24 Desember 2025

Kocaknya Dunia Jurig Nusantara Ala Film Comic 8 Revolution: Santet K4bin3t

 

Cak Lontong yang entah kenapa masih jadi Presiden Nusantara (YouTube).

Daaan, akhirnya bagi penggemar StandUp Comedy Indonesia, film berjudul Comic 8 Revolution: Santet K4bin3t, dirilis akhir tahun meramaikan libur saat ini, dengan tayang di sinema Indonesia. Bagi anak SMP, SMA, Kuliah, hingga warga yang ingin hiburan kocak, tentu dapat menikmatinya dengan bebas, alias ratingnya adalah R13+.

Komika di Indonesia

Stand Up Comedy adalah sejenis hiburan panggung, dimana komikanya hanya bertutur kata dan berceloteh lucu, dengan panjang atau pendeknya narasi, hingga memunculkan punch-line yang membuatnya lucu. Kadang, saking mengalirnya narasi para Komika, satu sesi bisa habis dengan suara tertawaan dari penonton. 

Setiap komika memiliki khasnya masing-masing, yang berasal dari cerita obrolan sehari-hari, observasi, komentar isu sosial, atau sejenis cerita berlatar komikanya sendiri. Kadang saking bodornya, alunan cerita kurang nyambung pun bisa menjadi sangat lucu, tergantung dari cara komika mendongeng, serta minat penonton saat acara berlangsung.

Nah, bagi yang kenal, tentu tahu bahwa Comic 8 adalah sebuah kanal YouTube yang diisi oleh banyak komedian dari Stand Up, khususnya acara StandUp Comedy Indonesia (SUCI), di salah satu stasiun televisi nasional Indonesia. 

Tentu, berbeda dengan ajang bakat di stasiun televisi tersebut, Comic 8 adalah satu kelompok dengan kanal YouTube, yang acaranya dapat mengundang banyak komedian, khususnya Stand Up Comedian, yang aktif maupun tidak.

Bahkan, tahun 2025 adalah musim ke sebelas acaranya telah berlangsung, alias telah 11 tahun lamanya meramaikan ranah komedi nasional, sejak tahun 2011 lalu. Sebutannya pun khusus, yaitu bernama Comic atau Komika, yang mengacu para komedian berbakat dari sejenis acara ini.

Bagi yang perlu mengingat beberapa namanya, tampaknya bisa disebutkan disini. Mulai dari Mo Sidik, Dodik Mulyanto, Pandji Pragiwaksono, Ryan Adriandhy, Raditya Dika (sebagai awal viralnya Komika), Indra Jegel, Arie Kriting, Kemal Palevi, Soleh Solihun, Sang Legenda Komeng (yang kini sibuk di Perwakilan Rakyat), dan salah satu favorit saya, Gilang Bhaskara. 

Sebelum melangkah dan mengacu pada film dari Comic 8 ini, banyak diantara komedian sering merilis film bersama para sineasnya. Gaya mereka yang kocak di panggung, ternyata cocok sebagai ranah film komedi nasional.

Film Pertama Comic 8 dan Revolution

Nah, kembali ke Comic 8, yang ternyata film pertamanya dirilis pada tahun 2014 lalu, dengan banyak nama-nama terkenal dari dunia komika. Animonya pun lebih mengacu ke film aksi, karena sesuai dengan momen bangkitnya film aksi dari Indonesia, sejak dirilisnya The Raid (lagi, dari tahun 2011 lalu).

Cukup banyak bintang legendaris dari Comic 8 tersebut, diantaranya adalah Indro Warkop, Cak Lontong, Nirina Zubir, Agung Hercules, Kiki Fatmala, Candil, dan sutradara terkenal, Anggy Umbara. Memang, film Comic 8 selalu diproduksi dengan menghadirkan banyak bintang, dengan adegan yang diarahkan ala komedi situasional, dan ditambah celotehan khas para komika.

Nah, sekarang kembali ke film Comic 8 di tahun 2025, maka banyak pemainnya berasal dari legenda yang sama. Indro Warkop (yang kembali lagi), ditambah Andre Taulany (yang masih belum puas celoteh simping), Hesti Purwadinata (yang masih ca'em saja), Vino G. Bastian (yang sebenarnya jarang bermain komedi, padahal anaknya Wiro Sableng), Cak Lontong (yang masih belum nyambung), Indy Barends (yang kini harus membawakan acara film), dan Daan Aria (anggota komedian legendaris Project P alias Padhyangan, tahun 90an lalu).

Okeh, tampaknya coba cek saja sinopsisnya, walau bagaimana pun cukup ngakak melihat cuplikannya, haha... (Padahal efek spesialnya cukup bagus).

Sinopsis Film Comic 8 Revolution: Santet K4bin3t

Awal cuplikan dimulai dengan wacana ala Presiden Cak Lontong (yang entah kenapa nyambung), yang disambut secara lugas oleh anggota kabinetnya, Daan Aria. Mereka semua tengah rapat, bahwa kabinet mereka sedang disantet oleh gerombolan paranormal kurang viral nan bernaung kasih.

Ternyata, adegan dilanjutkan dengan ritual kasmaran ala Ki Bagus (Andrea Taulany) dan Ni Gendis (Hesti Purwadinata). Padahal, keduanya di masa lampau yang telah terdahulu lamanya sejak jaman persilatan Indonesia masih kacau balau, sering beradu kesaktian demi membuktikan siapa yang terbaik dibawah luasnya khayangan. 

Namun, di jaman modernisasi jurig, sepasang keduanya malah kasmaran, dan mencoba melawan viralisasi dunia supernatural, dengan menyantet tokoh utamanya, yaitu Presidennya sendiri, yang sudah jelas kurang nyambung ala Cak Lontong.

Pihak Kabinet pun perlu memanggil agensi khusus, yang sering berlandaskan paranormal, diantaranya Tora Sudiro dan Vino G. Bastian, demi menghalau santet galau gulana se-Nusantara ini. 

Sayang seribu sayang, kasmaran Ki Bagus dan Ni Gendis malah melahirkan sebangsa jurig sebesar Mo Sidik, sehingga urusan mereka semakin kentara terasa menyakiti hati (kanyeyeri) para korban santet. Tidak hanya mahluk sebesar itu, namun urusan kajajaden seperti Tuyul, Kuntilanak, dan Pocong, pun dilansir serta disunting kembali demi meraih hasil naratif yang memuaskan.

Agensi dari kabinet pun perlu merekrut para agen baru, yang diantaranya adalah komika yang sanggup menghibur hati para jurig, tanpa perlu sakti mandraguna alias tidak perlu sampai bermuram durja. Agensi baru ini dikirimkan menuju pulau liburan akhir tahun milik Ki Bagus dan Ni Gendis.

Ternyata eh ternyata, Kiky Saputri dan Mongol Stres pun muncul di akhir cuplikan. Keduanya memilih jalur kasmaran yang berbeda, yaitu dengan mengadopsi sebuah tengkorak baru di lahan yang lebih menyeramkan lagi.

Bagaimana rasanya berasa kocak nan diserem-seremin? Coba nikmati saja di akhir dunia nan Indah ala sinema-sinema Indonesia.

SpongeBob yang Mengalami Puber di Film Search for SquarePants

 

Patrick dan SpongeBob yang masih bodor (IMDB).

Saatnya kembali meramaikan dunia perkartunan ala animasi bodor SpongeBob, yang kali ini menelurkan filmnya saat akhir tahun di sinema-sinema Indonesia, bersub-judul Search for SquarePants

Tampaknya perlu diingat kembali, bahwa serial kartun televisi SpongeBob telah melegenda di Indonesia, sejak penayangan awalnya tahun 2004 lalu. Sejak saat itu, SpongeBob selalu meramaikan ranah animasi, bagi anak kecil hingga dewasa. Nickelodeon sebenarnya merilis SpongeBob di tahun 1999, yang mulai merambah seluruh dunia sejak awal 2000an.

Tentu, bagi yang ingin menikmati nostalgia bersama sang anak, maka dapat menontonnya bersama, karena rating umurnya adalah Semua Umur (SU).

Konyolnya Kartun The SpongeBob SquarePants

Selain ceritanya yang kocak, anehnya lokasi dibawah laut, serta karakternya yang lucu-lucu ala warga Bikini Bottom, SpongeBob seringkali mengemukakan banyak kata-kata bijak bagi penggemarnya. 

Contohnya adalah yang diutarakan seorang karakter bintang laut, bernama Patrick Star. Walaupun digambarkan sebagai karakter yang malas nan bodoh, namun kata-katanya sangatlah memberi semangat. Contohnya adalah 'Hidup itu mudah. Jika senang, tersenyumlah. Jika sedih, tertawalah!' lalu 'Aku Jelek dan Aku Bangga!' Selalu konyol namun nyambung, karena Patrick bukanlah karakter yang pernah serius.

Jika dicek referensinya, Spons Laut dan Bintang Laut adalah dua mahluk invertebrata paling santai sedasar lautan (kelihatannya). Spons Laut menempel pada Terumbu Karang, sehingga menjadi bagian utama dari ekosistem penting di lautan. 

Tentu sudah banyak yang tahu, bahwa jika Terumbu Karang lautan terancam, maka banyak mahluk laut yang terancam pula kehidupannya. Sehingga, penggambaran karakter SpongeBob yang rajin, pekerja keras, serta setia, cocok digambarkan sebagai simbol dari Spons Laut asli.

Sementara Bintang Laut adalah sejenis mahluk yang kerjanya hanya tiduran saja di dasar lautan. Terlihat sangat santai, padahal mahluk ini adalah satu dari banyak hewan target nutrisi, bagi banyak predator laut. 

Namun, santainya tersebut justru bukanlah suatu kelemahan, namun kelebihannya yang berlebihan. Bintang Laut mampu menumbuhkan kembali bagian tubuhnya yang hilang. Bahkan, satu penelitian mengkaji, bahwa Bintang Laut yang telah terpotong seluruh 'kakinya,' masih sanggup menumbuhkannya kembali hingga lengkap. 

Jadi, penggambaran Patrick Star yang santai dan bodoh sangat cocok pula sebagai simbol dari Bintang Laut asli. Bukannya santai, tetapi Patrick memang cukup kuat dalam menanggapi 'masalah hidup.'

Dan, keduanya pun bisa disebut sebagai hewan yang konyol, karena memang aslinya tidak memiliki organ Otak. Sehingga, penggambaran karakter SpongeBob dan Patrick yang keduanya terlalu kekanak-kanakan dan lucu-lucuan saja semasa hidup, sekali lagi cocok sebagai penggambarannya.

Sebenarnya, masih banyak penggambaran lain di Bikini Bottom ala serial kartun The SpongeBob SquarePants. Contohnya dari Plankton, yang merupakan salah satu rantai makanan paling kecil dan menderita di lautan. 

Namun, karena sedang membahas filmnya, maka disudahi saja disini, dengan membahas film pertamanya saja dari tahun 2004, yang cukup nyambung dengan animo film tahun 2025-nya.

(Atau mungkin, nanti ditulis saja di bagian artikel Monsterisasi).

Film Pertama The SpongeBob SquarePants Movie

Nah, satu film yang perlu diingat dari SpongeBob, adalah tepat beberapa bulan setelah penayangan televisinya di Indonesia. Judulnya pun simpel, yaitu The SpongeBob SquarePants Movie

Seperti biasa, film ini awalnya mengisahkan perseturuan antara Krusty Krab milik Tuan Krab, dan Chum Bucket milik Plankton. Namun, SpongeBob serta Patrick perlu berpetualang dan melanglangbuana hingga lautan terdalam, demi meraih kembali mahkota sang raja Neptunus.

Kisah di film ini pun cukup memfokuskan, mengenai SpongeBob dan Patrick yang sebenarnya sudah terlalu dewasa untuk terus bermain-main. Kekonyolan mereka sangat terlihat pada adegan berisi lagu Goofy Goober, yang merupakan idola bagi keduanya. Namun, bintang dan spons laut ini ternyata cukup dewasa untuk melalui seluruh tantangan, walau masih memiliki status sebagai fans Goofy Goober.

Nah, kali ini di film Search for SquarePants, justru memiliki atmosfer cerita yang sama. Ya, walau terlampau jarak 21 tahun lamanya, namun animo yang disajikan mirip. Walau film pertamanya diproduksi Dua Dimensi, dan film saat ini berformat Tiga Dimensi, namun menyajikan Patrick dan SpongeBob yang masih konyol, namun ingin membuktikan bahwa dirinya telah dewasa. 

Okeh, saatnya membahas sinopsis filmnya saja, ya...

Sinopsis Film The SpongeBob Movie: Search for SquarePants

Awalnya, SpongeBob (Tom Kenny) yang tengah bekerja di Krusty Krab, sedang mengobrol dengan Patrick (Bill Fagerbakke) di toilet. Tiba-tiba, ventilasi toilet terbuka, yang membuat semangat SpongeBob atas sebuah petualangan.

Setelah berhasil melewati ventilasi karena badannya yang elastis, SpongeBob ternyata sampai di sebuah kapal milik Flying Dutchman (Mark Hamill), yaitu jurig terkuat lautan.

Lebih konyolnya lagi, Flying Dutchman yang memang mencari 'mahluk paling polos selautan', akhirnya 'merekrut' SpongeBob dan Patrick sebagai anggota bajak laut. Padahal, Davy Jones ingin membersihkan dirinya dari kutukan jurig selama ini, dengan cara memberikan keduanya pada pemberi kutukan.

Kisah hilangnya SpongeBob dan Patrick pun menyebabkan panik bagi Tuan Krab (Clancy Brown), yang tidak ingin kehilangan koki andalannya (walau tetap pelit). Tuan Krab lalu merekrut Squidward (Roger Bumpass) dan Gary, demi misi menyelamatkan keduanya dari kekangan Flying Dutchman.

Sanggupkah Tuan Krab menyelamatkan Patrick Star dan SpongeBob SquarePants? Atau malah keduanya membuktikan diri sebagai petualang laut terhebat? Atau bahkan menaklukan langsung Flying Dutchman yang terkenal beringas? 

Jawabannya, tentu ada di keragaman kartun hayati ala sinema di Indonesia.

Berjibaku dengan Kembalinya Ular Raksasa Kocak Ala Film Anaconda

 

Paul Rudd dan Jack Black yang suka ular (IMDB).

Film mencengangkan baru dari ranah Hollywood sana, akhirnya kembali dirilis di penghujung tahun 2025 ini, dengan mengusung judul Anaconda, yang tentu akan tayang di akhir minggu keempat bulan Desember ini. Bagi yang menyukai film binatang-monster-horor sejak jaman 90an, maka judul ini berasa nostalgia khusus. 

Namun, berbeda pula animonya, walaupun berjudul sama dengan film tahun 1997 lalu. Justru, kini film Anaconda di tahun 2025 dikisahkan dengan gaya komedi. Aktor dan aktris yang mengisinya pun bukan sembarang, melainkan Jack Black dan Paul Rudd. Bahkan, aktor dari Anaconda orisinal, Ice Cube, terlihat dalam adegan cuplikannya, sebagai cameo.

Film Anaconda dari Tahun 1997 dan 2004

Pada film tahun 1997 lalu, Anaconda adalah salah satu film monster yang sukses meramaikan dunia horor saat itu, dengan plot utamanya yang cukup sederhana untuk dinikmati. 

Yaitu saat sebuah kelompok ekspedisi dokumenter alam liar, yang menjelajahi sungai Amazon. Dalam perjalanan, mereka terhenti oleh ular Anakonda raksasa, yang panjangnya mencapai belasan meter. Padahal, biasanya Anakonda memiliki  panjang maksimum sembilan meter, dan berbobot 250 kilogram.

Animo film ini dilanjutkan pada film keduanya, berjudul Anacondas: Hunt for the Blood Orchid, yang mengambil latar di Pulau Kalimantan. Ya, lokasi syutingnya di Indonesia, namun dengan salah arti, alias ular Anakonda tidak berada di Pulau Kalimantan. Sebenarnya, ular yang ada di film ini adalah sejenis Sanca atau Piton, yang entah kenapa menjadi Anakonda di film ini.

Aktor dan Rating Umur di Anaconda 2025

Okeh, kembali ke film Anakonda 2025, karena plot filmnya dan aktor-aktris yang mengisinya berlatar komedi, maka animo yang disajikan pun berbeda. Jack Black adalah seorang aktor komedi terkenal, yang pada bulan April lalu sempat merilis karya sukses lainnya, yaitu Minecraft: The Movie. 

Sementara lawan mainnya, adalah Paul Rudd. Bagi yang suka menyaksikan film pahlawan super dari Marvel Studios, pasti mengenal wajahnya sebagai aktor dibalik karakter Ant-Man (2015, 2018, 2023) dan beberapa film Avengers. 

Bahkan, karakter Scott Lang yang diperankan oleh Paul Rudd, bisa disebut sebagai karakter paling kocak dari Marvel. Karena, niatnya bukanlah menjadi penyelamat dunia dan memiliki kekuatan super, melainkan agar dekat dengan anak semata wayangnya saja.

Untuk ratingnya, karena bergenre komedi tanpa ada adegan daging mendaging atau darah mendarah ala film monster biasanya, maka diberi rating umur R13, alias cocok dengan penonton remaja (dan setelahnya).

Sedikit Referensi dari Ular Anakonda dan Habitat di Amazon

Oh ya, bagi yang heran mengapa ular di film bisa berukuran raksasa, sebenarnya didukung oleh bukti penelitian sains. Berbeda dengan banyak binatang lainnya, ular masih bisa tumbuh terus sepanjang umurnya, tanpa terbatas metabolisme tubuh, dan hanya terhenti saat telah mencapai akhir usia. Jadi, legenda ular raksasa bukanlah mitos saja, melainkan mungkin terjadi di alam liar.

Hutan Amazon di Brazil, Amerika Selatan pun dipenuhi oleh banyak hewan eksotis berukuran raksasa lainnya. Contohnya adalah Kapibara sebagai hewan pengerat terbesar sedunia, Dugong sebagai hewan mamalia sungai terbesar di Amazon, Lumba-lumba sungai berwarna merah muda, Buaya Caiman, Burung Elang Harpy, Burung Makaw dan Toukan, serta Kaki Seribu Raksasa.

Okeh saatnya mengecek sinopsisnya saja.

Sinopsis Film Anaconda 2025

Doug McCallister (Jack Black) bersama ketiga kawannya, Ronald Grifin Jr. (Paul Rudd), Kenny Trent (Steve Zahn), dan Claire Simmons (Thandiwe Newton), sedang mengalami krisis masa paruh baya. Keempatnya ingin mengulangi masa keemasan mereka, dengan memproduksi ulang film lama favorit, yang mengisahkan tentang ular raksasa.

Karena ditolak beberapa kali oleh studio dan distributor film, maka quadro ini berinisiatif untuk memproduksi film dengan teknik Indie, alias produksi tanpa bantuan studio dan distributor. Semua perlengkapan disiapkan, beserta merekrut seorang pawang ular, yaitu Santiago Braga (Selton Mello), yang memiliki seekor ular Anakonda.

Namun, saat tengah syuting di sungai tengah hutan Amazon, seluruh proses produksi hampir dibatalkan, akibat ular yang jatuh ke sungai dan habis dilahap buaya. Doug pun merasa jengah, karena tidak memiliki aktor binatangnya lagi. Dia akhirnya berinisiatif, untuk menangkap ular baru bersama pawangnya.

Namun lebih parah lagi, keempatnya malah bertemu dengan seekor ular legendaris Anakonda berukuran raksasa, yang mencapai panjang belasan meter dan berbobot lebih dari setengah ton.

Kelimanya pun terpaksa melarikan diri dari area perburuan ular, hingga akhirnya bertemu dengan aktor ternama Ice Cube di sebuah desa. Ice Cube adalah seorang penyintas dari film pertama Anaconda, yang tampaknya masih trauma dan memilih jalan untuk terus berburu ular raksasa (:P).

Akhir kisahnya yang (mungkin) tragis, dapat disaksikan melalui keragaman hayati ala sinema-sinema Indonesia.

Alternatif Film Anaconda dari Tahun 2024

Oh ya, bagi yang penasaran mengenai kisah ular raksasa dari ranah Asia, dapat menyaksikan pula film Anaconda lainnya dari tahun 2024 lalu, dengan sub-judul Cursed Jungle. Sineas perfilman yang memproduksinya pun berasal dari negara yang kini tengah naik daun, yaitu China. Tentu, karakter serta studio dari negara besar di Asia Timur ini, menjadi animo tersendiri. 

Mungkin, reka ulang dari China yang masih memiliki atmosfer serius, menyebabkan Hollywood mengambil jalur alternatif saat me-reka ulang filmnya sendiri, yaitu dengan humor komedi ala Jack Black dan kawan-kawan. Bagi yang merasa Anaconda harusnya dibawa serius, film tahun 2024 masih bisa ditonton melalui layanan siaran Google Play Movie dan Netflix.

Menguak Alur Cerita Prekuel Sewu Dino di Film Janur Ireng

 

Entah apa yang terjadi pada keluarga Kuncoro (TMDB).

Okeh, saatnya film bercerita baru dari Dunia Sewu Dino untuk dibahas dan dirilis di minggu keempat Desember tahun ini, tentu berjudul Janur Ireng, yang tayang akhir minggu di banyak sinema Indonesia.

Sebelum mengacu pada kisahnya di film kedua ini, Janur Ireng memang prekuel dari film pertamanya, Sewu Dino. Sehingga, alur jalan cerita justru terbalik. Karena memang sudah dirilis tahun 2023 lalu, maka film Sewu Dino bisa dicek di layanan siaran Amazon Prime Video

Oh ya untuk film Sewu Dino, memiliki rating usia R13 (alias remaja). Sementara film Janur Ireng, memiliki rating usia D17, yang berarti dewasa. Entah apa perbedaan pada detail ceritanya, sampai rating usia pun berbeda. Atau, gara-gara visual yang menjurus pada daging-mendaging dan darah mendarah, yang lebih eksplisit dari sebelumnya.

Bahasa karakternya pun tercampur aduk ala logat Jawa, dengan bahasanya, serta tambahan bahasa Indonesia. Jadi, bagi yang kurang ngeuh, pasti bakal merasa heran dengan banyak dialog film bernafaskan Jawa. Bahkan, banyak dialog yang perlu diberi terjemahan, agar penonton (non-Jawa) bisa mengerti.

Untuk film pertamanya pun, langsung berkisah pada banyak adegan horor di dalam dan sekitar sebuah gubuk, di tengah hutan. Sementara di Janur Ireng, lebih banyak karakter dengan pembawaan dramanya, yang mengacu pada kondisi keluarga Kuntjoro.

Oh ya sekali lagi, Epy Kusnandar, sang tokoh utama dalam serial televisi Preman Pensiun lalu, hingga cukup sering berkontribusi di film Nasional dan Internasional, baru saja meninggal dunia, pada tanggal 3 Desember lalu, saat berusia 61 tahun. Bagi yang merasa kehilangan, maka film Janur Ireng adalah karya terakhir yang sempat memunculkan Epy Kusnandar, aktor Sunda dari Garut Kota ini.

Sinopsis Film Sewu Dino

Dan seperti biasanya, kali ini perlu dibahas pula sinopsis dari Sewu Dino, yang berarti seribu hari dalam bahasa Jawa. Film ini diadaptasi dari Thread horor, hasil karya penulisnya bernama SimpleMan. Animo cerita dari sebuah Thread, memang sekarang sedang sering-seringnya diadaptasi menjadi sebuah film.

Dalam film ini, justru mengisahkan sebuah misi seribu malam, dimana karakter utamanya harus menjaga sebuah keranda mayat. Cukup mengerikan, seperti dicontohkan pada cuplikan filmnya.

Tidak hanya menjaga mayat, Sri Rahayu (Mikha Tambayong), Erna (Givina Lukita), dan Dini (Agla Artalidia) diminta pula untuk melaksanakan ritual Basuh Sedo, alias memandikan jenazah agar arwahnya tenang.

Namun, yang belum mereka ketahui adalah jenazah tersebut bukanlah seseorang yang telah meninggal, namun sesosok Della (Gisella Firmansyah), yang pingsan setelah kerasukan arwah jahil lainnya. 

Sewu Dino adalah semacam santet yang menimpa Della, sehingga terpaksa pingsan selama seribu hari. Ritual Basuh Sedo pun hanya untuk menenangkan arwah yang merasuki Della, sementara ritual pamungkasnya akan dilaksanakan pada hari ke seribu.

Namun, empat hari menjelang hari ke seribu, ketiganya diteror oleh banyak hal mengerikan. Trio tersebut menemukan bahwa Della mulai bisa bergerak, dan bahkan hilang dari lokasi keranda mayat. Ketiganya pun perlu mereka ulang ritual mereka, menemukan kembali Della, serta mengamankan posisi hidup. Karena, dengan lepasnya Della, berarti pekerjaan mereka gagal dan hidup mereka terancam.

Oh ya, jika dicek cuplikannya, maka jumlah info yang terlihat tentu tidak sebanyak artikel ini. Namun, cuplikannya lebih berisi banyak adegan awal, hingga diakhiri ngerinya dikejar Della, yang tampaknya kerasukan parah dan berperilaku layaknya zombie alias mayat hidup. Akting Della pun cukup meyakinkan, layaknya warga yang kesurupan parah (alias teriak gak jelas menyeramkan).

Lokasinya pun yang termasuk terpencil, yaitu berada di sebuah gubuk kecil tengah hutan, tentu memberi atmosfer tersendiri bagi visualnya. Seperti biasa, film horor Indonesia memang lihai dalam memainkan lokasi adegan serta pencahayaannya.

Bagi yang suka dengan berbagai istilah mistis Indonesia, khususnya mengenai cerita dari Jawa, maka film Sewo Dino dan sekuelnya Janur Ireng, seakan menjadi kamus kosakata khusus. Banyak istilah Jawa yang tidak penulis begitu mengerti, digambarkan ala horor di film ini, walau tentu ada perbedaan yang sesuai dengan jalan dan plot cerita.

Dan tentu, perlu dikomentari pula dari sudut pandang pribadi sebagai penganut agama yang diakui di Indonesia. Ritual memandikan jenazah, selalu dilaksanakan oleh warga penganut agama, sebelum akhirnya jenazah dikafani, diberi pakaian rapih, atau dikremasi. 

Tujuannya, tentu berbeda pada setiap agamanya, namun intinya adalah jenazah harus bersih, sebelum tubuhnya dilansirkan menuju dunia berikutnya. Pamali atau tidak, ritual ini adalah penghormatan terakhir kepada jenazah, sebelum akhirnya berpulang.

Tentu sangat berbeda dengan kisah di Sewu Dino, dimana ritual Basuh Sedo memang beraliran mistis, dengan tujuannya menenangkan arwah (lain) yang bersemayam dalam sebuah tubuh manusianya.

Sinopsis Film Janur Ireng

Della yang menjadi tokoh kesurupan di film pertamanya, muncul kembali sebagai cameo di film Janur Ireng. Untuk film keduanya, SimpleMan kini telah merilis versi buku novelnya, dengan arahan dunia Sewu Dino Universe (layaknya Marvel Cinematic Universe). 

Kisah Janur Ireng merupakan prekuel, yang berlatar enam tahun sebelum kisah di film Sewu Dino. Kali ini, dunianya dikembangkan mengenai kisah tujuh keluarga, yang diantaranya adalah Kuntjoro di film Janur Ireng, dan Atmodjo di film Sewu Dino.

Sementara di film ini, kisahnya masih berkutat pada tiga tokoh utama. Diantaranya adalah Arjo Kuntjoro (Tora Sudiro), yaitu pakde dari Sabdo (Marthino Lio), yang beristri Intan (Nyimas Ratu Rafa). 

Sepasang suami istri muda tersebut sebenarnya hidup bahagia, walau sederhana. Hingga suatu bencana kebakaran hebat, membakar hangus seluruh rumahnya. Keduanya pun beralih meminta bantuan pada Arjo, pakdenya yang terkenal makmur. Saking hebatnya, Arjo dikenal sebagai pewaris sebuah perkebunan sawit luas nan membahana.

Sayangnya, semenjak Sabdo dan Intan tinggal bersama di rumah kediaman besar milik keluarga besar Kuntjoro, keduanya banyak mengalami berbagai kejadian aneh. Mulai dari sehelai daun panjang yang ditempatkan pada ranjang, hingga sempat menyaksikan sebuah ritual aneh. 

Saking anehnya, banyak kejadian semakin membrutalkan. Beberapa penghuni mulai kerasukan, hingga puncaknya saat acara prasmanan, dimana seluruh tamu tiba-tiba kerasukan dan suka daging mendaging (namun tidak seperti selera daging ala film zombie).

Bagaimanakah sebenarnya alur cerita horor ini? Tentu dapat disaksikan melalui ritual kebudayaan langsung ala sinema di Indonesia.

18 Desember 2025

Terbang ke Wilayah Terujung Nusantara di Film Timur

Iko Uwais yang mencoba menyelamatkan saudaranya (TMDB).

Okeh, sudah saatnya di penghujung minggu ketiga bulan Desember ini, para penggemar film Nusantara berjibaku dengan film aksi nan serius berikutnya, berjudul Timur. Film aksi mengenai kisah di penghujung timur negara tercinta ini, tentunya tayang di sinema-sinema Indonesia.

Dari judulnya, sudah menyiratkan bahwa film ini berlatar lokasi di sekitar Papua, dengan keenam provinsinya. Bagi yang sudah mengecek cuplikannya, tentu tahu bahwa Iko Uwais berperan sebagai tokoh utama, dan bahkan sebagai sutradara. 

Ya, film Timur ini adalah debut pertama Iko Uwais sebagai pengarah film. Tidak hanya itu, ternyata film ini diproduksi oleh Uwais Pictures, sebagai studio miliknya sendiri, yang resmi meramaikan ranah perfilman Indonesia sejak didirikan pada bulan Januari 2025.

Tentu, Iko Uwais yang telah melanglangbuana sebagai aktor aksi yang khas dengan gaya silatnya, menjadi animo khusus bagi penggemar film aksi. Bagi penggemar yang suka kuda-kuda silat tradisional khas Nusantara, maka aksi Iko Uwais sebagai pencetus kembali viralnya aksi silat di Indonesia sejak film The Raid (2011;2014) lalu, sangatlah ditunggu. 

Tentu karena adegan aksi yang sadis seperti banyak film silat lainnya, film ini diberi rating umur D17+ (alias umur dewasa).

Film Timur dan Kisah Papua

Kembali ke beberapa adegan cuplikannya, tentu mengenal isu apa yang diadaptasi di film Timur ini. Cukup miris, karena film ini mengisahkan tentang operasi militer dalam menghalau KKB dan KST bernama OPM. Padahal, masalah ini masih terjadi di Papua sana, dan bahkan masih panas-panasnya.

Bagi para troll, justru film ini bisa dianggap sebagai bagian propaganda dari sineas perfilman, dan pemerintah Indonesia itu sendiri. 

Bahkan jika dipanaskan lebih dalam lagi, film Timur justru berlatar operasi nyata di Mapenduma pada tahun 1996 lalu. Di tahun tersebut, OPM berhasil menyandera 26 anggota misi penelitian dari World Wildlife Fund. Terlebih lagi, saat itu Presiden kita saat ini, yaitu Prabowo Subianto, memimpin operasi Kopassus tersebut, saat dirinya masih menjabat sebagai Brigadir Jenderal TNI.

Padahal, kinerja TNI dan pemerintah dalam meluruskan masalah ini, sudah cukup dikenal. Cukup diingat, kisah di Timor Leste, lalu merambah ke Provinsi Aceh dengan GAM-nya, dan kini masih panas pula di Papua. Politik saja? belum tentu. Karena, usaha mempertahankan Nusantara yang lengkap, memang sudah menjadi acuan sejak berdirinya negara ini.

Bahkan jika diteliti dari sejarahnya, maka Indonesia yang baru saja merdeka tahun 1945 lalu, sempat mengalami pergolakan di banyak daerah. Padahal dari segi administrasi, Indonesia telah diakui sebagai anggota PBB sejak tahun 1950 lalu. 

Jadi, dengan banyak penolakan dari daerahnya sendiri, Presiden Pertama RI Soekarno sempat berpidato, "Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri."

Padahal tidak hanya berkecimpung di dalam negeri, TNI cukup sering berkontribusi sebagai pasukan perdamaian dunia, hingga sekarang. Jadi, kiprah TNI sebenarnya dapat diandalkan di seluruh dunia.

Kembali dari segi administratif, Indonesia saat baru berdiri, tentu memiliki banyak tantangan di daerah maupun pusat. Beberapa agresi dari pihak luar mencemarkan integritas nasional, walau berhasil dihalau. 

Maka, terbentuknya Indonesia saat itu adalah bentuk perkembangan Nusantara, yang menyatukan status administrasi serta mengembangkan peradaban nasional menuju arah modern. Presiden setelah Soekarno, yaitu Soeharto yang banyak mengalami kontroversi, justru diberi gelar sebagai Bapak Pembangunan Indonesia.

Nah, karena lebih mengacu ke administrasi, maka coba dicek saja perkembangan yang lebih mudah dicerna oleh kita sebagai warga Indonesia.

Pemekaran Wilayah Administrasi Indonesia

Nah, daripada mengingat konflik militer yang semakin membuat resah, dan lebih baik dinikmati dari segi ranah film saja, maka coba kita telaah dari segi yang lebih damai, yaitu mengenai pemekaran wilayah di Indonesia.

Sejak awal jaman Reformasi terdahulu, hingga tercipta desentralisasi pemerintah pusat dan otonomi daerah, dan kini berlanjut dengan banyaknya pemekaran wilayah administrasi di Indonesia, tampaknya menjadi acuan khusus bagi warga.

Contohnya Papua yang dulunya bernama Irian Jaya, sejak tahun 2003 dan 2004 lalu terbagi dua menjadi Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat. Namun, saat tahun 2022 lalu, Provinsi ini kembali terbagi menjadi tambahan Papua Tengah, Papua Pegunungan, Papua Selatan, dan Papua Barat Daya. 

Tampaknya pemerintah Indonesia memang sedang giat untuk melaksanakan kelanjutan desentralisasi pemerintah pusat dan otonomi daerah, yang diterapkan dengan pemekaran wilayah administrasi. Menurut kabar yang ada, tujuannya adalah mendekatkan diri dari layanan pemerintah dengan warganya, alias agar birokrasi tidak terlalu mengacu ke pusat, dan setiap administrasi dapat mengurus wilayahnya sendiri.

Jika dilihat dari Pulau Jawa itu sendiri, khususnya di Jawa Barat, banyak sekali terjadi pemekaran tersebut dengan detil wilayah sekecil-kecilnya. Contohnya adalah saat Pangandaran terpisah dari Ciamis, dan menjadi Kabupaten, sejak tahun 2012 lalu. 

Di Kota Bandung, wilayahnya terpisah dengan Kota Cimahi pada tahun 2001, lalu terpisah pula antar Kabupaten Bandung, dengan Kabupaten Bandung Barat sejak tahun 2007 lalu.

Jadi, saat banyak warga dan warganet protes bahwa birokrasi Indonesia berbelit-belit, serta perkembangan daerah yang tidak merata, terdapat usaha khusus dari pemerintah, selaku pemegang kuasa administrasinya. Apalagi, jumlah pegawai negeri sipil beserta keahlian dan kedekatan batinnya, dapat lebih terikat dengan daerahnya sendiri.

Nah, sudah saatnya kembali ke film Timur, yang tampaknya mengisahkan bahwa kedekatan batin beberapa karakter, dengan warga pribumi di Pulau Papua. Jadi ya, daripada mengurus jiwa nasionalisme kita yang kadang terbengkalai, maka coba dicek saja kedekatan kita dengan wilayah hunian sendiri, ya...

Sinopsis Film Timur

Timur (Iko Uwais), Apollo (Aufa Assegaf), dan Sila (Jimmy Kobogau) adalah ketiga saudara sepersusuan ibu, yang sangat dekat saat masih kecil. Ketiganya sering bermain tembak-tembakan dengan senapan kayu, demi mengisi kesehariannya. Saking dekatnya, Isman (Andri Mashadi) memberi wasiat pada mereka, bahwa ketiganya adalah keluarga, yang harus saling jaga satu sama lainnya.

Namun, Seiring waktu, Timur, Sila, dan Apollo yang tumbuh dewasa, berpisah untuk memilih jalan hidupnya masing-masing. Timur dan Sila memilih bergabung dengan TNI demi mengabdi kepada Republik Indonesia. Namun, Apollo malah terjebak di lingkaran grup separatis. Hingga suatu hari, terjadi masalah besar dengan para anggota separatis tersebut. OPM menyandera anggota WWF, yang sebenarnya bermasalah dengan pemerintah Indonesia. 

Sayangnya, Timur dan Sila yang sempat mengenal medan lokasi penyanderaan, yaitu di Mapenduma, dikirimkan oleh Kopassus Angkatan Darat dalam operasi penyelamatan ini. Ketiganya pun berjibaku, untuk dapat menyelesaikan misi mereka, dengan tujuan yang saling berlawanan arah, akibat deskripsi tanah air yang sangat berbeda diantaranya.

Bagaimana akhirnya? Coba dicek saja melalui adegan nasionalisme yang kini sering berjibaku di sinema Indonesia, ya?

Mengakhiri Perang di Pandora dalam Film Avatar: Fire and Ash

 

Generasi berikutnya ras Na'vi di bulan Pandora (IMDB).

Daaan, dengan berakhirnya tahun 2025 ini, kembali pula akhir dari film paling epik sedunia, berjudul Avatar: Fire and Ash, yang tayang mulai minggu ini di sinema-sinema Indonesia, untuk penonton berumur 13 tahun ke atas (R13+).

Tentu bagi yang sudah menonton film Avatar: Way of Water di tahun 2022 lalu, bakal geregetan untuk menyusul sekuelnya di bulan Desember ini. Ya, film Avatar: Fire and Ash adalah akhir dari trilogi film ini. 

Oh ya, bagi yang ingin menikmati film Fire and Ash dengan lebih ciamik, tentu dapat memesan tiket yang memberi fasilitas 3D dan IMAX. Tentu, dengan harga tiket yang lebih mahal dan kursi yang lebih terbatas.

Arahan James Cameron selaku pendiri Lightstorm Entertainment, sanggup merekayasa adegan mocap dengan hasil animasi 3D yang ciamik. Lightstorm memang telah berkecimpung bersama Cameron sejak dirilisnya film Terminator 2: Judgment Day (1991). Sejak itu hingga kini, Lightstorm selalu mencengangkan dunia perfilman dengan efek spesialnya yang terbilang inovatif.

Trilogi Avatar dari James Cameron

Walau dimulai pada tahun 2009 lalu oleh sutradara James Cameron, dan membutuhkan jangka waktu 13 tahun untuk film keduanya, film ketiga ini hanya berjarak tiga tahun saja sejak film keduanya. Sebagai akhir dari trilogi, belum ada kabar pasti mengenai film keempat atau kelanjutannya. Namun, dari rumor yang beredar, jika film keempat Avatar diproduksi, maka karakternya akan berbeda dengan trilogi awal.

Trilogi Avatar memang berfokus kepada Jake (Sam Worthington) dan istrinya, Neytiri (Zoe Saldana). Bagi penggemarnya, pasti tahu bahwa sepasang ras Na'vi dari bulan Pandora ini memang fokus utama, yang berjibaku antara kehadiran manusia (RDA), suku pribumi (Na'vi), dan bulan Pandora dengan kehadiran dewa Eywa.

Nah, bagi yang cukup mengingat latar kisah Avatar, Eywa adalah penggambaran harfiah mengenai ekosistem ala bulan Pandora. Eywa adalah nama Dewa tersebut, yang memiliki koneksi langsung dengan seluruh mahluk di Pandora. 

Setiap mahluk, bahkan hingga tanaman, memiliki sulur sebagai anggota tubuhnya. Sulur tersebut bisa dihubungkan dengan pohon bernama sama, lalu membantu menyembuhkan atau bahkan berbagi kesadaran dengannya. Bahkan, sulur dapat saling terhubung dengan mahluk lain, agar mereka dapat bekerja sama secara langsung dan telepati dalam berbagai aktifitas sehari-hari.

Nah, itulah yang menjadi khas dari setiap film Avatar, bahwa bulan Pandora yang sangat eksotis, digambarkan dengan indah ala teknologi CGI dan animasi yang memukau. Tidak heran, film pertamanya menjadi film sinema terlaris sepanjang masa. Box Office-nya mencapai 2,9 Milyar Dolar AS sejak tahun 2009 lalu! Bahkan, Way of Water mencapai 2,3 Milyar Dolar AS, padahal baru tiga tahun sejak dirilis tahun 2022 lalu!

Lokasi syutingnya pun cukup mengesankan, yaitu berada di Selandia Baru, sebuah negara kepulauan kecil di tenggara Australia. Rasanya bernostalgia, semenjak Selandia Baru digunakan sebagai lokasi syuting trilogi The Lord of the Rings (2001;2002;2003). 

Karenanya, banyak sineas perfilman internasional terus melaksanakan syuting di Selandia Baru. Luas, karakter, serta pemandangan Selandia Baru cocok diterapkan sebagai latar sebuah film Epik. Bahkan, Peter Jackson sebagai sutradara trilogi The Lord of the Rings, menyatakan bahwa Selandia Baru bukanlah sebuah negara kecil, melainkan desa yang luas membahana.

Mengingat Plot Film Avatar: Way of Water

Sebelumnya di film Way of Water, Jake mencoba tinggal dan bekerja sama dengan suku Na'vi dari pesisir pantai. Menurut kabar, suku Na'vi pesisir pantai bernama Metkayina, mengambil referensi dari Suku Bajo (Bajau). Suku adat pribumi ini berasal dari Malaysia (Sabah), Kalimantan Timur, Sulawesi, Maluku, hingga Nusa Tenggara, alias dari negara Nusantara Tercinta, Indonesia.

Dari situ, kembalilah manusia RDA (Resource Development Administration) dengan kapal laut dan kemampuan mecha amfibi, yang sanggup merambah ranah lautan di Pandora. Sementara dari pihak suku Na'vi, bantuan dari mahluk lautan sejenis paus (Tulkun) dapat menghalau mereka.

Sinopsis Film Avatar: Fire and Ash

Nah, kembali ke Fire and Ash, ketidakhadiran langsung Eywa pula yang menjadi kekhawatiran di film ketiganya ini. Salah satu suku yang tinggal dekat dengan gunung volkano, bernama Mangkwan, malah bergabung dengan RDA. 

Suku Mangkwan dipimpin oleh Varang (Oona Chaplin), yang berselirih khusus mengapa sukunya membelot. Posisi desa huniannya dahulu sempat terkena bencana hebat, yaitu letusan gunung volkano. 

Walau seluruh anggota suku sudah berdoa kepada Eywa, namun bencana sama sekali tidak dapat dihalau. Seluruh anggota suku Mangkwan pun tidak percaya kepada Eywa lagi, dan bahkan menyembah api sebagai simbol dewa, lalu mulai membelot serta berambisi menguasai seluruh Pandora bersama RDA.

Tentu bagi yang sudah menonton film pertama dan keduanya, tahun bahwa RDA hanya menginginkan satu hal saja di bulan Pandora. Satu bijih mineral bertama Unobtainum, adalah target utama RDA. Sementara suku pribumi Na'vi melawan balik, menghalau, mencoba untuk mengusir, serta menghentikan ambisi RDA di bulan kediamannya.

Nah, kali ini ada beberapa kehadiran lain, yang mampu membantu Jake untuk melawan gempuran tersebut. Ya, naga berspesies Ikran kembali bersama banyak kawanannya untuk menghalau gempuran RDA.

Generasi Berikut dan Alamnya

Dan, tidak hanya kehadiran mahluk eksotis dan alamnya saja yang sanggup membantu kampanye ini. Ada satu senjata terkuat, yang tidak berdasarkan kemampuan militer, namun paling signifikan dalam sejarah peperangan militer, di dunia manapun.

Ya, nama senjata tersebut adalah generasi berikutnya. Walau tidak diterapkan harfiah dalam peperangan, namun layaknya Rite of Passage (Ritual Peralihan Lintas Generasi). Anak yang paham mengenai kekisruhan di generasi sebelumnya, dapat melanjutkan usaha tersebut kedepannya, dengan kemampuan dan caranya masing-masing.

Tidak perlu disebutkan siapa saja anggota keluarga dari Jake dan Neytiri, namun seluruh generasi berikutnya, berperan penting bagi kelangsungan hidup di bulan Pandora yang masih penuh konflik.

Oh ya, satu lagi referensi menarik dari trilogi Avatar ini, yang mengemukakan lokasi eksotis nan indah dengan kegalauan para mahluk di dalamnya. Jika disejajarkan, maka lokasi eksotis nan indah ala kepulauan Nusantara, hingga Madagaskar di Afrika, kepulauan Hawaii di Pasifik, serta Lautan Karibia, yang cocok sebagai acuan ngerinya kekuatan alam, namun sebanding dengan keindahannya.

Walau begitu, banyak bencana alam akibat cuaca ekstrem atau perubahan iklim, yang masih sesuai dengan siklusnya, mulai merambah dan semakin berubah, di banyak lokasi planet Bumi, baru-baru ini.

Okeh, selamat menikmati film Avatar: Fire and Ash di ranah keberagaman hayati ala sinema Indonesia.