17 Februari 2026

Animasi Hewan yang Berkompetisi Olahraga dalam Film Goat

 

Will sebagai kambing yang beda sendiri (IMDB).

Mungkin memang saatnya bernostalgia dengan film sejenis ini, yaitu animasi Hollywood bertema olahraga, berjudul Goat. Tentu tayang di banyak sinema Indonesia dengan rating SU alias Semua Umur, animasi ciamik khas AS sana memang memiliki kesan berbeda. 

Apalagi bagi yang paham istilah GOAT, yang seringpula dijadikan meme oleh warganet. Padahal, GOAT adalah kependekan dari Greatest Of All Time, yang berarti Terbaik Sepanjang Masa. Istilah ini sering disematkan pada seorang atlet atau sejenis produk, yang sangat baik pada masanya, hingga layak dikenang sebagai yang terbaik sepanjang masa.

Studio dan artis yang memproduksinya pun sangat ternama, yaitu Sony yang sempat bekerja dengan para artis di film SpiderMan: Across The SpiderVerse.

Kartun Legendaris Space Jam

Tetapi sebelum membahas film Goat, yang harfiah disini adalah seekor kambing, tampaknya perlu mengecek terlebih dahulu animo-nya. Ya, animo olahraga untuk film animasi anak, ternyata cukup jarang diadaptasi oleh sineas perfilman, dari negara manapun. 

Bagi yang masih mengingatnya, tentu terkenang dengan film animasi Space Jam. Ya, film animasi tahun 1996 lalu ini, adalah film yang mengombinasikan olahraga basket, dengan animasi ciamik ala Looney Tunes. Tidak hanya kombinasi tema, terdapat pula kombinasi karakter Michael Jordan (yang memainkan dirinya sendiri), sekaligus lucunya para karakter kartun dari Looney Tunes. Teknik kombinasi antara adegan langsung antara Jordan dengan kartun, memang suatu animo yang heboh di perfilman Hollywood, saat masa tersebut.

Apalagi di jaman tersebut, Michael Jordan memang mengalami tingkatan tertinggi karirnya. Tidak hanya kesuksesan bersama tim Chicago Bulls, merk sepatu Air Jordan, serta Slam-Dunk-nya yang fenomenal, maka Michael Jordan adalah figur publik dan idola terbesar saat jaman 90an lalu. Karena itu, munculnya Jordan sebagai tokoh utama di film Space Jam, semakin meninggikan namanya di AS sana, sekaligus seluruh dunia. GOAT adalah sebutan yang tepat bagi Michael Jordan, khususnya di dunia olahraga Basket dunia.

Animo ini sempat dilanjutkan pada tahun 2021 lalu, dengan judul Space Jam: A New Legacy. Ya, tentu dengan merekrut pula seorang atlet basket terbaik sedunia masa kini, bernama LeBron James. Atlet dengan banyak kiprah serta kesuksesan karir basketnya, menjadikan LeBron James sebagai salah satu GOAT sedunia.

Sinopsis Film Goat

Will Harris (Caleb McLaughlin) adalah seekor kambing yang badannya berukuran kecil. Berbeda dengan spesies hewan lainnya, Will adalah spesies kambing yang lebih mirip rusa daripada jenis hewan herbivora lainnya. Namun Will memiliki impian besar, yaitu menjadi seorang atlet profesional Roarball. Louise Harris (Jennifer Hudson), sangat mendukung cita-cita anaknya tersebut.

Walau tubuhnya tidak berukuran besar, namun Will cukup cekatan dan lincah dalam menghadapi kerasnya Roarball. Olahraga ini memang bukan Basket biasa, melainkan Full-Body-Contact ala Rugy dan American Football. Sehingga, banyak spesies hewan berukuran kecil yang tidak sanggup menguasainya.

Namun dengan kemampuan Will yang berbeda, seluruh jalur kompetisi Roarball sempat dia menangi, mulai dari basket jalanan, hingga kompetisi kecil di sekitar rumahnya. Will lalu direkrut oleh tim yang digemarinya sejak dulu. Walau sempat terasa ketegangan dibalik GOR basket, namun Will berhasil membuktikan bahwa dirinya mampu. 

Sanggupkah Will meraih mimpinya dalam merubah jalur pertandingan Roarball? Atau malah terjebak drama berjumpalitan bersama anggota timnya sendiri?

Jawabannya tentu ada di keberagaman hayati dan olahraga ala sinema Indonesia.

Duo Film Kerajaan China yang Sama Epiknya: Blades of The Guardians, Three Kingdoms: Starlit Heroes

 

Topeng siapa ini? (TMDB).

Nah, ada kombinasi khusus di minggu ini, yaitu duo film dari China, yang khas ala epiknya jaman kerajaan terdahulu, berjudul Blades of The Guardians (D17) dan Three Kingdoms: Starlit Heroes (R13). Mungkin, perilisan kedua film ini untuk menyambut Tahun Baru China alias Imlek, di bulan Februari ini.

Walau keduanya memiliki referensi yang sama yaitu animasi, tetapi keduanya disajikan berbeda kali ini. Blades of The Guardians adalah film dengan aktor-aktris nyata, alias sejenis Live Action. Sementara Three Kingdoms: Starlit Heroes disajikan ala animasi, yang jelas tengah naik pamornya dari negara China sana.

Siapa pula ini anak kecil? (TMDB).

Film Blades of The Guardians

Film ini ternyata adaptasi langsung dari judul yang sama, namun berformat animasi dan dirilis serial berjumlah 15 episode, tahun 2023 lalu. Cuplikan serial animasinya tidak menjelaskan apapun, jadi langsung bahas adaptasi filmnya. Yang ternyata sama saja, cuplikannya tidak memberi tahu sama sekali plotnya (hehe). Dan sekali lagi, ternyata adegan kungfu bersenjata ala wuxian, sangat ciamik dengan koregrafi yang mantap. 

Entah apa maksud dari dua jenis adaptasi film Blades of The Guardians ini. Tampaknya memang hanya memancing saja dari segi adegan gelut mantap, biar tidak perlu berbelit-belit dengan plotnya. Ataukah ada plot besar dibaliknya? Biar penonton baru memahaminya setelah menonton hingga akhir? Entahlah... Karena sinopsis film masih berkutat pada cerita mengawal seorang kriminal berbahaya, yang langsung diadaptasi dari manhwa-nya.

Tetapi ada satu yang harus diingat, yaitu kembalinya sosok aktor kungfu terkenal dari China sana, bernama Jet Li yang berperan sebagai Chang Guiren. Aktor yang sebenarnya satu jaman dengan Jackie Chan ini, tidak begitu sering berkutat dalam perfilman China saat ini. Padahal Jackie Chan masih sering berperan, contohnya adalah tiga film yang dirilis pada tahun 2025 lalu.

Namun, kemunculan aktor yang telah berumur 62 tahun ini, tentu memberi angin segar bagi para penggemarnya. Jet Li adalah satu aktor yang sama-sama berasal dari akademi beladiri China. Berbeda dengan Jackie Chan yang berasal dari Opera Tradisional, Jet Li adalah seorang atlet Wushu saat masih muda, yang lalu berkarir sebagai seorang aktor.

Cao Cao yang mulai Epik (TMDB).

Film Three Kingdoms: Starlit Heroes

Sekarang saatnya format film yang sedang naik pamor di China sana, yaitu tersaji ala animasi 3D. Berbeda dengan film sebelumnya, Three Kingdoms: Starlit Heroes ini berlatar langsung sejarah China. Ya, tepatnya saat akhir Dinasti Han Timur, yang memulai Kisah Tiga Dinasti Kerajaan China. Bagi yang suka dengan sejarah China, pasti mengenal masa ini. Ketiga Dinasti Kerajaan seringkali bertikai dalam sebuah peperangan besar, yang semakin meramaikan epiknya sejarah China. 

Penulis cukup heran mengenai cuplikannya, karena rating filmnya ternyata R13, alias remaja bisa ikut nonton. Mungkin bagian dari kurikulum sekolah China, yang sidaj mengenalkan langsung cerita sejarahnya.  Atau karena formatnya animasi 3D, yang lebih mudah dicerna mata dan diterima oleh banyak kalangan, khususnya China dengan banyak syarat sensornya.

Di film ini, berfokus pada Jenderal Cao Cao (Tan Jianci), yang menguasai Kerajaan Utara China. Cao Cao berhasil menduduki kursi Kaisar, setelah meruntuhkan Dinasti Han yang sebelumnya berkuasa. Cao Cao berhasil meraih singgasana kerajaan, karena sebelumnya berjasa saat peperangan besar di Guandu. Nah, seluruh adegan film ini, berlatar kisah dan peran Cao Cao selama masa peperangan Guandu, hingga akhirnya berhasil menduduki tahta kerajaan. 

Jenderal Cao Cao dalam sejarah aslinya, memiliki andil dalam melindungi tahta kerajaan dari berbagai pihak keluarga dinasti yang bertikai. Selain itu, Cao Cao seringkali menang saat melancarkan kampanye merebut wilayah, dari utara hingga pusat China. Hingga akhir hayatnya, Cao Cao dikenal sebagai tokoh pionir yang memulai momen bersejarah Tiga Dinasti Kerajaan di China.  

Entah seberapa banyak referensi sejarah yang diadaptasi dalam film epik ini. Tetapi dari nama Cao Cao saja, sudah cukup memberi animo yang jelas. Istilahnya, sosok Cao Cao adalah seorang prolog, dari besar dan masifnya peperangan di jaman Tiga Dinasti Kerajaan China. Animo ini sudah terasa kolosal di jaman aslinya, hingga sekarang.

Duo Film Aksi Kejahatan yang Berbeda Asalnya: Jangan Seperti Bapak, Crime 101

 

Angel yang heran bapaknya kenapa (TMDB).

Okeh, saatnya membahas film aksi yang rilis dua minggu ini, berjudul Jangan Seperti Bapak dari sineas perfilman Indonesia, dengan film Hollywood yag banyak bintangnya, Crime 101. Keduanya tayang di sinema Indonesia, dengan rating cukup dewasa, alias D17+. Sesuai judul artikel, memang kedua film berkutat pada edannya dunia kejahatan, dengan balutan drama dan misteri dibaliknya.

Film Jangan Seperti Bapak

Film yang judulnya agak aneh untuk film aksi, memang hasil karya Indonesia. Tema yang dibuat pun, berasal dari kisah para geng yang cukup perlente alias tingkat dewa. Ya, tidak seperti geng pecicilan alias preman jalanan. 

Bahkan dalam cuplikannya, sangat terlihat ketegangan drama antar tokohnya. Penulis cukup heran, karena untuk film yang berlandaskan aksi gelut, tetapi tidak menyisipkan banyak adegannya. Justru lebih banyak dialog serta arah kamera yang menunjukkan, hingar-bingarnya kota Metropolitan seperti Jakarta.

Sedikit kilas balik dan kangennya penggemar film Indonesia, memang banyak yang menginginkan bahwa sineas perfilman lebih memfokuskan pada kisah aksi gelut, daripada cerita horor. Walau cerita horor sekarang sudah mumpuni dari segi cerita, Indonesia masih memiliki banyak referensi silat dari berbagai daerah, dengan variasi jurus dan kuda-kudanya yang berbeda. Khusus ranah aksi silat, penulis justru kangen dengan karya aksi silat jaman pendekar terdahulu, layaknya film Panji Tengkorak di tahun 2025 kemarin.

Untuk sinopsisnya bisa sedikit dibahas, karena kesinambungan ceritanya tidak begitu terkuak dalam cuplikannya. Angel (Zee Asadel) adalah seorang gadis muda biasa, yang tidak begitu mengenal gelap-gemerlap hidup ala bapaknya, Pablo (Verdi Solaiman). Naas, Pablo meninggal saat Angel masih muda, tepat saat dirinya baru berumur 20 tahun.

Keluarga Angel ternyata sangat terhubung dunia gangster, dengan kombinasi banyak pemimpin Red Dragon, adalah kenalannya sendiri. Vincent (Zack Lee), Sisca (Aulia Sarah), Chandra (Irwan Chandra), dan Hans (Hendric Shinigami), adalah teman keluarga yang sudah dekat batinnya, seakan kerabat sendiri. 

Angel yang masih penuh amarah dendam, mencoba menghubungi mereka. Walau berbeda cara antara satu sama lainnya, namun Angel tetap bersikukuh untuk menguak misteri dibalik kematian ayahnya.

Chris Hemsworth yang kembali beraksi (IMDB).

Film Crime 101

Nah, kalau film yang satu ini sangat menggiurkan dari segi kombinasi aktor-aktris yang mengisinya. Apalagi jika membahas adaptasi naskahnya, yang berasal dari novel terkenal karya Don Winslow, dengan judul yang sama. 

Dari cuplikannya atau poster filmnya saja, sudah terlihat sederet bintang besar di perfilman Hollywood. Diantaranya adalah Chris Hemsworth, Mark Rufallo, Halle Berry, dan Barry Keoghan. 

Chris Hemsworth tentu menjadi 'wajah' yang tepat sebagai aktor utama di film ini, karena cocok sebagai pemain film aksi. Sementara Mark Rufallo, Barry Keoghan, dan Halle Berry adalah aktor-aktris yang lebih dikenal dengan bakat aktingnya, dan sering dinominasikan oleh Oscar atau penghargaan sinema lainnya. 

Khusus Halle Berry yang sempat memenangkan Oscar, justru saat ini jarang muncul ke permukaan. Padahal, sederet film terkenal banyak dibintangi olehnya, contohnya sebagai gadis Bond di film Die Another Day (2002), dan film horor-psikologi yang aneh, berjudul Gothika (2003). Bahkan film sains-fiktif terakhirnya berjudul Moonfall (2022), dinilai hanya mengandalkan efek spesial saja, tanpa akting atau kisah yang masuk dinalar.

Okeh, saatnya sedikit membahas kisah Crime 101, dan pastinya bagi penggemar Grand Theft Auto atau kisah kejahatan lainnya, akan sangat menyukainya. 

Berbeda dengan kisah aksi Hollywood lainnya, Crime 101 berkutat pada karakter Davis (Chris Hemsworth) yang perlente. Davis bekerja sebagai broker kejahatan, yang mendatangi klien untuk 'menghilangkan' aset perusahaan. Ya, kejahatan yang dilaksanakan Davis, bukanlah pencurian atau perampokan semata, tetapi bernada gratifikasi, dengan mengandalkan 'asuransi' dibaliknya (Insurance Fraud).

Sementara Detektif Lou (Mark Rufallo) dari kepolisian setempat, berhasil untuk menemukan satu rangkaian tepat dibalik modus operandi Davis. Walau belum mengenal siapa tersangkanya, namun Lou telah menyimpulkan pola tertentu, yaitu seluruh aksi kejahatan terjadi di sekitar Jalan Tol 101. 

Sementara klien Davis yang bernama Sharon (Halle Berry),  memiliki kedekatan khusus dengan dirinya. Namun, kedekatan itu bukan masalah bagi Davis, yang berencana untuk melarikan diri dari wilayah modus operandinya. Fixer-nya dari pihak Davi sendiri, justru mengerahkan Ormon (Barry Keoghan) untuk mendekati dirinya, agar segala tindak-tanduknya dapat terlacak dan diungkap.

Sekilas Info Drama Kejahatan

Drama kejahatan seperti dua film ini memang berbeda, yang tidak ramai aksi di setiap adegannya. Namun kesinambungan cerita, drama para karakternya, serta misteri di baliknya, menjadi animo tersendiri. Bagi yang suka menonton drama kejahatan, pasti cukup ngeuh dengan atmosfer kedua film. Apalagi, menterengnya latar para karakter, serta adegan aksi yang bisa dibilang lebih efektif daripada film gelut lainnya, menjadi khas tersendiri dalam sub-genre ini.

12 Februari 2026

Lebih Memaknai Karakter Son Dalam Film Linda Linda Linda

 

Anggota Paranmaum yang ingin konser (TMDB).

Berikutnya, saatnya mengakhiri kisah mengerikan di minggu ini, dengan film yang baru saja diperbarui hingga 4k, berjudul Linda Linda Linda. Ya, memang judul filmnya kurang cocok dengan istilah Monsterisasi, tetapi cukup menarik jika dicek latarnya. Terdapat analisis khusus, mengenai perbedaan industri Jepang dan Korea, khususnya semenjak jaman modern. Analisisnya pun cukup brutal, jadi ada sedikit sosok monster dibaliknya.

Oh ya, penulis mau konfirmasi pula, bahwa sebenarnya baru menonton film Linda Linda Linda, setelah merekomendasikan dalam artikel lainnya di Blog Sedia Saja. Bahkan jika diingat-ingat, memang genre musikal Pop-Rock adalah minat saya sejak lama. Sekaligus, mengingat momen terdahulu pas jaman SMA. Selain itu, kayaknya teman sekelas cewek jaman SMA, pernah minta untuk menonton Linda Linda Linda. Mungkin hanya sekedar obrolan, jadi kurang bisa mengingatnya.

Walau film ini cukup dingin dan santai pembawaannya, cukup nyambung dengan minat saya. Layaknya drama dari Jepang sana, memang tidak seheboh anime-nya. Bahkan saking dinginnya setiap momen (walau lucu), penulis merasa adegan di film ini sangat mirip dengan cara ngobrol sehari-hari, apalagi jaman SMA terdahulu. Karena itu ketika film diakhiri dengan dua tayangan lagu, semakin kagum saja setelah selesai menontonnya. 

Bae Doona sebagai Son dan Personil Paranmaum

Bae Doona adalah aktris ternama dari Korea Selatan, yang berperan sebagai Son di film Linda Linda Linda, yang semakin melambungkan namanya. Hingga kini, Bae Doona telah berperan di banyak film Korea Selatan terkenal, contohnya adalah The Host (2006), Silent Sea (2021), dan serial terkenal Kingdom (2019-2020). 

Bahkan Bae Doona sempat pamor namanya di Hollywood sana, dengan film Jupiter Ascending (2015), dan Rebel Moon (2023) dari sutradara ternama Zack Snyder. Pokoknya jika membahas Bae Doona, maka akan mengenal sosok aktris ternama, sekaligus aktris internasional.

Sementara anggota lain dari grup band Paranmaum, memiliki banyak peran pula di Jepang sana. Aki Maeda sebagai Kyoko Yamada alias sang drummer, sempat berperan dalam film kontroversial Battle Royale (2000, 2003). Yuu Kashii sebagai Kei Tachibana alias sang gitaris, berperan di film Death Note (2006) dan My Boss My Hero (2006) yang penuh nostalgia. 

Terakhir adalah Shiori Sekina sebagai Nozomi Shirakawa, yang sebenarnya tidak berperan sebagai aktris. Melainkan dirinya telah bekerja sebagai bassist sebuah band, sesuai dengan perannya di film Linda Linda Linda.

Pertukaran Pelajar Jepang dan Korea Selatan

Nah, Son dari Korea Selatan, sebenarnya tidak cukup nyambung dengan karakter lainnya, yang asli dari Jepang. Namun karena konflik internal band, Son sebagai murid pertukaran pelajar, lalu direkrut sebagai vokalis. Son yang kurang mengenal banyak kosakata Jepang, ternyata sanggup bernyanyi pula. Bahkan girlband ini merubah namanya menjadi Paranmaum, yang artinya adalah Blue Hearts dalam bahasa Korea. 

Mengapa film Linda Linda Linda banyak yang suka, hingga bahkan sutradaranya yang bernama Nobuhiro Yamashita meraih penghargaan sutradara terbaik di tahun 2006? Jawabannya ternyata cukup dalam, yaitu film ini memberi dampak budaya langsung bagi Jepang dan Korea Selatan.

Ya, bagi yang suka Jepang dan Korea Selatan, tentu tahu mengenai ketegangan industri diantaranya keduanya. Banyak produk dari Jepang, tidak diterima di Korea Selatan akibat sejarah kedua negara. Sehingga, banyak perkembangan berbeda antar keduanya.

Paling kentara, adalah produk ponsel Samsung dari Korea Selatan, dengan Sony dari Jepang. Keduanya sempat meramaikan Indonesia, namun sangat kentara kompetisi keduanya. Industri mobil pun cukup bersaing, yaitu banyak merk otomotif dari Jepang, sementara Korea Selatan mengandalkan Hyundai-nya. 

Fans Jepang dan Studio Animasi

Nah, hubungannya dengan film ini pun cukup kentara, yaitu segi dunia hiburannya. Perkembangan industri hiburan cukup terpisah, contohnya saat Jepang dengan sinematografi tradisionalnya, sementara Korea Selatan yang heboh ala film Hollywood.

Salah satu perbedaan paling terasa, ada di dunia gaming-nya. Ya, saat Jepang sangat bersemangat untuk menyebarkan konsol gimnya, contohnya Nintendo hingga Playstation, namun produk tersebut tidak beredar di Korea Selatan. Sehingga, negara di semenanjung Korea ini memilih produk lainnya, yaitu lebih berlandaskan gim PC. 

Bagi yang melanglangbuana di dunia gaming, tentu tahu sehebat apa Korea Selatan di kompetisi digital. Hingga kini, Korea Selatan sering menjuarai banyak kompetisi internasional gim, sejak jaman Counter Strike pertama. Tidak hanya itu, adalah pesatnya MMORPG sebagai industri khas Korea Selatan. Hingga kini, ranah gim MOBA berjudul League of Legends (dari Eropa), masih menjadi animo terbesar di Korea Selatan.

Tentu perkembangan ini berbeda dengan distribusi gim konsol ala Jepang, dengan banyak gim offline-nya. Namun, ternyata keduanya sempat disatukan, sejak gim MMO berjudul Ragnarok Online, yang dirilis pada tahun 2002 lalu. Gambarnya yang lebih imut daripada gim kebanyakan, serta grind-nya yang keterlaluan, ternyata menarik bagi banyak pemain Jepang.

Perkembangan pun berlanjut hingga tahun 2020an sekarang. Bagi penggemar film animasi atau anime, tentu tahu sebesar apa pengaruh serial Webtoon berjudul Solo Leveling di Jepang. Bahkan jika para penggemar (ala Wibu dan Otaku) mengecek kredit akhir anime dari studio Mappa dan Madhouse, ternyata banyak anggota dari Korea Selatan. Hal itu membuktikan, bahwa perkembangan berbeda industri kedua negara, malah menyatukan keduanya saat ini.

Jadi, akulturasi budaya populer antara Jepang dan Korea Selatan di masa kini, sangatlah damai dan terasa. Tentu, tidak sekontras jaman sebelumnya. Dan karena itu, banyak fans dari Korea Selatan dan Jepang, sangat menghargai film Linda Linda Linda, sebagai pionir dalam menyatukan kedua negara industri ini.

Paranmaum (Blue Hearts) dan Khas Punk-Rock

Okeh, memang kisah yang berdampak bagi budaya Jepang dan Korea Selatan. Namun, bagaimana dengan cerita filmnya sendiri? Ya, film ini memiliki momen berbeda di akhir film. Tidak begitu aneh dan bahkan bukan spoiler, karena memang akhirnya adalah lagu saja (hehe).

Namun, perlu ditelaah dari lagu yang dibawakannya, yaitu dua lagu dari band Punk-Rock Jepang tahun 80an, bernama Blue Hearts. Band ini memang betulan genre Punk-Rock lama, yang sangat kentara dengan kerasnya vokal, layaknya lagu Trash yang banyak Noise-nya. Bagi yang sudah mendengar lagu Linda Linda versi asli dari Blue Hearts, pasti sanggup memahaminya. Perlu dipahami pula, bahwa genre Punk-Rock dalam musik, memang berada di tingkatan anti-mainstream (saat itu), namun tetap disukai penggemarnya.

Nah, khas Punk-Rock yang acak adut ternyata cocok bagi personil Paranmaum. Padahal, anggota girlband ini cantik semua dan menjalani kisah Romansa SMA. Son, Kyoko, dan Kei bahkan memiliki kisah cintanya sendiri. Terkecuali sang bassist Nozomi, yang terkenal pemalu.

Bahkan ada satu adegan lucu untuk romansa SMA ini. Son yang ketiduran saat menjaga gerai pertukaran budaya Korea Selatan dan Jepangnya, diminta melalui surat untuk datang ke lokasi gudang. Lokasi ini terkenal, sebagai tempat untuk menyatakan cinta pada cewek, saat Festival Budaya atau Pentas Seni berlangsung di sekolah Jepang.  

Bahkan dalam adegan ini, sang cowok berbicara bahasa Korea, demi menyatakan isi hati pada Son. Namun Son dengan tingkahnya yang nyentrik, hanya dapat menjawab (dalam bahasa Korea), bahwa dirinya ingin berlatih nyanyi sebagai vokalis Paranmaum saja, bersama teman-temannya. Dirinya pun kembali keluar lokasi gudang, yang disambut langsung anggota Paranmaum lainnya.

Nah, kisah di akhir film ini ternyata cocok dengan gaya Punk-Rock, namun khas ala pembawaan cewek. Paranmaum yang ketiduran akibat begadang untuk berlatih, akhirnya telat untuk sampai ke sekolah, dan perlu melewati hujan deras, demi sampai di gymnasium sebagai lokasi panggung. Bahkan Son sempat jatuh, akibat genangan air sambil lari terburu-buru. 

Keempatnya pun dengan baju basah nan lusuh, rambut yang belum mengering, perlu langsung mengisi panggung dengan dua lagunya. Adegan akhir ini layaknya Punk-Rock yang memang setelannya berantakan, namun sanggup manggung dengan hebat dan energetik. 

Oh ya, karakter suara dan logat Son yang khas dari Korea Selatan, ternyata cocok untuk kedua lagu dari Blue Hearts. Memang jika dibandingkan dengan logat khas Jepang yang lebih nyaring dan cempreng, logat khas Korea lebih berat dan dalam.

Lagu Linda Linda dan Uwaranai Uta dari Paranmaum

Kedua lagu yang di-cover oleh Paranmaum dari Blue Hearts, ternyata sangat cocok sebagai akhir dari kisah ini. 

Lagu Linda Linda yang dibawakan sangar oleh band aslinya, ternyata cocok dengan penggambaran film ini. Seakan, seluruh jawaban romansa SMA mereka, dapat dijawab dengan lagu ini. Beberapa karakter cowok yang dekat atau menyatakan isi hati kepada anggota personil Paranmaum, hanya bisa ikut moshing atau mengangguk bersenandung bersama lagu ini.

Lagu terakhir berjudul Uwaranai Uta, alias Endless Song, alias Lagu Tanpa Akhir, ternyata dapat menjawab semuanya, dan bahkan cukup wholesome. Dicek saja lirik lagunya, yang menjawab semua kegalauan jaman sekolah terdahulu. Seakan perjuangan selama ini, dapat terjawab dengan cara mendoakan semuanya, bahkan bagi mereka yang karakternya cukup sulit diterima. 

Akulturasi Budaya memang Indah, tetapi saya cuman ingin bersama teman-teman saja.

Stay on the Brightside, Brothers...

"Hehe, maaf ya...," ujar Son (YouTube).

11 Februari 2026

Memahami Jiwa Seorang Wanita Ala Film Spring

 

Layaknya wanita yang terus berubah-rubah ala rubah (TMDB).

Okeh, saya berbohong lagi sebenarnya. Di dua artikel Monsterisasi minggu ini, saya akan membahas juga tentang romansa, walau genre utamanya tetaplah horor atau drama kehidupan sehari-hari di judul terakhir.

Film Horor-Romansa yang dibahas, berjudul Spring dari tahun 2014 lalu. Ya, layaknya membahas Nadia Hilker saat masih sangat ca'em, kisah ini memang berlandaskan dirinya. Bukan sebagai seorang aktris cantik, tetapi metafora dan simbol terbesar dari jiwa seorang wanita. Bagi yang sudah menontonnya dan kurang paham, dapat mengeceknya di artikel ini.

Oh ya, walau film ini aslinya karya Hollywood, namun lokasi latar syuting serta aktor-aktrisnya kebanyakan dari Eropa. Mungkin, agar otentik sesuai ceritanya, yang jelas mengisahkan di Italia sana.

Kisah Horor-Romansa

Kisah horor di film ini sebenarnya tidak begitu kentara, namun lebih terasa seperti misteri. Banyak kejadian aneh meliputi tokoh utama prianya, bernama Evan (Lou Tayler Pucci) dari AS, yang tengah berlibur di Italia. 

Di kota Polignalo a Mare yang eksotis, Evan bertemu dengan gadis cantik bernama Louise (Nadia Hilker). Gadis cantik misterius ini lalu setuju membina hubungan sementara, layaknya dua insan yang sedang berlibur. Namun semenjak keduanya saling kenal, sering terjadi kejadian aneh di sekitar mereka. 

Karakter Louise

Karakter wanita Louise ini, setelah diselidiki dan secara kebetulan diungkap oleh Evan, merupakan sesosok monster aneh. Walau awalnya ngeri, tetapi Evan dengan cepat tanggap (beberapa menit saja), langsung memaklumi anehnya diri Louise. 

Padahal Louise adalah semacam mahluk anomali, yang memiliki siklus beberapa hari setiap bulannya, untuk berubah bentuk menjadi mahluk lain. Ya, bukannya seorang vampir atau manusia serigala, atau bahkan wanita yang lagi menstruasi bulanan, Louise adalah seorang yang berubah wujud (menjadi monster) setiap bulannya. Satu cara untuk menunda siklus tersebut, adalah suntikan hormon.

Hingga akhirnya di akhir film, ditemukanlah jawabannya. Satu cara agar Louise berhenti siklus perubahannya, adalah dengan menerima dirinya sebagai manusia. Namun, dirinya beresiko tidak kekal abadi lagi. Louise ternyata sering membina hubungan dengan manusia lainnya, namun justru berakhir dirinya takut menjadi manusia biasa.

Dan diakhir film pun, saat keduanya tengah duduk pada sebuah batu, tepat saat matahari mulai terbit, sebuah gunung vulkanik besar di seberang laut, meletus dengan dahsyatnya.

Ya, kebetulan yang sangat tepat momennya.

Tema Ibu yang Kentara

Perlu digaris-bawahi, bahwa tema ibu memang sangat kentara dalam film ini. Evan melarikan diri ke Eropa, akibat sedih setelah memakamkan ibunya. Dirinya lalu bertemu Louise, yang sebenarnya tidak bisa hamil akibat terus berubah wujudnya.

Suatu lingkaran takdir, yang memisahkan Evan dengan ibunya sendiri, berlanjut saat bertemu Louise di Italia. Walau aneh bin ajaib, Evan malah terpukau dengan anehnya Louise, dan dengan siap membantu. 

Dari situ, Louise dapat digambarkan sebagai seorang yang sangat kita kenal. Ya, bukannya ibu kita sendiri, melainkan Ibu Pertiwi alias Motherland bagi warga Slavic, alias planet biru bernama Bumi ini.

Adaptasi, Evolusi, dan Perubahan Geografis Bumi

Ya, Planet Bumi yang menjadi rumah bagi manusia, hewan, tanaman, dan banyak kondisi geografis, adalah lokasi yang layak disebut sebagai ibu. Seperti beberapa istilah tadi, banyak budaya serta warga dunia yang menghargai Bumi layaknya Ibu sendiri.

Itupun sesuai dengan karakter Louise dalam film Spring ini. Louise memiliki siklus uniknya sendiri, yaitu berubah setiap bulannya menjadi mahluk lain. Entah itu gurita, rubah, atau bahkan tanaman. Perubahan Louise ini adalah simbol dari adaptasi dan evolusi banyak mahluk di muka Bumi. Apalagi, Louise mengaku bahwa dirinya telah hidup lama di Bumi, hingga jutaan tahun lamanya.

Siklus perubahan dapat dihentikan dengan menyuntikkan hormon dari hewan lain, atau dengan menerima diri sendiri sebagai manusia. Maksud paling kentara, adalah manusia sebagai mahluk sentien, adalah suatu puncak dari siklus evolusi. Secara hati dan pikiran, Louise seharusnya menerima diri sebagai seorang wanita, yang senantiasa mengasuh anak dan melanjutkan generasi berikutnya. Daripada, Louise menganggap dirinya sebagai dewi yang kekal abadi.

Apalagi di akhir film, terdapat kebetulan yang berbeda. Seperti sudah dijelaskan, keduanya tengah berada di atas batu, dengan pemandangan matahari terbit dan meletusnya gunung vulkanik. 

Adegan ini mengingatkan, bahwa Louise layaknya seorang avatar dari Bumi. Keadaan geografis bumi terus berubah selama milyaran tahun, semenjak masih bersatu sebagai Benua Pangea, hingga terpisah menjadi banyak benua di jaman modern. Tentu perubahan geografis Bumi, diakibatkan oleh pergerakan Tektonik dan banyak lempengan yang dibawanya. Penggambaran yang tepat sekali, sesuai dengan momen meletusnya sebuah gunung vulkanik.

Ya, menurut penulis sendiri, film ini memang Drama-Horor-Romansa paling romantis yang pernah saya tonton. Memang menggambarkan, bahwa kekayaan alam yang telah kita nikmati selama ini, adalah hasil dari perlindungan Planet Bumi tercinta, layaknya seorang Ibu.

Okeh, Ciao.

Louise dan Evan yang masih kasmaran (TMDB).

Oh ya, ada teori kurang nyambung tersendiri mengenai sosok Evan di film ini. Menurut penulis, Evan bukan seorang pelarian sejati. Walau dirinya bekerja sebagai bartender di bar kecil AS saat awal film, namun terlihat sudah terbiasa untuk berjalan-jalan jauh. Bahkan melanglang-buana sendiri hingga Eropa sana, khususnya menuju Italia.

Tampaknya sebelum kembali ke rumah kediaman ibunya, Evan adalah seorang bartender di kapal pesiar. Karena itu, walau tidak begitu mengenal Italia sebagai lahan rekreasi, namun dirinya memilih satu kota yang berada di pesisir pantai, dan bukannya pusat pariwisata (layaknya Roma atau lokasi landmark lainnya).

Apalagi dengan pembawaan karakternya yang mudah nyambung dengan siapa pun di film ini, termasuk Louise yang eksentrik. Penulis akhirnya yakin, bahwa Evan memang seorang pengelana sejati, yang siap bertahan dimanapun lokasi dirinya berada.

Memaknai Adaptasi Horornya Junji Ito Ala Film Tomie Unlimited

 

Tomie yang memabukkan (Asian Wiki).

Seperti sudah dijelaskan sebelumnya, artikel Monsterisasi minggu ini akan diisi dengan film horor. Karakter utamanya yang wanita, akan dijabarkan dengan lebih mendetail secara simbolis, karena lebih mengacu pada stigma sosial yang ada. Ya, artikel ini tidak akan membahas wanita 'layaknya racun dunia.' Tetapi, mengacu pada kesan sosial masyarakat, kepada peran wanitanya itu sendiri.

Hehe, terdengar agak berat, padahal tidak juga. Walau saya bukan seorang simping berat, tetapi tahu harkat wanita di kalangan masyarakat. Karena itu, seperti biasanya, horor adalah bagian dari pelarian suatu budaya. Jadi, artikel semacam ini akan membahas segi karakter wanita yang terlalu dilebih-lebihkan, tentunya oleh masyarakatnya itu sendiri.

Oh ya, contoh lucu dari pamali tradisional terdahulu, layaknya anak kecil yang dilarang main keluar saat malam hari. Nantinya takut diculik Kuntilanak, sejenis jurig berambut panjang dan berbaju gaun putih. Namun jika ditelaah dari budaya, maka malam hari tentu tidak aman bagi anak kecil, apalagi jaman saat hanya ada obor sebagai penerangan malam hari.

Okeh, bagaimana dengan kesan Kuntilanak tersebut di jaman modern, saat malam hari masih terang benderang? Karena itu, artikel ini akan membahas satu karakter paling terang dari karya Mangaka Jepang, Sensei Junji Ito. Namanya adalah Tomie, yang sering muncul sebagai anomali di banyak manga pendeknya. Khusus untuk artikel ini, akan membahas cerita dari adaptasi filmnya, berjudul Tomie Unlimited dari tahun 2011 lalu.

Jujur saja, saat pertama kali menonton film ini, penulis kurang ngeuh dengan maksud ceritanya. Namun, setelah jaman internet yang kentara, penulis pun mulai membaca manga karya Sensei Junji Ito. Akhinya cukup mengerti, dari mana segi kengerian kisah Tomie ini.

Tomie di Manga

Karakter Tomie di manga memiliki khasnya sendiri, yaitu wanita muda yang cantik nan memabukkan. Sayangnya karena karya ini milik Junji Ito, maka ceritanya akan berakhir buruk bagi Tomie atau karakter lainnya. Ya, akhir cerita pendek berisi Tomie didalamnya, akan berakhir buruk bagi semuanya. Cek saja di banyak manga atau serial anime-nya, Tomie adalah karakter yang sering muncul.

Khas karakter Tomie, adalah pasti memabukkan bagi banyak karakter lainnya, khususnya pria. Selain itu, karakter wanita disekitarnya akan cemburu buta, karena kecantikan dan kepopuleran Tomie di kalangan pria. Kepopuleran Tomie, secara harfiah merubah dunia di sekitarnya. Seakan menjadi panggung bagi dirinya sendiri, sementara Tomie adalah Idol utamanya.

Sayangnya, layaknya karya horor Junji ito, pasti diakhiri dengan sadis dan berbahaya. Saking cemburunya para karakter wanita, mereka sanggup bertindak sadis dengan membunuh langsung Tomie. Tidak hanya itu, karakter prianya pun bertindak lebih pula, dengan tidak hanya mendekati Tomie, tetapi (dengan harfiah) mencincang tubuhnya, demi mendapatkan sedikit 'dagingnya yang enak.'

Nah dari situ, Tomie justru sanggup kembali hidup (sekali lagi harfiah), dan hidup seperti biasa. Banyak yang heran, tetapi malah membiarkannya. Banyak karakter yang sebelumnya berbuat jahat kepada Tomie, malah merasa aman gara-gara korbannya masih hidup. Seakan, dosa mereka sudah bersih sepenuhnya. 

Ya satu kekhasan dari cerita Tomie, adalah wanita ini memang sejenis monster, yang sanggup beregenerasi dari titik daging terkecil, layaknya karakter Deadpool dan Wolverine. Namun, Tomie bukanlah karakter jahat. Agak manipulatif memang, karena Tomie sering memanfaatkan kecantikan dirinya, demi mendapat para pria atau ketenaran. Namun Tomie sendiri tidak pernah bertindak jahat, tidak seperti karakter monster lainnya di manga karya Sensei Junji Ito.

Bagaimana dengan karakter dari adaptasi filmnya yang berjudul Tomie Unlimited? Justru digambarkan dengan mirip selama durasi filmnya, namun dengan akhir yang cukup mencengangkan. Ya, bagi yang tidak mau kena spoiler akhir cerita, harus menghindari kelanjutan artikel dibawah ini.

Akhir Cerita Tomie Unlimited

Seperti biasa, setelah banyak drama dengan kisah saling hasut, mendarah-darah, dan mendaging-daging selama durasi film, justru akhir Tomie Unlimited sangatlah berbeda dengan karya dari manga-nya. Di akhir cerita, karakter Tomie sanggup melipat-gandakan dirinya, dengan banyak penjelmaan dirinya, sebagai pasangan pria atau bahkan teman wanita. 

Di akhir film, Tsukiko Izumikawa (Moe Arai) sebagai tokoh utama, menganggap dirinya berhasil membasmi Tomie yang selalu hidup kembali. Ya, berbeda dengan karya manga, Tsukiko memang waspada akan bahayanya Tomie. Layaknya monster, Tsukiko berhasil membakar atau menghancurkan seluruh bagian tubuh Tomie, agar tidak menganggu sekolah dan wilayah sekitar rumahnya lagi.

Namun hancurnya tubuh Tomie justru memicu kemampuan lainnya dari Tomie, yaitu melipat-gandakan dirinya. Selayaknya judul Tomie Tanpa Batas, karakter Tomie malah ditemukan di seluruh lokasi sekolah dan rumahnya. Seakan, hanya Tsukiko saja yang berhasil mempertahankan dirinya. Sementara seluruh wanita di sekitar area rumahnya, telah berubah semuanya jadi Tomie.

Nah, kisah Tomie yang cantik nan memabukkan ini, cocok untuk mengacu pada sub-artikel berikutnya, yaitu mengacu pada stigma sosial dengan istilah Beauty Standard, khususnya di Jepang sana.

Beauty Standard vs Gyaru dan Yankee di Jepang

Beauty Standard atau Standar Kecantikan, memang menjadi khas sosial selama ini. Wanita diharapkan untuk bersikap anggun, lemah-lembut, bertutur kata baik nan manis, sekaligus cantik dengan segala standarnya.

Namun sejak awal tahun akhir 90an lalu di Jepang, terdapat satu pergerakan besar dari wanita. Banyak pemudi yang masih bersekolah atau kuliah, kurang menyukai stigma sosial untuk wanita Jepang. Mereka didorong untuk mengikuti Standar Kecantikan tersebut, namun melawan dengan gaya khasnya.

Pergerakan ini disebut Gyaru atau Yankee di Jepang sana. Para pemudi ini berkulit cokelat (khusus gyaru), atau berambut pirang alias blonde (ala yankee). Tidak hanya kulit atau rambut, banyak aksesoris serta pakaian nyeleneh, yang dikenakan oleh mereka sehari-hari. Tingkah mereka pun sama sekali tidak dapat disebut anggun, melainkan tomboy dan pemberani sekaligus tangguh.

Nah, animo ini semakin meramaikan ranah Jepang sana, yang memang banyak mengalami pergolakan pemuda-pemudinya. Hingga kini, pergerakan gyaru atau yankee, masih menjadi tren khusus bagi para peminatnya.

Bagaimana hubungannya dengan kisah Tomie Unlimited? Nah, itulah maksudnya. Dunia mainstream selalu meminta standar yang sama, termasuk kecantikan bagi para wanitanya. Standar ini memang diterima oleh khalayak luas, sehingga menjadi kesan khusus yang dapat diperkirakan. Layaknya Tomie yang berlipat-ganda, standar ini terus 'menjamuri dan menginfeksi' banyak wanita di Jepang.

Berbeda lagi dengan dunia yang lebih mengacu pada seni, dimana ekspresi pada karya adalah yang terpenting. Karena itu, gyaru dan yankee tidak hanya menjadi pilihan modis saja, tetapi sebuah pergerakan tertentu dari ranah non-standar. 

Beberapa karya manga dan anime saat ini, sering mengingatkan kembali bedanya gyaru dan yankee di ranah karya mereka. Contoh terbarunya adalah Momo Ayase (Shion Wakayama) bersama kedua teman wanitanya, Miko (Kaori Maeda) dan Muko (Miyu Tomita). Ketiganya adalah contoh gyaru dan yankee di karya manga dan anime viral, sejak tahun 2024an hingga sekarang.

Jadi, selayaknya quote dari Patrick Star yang non-standar dan bisa beregenerasi layaknya Tomie, 'Aku Jelek dan Aku Bangga!'

Haaah??? (Pinterest).