06 April 2026

Duo Kompetisi Battle Royale di Film They Will Kill You dan Ready Or Not 2


Grace dan Faith yang baru saja kawin lari (TMDB).

Berikutnya adalah duo kombo film dengan rilis yang terpaut satu minggu saja, tetapi bertema sama dengan kekhasannya. Yaitu, sejenis film aksi campy yang kacau-balau cerita dan adegannya, tetapi menyajikan hiburan tersendiri yang sangat kasar dan penuh kekerasan, dan sangat sarkatis ala komedi gelap (dark humour).

Film pertama berjudul They Will Kill You di minggu pertama April, dan satu lagi adalah Ready Or Not seri kedua di minggu ketiga April. Tidak hanya aksi campy, kedua film yang berating D17 ini memiliki tema yang mirip, alias Battle Royale dimana para kontestannya berburu satu sama lainnya, dengan fokus target pada tokoh utamanya.

Animo Film Aksi Campy

Nah sebelum membahas kedua film kacau tersebut, perlu ditelaah dari segi animo ini. Film Campy memiliki cerita dan adegan layaknya film B-Rate, namun tetap menyajikan hiburan tersendiri. Jadi daripada memahami segi cerita dengan latar drama para karakternya, film sejenis ini penuh dengan Guilty Pleasure-nya, layaknya seorang pemain gim dan karakter utamanya. Apalagi jika digabungkan dengan genre aksi dan komedi, sekaligus berbiaya produksi mahal. 

Bahkan ada seorang ahli film yang layaknya Master B-Rate Movies, yang terkenal dari Hollywood sana bernama Quentin Tarantino. Walau sudah beberapa kali dibahas di blog ini, tetapi kekhasan Tarantino tidak berakhir disitu saja. Tarantino biasanya membuat film drama kejahatan dengan khas karakter, akting, adegan, serta latar yang minimalis. Namun karena diisi para bintang yang kuat latar dramanya, serta cerita yang cukup sulit ditebak, menjadi kekhasan sendiri layaknya menonton teater di seni panggung langsung.

Namun Quentin Tarantino memiliki prestasi tersendiri yang unik nan eksotik. Saat dirinya meraih proyek film berbiaya tinggi, justru Tarantino malah produksi film Kill Bill: Volume 1 (2003) dan Kill Bill: Volume 2 (2004). Walau tidak bisa disebut komedi, namun banyak adegan over-the-top (berlebihan) dan aksi dibuat-buat, menjadikan film ini layaknya B-Rate yang sangat menghibur. Saking berbeda dengan film sejenis lainnya, kedua film Kill Bill sempat meraih nominasi dan memenangkan Oscar di AS sana.

Animo campy tersebut terus dilanjutkan di Hollywood sana, dengan beberapa sineas film aksi mulai menirunya. Contoh paling campy-nya, adalah waralaba Crank (2006) dan Crank: High Voltage (2009), yang diperankan langsung oleh Jason Statham. Dibalik cerita ini, karakter utamanya harus memicu adrenalin atau tersengat listrik, agar tidak mati begitu saja akibat bom atau alat yang dipasang dalam tubuhnya. Aksi yang 'maksa' pun menjadi khas film ini. 

Contoh berikutnya adalah film Free Fire (2016) yang diperankan pula oleh seorang aktris pemenang Oscar, yaitu Brie Larson. Mirip dengan animo film campy yang terlihat minimalis namun heboh, seluruh adegan cerita Free Fire hanya terjadi dalam satu gudang saja. Namun karena adegan, serta akting para karakternya yang kurang serius, alias sedikit komedi, menjadikan film ini cukup menghibur.

Contoh terdekat adalah The Fall Guy (2024), yang berisi aktor terkenal lainnya, yaitu Ryan Gosling. Seperti pernah dijelaskan sebelumnya, Gosling memang khas dengan karakter unik di setiap filmnya, jadi mudah dikenang. Nah sama seperti animo film campy lainnya, Gosling yang berperan sebagai karakter stuntman ini, perlu mencari dan menyelamatkan aktor film aslinya. Dengan pembawaan yang ringan dan adegan yang kasar, tentu berisi banyak adegan aksi yang ramai nan brutal, namun tetap santai dan bahkan bodor untuk ditonton.

Oh ya, perlu tahu juga mengapa artikel ini diberi judul Battle Royale. Mengacu pada film tahun 2000 lalu dengan judul yang sama dari sineas perfilman Jepang, film sejenis ini memang berisi banyak karakter yang saling membasmi satu sama lainnya. Quentin Tarantino pun sempat menjabarkan dalam wawancara, bahwa Battle Royale adalah satu dari banyak favorit filmnya. Bahkan istilah ini sempat diadaptasi menjadi satu genre gim video khusus, yang dimainkan oleh 100 pemain dan berakhir satu pemenang 'chicken dinner.'

Reeves yang dihirup wajahnya oleh penganut sesat (TMDB).

Film They Will Kill You

Untuk film dengan tokoh utama Asia Reeves yang diperankan oleh Zazie Beets ini, tentu cukup dikenal wajahnya. Beets memang sempat naik pamornya saat memerankan karakter Domino di film aksi kasar Marvel, berjudul Deadpool 2 di tahun 2018 lalu. 

Nah di film ini, Reeves adalah seorang pencari kerja yang akan mengisi posisi pembantu di sebuah gedung besar ala New York. Namun tidak disangka, dirinya malah terjebak kejaran para sekte sesat, yang ternyata cukup kekal abadi sehingga bisa sembrono saat menjalankan aksinya.

Reeves pun ternyata memiliki latar lainnya, yaitu bukan seorang gadis biasa, melainkan seorang tokoh aksi terkenal dengan segala keberuntungannya (layaknya Domino). Awalnya hanya pura-pura polos saja, namun ketika mulai diburu, Reeves ternyata sanggup membasmi satu persatu anggota sekte tersebut. Namun akibat para pemburunya yang sangat kuat, brutal, dan kekal abadi, menyebabkan Reeves terpaksa mencari jalan keluar dari gedung tersebut.

Siapa gerangan sebenarnya Reeves ini? Dan apa maksud dari sekte sesat nan abadi ini? Yah tinggal tonton saja lah...

Film Ready Or Not Seri Satu dan Dua

Kalau di film yang sudah sukses dan mencapai seri keduanya di tahun 2026 ini, cukup dicek saja sejak film pertamanya. Di film pertamanya yang rilis tahun 2019 lalu, tokoh utama Grace (Samara Weaving) sedang mengalami euforia nan berbahagia. Dirinya baru saja menikah dengan Alex Le Domas (Mark O'Brien), dan mulai tinggal di kediaman keluarganya yang seperti istana. 

Namun tidak lama saat seluruh keluarga mertuanya sedang mengadakan ritual petak umpet bersama anggota keluarga baru, Grace ternyata menguak sesuatu yang sangat berbahaya. Dirinya ternyata menjadi bahan korban dan buruan sekaligus, demi ritual sesat keluarga Le Domas. 

Walau Grace sebenarnya tidak begitu ahli dalam berperan aksi, namun keluarga Le Domas ternyata tidak begitu lihai pula. Saking nyentriknya, mereka bahkan meremehkan kematian anggota keluarga sendiri akibat kecelakaan, dan dengan sembrono terus memburu Grace yang kelimpungan.

Grace yang seadanya saja selamat dari fllm pertamanya, terpaksa melanjutkan kisah gila-gilaan ala keluarga elit dunia di film keduanya, tepatnya bulan April tahun 2026 ini. Bersama saudarinya bernama Faith (Kathryn Newton) yang sama-sama bernama belakang McCaulley, keduanya harus melarikan diri dari kejaran para anggota keluarga lain Le Domas. Bahkan taruhannya semakin ditinggikan, yaitu memiliki seluruh kekayaan Le Domas. 

Berarti yang selamat di akhir perburuan elit ini, dapat berubah tambah psikopat dan mulai menguasai dunia (layaknya dalam dokumen Epstein). Entah ini sinema atau memang niat para elit dunia, untuk kita semua, kan ya?

Oh ya, di film keduanya ini terdapat duo aktor-aktris kenamaan lama. Bagi yang ingat seri televisi Buffy The Vampire Slayer, Sarah Michelle Gellar sebagai akris utamanya berperan di seri kedua Ready Or Not. Elijah Wood yang terkenal sejak membintangi trilogi film The Lord of The Rings pun, ikut pula berperan. Keduanya pada tahun 90an dan awal 2000an, berperan dalam film besar di umur yang cukup muda. Kini, malah mengisi film mengenai kacaunya para elit dunia, hehe...

Duo Karya Unik Blumhouse di Film Don't Follow Me dan Lee Cronin's The Mummy

Katie yang baru menghirup napas (TMDB).

Saatnya membahas studio horor dari Hollywood yang sudah sangat terkenal, bernama Blumhouse. Studio yang selalu kreatif dalam memproduksi filmnya, memang terkenal dalam menyajikan latar unik untuk setiap horornya. 

Kali ini yang dibahas adalah dua film yang dirilis pada bulan April, yaitu berjudul Don't Follow Me di minggu kedua April, serta Lee Cronin's The Mummy di minggu ketiga April. Keduanya masih khas film dari Blumhouse dengan rating D17, dan tetap menyajikan latar cerita yang berbeda.

Carla yang siap merekam mahluk apapun (TMDB).

Don't Follow Me alias No Me Sigas

Film Don't Follow Me ini aselinya dirilis pada Oktober tahun 2025 kemarin, dan merupakan film pertama Blumhouse yang diproduksi di luar AS. Judul aselinya adalah No Me Sigas dari ranah perfilman Meksiko sana, yang lengkap dengan aksen serta bahasa Spanyolnya. Di sinema Indonesia, film ini memang baru dirilis untuk para penggemarnya.

Untuk animo-nya sendiri, cukup unik karena berlatar internet saat ini. Tokoh utamanya yang bernama Carla (Karla Rodriguez Coronado), adalah seorang pemudi yang sedang semangat ngonten (yang penting ngonten). Dia memiliki inspirasi sendiri, yaitu membuat video dengan banyak sudut pandang rumah barunya, dan kadang mengadakan siaran langsung di internet. Hampir setiap sudut rumahnya dipasangi oleh perekam video, agar dirinya bisa viral nan cuan.

Tidak hanya dirinya, beberapa temannya ikut membantu selama proses pembuatan video. Kedua temannya, Andres (Yankel Stevan) dan Sam France (Julia Maque) memang sering ikutserta dalam inspirasi Carla. Ya, memang tim yang cocok untuk ngonten, karena tidak bekerja hanya sendiri.

Semangat ngonten nan viral ini sebenarnya berbuah manis, dengan banyak tayangan dan pelanggan yang mengikuti konten hasil karya Carla. Baru saja menikmati euforia ketenarannya, tidak berselang lama, Carla langsung diberi rasa horor tersendiri. Saat tengah siaran langsung sendiri di ruangan tengahnya, salah seorang penonton menunjukkan keanehan disudut rumahnya. Saat Carla zooming (mendekatkan fokus) video lewat ponselnya, ternyata muncul bayangan dari sesosok wajah mengerikan di sudut tersebut.

Sejak itulah, Carla sering diteror oleh mahluk lain di rumahnya. Memang sebelum pindah, rumah tersebut sudah cukup lama ditinggalkan oleh pemiliknya. Tidak hanya Carla, kedua temannya pun cukup sering diteror oleh mahluk lain. Selain berupa gangguan supernatural, semakin lama teror yang terjadi, malah semakin berbahaya dan mengancam jiwa ketiganya. Carla pun perlu mencari jejak sejarah rumah tersebut, demi menguak dan menyelamatkan nyawa semuanya.

Apakah memang rumah tersebut sudah dihantui akibat terlalu lama kosong? Atau memang sang pemilik rumah sebelumnya mengadakan ritual mistis sebelum ditinggalkan? Dan bahkan salah seorang temannya malah mengadakan ritual horornya sendiri?

Jawabannya, tentu ada di sewa-menyewa rumah horor ala sinema Indonesia.

Ranah Film Mumi Hidup

Nah untuk yang satu ini, adalah ranah film yang sangat khas dari Blumhouse, yaitu dengan menggabungkan beberapa latar film horor lama, dengan referensi yang kentara dari budayanya. Ya, di film Lee Cronin's The Mummy ini, memang menggabungkan animo horor mayat berbalut perban, dengan khas film kesurupan ala waralaba exorcist. Memang kombinasi yang cukup berbeda, dan ternyata cocok untuk film ini.

Khusus untuk film berlatar horor mumi hidup, cukup jarang diadaptasi ke sebuah film oleh Hollywood. Film mumi bagus yaitu The Mummy (1999) dan The Mummy Returns (2001), yang diisi oleh kombo aktor-aktris kawakan Brendan Fraser dan Rachel Weisz. 

Mungkin karena referensi yang epik dari mumi Firaun dibawah Piramid sana, jadi banyak sineas perfilman horor yang kurang berminat untuk mengadaptasinya. Sementara aktor kawakan lain yang mencoba meramaikan reka ulangnya, yaitu Tom Cruise saat berperan dalam film berjudul sama, yaitu The Mummy pada tahun 2017 lalu.

Justru sebaliknya dengan film ala mumi, film dengan ranah kesurupan ala eksorsis cukup sering diadaptasi ulang, tanpa perlu memikirkan langsung hak ciptanya. Semenjak diproduksi tahun 1973 lalu dengan judul The Exorcist, ranah film ini sering diadaptasi kembali dengan ragam berbeda. 

Bahkan tidak perlu mengacu langsung kepada nama eksorsis, beberapa film bertema mirip cukup sering diproduksi oleh Hollywood. Contohnya adalah Constantine (2005) bersama Keanu Reeves, The Rite (2011) bersama Anthony Hopkins, The Possession (2012) bersama Jeffrey Dean Morgan, dan Deliver Us From Evil (2014) bersama Eric Bana. Nama-nama aktor bintang yang sangat terkenal, apalagi berasal dari ranah drama sebagai kemampuan aktingnya.

Lee Cronin's The Mummy

Dari cuplikannya sendiri, justru mengisahkan khas yang berbeda pula. Charlie (Jack Reynor) dan Larissa (Laia Costa), adalah sepasang suami istri yang telah kehilangan anaknya sejak delapan tahun lalu. Suatu hari, anaknya yang bernama Katie (Natalie Grace) berhasil ditemukan, dengan baju compang-camping dan tubuh yang kotor. Namun keperibadian Katie telah berubah 180 derajat, menjadi agak diam namun selalu bertutur kata kasar.

Justru film ini mengacu pada sekte sesat tertentu, yang ditunjukkan informasinya saat dialog berlangsung. Katie adalah satu dari 57 korban anak yang hilang sejak delapan tahun lalu. Katie pun ditemukan secara misterius, yaitu terbaring dengan balutan perban lusuh, dalam sarkofagus tua berumur 3000 tahun lebih. 

Dari situ, penulis dapat menebak maksud dari ditemukannya Katie dalam keadaan tersebut. Daripada betulan hanya menculik anak, sekte sesat mencoba semacam 'ritual eksperimen' pada anak-anak. Banyak anak diculik agar menjadi 'wadah' bagi sesosok mahluk supernatural yang kuat. Namun karena kekuatan supernatural yang tidak bisa 'diterima' begitu saja, ke-56 anak lain yang diculik, akhirnya tidak bisa selamat. 

Sementara Katie yang memiliki bakat paranormal sendiri, sanggup untuk menjadi wadah bagi sosok tersebut. Katie sendiri yang tubuhnya berhasil kembali ke pangkuan orangtuanya, justru sudah tidak memiliki keperibadian dan bahkan jiwanya sendiri. Arwah yang berada dalam tubuh Katie setelah ditemukan, adalah mahluk lain yang kuat nan berbahaya.

Apakah Katie memang sudah tidak ada sama sekali? Mahluk yang mendiami tubuh Katie pun memang bertujuan jahat saja? Atau ada skema lain dari sekte sesat yang menculik ke-57 anak tersebut?

Jawabannya, tentu ada di ritual pencarian anak ala sinema Indonesia.

Referensi Mumi dan Sarkofagus Ribuan Tahun

Satu referensi lagi, yaitu mumi dan sarkofagus yang berusia lebih dari 3000 tahun. Walau referensi peradaban 3000 tahun lalu mengacu pada kebudayaan besar seperti Mesir Kuno, Yunani Kuno, dan Cina Kuno, namun praktek mumi sebenarnya cukup mendunia. Contohnya di Indonesia saja terdapat empat lokasi tradisi memumikan mayat, yaitu di Suku Toraja Sulawesi Selatan, Kampung Wolondopo di NTT, serta Suku Dani dan Suku Moni di Papua.

Sementara referensi sarkofagus berusia ribuan tahun, tidak hanya berasal dari Mesir Kuno saja. Contohnya dari Romawi Kuno, Persia Kuno, dan China Kuno. Tampaknya setiap wilayah peradaban besar dunia jaman sebelum Masehi tersebut, memiliki praktek dan khas sarkofagus-nya tersendiri. 

Bahkan di Indonesia, khususnya Bali pada tahun 2009 lalu, ditemukan sekitar 200 sarkofagus berusia 2000an tahun. Indonesia jaman tersebut belum memiliki kebudayaan besar manapun, yang ternyata memiliki ritual khas pemakaman awetnya sendiri.

Raja Korea Selatan yang Diasingkan Ala Film The King's Warden

 

Raja Danjong yang masih mewah saat diasingkan (TMDB).

Akhirnya, ada film drama kerajaan pula dari Korea Selatan, berjudul The King's Warden, yang tayang minggu ini di sinema Indonesia. Film dengan rating R13 (remaja) ini memang kombinasi unik antara sub-genre drama dan kerajaan sekaligus. Latar semacam ini cukup jarang diproduksi oleh sineas perfilman Korea Selatan, karena targetnya mengacu pada ranah internasional ala film Hollywood.

Film drama kerajaan dari Korsel yang pernah penulis tonton pun, cukup sedikit. Terakhir kalinya, penulis baru saja menonton film dan serial The Kingdom (2019-2020, 2021), yang berisi drama kerajaan dan malah bertema zombie pula. Ya, film yang berisi aktris Bae Doona ini memang bergenre horor zombie, cukup jauh dengan judul filmnya. Walau begitu, drama kerajaan ala abad pertengahan hingga renaisans ini, ternyata cocok dengan segala intrik di sistem monarki-nya.

Mengacu pada drama monarki, dan kembali ke film The King's Warden, ternyata cuplikannya memberi kesan berbeda. Biasanya di film kerajaan dari berbagai negara manapun, berisi kisah epik peperangan atau politik monarkinya. Namun dari cuplikan film ini, justru menunjukkan sisi drama monarki, yang langsung terkait dengan rakyat kecil di Korea. 

Kisahnya memang berkutat pada seorang raja, yang terasingkan setelah terjadi kudeta di istana kerajaan. Kisah seperti ini sudah cukup sering diadaptasi di banyak film, yang memang mengambil referensi dari sejarah aslinya. 

Khusus untuk membahas monarki, kisah sejarah ini dapat terjadi akibat kesalahan raja atas kepemimpinannya, kudeta dari pemerintahannya sendiri, aturan garis keturunan raja, peperangan yang menyebabkan raja dan penerusnya meninggal, atau bahkan pemberontakan dari rakyatnya sendiri. Tentu kadang tercampur dengan banyak dinasti bangsawan saat masa tersebut, yang memang tidak suka dengan raja saat ini, atau memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan.

Yah, jangan dibahas-lah dengan keadaan politik saat ini (khususnya di Korsel). Kadang memang mirip, tapi ya sistem dan peradaban jaman sekarang sudah terlampau jauh. Jadi kisah ini, memang selayaknya jadi referensi sejarah saja, dan bukanlah referensi untuk diulang kembali, layaknya petuah dari Soekarno terdahulu.

Oh ya, dari judulnya saja, arti The King's Warden bisa diartikan simbolis. Dalam cuplikannya, terlihat raja masih bersemangat untuk mengembalikan tahtanya. Raja muda ini memang ingin memajukan Korea, dan secara harfiah dengan bantuan langsung rakyatnya di desa pengasingan. Selayaknya simbol tersebut, The King's Warden yang berarti Penjaga Raja, adalah usaha rakyat untuk menjaga rajanya sendiri, walau urusan kerajaan yang terlalu berbelit-belit untuk diurusi oleh rakyatnya langsung.

Sinopsis Film The King's Warden

Eom Heung-do (Yoo Hai-jin) adalah seorang rakyat Korea biasa, yang diinterogasi oleh pejabat kerajaan saat berkunjung ke wilayah kota dekat istana. Dia pun terpaksa menceritakan wilayah desanya, yang memiliki lokasi rumah terpencil mewah milik kerajaan, dan cocok sebagai area pengasingan.

Namun saat pejabat yang diasingkan tiba, dia pun terheran-heran. Bahkan salah satu temannya perlu marah sambil mengingatkan, bahwa yang diasingkan adalah Raja Danjong (Park Ji-hoon) yang dimakzulkan dari tahtanya. Saking merasa bersalah, Heung-do lalu mulai sering berkunjung ke area pengasingan, demi menemani sang mantan raja tersebut.

Ternyata kedekatan keduanya melebihi hubungan antara raja dan rakyatnya. Raja Danjong sangat menyukai kesederhanaan Heung-do bersama seluruh warga desanya. Walau masih tidak rela dimakzulkan, dirinya menikmati keseharian baru di desa kecil tersebut.

Hingga suatu hari drama dari istana kerajaan semakin membesar, dan meruak hampir ke wilayah desa pengasingannya. Raja Danjong yang tidak ingin desa kecil ini ikut tergerus urusan kerajaan, perlu mencoba segala cara demi mengamankan semuanya. Bahkan dengan bantuan langsung dari Heung-do, yang masih heran dengan kedekatannya bersama raja.

Sanggupkah Raja Danjong dan Heung-do mengamankan desa kecil milik semuanya? Atau malah terjadi pengkhianatan dari banyak sudut pandang dan kepentingan?

Jawabannya, ada di drama pangeran Korea Selata ala sinema Indonesia.

01 April 2026

Kebiasaan Drama Ala Indonesia dalam Film Ayah, Ini Arahnya Kemana, Ya?

Entah, ya (TMDB).

Setelah banyak film keluarga yang meramaikan libur Lebaran kemarin, sekarang dirilis lagi film yang mengambil latar sehari-hari Indonesia. Dengan judul yang agak ribet, yaitu Ayah, Ini Arahnya Kemana, Ya? Film ini mengadaptasi latar kelas menengah lokal, dengan rating umur R13 (Remaja).

Aktor kawakan yang sering berperan komedi namun dengan wajah dingin, Dwi Sasono mengisi film ini sebagai fokus utamanya, yaitu sebagai Yudi alias ayah dari keluarga ini. Walau begitu, karakter utama dengan sudut pandangnya yang kental adalah Dira yang diperankan oleh Mawar Eva De Jongh. Film ini diadaptasi pula dari novel hasil karya Khoirul Trian.

Berbeda dengan beberapa bahasan sebelumnya di blog ini mengenai keluarga disfungsional, satu anggota atau seluruhnya, justru di film ini tidak bersudut pandang yang sama. Terlihat pada cuplikannya, bahwa sang ayah masih berada dan cukup berfaedah. Namun hanya kehadiran sosok saja, sementara sosok pribadi yang berperan sebagai ayah, kurang hadir dalam keluarga tersebut.

Bahkan dalam cuplikannya, anak kedua bernama Darin (Rey Bong) adalah seorang anak nakal, yang sering terjebak tawuran di sekitar sekolahnya. Namun kehadiran sosok ayah yang kurang tegas, justru tidak mengacu pada tindakan sewajarnya keluarga. Yudi malah mendiamkan, seakan sosoknya hanya ada untuk mengisi saja di keluarga ini.

Sementara ekonomi keluarga Dira cukup berjalan walau pas-pasan, dengan usaha Soto Bu Lia yang dijalankan oleh Lia (Unique Priscilla) serta dibantu oleh Yudi. Selama ini Yudi memang hanya membantu keluarga saja, tanpa kontribusi lebih selain mengantar barang dan keluarga dengan mobilnya.

Mungkin dari segi cerita ini, lebih baik diingatkan dengan satu aspek saja, yaitu komunikasi. Kadang dalam suatu keluarga, kesenggangan satu sama lainnya dapat menciptakan jarak. Bahkan, setiap anggota keluarga menjadi kurang tertarik dengan yang lainnya.

Bahkan lebih parah lagi, terdapat banyak contoh dimana ayah-ibunya bekerja, namun keluarga tersebut terlihat disfungsional. Setiap anggotanya hanya fokus mengurusi urusannya sendiri, dan berujung tidak dapat menyelesaikan masalah saat konflik keluarga terjadi.

Karena itu, komunikasi satu keluarga harus ditanam dengan baik, tanpa adanya rasa segan berlebih. Selain peran yang terisi, tentu setiap anggota harus mengenal satu sama lain, dengan lebih mendalam karena bukanlah siapa-siapa, melainkan masih satu atap bersama.

Apalagi sosok ayah-ibu sebagai orangtua, adalah pemimpin dan pengemudi keluarga, yang membawa anak-anaknya menuju jalannya masing-masing. Setelah itu, anak yang menumpang pun akan menjalani kehidupannya sendiri, bersama keluarga baru tentunya.

Sinopsis Film Ayah, Ini Arahnya Kemana, Ya?

Dira (Mawar Eva De Jongh) dan Darin (Rey Bong) sangat merindukan istilah keluarga idealnya. Keduanya heran dengan sosok ayahnya, Yudi (Dwi Sasono) yang terasa ada dan tiada di kehidupan rumahnya. Bahkan saat Darin terjebak tawuran sekolah, Yudi tidak menanggapi sama sekali. Sementara ibu mereka, Lia (Unique Priscilla) memilih sibuk di Soto Bu Lia-nya, untuk menghidupi keluarga.

Hingga sang ibu akhirnya celaka di rumah. Akibat kompor yang meledak, Lia terpaksa dilarikan ke rumah sakit dan perlu dirawat inap. Sementara Yudi terpaksa meminjam sana-sini, demi menghidupi rumah serta membayar perawatan Lia.

Saat terjebak banyak masalah, Dira mulai merasa kangen dengan sosok Yudi dan Lia yang sesungguhnya. Walau mereka sebenarnya hidup berkecukupan, namun ketiadaan komunikasi yang lancar diantara mereka, menyebabkan banyak jarak dan kesenggangan. 

Bagaimanakah kelanjutan dan akhir kisah keluarga rata-rata Indonesia saat ini? Jawabannya tentu ada di ranah kelas menengah ala sinema Indonesia.

Menjaga Selat Malaka dari Serangan Bajak Laut Ala Film Hostage's Hero

KRI Karel Satsuitubun yang dipimpin oleh Letkol Taufiq (TMDB).

Okeh, sekarang saatnya membahas film aksi dari Indonesia, berjudul Hostage's Hero, yang tayang di sinema dengan rating umur R13 (alias remaja keatas). 

Setelah banyak film aksi di tahun 2025 kemarin, film bersama Donny Alamsyah ini akhirnya menyusul juga, dengan perbedaan dari segi aksinya. Sebelumnya di bulan Oktober tahun lalu, Donny Alamsyah mengisi film Badik yang kentara adegan aksi ala beladiri silat Nusantara. 

Namun di film Hostage's Hero ini, justru tidak banyak melampirkan adegan gelut beladiri tangan kosong. Terlihat pada cuplikannya, adegan yang disajikan berlatar operasi militer dari penjaga perbatasan lautan Indonesia, daripada langsung gelut saja. Tampaknya film Indonesia mulai mengarah ke animo semacam ini, apalagi dengan presiden saat ini yang berlatar Militer ala Prabowo.

Film (latar moderan) semacam ini memang sudah dimulai tahun kemarin, sejak dirilisnya film Believe: Ultimate Battle pada bulan Juli. Sementara aktor lainnya yang sudah memiliki studio sendiri, Iko Uwais meramaikan animo ini dengan filmnya berjudul Timur pada bulan Desembter tahun lalu. Kedua film masih menyertakan adegan gelut beladiri ala silat dan militer Nusantara. Tetap berbeda dengan keduanya, film Hostage's Hero ini lebih mengedepankan operasi marinir yang lengkap dengan senapannya. 

Lokasinya pun cukup berbeda, yaitu di Selat Malaka sebagai perbatasan Indonesia dan Malaysia. Walau begitu, justru perlu diingat bahwa kisah konflik di lautan Indonesia cukup jarang terjadi. 

Lebih sering mendengar kabar (dari berita), bahwa masalah perbatasan adalah nelayan nakal dari negeri seberang, yang mencari ikan terlalu jauh hingga melewati perbatasan negara. Mereka pun tidak diberi hukuman berlebih. Nelayan yang notabene adalah warga biasa, hanya ditawan lalu dikembalikan ke negaranya. Kadang, kapal nelayan disita hingga dihancurkan, sebagai bentuk hukuman bagi yang melanggar perbatasan negara.

Film Hostage's Hero ini lebih realistis dari segi penggambaran operasi marinirnya. Memang, berfokus pada hebohnya bajak laut (fiktif) saat menyergap dan menyandera kapal dagang dan tanker di perbatasan. 

Sementara anggota operasi marinirnya, perlu bernegosiasi atau buru sergap, sesuai dengan aturan zona laut internasional. Mungkin efek spesialnya belum sekelas film luar negeri, namun patut dicoba juga, karena Indonesia bukan hanya beladiri silat saja.

Sinopsis Film Hostage's Hero

Letkol Taufiq (Donny Alamsyah) adalah seorang petugas Angkatan Laut (AL) yang baru pindah tugas. Kini Letkol Taufiq perlu bertugas di markas militer perbatasan Sumatera dan Malaysia, dengan memimpin kapal laut KRI Karel Satsuitubun. Zona laut di Selat Malaka ini sedang panas dengan pembajakan laut kapal tanker, oleh pihak kriminal yang ternyata cukup lihai.

Hingga suatu hari, para bajak laut akhirnya menyergap dan membajak kapal MT Pematang Tanker. Seluruh awak kapal berhasil disandera, sementara proses negosiasi dari pihak Indonesia masih gagal. Letkol Taufiq bersama petugas Karel Satsuitubun, perlu masuk dan memburu-sergap seluruh anggota kriminal.

Ternyata para kriminal ini cukup beringas dalam melawan balik. Tidak hanya brutal saat melawan anggota AL Indonesia, namun cukup tega untuk membasmi sanderanya satu-persatu, demi mengamankan posisi dan potensi cuan mereka.

Sanggupkah Letkol Taufiq menyelamatkan sandera bersama kapal tanker Pematang? Jawabannya tentu dapat diramaikan ala aksi militer sinema Indonesia.

Mustahilnya Misi Antariksa Dalam Film Project Hail Mary

Grace yang sendirian dalam pesawat antariksanya (IMDB).

Sekarang saatnya membahas film yang dirilis awal April tahun ini, yang sangat kuat dengan genre Sains-Fiksinya, berjudul Project Hail Mary. Film yang tayang di sinema Indonesia dengan rating R13 ini, memang mengacu pada misi antariksa yang heboh, sekaligus ramai efek spesial nan canggih pada setiap adegannya.

Sebelum membahas film ini, perlu dicek terlebih dahulu novel asli yang diadaptasi sebagai sinematografinya. Film Project Hail Mary mengadaptasi novel berjudul sama, hasil karya novelis Andy Weir. Mungkin masih ada yang mengingat, bahwa novelis ini sempat diadaptasi pula karya lainnya, berjudul film The Martian. Film tahun 2015 ini dibintangi oleh aktor kawakan Matt Damon, yang mengisahkan karakter Watney saat terjebak sendiri di planet Mars dan sama sekali tanpa bantuan komunikasi dengan Bumi.

Nah, Project Hail Mary mirip dengan kisah tersebut, yaitu satu karakter manusia yang terjebak sendirian di antariksa. Terlihat dalam cuplikannya, Ryland Grace (Ryan Gosling) sedang sendirian saat di antariksa, demi misi kemanusiaan. Tapi berbeda dengan karakter Watney di The Martian, Grace bukan berlatar seorang kosmonot, astronot, atau ahli antariksa manapun. Grace adalah ahli biologi molekular, yang bekerja sebagai guru di sekolah. 

Kisah yang terasa isekai dari latar karakternya ini, mirip dengan kisah film epik terdahulu, berjudul Armageddon (1998). Film yang dibintangi oleh Bruce Willis dan banyak bintang Hollywood masa tersebut, mengisahkan pekerja kilang minyak. Karena keahlian mereka untuk mengebor dalamnya tanah di tengah samudera, menyebabkan mereka direkrut untuk mengebor komet yang hampir jatuh ke bumi. Terasa beda memang, karena tidak berlatar para ahli antariksa.

Tentu bagi yang sempat menonton film berisi Ryan Gosling, aktor serba bisa ini sudah melanglang buana di perfilman Hollywood sejak pertengahan 2010an lalu. Berbagai karakter unik sempat diperankan olehnya, seperti Sebastian di film La La Land (2016) yang musikal, lalu sebagai Replicant bernama K di Blade Runner 2049 (2017) yang melodramatik, hingga menjadi karakter Ken dalam film boneka Barbie (2023) bersama Margot Robbie. Ryan memang aktor yang memilih film serta karakter unik, sehingga tiap filmnya cukup mudah dikenang.

Oh ya bagi yang ingin menontonnya, perlu menyiapkan waktu berlebih. Film ini ternyata berdurasi sekitar 150 menit, alias dua setengah jam!

Sinopsis Film Project Hail Mary

Ryland Grace (Ryan Gosling) adalah seorang guru di sekolah dasar. Walau dirinya memiliki pekerjaan utama sebagai ilmuwan biologi molekular, namun justru semangatnya adalah mengajar di kelas bersama anak-anak.

Hingga suatu hari seorang komandan dari NASA bernama Eva Stratt (Sandra Huller), merekrut Grace untuk sebuah misi antariksa. Keahlian dirinya dalam biologi molekular sangat dibutuhkan, untuk 'menyembuhkan matahari yang terinfeksi.' Bencana yang sangat mencengangkan, karena banyak bintang di seluruh galaksi Bima Sakti terinfeksi oleh 'penyakit' ini. Jika bintang, khususnya matahari di tata surya ini gagal 'disembuhkan,' maka sumber cahaya ini akan mati dan bencana yang menghancurkan seluruh alam semesta langsung terjadi.  

Sementara Grace yang kurang memahami antariksa, menolak mentah misi tersebut. Dirinya meminta untuk para ahlinya untuk turun langsung, sementara dirinya pasrah saja di bumi. Namun, Grace terpaksa menuruti misi sejauh jutaan tahun cahaya ini, demi meneliti sistem tata surya yang mataharinya tidak terinfeksi sama sekali.

Grace yang baru bangun dari cryosleep pun terjebak sendirian di tengah antariksa. Hingga akhirnya dia bertemu dengan seekor ras alien, yang berada di suatu kapal tanpa awak. Alien tersebut menjadi teman perjalanan dirinya, hingga mencapai tata surya yang ditujunya.

Sanggupkah Grace menyelamatkan diri serta seluruh dunia? Jawabannya tentu ada di megahnya antariksa ala sinema Indonesia.