06 November 2025

Wayang dari Indonesia Sebagai Warisan Budaya Tak Benda

 

Pagelaran Wayang Golek oleh Dalangnya (Wikimedia).

Menyambut Hari Wayang Nasional pada tanggal 7 November, rasanya cocok dirayakan dengan mengingat bahwa wayang adalah warisan budaya tak benda yang kental di Indonesia.

Sebelum mengacu pada artikel yang disematkan oleh UNESCO dari PBB (UN), tampaknya perlu mengecek wayang dari sejarahnya. Bagi yang masih ingat pelajaran SD terdahulu, tentu tahu bahwa Wayang adalah media literasi terdahulu, yang biasa diselenggarakan bersama gamelan.

Seperti dilansir dari NU Online, Wayang itu sendiri berasal dari India, yang kental dengan ajaran Hindu. Namun, pada abad 15, salah seorang Wali Songo bernama Sunan Kalijaga, menggunakan wayang sebagai media penyebaran Islam. Setelah masuk ke Nusantara, kisah wiracarita Mahabharata dan Ramayana, lalu dirubah menjadi lakon yang lekat dengan banyaknya ajaran Islam.

Seperti dilansir dari Britannica, wayang sebenarnya bisa ditemukan hingga seluruh Asia Tenggara dan China. Namun khusus di Jawa, konotasi mistis dan religius sangatlah kental.

Wayang bahkan sempat diadaptasi oleh seniman boneka Richard Teschner, yang pada awal abad 20 lalu, mengombinasikan seni dan kesederhanaan wayang, dengan keahlian teknik Jerman, dan sempat diselenggarakan di teater Figuren Spiegel, Vienna, Austria.

Kembali ke Nusantara, terdapat beberapa jenis variasi wayang, yaitu Wayang Kulit khas Jawa Tengah yang berbentuk pipih dan menggunakan bayangan sebagai media visualnya. Satu lagi, Wayang Golek yang berbentuk boneka kayu dengan tongkat dipegang langsung oleh dalangnya dari Jawa Barat.

Terdapat pula Wayang Wong atau Orang, yang lakonnya diperankan langsung oleh seorang aktor. Sementara Wayang Krucil atau Klithik, adalah wayang sejenis pipih, namun berukuran lebih kecil dari Wayang Kulit.

Dan meloncat pada jaman sekarang, banyak kanal YouTube yang memainkan berbagai cerita wayang, melalui konten video atau bahkan siaran langsung. Contohnya adalah Wayang Kulit, yang dimainkan oleh Dalang Seno Nugroho. 

Berbagai kanal rekaman lama Wayang Golek dari Dalang legendaris Asep Sunandar Sunarya pun, masih meramaikan YouTube. Video tersebut khas dengan kelucuan lakon Cepot, Udawala, dan Gareng, bersama sang ayah, Semar.

Kiprah Wayang Golek Sunda tahun 2025

Acara Wayang Golek sempat digelar kembali pada tahun 2025 ini, tepatnya pada saat Dies Natalis ke 71 UPI, pada hari Kamis, tanggal 7 November lalu, di Stadion Sepak Bola UPI (Universitas Pendidikan Indonesia), dengan mengundang Ki Dalang Dadan Sunandar Sukarya, dari Putra Giri Harja 3.

Dilansir dari Berita UPI, acara sempat tertunda akibat hujan, jadwal yang sebelumnya dimulai pukul 19.15 WIB, akhirnya diundur menjadi sekitar pukul 20.00 WIB. Acara dilaksanakan hingga pukul 02.00 dini hari.

Pagelaran diawali dengan tarian pembuka bernama Dangiang Isola, dari mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Tari Fakultas Pendidikan Seni dan Desain (FPSD). Tarian ini menggambarkan perjuangan, romantika, kebahagian, dan kesedihan yang meliputi sejarah Gedung Isila, sebagai simbol kejayaan dan kewibawaan UPI.

Wayang Golek serta Tarian Tradisional sebagai bagian dari seni dan kebijaksanaa lokal, perlu dilestarikan sebagai rasa syukur perkembangan adat, budaya, dan peradaban Indonesia, khususnya di tanah Sunda. Pelestarian budaya, kebersamaan, dan dedikasi untuk pendidikan akan terus menggema, di bawah langit Bandung yang membahana.

Artikel UNESCO Mengenai Wayang dari Indonesia

Wayang diterima sebagai Warisan Budaya Tak Benda pada tahun 2008 oleh UNESCO, setelah sebelumnya diklaim oleh Indonesia pada tahun 2003 lalu.

Wayang terkenal dengan ragam boneka dan musiknya yang kompleks, dan merupakan format kuno dalam mendongeng yang berasal dari Pulau Jawa, Indonesia. Selama sepuluh abad lamanya, Wayang ramai dimainkan di banyak kerajaan Jawa hingga Bali, dan bahkan hingga area pelosok. 

Wayang pun merambah hingga kepulauan lainnya, seperti Lombok, Madura, Sumatera, hingga Kalimantan. Ragamnya pun disesuaikan dengan seni dan musik lokal, sehingga semakin berkembang dan berbeda.

Wayang dibuat secara tradisional dan bervariasi dalam bentuk, ukuran, dan ragamnya. Dua prinsip dasar tetap menjadi utama bagi Wayang, yaitu boneka kayu tiga dimensi seperti Wayang Golek, atau berbahan kulit pipih Wayang Kulit dan Klithik, dengan media bayangan akibat sorotan cahaya dibelakangnya. 

Kedua jenis Wayang diberi karakter dengan kostum, bentuk wajah, dan bagian tubuh yang dapat digerakkan. Dalang menggerakkan Wayang melalui bagian tangannya dan tongkat yang menempel pada bagian bawahnya.

Sementara Dalang memainkan Wayangnya, sinden dan musisi (gamelan) memainkan instrumen berbahan perunggu, hingga menciptakan melodi sebagai latar pagelaran.

Motivasi Guru Idealis di Pelosok Indonesia ala Film Solata

 

Angkasa yang suka berjuang untuk mengajar di daerah terpencil (TMDB).

Okeh, saatnya drama serius yang mengadaptasi kisah seorang guru idealis di Indonesia, yaitu film berjudul Solata, yang kini tengah tayang di sinema-sinema.

Terlihat dari cuplikannya, tampak seorang guru lulusan Jakarta, yang galau tidak terkira masalah pilihan hidupnya. Maka, dirinya memilih jalur yang paling idealis, yaitu mengikuti program guru di lokasi terpencil, dari Dinas Pendidikan.

Nah, sebelum membahas filmnya, perlu ditelaah kembali mengenai program ini. Walau cuplikannya tidak menunjukkan nama programnya, tampaknya mengacu pada program SM3T, yang berarti Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal.

Program ini sudah dimulai sejak tahun 2011 lalu di berbagai kampus Indonesia, khususnya di fakultas dengan jurusan kependidikan guru. Bahkan, saat masa kuliah dulu, program SM3T adalah ajang obrolan sehari-hari, menjelang kelulusan karena takut nganggur.

Memang, posisi guru di Indonesia cukup eksklusif, dengan jumlah batas jam mengajar KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) setiap minggunya, yang memang ditujukan sebagai sertifikasi guru.

Tidak hanya itu, Akta 4 sebagai syarat mendidik di sekolah (negeri), harus dimiliki oleh seorang kandidat guru. Seorang sarjana pendidikan otomatis memiliki mata kuliah mengajar dan ijazahnya setelah lulus, namun bagi jurusan non pendidikan, maka harus mengikuti beberapa program kuliah lagi.

Tentu, bukan hanya latar pendidikan saja, tetapi posisi yang dibutuhkannya. Satu sekolah hanya membutuhkan beberapa guru khusus di mata pelajarannya, itupun masih disesuaikan dengan ketersediaan jam dan murid. 

Seperti contoh berita dalam beberapa minggu terakhir, yang menyatakan banyak sekolah negeri kekurangan murid. Namun, berita tersebut tidak mencontohkan berapa madrasah, pesantren, dan sekolah swasta yang membutuhkan murid.

Nah, kembali ke SM3T, adalah program bagi guru baru yang butuh pengalaman mengajar. Posisi guru di lokasi urban padat memang terlalu penuh, dan dengan gaji pas-pasan. Banyak mahasiswa baru, dari berbagai latar pendidikan, memilih mengajar les saja, yang masih membuka jalur karir lainnya.

Karena itu juga, banyak guru yang mulai mengajar di pelosok, dan hanya sebatas jangka waktu programnya saja, hingga program tahun berikutnya dimulai. Namun, program SM3T ini dihentikan tahun 2017 lalu. Walau begitu, tidak diganti dengan nama program baru, melainkan dipusatkan dengan Program Kemitraan untuk Mewujudkan Peningkatan dan Pemerataan Kualitas Pendidikan di Daerah 3T.

Naaah, sekali lagi, kembali ke film Solata, tampaknya berkisah berbeda, karena sang tokoh utamanya justru galau dan kagum begitu tiba dan mulai mengajar di lokasi terpencil.

Okeh, sudah saatnya mengecek sinopsis filmnya ya...

Sinopsis Film Solata

Angkasa (Rendy Kjaernett) adalah seorang lulusan mahasiswa Jakarta yang galau. Saking galaunya, dia memilih untuk mengajar di lokasi terpencil, yaitu berada di Pegunungan Ollon, Tana Toraja, Sulawesi Selatan. 

Ibunya Angkasa sempat berpesan, bahwa seluruh jawaban kegaulauan dirinya, bisa ditemukan di Ollon. Namun setelah tiba, salah satu muridnya malah memperingatkan, bahwa selama tiga tahun terakhir, tidak ada guru yang bertahan lebih dari satu bulan SD Kecil 3 Ollon.

Memiliki semangat berbeda, justru Angkasa kagum dengan kebetulan yang ditemukan dari nama murid-muridnya. Nama mereka adalah Wahid, Karno, Mega, Bambang, Harto, dan Habidi, yang merupakan singkatan nama keenam Presiden Indonesia terdahulu.

Walau lokasi sekolahnya terpencil dengan bangunan yang agak rusak, dan jalur menuju sekolahnya yang terjal nan jauh dari desa, Angkasa malah semakin bersemangat menikmati pengalaman mengajarnya. Angkasa lalu berhasil meraih dana dan bantuan, agar sekolahnya dapat diperbaiki, dan layak sebagai lokasi kegiatan belajar mengajar.

Sayang, tidak lama kemudian, Dinas Pendidikan setempat justru berinisiatif untuk menutup sekolah 3T di Tana Toraja. Mungkin alasannya, sekolah akan dipusatkan di lokasi yang lebih mudah diakses siswanya.

Sanggupkah Angkasa bersama murid dan orangtua di desanya mempertahankan sekolah SD Kecil 3 Ollon? Atau malah mengalah dan pindah seluruhnya?

Jawabannya tentu ada di sinema-sinema Indonesia.

Film Komedi Pesugihan Sate Gagak, Ko Ngerti Ya Urusan Demit

 

Dimas, Anto, dan Indra yang heran kenapa masih laku (TMDB).

Okeh, sekali lagi, setelah film komedi horor di Kang Solah from Kang Mak x Nenek Gayung yang lebih kental berbudaya Sunda, saatnya beralih ke Jawa dengan film berjudul Pesugihan Sate Gagak.

Entah kenapa, justru logat Jawa yang kental dan asli sangat terdengar dalam film komedi gelap-gelapan ini. Bahkan, ceritanya pun mengambil sudut pandang ritual paling aneh, yaitu Pesugihan tanpa tumbal.

Memang di Indonesia ada semacam pesugihan seperti itu, yaitu tidak membayar tumbal yang berarti brutal, namun semacam pantangan aneh yang cukup lumrah. Contohnya, 'klien' tidak boleh memakan sayur sejenis terong, agar ritual pesugihan tidak terbatalkan.

Ritualnya tetap saja aneh, yaitu bisa saja bersemedi di gunung memakai kolor saja, setelah itu membuang kolornya di sungai terdekat, dan akhirnya lari telanjang ke desa tempat huniannya.

Nah, kalau di film ini, ritualnya adalah menjual sate kepada demit alias jurig. Sebelum datang ke lokasi ritual, mereka harus membuat satenya dengan berbagai ritual awal. Contohnya adalah dengan minyak duyung, kembang setaman, yang ditaburkan pada sate, lalu dikelilingi merangkak secara gerak melingkar.

Hasilnya pun cukup jelas, yaitu semacam uang yang tertumpuk dengan daun. Istilahnya, banyak ritual tersebut memang menghasilkan daun saja, tetapi entah bagaimana daun tersebut 'terlihat' seperti uang kertas.

Dan seperti pernah diutarakan sebelumnya di blog ini (lagi), ritual seperti ini memang membuat kacau ranah jungjurigen alias dedemit. 

Konon katanya, sekali 'dibeli,' demit tidak bisa dikembalikan alias 'direfund.' Jadi cukup sekali bayar biaya ongkir, demit akan terus berperan sebagai 'debt collector,' hingga saatnya sang 'klien' menyeberang ke dunia berikutnya.

Tapi ya... kalau di film Pesugihan Sate Gagak sih, demitnya justru yang ketagihan daging, jadi ya langganan permanen dua dunia itu sate...

Okeh, kembali ke sinopsisnya saja ya.....

Sinopsis Film Pesugihan Sate Gagak

Anto (Erdit Erwanda) adalah seorang pemuda yang sedang kasmaran, dan siap melamar kekasihnya, Andini (Yoriko Angeline). Namun, permintaan menikah langsung ditolak oleh calon mertuanya, alias ibu Andini tersayang, bernama Nunung, yang hobinya justru mengejar bule.

Mungkin Anto kurang terlihat bule, alias mirip aktor drakor yang super barbie, maka maharnya pun diminta sejuta umat. Ya, sekitar 150 juta hanya untuk mahar perkawinan saja, yang membuat Anto stres sambil teriak-teriak di jalan kayak kesurupan.

Saat curhat (curahan hati) kepada kedua temannya, Dimas dan Indra, Anto lalu berselirih pasrah ala pemuda kesetanan, yaitu mending melaksanakan ritual pesugihan saja.

Dimas pun heran, karena biasanya pesugihan membutuhkan tumbal manusia (yang tentu dirinya tidak mau begitu saja dijadikan korban mistis). Indra lalu celutuk parah, bahwa ada sejenis pesugihan tanpa tumbal, yaitu Pesugihan Sate Gagak.

Ketiganya pun setuju untuk melaksanakan ritual tersebut, hingga melaksanakan ritual awal sebelum pamungkasnya, yaitu membuka 'gerai' untuk memberi 'pesanan sate gagak' pada seluruh 'pelanggan' demitnya di lokasi 'keramat' desanya, sambil telanjang pula.

'Jualannya' pun cukup ramai, dengan didatangi berbagai jenis demit yang heran satu sama lain, yaitu dari pocong, sinden, tuyul, suster ngesot skateboard, kuntilanak, dan berbagai jenis keseharian lainnya.

Namun, saat seluruh selesai ritualnya dan mendapatkan uang daun tunai, ketiganya masih dikejar oleh seluruh dedemit. Tidak sanggup menahan selera sate gagak, banyak dedemit yang mendatangi lokasi rumah mereka, dan 'menagih' kembali sate gagak yang sungguh membahana.

Sayang sungguh sayang memang, Andini dan keluarganya pun terdampak laparnya mahluk dari dunia lain. Anto, Dimas, dan Indra pun harus mencari jalan untuk menyelesaikan banyaknya urusan dedemit yang ngidam sate gagak.

Apakah mereka akan terus berjualan sate gagak? Atau malah rancu dan mulai bergabung dengan dedemit yang terlalu hype? Akibat Andini dan keluarganya yang ilfeel akibat sengitnya bau sate? 

Jawabannya, tentu bisa dilarikan ke sinema Indonesia terdekat.

Rasanya Sulit Mencari Penunggu Gunung di Film Horor Kuncen

 

Kuncen Gunung Merbabu yang entah ada dimana (YouTube).

Setelah film horor Indonesia sebelumnya yang mengisahkan tersasar di gunung berjudul Pencarian Terakhir, kini berlanjut di bulan di November dengan dirilisnya film Kuncen

Dari judulnya saja, sudah cukup dimengerti, bahwa film ini mengambil istilah dari Jawa, yaitu Kuncen yang berarti penunggu gunung atau lokasi keramat lainnya.

Seperti sudah diutarakan sebelumnya, seluruh lokasi gunung memang sering dianggap keramat, sehingga warga di sekitarnya perlu 'menjaganya' dengan semacam profesi Kuncen dan Wetonnya. 

Kalau di film Pencarian Terakhir, justru berkisah mengenai weton-nya, alias berbagai ritual dan pantangan sebelum mendaki gunung. Sementara di gunungnya sendiri tidak ada kuncen, karena sudah memiliki pos penjagaan bersama tim SAR-nya.

Namun, sekilas dari cuplikan film Kuncen, justru lokasinya lebih horor lagi. Tidak hanya di jalur pendakian gunung, lokasi desa di sekitarnya pun terlihat mengerikan. Kabut tebal serta lokasi terpencil, dengan budaya khas pedesaan Indonesia, menyajikan atmosfer tersendiri.

Kisahnya pun berkutat pada beberapa orang yang hilang di gunung tersebut, yaitu kekasih dan keluarga dari tokoh utamanya. Berarti, gunung tersebut memang tidak memiliki pos penjagaan khusus, dan hanya mengandalkan kuncen saja. 

Bahkan, lokasi di sekitarnya terlihat cukup horor, dengan berbagai adegan yang terlihat di dalam lokasi pedesaan. Tampaknya, film Kuncen ini menceritakan juga kisah tersasar di lokasi rural.

Ya, kadang berbagai kisah horor Indonesia, memang mengisahkan tentang lokasi urban atau rural, yang ternyata tidak nyata, alias telah cukup 'isekai.' Lokasi yang biasa terdengar dari cerita horor, adalah adanya pasar malam, desa, pekuburan, dan pagelaran seni tradisional.

Jika ditelaah dengan perbandingan film bule, bisa disebut sebagai dimensi lain, atau twilight zone, yang kini sering diramaikan dengan nama lainnya, yaitu backrooms. Bagi pemain gim horor, pasti tahu tentang gim terbaru Silent Hill F, yang seluruh waralabanya mengisahkan dimensi lain ini.

Nah, sekarang saatnya cek sinopsis film Kuncen ini, yang mulai tayang di sinema-sinema Indonesia.

Sinopsis Film Kuncen

Awindya (Azela Putri) adalah seorang gadis yang kehilangan kekasihnya di Gunung Merbabu. Masih penasaran karena proses pencarian belum ada kabar, maka bersama Agnes (Vonny Felicia) dan Mojo (Mikha Hernan), lalu mencoba mendaki kembali Gunung demi mencari kekasihnya.

Saat masih mengumpulkan tim pencariannya, mereka sepakat untuk berangkat bersama Yoga (Cinta Brian) dan Diska (Davina Karamoy). Keduanya memiliki teman atau anggota keluarga yang hilang pula di Gunung Merbabu.

Saat tiba di pedesaan sekitar gunung, kelimanya harus berkonsultasi dengan janda dari kuncen sebelumnya. Sayang, nenek yang sudah tua tersebut hanya memberi tahu, bahwa kuncen baru tidak dipilih oleh mereka, namun dipilih oleh gunung itu sendiri. 

Karena kuncennya belum terpilih juga, maka area gunung semakin sulit dimasuki dan semakin mistis. Bahkan, baru saja masuk gerbang jalur pendakian, angin kencang mengempaskan tubuh mereka. Mereka lalu berpendapat, bahwa gunung memang menolak kehadiran mereka.

Karena tidak mengerti, maka mereka lalu kembali ke desa. Tidak berapa lama, justru lokasi desa telah berubah seketika. Lokasinya sangatlah gelap akibat kabut, tanpa penerangan biasanya dari lampu rumah. Berbagai kejadian horor pun mulai menimpa mereka, yang mengacu pada kurangnya kehadiran kuncen di lokasi sekitar gunung. 

Apakah memang lokasi Gunung Merbabu sudah sehoror itu sejak kehilangan kuncennya? Sanggupkah mereka selamat dari tersasar dan terjebak di dimensi lain desa? Atau malah kejadian banyak orang hilang adalah ritual mistis untuk memilih kuncen baru?

Jawabannya, tentu dapat disaksikan di sinema Indonesia.

05 November 2025

Pemburu yang Terpaksa Diburu Balik Mangsanya di Predator: Badlands

 

Thia dan Dek yang saling menjaga bagian belakang (IMDB).

Setelah ramainya film alien Predator tanpa judul Predator di film Prey (2022) lalu, akhirnya di November 2025 ini, dirilis Predator: Badlands di sinema-sinema Indonesia.

Memang, film Prey lalu mengisahkan cerita berbeda dari waralaba Predator, yaitu berlatar jaman kolonialisme Eropa di Amerika sana. Tokoh utamanya pun berasal dari suku Indian, yang telah terlatih sebagai seorang pemburu.

Kini, mungkin melanjutkan animo film sebelumnya, Predator: Badlands mengisahkan seorang Yautja (nama spesies klan predator) muda, yang perlu membuktikan keahlian dirinya dalam berburu.

Tentu dengan masih bumbu predator, kali ini melanjutkan arena pemburuan di ekosistem yang sulit. Premise ini memang sudah dimulai sejak film pertamanya, yaitu Predator (1987) yang dibintangi oleh Arnold Schwarzenegger. 

Kisah perburuan ini terus dilanjutkan hingga banyak film setelahnya, yaitu di film Predator 2 (1990), Predators (2010), The Predator (2018), hingga Prey (2022) yang tadi disebutkan.

Predator pun sempat dibuat karya film cross-over-nya, yaitu kombinasi dengan waralaba film Alien, di film Alien vs. Predator (2004), dan Aliens vs. Predator: Requiem (2007). 

Nah, kali ini berbeda dengan seluruh film predator sebelumnya, Predator: Badlands justru tidak mengisahkan yautja yang meneror manusia atau mahluk lainnya. Justru, yautja disini mirip dengan film Alien vs. Predator, dimana perlu bekerja sama dengan mahluk lain, demi menangkap buruannya.

Bahkan, tokoh utamanya adalah seorang yautja muda yang terusir dari klannya, yaitu status terrendah dari spesiesnya yang senang berburu berbagai mahluk mengerikan seantero galaksi.

Sinopsis Film Predator: Badlands

Dek (Dimitrius Schuster-Koloamatangi) adalah seorang yautja muda yang diusir dari klannya. Namun, Dek masih merasa sanggup mengembalikan kehormatannya sebagai seorang predator. Dengan bekal dan peralatan seadanya, dirinya lalu berangkat ke sebuah planet berbahaya, demi memburu satu spesies yang sulit dikalahkan oleh para predator.

Di tengah perjalanan, dia bertemu dengan Thia (Elle Fanning), yaitu seorang robot synth yang pesawatnya jatuh di planet tersebut. Thia tidak memiliki bagian tubuh bawahnya, akibat rusak parah setelah kecelakaan.

Keduanya pun lalu setuju, bahwa kemampuan navigasi Thia sanggup membantu misi solo karir Dek. Thia pun selalu mencemooh Dek, yang menyatakan bahwa planet ini justru sangat berbahaya, dan Dek adalah mangsa sesungguhnya.

Sayang seribu sayang, ternyata tidak hanya mereka dan mahluk buas lainnya yang berada di planet tersebut. Sekelompok manusia yang melacak lokasi jatuhnya pesawat, mencoba membuat pangkalan militer di sekitarnya.

Dek dan Thia pun perlu berjuang lebih sulit lagi, karena selain melarikan diri dari mahluk buas, kejaran manusia yang jumlahnya lebih banyak dengan teknologi lebih lengkap pun menyulitkan misi keduanya.

Sanggupkah Dek mengembalikan kembali kehormatannya? Dan sebenarnya Thia memiliki maksud apa dibalik bantuannya? Atau malah tetap manusia yang mengambil untung dari seluruh 'drama'? Dan bahkan seluruh mahluk buas jengah dan membasmi seluruh pihak penyusup di planet tersebut?

Jawabannya, dapat disaksikan di sinema Indonesia.

Koki Korea Selatan yang Terpaksa Beraksi Gelut di Film Boss

 

Pan-ho, Soon-tae, dan Kang-pyo saat masih damai (TMDB).

Akhirnya Korea Selatan menelurkan puuula film aksinya di November ini, dengan judul Boss. Kali ini, filmnya pun berisi drama komedi aksi ala gangster dunia Korea Selatan sana, yang memang suka merarela sejak film Old Boy (2003) lalu.

Film Boss memang mengombinasikan tiga genre berbeda, karena terlihat dari cuplikannya, yaitu berbagai gelut aksi jarak pendek, dengan bumbu drama tujuan para karakternya, namun masih memiliki pembawaan komedi yang kasar.

Trio kombo tersebut pun dapat terlihat dari ketiga tokoh utamanya, yaitu Soon-tae (Joo Wo-jin), Kang-pyo (Jung Kyung-ho), dan Pan-ho (Park Ji-wan). Ketiganya tengah bersaing sebagai kandidat gelar bos di gangster wilayahnya, namun dengan tujuan yang sangat berbeda.

Soon-tae sebenarnya tidak menyukai dunia gangster, namun lebih menyukai dunia masak memasak. Kesehariannya sebagai koki di restoran kecil miliknya, terbawa pula ke dunia gangster. Soon-tae bahkan terpaksa mengikuti gelut gangster, sambil dirinya mengirimkan pesanan pelanggan.

Kang-pyo justru seorang kandidat paling kuat, karena dirinya adalah cucu dari bos sebelumnya. Namun, sosoknya yang paling muda, wajahnya yang tampan, serta gaya gelutnya yang lentur, justru menyebabkan Kang-pyo ingin berkarir sebagai penari dansa tango. 

Terakhir adalah yang paling niat dan brutal, yaitu Pan-ho. Dirinya bahkan menegaskan, bahwa seluruh gangster di dunia hanya bertujuan satu, yaitu mencapai level Boss dan memimpin seluruh gangster di areanya. Padahal, seluruh 'konsultan tua' gangster menolaknya, karena pembawaannya yang jelek.

Ketiganya pun tetap perlu bersaing, karena seluruh gangster di areanya, menunggu terpilihnya bos baru mereka. Entah siapa yang terpilih, yang pasti dalam waktu satu bulan, salah satunya harus menduduki singgasana bos gangster.

Padahal, ketiganya sempat bekerja sama dengan baik saat masih muda. Saking lihainya, bos sebelumnya memang tidak dapat memilih, dan merekomendasikan ketiganya dalam kompetisi selama satu bulan penuh.