10 Maret 2026

Sulitnya Menjaga Bisnis Keluarga Ala Film Senin Harga Naik

 

Toko Roti Mercusuar yang masih buka (TMDB).

Naaah, film terakhir mengenai slice of life ini, berjudul Senin Harga Naik, yang tayang di sinema Indonesia dengan rating Semua Umur (SU). Seperti diutarakan sebelumnya, film ini kelanjutan yang multiversal, alias berbeda film tetapi saling mengisi satu sama lainnya. 

Ya, film ini berkisah perlunya melanjutkan karir atau berhenti di bisnis keluarga. Animo yang mirip dengan tokoh film sebelumnya, yang memilih menjadi Kang Mie Ayam daripada menjadi pegawai kantoran. Sebelumnya pun, diawali dengan film yang rewel anaknya saat akan masuk sekolah. Kali ini, mengenai bisnis toko roti milik ibunya, yang berhasil menyekolahkan ketiga anaknya, dan kini diurus dengan bantuan si bungsu.

Animo Bisnis Keluarga Indonesia

Animo seperti ini memang banyak dialami oleh pemuda-pemudi Indonesia, yang harus memilih antara melanjutkan pendidikannya menuju jenjang karir, atau mulai memangku bisnis keluarga. Bahkan banyak sekali konten viral, yang menguak masalah tersebut.

Tentunya perlu diingat pula saat pertengahan 2010an lalu, saat internet dan medsos memudahkan urusan ramai nan viral. Saat tersebut tidak banyak orang yang ingin viral dan 'di-push' kontennya, sehingga memicu banyak warta serta media untuk meliput keanehan warga. 

Contoh awalnya, adalah  gadis cantik yang menjaga warung makan di Jawa Barat. Sasa Darfika adalah seorang lulusan mahasiswi kebidanan, yang membantu bisnis warung makan keluarganya di Majalengka, pada tahun 2015 lalu. Saking cantiknya, Sasa di-viralkan sebagai penjaga warung yang cantik. Kini, Sasa muncul sebagai selebgram dengan dukungan viralnya, di Instagram.

Contoh berikutnya tiba dari tahun 2020 lalu, saat sosok gadis cantik bernama Intan R Sintia Rose mulai viral saat menjaga warung kopinya di Cianjur. Mahasiswi di satu kampus Cianjur ini, awalnya hanya iseng ngonten di TikTok. Hingga akhirnya viral sendiri atau bantu di-viralkan, sosok Intan terkenal sebagai gadis sederhana yang cantik nan jelita. Sering muncul sebagai selebgram di Instagram, Intan masih ingin bekerja sebagai guru.

Ya, walau terdengar seperti lucu-lucuan viral ala media sosial dan warta, tetapi wacana ini dilanjutkan dengan agenda tersendiri dari media massa. Banyak kajian dari jurnalistik, yang mengemukakan sulitnya mencari pekerjaan bagi generasi milenial hingga gen-z dari kelas menengah. Sehingga, mereka perlu melanjutkan bisnis orangtuanya, atau bahkan memulai wirausaha sendiri.

Nah, animo inilah yang menjadi drama khusus di film Senin Harga Naik. Tokoh utamanya pun yang bernama Mutia (Nadya Arina), adalah seorang gadis cantik yang sukses berkarir, namun masih galau mengenai keadaan bisnis keluarganya, yang kini masih dilangsungkan oleh ibunya. Apalagi, Mutia berlatar pekerjaan di bisnis dan pemasaran, yang cocok dalam melanjutkan toko roti milik keluarganya.

Mungkin perlu diutarakan dari pendapat tersendiri, bahwa pilihan ini cukup sulit. Penulis yang mengenal bisnis keluarga hanyalah grosir, berpikir bahwa urusan ini memang cukup banyak pertimbangan. Lokasi gudang yang dimiliki oleh keluarga besar, sementara pekerjaan yang menguras tenaga, kondisi kesehatan yang makin sulit, serta minat dan kemampuan pribadi yang kurang cocok, adalah berbagai pertimbangan pribadi dalam melanjutkan usaha keluarga ini.

Jadi, hidup adalah pilihan, sementara meninggal adalah mutlak, dan yang mengatur takdir hanyalah Tuhan semata. 

Sinopsis Film Senin Harga Naik

Mutia Soejono (Nadya Arina) telah tiga tahun meninggalkan rumahnya. Selama ini dia berkarir di perusahaan properti bernama Buana Group, dengan slogannya 'Senin Harga Naik.' Buana Group sedang memulai proyek pembebasan lahan, yang diberikan kepada Mutia. Namun, lahan yang akan dibebaskan adalah lokasi dimana keluarganya tinggal, dan memiliki usaha bernama Toko Roti Mercusuar. 

Mutia pun teringat, bahwa dirinya tidak pulang ke rumah selama tiga tahun, akibat bertengkar dengan ibunya, Retno (Meriam Bellina). Keduanya berseteru, akibat Mutia yang tidak ingin melanjutkan usaha keluarga. Selama ini, usaha bernama Toko Roti Mercusuar tersebut, dikerjakan oleh Retno, adik bungsunya bernama Tasya (Nayla D. Purnama), dan Rani (Aci Resti).

Mutia perlu kembali pulang, demi mengabarkan perihal sedih ini dan membantu ibunya untuk segera pindah. Karena komunikasi yang sulit, maka Mutia meminta bantuan kakaknya, Amal (Andri Mashadi), yang telah menikah dengan Taris (Givina Lukita), dan memiliki anak bernama Alviero (Adam Xavier). Lalu keduanya membujuk ibunya, untuk segera menjual tanahnya serta pindah ke rumah Amal.

Retno yang masih bersikeras untuk melanjutkan usahanya, tetap menolak wacana tersebut. Kerasnya Retno, menyebabkan kakak-beradik ini semakin risau, karena wacana pembebasan lahan tentunya akan terus dilaksanakan. Apalagi tekanan dari lingkungan sekitar, yang tentu masih mempertimbangkan wacana tersebut.

Apakah Retno akan luluh dan menjual tanahnya? Atau malah Mutia yang berhenti melanjutkan proyek dan memilih bisnis keluarga? Bahkan lingkungan sekitar ikut setuju bersama untuk menolak pembebasan lahan?

Jawabannya, tentu ada di potensi viral bisnis keluarga ala sinema Indonesia.

Menjaga Potensi Keluarga Ala Film Tunggu Aku Sukses Nanti

 

Arga dan keluarganya yang sangat menempel erat (TMDB).

Berikutnya adalah film remaja berjudul Tunggu Aku Sukses Nanti, yang tayang menjelang Lebaran di sinema Indonesia. Ya, film ini memang memiliki rating R13, dan cocok bagi yang galau pas Lebaran nanti. 

Cocok dengan tema film sebelumnya, film ini mengisahkan tentang apa yang terjadi setelah lulus sekolah nanti. Ya, tokoh utama dalam film ini sempat menganggur (kerja resmi) dalam waktu lama, dan memilih berwirausaha sebagai Kang Mie Ayam selama tiga tahun lamanya. Memang bukan keseharian biasa, karena momennya tepat saat kumpul keluarga besar yang penuhrasa cemas.

Arga dan Mie Ayam

Membahas Arga (Ardit Erwandha) yang sering menjadi cibiran keluarga, akibat nilainya yang jelek saat kecil, hingga perlu menganggur setelah lulus kuliah, mungkin menjadi perihal masalah bagi banyak pemuda-pemudi saat ini. 

Apalagi, banyak mahasiswa dan mahasiswi saat ini, yang perlu langsung mengikuti jenjang pendidikan S2, demi lebih mudah mendapatkan pekerjaan. Ssetelahnya, mereka malah membangun sejenis startup atau UKM, setelah banyak berkenalan dengan teman se-profesi di kuliah magister ini. 

Kembali ke soal pengalaman dan biaya, para pemuda-pemudi ini perlu dukungan tambahan untuk mengikuti jenjang S2, hingga memulai usahanya. Maka, latar keluarga adalah solusinya.

Nah, itulah yang terjadi pada Arga dalam film ini. Dirinya yang sulit mendapatkan pekerjaan, memilih untuk berjualan Mie Ayam. Bahkan terdapat satu adegan lucu pada cuplikannya, saat Arga ditanya oleh personalia mengenai pengalamannya selain masak mie ayam. Arga akhirnya menjawab, bahwa pengalamannya lainnya adalah masak pangsit (kering atau basah) yang tidak ada hubungannya. 

Penulis pun merasa heran, karena Mie Ayam adalah salah satu favorit pribadi. Entah kenapa, pangsit (basah atau kering) sering tidak dimasukkan ke dalam menu mie ayam. Padahal, enak banget loh...

Ada satu adegan pecicilan lain yang menarik dari cuplikannya. Yaitu saat Arga bercerita tentang sulitnya mencari kerja kepada temannya yang sudah diterima kerja, Mereka langsung berpendapat bahwa karakter Arga harus sedikit dirubah. Ya, sering banget penulis mendengar komentar seperti ini saat menjelang kelulusan terdahulu, yang entah apa maksudnya karena gak jelas sama sekali (?).

Oh ya, ada satu adegan yang perlu ditelaah, yaitu kehadiran cameo Afghansyah Reza dalam film ini sebagai karakter Dwiki. Bagi yang mengenalnya (apalagi ibu-ibu), tentu tahu se-ganteng dan se-keren apa aktor dan penyanyi yang satu ini, yang sempat naik pamornya saat awal 2010an lalu. 

Oh ya (lagi), karakter Dwiki telah bekerja di SCBD, alias Jalan Sudirman di Jakarta yang terkenal dengan pusatnya di Bundaran HI. Lokasi perkantoran yang sangat bergengsi, yang entah kenapa Arga perlu mengejar karirnya sejauh dan setinggi itu (?).

Walau begitu, Tante Yuli (Sarah Sechan) yang sering mencibir Arga dalam momen kapan pun juga, ternyata memberi nasihat yang baik. Yaitu Arga seharusnya berprinsip untuk membantu, dan bukannya menjadi pembantu. Ya, nasihat yang cukup mendalam, apalagi di jaman pencari kerja saat ini.

Yah, ada sih satu lagi, yaitu istilah 'kapan kawin' saat kumpul keluarga sedang dilaksanakan. Tetapi, animo yang satu ini perlu dijelaskan dalam sinopsisnya saja ya... (serius, film ini Indonesia banget)

Sinopsis Film Tunggu Aku Sukses Nanti

Arga (Ardit Erwandha) sudah tiga tahun menganggur lamanya. Selama ini, dia bekerja sebagai Kang Mie Ayam Bu Rita, yang kurang porsi pangsitnya. Sudah terbiasa sejak kecil, Arga memang menjadi cibiran keluarga besar saat kumpul. Apalagi, saat ini keluarga utamanya memang masih menumpang di rumah nenek, tidak seperti paman dan bibinya yang telah tinggal terpisah.

Keadaan rumahnya pun semakin memburuk, dengan adiknya yang bernama Alma (Adzana Shaliha), berpotensi terpaksa berhenti kuliah akibat biaya. Ayahnya (Ariyo Wahab) bahkan perlu menjual motor, demi menambah biaya kuliah Alma. Bahkan saking butuh biaya, keluarga dan keluarga besar berencana untuk menjual rumah kediamannya, demi mengisi kebutuhan sehari-hari.

Sementara itu, Arga pun masih berencana untuk mengawini pacarnya, karena sudah lama saling mengikat hubungan.

Sanggupkah Arga melewati seluruh masalah tersebut? Akankah Arga diterima kerja dan membantu keluarganya? Atau malah beralih memfokuskan bisnis Mie Ayam-nya hingga sukses dan makmur?

Jawabannya, tentu ada di drama keluarga nan kocak dan terenyuh ala sinema Indonesia.

Pentingnya Tumbuh Kembang bagi Anak Ala Film Na Willa

 

Farida, Willa, Dul, dan Bud yang suka es krim (TMDB).

Ada tiga kombinasi film Indonesia yang tayang menjelang libur Lebaran. Karena temanya sangat mirip, dan jika dihubungkan ala 'timeline', maka terlihat seperti jalinan takdir multiversal (hah?). Cukup menarik, karena setiap judulnya memberi kisah sehari-hari (slice of life) yang sangat mengena, dan bahkan cukup dikenal setiap kalangan masyarakat Indonesia.

Sebenarnya terdapat pula judul keempat, namun karena bertema sains-fiksi dengan hebohnya efek spesial, maka tidak cocok sebagai kombo tiga film drama keseharian ini. 

Pertama adalah film yang cukup kentara permasalahannya di dunia nyata, berjudul Na Willa yang tayang di sinema Indonesia dengan rating Semua Umur (SU). Lucunya film ini, adalah mengisahkan tentang hebohnya anak, saat pertama kali mengikuti jenjang pendidikan sekolah. 

Bagi yang mengingatnya, pertama kali masuk sekolah pasti terasa aneh. Dari pengalaman penulis, masih ingat saat pertama kali masuk TK atau Sekolah Dasar kelas satu. Banyak anak menangis, sementara orangtuanya sedang menunggu di luar kelas dengan cemas. Suatu pemandangan mencengangkan, karena baru kali itu penulis melihat banyak anak kecil menangis bersama.

Oh ya, dalam cuplikannya banyak adegan yang menggambarkan tentang cara bermain anak, mulai dari bermain kelereng, layang-layangan, ayunan, hingga membaca buku. Penulis pun perlu berkomentar mengenai hal ini. Yaitu saat banyak konten dan game ponsel yang sangat menarik, namun di lingkungan RT sendiri, justru sedang 'hype' dengan balapan manuk (burung). 

Ya, sejenis japati (merpati) yang diterbangkan sepasang, lalu dibalapkan hingga satu keliling lapangan, adalah animo yang sedang ramai di sekitar rumah penulis. Pemainnya memang beberapa anak SD, yang tampaknya tidak begitu tertarik dengan maenan ponsel jaman sekarang. 

Yang menontonnya pun bukan hanya mereka, yaitu banyak pemuda-pemudi (tua) yang penasaran dengan aktifitas di sore hari ini. Sebelumnya, anak-anak tersebut lebih heboh dengan adu layangannya. Tampaknya, sudah bertahun-tahun mereka melaksanakan maenan 'offline' tersebut.

Psikologi Anak Tidak Mau Sekolah

Sebelum membahas kisah di film Na Willa ini, coba dicek dari psikologi anak. Seperti sudah diutarakan sebelumnya, penulis sempat heran dengan keadaan TK atau SD terdahulu, dimana banyak anak menangis bersama saat pertama kali masuk sekolah. Tentu bukan hal sepele, karena dapat menganggu suasana hati anak, serta tumbuh kembangnya.

Ya, film ini menggambarkan Willa (Luisa Adreena) sebagai tokoh utamanya, yang merasa kaget saat baru mau masuk sekolah. Lebih tepatnya lagi, saat banyak temannya yang tidak bisa bermain, akibat baru masuk sekolah.

Perasaan seperti ini, sempat dijabarkan dalam banyak kajian. Karenanya, dapat berakibat mogoknya anak untuk masuk sekolah. Walau terlihat rewel saja dan perlu dimarahi, para ahli yakin bahwa fase ini perlu ditanggulangi dengan baik.

Seperti dilansir dari Educenter, masalah anak tidak mau sekolah adalah akibat rasa takut dan gelisah, lalu kegiatan sekolah yang membosankan, serta terpisah dengan zona nyaman, alias jauh dari rumah, orangtua dan saudara dekat.

Cara terbaik untuk menanggulanginya menurut Fakultasi Psikologi dari UMK, adalah melatih anak secara bertahap. Yaitu tidak memarahi anak langsung, lalu dukung mentalnya dengan memberi semangat. Bangun rasa percaya diri anak dengan memuji saat berani bersekolah, dan menyelesaikan PR-nya. 

Karena itu, minat dan rasa nyaman anak dapat berkembang. Kemandirian bisa dilatih, karena anak adalah pribadi yang merasa dan berpikir, sehingga orangtua harus berkomunikasi dengan saling memahami.

Nah, bagaimana dengan kisah Na Willa ini? Coba dicek saja sinopsisnya, yang ternyata diproduksi oleh sineas perfilman terkenal.

Sinopsis Film Na Willa

Film Na Willa ini diproduksi oleh Visinema, yaitu Studio yang merilis Jumbo, Keluarga Cemara, dan Nussa. Tentu yang pernah menontonnya, tahu sehebat apa studio ini dalam membawakan cerita sehari-hari, yang menjadi kenangan indah dan heboh ala sinema. Bahkan terdapat banyak adegan, dengan efek spesial 3D yang ciamik, layaknya film animasi Jumbo di tahun kemarin.

Film ini diadaptasi dari buku novel berjudul sama, hasil karya Reda Gaudiamo yang dirilis dengan tiga judul, yaitu Na Willa: Serial Catatan Kemarin (2012), Na Willa dan Rumah dalam Gang (2018), serta Na Willa dan Hari-hari Ramai (2022).

Willa (Luisa Adreena) adalah seorang anak kecil yang belum masuk sekolah. Kesehariannya diisi dengan bermain bersama tiga temannya, yaitu Farida (Freya Mikhalya), Bud (Ibrahim Arsenio) dan Dul (Azami Syauqi). Mulai dari bermain kelereng, layangan, ayunan, hingga banyak mainan anak, selalu mengisi keseharian empat sekawan ini.

Hingga akhirnya Dul perlu masuk sekolah SD, yang diisi dengan banyak dasar Calistung dan PR-nya. Dul pun jarang ikut bermain, sehingga membuat Willa heran. Farida yang akan sekolah pun, sempat ditanya oleh Willa untuk masuk sekolah atau tidak. Menyusul Dul yang nantinya akan masuk sekolah juga.

Willa yang merasa kesepian, mulai gelisah. Bahkan sulit menerima keseharian dirinya yang kini kosong tanpa teman. Willa jadi rewel dan sering menangis, dan bahkan memicu kemarahan ibunya, Mak (Irma Novita Rihi). Mbok (Mbok Tun) memberi nasihat, bahwa Willa hanya merasa kesepian saja.

Nah, bagaimana dengan keseharian Willa yang semakin sepi saja? Sanggupkah Willa menerima kenyataan bahwa sekolah adalah tujuan berikutnya? Apakah perlu terus berdamai dengan perubahan yang tiba?

Jawabannya, tentu ada di sinema anak Indonesia.

09 Maret 2026

Mengenang Masakan Rumah Ala Ibu di Film Number One

 

Sosok anak dan ibu yang memasak bersama di dapur (TMDB).

Dan terakhir untuk film luar negeri menjelang Lebaran, adalah film yang sangat cocok untuk mengisi sisa Ramadhan ini. Judulnya adalah Number One, yang tayang di sinema Indonesia dengan rating umur R13.

Sesuai judul artikel, film ini berkisah rasanya menyicipi masakan rumah, yang dibuat oleh ibu sendiri. Dari segi ini, apalagi di bulan Ramadhan yang diisi dengan sahur dan berbuka, tentu sering mengonsumsi banyaknya masakan ibu di rumah.

Empat Sehat Lima Sempurna

Karena mengacu pada masakan rumah, dan penulis tidak akan membahas tentang resep sahur dan berbuka puasa, maka ditelaah melalui konsep pola makan saja.

Menurut penelitian yang dilansir dari Antara, masakan rumah memiliki index gizi lebih tinggi. Secara konvensional, semakin makmur hidup seseorang, maka semakin sehat pula dirinya. Namun menurut penelitian di AS sana yang dijabarkan oleh Arpita Tiwari, justru hasilnya berbeda dengan konsep tersebut.

Penelitian mengikutsertakan 400 warga Seattle dalam pola makan harian, lalu mengeceknya melalui Indeks Makan Sehat (IMS), dan hasilnya ternyata cukup mencengangkan. Nominal IMS yang mencapai angka 80, adalah tingkatan gizi baik. Sementara IMS yang berada dibawah 50, berarti gizinya buruk.

Mengacu pada ibu hingga nenek yang memasak tiga kali seminggu di rumah, justru menunjukkan indeks kesehatan rata-rata 67. Sementara yang memasak enam kali seminggu, mencapai index kesehatan 74. Itu berarti, semakin sering memasak dan melahap makanan di rumah, dapat mencapai pola makan dan gizi yang lebih sehat.

Indeks kesehatan biasanya berkaitan dengan penghasilan, pendidikan, dan status sosial. Namun ketiga faktor tersebut tidak dimasukkan dalam penelitian ini. Sehingga dapat disimpulkan sederhana, yaitu memperbaiki pola makan sehat dengan secara rutin memasak di rumah.

Kembali ke Indonesia, dan seperti menurut Kementerian Kesehatan, konsep empat sehat lima sempurna diterapkan untuk menjaga pola makan bergizi dan sehat. Makanan pokok sebagai sumber karbohidrat, lauk-pauk sebagai sumber protein, buah dan sayur sebagai sumber vitamin dan mineral, serta meminum air putih yang cukup, adalah faktor empat sehat lima sempurna. 

Konsep ini ditambah pula dengan beraktifitas fisik minimal 30 menit sehari, dan mencuci tangan dengan sabun pada air mengalir.

Nah, bagaimana dengan film Number One yang mengisahkan masakan ibu di rumah? Justru disitulah letak uniknya. Penulis sendiri tidak bisa menggambarkan banyak, karena genre selingan kehidupan (slice of life) memiliki khas drama tersendiri, yang hanya bisa diresapi saat langsung menontonnya. 

Sinopsis Film Number One

Film ini sebenarnya kerjasama antara Jepang dan Korea Selatan. Film diproduksi oleh sineas perfilman Korea Selatan, sementara naskahnya diadaptasi dari novel karya novelis Jepang bernama Sora Uwano, dengan judul The Number of Times You Can Eat Your Mother's Cooking is 328.

Ha-min (Choi Woo-shik) adalah seorang siswa berumur 18 tahun, yang tiba-tiba melihat angka imajiner lewat pandangannya. Setiap kali dia memakan masakan ibunya yang bernama Eun-sil (Jang Hye-jin), jumlah angka itu terus menurun. Hingga akhirnya angka tersebut mencapai nol, saat ibunya meninggal dunia.

Bertahun-tahun kemudian, belum ada yang tahu momen Ha-min saat melihat angka tersebut. Namun pacarnya yang bernama Ryeo-eun (Gong Seung-yeon), sempat bertanya apa yang membuatnya irit saat mengonsumsi makanan, bahkan saat keadaan pesta sekalipun. Ha-min terpaksa mulai berkisah, tentang kenangan lama sebelum ibunya meninggal.

Apakah Ha-min berhasil menguak apa dibalik maksud angka imajiner tersebut? Jawabannya tentu ada di pola makanan sehat ala sinema Indonesia.

Beruang Eksotis Ala Jackie Chan di Film Panda Plan: The Magical Tribe

 

Jackie dan Huhu yang senang lompat (TMDB).

Daaan, berikutnya adalah film remaja yang mengembalikan kemampuan aksi ala sepuh Jackie Chan, dalam film Panda Plan: Magical Tribe. Film yang akan tayang di sinema Indonesia menjelang libur Lebaran ini, memang memiliki rating R13.

Jackie Chan yang Akrobatik

Jika membahas film anak dan panda, tentu harus mengacu pada sang beruang anomali ini. Namun film Panda Plan lebih menggambarkan keahlian asli sang sepuh Jackie Chan, dengan gaya akrobatiknya. Jika ingin lebih menelaah tentang beruang hitam putih ini serta segala keanehannya, dapat dicek di artikel ini saja.

Cuplikan film pertamanya dari tahun 2024 saja, sudah cukup menarik. Jackie Chan disini berperan sebagai dirinya sendiri, alias aktor beladiri terkenal yang sudah sepuh. Bahkan, aksi gelut biasanya tidak keluar sama sekali, dan mengandalkan akrobatik situasional yang berujung komedi. 

Ya, film ini memang mengisi aksinya dengan gaya komedi yang khas sepuh beladiri dari China ini. Perlu diingat pula, bahwa Jackie Chan memang berlatar seorang pemain Opera Tradisional China, dan tidak memiliki latar beladiri. Sehingga cocok dengan aksi-komedi ini.

Di film Panda Plan pertama, Jackie sudah menjadi figur terkenal di China, dan tengah mengikuti sebuah acara pameran konservasi. Jackie pun digadang untuk mengadopsi seekor anak panda, yang akan dijaganya seumur hidup. Namun entah kenapa, terjadi serangan dari sekelompok kriminal, yang ingin menculik panda tersebut. Jackie dengan aksi khasnya, perlu melawan balik dengan kocak.

Nah di film keduanya bersub-judul Magical Tribe, diramaikan dengan bertualang di alam liar. Selain menyelamatkan Huhu sang panda kecil nan jinak, Jackie perlu melawan balik para suku pribumi di pedalaman. Gaya khas komedi-aksinya kembali, ala filmnya terdahulu. 

Tampaknya film Panda Plan ini mengacu pada satu film aksi Jackie Chan saat masih muda. Ya, judulnya adalah Who Am I? dari tahun 1998 lalu, saat Jackie memerankan tokoh yang hilang ingatannya, lalu tersesat di alam rimba Afrika, dan sempat diselamatkan oleh suku pribumi. 

Aksi gelutnya yang unik, ternyata cukup membuka lebar mata dunia. Banyak sineas perfilman hingga Hollywood, menghargai aksi ala Jackie Chan di film ini. Film Who Am I? memang dirilis bertepatan dengan Rush Hour di tahun yang sama, sehingga menambah pamor Jackie Chan di seantero dunia.

Okeh, bagaimana dengan kisah Huhu dan Jackie di film Panda Plan kedua ini?

Sinopsis Film Panda Plan: Magical Tribe

Jackie Chan kini tinggal bersama Huhu di dekat belantara hutan rimba. Namun, Huhu yang nakal malah melarikan diri menembus hutan. Hingga akhirnya kedua sahabat beda spesies ini tiba gerbang ajaib nan magis, tepat berada di pusat sebuah pohon tinggi.

Keduanya tiba di ranah rimba lain, yang dihuni banyak suku pribumi lokal. Akibat salah paham, Jackie dan Huhu harus berjibaku dengan suku pribumi, untuk menyelamatkan diri. 

Sebenarnya suku pribumi tidak bermaksud jahat sama sekali kepada Jackie dan Huhu. Mereka mengagungkan panda sebagai titisan dewa. Layaknya binatang yang dipuja, Huhu diterima sebagai mahluk yang sakti nan eksotis. Jackie pun bingung, karena harus bergelut dengan kerasnya kepala para warga pribumi, sekaligus mencari cara untuk keluar dari hutan rimba.

Bagaimana aksi berikutnya bagi Jackie yang sudah sepuh dan berumur 71 tahun ini? Tentu jawabannya ada di konservasi sinema ala Indonesia.

Animasi Binatang Buas nan Lucu di Film Hoppers

 

Mabel yang merasa berang (IMDB).

Berikutnya adalah kombinasi tiga film untuk anak dan remaja dari luar negeri sana, yang tayang menjelang libur Lebaran mendatang. Judul pertama adalah Hoppers, yaitu animasi untuk anak-anak karena memiliki rating Semua Umur (SU). 

Hoppers yang diproduksi oleh Disney dan Pixar ini tampaknya aman untuk ditonton dan dikonsumsi, tanpa ada istilah aneh ala Jomok dan Boti, yang kini sedang ramai sebagai meme di Inet.

Penelitian Hewan Antromorfik

Daripada membahas yang tidak-tidak, maka cek bagaimana film ini menyajikan satu topik penting dalam masalah lingkungan alam. Tentu, anak hingga dewasa perlu mengerti tentang pentingnya alam liar, serta siklus ekosistemnya. Seperti disajikan dalam artikel sebelumnya di SpongeBob, anak bisa dikenalkan dan diberi imajinasi berlebih, tanpa perlu menggurui. Media film seperti ini cocok agar anak lebih mudah terpapar wacana melindungi alam.

Film ini (tampaknya) mengacu pada penelitian yang dilaksanakan oleh banyak ilmuwan saat ini. Terlihat di cuplikannya, seorang remaja berhasil memasukkkan isi kesadarannya, pada seekor robot berang-berang. Sebenarnya penelitian seperti ini sudah sering dilaksanakan, tentunya tanpa metode fantastis semacam ini.

Banyak ilmuwan saat ini menggunakan robot atau boneka, yang disimpan di sekitar sarang hewan liar. Contoh paling kentaranya adalah robot primata (gorila dan simpanse) atau monyet, yang didekatkan dengan bayi atau anak hewan targetnya. Dalam boneka tersembunyi pula kamera perekam, yang terhubung jarak jauh dengan peneliti. Tujuannya adalah mengecek interaksi sosial antara kawanan hewan, dengan benda yang memiliki bentuk dan bergerak mirip mereka.

Kawanan hewan cukup tertarik, dan berinteraksi dengan boneka tersebut. Apalagi dari sudut pandang anak-anak, maka hewan mengganggap boneka sebagai bagian dari kawanan. Boneka memang hanya sedikit bergerak, tanpa banyak memberi respon kepada kawanan hewan. Namun, para hewan masih santai dalam menanggapinya.

Sesuai dengan tujuan penelitian, boneka hewan antromorfik ini memang didesain untuk memicu emosi hewan yang ditargetnya. Karena itu, penerimaan hewan pada boneka, bisa dianggap sebagai pemicu emosional. Hewan akan penasaran, menerima, dan berlaku baik pada anggota yang belum mereka kenal, asal masih berusia anak-anak.

Bahkan pada akhir penelitian, saat boneka telah kehabisan baterai dan berhenti bergerak, muncul sisi emosional lain dari para hewan. Banyak hewan anak-anak hingga dewasa, mengerumuni boneka tersebut. Mereka menganggap boneka telah meninggal, dan ikut berkabung. Walau mereka masih heran siapa boneka tersebut, namun sisi emosional terlihat kentara dalam rekaman penelitian. 

Hewan dengan tingkat sosial yang kompleks, memiliki sisi emosional yang tinggi pula. Penelitian dianggap berhasil, dengan mengacu pada sisi hewaniah, yang ternyata sangat mendalam dari segi kekerabatan dan emosi kawanannya.

Bagi yang perlu referensi semacam ini, dapat ditonton di berbagai kanal YouTube mengenai kisah hewan dan robotnya. Konten yang pernah penulis tonton di berbagai kanal sains, diantaranya adalah gorilla, simpanse, dan monyet.

Nah, bagaimana film Hoppers ini menggambarkan penelitian tersebut? Tentu lebih fantastis dengan gambar animasi yang lebih ciamik, ala karya Disney dan Pixar.

Sinopsis Film Hoppers

Mabel (Piper Curda) adalah seorang remaja yang sangat menyukai hewan. Saking menyukainya, dia selalu membawa boneka robot berang-berang miliknya, dimana pun berada. 

Suatu hari, profesor Dr. Sam (Kathy Najimi) sebagai dosennya, meminta Mabel untuk mengikuti sebuah eksperimen. Dr. Sam mencoba memasukkan kesadaran manusia ke dalam robot. Tujuannya adalah meneliti langsung kawanan hewan di alam liar, tanpa perlu bersusah payah menyelinap dan memakai kostum binatang.

Penelitian pun berhasil, sehingga Mabel bisa pergi ke alam liar, dan langsung diterima sebagai bagian dari mereka. Tidak hanya berbentuk berang-berang, Mabel ternyata sanggup memahami bahasa para binatang.

Hingga suatu masalah terjadi, akibat pengembangan lahan di sekitar lingkungan alamnya. Mabel dan banyak kawanan binatang, tidak rela rumah mereka tergusur oleh manusia. Mabel berinisiatif untuk melawan balik, yang diterima tidak baik oleh para sesepuh binatang. Mereka akan membasmi para manusia, dengan berbagai cara. Mabel pun panik, dan mencari jalur damai bagi kedua pihak.

Sanggupkah Mabel menyelamatkan manusia dan binatang sekaligus? Jawabannya tentu ada di keragaman hayati ala sinema Indonesia.