale). Nama belakangnya pun telah berubah menjadi Evans, sesuai dengan nama keluarga yang diturunkan kepada anaknya, bernama Tatum (Isabel May). 

Namun, kisahnya yang telah melegenda masih menarik perhatian banyak sosiopat. Seringkali, Sidney ditelpon langsung (tanpa aplikasi) dengan orang yang mengaku sebagai Ghostface, lengkap dengan pengubah suaranya. Suara yang dirubah serta melalui jalur telepon pulsa berbayar, menyebabkan para 'impostor' ini merasa aman untuk meneror Sidney dan keluarganya.

Sayangnya, kehadiran Ghostface bukanlah masa lalu, melainkan tiba sendirinya. Tidak hanya fokus kepada Sidney, Mark dan Tatum pun ikut terancam oleh aksi Ghostface terbaru ini. Panic Room yang sudah disiapkan oleh Sydney pun, tidak sanggup mengelabui aksi Ghostface ini. Untungnya, Gale Weathers (Courteney Cox) sebagai kawan lama dan penyintas sejak awal, ikut turun membantu saat tahu Ghostface telah kembali mengejar Sidney.

Sanggupkah Sidney, Mark, Tatum, dan Gale selamat atas Ghostface yang sudah memperbarui modus operandinya? Atau sebenarnya malah Gale yang cemburu atas legenda dan kedamaian hidup Sidney? Atau malah berakhir begitu saja di seri ketujuh film Scream ini?

Jawabannya, tentu ada di modus operandi ala sinema Indonesia.

Mengejar Mimpi Ala Timothee Chalameet di Film Marty Supreme

 

Marty yang terlalu niat dalam mengejar mimpinya (IMDB).

Kisah drama perjalanan hidup dari Hollywood pun kembali meramaikan sinema perfilman di bulan Februari ini, yang berjudul Marty Supreme. Film berating D17 dari A24 ini berdurasi 2,5 jam. Jadi, harus menyempatkan waktu cukup lama untuk dapat menontonnya.

Marty Supreme mengisahkan suatu kisah mimpi yang (menurut penulis) berlandaskan peribahasa bule, dengan istilah Go Big or Go Broke. Ya, maksud peribahasa ini adalah seseorang harus bermimpi besar, atau gagal sebelum mencapainya. Film ini sebenarnya diadaptasi dari kisah nyata seorang juara tenis dari AS, yang memenangkan kejuaraan tahun 1949 lalu di Jepang, bernama Marty Reissman.

Timothee Chalameet, Sang Wonderboy dari Hollywood

Aktor muda yang baru berumur 30 tahun ini, memang sedang digadang sebagai aktor terbaik dari Hollywood sana. Banyak proyek besar perfilman, diisi oleh aktor kelahiran Manhattan ini. Film paling epik yang pernah diperankan Timothee adalah Dune: Part One (2021), dan Dune: Part Two (2024), yang diadaptasi oleh novel berjudul Dune (1965) hasil karya Frank Herbert.

Selain itu, Timothee memang memiliki keahlian akting yang cukup luas. Satu film yang menaikkan namanya, adalah Wonka (2023). Peran Willy Wonka memang membutuhkan seorang aktor yang nyentrik nan eksenstrik, dan Timothee ternyata sanggup mengadaptasinya. Seakan, Hollywood mendukung aktor ini sebagai sosok baru pengganti Johnny Depp, yang sempat memerankan karakter sama di tahun 2005 lalu, dalam film Charlie and Chocolate Factory.

Karena keahlian akting serta film yang nilai produksinya mahal, Timothee sering dinominasikan penghargaan film, walau belum memenangkan satupun Oscar. Khusus untuk film Marty Supreme, Timothee Chalameet dinominasikan dalam Oscar sebagai Aktor Terbaik, sementara filmnya sendiri diberi nominasi sebagai Film Terbaik, di tahun 2026 ini.

Studio Film A24 yang Unik

Perlu ditelaah pula dari segi studio yang memproduksi film Marty Supreme ini. Ya, A24 memang satu studio (yang kini terkenal) aneh, dengan sering memproduksi film bersudut pandang unik. Walau awalnya lebih mengemukakan horor, namun kini studio film A24 lebih mengacu ke kritik sosial, atau film yang lebih abstrak dan nyeleneh horornya.

Satu film aneh dari A24 yang pernah penulis tonton, adalah berjudul Tusk (2014). Film dengan genre komedi-horor ini diperankan oleh Justin Long, yang berkisah satu perubahan manusia yang diculik. Ya, bukan diculik biasa, melainkan dirubah tubuhnya menjadi seekor anjing laut.

Di tahun yang sama, A24 merilis film Ex Machina, yang diperankan oleh aktris Alicia Vikander. Aktris berdarah Swedia ini memerankan seorang robot yang sanggup sadar diri alias sentien, namun tetap bernada horor-psikologis ala film A24.

Tahun 2015, A24 kembali membuat gebrakan di genre horor, dengan film The Vvitch. Film berlatar awal koloni di Amerika dan diperankan oleh Anya Taylor Joy ini, mengisahkan dengan abstrak sebuah kisah kajajaden (alias kesurupan) di lokasi terpencil sebuah koloni. Fokus utamanya adalah sebuah keluarga kecil di ladang yang jauh dari pusat koloni. Saking ngerinya, film ini direkomendasikan oleh penulis, sebagai film paling horor dari A24.

Free Fire yang dirilis tahun 2016 pun menunjukkan, bahwa A24 sanggup memproduksi film drama-aksi yang hanya berlatar satu lokasi saja. Jadi, filmnya mirip dengan khas sutradara kawakan Quentin Tarantino. Apalagi, Brie Larson sebagai aktris pemenang Oscar pun, mengisi film ini.

Film sejenis horor klasik pun diproduksi oleh A24, dengan judul The Monster di tahun 2016. Film ini mengisahkan ibu dan anak, yang terpisahkan akibat serangan monster besar ala seekor Yeti atau Bigfoot.

Di tahun yang sama, drama psikologis berjudul A Ghost Story pun dirilis. Film ini kembali dengan gaya khas A24, yaitu drama psikologis bernuansa horor. Namun, kisahnya cukup mendalam, karena lebih mirip kisah jurig alias arwah penasaran. Arwah ini belum sempat kembali ke dunianya sana, dan perlu menonton langsung seluruh kegiatan keluarga yang ditinggalkan olehnya.

Sebenarnya masih banyak film dari A24 yang bisa direkomendasikan. Tetapi, cukup disitu saja, karena penulis sendiri belum menonton semuanya.

Sinopsis Film Marty Supreme

Tahun 1952 lalu di AS, Marty Mauser (Timothee Chalameet) adalah seorang atlet tenis meja yang cukup hebat. Namun, dirinya tidak memiliki latar belakang seorang kaya raya, atau memiliki koneksi. Jadi selama ini, Marty berkompetisi di banyak turnamen tenis meja, tanpa dukungan sponsor sama sekali. 

Namun, Marty memiliki karakter yang pantang menyerah dan terlalu berorientasi target. Sehingga, Marty sering memposisikan dirinya dalam situasi berbahaya, demi mencapai tujuannya sendiri. Maksud Marty sebenarnya cukup baik, yaitu demi mendukung dirinya, serta ibunya yang kini bekerja di toko sepatu milik pamannya.

Beberapa turnamen di banyak negara diikuti oleh Marty dengan dana seadanya, walau tetap memenangkan sedikit hadiahnya. Kini, Marty berniat untuk mengejar mimpi terbesarnya, yaitu memenangkan Kejuaraan Dunia Tenis Meja di Jepang.

Sanggupkah Marty meraih mimpinya? Atau malah terjebak lingkaran hutang sana-sini akibat banyak mencari masalah?

Jawabannya, tentu ada drama olahraga ala sinema Indonesia.

Anak yang Setia dengan Ayah Tunarungu di Film Mumu

Xiao Ma dan Mumu yang sedang santai (TMDB).

Di awal bulan Ramadhan untuk warga muslim Indonesia, tampaknya cocok dimulai dengan satu film yang membuka hati para penontonnya. Judulnya adalah Mumu, yang tayang di sinema Indonesia, dengan rating Semua Umur (SU).

Tetapi, tiga film lainnya dalam minggu ini kurang cocok untuk tema Ramadhan. Ketiga film tersebut mengangkat kisah hidup yang brutal, waralaba film psikopat lama yang dilanjutkan seri ketujuhnya, dan film Indonesia yang juga berisi psikopat. Jadi bagi yang sedang melaksanakan shaum, lebih baik dihindari saja.

Film Mengenai Warga Disabilitas

Ya, film Mumu atau Voiceless Love ini adalah hasil dari sineas perfilman China, yang mengadaptasi kisah seorang tunarungu. Mumu sebenarnya dirilis pada tahun 2025 lalu, dan ditayangkan ulang pada bulan Februari 2026 ini. Mumu adalah adaptasi ulang dari film pendek yang dirilis pada tahun 2021 lalu. Untuk mengadaptasi film Mumu ke layar lebar, Sutradara Mo Sha mewawancarai banyak komunitas di seluruh China, selama tiga tahun lamanya.

Kisah mengenai warga disabilitas, khususnya tunarungu, memang cukup jarang diadaptasi pada sebuah film. Para warga tunarungu memang sering disalah-artikan oleh warga biasa, karena perbedaan mereka. Tidak sedikit dari kisah mereka yang dikucilkan, atau tidak dapat diterima karena sulit berkomunikasi dengan mereka. 

Namun, perbedaan tersebut yang menginspirasi banyak sineas perfilman untuk mengadaptasinya. Salah satu yang penulis suka dan rekomendasi, adalah film Bird Box dari tahun 2018 lalu. Film yang diperankan oleh aktris ternama pemenang Oscar Sandra Bullock, sebenarnya berlandaskan horor,  namun cukup menyanyat hati dengan mengadaptasi kisah para tunanetra, sekaligus masalah kesehatan mental. 

Khusus dari Sandra Bullock, dirinya sempat memerankan film drama tahun 2009 lalu, yang membuat dirinya memenangkan Oscar. Judulnya adalah Blindside, dan penulis cukup percaya untuk merekomendasikannya.

Kembali ke film mengenai warga disabilitas, penulis perlu merekomendasikan pula sebuah film anime berjudul Koe No Katachi (A Silent Voice), dari tahun 2016 lalu. Kisahnya sesuai pula dengan Mumu, yaitu mengenai warga tunarungu. Bahkan, filmnya cukup dalam lagi, karena mengadaptasi pula kisah perundungan anak remaja, serta banyak konsekuensinya.

Okeh, saatnya kembali ke sinopsis film Mumu.

Shouya yang baru sadar ini kisah milik siapa (TMDB).

Sinopsis Film Mumu

Xiao Ma (Zhang Yixing) adalah seorang ayah yang disabilitas, dengan mengidap tunarungu sejak lahir. Namun semangatnya tidak kendor untuk terus mengasuh anak semata wayangnya bernama Mumu (Li Luo'an), walau telah sejak lama cerai dengan istrinya. Bersama komunitas tunarungu, Xiao Ma berhasil mengasuh Mumu. Bahkan, Mumu kini telah pintar untuk berbicara bahasa isyarat.

Namun, saat Xiao Ma tengah mengantarkan mobil sebagai bagian dari pekerjaan kurirnya, dirinya malah celaka dan menabrak. Xiao Ma dengan untung bisa selamat dari kecelakaan. Rusaknya mobil membuat dirinya dituduh lalai dalam bekerja, dan dituntut secara hukum.

Kisruh dirinya yang disidangkan, menarik perhatian komunitas tunarungu. Mereka dengan setia mendukung Xiao Ma saar setiap sesi persidangannya. Namun, ramainya ruang sidang menarik pula bagi media untuk diangkat menjadi berita viral. Saking viralnya, mantan istri Xiao Ma yang bernama Xiao Jing (Huang Yao), perlu kembali mengasuh Mumu. Xiao Jing yang sudah lama tidak bertemu Mumu, bahkan mencoba merebut kembali hak asuhnya.

Sanggupkah Xiao Ma dan Mumu melewati semua cobaan ini? Agar kembali bersatu dan kembali bahagia? Atau ada bantuan dari khalayak ramai untuk mendamaikan semuanya?

Jawabannya, tentu ada drama keluarga disabilitas ala sinema Indonesia.

18 Februari 2026

Mengenang dan Menyelenggarakan Hari Bahasa Ibu Internasional

Hari Bahasa Ibu Internasional (Kemendikdasmen).

Berikutnya adalah momen menyambut Hari Bahasa Ibu Internasional, yang dirayakan tanggal 21 Februari setiap tahunnya. Hari Bahasa Ibu Internasional dirayakan sejak tahun 1999 lalu, yang diusung oleh UNESCO dari PBB. Tujuannya adalah untuk melindungi dan melestarikan banyak ragam bahasa ibu, serta meningkatkan kesadaran akan pentingnya bahasa ibu dalam kehidupan manusia.

Seperti sudah diutarakan sebelumnya pada artikel Hari Kebangkitan Bahasa Sunda di blog ini, penulis yang berlatar Tatar Sunda, cukup dekat kesehariannya dengan bahasa Ibu. Bahkan, penulis hanya bertutur kata bahasa Indonesia saat menulis blog ini, sementara seharian hanya berbincang Sunda.

Merayakan Bahasa Ibu

Dilansir dari UPI, bahasa ibu adalah bahasa pertama yang dikuasi seorang umat manusia sejak lahir. Perannya sangat penting bagi tumbuh kembang seorang anak hingga dewasa, yaitu sebagai pembentukan identitas dan budaya bagi individu, proses belajar anak sejak usia dini, dan pelestarian nilai-nilai lokal.

Sebagai proses belajar anak di usia dini, anak lebih mudah memahami materi belajar dalam bahasa yang dikuasainya. Proses ini sesuai dengan ucapan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti, yang menyatakan melalui situs Kemendikdasmen, "Kajian akademik menunjukkan bahwa anak yang memulai pembelajaran dengan bahasa ibu, memiliki pemahaman yang lebih baik terhadap konsep akademik dengan kemampuan literasi yang lebih optimal."

Sementara dari segi pelestarian nilai lokal, dimulai saat anak mendengarkan cerita rakyat, tradisi, dan kearifan lokal dari budaya dan bahasa persukuannya. Seperti dilansir dari STPS Sahid Surakarta, bahasa ibu bukan hanya sarana komunikasi, melainkan mencerminkan budaya dan cara berpikir masyarakat. 

Setiap bahasa membawa warisan pengetahuan, tradisi, dan nilai yang sangat berharga. Dengan terus melestarikan penggunaan bahasa ibu, warga sebagai pelakon utamanya, tidak hanya menjaga kelangsungan bahasa itu sendiri. Tetapi, menghidupkan kembali warisan budaya sebagai satu identitas bagi komunitas berbahasa daerah.

Foto Naskah Carita Waruga Guru (Wikimedia).

Ngamumule Basa Sunda

Menurut sejarahnya, bangsa Austronesia bermigrasi dari Taiwan, lalu Filipina, dan akhirnya tiba di Pulau Jawa pada tahun 1000 hingga 1500 tahun Sebelum Masehi, seperti dilansir dari FISIP UI.

Mengenai namanya itu sendiri, asal nama Sunda masih abstrak. Secara etimologis, merujuk pada kata Cuddha dari Sansekerta, yang berarti cahaya, putih, bersih, murni, atau bersinar. Adapula yang mengartikan bahwa Sunda adalah perpaduan morfologi antara Sun (satu) dan Da (dua). 

Dari basa Sunda sendiri, Saunda berarti lumbung atau makmur, atau Sonda yang berarti bagus, bahagia, dan unggul. Kata Sunda merujuk pula pada ibukota Sundapura, sebagai pusat Kerajaan Tarumanegara, yang berjaya saat abad empat hingga tujuh Masehi lalu, seperti dilansir dari Portal Brebes.

Pelestarian resmi basa Sunda, sudah dicanangkan sejak tahun 2013 lalu di Jawa Barat. Melalui Peraturan Gubernur (Pergub) No. 69 tahun 2013, Bahasa dan Sastra Sunda dicanangkan sebagai muatan lokal wajib bagi jenjang pendidikan dasar dan menengah, bagi seluruh sekolah di Jawa Barat. 

Pendidikan bahasa Sunda sangat penting dilaksanakan untuk di sekolah, karena bertujuan untuk membedakan tingkatan bahasa Sunda. Tergantung kepada siapa yang diajak berbicara, maka bahasa Sunda harus menggunakan tutur kata Lemes (halus), Loma (akrab), atau kasar.

Menurut Ahmad Ghibson Al-Busthomi sebagai Pakar Hikmah Kasundaan, yang dilansir dari situs UIN Sunan Gunung Djatingamumule (melestarikan) basa Sunda berarti harus dilaksanakan oleh semua warga Sunda. Jangan sampai ada kesan budaya Sunda hanya milik budayawan dan sastrawan saja. Pesantren dianggap pula tidak menjaga kelestarian Sunda, dengan mengajarkan bahasa dan menulis aksara Jawi atau Pegon.

Namun menurut Ghibson, ada empat cara untuk tetap ngamumule Sunda sebagai warga biasa. Pertama, yaitu menghormati, memuliakan, serta mengagungkan kesenian seperti pentas, berbicara basa, memakai baju adat, dan menjaga sikap etika Sunda. Kedua yaitu terus menyerap dan menerima makna baru ke dalam basa Sunda. Ketiga adalah membangun kreasi baru di bidang perkakas dan teknologi. Keempat adalah meningkatkan kebudayaan karuhun (leluhur) Sunda, dengan mengembangkan bahasa sehari-hari, sastra, hingga seni.

Ghibson menambahkan bahwa tahap pengembangan budaya Sunda harus dengan dua cara. Satu yaitu dengan meningkatkan lokalitas wilayah dan sejarahnya. Kedua, dengan terus mewariskan budaya Sunda secara berkelanjutan.

Janten, sakanteunan ngahaturkeun filosofi hirup ti Kang Prabu Siliwangi, nyaeta Silih Asih, Silih Asah, Silih Asuh ka sadayana.

Sanes teu sono, tapi bade permios. Wassalam.

Sedikit Carita Buhun Sunda

Oh ya, ada satu lagi penggambaran mitologi Sunda, yang seperti biasa, kurang dapat dicek keabsahannya. Warga pulau Jawa saat awal penjelajahannya, memang berpusat di Jawa Tengah hingga Jawa Timur. Sementara wilayah Jawa Barat belum terjamah sama sekali.

Namun, ekspedisi untuk membuka lahan dengan membabat hutan di Jawa Barat saat jaman tersebut, ternyata cukup menghasilkan. Walau begitu, warga perlu melalui naik-turunnya pegunungan, dalamnya lembah, curamnya jurang, serta banyak hewan berbahaya seperti harimau, buaya dan ular berbisa.

Karena itu, sejak keberhasilan warga pulau Jawa untuk mendiami Jawa Barat, dan bahkan hingga membangun kerajaan sendiri selama berabad-abad lamanya, memberi simbol khusus pada warga Sunda. Maung alias Harimau yang kuat dan sanggup menguasai hutan belantara, adalah simbol tersebut.

Tapi ya, jangan sampai langsung pamacan dan berkoar "Aing Maung!"

Aing Maung! (YouTube).