![]() |
| Kiritsis yang nothing to lose (IMDB). |
Daaan, terakhir adalah film berbahaya lainnya dari Hollywood sana, berjudul Dead Man's Wire yang tayang di sinema Indonesia menjelang libur Lebaran. Bagi yang suka drama kejahatan, tentu terkagum saat menonton cuplikannya yang berating umur D17.
Apalagi, film ini mengadaptasi kisah nyata dari tahun 1977 lalu di AS. Ya, nama karakter yang diadaptasi adalah Tony Kiritsis, yang sempat melaksanakan aksi penyanderaan, namun malah dianggap sebagai seorang warga tertindas oleh khalayak media AS sana.
Bagi penulis, kisah film ini mirip dengan istilah Nothing to Lose, alias Tanpa Beban. Saking terancamnya, suatu karakter sering disematkan dengan istilah ini. Karakter tersebut memiliki wacana dan rencana tertentu untuk beroperasi habis-habisan, dalam menyelamatkan dirinya dari situasi genting.
Kisah Tony Kiritsis
Kisah Tony Kiritsis adalah sesuatu yang campur aduk, antara stresnya seorang warga dan masalah pemberontakan kepada sistem. Masalahnya memang berakar pada sistem kapitalis ala AS sana.
Tony Kiritsis adalah seorang warga biasa, yang terjebak hutang akibat hipotek miliknya. Saking terancamnya (menurut Kiritsis), dirinya digadang akan bangkrut parah, akibat perusahaan hipotek yang sengaja memainkan dokumen properti miliknya. Kiritsis curiga, bahwa lokasi properti miliknya telah ditarget oleh broker kurang bertanggung jawab, untuk direbut sebagai properti milik perusahaan.
Karena merasa tidak ada jalan lain (selain hukum tentunya), Kiritsis memilih jalur kekerasan. Dengan menyandera broker perusahaan hipotek, dirinya menelpon kepolisian setempat. Tebusan yang dimintanya cukup banyak, yaitu keamanan propertinya, imbalan lima Juta Dolar AS, dan bebas tanpa tuntutan hukum.
Kepolisian yang seharusnya terbiasa menanggapi ancaman semacam ini, malah kelimpungan saat menanggapi. Sebenarnya Kiritsis adalah seorang warga yang baik, sementara media mulai membela Kritis dan latar belakang masalahnya.
Bagi yang ingin tahu kelanjutan kisahnya, bisa dicek di banyak artikel dan konten mengenai kisah nyata penyanderaan oleh Tony Kiritsis. Namun para penggemar film drama kejahatan ala Hollywood semacam ini, tentu lebih mengenal isi adegan dan akting para aktor-aktrisnya.
Bill Skarsgard yang Sudah Naik Daun
Bagi yang belum cukup paham, maka perlu dikenalkan kembali dengan nama Bill Skarsgard. Aktor kelahiran Swedia ini, sempat naik daun dengan perannya sebagai badut horor di duo film adaptasi novel Stephen King, berjudul It (2017) dan It: Chapter Two (2019). Wajahnya yang terkenal seram, memang menjadi khas akting serba bisa ala Skarsgard.
Tidak hanya sebagai badut berwacana horor ala Hollywood, banyak karakter unik yang diperankan oleh Skarsgard. Contohnya adalah film seorang musisi rocker yang kekal abadi dalam film reka ulang, The Crow (2024). Penulis agak heran juga, karena biasanya film reka ulang, apalagi se-legendaris The Crow, kurang disukai oleh banyak penggemarnya. Namun di film tahun 2024 ini, justru banyak yang suka, karena keahlian akting milik Skarsgard.
Berikutnya ada film Nosferatu (2024), dimana Skarsgard berhasil menciptakan sosok dan suara vampir terkenal ini dengan ciamik. Sangat tidak terlihat sosok aseli Skarsgard dibalik karakter horor ini. Saking disukai para kritikus film, Nosferatu ini diberi nilai cukup besar dari mereka semua.
Satu film lainnya adalah John Wick 4 (2023), yang membuktikan kemampuan akting Skarsgard dalam film drama aksi kejahatan. Tentu dengan kehadiran dirinya dalam waralaba film bersama Keanu Reeves ini, telah membuktikan kelebihan Skarsgard dalam memerankan film yang keluar dari pamor awalnya.
Sinopsis Film Dead Man's Wire
Okeh sedikit saja kisah sinopsisnya, karena memang mirip dengan kisah Kiritsis, yang sudah dibahas sebelumnya.
Tony Kiritsis (Bill Skarsgard) adalah pria paruh baya yang sedang mengalami krisis. Dirinya terancam bangkrut dan diusir dari propertinya sendiri, akibat hutang piutang dan masalah dengan bankir hipotek.
Kiritsis akhirnya mengambil jalur lain, yang lebih mengacu pada kejahatan. Kiritsis lalu berinisatif untuk menyandera mitra bankirnya, memakai senapan berburu miliknya. Dengan jujur, Kiritsis meminta tebusan kepada kepolisian setempat, wacana membebaskan dirinya dari tuntutan hukum, serta permintaan maaf langsung dari perusahaan hipotek.
Kepolisian setempat dan perusahaan hipotek tentu tidak mengalah begitu saja, dan terus bernegosiasi dengan Kiritsis. Namun, kisah ini akhirnya ramai diberitakan oleh media setempat. Setelah berbagai investigasi mengenai latar belakang masalah Kiritsis, media malah membela sosoknya, dan memberi tekanan berlebih kepada aparat hukum setempat.
Bagaimanakah kisah Tony Kiritsis hingga akhir hayat? Jawabannya, tentu dapat disaksikan langsung dengan berbagai tuntutan hukum ala sinema Indonesia.








