03 Maret 2026

Sekuel Terakhir dalam Horornya Film Danur: The Last Chapter

 

Riri yang sudah gemulai saat menari (TMDB).

Berikutnya adalah film horor yang meramaikan kembali bagusnya sineas perfilman Indonesia di akhir tahun 2010an, berjudul Danur: The Last Chapter. Film ini memiliki rating umur R13, dan tayang di sinema Indonesia saat menjelang libur Lebaran mendatang. 

Adaptasi Novel Karya Risa Saraswati dan Indigo

Film ini adalah hasil adaptasi dari novel karya seorang artis terkenal, bernama Risa Saraswati. Selama ini, Risa berkecimpung sebagai penulis novel dan kreator konten, yang khas dengan kemampuan paranormal dan supernaturalnya.

Walau tentu ditulis dengan imajinasi tambahan, namun Risa menyebutkan bahwa dirinya adalah anak indigo saat masa kecilnya, sehingga menambah bumbu anehnya horor sejenis ini. Judul novelnya adalah Gerbang Dialog Danur, Maddah, dan Sunyaruri. Ketiga novel mengisahkan imajinasi Risa saat masih kecil sebagai anak indigo, yang berplot utama persahabatan bersama teman imajiner.

Bagi yang belum tahu, anak indigo selalu dideskripsikan dengan karakter yang memiliki kemampuan khusus atau berbeda dengan lainnya. Tidak bisa langsung disebut jenius, namun anak indigo memiliki khasnya masing-masing. Jika ditelaah, maka kemampuan anak indigo paling kentara adalah intuisi tajam, kecerdasan cukup tinggi, kreatifitas melebihi lainnya, serta berwatak empati dan independen. 

Namun menurut dunia kedokteran, anak indigo sebenarnya tidak masuk diagnosa manapun, dan hanya sejenis istilah saja. Tetap saja, perbedaan tersebut dapat menyebabkan anak indigo sering dianggap aneh oleh lingkungannya.

Trilogi Film Danur

Trilogi pertama film Danur, diantaranya adalah Danur (2017) yang diadaptasi langsung dari novel Dialog Danur, lalu Danur 2: Maddah (2018) yang diadaptasi dari novel Maddah, dan terakhir adalah Danur 3: Sunyaruri (2019) yang diadaptasi dari novel Sunyaruri. Bagi yang belum sempat menonton filmnya, bisa dicek melalui layanan siaran Netflix.

Film pertama Danur, mengisahkan Risa Saraswati (Asha Kenyari Bermudez, Prilly Latuconsina) yang telah dewasa, dan tengah menjaga sepupunya yang masih kecil, bernama Riri (Sandrinna Michelle). Khasnya film ini, adalah kehadiran sosok imajiner lain bernama Asih (Shareefa Danish), yang cukup mengerikan. 

Oh ya, dalam cuplikannya terdengar lantunan lagu Kakawihan Sunda, berjudul Boneka Abdi, yang diadaptasi dari lagu rakyat Jerman berjudul 'Hanschen Klein.' Ketiga film Danur memang sangat khas dengan referensi Buhun dari suku Sunda.

Di film keduanya, justru berfokus pada nama Danurnya itu sendiri, walau bersub- judul Maddah. Risa kini lebih sering menemani Riri, dengan tinggal bersama tantenya Tina (Sophia Latjuba), dan pamannya Ahmad (Bucek Depp). Risa harus tinggal bersama di rumah Riri, karena ayah dan ibunya yang sedang dinas ke Malaysia demi kepentingan bisnis. 

Wangi bunga Danur yang khas dari berbagai wilayah Jawa, adalah suatu jenis perantara 'jurig.' Sering terjadi kisah supernatural, yang berisi wewangian bunga. Terciumnya wangi ini tanpa adanya bunga aseli di sekitarnya, berarti tersirat kedatangan supernatural. Istilah Pamali dari khas Sunda pun sempat disebutkan dalam cuplikannya, yang berarti tidak boleh Sompral, alias sembarangan dalam membahas hal mistis.

Di film ketiganya yang bersub-judul Sunyaruri, justru berfokus pada perpisahan antara Risa dan teman imajiner masa kecilnya. Apalagi saat ini Risa telah menikah dengan Dimas Tri Adityo (Rizky Nazar), dan tinggal bersama. Namun, kekisruhan mistis mulai muncul di kediaman mereka, dengan banyak kejadian aneh yang mencelakai Dimas. Risa bahkan mencari paranormal, demi menutup kemampuan supernaturalnya dan mengamankan masa pernikahannya.

Sinopsis Film Danur: The Last Chapter

Nah, untuk film keempat Danur, justru tidak berlandaskan novel manapun. Namun tetap melanjutkan akhir cerita dari film sebelumnya. Risa yang telah lama tidak sanggup melihat teman imajiner-nya, kini dihantui rasa bersalah. Rasanya, kawan supernatural Risa sedang memberitahu sesuatu, yang dapat berujung bahaya bagi semuanya.

Sementara itu, Riri kini telah dewasa dan bekerja sebagai seorang penari balet. Walau memiliki potensi besar, namun kini Riri sedang galau, akibat segera menikah dengan Dimas Raditya Soesatyo (Dito Darmawan). Riri harus memilih, untuk langsung menikah atau melanjutkan karirnya. Namun, justru masalah itulah yang mengundang petaka lain. Kehadiran sosok mahluk dari dunia lain, mulai merusak hubungan antara Riri dan Dimas. 

Risa yang sudah merasakannya pun, semakin sering bermimpi buruk. Bahkan sempat terdengar sebuah pesan dari suara kawan imajiner lamanya. Yaitu, agar Risa segera kembali kepada mereka, dan Riri bisa terselamatkan.

Bagaimana akhir kisah Risa, Riri, dan kawan imajinernya di seri terakhir Danur ini? Jawabannya tentu ada di ranah dunia anak indigo ala sinema Indonesia.

Bergelut Edannya Dunia Lain Ala Film Setan Alas!

 

Sekelompok sineas amatir yang masih segar-bugar (TMDB).

Okeh, menjelang libur Lebaran (walau masih lama juga sih), saatnya membahas berbagai film yang bisa dinikmati saat berlibur. Walau ya, entah bagaimana warga ingin menghabiskan waktu dengan menonton film semacam ini. Awal minggu ini, saya akan membahas beberapa film horor dari Indonesia, yang dirilis menjelang Cuti Bersama nanti. Seperti biasa, pilihan dimiliki para penonton ya, dan saya hanya rekomendasi saja.

Film pertama yang menarik dibahas adalah Setan Alas! Dari judul serta cuplikannya saja, sudah menyiratkan bahwa film ini cukup nyeleneh, bahkan dari segi visual dan ceritanya. Rating umurnya memang cukup tinggi, yaitu D17 dengan berbagai adegan mendarah-darah dan mendaging-daging.

Efek Visual dan Cerita Nyeleneh yang Ciamik

Dari cuplikan film Setan Alas! sudah terlihat jelas anehnya film ini. Awalnya memang biasa saja, yaitu saat para karakternya yang berlatar sineas perfilman amatir, mencoba untuk membuat film horor di sebuah reruntuhan vila terpencil. Namun, begitu generator listrik mati, mereka malah langsung hype dengan berkaca pada set film horor aseli.

Cuplikannya menunjukkan banyak efek visual, baik dari segi Body-Horor, Practical, maupun CGI yang mumpuni. Kombinasi ketiga efek spesial ini, cukup jarang diadaptasi di film Indonesia. Apalagi di genre horor, yang lebih khas mementingkan atmosfer, redupnya pencahayaan, serta cerita yang menarik dari segi misteri dibaliknya.   

Walau begitu, terlihat pula bagaimana sineas perfilman membuat adegan film ini ala Over-The-Top, alias berlebihan. Tampaknya, karena genre horor di Indonesia sudah terlalu banyak, sineas dibalik Setan Alas! ingin membuat film horor yang lebih aneh lagi. 

Suasana campy nan cringefest sengaja dibuat-buat norak bagi setiap adegan dan akting karakternya, yang merubah film ini menjadi unik dengan Guilty-Pleasure-nya tersendiri. Seakan, film ini adalah homage (tribute) bagi film horor tahun 80an, 90an, dan 2000an, yang tidak perlu dirasa serius sama sekali (hehe).

Bahkan, ada satu adegan di akhir cuplikan, dimana seorang karakter tengah menembakkan sebuah senjata Gatling-Gun (alias Minigun), diatas atap vila. Entah apa dan bagaimana maksudnya, tetapi terlihat digunakan untuk membasmi para mayat hidup yang datang ramai dari hutan belantara sekitarnya.

Oh ya, salah seorang aktor aneh bernama Winner Wijaya, yang aselinya bergender laki-laki, dan layaknya ritual berubah peran ala dunia panggung, berperan pula ala wanita dalam film ini. Sekali lagi, entah apa maksudnya (ini bukan Longser ala Sunda kan, ya?).

Okeh, saatnya mengecek sinopsinya, yang (sekali lagi), sangat absurd untuk dibahas. Namun, banyak situs kritikus film luar, sangat menyukai anehnya film ini, dengan memberi banyak pendapat nyelenehnya.

Sinopsis Film Setan Alas!

Sekelompok mahasiswa perfilman, tiba di sebuah vila terbengkalai nan terpencil di ujung dunia sana. Mereka langsung kagum dengan keadaan vila yang mengerikan, dan mulai banyak merekam lokasinya.

Memang sesuai skenario, Mang Dadang (Ernanta Kusuma) sebagai seorang pengantar, penjaga, sekaligus kuncen vila nan seram, memberi tahu bahwa genset listrik tiba-tiba mati. Iwan (Adhin Abdul Hakim) malah dengan senang berkelakar, bahwa dirinya menikmati gilanya suasana yang tambah horor saja. 

Sesuai dengan keinginan, Budi Murah (Haydar Salishz) justru ditemukan bersimbah darah tidak bernyawa di kamar. Anggota kelompok yang panik walau tetap hype, akhirnya menyalahkan Mang Dadang, lalu menguburkan Budi di taman villa. 

Amir (Winner Wijaya) dan Ani (Putri Anggie) mencoba mencari petunjuk di hutan sekitar vila yang sangat mengundang khalayak jurig. Keduanya tidak menemukan desa yang seharusnya berada di sekitar vila. 

Tambah kalut nan gundah gulana, Iwan dan Amir pun membawa mobil untuk mengecek jalur datangnya mereka ke ranah horor ini. Setelah tidak menemukan menara listrik, keduanya terjebak diujung ngarai alias jurang tanpa akhir.

Lebih konyol lagi, Budi ternyata telah 'hidup kembali' di vila, dan karena cukup ganteng, telah bercengkrama mesra dengan Wati (Anastasia Herzigova) dan Ani. Amir dan Iwan malah tambah fokus, dengan curiga bahwa si ganteng akan mencuri hidup cemceman mereka.

Sisanya ritual ala sejenis film horor, banyak adegan aneh yang mulai meruak di sekitar vila. Mulai dari Budi yang mulai bertingkah aneh, Mang Dadang yang mulai menculik para gadis, mayat hidup yang mulai bosan lalu menyerang vila, dan minigun yang muncul tanpa kendali diatas atap.

Bagaimana kisah ini bisa berlanjut? Jawabannya, tentu ada di ritual kesetanan ala cringefest-nya sinema Indonesia.

28 Februari 2026

Gajah, Sepeda dan Kue Tart

Ilustrasi Fanny dan Dino sang Gajah (Acerax via Gmaps). 

Sinar matahari kekuningan merembes masuk jendela, menyilaukan mata sepasang kekasih. Sepasang suami istri tepatnya, saling berpelukan mesra diatas kotanya kasur. Fiona sebagai istri, menyambut cahaya pagi ini dengan mata bulatnya. 

"ahhmmm...," Fiona menggeliat santai, meregangkan seluruh jaringan otot tubuh yang telah delapan jam berjibaku di alam mimpi. 

"Kamu dah bangun?" ujar sang suami, Fido, menyambut tangan sang istri, lalu mendekapnya. "Udahlah say," jawab Fiona sambil mengecup mesra di pipi sang suami. 

"Pagi yang indah, ya kan?" ujar Fido.

"Ya, dan akan lebih baik lagi ...," bisik Fiona. 

Memang suatu kegiatan reguler di pagi hari, bagi pasangan muda Fiona dan Fido. Umur perkawinan yang masih muda, selalu disambut dengan kesan masa depan yang terasa cerah. Setelah lima tahun tinggal bersama, pandangan mereka begitu luas membahana, layaknya horison di penghujung lautan biru. 

"Inget yah, pagi ini hari apa?" tanya Fiona. 

"Hari Sabtu, lah,... hari untuk menikmati empuknya kamar, seharian," tutur Fido.

"Haha, lucu...," timpal Fiona, menepis tangan suami yang mulai nakal di perutnya.

"Ini hari besar untuk Fanny," tambah Fiona, dengan alis mata yang naik sedikit dan senyuman tipis. 

"Ah Okeeee, haha. Hampir lupa...," timpal Fido, sambil memandang ke arah langit rumah sewanya. 

Fido adalah seorang karyawan swasta, yang paham agar keluarganya tumbuh bersama. Kegiatan regulernya adalah berangkat pukul 07.00 menggunakan sepeda motor matic-nya, demi bergelut dalam pekerjaannya. Sebagai seorang akuntan berposisi junior di perusahaan swasta, tentu bukan pekerjaanlah yang ditunggu oleh Fido setiap harinya. Namun sambutan sang buah hatilah, yang selalu mencerahkan sore hari sang ayah. Potensi masa depan inilah yang memberi senyuman bagi Fido setiap harinya.

Fiona pun tidak rela melewatkan momen ini, pagi maupun sore. Pekerjaannya sebagai guru les privat, menyebabkan Fiona punya banyak waktu untuk mengurus kegiatan rumah tangga. Sementara Fanny, anak gadis mereka yang baru berumur empat tahun, tentu masih butuh bimbingan langsung sang ibu. Fiona juga cukup lihai dalam masak-memasak, demi kebutuhan seluruh anggota keluarga.

"Dengan insting cinta ibu," begitulah prinsip Fiona, saat tengah memasak menu favoritnya. "Tanpa cabai yang cukup," timpal sang suami, yang tidak tahan dengan masakan kurang pedas ala Fiona.

Candaan inilah yang mengingatkan Fiona, mengenai indahnya setiap momen kehidupan mereka. Momen dimana duduk bertiga bersama, saat "Membanting tulang demi nutrisi otot dan anak", menikmati hidangan spaghetti saus asam manis dan brokoli. Masakan yang terlalu sederhana, mengingat kondisi keluarga muda ini, namun mantap terasa. Mungkin suatu saat, Fiona dapat memasak sesuatu yang lebih sedap, lebih mewah, atau lebih cantik. Namun bukan itu 'Intinya,' sesuai dengan hati nurani Fiona. 

Momen seperti ini pula yang mengingatkan Fiona dengan kisah indah di masa lalu. Momen bersejarah pemicu seluruh keindahan rumah tangganya. Sebuah karangan bunga, cincin di jari manis, hembusan angin pantai, dan semburat cahaya matahari senja. "Will you marry me?" ujar sang pemuda, bersimpuh diatas pasir memandang pasrah sumringah kepada sang gadis, yang kini sedang menangis bahagia. "Tentu..., Of course my love...," timpalnya. "Have I got another choice?" tambahnya, senyuman kini terlukis diwajahnya. 

Lima tahun. Lima tahun sejak momen indah ini, keluarganya tumbuh dengan baik. Tumbuh menjadi keluarga muda ideal, keluarga yang menjadi dambaan setiap gadis muda, atau lebih tepatnya, seorang wanita dewasa. Seluruh memori ini, hanya perlu diingat dengan momen sarapan dan makan malam. 

"Jadi, udah siap?," tanya sang ayah, menyeka saus dari bibirnya. 

"Siap apa yah?" timpal Fanny, menyeruput segelas susu porsi paginya. 

"Kita jalan-jalan sayang," jawab Fiona, "Nih, pake tissue, nak," tambahnya, melambaikan selembar tissue kepada Fanny.

"Makasih Maaa..., jadi kita mau kemana?" timpal Fanny dengan riang. 

Gajah

"Mah, lihat itu GAJAH!", Fanny teriak girang, memandang sesosok gajah nan megah di tengah arena. Kebun Binatang memang pilihan bagi pasangan muda ini, yang notabene tidak memiliki banyak waktu untuk mengisi liburannya. Tidak banyak, namun cukup memberi senyum penuh arti bagi pasangan Fiona dan Fido, serta Fanny. 

"Mah, Yah, ikut naik yu!", tambah Fanny, menarik-narik lengan kedua insan dewasa yang menemaninya. "Iyah, iya... sabar nak...," tutur Fiona. 

Arena gajah memang digunakan bagi pengunjung yang ingin menungganginya, mirip dengan arena unta. Satu gajah dapat dinaiki satu keluarga, mengelilingi rute Kebun Binatang yang asri nan rimbun (dengan ongkos tambahan tentunya, hehe).

Fanny tiba-tiba melepas pegangannya, dan mendekati gajah terdekat. "Fanny!", Fiona dan Fido panik, mengejar anak pertamanya. Fanny sudah berada di samping sang gajah bernama Dino, terbatas pagar setinggi kepalanya. Dino berada di ujung terdekat arena, jauh dari kerumunan gajah lainnya. Fiona bertatap muka dengan mata gajah, saling pandang dengan wajah polos. Satu sama lainnya, tidak ada yang maju maupun mundur, dan ekspresi apapun. 

Fanny  lalu memanjangkan tangannya yang memegang sepetik bunga taman, lalu mencoba meraih belalai sang gajah. Jangkauan tangan Fiona terlalu pendek untuk anak berumur empat tahun, namun Dino tampaknya mengerti. Dino mulai menggerakkan belalainya, untuk menggapai tangan sang anak. 

Fanny, tanpa rasa takut sama sekali, tersenyum lebar. Belalai Dino kini mencapai ujung bunga miliknya, dengan mata yang menatap lirih padanya. Salam perkenalan antara mahluk rimba dan manusia kecil dari kota ini, tiba-tiba terlepas tanpa sempat tersurat. Teriakan nyaring dari seorang ibu pun membahana, "Fanny, bahaya!!!". 

Fiona lalu menggapai sang anak, yang langsung terangkat dengan ringannya. Bunga taman pun terjatuh dengan ringan ke rerumputan. Sementara Fido sibuk menahan belalai sang gajah, dengan memposisikan tubuh tegap diantaranya.

Namun tanpa ada peringatan apapun, Dino dengan sumringah menyemprotkan air dari belalainya, tepat menyirami tubuh Fido yang menghalangi. "Woaaaaah!" teriak Fanny, yang lalu turun dari pelukan Fiona, lalu mengambil kembali bunga taman yang jatuh. "Ini hadiah untukmu, gajah!" tambah Fanny dengan sumringah.

Gelak tawa pun mulai terdengar dari Fiona, tepat dibelakang sang suami, tanpa tersiram sedikit pun. Nyaringnya tawa Fiona, tertular ke seluruh pengunjung di sekitar arena. Bahkan sang petugas penjaga arena gajah, ikut tertawa sambil melerai kedua mahluk berbeda spesies ini. Sang gajah Dino sebelumnya memang tengah meminum air dari kolam di tengah arena, dan teralihkan kegiatannya saat melihat Fanny datang mendekat.

"Maaf-maaf, punten ngariwehkeun...," ujar Fido sambil menunduk malu kepada petugas penjaga kebun binatang, yang setengah serius sambil menahan tawa.

Sementara sang suami meminta maaf kepada seorang petugas dengan sungguh-sungguh, Fiona memeriksa tubuh Fanny. Takutnya sang gadis kecil terluka, atau terdapat kotor sedikit pun. Semprotan dis-infectant pun menjadi senjata terakhir Fiona, tentu tanpa melupakan sang suami yang telah basah kuyup. 

Kejadian yang singkat, namun cukup mencengangkan bagi seluruh pengunjung arena gajah. Tidak ada yang menyalahkan siapa pun, melainkan hanya menatap kagum sambil terus menahan tawa atas kejadian ini. Gajah dan seorang anak empat tahun, dua mahluk Tuhan polos yang berpapasan takdir dalam satu momen sederhana (walau epik).

Kue Tart

Siang yang cukup terik, memisahkan ketiga insan muda ini. Sang Ayah yang baru saja mandi, perlu mengunjungi kota untuk berbelanja. Fanny dan Fiona kini berada di rumahnya yang berwarna biru laut, tanpa Fido yang kini mengendarai motornya menuju toko sepeda.

"Ayah kemana, bu?" tanya Fanny. "Ada deh... nanti dikasih tau yah..." timpal Fiona.

"Ini kan ultah Fanny bu..." ujar Fanny dengan bibir dimanyunkan. "Hehe... ntar yah..." sahut Fiona dengan senyum tipis. 

Tiba di rumah, layaknya seorang ibu rumah tangga idaman, Fiona langsung memasak bahan favoritnya, sayur brokoli. Mengesampingkan momen hari spesial untuk Fanny, sayur harus tersedia dalam setiap menu masakannya. 

"Perut emang harus diisi, nak. Tapi, gizi yang terpenting." ujar Fiona.

"Iya, entar rempong kayak mama pas tua ya, hehe," sahut Fanny.

"Empat sehat, lima sempurna nak...," sambut Fiona, dengan nada yang lembut.

Terkilas obrolan masa lalu Fiona dengan ibunya, Diana. Tersenyum sendiri mengingatnya, Fiona tak pernah menyangka bahwa hal tersebut akan menjadi prinsip hidupnya, sekaligus ekspresi cintanya dalam menjalani hidup. Tapi Fiona adalah seorang penerus, yang harus berkembang. Fanny mungkin tidak mengerti, tetapi kue tart berlapis cokelat dan krim tentu menjadi fokus penantiannya.

Strawberry merah terpucuk layaknya piala api diatas kubah nan megah. Sebuah pesta kerajaan tentu tidak akan lengkap dengan seorang putri beserta mahkotanya. Seorang putri yang baru belajar mengenal dunia, dan saatnya belajar untuk menaiki kelana.

Keadaan yang Berbeda

Fanny yang kelelahan, berbaring manja di kamarnya. Boneka gajah dipeluk olehnya, sambil mengingat kejadian tadi. "Coba aku bisa bawa gajah tadi pulang ke rumah," gerutu Fanny.

Kamar yang baru ditidurinya beberapa bulan terakhir, kini serasa lahan bermain bagi Fanny. Dinding berwarna merah muda cerah mengelilingi kasurnya, yang bermotif bunga kehijauan. Tumpukan buku bergambar binatang terlihat di ujung meja, tepat di sebelah kotak mainan. Suasana yang cerah dengan banyak poster pahlawan super favorit Fido, tidak semudah itu menyerap ke dalam perasaan Fanny.

Kala di malam hari, hembusan angin dari tirai jendela sering membangunkan Fanny, yang baru belajar tidur sendiri.  Fanny cukup berani untuk menatap balik ke arah jendela, yang langsung mengarah ke taman belakang. Pohon pinus serta rerumputan kurang terurus menjadi pemandangan khas dari jendela. Di ujung taman, dibangun dinding pembatas setinggi satu meter. Pagar kayu dengan tinggi setengahnya, menghalangi bagian atasnya. Paduan inovasi modern dan produk alam, sanggup membatasi antara taman dan terjalnya dinding serta sungai deras dibawahnya. 

Kadang Fanny merasa sesuatu menatapnya langsung dari arah jendela, khususnya saat malam hari tiba. Perasaan yang sulit digambarkan, karena dinginnya malam tidak menusuk seperti itu. Fanny sekarang ingat perasaan apa itu, layaknya gajah dalam kandang dengan banyak pengunjung menatapnya. Kagum, lucu, atau takut, namun entah apakah itu. 

Terbangun dari lamunannya, kini Fanny merasa tahu sesuatu. Tahu bahwa di luar jendela terdapat sesuatu, yang selalu menatapnya, mengawasi gerak-gerik dirinya. 

"Oh," Fanny akhirnya tersadar, bahwa itu bukanlah sebuah perasaan saja. Dia pun turun dari kasur, dan bergerak menuju jendela.

Taman tampaknya begitu mengundang di sore mendung tersebut.

Akhir Kisah Fido dan Sepeda Roda Tiga

Naas tidak dapat terhindarkan. Fido yang tengah membawa sepeda roda tiga di jok belakang motornya, tidak pernah kembali bersama Fiona dan Fanny. Akibat tersenggol mobil, motor Fido terpaksa berbelok drastis, hingga menabrak pagar pembatas sungai di pusat kota. Aliran sungai Ciliwung yang sedang deras akibat kiriman air hujan dari daerah gunung, menyeret Fido dan motornya sejauh mungkin. Tubuh serta motornya belum dapat ditemukan untuk beberapa lama, padahal sempat dicek oleh rekaman CCTV di lokasi kecelakaan.

Sementara di rumah...

"Ada apa mah?" tanya Fanny, kepada Fiona yang sedang menangis sesenggukan, dengan ponsel dipegang erat oleh kesepuluh jarinya. Kabar dari ponsel mengenai hilangnya Fido, memang tidak dapat diterima sama sekali.

"Maaf ya nak," ujar Fiona, sambil turun dari kursi dan langsung mendekap erat Fanny. 

"Ayah baru saja celaka. Mungkin dia tidak dapat pulang (lagi)," tambahnya.

"Lah, tadi kan ayah pulang. Baru aja ketemu tadi. Tuh, Fanny sudah punya hadiah ultah hari ini," ujar Fanny dengan polosnya, sambil menunjuk ke arah taman.

"Eh, ngomong apa kamu Fanny?" tanya Fiona, kebingungan. 

"Sini geura, mah," timpal Fanny, sambil menggiring tangan Fiona menuju pintu di arah dapur, menuju lokasi taman belakang.

Tepat setelah membuka pintu belakang menuju taman, disaat guyuran hujan yang dengan rintik-lembutnya turun, sebuah pemandangan ganjil membuat tertegun Fiona. Terdapat sebuah sepeda roda tiga, yang ditempatkan rapih nan bersih akibat terbasahi air, di tengah rerumputan taman. 

Tidak hanya sepeda, terikat pula pada bagian stangnya, pita merah mudah lebar bertuliskan 'Selamat Hari Ultah Fanny'. Tersematnya pita tersebut, mengingatkan momen indah saat Fido dan Fiona, tengah memilih pita hadiah bagi sepeda Fanny.

Tidak sanggup memandangi hadiah terakhir dari suaminya, Fiona lalu terjatuh duduk,  menangis sejadi-jadinya.

Epilog

Beberapa minggu kemudian telah berlalu, setelah prosesi pemakaman Fido yang bersemayam tanpa keberadaan tubuhnya. Keadaan rumah Fido berisi Diana, Fiona, Fanny, masih terasa suram. 

Aura kesedihan semakin terasa, akibat kue tart ulang tahun Fanny yang belum pernah tiba di lokasi rumah. Entah apa yang terjadi pada kurir pengirim kue tart, di hari yang sama saat Fido menghilang, karena masih dalam status pengiriman, hingga kini.

TAMAT.

24 Februari 2026

Terjebak Ngerinya Kotak Logam Berjudul Film Lift

 

Rasanya terjebak dalam lift ala Shareefa Danish (TMDB).

Nah, kali ini film horor unik berasal dari Indonesia, berjudul simple Lift yang tayang akhir Februari, di banyak sinema Indonesia. Mengecek judul dan cuplikannya saja, sudah menyiratkan keunikan film horor ini, yang berbeda dengan jurig supernatural dan paranormal ala Indonesia. Rating umurnya pun cukup tinggi, yaitu D17 alias penonton yang sudah dewasa. Dan seperti biasa ala ritual film horor, cuplikannya sama sekali tidak membuka plot utama.

Claustrophobia dan Lift

Sebelum membahas horornya film ini, tentu perlu mengecek satu gangguan mental bernama Claustrophobia. Gangguan kejiwaan ini, dimiliki banyak orang akibat gejala takut pada ruang tertutup. Pasien mengalami gangguan kecemasan serta rasa takut berlebihan, saat berada di ruang tertutup atau sempit. Bahkan jika gangguannya akut, maka pasien bisa mengalami serangan panik, sulit fokus, dan merasa sesak napas.

Khusus di ranah film horor, phobia sejenis ini sering diadaptasi. Contohnya adalah film Panic Room (2002), The Descent (2005), dan Buried (2010) bersama aktor yang kini telah kawakan, yaitu Ryan Reynolds dan Deadpool-nya.

Salah satu pemicu gangguan phobia adalah Lift, yang memang berukuran pas untuk diisi oleh beberapa orang saja. Untuk filmnya sendiri, dapat dicek melalui beberapa film horor lainnya. 

Contoh paling terkenal adalah Dark Water (2002), yang disutradarai oleh Hideo Nakata. Bagi yang kenal namanya, tentu tahu bahwa sutradara ini terkenal saat memproduksi film Ringu (1998, 1999). Entah apa hubungannya Hideo Nakata dengan Aquaphobia, yang sangat kentara terasa pada Ringu dan Dark Water. Mungkin sutradara Nakata hanya ingin mengombinasikan Claustrophobia dan Aquaphobia sekaligus. Plot twist di akhir film ini pun cukup menarik, dan sangat memicu kedua phobia tersebut.

Nah film berikutnya sangat mirip dengan Lift ini, berjudul Devil dari tahun 2010 lalu. Bahkan, bisa disebut sebagai inspirasi langsung film Lift dari Indonesia ini. Namun, perbedaan kentaranya adalah kesan supernatural yang lebih kentara dalam film Devil. Bahkan, banyak adegannya yang terjebak di satu lift dengan lima penyintas, seakan menjadi film misteri. Karena banyaknya kejadian aneh saat terjebak, menyiratkan sesosok setan yang sedang menguak kejahatan para penyintas dalam lift tersebut. Plot twist-nya pun khas film misteri, alias tidak begitu dapat tertebak.

Masih banyak film horor lain yang mengadaptasi latar situasi terjebak atau berada di sekitar Lift, namun bisa dicek sesuai minat saja. Keenam film yang disebutkan diatas, adalah rekomendasi khusus untuk referensi gangguan Claustrophobia atau terjebak dalam Lift.

Sinopsis Film Lift

Linda (Ismi Melinda) adalah seorang pegawai Relasi Publik alias Humas (Hubungan Masyarakat) di perusahaan bernama PT Jamsa Land. Perusahaan ini sempat diteror enam tahun lalu, akibat kekisruhan internal pegawainya. Sebuah lift utama yang digunakan oleh banyak orang, menyebabkan tragedi yang merebut banyak nyawa.

Suatu hari saat baru mau pulang, Linda menaiki lift tersebut untuk turun menuju lantai dasar. Namun, tiba-tiba lift macet dan dirinya terjebak didalamnya. Tidak hanya panik saat terjebak, namun sebuah suara dari intercom lift, malah tidak membantu Linda sama sekali. 

Sebuah suara ngeri dari orang yang mengaku bernama Doris (Shareefa Danish), menguak suatu cerita yang mengerikan. Doris pun semakin meneror Linda, yang sebenarnya tidak begitu mengetahui tentang kisah tragedi dalam lift perusahaan, karena sudah berselang enam tahun lamanya.

Sanggupkah Linda selamat atas teror dalam kotak logam ini? Atau malah terkuak andil Linda saat tragedi enam tahun lalu?

Jawabannya, tentu ada di ritual persembahan ala sinema Indonesia.

Kembalinya Ghostface dan Sidney di Film Scream 7

Ghostface yang kembali penasaran (IMDB).

Berikutnya adalah film yang betulan jangan ditonton saat shaum, yaitu berjudul Scream 7, yang tayang di banyak kombinasi sinema Indonesia. Bagi penggemar film horor, tentu tahu bahwa waralaba yang dimulai sejak tahun 90an ini, memiliki rating umur tinggi, alias D21.

Waralaba Scream

Bagi penggemar film horor dari tahun 90an, pasti mengenal karakter Ghostface, dan Sidney Prescott sebagai tokoh utama film Scream. Trilogi awal yang dirilis pada tahun 1997, 1998, dan 2000, memang menyajikan kisah psikopat yang sangat pecicilan. 

Saking aneh sang Ghostface alias psikopat ini, karakter dibaliknya selalu saja berbeda di setiap film. Karena itu, trilogi awal ini terkenal dengan misteri dibalik topeng Ghostface, yang telah menjadi khas di setiap serinya. Misteri ini selalu diulang pada setiap perilisannya, namun merubah kesan Scream menjadi horor yang ikonik pada masanya.

Satu lagi khas bagi psikopat berwajah arwah penasaran ini. Jurig bertopeng putih ini selalu menelepon dulu 'mangsanya,' lalu tiba-tiba muncul di sekitar area rumah korban. Sayangnya, si Ghostface ini selalu 'maksa,' akibat obsesif dengan modus operandinya. Karena bukan seorang 'penjahat profesional,' maka Ghostface selalu berlari ala orang kelimpungan, hanya untuk mengejar korbannya yang lari panik. Bisa dibilang, kelebihan Ghostface hanyalah kemampuannya untuk menyelinap dan menyergap korban, di saat yang tepat.

Bahkan menurut penulis, terdapat ironi tersendiri atas cara mengejar Ghostface. Layaknya kartun Looney Tunes yang terkenal di tahun 90an, tingkah Ghostface ini mirip dengan Wile E. Coyoto, yang selalu sial dan jatuh bangun saat memangsa korbannya, yaitu Roadrunner. Jika film ini bukan bergenre horor, maka perlu ditambahkan label genre komedi juga (haha). Lebih konyol lagi, khas Ghostface ini pernah dimasukkan dalam waralaba film parodi, berjudul Scary Movie (2001).

Karakter Sidney Prescott

Satu lagi khas waralaba film Scream ini, yaitu karakter Sidney Prescott yang diperankan oleh Neve Campbell. Selama trilogi awal, hingga seri keempatnya di tahun 2011 lalu, Sidney Prescott selalu menjadi fokus utama film Scream. Hal itu akibat dirinya selalu menjadi penyintas di setiap film Scream, sejak latar filmnya di kota Woodsboro. Walau sering berpindah kota demi keselamatan dirinya, Sidney selalu mengundang sejenis psikopat lainnya, yang sama-sama terobsesi dengan kegilaan ini. 

Khas Ghostface dengan topengnya, serta film 'Stab' yang menjadi inspirasinya, dan kehadiran Sidney di lokasi baru, akhirnya mengundang sejenis Copycat Killer ini. Bagi yang belum tahu, Copycat Killer adalah sebutan dari para psikolog kriminal AS sana, untuk memberi karakter bagi para penjahat yang meniru modus operandi kriminal lainnya. Biasanya, penjahat yang ditiru sudah melegenda kisah kejahatan dan aksinya.

Untuk trilogi terbarunya, Sidney memang kembali ke Woodsboro, untuk membantu kota ini akibat kehadiran sosok Ghostface terbaru. Di film Scream kelima dan keenam yang dirilis tahun 2022 dan 2023 lalu, justru Sidney Prescott tidak menjadi fokus seperti biasanya. Cerita beralih ke duo saudari bernama Tara dan Sam Carpenter, yang diperankan oleh duo aktris muda dan baru naik daun, yaitu Jenna Ortega dan Melissa Barrera.

Nah, untuk seri ketujuh sebagai akhir dari trilogi kedua Scream, karakter Sidney Prescott kembali untuk mengakhiri semuanya. Namun, latar Sidney yang telah tua dengan status seorang ibu, menambah perbedaan kentara bagi karakter yang melegenda di seri ini. Tidak begitu banyak hubungan cerita dengan kedua film sebelumnya. Bagi yang kangen penyintas lainnya bernama Gale Weathers, dapat melihat pula dengan aktrisnya, Courteney Cox di seri ketujuh ini.

Oh ya dalam cuplikannya, terdapat perbedaan paling kentara dalam film Scream 7. Perkembangan jaman internet dan keamanan digital, ikut tersisipkan dalam satu adegannya. Sidney perlu menelpon anaknya melalui ponsel, yang terhubung dengan kamera siaran langsung di CCTV kediaman rumahnya. Cukup berbeda, karena sistem keamanan sejenis ini memang baru dikenalkan tahun 2020an lalu, dan baru mulai dipasang oleh banyak warga. Tentu menjadi tantangan khusus bagi sang pecicilan Ghostface, yang sudah dikenal selalu sembrono saat beraksi.

Sinopsis Film Scream 7

Sidney Prescott (Neve Campbell) kini telah hidup damai bersama suaminya, Mark Evans (Joel McHale). Nama belakangnya pun telah berubah menjadi Evans, sesuai dengan nama keluarga yang diturunkan kepada anaknya, bernama Tatum (Isabel May). 

Namun, kisahnya yang telah melegenda masih menarik perhatian banyak sosiopat. Seringkali, Sidney ditelpon langsung (tanpa aplikasi) dengan orang yang mengaku sebagai Ghostface, lengkap dengan pengubah suaranya. Suara yang dirubah serta melalui jalur telepon pulsa berbayar, menyebabkan para 'impostor' ini merasa aman untuk meneror Sidney dan keluarganya.

Sayangnya, kehadiran Ghostface bukanlah masa lalu, melainkan tiba sendirinya. Tidak hanya fokus kepada Sidney, Mark dan Tatum pun ikut terancam oleh aksi Ghostface terbaru ini. Panic Room yang sudah disiapkan oleh Sydney pun, tidak sanggup mengelabui aksi Ghostface ini. Untungnya, Gale Weathers (Courteney Cox) sebagai kawan lama dan penyintas sejak awal, ikut turun membantu saat tahu Ghostface telah kembali mengejar Sidney.

Sanggupkah Sidney, Mark, Tatum, dan Gale selamat atas Ghostface yang sudah memperbarui modus operandinya? Atau sebenarnya malah Gale yang cemburu atas legenda dan kedamaian hidup Sidney? Atau malah berakhir begitu saja di seri ketujuh film Scream ini?

Jawabannya, tentu ada di modus operandi ala sinema Indonesia.

Mengejar Mimpi Ala Timothee Chalameet di Film Marty Supreme

 

Marty yang terlalu niat dalam mengejar mimpinya (IMDB).

Kisah drama perjalanan hidup dari Hollywood pun kembali meramaikan sinema perfilman di bulan Februari ini, yang berjudul Marty Supreme. Film berating D17 dari A24 ini berdurasi 2,5 jam. Jadi, harus menyempatkan waktu cukup lama untuk dapat menontonnya.

Marty Supreme mengisahkan suatu kisah mimpi yang (menurut penulis) berlandaskan peribahasa bule, dengan istilah Go Big or Go Broke. Ya, maksud peribahasa ini adalah seseorang harus bermimpi besar, atau gagal sebelum mencapainya. Film ini sebenarnya diadaptasi dari kisah nyata seorang juara tenis dari AS, yang memenangkan kejuaraan tahun 1949 lalu di Jepang, bernama Marty Reissman.

Timothee Chalameet, Sang Wonderboy dari Hollywood

Aktor muda yang baru berumur 30 tahun ini, memang sedang digadang sebagai aktor terbaik dari Hollywood sana. Banyak proyek besar perfilman, diisi oleh aktor kelahiran Manhattan ini. Film paling epik yang pernah diperankan Timothee adalah Dune: Part One (2021), dan Dune: Part Two (2024), yang diadaptasi oleh novel berjudul Dune (1965) hasil karya Frank Herbert.

Selain itu, Timothee memang memiliki keahlian akting yang cukup luas. Satu film yang menaikkan namanya, adalah Wonka (2023). Peran Willy Wonka memang membutuhkan seorang aktor yang nyentrik nan eksenstrik, dan Timothee ternyata sanggup mengadaptasinya. Seakan, Hollywood mendukung aktor ini sebagai sosok baru pengganti Johnny Depp, yang sempat memerankan karakter sama di tahun 2005 lalu, dalam film Charlie and Chocolate Factory.

Karena keahlian akting serta film yang nilai produksinya mahal, Timothee sering dinominasikan penghargaan film, walau belum memenangkan satupun Oscar. Khusus untuk film Marty Supreme, Timothee Chalameet dinominasikan dalam Oscar sebagai Aktor Terbaik, sementara filmnya sendiri diberi nominasi sebagai Film Terbaik, di tahun 2026 ini.

Studio Film A24 yang Unik

Perlu ditelaah pula dari segi studio yang memproduksi film Marty Supreme ini. Ya, A24 memang satu studio (yang kini terkenal) aneh, dengan sering memproduksi film bersudut pandang unik. Walau awalnya lebih mengemukakan horor, namun kini studio film A24 lebih mengacu ke kritik sosial, atau film yang lebih abstrak dan nyeleneh horornya.

Satu film aneh dari A24 yang pernah penulis tonton, adalah berjudul Tusk (2014). Film dengan genre komedi-horor ini diperankan oleh Justin Long, yang berkisah satu perubahan manusia yang diculik. Ya, bukan diculik biasa, melainkan dirubah tubuhnya menjadi seekor anjing laut.

Di tahun yang sama, A24 merilis film Ex Machina, yang diperankan oleh aktris Alicia Vikander. Aktris berdarah Swedia ini memerankan seorang robot yang sanggup sadar diri alias sentien, namun tetap bernada horor-psikologis ala film A24.

Tahun 2015, A24 kembali membuat gebrakan di genre horor, dengan film The Vvitch. Film berlatar awal koloni di Amerika dan diperankan oleh Anya Taylor Joy ini, mengisahkan dengan abstrak sebuah kisah kajajaden (alias kesurupan) di lokasi terpencil sebuah koloni. Fokus utamanya adalah sebuah keluarga kecil di ladang yang jauh dari pusat koloni. Saking ngerinya, film ini direkomendasikan oleh penulis, sebagai film paling horor dari A24.

Free Fire yang dirilis tahun 2016 pun menunjukkan, bahwa A24 sanggup memproduksi film drama-aksi yang hanya berlatar satu lokasi saja. Jadi, filmnya mirip dengan khas sutradara kawakan Quentin Tarantino. Apalagi, Brie Larson sebagai aktris pemenang Oscar pun, mengisi film ini.

Film sejenis horor klasik pun diproduksi oleh A24, dengan judul The Monster di tahun 2016. Film ini mengisahkan ibu dan anak, yang terpisahkan akibat serangan monster besar ala seekor Yeti atau Bigfoot.

Di tahun yang sama, drama psikologis berjudul A Ghost Story pun dirilis. Film ini kembali dengan gaya khas A24, yaitu drama psikologis bernuansa horor. Namun, kisahnya cukup mendalam, karena lebih mirip kisah jurig alias arwah penasaran. Arwah ini belum sempat kembali ke dunianya sana, dan perlu menonton langsung seluruh kegiatan keluarga yang ditinggalkan olehnya.

Sebenarnya masih banyak film dari A24 yang bisa direkomendasikan. Tetapi, cukup disitu saja, karena penulis sendiri belum menonton semuanya.

Sinopsis Film Marty Supreme

Tahun 1952 lalu di AS, Marty Mauser (Timothee Chalameet) adalah seorang atlet tenis meja yang cukup hebat. Namun, dirinya tidak memiliki latar belakang seorang kaya raya, atau memiliki koneksi. Jadi selama ini, Marty berkompetisi di banyak turnamen tenis meja, tanpa dukungan sponsor sama sekali. 

Namun, Marty memiliki karakter yang pantang menyerah dan terlalu berorientasi target. Sehingga, Marty sering memposisikan dirinya dalam situasi berbahaya, demi mencapai tujuannya sendiri. Maksud Marty sebenarnya cukup baik, yaitu demi mendukung dirinya, serta ibunya yang kini bekerja di toko sepatu milik pamannya.

Beberapa turnamen di banyak negara diikuti oleh Marty dengan dana seadanya, walau tetap memenangkan sedikit hadiahnya. Kini, Marty berniat untuk mengejar mimpi terbesarnya, yaitu memenangkan Kejuaraan Dunia Tenis Meja di Jepang.

Sanggupkah Marty meraih mimpinya? Atau malah terjebak lingkaran hutang sana-sini akibat banyak mencari masalah?

Jawabannya, tentu ada drama olahraga ala sinema Indonesia.