18 Desember 2025

Berpetualang bersama Cemilan Imut di Film Dream Animals: The Movie

 

Binatang lucu yang sedang asyik (TMDB).

Saatnya di akhir tahun 2025 ini, tepatnya bulan Desember yang sedang hangat-hangatnya berlibur, menonton film bersama anak atau anggota keluarga lainnya (rating Semua Umur). Kali ini, film animasi untuk anak yang dirilis adalah Dream Animals: The Movie, yang tayang di sinema-sinema Indonesia pada akhir minggu.

Studio animasi yang memproduksi Dream Animals pun bukanlah sembarang studio, melainkan Marza Animation Project dari Jepang. Dalam beberapa tahun terakhir, Mara merilis trilogi film Sonic the Hedgehog (2020;2022;2024), yang disukai banyak penggemarnya. 

Jika mengingat Sonic, tentu kembali pula kenangan saat film pertamanya akan dirilis. Penggemar Sonic dari seluruh dunia protes di dunia maya, saat menonton cuplikan pertamanya. Desain karakter utama Sonic, terlihat mengerikan, dan tidak imut layaknya Sonic di Video Gim-nya. Namun, karena sineas filmnya memahami, maka mereka menunda perilisan film hingga tiga bulan (rencana rilis asli untuk bulan November 2019), untuk mendesain ulang karakter Sonic.

Distributor yang merilisnya pun cukup keren, yaitu Tokyo Broadcast System (TBS), yang sering membuyarkan dunia dengan anime mantap dari Jepang. Beberapa contoh anime viral dari TBS, diantaranya adalah serial anime Dandadan (2024) Jujutsu Kaisen (2020), dan Full Metal: Alchemist Brotherhood (2009).

Dan, saatnya kembali membahas Dream Animals. Bagi anak atau penggemar yang suka film animasi 3D, alias tiga dimensi yang imut, tentu tertarik dengan cuplikan Dream Animals yang cerah dan mulus animasinya. Oh ya, yang imut bukan hanya karakter di filmnya, tetapi juga asal muasal para karakternya.

Dream Animals adalah produk makanan ringan berjenis kraker, yang berbentuk karakter binatang dan diproduksi dari Jepang. Perusahaan yang memproduksinya adalah Ginbis, yang telah memulai usahanya sejak tahun 1930 lalu. Khusus untuk produk Dream Animals (Tabekko Doubutsu), mulai diproduksi sejak tahun 1978 lalu.

Makanan ringan Dream Animals masih diproduksi hingga sekarang, dengan banyak tambahan karakter berbeda pada setiap bungkusnya. Karakter binatang seperti gajah, kuda nil, pegasus, kucing, kelinci, ayam, jerapah, singa, buaya, dan monyet selalu meramaikan isi setiap bungkus Dream Animals. 

Bagi yang penasaran dengan rasa makanan ringan ini, sebenarnya Dream Animals tidak begitu luas didistribusikan di Indonesia. Namun, banyak toko daring (online) yang menawarkannya, sehingga dapat dipesan saja langsung. 

Atau bagi yang kangen jajanan anak, tentu masih bisa mengecek makanan ringan Fugu. Makanan ringan ini justru berbentuk mirip, dengan ikan sebagai karakternya, yang tentu diproduksi oleh perusahaan Indonesia bernama OrangTua

Sinopsis Dream Animals: The Movie

Di Negeri Manisan, sekelompok grup musik terkenal bernama Dream Animals, yang beranggota Gajah, Kuda nil, Pegasus, Kucing, Kelinci, Jerapah, Singa, dan Monyet sedang heran dan terperangah atas kondisi nasionalnya. Dream Animals yang baru saja kembali dari tur musik internasional, menemukan negerinya kini dikuasasi oleh sejenis cemilan permen.

Sejenis kelompok permen bernama Gotton ingin mendominasi pasar di Negeri Manisan, yang biasanya seimbang antara campuran makanan ringan biskuit, dengan banyak variasi permen. 

Walau sebenarnya seluruh anggota Dream Animals tidak ingin berkonflik, justru terperangah dengan diculiknya salah seorang anggota mereka, yaitu Pegasus (Akairi Takaishi). Singa (Genta Matsuda) sebagai seorang pemimpin, berinisiatif bersama seluruh anggotanya untuk memulai misi penyelamatan.

Dengan dibantu oleh seorang gadis nan baik hati (Liliano Ono), Dream Animals mulai berjibaku dan merekrut banyak binatang idola lainnya, seperti Anak Ayam dan Buaya, demi menyelamatkan Pegasus dan mengembalikan kedamaian di Negeri Manisan tercinta. 

Sedikit Komentar Mengenai Sinopsis Film Dream Animals

Oh ya, tampaknya film ini menggambarkan, bahwa makanan cemilan alias ringan sejenis biskuit, kraker, dan banyak makanan adonan kering lainnya, sebenarnya lebih sehat. Bahkan, jika dicek per bungkusnya, terdapat cetakan berbentuk kotak, bertuliskan kandungan gizi per-gram untuk setiap bungkusnya. Label kandungan gizi ini bisa dicek pula dari bungkus sejenis sirup atau susu

Apalagi jika dibandingkan dengan sejenis permen, yang dapat langsung terlihat efeknya pada gigi anak, yang hitam bahkan hingga ompong karena terlalu banyak mengonsumsi permen atau manisan. Cukup merusak tubuh anak pula, karena gizi-nya jauh lebih sedikit dengan bahan kimiawi lebih banyak.

Sementara di cemilan makanan kering, sering ditambahkan dengan cokelat, susu, bumbu asam, manis, pedas, serta banyak tambahan lainnya. Walau tetap masuk sebagai kategori makanan ultra proses, tetapi prosesnya cukup sederhana dan lebih bergizi untuk dikonsumsi tubuh.

Produk Ringan dari Indonesia

Oh ya lagi, setelah membahas sinopsis film Dream Animals, penulis mau berbagi pula tentang pengalaman makanan ringan di Indonesia. Selama beberapa dekade lamanya, keluarga berkecimpung sebagai grosir makanan ringan. 

Ternyata, rata-rata produk makanan ringan berasal dari perusahaan Nasional alias Nusantara. Mulai dari biskuit, cokelat batang, keripik, hingga minuman susu dan sirup, seluruhnya diproduksi dari perusahaan nasional atau lokal. 

Tidak hanya makanan ringan, banyak produk rumahan seperti pasta gigi, sabun batang, sabun cair, sabun pel, sabun cuci piring, shampoo, sikat gigi, hingga kebutuhan rumah lainnya, diproduksi dari pabrikan dalam negeri tercinta.

Bahkan saat keluarga beralih usaha ke bumbu makanan, mulai dari bumbu jadi, bumbu marinasi, santan, hingga bumbu racik, ternyata seluruhnya diproduksi dari perusahaan nasional. Beberapa produk yang lebih tradisional, yaitu gula merah, gula, garam, minyak curah, hingga bumbu rempah, adalah hasil Usaha Kecil Menengah (UKM) regional.

Tampaknya tidak perlu dijelaskan lagi, bahkan produk tas hingga pakaian santai dan formal (apalagi batik), diproduksi oleh perusahaan nasional atau lokal. Memang, banyak pabrikan tekstil maupun garmen, bisa 'dititipkan' produksinya demi kebutuhan merk lokal pula.

Ya, maksudnya tentu bukanlah se-kompetitif ala Ginbis yang melanglangbuana hingga bisa diproduksi filmnya. Tetapi, dengan begitu dari segi manufaktur, barang dan bahan kebutuhan sehari-hari, ternyata sudah terpenuhi oleh produksi nasional dari negara tercinta. Ya, Indonesia.

Tentu kekurangannya adalah berbagai jenis barang elektronik serta otomotif, yang masih didominasi oleh produk dari Jepang atau China. Tetapi kedepannya, mungkin Indonesia akan mencapai tahap tersebut, karena banyak bahan mineral mentah yang memang didapatkan dari kekayaan dalam negeri. Ya, Indonesia.

Kayaknya tidak perlu dijelaskan lagi dari segi keberagaman Hayati Indonesia, ya. 

Okeh, wassalam, dan selamat menikmati kisah Dream Animals ala ranah produk sinema internasional di Indonesia.

10 Desember 2025

Berjuang Bersama Ksatria Putri di Film Anime Scarlet

 

Scarlet yang heran sendiri (TMDB)

Dan, saatnya mencapai film dari studio yang seringkali memenangkan langsung penghargaan setiap merilis filmnya, yaitu studio animasi Chizu dari Jepang, dengan karyanya berjudul Scarlet, di sinema Indonesia akhir tahun ini.

Chizu seakan bangkit sebagai 'studio Ghibli baru' dari Jepang, sejak didirikan pada bulan April tahun 2011 lalu. Dengan filmnya berjudul Wolf Children pada tahun 2012, bersama pendirinya yaitu Mamoru Hosoda, berhasil memenangkan satu perhargaan Film Animasi Terbaik Jepang.

Setelah film debutnya, serentetan penghargaan terus menghampiri studio Chizo. Film keduanya berjudul The Boy and the Beast pada tahun 2015, berhasil meraih penghargaan untuk kedua kalinya untuk Film Animasi Terbaik Jepang.

Bahkan di tahun 2018, studio Chizo menerima nominasi Oscar sebagai Film Animasi Terbaik, untuk film berjudul Mirai, walau tidak berhasil menang. Film terakhirnya di tahun 2021, berjudul Belle pun meraih nilai yang baik dari kritikus seluruh dunia.

Nah, bagaimana dengan film Scarlet yang dirilis di Indonesia di tahun 2025 ini? Menurut Mamoru Hosoda, film Scarlet diproduksi dengan teknik berbeda dari animasi 2D atau CG. Penulis kurang mengerti, namun terlihat pada cuplikannya, layaknya film 3D dengan arahan gaya anime. Kisahnya pun ternyata terinspirasi dari Hamlet, alias karya Shakespeare terdahulu.

Sinopsis Film Scarlet

Scarlet (Mana Ashida) adalah seorang ksatria sekaligus putri yang telah kalah bertarung. Dirinya kalah dan meninggal saat mencoba membalaskan dendam ayahnya, yang dituduh membelot kerajaan.

Sayangnya, walau sudah meninggal, Scarlet tidak bisa istirahat dalam damai. Scarlet terjebak di sebuah Daratan Kematian, yaitu sebuah daratan luas tanpa pepohonan dan hanya terlihat pegunungan, bebatuan, serta gurun pasir. 

Di Daratan Kematian, Scarlet bertemu dengan Hijiri (Masaki Okada), yaitu seorang paramedis dari dunia modern. Tampaknya, Daratan Kematian tidak memiliki periode waktu tertentu, sehingga jutaan orang yang meninggal, tiba dari banyak variasi jaman dan waktu.

Hijiri pun heran, bahwa saat dicek, sebenarnya Scarlet masih hidup, dan bisa kembali ke jamannya. Scarlet pun geram, karena paham dan sikap idealis yang berbeda di antara keduanya.Tidak berapa lama, Hijiri dan Scarlet perlu merambah tantangan lain di daratan tandus ini. 

Yaitu seorang raja, yang memproklamirkan seluruh penghuni daratan, untuk siap berperang. Raja tersebut menegaskan, bahwa jika perang ini dimenangkan, maka seluruh penyintas akan berhasil memasuki Daratan tak Terbatas. Namun, bagi yang kalah, akan hilang sepenuhnya dari daratan manapun.

Tidak ingin mengalah begitu saja, Hijiri dan Scarlet pun memulai perjalanan Epik mereka, walau tidak yakin dengan akhir tujuannya.

Bagi yang cukup yakin, bisa mengecek saja di daratan gelap sinema Indonesia.

Berkelana ke Barat Ala Siluman Dari China Di Film Nobody

 

Keempat siluman yang cukup berdedikasi (TMDB).

Akhirnya setelah sekian banyak film mengenalkan kembali Berkelana Ke Barat, di Desember tahun 2025 ini muncul kembali dengan gaya yang sesuai, yaitu cerita kocak para siluman (harfiah) berjudul Nobody, yang kini tentu tayang di sinema-sinema Indonesia.

Mungkin perlu diingat, adaptasi novel abad 16 (tepatnya tahun 1592) karya novelis Wu Cheng'en ini sering diproduksi oleh sineas perfilman dari China. Serial televisi Indonesia pada tahun 90an hingga awal 2000an lalu, tentu menjadi awal terkenalnya kisah Berkelana Ke Barat di Indonesia. 

Satu contoh yang kembali meramaikan cerita ini, adalah Journey to the West: Conquering the Demons (2013), yang diproduksi dan disutradarai langsung oleh Stephen Chow. Kisahnya pun cukup rapih dengan adegan dan petunjuk cerita yang saling mengikat satu sama lainnya. Ketika menontonnya, penulis tidak menyangka bahwa kisah ini akan berakhir sebagai prekuel Berkelana Ke Barat. 

Bagi yang ingin mengecek film lainnya, tentu perlu menonton trilogi Monkey King (2014; 2016; 2018). Kisah di trilogi ini sesuai dengan judulnya, yaitu prekuel Berkelana Ke Barat, dengan fokus pada Sun Wukong saja. Yang pernah menontonnya, tentu tahu bahwa Sun Wukong sering membuat kacau Khayangan dan beradu gelut dengan siapa saja, sebelum bertemu dengan biksu Tang.

Nah, berbeda dengan kedua film sebelumnya, yang berlatar film aksi epik langsung dengan aktor nyata, film Nobody di tahun 2025 ini justru berformat animasi. Tidak hanya itu, ternyata ceritanya cukup berbeda, yaitu para karakter utama bukanlah anggota asli, yang terdiri dari Biksu Tang Sanzang, Sun Wukong, Zhu Bajie, dan Sha Wujing. Melainkan, karakter utama di film Nobody adalah siluman yang Pura-Pura ke Barat, demi mengembalikan status Kekal miliknya.

Okeh, saatnya mengecek kisah film Nobody yang pembawaannya lebih ke kartun komedi, layaknya serial televisi Berkelana ke Barat tahun 90an lalu.

Sinopsis Film Nobody

Yao Babi (Chen Ziping) adalah seorang siluman babi yang galau, karena tidak pernah berhasil melalui ujian Gua Raja. Yao Babi tidak ingin hidupnya sebagai siluman, berakhir begitu saja.

Hingga suatu hari, akibat kesalahan saat bekerja, Babi Yao dan Kodok Yao (Lu Yang) terpaksa diusir dari Gunung Langlang. Yao Kodok pun marah, karena jika keluar dari Gunung, maka status kekalnya sebagai siluman akan punah.

Namun, masalah kritis tersebut menyebabkan Yao Babi malah semakin kritis, dengan berinisiatif berpura-pura sebagai Kelompok Biksu Tang yang sedang Berkelana ke Barat demi Kitab Suci. Dengan begitu, keduanya dapat meraih kembali hidup kekal nan abadi.

Keduanya pun merekrut Yao Musang (Dong Wenliang) dan Yao Kera (Liu Cong), yang jelas-jelas salah spesies, karena Sun Wukong adalah seorang siluman monyet. Karena keduanya memang siluman pecicilan alias nganggur tanpa arahan jelas, mereka pun setuju saja sambil asyik.

Tentu dengan wajah mereka yang masih berbentuk siluman, banyak warga desa dan bahkan siluman lain yang tidak percaya. Mereka diusir, bahkan dikejar layaknya monster atau rampok, yang dianggap mengganggu desa mereka.

Namun, seorang biksu tua yang baik hati memilih percaya pada mereka, dan membantu dengan menyiapkan makanan dan ruang istirahat bagi keempatnya. 

Saking mendalami peran, keempatnya bahkan siap membantu warga desa yang meminta bantuannya. Walau kuadro ini bukanlah siluman sakti, tetapi mereka tidak rela warga yang ikhlas membantu, tidak terbalaskan kebaikannya.

Apakah mereka sanggup untuk menyelesaikan perjalanan Epik ini? Atau malah identitas terbongkar karena kurang meyakinkan? Dan malah kalah bertarung dan berakhir seketika karena memang kurang mampu?

Jawabannya, tentu ada di ranah mitos sinema-sinema Indonesia.

03 Desember 2025

Berjibaku Ala Warga Batak di Film Wasiat Warisan

Keluarga Batak yang masih lengkap (TMDB).

Daaan, sudahlah kisah perfilman Indonesia dengan film berjudul Wasiat Warisan, yang tayang di sinema Indonesia saat ini. Yang sudah menonton cuplikannya, tentu tahu bahwa logat serta budaya mana yang diadaptasi. Ya, memang berasal dari suku Batak di Sumatera Utara sana.

Oh ya, karena minggu ini terjadi banyak bencana di Sumatera, khususnya di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, dengan banyaknya ratusan korban akibat banjir bandang, longsor, dan derasnya hujan, maka sudah seharusnya kita mendoakan dan kalau mampu, membantu.

Okeh, kembali ke film Wasiat Warisan, tentu sangat khas dalam cuplikannya, keindahan alam Danau Toba. Danau vulkanik terluas sedunia ini mencapai sekitar 1.030 kilometer, dengan panjang 100 kilometer dan lebar 30 kilometer, dengan kedalaman 500 meter. Selain itu, danau ini menghubungkan tujuh kabupaten di sekitarnya.

Dari segi ranah perfilman Indonesia, Danau Toba cukup jarang diadaptasi sebagai latar film. Padahal, kisah warga Batak yang difilmkan, cukup ramai sejak film Naga Bonar meramaikan Indonesia di tahun 1987 lalu. Naga Bonar pun diisi oleh Deddy Mizwar, yang kala itu masih cukup muda.

Kembali ke Wasiat Warisan, dan mengacu pada artikel lain di blog ini mengenai Hukum Adat dan keharmonisan keluarga, tampaknya film ini cocok sebagai bagian dari penalaran.

Berbeda lagi dengan Batak, yaitu sebuah suku yang berada di Sumatera Utara. Namun, sebenarnya di Sumut, mayoritas warga adalah dari suku Melayu. Batak justru berhasil melestarikan budayanya sendiri, dengan arahan Dalihan Na Tolu. Tata budaya ini mengatur hubungan sosial antar warga sesama Batak.

Kembali lagi (dan lagi) ke film ini, mengadaptasi kisah miris mengenai tata budaya tersebut (dan mungkin mengacu pada Hukum Adat yang sah dan diakui negara). Dari cuplikan terlihat bahwa Mak Tua (sebutan ibu tertua di Batak) baru saja meninggal, dan mewariskan banyak aset bagi anak-anaknya.

Oh ya, bagi yang heran mengapa cuplikan film Wasiat Warisan banyak yang teriak-teriak, tampaknya tidak perlu heran. Warga Batak memang terkenal berisik, alias lugas, tegas, dan blak-blakan. Tidak perlu bertengkar, mereka perlu berbicara seperti itu, karena pembawaan dari budayanya sendiri. Agak berbeda dengan kebanyakan suku lain di Nusantara, khususnya dari Jawa (P)

Naaaah, namun, karena film ini mengisyaratkan kisah hukum adat di keluarga Batak, maka isinya pun tentang masalah keluarga yang agak heboh. Ya, yaitu sebuah film mengenai hutang keluarga yang cukup besar, dan harus ditanggulangi seluruh anggota keluarga.

Okeh, saatnya kembali ke sinopsis filmnya saja ya... (yang akhirnya bisa ditulis juga di minggu ini)

Sinopsis Film 

Togar (Derby Romero) baru saja kembali dari perantauannya di Jakarta, demi mengabdi kembali ke bisnis keluarga, yaitu Hotel Pariban. Sepeninggal kedua-orangtuanya, kini bersama Ramona (Astrid Tiar) dan Tarida (Sarah Sechan), ketiganya harus berjibaku membangun bisnis hotel warisannya.

Namun, ternyata orangtuanya sempat bermasalah semasa hidup, yang baru terkuak setelah Linda (Dharty Manullang) datang berkunjung. Mereka ternyata meninggalkan hutang besar, yaitu mencapai satu milyar, lengkap dengan dokumen hukumnya. Ketiganya pun sulit bermusyawarah dengan Linda, yang bersikeras untuk menyita seluruh aset milik keluarga demi mengembalikan hutangnya. Hotel Pariban pun ditutup akibat masalah Tanah Sengketa.

Tambah sulit lagi dengan hotel yang disita oleh kepolisian setempat, akibat masalah hutang piutang telah dilaporkan dan tengah diproses hukum. Ketiga kakak beradik pun berselirih, bahwa mereka harus mencari banyak aset keluarga, demi dapat mengembalikan hutang serta memulai kembali bisnis hotel Pariban.

Sanggupkah mereka menghadapi seluruh cobaan tersebut? Atau sebenarnya terdapat surat wasiat dalam warisan orangtua mereka? 

Jawabannya, dapat dipelajari langsung melalui Hukum Adat ala sinema Indonesia.

Mendalami Kisah Nyata dari Tanah Minang di Film Nia

 

Film Nia yang heboh perbedaanya antara warganet, film, dan kasusnya (TMDB).

Okeh, satu film Nusantara lagi yang diadaptasi dari kasus nyata dari Sumatera Barat, berjudul singkat Nia, yang kini tengah tayang di sinema-sinema Indonesia.

Kasusnya sendiri cukup miris, karena Nia yang sebenarnya adalah gadis remaja masih sekolah, perlu membantu keuangan keluarga dengan berjualan gorengan. Namun, kisahnya berakhir tragis akibat meninggal dianiaya, setelah disergap oleh tersangka di musim hujan. 

Kelanjutan kasusnya tentu dapat dicek di banyak artikel serta berita di Indonesia. Namun, ada satu masalah mengenai adaptasi film Nia ini, yang dikemukakan oleh banyak warganet Indonesia.

Ya, terima kasih warganet Indonesia atas peringatannnya. Bagi yang penasaran, bisa dicek saja melalui cuplikan filmnya di kanal YouTube. Walau begitu, penulis tidak ingin berjibaku dengan kisah pribadi serta kekisruhan saat kasus ini ramai diangkat, hingga akhirnya dibuat sebagai karya film dari sineas Indonesia.

Terlebih lagi, coba ditelaah saja dari satu topik yang pernah penulis angkat, yaitu mengenai masalah keharmonisan keluarga dan disfungsional-nya. Dengan mengesampingkan isi cerita dari film Nia, yang tentu menjadi spoiler atas isi, maka coba dicek saja dari segi masalah sosial ini.

Masalah kawin-cerai, serta kepala keluarga yang tidak dapat mencari nafkah, hilangnya tumpuan rezeki dari kepala keluarga sebelumnya, serta sistem perlindungan anak sebagai korban, tentu menjadi permasalahan saat ini. Masalah ini seharusnya adalah tugas bagi Komnas Perempuan dan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).

Walau begitu, banyak permasalahan tidak dapat diselesaikan begitu saja. Masalah hukum ini memang terkait keluarga dan pribadi, dan bukanlah pidana, alias perdata, sehingga perlu ditanggulangi berbeda. Perlindungan hukum bagi banyak pihak dan penanggulangannya pun perlu diproses lebih.

Terlebih lagi, terdapat masalah dari Hukum Adat itu sendiri. Khusus di Indonesia, urusan hukum yang berasal dari Adat masing-masing suku budaya di Indonesia, disahkan dan bahkan hampir disejajarkan dengan hukum dari negara. Padahal, dasar hukum adat itu berlandaskan pada norma budaya sehari-hari, yang tentu berbeda setiap wilayah dan nama persukuannya. 

Bahkan, jika suatu wilayah atau keluarga tidak begitu mengedepankan hukum adatnya, maka aturan yang ada akan sedikit rancu. Walau begitu, hukum yang dibuat dari negara tentu lebih mengikat warganya. Jika memang masalah hukum adat tidak sangggup menyelesaikan, maka hukum dari negara dapat interfensi dan menjadi landasan solusi setiap kasusnya.

Dan kembali ke masalah keharmonisan keluarga, itulah yang menjadi kekisruhan anggotanya. Antara Hukum Adat, Hukum Negara, dan satu lagi, Hukum Agama, tentu saling terkait dengan pribadi masing-masing. 

Jadi, ada satu perbedaan penting dari perbedaan hukum tersebut, yaitu posisi pribadi (yang bukan berarti politik). Namun, layaknya Komnas Perempuan dan KPAI yang kini sudah terpisah lembaganya, maka setiap pribadi (seharusnya) mengenal posisi diri di mata hukum. 

Walau hukum sudah sewajarnya tidak memihak, namun jika setiap pribadi, bahkan anak, mengenal posisinya sendiri, maka kekisruhan ini dapat terhindarkan. Aparat hukum dan komisi yang bertugas pun dapat membantu sesuai dengan posisi dari pihak terkait. Terlebih lagi, bantuan mereka dapat merubah harapan hidup kedepannya, dengan dokumentasi administratif yang lebih terikat dan resmi.

Perundungan Nyata di Film Ozora: Penganiayaan Brutal Penguasa Jaksel

 

Mendoakan David Latumahina (TMDB).

Okeh, hari ini kembalinya film dari Nusantara tercinta, Indonesia, dengan judul Ozora: Penganiayaan Brutal Penguasa Jaksel, yang tengah tayang di sinema Indonesia. Bagi yang sempat mengenal nama Ozora, tentu teringat kasus tahun 2023 lalu, yang film ini mengadaptasi langsung kisahnya.

Sayang seribu sayang, kasus David Ozora bisa disebut kisah perundungan paling mengerikan yang pernah terjadi di Indonesia. Tidak hanya itu, kasus sang pelaku, Mario Dandy ini terkait dengan kasus korupsi milik ayahnya (Rafael Alun) sendiri, yang (entah kenapa) terjadi pada momen yang hampir sama. 

Penulis perlu berpendapat, bahwa kasus ini adalah satu contoh sebuah keluarga disfungsional. Walau sang ayah berkarir hebat di Kementerian (dan bisa korupsi banyak), namun anaknya sendiri malah bertingkah brutal. Itupun, tepat saat ayahnya tengah mengalami masalah hukum. Entah bagaimana komunikasi di rumah berjalan, tetapi yang pasti keduanya jelas-jelas bersalah, namun bersikap lebih buruk lagi. 

Kasus hubungan ayah-anak inipun, dengan begitu tingginya jalur karir, gengsi jabatan, harta, serta keuntungan hidup lainnya, sama sekali tidak memastikan keharmonisan keluarga. Untuk kasus hubungan keluarga ini tidak begitu dijelajahi oleh para pemerhati sosial, karena keduanya memang sedang terjerat proses hukum (saat itu).

Dan kembali ke korban, bernama David Ozora, adalah seorang pemuda berumur 17 tahun saat kasus terjadi (alias masih anak remaja). Ozora sempat disekap, dan bukan hanya dirundung saja, melainkan dianiaya. Penganiayaan mental serta fisik menyebabkan Ozora koma selama satu bulan lamanya, dan setelahnya didiagnosa mengalami regresi mental.

Sebenarnya penulis tidak ingin membawa masalah agama, namun perlu diceritakan juga. Muncul pada cuplikan filmnya, bahwa Jonathan Latahumina dan David Ozora adalah mualaf, yang baru saja memeluk Islam setelah pindah dari Kristen Katolik. 

Penulis hanya bisa berselirih, Wallahu a'lam, bahwa ini sebuah cobaan berat bagi keduanya. Ozora dan Jonathan Latahumina kini menjalani karir sebagai anggota pesantren, demi berkarya dan mendalami ilmu agama Islam lebih dalam lagi.

Untuk kronologis kasusnya, tidak perlu diceritakan karena berhubungan langsung dengan seluruh isi filmnya. Bagi yang ingin mengingat kasus ini, bisa membaca ulang banyak artikel mengenai kasus ini. Tentu, perbedaan adegan dan kronologis yang disajikan di film, bisa menjadi bahan pertimbangan pula.