04 Maret 2026

Bahayanya Pria Tanpa Beban Ala Film Dead Man's Wire

 

Kiritsis yang nothing to lose (IMDB).

Daaan, terakhir adalah film berbahaya lainnya dari Hollywood sana, berjudul Dead Man's Wire yang tayang di sinema Indonesia menjelang libur Lebaran. Bagi yang suka drama kejahatan, tentu terkagum saat menonton cuplikannya yang berating umur D17. 

Apalagi, film ini mengadaptasi kisah nyata dari tahun 1977 lalu di AS. Ya, nama karakter yang diadaptasi adalah Tony Kiritsis, yang sempat melaksanakan aksi penyanderaan, namun malah dianggap sebagai seorang warga tertindas oleh khalayak media AS sana. 

Bagi penulis, kisah film ini mirip dengan istilah Nothing to Lose, alias Tanpa Beban. Saking terancamnya, suatu karakter sering disematkan dengan istilah ini. Karakter tersebut memiliki wacana dan rencana tertentu untuk beroperasi habis-habisan, dalam menyelamatkan dirinya dari situasi genting.

Kisah Tony Kiritsis

Kisah Tony Kiritsis adalah sesuatu yang campur aduk, antara stresnya seorang warga dan masalah pemberontakan kepada sistem. Masalahnya memang berakar pada sistem kapitalis ala AS sana. 

Tony Kiritsis adalah seorang warga biasa, yang terjebak hutang akibat hipotek miliknya. Saking terancamnya (menurut Kiritsis), dirinya digadang akan bangkrut parah, akibat perusahaan hipotek yang sengaja memainkan dokumen properti miliknya. Kiritsis curiga, bahwa lokasi properti miliknya telah ditarget oleh broker kurang bertanggung jawab, untuk direbut sebagai properti milik perusahaan.

Karena merasa tidak ada jalan lain (selain hukum tentunya), Kiritsis memilih jalur kekerasan. Dengan menyandera broker perusahaan hipotek, dirinya menelpon kepolisian setempat. Tebusan yang dimintanya cukup banyak, yaitu keamanan propertinya, imbalan lima Juta Dolar AS, dan bebas tanpa tuntutan hukum. 

Kepolisian yang seharusnya terbiasa menanggapi ancaman semacam ini, malah kelimpungan saat menanggapi. Sebenarnya Kiritsis adalah seorang warga yang baik, sementara media mulai membela Kritis dan latar belakang masalahnya.

Bagi yang ingin tahu kelanjutan kisahnya, bisa dicek di banyak artikel dan konten mengenai kisah nyata penyanderaan oleh Tony Kiritsis. Namun para penggemar film drama kejahatan ala Hollywood semacam ini, tentu lebih mengenal isi adegan dan akting para aktor-aktrisnya.

Bill Skarsgard yang Sudah Naik Daun

Bagi yang belum cukup paham, maka perlu dikenalkan kembali dengan nama Bill Skarsgard. Aktor kelahiran Swedia ini, sempat naik daun dengan perannya sebagai badut horor di duo film adaptasi novel Stephen King, berjudul It (2017) dan It: Chapter Two (2019). Wajahnya yang terkenal seram, memang menjadi khas akting serba bisa ala Skarsgard. 

Tidak hanya sebagai badut berwacana horor ala Hollywood, banyak karakter unik yang diperankan oleh Skarsgard. Contohnya adalah film seorang musisi rocker yang kekal abadi dalam film reka ulang, The Crow (2024). Penulis agak heran juga, karena biasanya film reka ulang, apalagi se-legendaris The Crow, kurang disukai oleh banyak penggemarnya. Namun di film tahun 2024 ini, justru banyak yang suka, karena keahlian akting milik Skarsgard.

Berikutnya ada film Nosferatu (2024), dimana Skarsgard berhasil menciptakan sosok dan suara vampir terkenal ini dengan ciamik. Sangat tidak terlihat sosok aseli Skarsgard dibalik karakter horor ini. Saking disukai para kritikus film, Nosferatu ini diberi nilai cukup besar dari mereka semua.

Satu film lainnya adalah John Wick 4 (2023), yang membuktikan kemampuan akting Skarsgard dalam film drama aksi kejahatan. Tentu dengan kehadiran dirinya dalam waralaba film bersama Keanu Reeves ini, telah membuktikan kelebihan Skarsgard dalam memerankan film yang keluar dari pamor awalnya.

Sinopsis Film Dead Man's Wire

Okeh sedikit saja kisah sinopsisnya, karena memang mirip dengan kisah Kiritsis, yang sudah dibahas sebelumnya.

Tony Kiritsis (Bill Skarsgard) adalah pria paruh baya yang sedang mengalami krisis. Dirinya terancam bangkrut dan diusir dari propertinya sendiri, akibat hutang piutang dan masalah dengan bankir hipotek. 

Kiritsis akhirnya mengambil jalur lain, yang lebih mengacu pada kejahatan. Kiritsis lalu berinisatif untuk menyandera mitra bankirnya, memakai senapan berburu miliknya. Dengan jujur, Kiritsis meminta tebusan kepada kepolisian setempat, wacana membebaskan dirinya dari tuntutan hukum, serta permintaan maaf langsung dari perusahaan hipotek.

Kepolisian setempat dan perusahaan hipotek tentu tidak mengalah begitu saja, dan terus bernegosiasi dengan Kiritsis. Namun, kisah ini akhirnya ramai diberitakan oleh media setempat. Setelah berbagai investigasi mengenai latar belakang masalah Kiritsis, media malah membela sosoknya, dan memberi tekanan berlebih kepada aparat hukum setempat.

Bagaimanakah kisah Tony Kiritsis hingga akhir hayat? Jawabannya, tentu dapat disaksikan langsung dengan berbagai tuntutan hukum ala sinema Indonesia.

Frankenstein Mendapat Istri Ala Film The Bride

Wanita yang terpaksa hidup lagi (IMDB).

Okeh, berikutnya adalah film yang bermasalah kombinasinya dari Hollywood sana, dan mulai tayang menjelang libur Lebaran di sinema Indonesia. Judulnya adalah The Bride, film sejenis horor-drama-aksi, yang memiliki rating umur D17, alias cukup dewasa. Bagi yang paham cuplikannya, tentu tahu bahwa film ini mengambil referensi novel horor lama terkenal, yaitu Frankenstein.

Karakter Frankenstein 

Frankenstein adalah novel Inggris lama, bersub-judul The Modern Prometheus yang rilis tahun 1818 lalu dari novelis bernama Marry Shelley. Kisahnya cukup horor, walau mengemukakan drama penciptaan kreasi kehidupan. Secara harfiah melalui teknik (fiktif) Alkimia, Dr. Victor Frankenstein berhasil menghidupkan seorang mayat, yang diberi nama sebagai 'Mahluk' saja. 

Cerita novel ini sudah sering diadaptasi, dengan langsung memberi nama 'Mahluk' tersebut sebagai Frankenstein. Kadang kisahnya diisi horor yang lebih membuka kengerian sains dan adegan daging-mendagingnya. Ceritanya kadang berisi romansa antara Frankenstein dan karakter wanitanya, ala dongeng lama Beauty and the Beast.

Berbagai jenis adaptasi Frankenstein sering diproduksi oleh sineas perfilman, selama puluhan tahun lamanya. Contohnya adalah serial Frankenstein (2025) dari Netflix, yang diperankan oleh Oscar Isaac (Moon Knight) dan ditulis naskahnya oleh sineas horor handal, Guillermo del Toro. Lalu, ada Victor Frankenstein (2015), yang diperankan oleh Daniel Radcliffe (Harry Potter). 

Untuk rekomendasi khusus dari penulis, yaitu film berjudul Van Helsing, dari tahun 2004 lalu. Film ini diperankan oleh Hugh Jackman, yang dirilis tepat saat dirinya masih aktif berperan sebagai Wolverine dalam trilogi awal X-Men. Genre film ini adalah petualangan-aksi-horor, karena berlatar seorang pemburu monster.

Bonnie dan Clyde

Uniknya film The Bride adalah latar filmnya yang berada di Chicago, AS, tahun 1930an lalu dan bukannya di Eropa sana, khususnya Jenewa, Swiss. tersirat dalam cuplikan, bahwa Frankenstein telah hidup lebih dari seratus tahun, dan menjelajah ke seluruh dunia. Tidak hanya bertahan hidup, Frankenstein sebagai seorang monster telah mengenal ilmuwan Alkimia lainnya, yang dapat membantu saat tubuhnya perlu 'diservis.'

Nah, lalu apa hubungannya dengan Bonnie dan Clyde? Cuplikannya justru terlihat cocok. Ya, banyak adegan menampilkan kisah Frankenstein dan istri barunya, yang mengadakan perjalanan panjang di Midwest AS. Keduanya dengan sumringah melaksanakan perampokan di banyak kota, layaknya tokoh asli bernama Bonnie dan Clyde di tahun 1930an. Sepasang suami-istri ini memang dikenal sangat lihai dan cekatan, dalam menghindari polisi selama modus operandinya.

Sementara Frankenstein dan istrinya, karena memiliki tubuh yang tidak bisa mati dan lebih kuat dari manusia biasa, sangatlah menikmati kehidupan barunya ini. Keduanya memang sudah tidak memiliki tujuan hidup, dan baru kali ini bisa mulai bertingkah sebebas mungkin.

Sinopsis Film The Bride

Oh ya, bagi yang tahu Christian Bale, tentu ingin menonton aktor serba bisa ini di layar lebar. Sejak dikenal dalam film American Psycho (2000), Bale dianggap sanggup dalam memerankan karakter dengan akting yang berat. Contoh paling standarnya, adalah trilogi film Batman (2005, 2008, 2012). Trilogi ini mengisahkan hebatnya Bale sebagai seorang aktor aksi dan pahlawan super sekaligus.

Okeh, saatnya membahas sinopsis film The Bride.

Frankenstein (Christian Bale) adalah seorang mayat hidup, yang telah hidup selama lebih dari seratus tahun. Semenjak dihidupkan kembali tahun 1818 lalu di Jenewa, Swiss, Frankenstein melanglangbuana demi menemukan jalan hidupnya. Hingga akhirnya dia tiba di AS, dan memilih tinggal di Chicago demi berkenalan dengan ilmuwan Alkimia lainnya, bernama Euphronious (Annette Bening). 

Kesempatan pun tiba saat seorang wanita muda meninggal dunia. Dengan semangat, Frankenstein dan Euphronious menggali kubur wanita tersebut, demi menghidupkannya kembali. Selain itu, keduanya penasaran untuk memberi sejenis kekasih bagi Frankenstein, yang selama ini hidup sendiri. The Bride (Jessie Buckley) pun terlahir, dan langsung merasa dekat dengan Frankenstein.

Karena keduanya cukup aneh nan psikopat, maka tidak hanya berbulan madu sambil kasmaran, namun memiliki agenda lainnya. Keduanya mulai bertualang di sekitar AS, sambil merampok banyak kota. Saking euforia dalam menikmati hidup dengan tubuh barunya, keduanya memang sengaja dan menggila.

Bagaimanakah akhir cerita dari kedua mahluk yang sudah tak merasa eksis di dunia ini? Jawabannya tentu ada di sinema monster ala Indonesia.

Nyelenehnya Pria dari Masa Depan Ala Film Good Luck, Have Fun, Don't Die

 

Sam Rockwell yang semakin kocak (IMDB).

Okeh, saatnya menyambut tiga film bermasalah dari Hollywood sana, yang berlatar aneh bin ajaib, dan tayang menjelang libur Lebaran. Pertama adalah film berjudul panjang nan kurang jelas, yaitu Good Luck, Have Fun, Don't Die yang berating umur D17. Memang, film ini cuman bisa ditelaah dengan satu kombinasi istilah, yaitu nyinyir, ironis, parodi ala jaman viral kesetanan.

Pemuda dari Masa Depan dan Kecerdasan Buatan

Memang film ini cukup nyeleneh untuk dianalisa langsung. Tetapi, penulis dapat mengacu pada satu ramai sosial di pertengahan tahun 2010an lalu, saat Media Sosial tengah viral dengan berbagai keunikannya. Memang dalam cuplikannya, film ini menggambarkan seorang pemuda (tua) yang datang dari masa depan demi mencegah masalah akibat kecerdasan buatan (AI).

Ya, pertengahan tahun 2010an lalu memang sempat viral mengenai istilah pemuda atau pemudi dari masa depan. Mereka mengaku sebagai time-traveller, alias satu penjelajah waktu yang datang dari masa depan. Memang beberapa kali, tebakan mereka mengenai suatu kejadian tertentu  di masa mendatang, berhasil terbukti. 

Ternyata banyak diantara mereka yang memang valid, alias memiliki kemampuan meramal. Hingga akhirnya ada studi melalui konten khusus, yang membuktikan bahwa mereka sebenarnya adalah anak indigo, yang kreatif dalam menjabarkan visinya, lalu terkadang benar dan tepat. 

Di saat itu pula, istilah indigo mulai ramai kembali, seperti jaman 90an hingga awal 2000an. Indigo memang suatu ketertarikan tertentu di ranah sosial, karena banyak anak kecil hingga remaja, memiliki tingkat kejeniusannya sendiri yang unik. 

Sementara dari segi kecerdasan buatan, sudah menjadi bahan topik di banyak film Hollywood. Contohnya adalah sejak waralaba film Terminator diproduksi (1984, 1991, 2003, 2009, 2015, 2019). Terminator berfokus pada pencegahan akhir dunia akibat AI bernama Skynet, yang memberontak dan menciptakan dunia yang hangus. Berbagai film terkenal tentang AI pun sering diadaptasi oleh Hollywood, sehingga menjadi satu bahan adaptasi tertentu.

Nah, mengacu pada tahun 2020an sekarang, Asisten AI sedang ramai dibahas. Berbagai perusahaan teknokrat terkenal, seperti Apple, Google, Meta, Microsoft dan banyak perusahaan AI, mulai menelurkan hasil karya Asisten AI-nya. 

Banyak program tersebut telah bermasalah sejak perilisannya, sehingga menjadi kontroversi di banyak negara. Banyak yang menganggap (walau menggunakan meme), bahwa AI adalah akhir dari interaksi alami di dunia digital, serta bentuk kemunduran kognitif bagi manusia.

Bagaimana dengan kisah film ini yang mencoba nyinyir bagi kedua topik tersebut? Bisa dicek melalui sinopsisnya, yang berisi aktor terkenal Sam Rockwell. Aktor ini memang sering berperan di banyak film produksi mahal Hollywood, namun lebih mengemukakan karakter perlente, namun tetap kocak.

Sinopsis Film Good Luck, Have Fun, Don't Die

Sam Rockwell adalah pemuda tua dari masa depan, yang berhasil menggunakan mesin waktu untuk dapat kembali ke masa sekarang. Tepat setelah tiba, dirinya langsung ceramah dan membuang banyak ponsel di lokasi restoran, demi agenda merekrut banyak pengikut anti kecerdasan buatan. 

Walau banyak yang heran, ternyata kecurigaan Rockwell terbukti langsung, dengan tibanya tim Buru Sergap dari kepolisian setempat. Walau banyak sandera didalam restoran, tetapi tim Kepolisian dengan brutal dan membabi-buta langsung memburu Rockwell. Tanpa mengindahkan keamanan sandera, Rockwell dan penyintas yang percaya, akhirnya sanggup menghalau kejaran polisi.

Namun, banyak kejadian berbahaya terus mengejar mereka, akibat kecerdasan buatan yang ternyata berupa monster aseli. Hingga akhirnya, Rockwell dan banyak sekali pengikutnya, harus bertahan hidup demi menghalau setiap tantangan menggila ini.

Sanggupkah Rockwell dan banyak warga percaya untuk menghindari akhir dunia akibat AI? Atau malah hanya sekedar prank semata dari Rockwell yang jelas sudah terlihat agak gila?

Jawabannya, tentu ada di kisah PanSos ala sinema Indonesia.

03 Maret 2026

Karakter Horor Legendaris Ala Film Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa

 

Luya Mana sebagai Suzzanna (TMDB).

Terakhir, adalah film yang mengangkat kembali karakter seram legendaris dari tahun 80an lalu, berjudul Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa. Tentu sama dengan yang lainnya, film berating umur D17 ini tayang di sinema saat menjelang libur Lebaran, di akhir Maret nanti.

Suzzanna Sang Karakter Legendaris

Bagi yang sempat menjadi penggemar horor di tahun 80an hingga 90an, tentu akan mengenal nama Suzzanna. Bahkan, nama Suzzanna masih bergaung di tahun 2000an, saking terkenalnya. 

Ya, Suzzanna adalah nama seorang aktris horor selama dua dekade tersebut, yang khas dengan wajah cantiknya serta pembawaan karakter yang seram. Khas dari setiap film Suzanna, adalah drama yang kental di setiap filmnya. Bahkan tanpa adanya drama dari Suzanna dan banyak karakter disekitarnya, maka plot horor tidak dapat dimulai sama sekali pada film tersebut.

Banyak film terkenal diperankan oleh Suzzanna, menurut sumber terpercaya ala situs Tokopedia. Mulai dari tahun 1972 lalu berjudul Beranak dalam Kubur, lalu Sundel Bolong (1981), Ratu Ilmu Hitam (1981), Perkawinan Nyi Blorong (1983), Telaga Angker (1984), Malam Jumat Kliwon (1986), Malam Satu Suro (1988), Ratu Buaya Putih (1988), dan Santet (1988). Seluruh film tersebut diperankan oleh Suzzanna, sebagai antagonis, protagonis, atau karakter horornya, sesuai dengan kebutuhan cerita. 

Terakhir kali Suzzanna berperan dalam layar lebar, adalah saat tahun 2008 lalu dalam film Hantu Ambulance. Di tahun yang sama, Suzzanna meninggal saat berumur 66 tahun, akibat penyakit diabetes melitus.

Penulis sendiri sempat beberapa kali menonton film dari mendiang Suzzanna. Seingatnya saja, yaitu film sundel bolong yang khas dengan tusuk satenya. Atau, saat Suzzanna perlu menyantet setiap pria yang berani mendekatinya, karena dendam kesumat masa lalu (yang lupa judulnya).

Reka Ulang Film Suzzanna

Nah di tahun 2026 ini, adalah film ketiga dari reka ulang film Suzzanna, yang khas diberi judul sesuai namanya. Aktris yang memerankannya pun sesuai dengan tingkat kengeriannya, yaitu Luya Mana.

Sebelumnya di tahun 2018 lalu, Luya Mana memerankan Suzzanna dalam film Suzzanna: Bernapas Dalam Kubur. Film ini khas cerita Suzzanna, yaitu berkisah tentang Sundel Bolong. Suzzanna yang telah lama tidak memiliki momongan, akhirnya berhasil hamil. Sayangnya dia meninggal saat hamil, dan mulai meneror area sekitar rumahnya.

Selain Luya Mana, terdapat banyak aktor-aktris terkenal di film tahun 2018 ini. Diantaranya, Herjunot Ali, Teuku Rifnu Wikana, Verdi Solaiman, Alex Abbad, Kiki Narendra, Asri Welas, Oppie Kumis, Ence Bagus, dan masih banyak lagi.

Berikutnya di tahun 2023, Luya Mana berperan di film Suzzanna: Malam Jumat Kliwon. Di film yang lebih besar lagi biaya produksinya, mengisahkan tokoh Suzzanna yang bangkit kembali sebagai arwah jahat. Dirinya ingin kembali ke bayi yang baru saja ditinggalkan olehnya, setelah meninggal.

Sekali lagi, selain Luya Mana, terdapat pula beberapa nama aktor-aktris terkenal yang kembali membintangi film Suzzanna. Diantaranya adalah Ence Bagus, Oppie Kumis, Adi Bing Slamet, dan Pakusadewo.

Bagi yang belum sempat menikmati kengerian Luya Mana sebagai Suzanna dalam kedua film tersebut, dapat mengecek Netflix, atau layanan siaran lainnya.

Sinopsis Film Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa

Seperti biasanya selain Luya Mana, berbagai aktor-aktris terkenal seperti Reza Rahardian, Yati Surachman, Djenar Maesa Ayu, Iwa K, Restu Triandy, dan Adi Bing Slamet, kembali meramaikan film Suzzanna. Tidak hanya adegan horor, banyak aksi ledakan meramaikan film ini, layaknya genre aksi nan membludak.

Kali ini Suzzanna dikejar cinta oleh saudagar lokal nan brutal, bernama Bisman (Clift Sangra). Karena tidak ingin memperlama proses pelaminan, maka Bisman dengan cekatan menyantet langsung ayahnya, sehingga hanya tersisa Suzzanna seorang. Namun karena mulai terpapar dunia mistis, Suzzanna mulai merambah dunia santet-menyantet, demi membalaskan dendamnya.

Sayangnya, ternyata Bisman sudah cukup sakti dalam melaksanakan dunia kerja mistis-nya. Dengan telak Suzzanna terkalahkan, dan perlu hilang ditelan bumi, walau akhirnya ditemukan oleh Pramuja (Reza Rahardian).

Luya Mana pun kembali galau, antara memilih cinta terbarunya atau mengejar kisah kasih bersama dukun santet lainnya, demi mendapatkan sepotong alias seonggok daging milik Bisman sang Durjana setempat.

Jawaban apakah yang akan diterima Luya Mana diakhir cerita? Tinggal dicek saja ala sinema perjurigan Indonesia.

Sekuel Terakhir dalam Horornya Film Danur: The Last Chapter

 

Riri yang sudah gemulai saat menari (TMDB).

Berikutnya adalah film horor yang meramaikan kembali bagusnya sineas perfilman Indonesia di akhir tahun 2010an, berjudul Danur: The Last Chapter. Film ini memiliki rating umur R13, dan tayang di sinema Indonesia saat menjelang libur Lebaran mendatang. 

Adaptasi Novel Karya Risa Saraswati dan Indigo

Film ini adalah hasil adaptasi dari novel karya seorang artis terkenal, bernama Risa Saraswati. Selama ini, Risa berkecimpung sebagai penulis novel dan kreator konten, yang khas dengan kemampuan paranormal dan supernaturalnya.

Walau tentu ditulis dengan imajinasi tambahan, namun Risa menyebutkan bahwa dirinya adalah anak indigo saat masa kecilnya, sehingga menambah bumbu anehnya horor sejenis ini. Judul novelnya adalah Gerbang Dialog Danur, Maddah, dan Sunyaruri. Ketiga novel mengisahkan imajinasi Risa saat masih kecil sebagai anak indigo, yang berplot utama persahabatan bersama teman imajiner.

Bagi yang belum tahu, anak indigo selalu dideskripsikan dengan karakter yang memiliki kemampuan khusus atau berbeda dengan lainnya. Tidak bisa langsung disebut jenius, namun anak indigo memiliki khasnya masing-masing. Jika ditelaah, maka kemampuan anak indigo paling kentara adalah intuisi tajam, kecerdasan cukup tinggi, kreatifitas melebihi lainnya, serta berwatak empati dan independen. 

Namun menurut dunia kedokteran, anak indigo sebenarnya tidak masuk diagnosa manapun, dan hanya sejenis istilah saja. Tetap saja, perbedaan tersebut dapat menyebabkan anak indigo sering dianggap aneh oleh lingkungannya.

Trilogi Film Danur

Trilogi pertama film Danur, diantaranya adalah Danur (2017) yang diadaptasi langsung dari novel Dialog Danur, lalu Danur 2: Maddah (2018) yang diadaptasi dari novel Maddah, dan terakhir adalah Danur 3: Sunyaruri (2019) yang diadaptasi dari novel Sunyaruri. Bagi yang belum sempat menonton filmnya, bisa dicek melalui layanan siaran Netflix.

Film pertama Danur, mengisahkan Risa Saraswati (Asha Kenyari Bermudez, Prilly Latuconsina) yang telah dewasa, dan tengah menjaga sepupunya yang masih kecil, bernama Riri (Sandrinna Michelle). Khasnya film ini, adalah kehadiran sosok imajiner lain bernama Asih (Shareefa Danish), yang cukup mengerikan. 

Oh ya, dalam cuplikannya terdengar lantunan lagu Kakawihan Sunda, berjudul Boneka Abdi, yang diadaptasi dari lagu rakyat Jerman berjudul 'Hanschen Klein.' Ketiga film Danur memang sangat khas dengan referensi Buhun dari suku Sunda.

Di film keduanya, justru berfokus pada nama Danurnya itu sendiri, walau bersub- judul Maddah. Risa kini lebih sering menemani Riri, dengan tinggal bersama tantenya Tina (Sophia Latjuba), dan pamannya Ahmad (Bucek Depp). Risa harus tinggal bersama di rumah Riri, karena ayah dan ibunya yang sedang dinas ke Malaysia demi kepentingan bisnis. 

Wangi bunga Danur yang khas dari berbagai wilayah Jawa, adalah suatu jenis perantara 'jurig.' Sering terjadi kisah supernatural, yang berisi wewangian bunga. Terciumnya wangi ini tanpa adanya bunga aseli di sekitarnya, berarti tersirat kedatangan supernatural. Istilah Pamali dari khas Sunda pun sempat disebutkan dalam cuplikannya, yang berarti tidak boleh Sompral, alias sembarangan dalam membahas hal mistis.

Di film ketiganya yang bersub-judul Sunyaruri, justru berfokus pada perpisahan antara Risa dan teman imajiner masa kecilnya. Apalagi saat ini Risa telah menikah dengan Dimas Tri Adityo (Rizky Nazar), dan tinggal bersama. Namun, kekisruhan mistis mulai muncul di kediaman mereka, dengan banyak kejadian aneh yang mencelakai Dimas. Risa bahkan mencari paranormal, demi menutup kemampuan supernaturalnya dan mengamankan masa pernikahannya.

Sinopsis Film Danur: The Last Chapter

Nah, untuk film keempat Danur, justru tidak berlandaskan novel manapun. Namun tetap melanjutkan akhir cerita dari film sebelumnya. Risa yang telah lama tidak sanggup melihat teman imajiner-nya, kini dihantui rasa bersalah. Rasanya, kawan supernatural Risa sedang memberitahu sesuatu, yang dapat berujung bahaya bagi semuanya.

Sementara itu, Riri kini telah dewasa dan bekerja sebagai seorang penari balet. Walau memiliki potensi besar, namun kini Riri sedang galau, akibat segera menikah dengan Dimas Raditya Soesatyo (Dito Darmawan). Riri harus memilih, untuk langsung menikah atau melanjutkan karirnya. Namun, justru masalah itulah yang mengundang petaka lain. Kehadiran sosok mahluk dari dunia lain, mulai merusak hubungan antara Riri dan Dimas. 

Risa yang sudah merasakannya pun, semakin sering bermimpi buruk. Bahkan sempat terdengar sebuah pesan dari suara kawan imajiner lamanya. Yaitu, agar Risa segera kembali kepada mereka, dan Riri bisa terselamatkan.

Bagaimana akhir kisah Risa, Riri, dan kawan imajinernya di seri terakhir Danur ini? Jawabannya tentu ada di ranah dunia anak indigo ala sinema Indonesia.

Bergelut Edannya Dunia Lain Ala Film Setan Alas!

 

Sekelompok sineas amatir yang masih segar-bugar (TMDB).

Okeh, menjelang libur Lebaran (walau masih lama juga sih), saatnya membahas berbagai film yang bisa dinikmati saat berlibur. Walau ya, entah bagaimana warga ingin menghabiskan waktu dengan menonton film semacam ini. Awal minggu ini, saya akan membahas beberapa film horor dari Indonesia, yang dirilis menjelang Cuti Bersama nanti. Seperti biasa, pilihan dimiliki para penonton ya, dan saya hanya rekomendasi saja.

Film pertama yang menarik dibahas adalah Setan Alas! Dari judul serta cuplikannya saja, sudah menyiratkan bahwa film ini cukup nyeleneh, bahkan dari segi visual dan ceritanya. Rating umurnya memang cukup tinggi, yaitu D17 dengan berbagai adegan mendarah-darah dan mendaging-daging.

Efek Visual dan Cerita Nyeleneh yang Ciamik

Dari cuplikan film Setan Alas! sudah terlihat jelas anehnya film ini. Awalnya memang biasa saja, yaitu saat para karakternya yang berlatar sineas perfilman amatir, mencoba untuk membuat film horor di sebuah reruntuhan vila terpencil. Namun, begitu generator listrik mati, mereka malah langsung hype dengan berkaca pada set film horor aseli.

Cuplikannya menunjukkan banyak efek visual, baik dari segi Body-Horor, Practical, maupun CGI yang mumpuni. Kombinasi ketiga efek spesial ini, cukup jarang diadaptasi di film Indonesia. Apalagi di genre horor, yang lebih khas mementingkan atmosfer, redupnya pencahayaan, serta cerita yang menarik dari segi misteri dibaliknya.   

Walau begitu, terlihat pula bagaimana sineas perfilman membuat adegan film ini ala Over-The-Top, alias berlebihan. Tampaknya, karena genre horor di Indonesia sudah terlalu banyak, sineas dibalik Setan Alas! ingin membuat film horor yang lebih aneh lagi. 

Suasana campy nan cringefest sengaja dibuat-buat norak bagi setiap adegan dan akting karakternya, yang merubah film ini menjadi unik dengan Guilty-Pleasure-nya tersendiri. Seakan, film ini adalah homage (tribute) bagi film horor tahun 80an, 90an, dan 2000an, yang tidak perlu dirasa serius sama sekali (hehe).

Bahkan, ada satu adegan di akhir cuplikan, dimana seorang karakter tengah menembakkan sebuah senjata Gatling-Gun (alias Minigun), diatas atap vila. Entah apa dan bagaimana maksudnya, tetapi terlihat digunakan untuk membasmi para mayat hidup yang datang ramai dari hutan belantara sekitarnya.

Oh ya, salah seorang aktor aneh bernama Winner Wijaya, yang aselinya bergender laki-laki, dan layaknya ritual berubah peran ala dunia panggung, berperan pula ala wanita dalam film ini. Sekali lagi, entah apa maksudnya (ini bukan Longser ala Sunda kan, ya?).

Okeh, saatnya mengecek sinopsinya, yang (sekali lagi), sangat absurd untuk dibahas. Namun, banyak situs kritikus film luar, sangat menyukai anehnya film ini, dengan memberi banyak pendapat nyelenehnya.

Sinopsis Film Setan Alas!

Sekelompok mahasiswa perfilman, tiba di sebuah vila terbengkalai nan terpencil di ujung dunia sana. Mereka langsung kagum dengan keadaan vila yang mengerikan, dan mulai banyak merekam lokasinya.

Memang sesuai skenario, Mang Dadang (Ernanta Kusuma) sebagai seorang pengantar, penjaga, sekaligus kuncen vila nan seram, memberi tahu bahwa genset listrik tiba-tiba mati. Iwan (Adhin Abdul Hakim) malah dengan senang berkelakar, bahwa dirinya menikmati gilanya suasana yang tambah horor saja. 

Sesuai dengan keinginan, Budi Murah (Haydar Salishz) justru ditemukan bersimbah darah tidak bernyawa di kamar. Anggota kelompok yang panik walau tetap hype, akhirnya menyalahkan Mang Dadang, lalu menguburkan Budi di taman villa. 

Amir (Winner Wijaya) dan Ani (Putri Anggie) mencoba mencari petunjuk di hutan sekitar vila yang sangat mengundang khalayak jurig. Keduanya tidak menemukan desa yang seharusnya berada di sekitar vila. 

Tambah kalut nan gundah gulana, Iwan dan Amir pun membawa mobil untuk mengecek jalur datangnya mereka ke ranah horor ini. Setelah tidak menemukan menara listrik, keduanya terjebak diujung ngarai alias jurang tanpa akhir.

Lebih konyol lagi, Budi ternyata telah 'hidup kembali' di vila, dan karena cukup ganteng, telah bercengkrama mesra dengan Wati (Anastasia Herzigova) dan Ani. Amir dan Iwan malah tambah fokus, dengan curiga bahwa si ganteng akan mencuri hidup cemceman mereka.

Sisanya ritual ala sejenis film horor, banyak adegan aneh yang mulai meruak di sekitar vila. Mulai dari Budi yang mulai bertingkah aneh, Mang Dadang yang mulai menculik para gadis, mayat hidup yang mulai bosan lalu menyerang vila, dan minigun yang muncul tanpa kendali diatas atap.

Bagaimana kisah ini bisa berlanjut? Jawabannya, tentu ada di ritual kesetanan ala cringefest-nya sinema Indonesia.