03 Desember 2025

Dikejar Dukun Thailand di Film Ha Gom: The Darkness Of The Soul

 

Nenek tua renta yang kadang terlihat mirip jurig (TMDB).

Okeh, saatnya kembali ke ranah jungjurigen ala Asia Tenggara, tentunya dari ranah jurig Thailand terkenal ngeri dan sakit hatinya, berjudul Ha Gom: The Darkness of The Soul, yang memang sedang tayang di sinema-sinema Indonesia. 

Sayangnya, film ini mengisahkan kembali kisah jurig yang tidak begitu bersalah atas tindakannya, melainkan kisah mengerikan dari manusia yang suka asal tuduh dan main hakim (tanpa moderasi sidang) sendiri. 

Terlihat pada cuplikannya (yang masih tanpa banyak plot dan adegan jelas ala film horor), membuka kisah yang tidak banyak berisi adegan horor alias ngeri alias seram. Namun, lebih mengisahkan plot utama Ha Gom, yang jika ditelaah, lebih mengemukakan jalur kisah yang mengalir.

Ya, mengalir, karena dari awal cuplikan hingga akhirnya, lebih mengisahkan drama antar manusianya, dengan sedikit bumbu penampakan jurig di akhir trailer-nya. Mungkin, studio produksinya ingin mengingatkan, bahwa seluruh kengerian ini aslinya berasal dari kekejaman manusia itu sendiri, daripada kengerian dari dunia lain-lain.

Jadi, sinopsis di artikel ini ikut mengalir saja ya. Karena itu, di sebuah desa dari Thailand yang tengah berkabung atas kematian banyak warganya. Beberapa curiga dengan keterikatan jurig pada seorang nenek tua renta yang tinggal di desanya. 

Dendam pun semakin merajarela diantara banyak warga desa, yang terus menerus mencari sang nenek bersama suaminya, yang sama-sama sudah renta. Namun, keduanya terus melarikan diri, hingga akhirnya beberapa warga (yang cukup muda dan beringas) perlu menyewa seorang dukun.

Dukun yang sama beringasnya, ternyata memiliki kemampuan untuk melacak, mengejar, serta menjerat sepasang suami-istri tua renta tersebut. Setelah tertangkap, warga pun siap membakar sang nenek yang 'belum disidangkan' dan 'hanya dituduh sebagai jurig.'

Namun, kisahnya tidak berakhir begitu saja. Hantu lainnya yang lebih berbahaya, berjenis nama spesies Ha Gom pun muncul dari kisah rakyat tradisional Thailand. Konon katanya, Ha Gom hanya muncul akibat keserakahan manusia dalam berandil semasa hidupnya (dengan bonus teror).

Bagaimana akhirnya? Coba sajikan saja petuahnya di sinema-sinema Indonesia yang gelap-gemerlap.

Adaptasi Gim Horor di Sekuel Film Five Nights at Freddy's 2

 

Si Bebek yang akhirnya debut juga di FNAF (IMDB).

Okeh, dari ranah aksi, sekarang kembali ke film horor ala Hollywood yang lebih mengisahkan adaptasi dari sebuah game terkenal di masa lalu yang indah terkemuka , berjudul Five Nights at Freddy's, yang kini muncul sekuelnya dengan tambahan 2, dan sedang tayang di banyak sinema Indonesia. 

Video Gim Five Nights at Freddy's memang sebenarnya cocok ditujukan bagi sedikit kalangan, alias T (Teenager), alias Remaja (R13+) jika dibahasa Indonesia-kan. Banyak isinya lebih mengemukakan banyak jumpscare (alias kaget yang muncul akibat adegan mengejutkan di depan layar).

Namun, gim yang rilis pada tahun 2014 ini dan dibuat oleh seorang developer solo karir, bernama Scott Cawthon, justru meramaikan kembali subgenre naratif dan teka-teki bertipe Point and Click. Gim berjenis ini lebih mengedepankan cerita langsung, dimana karakternya hanya bergerak jika diklik layarnya, serta tanpa aksi yang begitu kentara.

Ranah sub-genre ini sebenarnya telah ramai sejak kemunculan gim di PC (alias komputer pribadi), namun hilang pamornya semenjak PC dan Konsol memiliki kontrol yang lebih baik. Tetapi, ranah ini tetap diramaikan dengan game buatan dari engine Flash, saat jaman mulai ramainya internet lambat di awal tahun 2000an lalu. Sementara di dunia belahan lain, Point and Click digantikan oleh sejenis Visual Novel, yang ramai di Jepang, sejak perkembangan awal gim hingga sekarang.

Di AS sendiri, ramainya Sub-Genre Point and Click sempat diramaikan kembali oleh serial gim The Walking Dead, yang diproduksi oleh TellTale Games, dengan bonus mekanik yang lebih interaktif. Namun, studio ini tidak bertahan lama, karena biaya produksi yang tinggi akibat grafik, animasi dan pengisi suaranya. Untungnya, sub-genre ini mulai ramai kembali, dengan banyak mengesampingkan perkembangan grafik dan pengisi suara, yang cukup mahal bagi para pengembang video gim.

Five Nights at Freddy's alias FNAF layaknya melanjutkan kembali kengerian game santai ala terdahulu, yang memang sempat ramai di awal 2000an dengan viralnya gim berjudul Slenderman, yang lalu dilanjutkan animonya di dunia industri video gim. Gim FNAF (Five Nights at Freddy's) pun telah mencapai empat sekuel dari game pertamanya, yang dirilis mulai tahun 2014, 2015, dan 2016 dengan sub-judul Sister's Location.

Okeh, kembali ke filmnya yang dahulu kala dirilis pada tahun 2023 lalu, berjudul yang sama pula, yaitu FNAF (saja ya). Film pertamanya lebih mengadaptasi latar belakang gimnya, yaitu kisah seorang satpam penjaga malam hari, di sebuah wahana animatronik (pada siang harinya). Namun, di malam hari, seluruh animatronik (sejenis robot) malah meneror dirinya. 

Berbeda dengan kengerian di gim-nya, filmnya lebih jelas pergerakan karakernya, karena tidak terlalu terkunci di satu ruangan serta beberapa ruangan lainnya saja. Tokoh utamanya harus berjibaku di seluruh gedung, sementara animatronik berbentuk beruang, bebek, kelinci dan banyak lucu-lucuan imut ngeri lainnya berkelakar dengan semaunya. 

Produsernya pun berasal dari sineas yang hobi robot lainnya, yaitu waralaba film M3GAN dengan kerjasama studio produksi film paling sibuk di ranah horor Hollywood, yaitu Blumhouse. Sayangnya, para sineas ini kembali di sekuelnya pada tahun 2025 ini dengan judul tambahan dua saja. Tentu bersama tokoh utamanya yang masih belum jera pula, yaitu Mike (Josh Hutcherson) dan Abby (Piper Rubio) sang gadis kecil.

Dan kali ini, animatronik yang terkenal suka menculik anak layaknya badut (jelek) di film IT (2017;2019), mulai mengambil langkah luar biasa untuk melanglang-buana, yaitu membuat inovasi alias terobosan dengan keluar gedung asalnya, demi mendapatkan hati Abby seorang. 

Okeh, saatnya kembali menonton animatronik ngeri di sinema penuh teknologi aktif (ala hiburan badut) di Indonesia. Oh ya, sebelumnya di tahun inipun, ada sejenis film adapatasi yang agak mirip, yaitu Until Dawn di bulan April lalu (walau mekanik gim-nya jauh lebih interaktif dari FNAF).

Aksi di Perbatasan Soviet ala Sekuel Film Sisu: Road to Revenge

 

Aatomi Korpi yang heran mengapa truk tidak sekuat dirinya (IMDB).

Okeh, saatnya kembali ke ranah film aksi tanpa berpikir panjang dan membabi-buta, ala film berjudul Sisu: Road to Revenge, yang tentu sedang tayang di sinema terkayang Indonesia ini. 

Film ini adalah sekuel dari film sebelumnya berjudul Sisu di tahun 2023 lalu, yang dibuat oleh studio ternama, Stage 6 Film, dan didistribusikan oleh Lionsgate dari Hollywood. Karena itu, film pertamanya mendapatkan sanjungan sebagai aksi fantastis ala aksi brutal yang tanpa henti dan selalu high fever, layaknya ngimpi.

Namun, berbeda di sekuelnya kali ini, justru bekerja sama dengan Sony Pictures Entertainment sebagai distributornya, namun tetap mengisahkan karakter yang serupa tapi dari studio yang sama dan memang memiliki hak ciptanya.

Dalam film pertamanya, terlihat pada cuplikannya, tokoh utamanya bernama Aatomi Korpi (Jormi Tommila), yang baru saja menemukan sebuah setumpuk emas di lokasi berburu tambangnya. 

Namun, saat mengadakan perjalanan pulang, Aatomi malah dicegat oleh satu skuad pasukan Nazi, yang tengah membawa banyak tawanan perang. Tidak rela akan dieksekusi begitu saja, Aatomi melawan dan berhasil membasmi seluruh skuad, dan menyelamatkan tawanan yang ada. 

Aatomi Korpi sebenarnya bukan seorang warga biasa, namun mantan komandan dan veteran perang saat Perang Dunia 2 terdahulu. Setelah pensiun, dirinya menemukan bahwa kota kediaman serta seluruh keluarganya telah habis dibasmi akibat Nazi dan kegilaan perang disekitarnya. 

Aatomi yang ingin hidup menyendiri dan damai pun terpaksa beraksi kembali, akibat gangguan pasukan Nazi yang masih merajarela di sekitar kediamannya di Finlandia. 

Bahkan, Aatomi mempersenjatai seluruh tawanan Nazi (yang kebetulan sekawanan harem wanita) dengan senapan serbu otomatis, demi melindungi mereka sendiri. Satu wanita bahkan berkelakar, bahwa masa ini 'bukanlah siapa yang terkuat, tetapi tentang siapa yang tidak mengalah begitu saja,' alias SISU dari bahasa Finlandia.

Daaan, begitulah sinopsis film Sisu pertama, yang tentu masih bisa dicek di berbagai layanan siaran internet. Bagaimana dengan film keduanya yang membawa distributor berbeda? 

Nah, kalau di film keduanya ini, masih bersama anjing kesayangannya berwarna putih (yang sehat wal'afiat sejak film pertama), Aatomi tengah mengadakan jalan-jalan daratan (roadtrip) mengendarai truk barunya (yang entah dirampas darimana dan siapa) di perbatasan Uni Soviet.

Kali ini, targetnya adalah seorang petinggi KGB dari Uni Soviet, bernama Yeagor Dragunov (Stephen Lang). Setelah kekisruhan di film pertama, Aatomi tampaknya berhasil melacak operasi militer mana yang membasmi seluruh keluarga dan kediamannya. Dan, Yeagor Dragunov adalah seorang komandan yang sempat memimpinnya. Dan kali ini lagi, tujuannya bukan 'membersihkan sisa perang dan Nazi,' tetapi membalas dendam sepenuh amarah hati milik semuanya. 

Yeagor Dragunov tentu bukanlah orang biasa di KGB, dan tidak rela begitu saja ingin mengalah dari seorang pensiunan penuh murka dari Finlandia ini. Dengan peringatan dan bantuan dari sekawanannya di KGB, Yeagor menyiapkan banyak operasi serta perangkap untuk dapat 'menanggulangi' dendam kesumat masa lalu milik Aatomi. 

Sayangnya, kali ini seluruh perspektif (alias sudut pandang) film diarahkan melalui posisi karakter Yeagor Dragunov. Seluruh aksi tembak menembak, bantai membantai, dan buyar meledak kini terlihat dari pandangan mata sang Yeagor. Kemunculan Aatomi Korpi pun layaknya seorang monster buas beringas, yang muncul tanpa peringatan dengan berbagai keahlian liarnya di jalanan perang.

Padahal, Yeagor Dragunov adalah seorang yang diminta KGB untuk membasmi seluruh kegilaan Aatomi Korpi. Namun, dirinya yang sudah jelas lebih banyak durasi adegannya, harus berjibaku dengan posisi karakternya yang jelas-jelas sudah lumrah dianggap antagonis.

Okeh, silahkan nikmati saja hingar-bingar ala aksi dari Eropa sana yang belum move-on dari Perang Dunia terdahulu di film Sisu: Road to Revenge. 

27 November 2025

Ngerinya Dikejar Masa Lalu ala film Legenda Kelam Malin Kundang

 

Amak dan Alif yang terpisah oleh cahaya di area kelam (TMDB).

Dan akhirnya, kembali ke kegalauan ala Indonesia banget, dengan dirilisnya film berjudul mirip dengan cerita dongeng Nusantara, berjudul Legenda Kelam Malin Kundang

Film yang sedang tayang di sinema-sinema ini memang mengadaptasi dari sebuah dongeng rakyat terkenal di Indonesia, yang mengisahkan sebuah cerita 'anak durhaka.' Namun, jika ditelaah dari segi adaptasinya berlatar jaman modern, dengan pembawaan dunia yang telah berbeda, tentu perlu diperkenalkan kembali.

Cerita rakyat ini aslinya berasal dari ranah Minang, alias Sumatera Barat sana, mengisahkan tentang seorang anak durhaka, bernama Malin Kundang. Sang anak terpaksa merantau, namun justru setelah sukses, melupakan ibunya sendiri, dan tidak pernah pulang mudik untuk silaturahmi.

Ada satu kekhasan dari Minang itu sendiri, dimana saudaranya memang harus diingatkan, agar ingat kepada keluarga di rumah. Entah apa bahasa Minang-nya, tapi yang pasti, jika ada keluarga yang tengah merantau, akan dipantau langsung oleh keluarga lain yang telah merantau sebelumnya. 

Namun yang memantau telah hidup jemawa dan menetap permanen di wilayah barunya. Mungkin, memang mengingatkan cerita rakyat ini, atau sudah bawaan dari budaya Minang-nya itu sendiri. Alias, istilah kekeluargaan Indonesia, 'jangan bagai kacang lupa akan kulitnya.' 

Bahkan, budaya Jawa yang suka merantau saja tidak sespesifik itu. Biasanya, warga Jawa jika merantau memang memilih untuk menetap permanen. Alias 'dimana bumi dipijak, disana langit diunjung.'

Naaaaah, tetapi bagaimana dengan pembawaan jaman modern sekarang? Itulah yang menjadi 'heran tersendiri' dengan film Malin Kundang ini (P)

Mengingat bahwa banyak situs lowongan kerja, lokasi kantor, serta personalianya, yang justru 'mengedepankan' rantau mania (!) Entah skema dari mana, tetapi mungkin mengacu pada pemerataan Sumber Daya Manusia yang menyeluruh di Nusantara.

Padahal dari segi bahasa, budaya, koneksi kerja, spesifikasi pekerjaan, lokasi sekolah dan kampus, lokasi tempat tinggal, SDM Lokal, dan bahkan keuangan (!) sama sekali tidak masuk dinalar (!) 

Penulis malah teringat, jaman lowongan pekerjaan saat ini, layaknya kembali ke jaman eksplorasi Eropa, alias berujung kolonialisme beberapa abad yang lalu (!) Mungkin, itulah maksud bahwa Indonesia masih dalam istilah 'Mental Terjajah.'

Okeh, sudah terlalu berat, saatnya kembali ke film Malin Kundang saja ya, yang memang terpaksa merantau akibat perlu mencari uang. Walau ya, berbeda sih di film ini, Malin (?) justru harus merantau akibat keadaan di rumah yang sulit, dari segi keharmonisan dan keuangan pula (!)

Sinopsis Film Legenda Kelam Malin Kundang

Alif (Rio Dewanto) adalah seorang anak remaja, yang terpaksa melarikan jauh dari rumahnya di tanah Minang. Ayah dan Ibunya sering cekcok, bahkan berakhir KDRT, yang menyebabkan tangan ibunya berdarah akibat sabetan pisau.

Alif yang sudah tidak tahan, akhirnya melarikan sendiri ke kota besar alias Jakarta. Tidak berapa lama, Alif yang hidup bagaikan Anjal (anak jalanan) pun mendapatkan belas kasihan dari Nadine (Faradina Mufti) dan ayahnya. 

Selain diberi makan, Alif diminta untuk membantu ayah Nadine di galerinya. Alif yang ternyata berbakat, akhirnya berhasil diajari oleh ayah Nadine. Alif pun sukses sebagai pelukis mikro terkenal di Jakarta.

Alif masih terpukau dengan kebaikan mereka, lalu membina hubungan spesial dengan Nadine saat beranjak dewasa, yang berujung keduanya menikah dan memiliki anak. 

Tiba-tiba, ibunya Alif yang sudah tidak lama bertemu, Amak (Vonny Aggraini) memutuskan datang berkunjung. Dengan cepat setelah tiba, ibunya pun berkelakar, bahwa dirinya takut Alif terkena kutukan Malin Kundang, sang anak durhaka dari cerita rakyat Minang. 

Namun, secepat itu pula Amak segera meninggalkan rumah kediaman Alif dan keluarganya. Alif panik, dan merasa jengah dengan keadaan rumah yang tiba-tiba horor. Bahkan, Alif perlu kembali ke rumah lamanya, demi menemukan arti dan maksud dari semua ini.

Apakah memang keadaan aneh itu ada di dalam diri Alif dan keluarganya? Atau hanya halusinasi semata akibat terkejut dengan rasa dikejar masa lalu?

Jawabannya tentu bisa diresapi di Paririmbon ala sinema Indonesia.

Galaunya Bekerja Sebagai Guru di Kota Besar ala Film Belum Ada Judul

 

Umar Bakri yang heran mengapa perlu viral kontroversial (TMDB).

Naaah, saatnya film yang berkisah tentang guru kembali, di film berjudul Belum Ada Judul, yang kini tengah tayang di sinema Indonesia.

Sebelum menanggapi filmnya, dimana tokoh utamanya bermasalah akibat viral setelah menampar siswanya di sekolah, mari kita cek kasus sebelumnya (yang entah mengapa baru-baru ini terjadi). 

Sebelumnya pada Oktober lalu, ratusan siswa mogok belajar di salah satu SMAN, tepatnya di Provinsi Banten. Masalahnya pun nihil, akibat kepala sekolahnya menampar seorang siswa yang merokok di wilayah sekolah, lalu didispensasi untuk tidak bisa bersekolah (sementara).

Lucunya, banyak siswa di sekolah tersebut malah unjuk rasa, lalu mogok sekolah, demi mendukung siswa yang jelas-jelas bersalah. Tampaknya jaman 'bendera bajak laut' kini telah merubah banyak pandangan 'generasi doomscrolling' saat ini.

Terasa bodoh memang, dan tampaknya cocok bagi yang terbawa konten dan tiba-tiba ingin membakar gedung DPR. Ada pula kasus bakar-membakar lainnya, tapi tidak layak dibahas akibat langsung mengacu pada terorisme.

Walau pihak sekolah memang tidak layak melaksanakan kekerasan sebagai hukuman pada siswanya, tetapi efeknya justru harus ditelaah kembali. Mengapa perlu melawan dengan mendukung yang bersalah? Apakah memang hidup hanya untuk 'troll' saja?

Sempat terjadi di pengalaman pribadi terdahulu, seorang 'reman sekolah,' yang datang telat sambil mabuk ke sekolah. Dia pun langsung didispensasi, tidak boleh masuk sekolah selama satu minggu. Kisah tersebut hanya menjadi bahan obrolan, sementara siswa yang sering menongkrong kembali santai, sambil merokok di warung sekitar sekolah (P)

Bukannya menghalalkan kenakalan remaja, namun apa memang perlu terbawa-bawa oleh urusan yang jelas beresiko lebih? Aneh memang, dan tetap saja berharap bahwa kasus tersebut hanyalah sebuah anomali saja.

Okeh, sudah terlalu aneh, coba dicek saja sinopsis film Belum Ada Judul ini, yang memberi nama karakter utamanya Umar Bakri. Film ini mengundang pula sang legenda nasional, Iwan Fals, yang pernah mengumandangkan lagu dengan nama yang sama. Mantan Wakil Gubernur Jawa Barat, Deddy Mizwar pun berkecimpung dalam film ini.

Sinopsis Film Belum Ada Judul

Umar Bakri (Bucek Depp) adalah seorang guru yang berbakti dan antusias dalam mengajar. Di saat banyak guru yang sulit meraih hati muridnya, justru Umar Bakri adalah seorang guru idaman siswa di sekolahnya.

Namun, masalah pun tiba-tiba menerpa dirinya. Saat tengah memarahi Marlon (Zeyn Arsa Datau), dan saking marahnya hingga menampar, ternyata dirinya terekam oleh muridnya yang lain, yaitu Maria (Aisha Nurra Datau).

Maria memang seorang siswa yang hobi siaran langsung di sekolahnya, sehingga 'adegan kekerasan' guru serta siswanya langsung viral, tanpa dapat dihapus terlebih dahulu.

Saking viralnya, kisah kekerasan Umar Bakri dijerat dalam sebuah sidang hukum oleh pengadilan setempat. Umar pun merasa sakit, hati, pikiran, serta fisik, karena satu kesalahan membuat dia beresiko kehilangan pekerjaan impiannya. Bahkan Maria yang tanpa sengaja memviralkan video tersebut, menyesal, karena Umar adalah satu guru idolanya di sekolah tersebut.

Umar pun berjibaku, bahkan memohon kepada kepala sekolahnya, Dewantoro (Surya Saputra), untuk meminta maaf terlebih dahulu kepada siswanya, sebelum berhenti menjadi guru. Sayangnya, Umar Bakri masih memiliki tanggungan sebagai seorang duda, yaitu anaknya Magda (Arla Ailani), yang telah berumur 17 tahun dengan penyakit Polio-nya.

Sanggupkah Umar Bakri melewati semua cobaan ini? Ataukah ada mukjizat yang membantu posisi dirinya?

Jawabannya tentu ada di sinema-sinema Indonesia.

Sedihnya jadi Operator Sabit Merah Palestina di Film Voice of Hind Rajab

 

Almarhumah Hind Rajab Hamada (TMDB).

Okeh, sekarang saatnya sebuah film yang berdasarkan kisah nyata di Palestina, berjudul Voice of Hind Rajab, yang kini sedang tayang di sinema-sinema Indonesia.

Daripada membahas kerusakan dan mirisnya Palestina, yang kini sudah terlihat pincang dan hancur lebur, mari kita lihat saja dari segi agama sebesar Yahudi. 

Tentu, penulis ingin menghindari seluruh kisruhnya perang, yang hanya mementingkan sensasi gelut perang modern, tanpa unsur manusiawi dan solusi, layaknya politisasi.

Warga Israel dan ZIONIS

Tentu seluruh dunia tahu, tentang kisrush di perbatasan Palestina, yang wilayahnya banyak bermasalah akibat Israel. Tentu banyak yang tahu juga, bahwa Israel sebenarnya hanya sebuah 'proyek' pecicilan dari negara-negara besar dunia, akibat masalah mereka sendiri dengan Yahudi.

Belum dapat dikonfirmasi langsung, tetapi tampaknya banyak warga Yahudi di seluruh dunia langsung diakui sebagai warga Israel, sebuah negara yang mungkin 'jadi atau tidak.'

Banyak warga Yahudi seluruh dunia, yang mau dan tak mau untuk menjadi warga Israel. Banyak yang memanfaatkannya hanya sebagai jalur karir, sementara menunggu 'amannya' negara di penghujung laut Mediterania ini.

Sementara banyak warga lainnya yang terpaksa memiliki dua kewarganegaraan, yaitu negara asalnya dan Israel. Jika sering membaca berita dari Eropa, pasti sering mendengar korban kecelakaan dari Israel, atau warga Israel yang rusuh saat kompetisi olahraga (khususnya sepakbola).

Entah memang masalah mereka yang begitu fanatik dengan Israel, atau memang cara 'troll' terakhir mereka. Memang, dari segi kewarganegaraan, mereka 'aslinya' adalah warga Israel, padahal telah tinggal di banyak negara Eropa selama beberapa generasi lamanya. Media pun 'mendukung' dengan memasukkan nama mereka sebagai 'warga Israel,' saat kisah mereka masuk berita.

Dan ini bukanlah urusan logika semata, tetapi urusan administrasi, hukum, dan kewarganegaraan, yang tentunya berefek pula pada segi urusan sipil setiap warganya. Dan dari segi tersebut, Israel selalu menang dan didukung oleh banyak pemerintah negara Eropa, dengan mengesahkannya. 

Jadi, mungkin kisah kekisruhan 'warga Israel' di Eropa, adalah bentuk 'ekspresi depresi terakhir' warga yang terpaksa diaku sebagai bagian dari ZIONIS. Mungkin patut dipertanyakan, bagaimana rasanya lahir, tumbuh, sekolah, hingga bekerja dan berkeluarga di Italia (contohnya), tetapi memiliki KTP bertuliskan 'warga Israel.' 

Okeh, saya tidak mendukung sama sekali Israel dan pergerakan ZIONIS-nya, tetapi dari segi ranah sipil, tentu suatu bentuk 'kegalauan administratif.' Dan tentu, urusan sipil adalah 'sisa' dari suatu perang, yang jika dilihat dari sejarahnya, telah menjadi urusan masalah setelah 'drama perang' sejak ribuan tahun lalu (!)

Terlebih lagi, coba diingat, bagaimana warga Indonesia yang dulunya sempat mendukung Partai Komunis Indonesia (PKI). Saat perubahan kepemimpinan Soekarno menjadi Soeharto, dengan kisruhnya G30SPKI, setelahnya adalah 'kisah miris administratif lainnya.' Banyak anak-anak keturunan pendukung PKI, tidak memiliki KTP, alias tidak dianggap sebagai warga negara Indonesia (!) Entah sekarang bagaimana, karena tidak terdengar kabarnya sama sekali.

Organisasi Kemanusiaan di Palestina

Sayangnya, kisruh antara 'warga Israel' dan negaranya, perlu mengorbankan banyak jiwa di 'tanah yang dijanjikan,' yaitu wilayah Palestina. 

Setelah banyak konflik dengan berbagai negara Timur Tengah, diantaranya adalah Mesir, Suriah, Irak, dan Yordania, Israel akhirnya semakin menjurus pada 'wilayahnya sendiri,' yaitu Palestina.

Palestina pun kini terbagi dua, yaitu wilayah yang cukup padat dan maju, yaitu Pesisir Barat dengan Otoritas Palestina dan dukungan Hizbullah dari Yordania, serta wilayah terpisah di pesisir Mediterania, yaitu Jalur Gaza.

Banyak organisasi kemanusiaan dari seluruh dunia, contoh terbesarnya adalah UNWRA (Badan Bantuan dan Pekerjaan untuk Pengungsi Palestina dari PBB), Red Cross (Palang Merah Internasional), dan Red Crescent (Sabit Merah dari Timur Tengah).  Seluruh organisasi kemanusiaan berpusat dan memiliki jalur suplai dari Pesisir Barat Palestina, namun lebih banyak beroperasi di Jalur Gaza yang 'keramat.' 

Dan itulah, yang menjadi fokus pada film Voice of Hind Rajab ini. Jika menonton cuplikannya, justru banyak adegan para operator organisasi kemanusiaan Sabit Merah, tanpa ada sensasi 'perang dan kekerasan.' Justru, lebih banyak dialog antar karakternya, dengan fokus paling ngeri dengan telepon permintaan tolong, dari seorang anak yang terjebak di Jalur Gaza.

Oh ya, film ini dipuji karena memadukan Dramatisasi dan Realitas kenyataan di Pesisir Barat dan Jalur Gaza Palestina, dengan fokus organisasi kemanusiaan yang terus berjibaku untuk membantu korban kekisruhan ini.

Nama Hind Rajab pun adalah seorang nama warga asli Palestina, yang suaranya terrekam saat panggilan darurat kepada Sabit Merah, dan dilampirkan langsung dalam film ini. Alias, suara asli Hind Rajab dapat terdengar, dan film ini diadaptasi dari kisah nyata.

Sinopsis Film Voice of Hind Rajab

Organisasi Sabit Merah (Red Crescent) kini berpusat di Ramallah, Pesisir Barat Palestina. Setiap hari, mereka berjibaku dengan laporan permintaan tolong dari banyak wilayah di Palestina.

Omar A. Alqam (Motaz Malhees) adalah seorang operator, yang bekerja untuk menerima seluruh panggilan telepon, sekaligus mengkoordinasi operasi Sabit Merah dari kantornya.

Suatu hari, suatu panggilan telepon dari seorang anak, menyebabkan perubahan di ruang kantor. Anak berumur lima tahun tersebut mengenalkan diri sebagai Hind Rajab Hamada, yang rumahnya diserang oleh pasukan Israel. Bahkan, Hind Rajab menyatakan bahwa tank kini sedang liar di sekitar rumahnya.

Omar pun meminta Mahdi M. Aljamal (Amer Hlehel), untuk segera mengirimkan ambulan bantuan. Namun, Mahdi meminta kepastian, bahwa jalur menuju rumah Hind Rajab, haruslah aman untuk evakuasi.

Omar bersikukuh bahwa delapan menit cukup untuk dapat  mengevakuasi Hind Rajab. Namun, Mahdi tetap menolaknya, dengan mencontohkan belasan anggota regu penyelamat Sabit Merah, yang meninggal akibat kurangnya koordinasi di lapangan.

Bersama operator lainnya, Rana Hassan Faqih (Saja Kilani) dan Nisreen Jeries Qawas (Clara Khoury), keempat anggota Sabit Merah ini hanya dapat mengajak ngobrol dengan Hind Rajab, sambil menunggu kondisi lebih aman untuk evakuasi.

Bagi yang pernah mengecek latar film ini, tentu mengerti bagaimana kisahnya berakhir. Miris, tetapi perlu dicek sebagai pengingat rasa kemanusiaan kita saat ini dan kedepannya.