20 Januari 2026

Stop Motion Ala Coraline Ikut di Remastered Pula

 

Lubang menuju dunia lain (TMDB).

Film Stop-Motion layaknya 'bapak' di dunia perfilman, dengan teknisnya yang memotret satu frame saja, lalu disambungkan dengan frame berikutnya, sehingga terlihat bergerak alias animasi.

Nah, sejak minggu ini di sinema Indonesia, dirilis ulang film Stop-Motion terkemuka berjudul Coraline. Film yang aslinya dirilis tahun 2009 ini, di-remaster pula, dan bahkan dirilis dalam format tayangan 3D. Walau rating umur film ini adalah Semua Umur (SU), namun perlu dipandu oleh orangtua atau orang terdekat, karena banyak menyajikan adegan horor.

Sebelumnya di tahun 2024, versi remastered ini dirilis seluruh dunia, demi menyambut Hari Jadi 15 Tahun sejak awal perilisannya, terkecuali Indonesia. Karenanya, studio LAIKA sebagai rumah produksinya, bekerja sama dengan Universal Pictures sebagai distributornya, baru merilis Coraline pada awal 2026 ini di sinema nasional.

Film Coraline termasuk terkemuka di jamannya, yang sedang dibanjiri kembali oleh film Stop-Motion, sejak awal 90an lalu. Coraline menjadi satu yang terbaik, karena sempat meraih nominasi Oscar Academy Awards. Banyak penghargaan dari kritikus film pun, diraih oleh film ini.

Sutradara yang memimpin produksi film ini memang telah berkecimpung lama sebagai ahli Stop-Motion, bernama Henry Selick. Sebelumnya di tahun 1993, sempat memproduksi film Nightmare Before Christmas, yang sempat meraih pula nominasi film Oscar Academy Awards.

Coraline pun meraih box office tinggi di pasar sinema, walau dengan biaya 60 Juta Dolar AS saja. Perilisan awalnya di tahun 2009 mencapai pendapatan hingga 126 Juta Dolar AS. Hingga kini dengan beberapa kali perilisan ulang, pendapatannya telah mencapai 188 Juta Dolar AS.

Untuk perilisan ulangnya yang telah di-remaster, sangat terlihat mencolok dengan gradasi warna yang lebih tajam, serta resolusi lebih tinggi. Dengan frame yang lebih banyak, bahkan terlihat lebih mulus, layaknya film animasi 3D kekinian. Coba dibandingkan saja, antara cuplikan film Coraline di tahun 2009, dengan cuplikannya tahun 2024 dari LAIKA Studios. 

Versi remastered ini ditambahkan pula teknik tayangan 3D, yang ditayangkan di beberapa sinema berfitur ini.

Sinopsis Film Coraline

Coraline (Dakota Fanning) adalah seorang anak berumur 11 tahun yang bosan dengan keadaan rumahnya. Ayahnya yang bekerja di rumah, lalu ibunya yang bekerja di luar, serta keadaan perkakas dan peralatan rumahnya yang sering rusak, menyebabkan Coraline tidak betah di rumah.

Hingga suatu hari, Coraline menemukan sebuah lubang besar dibalik kabinet kecil kamarnya. Dari lubang tersebut, Coraline sampai di rumahnya sendiri, namun dengan keadaan yang berbeda. Rumahnya terlihat lebih rapih dan hidup, dengan orangtuanya yang tidak membosankan, tidak seperti biasanya.

Namun, orangtua 'dari dunia lainnya' meminta agar Coraline tinggal permanen di rumah tersebut, dengan memasang sepasang kancing di kedua matanya. Coraline yang ragu, tidak langsung memasangnya, namun tetap sering kembali untuk berkunjung.

Banyak mahluk lain yang tidak memakai kancing, contohnya kucing (Keith David) dan jurig (Aankha Neal), terus memperingatkan Coraline, mengenai bahayanya tinggal di 'dunia lain.' Mereka menyarankan, agar tidak pernah kembali lagi, dan menutup lubang portal dimensi di rumahnya.

Sanggupkah Coraline menahan diri untuk mencoba kancing? Atau malah terus keranjingan di dunia lainnya? Lebih parah lagi, yaitu terjebak tanpa sempat kembali?

Jawabannya, tentu ada di lokasi pelarian dari rumah ala sinema Indonesia.

Sejarah Film Stop-Motion

Film dengan menerapkan teknik Stop-Motion adalah teknik awal perfilman saat kamera perekam belum ditemukan. Tepatnya tahun 1850an, sebelum kamera video ditemukan, namun kamera potret telah lumrah di jaman tersebut. Menggunakan rangkaian film yang dimainkan satu persatu dengan kecepatan tinggi, suatu gerak animasi pun dapat ditampilkan.

Satu contoh terkenalnya adalah film Hotel Electrique pada tahun 1908. Film ini menampilkan aktris Julienne Matthieu, dengan adegan seorang wanita yang rambutnya disisir dan dirapihkan otomatis oleh mahluk tak kasat mata. Adegan ini bisa ditampilkan dengan baik, karena teknik Stop-Motion yang cekatan.

Film lainnya berjudul La Maison Ensorecelee pada tahun 1906, mengombinasikan efek spesial dengan film berisi aktor dan aktrisnya. Di film ini, beberapa aktor-aktris yang masuk ke rumah angker, diganggu semacam kekuatan mistis supernatural. Seluruh efek spesial, yaitu saat banyak benda digerakkan oleh mahluk tak kasat mata, diterapkan dengan teknik Stop-Motion. 

Perkembangan lensa kamera serta mekaniknya, dilanjutkan hingga kamera video ditemukan pada tahun 1920an. Namun teknik Stop-Motion masih diterapkan pada berbagai film oleh banyak sineas perfilman, bahkan hingga era modern saat ini.

BoBoiBoy Kembali dalam Film Papa Zola The Movie

 

Zola yang kembali sakti (TMDB).

Okeh, saatnya Malaysia dan Indonesia kembali bersatu, dalam satu film animasi yang menyatukan keduanya, yaitu berjudul Papa Zola The Movie. Tentu yang mengenal karakter ini, paham akan kiprahnya di serial animasi kartun BoBoiBoy.

Ya, karakter Papa Zola adalah satu pahlawan super dalam serial BoBoiBoy, yang telah meramaikan animo kartun Indonesia sejak tahun 2012 lalu. Tentu, ratingnya adalah Semua Umur yang dapat ditonton mayoritas khalayak.

Masih tayang hingga kini dengan sempat berpindah kanal televisi, kartun ini turut melanjutkan kisah kartun Malaysia yang sederhana dan cocok, ala Upin Ipin sebelumnya. Memang, keduanya lebih menceritakan keseharian banyak karakter, yang ditambah bumbu aksi ala pahlawan super di BoBoiBoy.

Kiprah Monsta Studios dari Malaysia

Tidak hanya di televisi nasional, BoBoiBoy telah melanglang buana di siaran internet Netflix, dengan sub-judul Galaxy (2016). Bahkan, bagi yang masih penasaran dengan seluruh musim penayangan BoBoiBoy, dapat menyaksikannya di kanal resmi milik Monsta Studios (Monsta dan Monsta Keren), selaku tim produksinya dari Malaysia.

Berbagai karya yang terkait dengan waralaba BoBoiBoy pun telah ditelurkan oleh Monsta. Diantaranya adalah dua film BoBoiBoy (2016, 2019), satu seri dan film Mechamoto (2021, 2022), dan seri khusus Papa Pipi (2019, 2025). Selain itu, lima film pendek BoBoiBoy pun digelontorkan oleh Monsta Studios, yang diantaranya dirilis tahun 2019, 2020, 2021, 2022, 2023 dan 2024. 

Ranah komik pun dijabani pula oleh Monsta, yaitu serial komik BoBoiBoy Galaxy musim kedua (2020), dan Detektif Yaya (2016). Seluruh karya tersebut, adalah bagian dari Jagat Power Sphera, alias dunia khas berisi BoBoiBoy dan banyak karakter lainnya.

Sedikit Info Karakter Papa Zola

Kembali ke film ini, Papa Zola adalah satu karakter yang seringkali membantu BoBoiBoy, dalam membasmi berbagai serangan alien. Adu Du dan Tengkotak, adalah sejenis mahluk luar angkasa jahat, yang sering mengganggu di Pulau Rintis, lokasi tempat tinggal mereka. Dengan bantuan teman-temannya dan Papa Zola, BoBoiBoy sanggup menggagalkan usaha jahat dari alien.

Uniknya, Papa Zola sebenarnya adalah seorang karakter fiksi dalam dunia BoBoiBoy. Karakter Papa Zola berhasil keluar dari video gim miliknya sendiri, dan sempat linglung akibat berasa isekai. Terpaksa tinggal di Pulau Rintis, dirinya lalu bekerja sebagai guru, sambil menyembunyikan identitas pahlawan supernya.

Nah, kali ini justru dimulai kembali petualangan yang berbeda dari Papa Zola, yang tayang di banyak sinema Indonesia. Bagi yang kangen dengan kerennya BoBoiBoy, berbagai aksi mantap ala animasi 3D terlihat dalam cuplikannya. Beberapa drama pun menyajikan latar belakang Zola, yang masih berjuang keras demi hidup damai sejahtera di Pulau Rintis, bersama keluarganya.

Sinopsis Film Papa Zola The Movie

Papa Zola (Nizam Razak) masih berjuang keras demi menghidupi keluarganya, dengan melaksanakan tiga pekerjaan sekaligus. Zola masih berniat untuk berlibur layak bagi anaknya, Pipi Zola (Ieesya Isandra). Istrinya, Mami Zila (Noor Ezdiani Ahmad Fauwzi) justru memberi saran, bahwa Zola tidak perlu bekerja sekeras itu, dan liburan saja jika memang mampu.

Saat mereka tengah berkemah di tengah hutan, Zola bertemu seorang agen dari PAPA (Protect and Prevent Agency), yaitu organisasi yang berfungsi menghalau serangan alien. Zola diingatkan, bahwa dirinya sempat menjadi anggota dari PAPA, sekaligus mitra lamanya. Karena sudah tidak ingat, Zola malah menyarankan untuk menghubungi BoBoiBoy (Nur Fathiah Diaz) saja, yaitu seorang anak super dengan kemampuan elemen dan bertopi oranye.

Namun, keesokan harinya Pipi diculik oleh sekawanan alien. Kelompok alien baru tersebut, memang tengah mencari anak, yang bisa diculik demi eksperimen. Sementara, kapal utama menyerang ibukota Kuala Lumpur, demi merubah dunia menjadi simulasi jajahan mereka.

Zola yang masih memiliki kemampuan super, perlu mengumpulkan kembali seluruh kekuatannya yang telah lama tidak dipakai. Terlebih lagi, BoBoiBoy dan Gopal (Dzubir Mohamed Zakaria) yang sudah lama berjibaku, malah hilang setelah ditelan oleh portal menuju dunia simulasi lainnya. 

Sanggupkah Zola menyelamatkan Pipi dan seluruh dunianya? Tentu dapat disaksikan di sinema kombo Indonesia dan Malaysia.

14 Januari 2026

Rasanya OP Ala Karakter Kirito di Anime Sword Art Online

 

Yujio di Project Alicization (SAO-Wiki).

Okeh, rasanya cukup aneh mulai nulis artikel Monsterisasi lagi, tetapi memang cocok di awal tahun 2026 ini. Apalagi setelah penjelasan di laman Monsterisasi mengenai Tanjiro dan kawan-kawan, serta artikel pertamanya mengenai film dari Makoto Shinkai, jadi ya tinggal dilanjutkan saja.

Terlebih lagi, istilah Monsterisasi-nya sendiri cukup aneh, jika dibandingkan dengan apa yang dibahas. Jadi, di artikel ini, penulis akan membahas satu karakter OP, yang memulai animo anime isekai di Jepang sana, bernama Kirito Kazugaya.

Ya, karakter utama dari serial novel dan anime Sword Art Online (SAO) ini, justru paling cocok dibahas di artikel ini, Monsterisasi. Kenapa? Karena seperti dibahas sebelumnya mengenai perubahan 'makna' seorang karakter dan dikejar masa lalu, maka Kirito adalah satu 'Monster' terbesar dari sudut pandang tersebut.

Memang Monter terbesarkah? Tentu Saja! Karena Kirito punya Buanyak HAREM sedunia, bahkan mengalahkan seluruh anime lain! Hehe, becanda... 

Trope Kirito yang punya banyak harem, sebenarnya digambarkan di anime saja. Menurut sumber yang dapat dipercaya, Kirito sebenarnya adalah pemain MMO solo karir, yang seringkali membantu player (cewe) lain pas namatin quest.

Trope Kirito sebagai karakter OP yang punya banyak harem pun, membuat anime SAO tidak disukai oleh banyak wibu dan otaku. Padahal, menurut novel aselinya, Kirito memang tidak pernah sedekat itu dengan cewek manapun (selain Asuna).

Okeh, itu pengenalan saja mengenai urusan kelamin Kirito. Tetapi bagaimana dengan jiwanya sebagai seorang Monster? Nah, dari segi Action RPG atau MMO sekalian, Kirito memang termasuk OP, layaknya karakter Endgame - Post Game Grind di banyak RPG.

Walau karakter Kirito di novel dan animenya cukup berbeda, tetapi plot utama serta jalan ceritanya tetap mirip. Yaitu, saat Kirito harus meng-carry seluruh tim, hingga seluruh server, untuk selamat walafiat di dunia MMO. Trope cerita Kirito terus berlanjut dari server Aincrad, bahkan hingga seri anime terakhir, yang berjudul Alicization: War of Underworld.

Nah, daripada membahas bagaimana kisah Kirito meng-carry semuanya (padahal mah pake cheat juga anjir), lebih baik dicek saja pas Kirito cocok sebagai MC kita selama ini. Tepatnya, saat masih berada di dunia Project Alicization. Itupun, tidak hanya berfokus pada Kirito, tetapi teman virtualnya sendiri, yaitu Eugeo (Yujio).

Kirito dan Asuna yang sudah resmi berumur dewasa (Mipon).

Project Alicization bersama Alice, Yujio dan Kirito

Perlu diingat, bahwa Kirito di Project Alicization sudah berumur 20 tahun, alias baru lulus SMA dan memulai kuliah. Penggemarnya pasti tahu, bahwa Kirito dan banyak penyintas Aincrad lain, ke-skip sekolahnya selama dua tahun lebih. 

Jadi, Kirito di serial anime ini memang sudah dewasa, dan bekerja (magang) sebagai beta tester (lagi) di Project Alicization. Sayangnya (seperti biasanya), proyek yang sudah diamankan ini, harus dioperasikan sebagai penelitian bagi pasien yang mengalami koma.

Ya, Kirito yang diserang oleh racun syaraf saat berduaan dengan Asuna di dunia nyata, akhirnya koma dan perlu dirawat di dunia Project Alicization. Kirito yang sebenarnya berumur lima tahun di dunia ini, perlu mengulang kembali sepuluh tahun hidupnya, akibat perbedaan waktu dengan dunia nyata.

Namun, dari segi ini bisa dianalisa, bahwa Kirito bersama karakter AI bernama Yujio dan Alice, sebenarnya mengulang kembali masa kecil yang hilang. Di dunia nyata, Kirito adalah seorang yatim-piatu, yang tinggal bersama sepupunya yaitu Suguha, dan kakeknya saja. Momen masa kecil bersama Alice dan Yujio, seakan proses untuk menyembuhkan kembali rasa terpendam Kirito.

Tidak hanya itu, saat berumur 15 tahun alias SMP, Kirito pun terjebak di Sword Art Online dan dunia Aincrad-nya. Disitu, Kirito selalu merasa bersalah, karena tidak sanggup membantu banyak pemain SAO.

Dan latar Kirito tersebut sangat nyambung dengan karakter baru di Alicization, yaitu temannya sendiri bernama Yujio. Karakter berambut pirang dan tinggi sama dengan Kirito ini, memiliki keperibadian baik, halus, penurut, dan setia. 

Namun sedikit spoiler, Yujio akhirnya meninggal dalam seri ini. Kisah Yujio yang meninggal, mengingatkan pula perubahan terbesar dalam diri Kirito. Yaitu, untuk terus berinisiatif gelut, dengan berbagai tingkat edgy-nya. Yujio pun meninggal akibat misi keduanya.

Padahal, sebelum terjebak di dunia Aincrad, Kirito adalah anak SMP biasa yang cukup halus pembawaannya. Kematian Yujio seakan mengingatkan, bahwa Kirito yang selama ini terlalu Power-Creep, adalah perubahan besar akibat Aincrad. Padahal di episode awal SAO saja, Kirito pura-pura edgy, untuk menghindari kejaran dari pemain lain.

Visual karakter Yujio pun cukup terbalik dengan Kirito, khususnya sebagai avatar. Kirito bermata dan berambut hitam, dengan pakaian serba hitam pula. Sementara Yujio bermata biru dan berambut pirang, dengan pakaian berwarna biru cerah. Padahal, desain baju keduanya masih cukup mirip.

Nah, kembali ke momen Yujio meninggal, bencana lain menimpa pula Kirito yang kalah bertarung. Dirinya terjebak dalam dirinya sendiri, mirip dengan koma di dunia nyata. Alias, Kirito memang koma dua dunia sekaligus. 

Saat masih koma, dengan serial Alicization yang dilanjutkan di War of Underworld, Kirito memang tidak muncul sama sekali. Jika adegan Kirito muncul, berarti saat dirinya terjebak dalam kenangannya sendiri, mulai jaman SMP hingga Aincrad, lalu banyak momen menyedihkan lainnya. 

Momen ini, layaknya men-defrag Operational System dalam Personal Computer dengan begitu banyak data yang memenuhi memori Hard Disk Drive atau Solid State Drive. Dengan begitu, PC akan bekerja lebih cepat dan kinerja lebih baik lagi. 

Bahkan di akhir momen tersebut, Yujio, Asuna, Shino, dan Suguha muncul, untuk membangunkan kembali Kirito dari dalam kenangannya. Momennya cukup dalam, karena Kirito harus menerima dirinya sendiri sebagai seorang pahlawan, yang sempat menyelamatkan (nyawa) keempat temannya tersebut. Walau Yujio telah meninggal, dirinya adalah sosok jiwa Kirito yang Aseli.

Daaan, begitulah alasannya mengapa Kirito (alias Yujio) adalah seorang karakter Monster, yang selalu diminta untuk menyelesaikan seluruh masalah dunia MMO, hingga berujung celaka di dunia nyata.

Avatar-nya saja di dunia Project Alicization, masih berupa Kirito umur 15 tahunan. Seakan, mengingatkan kembali awal edgy-nya karakter Kirito yang OP ini.

Akhir dari Alicization, yang entah kapan dilanjutkan serial anime-nya, menjadi sekedar closure alias penutup, bagi kisah Kirito yang sudah terlalu OP, hingga berujung status sebagai Monster!

Oh ya, daripada galau menanggapi Kirito, mending dengarkan saja lagu pembuka anime Alicization kedua, dari penyanyi ReoNa berjudul Anima. Bagi yang mengecek judul serta liriknya, pasti paham seluruh maksud artikel ini.

Okeh, Ciao!

Berbincang Sunda Sebagai Budaya Bahasa Lokal di Jawa Barat

 

Aksara Sunda di Jalan Merdeka Bandung (Kagum Insight).

Punten, saatnya membahas Hari Kebangkitan Bahasa Sunda, yang dirayakan setiap 17 Januari, sejak tahun 2022 lalu. Tanggal penting ini digagas oleh Dedi Mulyadi, yang kini menjabat sebagai gubernur Provinsi Jawa Barat. 

Sedikit Sejarah Hari Kebangkitan Bahasa Sunda

Awal dicanangkannya Hari Kebangkitan Bahasa Sunda memang sempat kisruh, akibat politisi yang (seperti biasanya) sedang gimmick dari pusat sana. Sementara Dedi Mulyadi yang tidak menjabat posisi administrasi manapun, dan tengah aktif di salah satu partai besar, cukup berang menanggapinya. 

Dedi Mulyadi lalu meminta kepada pemerintah pusat, untuk mengesahkan tanggal 17 Januari sebagai Hari Kebangkitan Bahasa Sunda. Karena rekam jejak dan kontribusi Dedi Mulyadi sebagai pejabat di daerah Sunda alias Jawa Barat, maka wacana tanggal penting ini disahkan oleh pemerintah. 

Seperti dilansir dari Media Indonesia, maka untuk merayakan tanggal penting ini, dapat dijabarkan dengan satu kalimat berbahasa Sunda berikut. 

'Rahayu selawasna Hari Kebangkitan Bahasa Sunda! Tetep budaya, tetep basa, supados tiasa nyandakkeun ka samudaya.' 

Paribasa Sunda Lelea dari Indramayu (Wikimedia)

Keseharian Berbahasa Sunda 

Menurut penelitian ringkas tahun 2021 yang dilaksanakan oleh Dr. H. Wawan ‘Hawe’ Setiawan, M.Sn, selaku ketua Ketua Lembaga Budaya Sunda dari Universitas Pasundan, penggunaan bahasa sunda sehari-hari sangatlah kental diantara anak muda.

Wawan menyatakan, bahwa lembaga pendidikan (sekolah dan universitas) telah baik mengajarkan bahasa Sunda yang terstandarisasi (sebagai muatan lokal atau jurusan kuliah). Ternyata, saat kajian dilaksanakan di lingkungan non-formal, maka komunikasi bahasa Sunda yang 'kekinian' dapat dan harus diapresiasi, karena lebih fleksibel.

Menurut Wawan, bahasa Sunda digunakan oleh milenial, sebagai label untuk berbagai karya produk, contohnya pada desain kaus, makanan, hingga produk tembakau. Generasi milenial saat ini tidak meninggalkan bahasa Sunda, melainkan dipandang sebagai elemen lokal dan 'pembeda' yang dominan. 

Maksud Wawan, justru bagi milenial yang mengambil langkah inovatif tersebut, adalah cara mereka untuk mengoreksi hal yang sudah dominan dengan ragam mereka sendiri. Maka, kearifan lokal masih bernaung dalam jiwa para generasi milenial.

Bahkan, menurut Wawan, ragam bahasa Sunda seperti ini dari generasi muda, tidak perlu dibuat strukturnya. Nantinya, tidak akan ekspresif lagi. Ranah antara ekspresif dan strukturisasi, harus dijaga perbedaannya, karena mengacu pada sistem yang sebetulnya masih perlu dikoreksi. 

Sementara dari penulis sendiri, jujur saja lebih sering berkomunikasi dalam bahasa Sunda. Bahkan, saking dominannya, justru hanya bertutur-kata bahasa Indonesia, saat menulis di Blog ini saja (P). 

Karena itu, kadang berbagai kata Sunda yang 'terasa enak,' sering dilampirkan dalam banyak artikel di blog ini, biar terasa lebih komunikatif. Atau, penulis merasa kurang cocok dengan kata yang berbahasa Indonesia, sehingga memilih kata dari Sunda saja (P).

Ya, kadang kerasa pabeulit letah sih (alias tongue twister), tapi mumpung ngeunaheun.

Paguyuban Pasundan

Sebenarnya, urusan kebangkitan bahasa daerah, khususnya suku Sunda di Jawa Barat, sempat terjadi dalam sejarah. Fakta ini dilansir dari Edi S Ekadjati, dalam bukunya yang berjudul Kebangkitan Kembali Orang Sunda, yang dilampirkan dalam situs Bandung Bergerak

Edi S Ekadjati menyatakan bahwa awal abad 20 di Indonesia, alias Hindia-Belanda saat jaman tersebut, sedang tumbuh kesadaran dalam masyarakat pribumi, khususnya dari kaum terpelajar. Jaman tersebut, sangat dibutuhkan organisasi yang menghimpun kekuatan dan kebersamaan sesama warga.

Sehingga, terbentuklah banyak organisasi kaum pribumi yang bercorak etnis, agama, dan dagang. Contoh yang berdasarkan etnis, diantaranya adalah Budi Utomo, Rukun Minahasa, Paguyuban Pasundan, Kaum Betawi, serta Ambonsh Studiefonds. 

Sementara untuk segi ekonomi adalah Sarekat Dagang Islam, dan dari segi agama diantaranya adalah Sarekat Islam, Muhammadiyah, Perserikatan Kaum Kristen, dan sebagainya.

Paguyuban Pasundan didirikan dan dipimpin oleh DK Ardiwinata pada tahun 1913 lalu, demi membedakan suku Sunda, dengan organisasi pemuda di banyak wilayah lainnya.

Sedikit kisruh pandangan terjadi, akibat banyaknya warga terpelajar Sunda yang sebelumnya bergabung dengan Budi Utomo (1908), memilih bergabung dengan Paguyuban Pasundan saat tahun 1913. Masuknya warga terpelajar dari Sunda ini, dianggap sebagai perpisahan dari Budi Utomo.

Padahal, Budi Utomo dan Paguyuban Pasundan memiliki konsep yang sama, yaitu konsep etnis, bahasa, kebudayaan, dan wilayah yang berbeda. Sementara itu pembeda utamanya, adalah dominannya penggunaan bahasa dan budaya Jawa di Budi Utomo, yang menyebabkan warga Sunda perlu berhenti mengikutinya.

Dari segi kebudayaan, ideologi Sunda sudah terbentuk sejak awal abad 8 hingga akhir abad 16. Budaya Sunda ini berwujud aksara, bahasa, etika, adat istiadat alias hukum, lembaga masyarakat, serta kepercayaan.

Namun akibat datangnya kebudayaan Islam dari pesisir utara, lalu berlanjut dengan tibanya kebudayaan Jawa dari kerajaan Mataram, mengakibatkan banyak warisan budaya Kerajaan Sunda tergerus oleh dominasi asing.

Bahkan, Belanda sempat mengalihkan minat pemuda terpelajar Sunda pada awal abad 20, dengan menganjurkan bahasa, bacaan, dan budaya Jawa. Memang, saat tersebut banyak warga Sunda, yang menganggap bahwa status terpelajar dan beradab, adalah dengan sanggup memahami budaya Jawa.

Puncaknya, berdirinya Paguyuban Pasundan adalah tonggak sejarah kebangkitan kembali, eksistensi dan peranan Sunda, di tengah lingkungan masyarakatnya sendiri, dan secara luas di Hindia-Belanda (dengan multi-etnis dan budayanya).

R Otto Iskandar di Nata yang merupakan seorang warga Sunda, mulai memimpin Paguyuban Pasundan sejak tahun 1929 hingga 1942. Memang, sebelumnya Otto sempat menjadi anggota dan pengurus cabang Budi Utomo di Banjarnegara, Bandung, dan Pekalongan. 

Selama memimpin Paguyuban Pasundan, Otto sempat menjalin banyak kerjasama dengan Budi Utomo, demi menghadapi musuh bersama, yaitu penguasa kolonial Hindia-Belanda.

13 Januari 2026

Siluman Raksasa Nusantara Ala Film Penunggu Rumah Buto Ijo

 

Buto Ijo lagi ngintip (TMDB).

Okeh, sekarang film horor berikutnya, yang ternyata mencoba mengangkat cerita dongeng Timun Mas, tetapi lebih berlatar horor, dengan judul Penunggu Rumah: Buto Ijo. Tentu, dengan rating cukup dewasa, alias D17, yang akan tayang di sinema Indonesia, akhir minggu ketiga Januari ini.

Animo yang dibawakan pun cukup menarik, karena banyak menggunakan efek CGI untuk karakter Buto Ijonya. Tidak begitu ciamik ala film Hollywood, namun cukup menggambarkan karakter ngeri ini.

Yang masih ingat kisah Timun Mas, pasti paham arahan plot film Buto Ijo ini. Apalagi, sebenarnya Buto Ijo digambarkan berbeda dalam kisah wayangnya. Maka, penulis mencoba untuk menggambarkan kembali, bagaimana aslinya karakter Buto Ijo, alias Buta Hejo dari Wayang Golek daerah Sunda.

Karakter Buta Hejo Alias Buto Ijo

Buta Hejo adalah satu karakter favorit penulis dari kisah dan pagelaran Wayang Golek. Tentu, favorit utamanya adalah Trio Cepot, Udawala, dan Gareng serta sang ayah, bernama Semar. 

Karena itu, favicon serta foto profil penulis pun, diberi wajah Sisingaan yang lengkap dengan iket Sundanya, atau sejenis Barongsai. Avatar ini tidak cukup mirip dengan Leak dari Bali, tetapi lebih mirip dengan karakter Buta Hejo dari Wayang Golek. 

Memang di Sunda, Buta Hejo tidak berwarna hijau menyeluruh, namun khas utamanya adalah giginya yang besar. Jika disandingkan dengan karya Dalang Legendaris Asep Sunandar Sunarya, Buta Hejo terlihat seperti karakter wayang ala Cepot, tetapi dengan kulit lebih pucat, hijau atau merah. Lucunya, jika kalah  bertarung atau dipukul, dari dalam mulutnya keluar satu rangkaian ular yang banyak sekali (Borolo Oray) (^^).

Memang di Wayang Golek, karakter Buta Hejo tidak begitu horor alias mengerikan. Ala Cepot dan saudaranya, Buta Hejo disandingkan dalam satu cerita, dimana banyak kekonyolan terjadi. 

Bahkan menurut GoodNovel, secara simbolis Buto Ijo memang mewakili kekuatan alamiah dan kekacauan spontan (Borolo Oray!). Buto Ijo memang harus dihadapi langsung dengan cara fisik atau humor.

Dari segitu saja, memang cocok sebagai karakter yang hampir mencapai tingkatan lucu-lucuan (Gag). Tetapi simbolisnya, jika dihadapi langsung dengan cara kerja fisik atau humor, layaknya sebuah masalah yang harus dibereskan sekalian, atau disepelekan dengan cara bodor.

Borojol Orok Buta Hejo (Facebook). 

Sinopsis Film Penunggu Rumah: Buto Ijo

Srini (Celine Evangelista) adalah seorang janda yang baru saja pindah rumah baru bersama anak semata wayangnya, Tisya (Meryem Hasanah). Namun, belum lama tinggal di rumah tersebut, banyak kejadian mistis aneh menimpa mereka. 

Karena butuh bantuan mistis, maka Srini menghubungi Ali (Gandhi Fernando) serta saudarinya, Lana (Valerie Thomas). Keduanya adalah kreator konten, yang khas dan berfokus pada kisah horor.

Namun, belum lama keduanya beroperasi, kengerian mistis di rumah malah makin berbahaya. Penampakan serta paniknya Tisya, semakin meruak di seluruh area rumah.

Apakah memang Buto Ijo semengerikan itu? Atau memang kasihan dengan janda anak satu tanpa suami? Sementara itu, Buto Ijo pun kesel sama viralisasi ala para kreator konten?

Jawabannya, tentu ada di pagelaran wayang ala sinema Indonesia.

Terjebak di Alam Lain Akibat Angkernya Jalanan Film Alas Roban

 

Busnya saja sudah angker (TMDB).

Berikutnya dalam minggu ketiga Januari yang penuh aura horor ini, kembali juga satu kisah yang merupakan legenda urban Nusantara, berjudul Alas Roban, yang akan tayang di sinema Indonesia. Ratingnya pun cukup tinggi, alias umurnya harus 17 tahun keatas (D17).

Berbeda dengan beberapa film sebelumnya, legenda urban jalan raya angker memang mengisahkan satu kisah yang sering ada di dunia nyata. Kali ini, Alas Roban yang berada di jalur Pantura, tepatnya di kabupaten Batang, Jawa Tengah. 

Terlihat pada cuplikannya, tampaknya mengambil latar jaman dimana Pantura masih ramai dilalui, alias sebelum jalur tol Trans-Jawa, antara jalur Cisumdawu, Cipali, Palikanci, dan seterusnya dibuka untuk umum.

Memang pada jaman tersebut, bukan hanya tingginya jumlah kecelakaan di jalur Pantura, namun panjangnya jalan yang membuat banyak kisah legenda urban. Banyak pengemudi yang melalui jalur Pantura, akhirnya terpaksa mencoba jalur lain, walau lebih memutar arahnya.

Sedikit Kisah Angker dari Jalan Raya

Daripada membahas area Alas Roban yang akan disajikan dalam filmnya, maka penulis coba mengangkat jalan raya angker lainnya. 

Ya, yang coba diangkat adalah jalan angker bernama Tanjakan Emen, yang berada di antara Subang dan Lembang, Jawa Barat. Jalan tanjakan ini memang sempat melegenda, akibat seringnya kecelakaan kendaraan bermotor dan terjalnya jalur tersebut. Jalan yang menanjak dan berbelok dengan tikungan sulit, menyebabkan kecelakaan mudah terjadi di Tanjakan Emen. 

Kecelakaannya itu sendiri terjadi pada tahun 1956 lalu, saat sebuah oplet dengan kernet bernama Emen, jatuh ke jurang. Akibat lokasi tanki bahan bakar yang dekat dengan dasbor dan kelengkapan listriknya, oplet seketika terbakar, dan melahap jiwa ke-27 penumpangnya. 

Ngerinya kecelakaan tersebut, menyebabkan tanjakan curam tersebut dinamai sesuai dengan korbannya, yaitu Tanjakan Emen. Padahal, nama asli korbannya berbeda, alias hanya sebutan saja. 

Karena mitos angkernya Tanjakan Emen merebak, maka banyak ritual bagi para pengendara saat melaluinya. Diantaranya adalah membunyikan klakson, melempar koin ke jalan, hingga menyalakan rokok baru, lalu membuangnya langsung. Ritual tersebut dipercaya, dapat mengamankan kendaraan mereka dari celaka.

Namun, setelah beberapa kali direnovasi dan dikonstruksi ulang, Tanjakan Emen kini telah mencapai tingkatan aman. Sejalan dengan menurunnya jumlah celaka dan ritual aneh di sekitarnya, jalan ini pun dirubah namanya menjadi Tanjakan Aman oleh pemerintah lokal, sejak tahun 2018 lalu.

Agak berbeda memang, namun penulis percaya, bahwa keangkeran mistis bisa ditanggulangi dengan merubah medianya. Yaitu, dengan memperbaiki infrastruktur jalur tersebut, lalu merubah namanya, agar kesan dan atmosfer angker pun berlalu. Warga pun akan kembali melaluinya dengan perasaan lebih aman. Jadi, tidak perlu dikaitkan langsung dengan mistis.

Sinopsis Film Alas Roban 

Sita (Michelle Ziudith) adalah seorang ibu tunggal, dengan anaknya yang tunanetra, bernama Gendis (Fara Shakila). Suatu hari, karena dirinya mendapatkan pekerjaan baru di Semarang, harus berangkat ke Semarang saat hari mulai sore. 

Walau supir busnya sempat menolak, namun karena kasihan, maka mengantar kedua insan tersebut. Padahal, supirnya tahu bahwa jalur Alas Roban adalah lokasi angker, apalagi dilalui saat hari mulai gelap. Alas Roban sudah dianggap jalur ramai kecelakaan, yang semakin angker dengan banyak ditemukannya sisa tubuh di lokasi tersebut.

Sita berhasil tiba di Semarang, dan mulai bekerja di rumah sakit. Namun, semenjak saat itu, Gendis mulai bertingkah aneh. Gendis dapat menggambar dengan baik, padahal matanya sulit melihat. Gendis pun sering kerasukan tiap malam harinya, yang menambah panik Sita serta keluarga dekatnya.

Apakah yang terjadi di rumah Sita dan Gendis? Apakah ada hubungannya dengan lokasi angker Alas Roban? Atau ada yang bermaksud lain pada gadis cilik ini?

Jawabannya, tentu ada di legenda angker sinema Indonesia.