29 Januari 2026

Tanpa Batasnya Simbol Saat Gelut Saitama vs Boros di One Punch Man

 

Saitama vs Boros (Fiction Horizon).

Hehe, saatnya membahas satu anime yang sangat kentara dengan referensinya, OPM alias One Punch Man. Bagi para penggemar anime, tentu tahu bahwa OPM adalah parodi dari segala jenis anime, khususnya Battle Shonen atau Super Hero. 

Namun menurut penulis, ada satu adegan yang sangat kentara simbolismenya, daripada referensi Budaya Populernya. Ya sesuai judul, sangat kentara saat akhir musim pertama alias tahun 2016 lalu, saat Saitama duel melawan Boros diatas pesawat invasi. Bagi yang kurang ingat dengan gelutnya, bisa dicek saja di YouTube. Banyak kanal yang mengunggah klip khusus Saitama vs Boros.

Oh ya, sebelum membahas gelut yang lebih kentara ke penggambaran Boros, maka perlu diingat bahwa Saitama adalah referensi simpel. Saitama mengacu pada Biksu Shao Lin dari China, yang jelas berpakaian kuning dengan kepala botaknya. Bahkan selama bertahun-tahun, hidup Saitama hanya diisi latihan berat seharian, dengan hanya memakan pisang saja, layaknya biksu yang berlatih dengan pola makan vegetarian.

Simbol Ouroboros (Wikimedia).

Nama Boros

Boros mengambil referensi dari Ouroboros, yaitu sejenis simbol dari Mesir dan Yunani Kuno. Gambarnya cukup aneh, yaitu sejenis naga atau ular, yang memakan ekornya sendiri. Secara simbolis, interpretasi gambar ini adalah siklus tanpa akhir untuk kehidupan, kematian, dan kebangkitan kembali. Tetapi simbol ini berbeda jauh dengan Infiniti, yaitu bentuk pita berkesinambungan lebih jelas.

Padahal jika dicek secara sainsya, ular yang melahap ekornya sendiri, berarti ular tersebut sedang di penghujung hidupnya. Ular berarti gagal memangsa hewan lain, sehingga satu-satunya pilihan adalah melahap ekor sendiri. Atau, akibat ular yang stres dan salah mengartikan ekornya sendiri. Sesuai dengan anehnya sikap ular, dalam satu istilah frase bule, menggigit ekor sendiri berarti maksudnya adalah menyakiti diri sendiri.

Dari situ, cocok sebagai referensi langsung tentang kegilaan Boros, yang tiada habisnya. Boros adalah karakter jahat yang bertualang antar galaksi bersama anak buah dan pesawat miliknya, demi mencari gelut yang sepadan. Namun saat tiba di bumi, hasilnya adalah Saitama sanggup mengalahkannya. Bahkan, Boros merasa gelut tersebut tidak sepadan sama sekali, karena Saitama tidak mengeluarkan seluruh kemampuannya.

Dua Mata Boros

Kalau yang kurang ngeuh, pasti menganggap bahwa mata Boros hanyalah satu, alias di wajah saja. Padahal jika dicek adegannya, mata Boros ada dua, yaitu satu lagi berada di perutnya, yang menutupi kristal regenerasinya. Ya, dua mata ini adalah simbol dari dua dewa Mesir Kuno, yaitu Dewa Ra dan Dewa Horus. 

Oh ya, simbol satu mata ini tidak mengacu ke satu tokoh terkenal itu loh, yang memang matanya hanya satu, dan suka bikin kisruh sedunia, dari jaman terdahulu hingga sekarang.

Di mitologi Mesir Kuno, Dewa Ra adalah Dewa Matahari, dengan mata (kanan)-nya sebagai simbol. Dewa Ra bisa diartikan pula sebagai kekuatan besar dunia, yang dapat menghalau musuh manapun. Matahari bukan hanya simbol, karena dalam kesehariannya, warga Mesir Kuno menggunakan penanggalan matahari, alias 365 hari setahunnya. Khusus di Boros, berarti ini adalah mata di bagian wajahnya, alias penunjuk arah dan identitas.

Sementara mata kedua yang berada di perut, mengambil referensi simbol Mata Horus. Dewa yang satu ini, menyimbolkan kesejahteraan, kesembuhan, dan perlindungan. Maka, mata yang satu ini cocok ditempatkan di perut, walau tidak begitu jelas penggambarannya di tubuh Boros. Tetapi, Boros berkemampuan regenerasi yang sangat kuat dan cepat, sesuai dengan simbol Dewa Horus, dan siklus Infiniti (tanpa batas) ala Ouroboros.

Ada dua adegan yang perlu dicek mengenai kemampuan regenerasi Boros saat melawan Saitama. Yaitu saat Saitama memukul keras Boros, tepat di bagian perut. Lalu saat Saitama memukul cepat dan banyak, untuk menghancurkan seluruh tubuh Boros. Sayangnya, masih tersisa kristal regenerasinya, sehingga Boros berhasil menyembuhkan tubuhnya.

Bumi, Bulan, dan Matahari

Kali ini, bukan hanya mengacu pada simbol kedua karakter, tetapi adegan langsung saat gelutnya. Saat Boros akhirnya berhasil menendang keluar Saitama dari Bumi, dan berakhir di permukaan Bulan. Dari situ, Saitama tetap berhasil loncat kembali ke Bumi, dan langsung berhadapan dengan Boros.

Simpel saja seperti sudah diutarakan sebelumnya, Saitama adalah visualisasi Biksu Shao Lin dari China. Berarti, dengan dirinya yang berakhir di Bulan, layaknya mengingatkan China yang (secara tradisional) masih menggunakan penanggalan Bulan dalam kehidupan sehari-hari. Sementara Boros dari Mesir Kuno, sudah pasti berlandaskan siklus Matahari sebagai penanggalannya. 

Tidak ada definisi berarti dalam keduanya, karena memang menggambarkan dua jenis penanggalan berbeda. Di negara seperti China dengan kalender Bulannya, Hijriyah ala negara Muslim, serta penanggalan Jawa yang kental, Bulan memang menjadi landasan utama di kalender.

Sementara di seluruh dunia, Masehi alias penanggalan matahari, masih menjadi standar kerjasama internasional. Jika dicek sejarahnya, Mesir Kuno memang mempengaruhi banyak kerajaan dalam penanggalan mataharinya, sementara Yunani hingga Romawi Kuno masih menggunakan tanggal ala Bulan. Baru mendekati tahun Masehi, Romawi akhirnya mengadaptasi penanggalan Matahari.

Pendapat Penulis tentang Siklus Ouroboros

Penulis sendiri memiliki pendapat khusus dengan Ouroboros, yang sangat destruktif pada diri sendiri (dan orang lain), padahal bagian utama dari siklusnya. Ya, bukannya penulis memiliki masalah menyakiti diri sendiri (atau orang lain), tetapi terdapat suatu bentuk destruktif yang perlu dihindari.

Tidak hanya mengacu pada Biksu yang damai, atau Ouroboros yang destruktif, tetapi penulis memang perlu menjabarkan simbol ini di banyak media. Dari segi ini, walau saya menulis dan menjabarkan simbol yang ada di banyak media terkenal, namun cukup sulit untuk menghindari pola destruktif-nya. Ya, setiap media memang memiliki pola ancur-ancurannya sendiri.

Apalagi jika mengacu pada Seni Populer atau bahkan Jurnalistik, yang kehilangan dasar konsep serta Primbonnya (seakan Politik Praktis). Bahkan, beberapa media seperti itu, layaknya ngalor-ngidul di artikel Monsterisasi, yang (bisa jadi) tidak cocok referensinya, dan bahkan kurang sesuai dengan kebutuhan kesehariannya.

Nah karena itu, (mungkin) One Punch Man menjadi artikel terakhir Monsterisasi berisi anime. Nantinya artikel sejenis ini tidak akan ditulis setiap minggunya, dengan referensi yang lebih berat di genre dan media lain, khususnya horor.

Okeh, Amitabha.

27 Januari 2026

Horornya Jurig Orok dari Taiwan di Film Mudborn

 

Kisah keluarga yang menunggu momongan (TMDB).

Sudah saatnya mengalihkan perhatian ke ranah perfilman dari Taiwan, khususnya dalam genre horor. Contohnya akhir Januari ini, dirilis film berjudul Mudborn di sinema Indonesia, dengan rating yang sama seperti sebelumnya, yaitu D17. Walau sudah dirilis tahun 2025 lalu dan baru masuk Indonesia di tahun 2026, Mudborn tampaknya melanjutkan animo horor berbeda dari Taiwan sana.

Sedikit Kabar Horor dari Taiwan

Taiwan memang sudah cukup jarang terdengar mengenai ranah perfilmannya lagi, khususnya di Nusantara. Namun, menjelang tahun 2020an, gaung horor mulai terdengar dari negara kepulauan di semenanjung China ini. 

Awalnya (menurut penulis), adalah hasil dari film yang sudah mencapai seri ketiganya, yang berjudul The Rope Curse. Film yang dirilis tahun 2018, 2020, lalu 2023 ini, mengambil kisah yang sangat kentara budayanya. 

Mengambil referensi jurig Thailand yang suka menjebak manusia dengan ikatan tali tambang, dalam film The Rope Curse memang jurignya tiba dari negara Siam. Cara melawan kutukannya pun cukup unik, yaitu sejenis opera tradisional China-Taiwan. Bahkan hingga seri keempatnya (yang belum dirilis), khas opera tradisional sebagai ritual anti jurig, masih lekat dalam waralaba film ini. 

Berikutnya adalah film yang lebih mengacu pada legenda urban, dalam film The Bridge Curse (2020). Film ini mengisahkan tentang legenda jembatan di sebuah kampus, yang sering dipakai sebagai bagian jurit malam dari mahasiswa. Cukup seram dan aneh, karena banyak adegan berjumpalitan, sehingga menyajikan misteri berbeda dalam duo film ini. Bahkan jika ingin mengerti seluruh kisahnya, maka perlu menonton sekuelnya yang bersub-judul The Ritual, di tahun 2023. 

Terakhir adalah contoh film Taiwan yang sangat viral di tahun 2022 lalu, berjudul Incantation. Berbeda dengan dua waralaba film sebelumnya, film Incantation ini lebih mengisahkan tentang ritual aneh di penghujung desa Taiwan. Karena lokasi terpencil desa serta ritual tradisinya yang berbeda, film ini layaknya menggunakan teknik sineas perfilman Jepang terdahulu. Ya, layaknya film Ringu (1998, 2003, 2005), kisah investigasi sejarah dan budaya tradisional di lokasi urban terpencil, sangat kentara dalam film Incantation ini.

Nah, film Incantation ini cocok sebagai perbandingan dengan film Mudborn, karena memiliki plot yang mirip. Dalam film tahun 2022 lalu, lebih mengisahkan tentang seorang ibu yang ingin anaknya tetap bertahan hidup, tanpa gangguan jurig. Kali ini di film Mudborn, justru sepasang suami istri yang ingin segera memiliki anak. 

Tidak hanya kisah keluarga yang dihororkan, namun mengacu pada benda keramat serta ritual aneh lainnya, yang ditampilkan dalam kedua film ini. Di film Incantation, terdapat banyak jimat serta penggambaran dewa yang seharusnya melindungi insan sang anak. Namun di film Mudborn, justru banyak kejadian aneh yang muncul akibat patung tanah liat kecil berbentuk anak. Patung ini justru tidak seharusnya horor, karena dipercaya membawa keberuntungan di Taiwan sana.

Sinopsis Film Mudborn

Xu Chuan (Tony Yang) secara tidak sengaja membawa kutukan berat ke rumahnya. Dirinya yang tengah menunggu istrinya, Mu Hua (Cecillia Choi) untuk segera hamil, malah menyebabkan rumahnya menjadi horor. Mu Hua sebagai seorang kolektor barang antik, yang diberikan boneka tanah liat berbentuk anak oleh Xu Chuan. Dirinya malah terobsesi oleh patung tersebut, dan bahkan mulai berubah seluruh kepribadiannya, hingga terbalik 180 derajat. 

Mu Hua pun semakin sakit fisiknya, namun turut sakti mandraguna, sehingga Xu Chuan menganggapnya kerasukan. Saat dicek, ternyata boneka tersebut bukan patung jimat biasa, melainkan digunakan untuk menyegel sejenis mahluk mistis berbahaya. Mu Hua semakin terlihat kesurupan, sementara Xu Chuan tidak bisa tinggal di rumah lagi. Dirinya lalu mulai mencari banyak dukun bersama teman-temannya, demi menyembuhkan Mu Hua dari godaan jurig laknat tersebut.

Dapatkah keluarga kecil ini selamat? Atau malah menyebabkan kerusuhan besar di seantero lingkungan rumah?

Jawabannya, tentu ada di ritual keluarga kecil ala sinema Indonesia.

Terjebak Pulau Terpencil Ala Sam Raimi di Film Send Help

 

Linda yang berhasil menyalakan api (IMDB).

Bagi yang ingat dengan nama Sam Raimi, tentu bakal ingat seaneh apa penulis naskah sekaligus sutradara film ini. Apalagi film terbarunya di tahun 2026 ini, berjudul Send Help, yang tayang di sinema Indonesia dengan rating D17. Walau plot utamanya mengisahkan terjebak di pulau terpencil, namun bumbu horor ala Sam Raimi tentu meramaikan film ini.

Sam Raimi dan Genre Horor

Lebih baik membahas terlebih dahulu Sam Raimi, yang dikenal dengan genre horor nyelenehnya. Agak berbeda dengan kebanyakan sutradara, penulis naskah, atau produser film horor dari Hollywood, Sam Raimi memang menceritakan kisah horor yang lebih absurd, abstrak, dan ditambah anehnya adegan.

Kisah Sam Raimi yang nyeleneh diawali saat berkarya dalam film The Evil Dead, tahun 1981 lalu. Begitu tidak suka dengan hasil akhirnya, Sam Raimi lalu memulai reka ulang langsung di film keduanya, yang rilis tahun 1987. Walau tidak begitu berbeda plot serta lokasi latarnya, namun adegan yang ditampilkan justru lebih aneh dengan akting yang berlebihan, sehingga banyak penggemar yang suka. 

Keanehan cerita dan adegan pun dilanjutkan pada film ketiga Evil Dead bersub-judul Army of Darkness (1992), yang sangat kental dengan adegan campy. Mungkin Sam Raimi adalah pionir sineas perfilman Hollywood, yang berhasil pertama kalinya dalam mengombinasikan film horor dengan nyelenehnya pemuda-pemudi sana. Walau begitu, di film Night of Living Dead yang khas dari George A Romero (tahun 1968 lalu), berhasil direka ulang oleh Sam Raimi saat tahun 1990. 

Kombinasi genre horor serius, dengan karakter yang terlalu unhinged sekaligus nyentrik, menjadi khas Sam Raimi selama berkarya dalam genre ini. Bahkan, gaya sutradara miliknya ikut terserap dalam film pahlawan super Spider-Man (2002, 2004, 2007). 

Dalam trilogi ini, lebih banyak adegan yang mirip film horor. Contohnya adalah saat Green Goblin yang memiliki keperibadian ganda, atau saat Doctor Octavius yang membasmi dokter bedah, di ruangan darurat rumah sakit. Tidak hanya itu, khas Sam Raimi adalah drama dibalik setiap karakternya. Peter Parker dalam film ini tetap terpukau pada Mary Janes, padahal karakter cewek ini jelas memiliki banyak red flag, sekaligus toxic relationship.

Hingga kini, beberapa film unik yang berhasil disutradarai, ditulis naskah, atau dipimpin sebagai produsernya oleh Sam Raimi, telah meramaikan ranah horor di Hollywood. Contoh filmnya yaitu 30 Days Of Night (2007), Drag Me To Hell (2009), Poltergeist (2015), Don't Breathe (2016), Crawl (2019), dan 65 (2023).

Okeh, saatnya membahas film Send Help yang disutradarai dan ditulis naskahnya langsung oleh Sam Raimi. Walau plot utamanya adalah terjebak di pulau terpencil, namun bukannya menjadi cerita para penyintas dalam bertahan hidup, karena satu karakter malah jadi psikopat dan memburu tokoh lainnya.

Sinopsis Film Send Help

Linda Liddle (Rachel McAdams) adalah seorang pegawai kantoran yang sedang stres parah. Dirinya baru saja disepelekan langsung oleh seorang bos, selaku pemilik perusahaan tempatnya bekerja, yang bernama Bradley Preston (Dylan O'Brien). 

Dengan nada yang sinis, Bradley mengajak Linda untuk berkunjung ke situs lokasi investasi perusahaan di Bangkok, Thailand. Namun, jika Linda gagal memberi kesan baik pada Bradley, maka dirinya akan langsung dipecat.

Naas terjadi saat keduanya tengah menaiki kapal eksekutif pribadi milik Bradley. Pesawat terjebak badai hebat, sehingga jatuh dan karam di lautan. Keduanya berhasil selamat, namun terjebak di sebuah pulau kecil dan terpencil. 

Walau sudah terbiasa hidup nyaman di kota, Linda ternyata sanggup bertahan hidup dengan mencari makan, membuat hunian sementara, serta menyembuhkan luka di kaki Bradley. Namun Bradley masih penuh gengsi, berlagak ala bos, sambil menganggap Linda hanyalah bawahan. Maka, Linda berontak dan mulai bertindak brutal. Bradley yang panik, lalu melarikan diri ke tengah pulau, sementara Linda memburunya dengan senang hati.

Bagaimana akhir kisah dua insan yang masih terjebak gengsi di pulau terpencil ini? 

Jawabannya, tentu sama dengan rasanya terjebak tanpa penerangan ala sinema Indonesia.

Jason Statham Mencari Perlindungan di Film Shelter

 

Mason dan Jesse yang kalang kabut (IMDB).

Jason Statham sebagai aktor aksi yang masih berkecimpung, kini kembali di 2026 dengan film terbarunya, berjudul Shelter, yang tayang di sinema Indonesia dengan rating D17. Cukup berbeda dengan kebanyakan aktor-aktris aksi, Statham adalah satu aktor yang sama sekali tidak terkait dengan animo pahlawan super.

Aktor kelahiran Inggris dan mantan atlet selam ini, lebih mirip dengan aktor aksi lawas, yang berlatar seorang jago fisik serta olahraga. Statham sudah disejajarkan dengan banyak aktor aksi lawas Hollywood, contohnya dengan mengisi film The Expendables (2010, 2012, 2014, 2023). Banyak sinematografi Statham, dijelaskan dalam artikel tahun 2025 kemarin, saat membahas film A Working Man

Apalagi selama ini Statham dikenal sebagai ahli beladiri, yang berlatar karate, kickboxing, wing chun, dan jiu jitsu. Dengan minat awal karir perfilman sebagai pemeran pengganti, Statham akhirnya sukses berkarir sebagai aktor aksi, dengan sering melaksanakan koregrafi gelutnya sendiri. 

Menurut dirinya, aktor dan aktris pemeran pengganti seharusnya diberikan lebih banyak pujian, daripada terlalu berfokus pada aktor dan kemampuan aktingnya saja. Contohnya adalah saat di film Transporter (2002) yang menaikkan namanya di ranah Hollywood. Hampir seluruh koregrafi gelut dan aksi sulit, dilaksanakan sendiri oleh Statham di film ini.

Kembali ke film Shelter, Statham yang telah berumur hampir 60 tahun, tepatnya 59, sudah selayaknya berperan sebagai veteran. Umur segitu, layaknya aktor lawas Sylvester Stallone, yang berumur 63 tahun saat film The Expendables pertama (bersama Statham) dirilis pada tahun 2010 lalu.

Latar film ini pun cocok dengan istilah kembali ke kampung halaman. Yaitu, dengan kembali ke ranah Inggris Raya, tepatnya di Skotlandia, serta lokasi syuting asli di Irlandia. Logat Inggris yang khas pun, mengisi film ini dengan kental.

Okeh, memang rasanya berbeda membahas aktor lawas, apalagi saat berperan dalam film aksi gelut. Kali ini, mending dibahas saja sinopsisnya, yang ternyata cukup mirip dengan khas Statham selama ini.

Sinopsis Film Shelter

Mason (Jason Statham) adalah seorang penyendiri yang tinggal di sebuah pulau mercusuar terpencil, di pesisir pantai Skotlandia. Selama ini, dirinya dikirim suplai oleh seorang gadis remaja, bernama Jesse (Bodhi Rae Breathnach). Suatu hari, Jesse terjebak di pulau tersebut akibat badai yang tiba menerjang, dan terpaksa mengungsi di mercusuar, hunian Mason.

Namun saat malam tiba, satu skuad pasukan bersenjata tiba di pulau tersebut, dan mulai memburu Mason. Jesse yang tidak mengerti, disembunyikan oleh Mason agar tidak terlibat pertikaian hebat ini.

Jesse akhirnya menjadi satu buronan akibat terlihat bersama Mason, yang tidak rela akan keadaan tersebut. Mason lalu mulai mencari banyak kenalan lamanya, bukan untuk melarikan diri, tetapi menjamin keselamatan Jesse yang jelas tidak bersalah atas semua ini.

Apalagi, Mason sebenarnya telah mengenal, bahwa pasukan yang mengejarnya bukanlah sembarang organisasi. Mason menganggap bahwa dirinya ditarget lagi akibat masalah lama, saat dirinya masih bertugas. Jika Jesse sampai terlibat, maka dirinya bisa diburu hingga akhir hayat, layaknya Mason.

Sanggupkah Mason melawan semua kisruh ini? Sempatkah Jesse selamat tanpa masalah berkelanjutan? Atau malah berakhir buruk akibat semuanya?

Jawabannya, tentu ada di aksi veteran ala Sinema Indonesia. 

23 Januari 2026

Mengenal Luffy Sang Topi Jerami dari One Piece

 

Luffy sang Topi Jerami yang ternyata Jurig Persib (KapanLagi).

Sebenarnya sudah lama pengen nulis Monsterisasi tentang One Piece, apalagi dengan banyak referensi mengenai buah setannya, tetapi apalah daya dengan keadaan berita pada September 2025 kemarin. Seorang Infuencer pecicilan dan banyak pasukan bajak lautnya, malah ngebadut dan bakar-bakar gedung DPR. Jadi ya malas membahasnya, seakan nge-feed suatu kontroversi. Sang Influencer pun masih memanasi Inet dengan clickbait lainnya di akhir tahun kemarin.

Tetapi di awal tahun 2026 ini, tepatnya tengah musim Liga 1 sepakbola Indonesia, akhirnya ada genderang betulan yang bergaung dari Bandung sini. Ya, saat Persib menjadi juara pertengahan musim dengan mengalahkan Persija, lalu berkibarlah lima bendera koreo raksasa di stadion, berisi gambar Luffy yang tengah membawa piala Liga 1. Animo semacam ini, sekali lagi layaknya warga Bandung, menantang dan menimpa kesan buruk sebelumnya. 

Nya nuhunkeun Persib anu atos Juara Tengah Musim Liga 1 Indonesia. Nuhunkeun oge ka Bobotoh sareng Jurig Persib, anu ngobarkeun bandera Luffy. Saur kuring mah kanu kitu teh, tiasa ngajunjung kompetisi anu bersih sareng kiblat anu bener, nya eta sami berkarya tina jalur bener. Sakali deui, Nuhun!

Some Chase Noise, We Chase Horizons!

Luffy di GBLA (Instagram).

Saya akhirnya bisa nulis juga artikel tentang One Piece, khususnya karakter utama bernama Luffy. Sama seperti sebelumnya, satu karakter saja yang dibahas latar serta visualisasinya, karena menghindari (banyak) spoiler dan lebih terfokus. Apalagi Luffy dan buah setannya, cocok sebagai karakter yang kesetanan.

Luffy Sang Topi Jerami

Dari sini, saya menggambarkan satu benda paling kentara saja, yaitu topi jerami milik Luffy, yang tergambar pada bendera bajak lautnya, sekaligus julukan kru tokoh utama kita ini. Apalagi topi jerami adalah simbol janji antara dua karakter, yang akan dikembalikan oleh Luffy kepada Shanks, saat dirinya mencapai status bajak laut yang hebat.

Mengacu dengan simpel, topi jerami adalah sejenis topi berbahan jerami (lah?), yang dipakai sebagai topi surya. Berbagai bentuknya telah ada sejak jaman dahulu, seperti topi ala fedora atau topi petani yang kerucut. Hingga kini, topi jerami masih digunakan karena ringan dan tidak panas, dengan fungsi utama menghalau cerah matahari mengenai mata. Karena itu, topi jerami dipakai oleh banyak orang saat beraktifitas siang hari di luar ruangan, khususnya di Jepang.

Sesuai dengan tema bajak laut di One Piece, topi jerami (entah kenapa hanya Luffy dan Shanks yang punya), adalah simbol khusus mengenai keadaan para bajak laut, alias para pelaut. Ya, topi ini identik pula dengan para pemancing, yang beraktifitas di tengah laut bersama terik mataharinya. 

Topi pemancing ini cocok dengan keadaan di manga dan anime One Piece, yaitu simbol 'mencari makan' di laut. Bahkan di beberapa episode, yang menunjukkan Kru Topi Jerami memancing ikan untuk dimasak. Jika tidak habis dagingnya, sisa ikan (raksasa) akan dijual saat berlabuh ke pulau. Bahkan ada satu episode saat Kru Topi Jerami perlu menjual ikan hasil pancingan demi menambah dana, yang dipakai untuk memperbaiki Going Merry di Water 7 (selain harta karun Skypea).

Konsep topi jerami ini berarti cukup dalam pula, karena Luffy lebih mementingkan topi daripada hidupnya. Bahkan ada satu film (non-canon), yang fokus berkisah Kru Topi Jerami saat membobol satu markas Marinir, demi meraih kembali topi miliknya. Judulnya One Piece 3D, dari tahun 2011.

Cukup sederhana layaknya trope atau gag anime yang lucu. Tetapi coba ingat seluruh Arc di One Piece, yang aslinya Battle Shonen. Setiap Arc mengisahkan Kru Topi Jerami yang menyelamatkan warga satu pulau, dari tindasan para bajak laut jahat. Luffy sangat tidak suka dengan penindasan yang semena-mena. Karena, mereka adalah warga biasa yang hanya bertahan hidup saja.

Buah Setan

Nah, dimulailah paradox Luffy sebagai pahlawan. Luffy (selalu) tidak ingin dianggap sebagai pahlawan, namun bajak laut yang senang bertualang. Ya, Luffy memiliki tingkat IQ yang nyebelin, namun menurut penulis, itu hanya pelarian saja. Luffy sebenarnya cukup pintar, namun menolak status tersebut, dengan hanya ingin bertualang sambil gelut saja. 

Tetapi, Luffy sebagai seorang kapten bajak laut dan buah setannya, memang cocok. Buah setan ini digambarkan oleh mangaka Eiichiro Oda, layaknya buah eksotis yang tiba dari daerah tropis sedunia, hingga benua Amerika yang baru ditemukan. Referensi yang kentara, bahwa cerita One Piece mengacu pada masa keemasan bajak laut di Karibia sana (abad 17-18). 

Referensi buah eksotis sebagai bagian dari setan, bukan karena kemampuan aneh yang diberikannya saja, tetapi mengacu pada potensi untuk memanggil setan besar sebelumnya. Belum dijelaskan langsung oleh Eiichiro Oda, tetapi sudah ditampilkan pada film One Piece: Red, dimana fokusnya adalah karakter Uta dan buah setan Musiknya. 

Uta yang bekerja sebagai penyanyi, ternyata sempat memanggil setan dalam buah musiknya. Padahal Uta masih kecil saat pertama kali memanggilnya, dan berakhir satu pulau yang dibantai habis. Shanks yang berada disana, harus menghalau setan tersebut bersama kru-nya. Walau film ini yang canon hanya Uta dan Shanks-nya saja, tetapi cukup menggambarkan potensi setan dari buah ajaib ini. Uta yang belum pernah melatihnya saja, sanggup memanggil setan sekuat itu.

Bahkan ada satu pepatah canon dari One Piece, bahwa buah setan adalah hasil ajaib dari minat manusianya. Sensei Oda pun beberapa kali menggambarkan Luffy yang mencapai Gear 5th alias telah Awakened, dengan wajah hitam dan bola mata merah, seakan setan yang baru saja muncul dengan kesetanan. Jadi apapun yang terjadi di dunia, buah setan selalu menjadi mitos nyata, tentang perubahan besar di One Piece.

Buah Setan Gomu-Gomu dan Revolusi Industri

Namun, bagaimana dengan sikap pahlawan ala Luffy dan Kru Topi Jerami? Nah ini lebih cocok lagi. Daripada digambarkan ala simbol Buah Nika sebagai Dewa Kemerdekaan di One Piece, lebih cocok dicek saja referensinya.

Buah Gomu-Gomu alias karet, adalah komoditas yang seharusnya jarang. Sejarah ditemukannya pohon karet, adalah sebagai pohon endemi asli Amerika Selatan, khususnya Brazil. Sejak jaman koloni di Amerika, pohon karet lalu disebarkan ke seluruh dunia, dengan beberapa lokasi seperti Indonesia, yang cocok ditanam pohon karet.

Abad 17an adalah akhir dari jaman Renaisans, saat banyak negara Eropa memulai kolonialisme, dengan wacana menambah sumber daya alam mereka. Untuk apa? Demi menjalankan dunia progresif dan kemajuan ilmu sains, yang saat itu kurang dibarengi perkembangan teknologinya. 

Namun bukan itu fokus artikel ini, dan kembali ke fungsi karet itu sendiri. Komoditas karet adalah zat baru bagi negara sedunia, yang membuka potensi besar lainnya. Bahkan tanpa karet, saat ini kita tidak memiliki komoditas seperti karet atau plastik sintetis, dan hanya memakai bahan kayu, kulit, serta logam saja, layaknya sub-genre SteamPunk. Jadi, pohon karet adalah satu komoditas penting yang dioprek saat jaman Viktoria, dan berhasil membawa dunia menuju jaman Revolusi Industri.

Sekali lagi, para penggemar One Piece pasti tahu, bahwa dunianya mengacu pada jaman bajak laut dan kolonialisme. Jadi sebenarnya Sang Buah Setan Gomu-Gomu, adalah komoditas yang berhasil meng-carry dunia, menuju jaman keemasan berikutnya. Ya, memang tidak se-nihil simbol pecicilan ala Buah Nika. Biasa-lah Sensei Oda, tahu aja cara ngejebak pihak yang kurang paham.

Perubahan Iklim

Nah kalau yang satu ini sih, sudah cukup jelas ya, tetapi penulis saja yang ingin menambahkannya. Perubahan Iklim memang satu wacana yang sangat kentara di One Piece, bahkan kini hampir disejajarkan dengan tingkatan anti-rasisme-nya.

Semenjak dibukanya kisah Kerajaan Lulusia yang hancur seketika oleh Imu, dan menyebabkan permukaan laut meninggi 1 meter, kisah One Piece di Arc Pulau Egghead mulai mengacu ke penyebab anehnya geografi dunia. Vegapunk yang menyiarkannya, bahkan mencatat tinggi permukaan laut bumi sempat naik 100 meter. Segitu saja sudah menunjukkan, bahwa dunia One Piece semakin terbanjiri oleh lautan. Bahkan, nantinya yang tersisa hanyalah Red Line sebagai benua tertinggi, sementara seluruh pulau akan terendam. 

Seluruh kisah geografis ini, tentu mengacu pada perubahan iklim, yang tahun 2025 kemarin ternyata memporakporandakan seluruh dunia. Contoh paling dekat, adalah banyaknya badai topan yang tiba di Asia Tenggara, khususnya di Filipina dan Vietnam. Menurut Badan Meteorologi dan Geofisika kedua negara tersebut, badai topan yang tiba biasanya berjumlah sekitar 20 saja dalam waktu setahun. Namun di tahun 2025 kemarin, jumlah badai topan yang tiba di hampir mencapai 30! Tidak heran banyak bencana alam akibat cuaca di tahun 2025 kemarin.

Kembali lagi ke One Piece, dengan banjirnya seluruh dunia, maka siapa yang paling diuntungkan? Ya jelas Imu, serta kawan-kawannya di Tenryuubito, sebagai Top Global 1 Persen yang tersisa. Sementara itu, seluruh dunia layaknya menjadi korban genosida. Para punggawanya yang memiliki Buah Setan sakti pun, akan sulit berkelana akibat langsung tenggelam oleh air laut.

Oh ya, ada satu teori fans One Piece dari Reddit, bahwa Imu adalah simbol dari Umibozu, sejenis Yokai laut di folklore Jepang. Daripada membahas teorinya yang cukup panjang, coba dicek saja efeknya. Kalau memang laut akhirnya meninggi dan menenggelamkan dunia, maka Imu sebagai Umibozu akan semakin kuat, karena sumber kekuatannya adalah laut itu sendiri!

Okeh, Adios.

22 Januari 2026

Linda Linda Linda di Remastered Ampe 4K

 

Girlband yang tetap sumringah (TMDB).

Okeh, saatnya membahas film musikal yang berbeda dari ranah Jepang sana, berjudul Linda Linda Linda, yang tayang di sinema Indonesia dengan diperbarui sampai 4k. Sebelumnya, film ini baru saja dirilis di Indonesia, akhir tahun 2025 lalu dengan perbaruan 4k, saat ditayangkan sebagai bagian dari festival film di Yogya (JAFF), dengan rating umur R13. 

Film musikal ini memang nostalgia khusus, karena aslinya dirilis pada tahun 2005 lalu, saat banyak band berisi seluruhnya cewek, bermain musik instrumen rock. Animo ini terus berkembang hingga awal 2010an.

Awal 2000an adalah momen baru bagi kebangkitan musik, dengan banyak band indie yang bergerilya di seantero dunia. Bahkan di Jepang sana, band indie layaknya lahan bagi musisi yang tidak begitu mainstream.

Padahal, jaman tersebut belum ada internet yang cepat, sehingga kabar gigs dan sebagainya, hanya dikabarkan melalui ponsel atau di Myspace dan Friendster. Ya, kedua media sosial awal tersebut, biasanya dipakai untuk menyebarkan acara dari para band indie.

Namun, animonya terus berkembang maju, hingga akhirnya YouTube meramaikan dunia internet dengan unggahan video-nya yang mudah dan sederhana, sejak tahun 2006. Setelah YouTube dirilis, banyak band indie berbondong-bondong meramaikannya, dengan tautan menuju laman medsos mereka.

Nah, dari segi dunia musiknya sendiri, khusus di SMP hingga SMA Indonesia, semacam Pentas Seni sering diadakan setiap tahunnya. Pensi ini dilaksanakan dengan mengundang band besar atau indie terkenal, selain para anggota band dari sekolahnya sendiri.

Saking ramainya, setiap ada Pentas Seni di sekolah (khususnya di Bandung), sangat penuh dengan anak sekolah dari SMP-SMA lain. Karena mereka ingin menikmati band indie terkenal, yang cukup sulit ditemukan di luar sekolah (alias konsernya malam hari). Saking penuhnya, keadaan diluar sekolah kadang macet akibat penuhnya lokasi Pensi.

Masih teringat, saat Maia Estianty dan Mulan Jameela sebagai duo Ratu, tiba di sekolah terdahulu untuk meramaikan Pensi. Moshing Pit jaman tersebut memang beda, karena jarang ada kisruh antar genre yang berbeda.

Kembali ke film Linda Linda Linda, layaknya mengingatkan penulis saat lulus SMA terdahulu. Saat itu, guru yang memang lihai memainkan alat musik, mengisi Prom Sekolah di hotel, dengan berbagai kibasan musik Rock n Roll-nya. Moshing pun menjadi kewajiban saat momen berlangsung. Nostal-gila yang betulan indah (:D)

Dan kembali (lagi) ke film ini (hehe), memang mengisahkan sebuah Pentas Seni di akhir masa sekolah. Karya film ini sangat disukai oleh kritikus Jepang. Bahkan, sutradara Nobuhiro Yamashita sebagai pemimpin produksinya, meraih sutradara terbaik di Jepang sana, pada tahun 2006.  

Animo band dengan girlband-nya, memang semakin ramai di Jepang sana. Khusus untuk ranah tontonan, mengisi banyak animo anime di Jepang. Kisah girlband ini langsung dilanjutkan pada saat anime K-On! rilis manga-nya mulai tahun 2007, yang ditambah produksi animenya pada tahun 2009.

Contohnya berikutnya adalah Angel Beats!, yaitu novel ringan (lalu diadaptasi sebagai anime tahun 2010) yang mengisahkan tentang sesi 'reinkarnasi' di sekolah. Kisahnya yang kocak mengenai festival (matsuri) akhir di sekolah 'alam baka', berakhir cukup miris-manis (bittersweet), dan menyebabkan banyak fans terpukau. 

Animo musik ini masih dilanjutkan di banyak anime hingga sekarang. Contohnya adalah Bocchi The Rock! yang hingga kini masih viral di dunia anime seantero inet.

Okeh, saatnya kembali ke sinopsisnya saja, karena memang cukup sederhana untuk dijelaskan (hehe). Kayaknya gak perlu dibuat sub-artikelnya juga, jadi ya ditulis simpel saja lah...

Kei (Yuu Kashii) sebagai gitaris, Kyoko (Aki Maeda) sebagai drummer, dan Nozomi (Shiori Sekine) sebagai bassist, tergabung sebagai girlband di sekolahnya. Namun, menjelang festival di sekolahnya, mereka belum memiliki vokalis sama sekali. 

Hingga akhirnya mereka mengingat seorang gadis bersuara bagus, bernama Son (Bae Doona). Namun, Son adalah seorang murid pertukaran dari Korea Selatan, yang belum fasih berbahasa Jepang.

Padahal, festival akan diadakan dalam waktu tiga hari lagi. Band mereka harus segera latihan demi memainkan lagu 80an, berjudul Linda Linda dari band punk Blue Hearts.

Oh ya, bagi yang tidak sempat menontonnya di sinema, dapat menyaksikannya di siaran internet Netflix, walau masih belum berformat 4k.