22 Januari 2026

Kompilasi Film Horor Indonesia di Bulan Januari: Sengkolo Petaka Satu Suro, Kuyank, Kafir Gerbang Sukma, Tolong Saya!

 

Saatnya berdoa malam hari (TMDB).

Kali ini, penulis coba menulis kompilasi banyak film horor Indonesia, yang tayang saat minggu akhir bulan Januari. Seperti pada judulnya, empat film Indonesia ini memang dirilis dalam waktu hampir bersamaan. 

Bukannya ikut meremehkan film horor Indonesia, yang kadang membuat bosan para penggemar film dan warganet. Memang, isi cerita cuplikannya kurang bisa dibahas, walaupun nilai serta biaya produksinya cukup meyakinkan. Ada beberapa plot dan tema filmnya yang bisa dibahas lebih lanjut, tetapi tidak begitu mendalam. 

Jadi, penulis masukkan ke kompilasi saja. Padahal mah, horor memang bagian dari minat pecicilan penulis, yang (selalu) ditonton saja sampai tamat, padahal filmnya tidak begitu menarik.

Oh ya, rata-rata film disini memiliki rating D17, alias penonton dewasa, karena diisi banyak adegan sadis dengan mendarah-darah atau mendaging-daging. Yang aneh, justru film berjudul Kuyank, yang kita tahu hanya muncul kepalanya saja, ternyata memiliki rating R13 alias remaja.

Sengkolo Petaka Satu Suro

Nah, film yang pertama ini cukup kontroversial dengan mengadaptasi ritual Satu Suro. Menurut kalender Jawa, Satu Suro adalah malam pergantian tahun baru. Seperti biasanya, beberapa ritual dilaksanakan, karena malam ini dianggap seperti hari keramat lainnya, adalah masa dimana batas dimensi mistis dan dunia nyata saling berjumpalitan.

Padahal, tanggal ini selalu bertepatan dengan tahun Hijriyah Islam, yaitu pergantian tahun menjadi satu Muharram. Memang, keduanya berlandaskan penanggalan bulan, daripada matahari layaknya tahun masehi.

Sementara pada film ini, kisahnya cukup berbeda. Menjelang pergantian tahun satu suro, banyak wanita hamil yang diteror mistis. Padahal, seperti ditampilkan pada adegan cuplikan, wanita tersebut sudah melaksanakan ritual saat pergantian tahun.

Sedihnya punya kepala saja (TMDB).
Kuyank

Nah, film ini tentu lebih dikenal oleh banyak orang, karena khas dengan minat jurignya. Seperti sudah banyak dibahas di film horor lain atau inet, kuyang adalah sejenis ritual mistis, dimana penggunanya adalah wanita, yang ingin terus awet muda. Sayangnya setiap beberapa lama, wujudnya berubah menjadi kepalanya saja, dan bergentayangan sambil memangsa darah manusia.

Di film ini, justru kisahnya ditambahkan lagi. Karena sang istri yang tidak ingin kehilangan suaminya, akibat keduanya memang mandul, maka melaksanakan ritual kuyang tersebut. Namun, sang suami ternyata cukup rela, sehingga tanpa takut terus menjaga dan setia terhadap istrinya, dengan atau tanpa kepala yang menempel pada tubuhnya.

Rasanya dimandikan sama nenek (TMDB).

Kafir Gerbang Sukma

Film ini adalah sekuel dari film 2018 terdahulu, berjudul Kafir: Bersekutu Dengan Setan. Banyak yang menganggap, rilis film pertama Kafir, adalah pemicu baru kembalinya perfilman Indonesia. Beberapa publik figur, artikel, dan konten memang menyatakan seperti itu. Cukup terbukti, dengan banjirnya film Nusantara di tahun 2025 kemarin, yang memiliki nilai produksi cukup tinggi.

Kembali ke film Kafir di tahun 2026 ini, yang masih mengadaptasi tema sama. Bahkan ceritanya dilanjutkan dari film pertamanya, dengan mengusung jarak waktu yang sama, yaitu delapan tahun. Dengan karakter dan aktor-aktris yang sama, akhirnya berjibaku kembali dengan teror mistis, akibat ritual nyeleneh nan brutal di lingkungan sekitarnya.

Rasanya terngiang-ngiang Korsel (TMDB).

Tolong Saya! (Dowajuseyo)

Kalau yang satu ini, cukup mumpuni dengan kerjasama antara sineas perfilman Indonesia, dengan Korea Selatan sana. Jika dicek sejarahnya, maka dapat ditelaah berbagai karya lintas negara ini. Kedekatan Korea Selatan dan Indonesia, layaknya mendarah daging akibat gaya bahasa, atmosfir, dan brutalnya kesan yang mirip antar keduanya.

Khusus di film Dowajuseyo ini, berkisah tentang seorang mahasiswi pertukaran pelajar dari Indonesia, yang belajar di kampus Korea Selatan. Namun, mahasiswi ini malah terjebak lingkaran mistis, akibat jurig yang menganggap dirinya mudah kerasukan, sekaligus membalaskan dendam semasa hidupnya. Pertukaran pelajar pun, berubah menjadi pertukaran dimensi dua dunia, dengan segala baik-buruknya dunia mistis.

Horornya Kota Bukit Sunyi Ala Film Return to Silent Hill

 

Saatnya kembali ke Bukit Sunyi (TMDB).

Ternyata, ranah film horor masih bisa berkreasi lebih lagi, dengan mengadaptasi kembali satu waralaba gim horor paling ikonik di jaman konsol, berjudul Return To Silent Hill, yang akan tayang saat akhir bulan Januari ini di sinema nasional.

Video Gim Silent Hill

Berbeda dengan gim horor kebanyakan, waralaba Silent Hill dari Konami memang menyajikan horor yang sulit dicerna, dengan atmosfer yang begitu mengerikan. Gelutnya pun cukup sulit jika dibandingkan gim lainnya, karena karakter yang pemain mainkan, tidak terlatih alias hanya warga biasa.

Khas dari Silent Hill, adalah lokasi kotanya itu sendiri, yang merupakan gerbang antara dimensi nyata dan horornya dunia lain. Kota ini adalah lokasi utama kisah Silent Hill, yang disajikan berbeda di setiap perilisan serinya. 

Khas lainnya adalah berbagai monster yang mengisi kotanya. Diantaranya adalah Kepala Pyramid, Suster Iseng, dan berbagai mahluk tidak bernalar. Seluruhnya berbentuk aneh dan mengerikan, karena tidak mengacu pada satu jurig manapun.

Tentu jika dibahas dari serinya, yang paling ikonik adalah empat perilisan awalnya, yang produksinya masih diawasi langsung oleh Konami. Silent Hill 1 hingga 4 (1999, 2001, 2003, 2004) memiliki khas yang sama, yaitu karakternya terjebak di versi horor Silent Hill, dan harus menemukan jalan pulangnya. Namun, kisah latar karakternya, memiliki motivasi tersendiri untuk tetap berada di kota horor ini. 

Reka ulang atau melanjutkan seri ini dari Konami sendiri, sempat viral di inet dan para gamer pada tahun 2014 lalu, dengan dirilisnya demo gim PT. Berformat demo dengan durasi gameplay sekitar satu setengah jam, mengingatkan lagi tentang ngerinya Silent Hill. Konami tidak begitu membuka rencananya untuk melanjutkan gim-nya, namun para gamer sangat berharap akan sekuelnya.

Demo yang dirilis di PS4 ini, bareng dengan kentalnya animo horor indie, yang mengisahkan terjebak di dunia mistis, dengan gameplay yang minim, namun cerita yang cukup menyayat hati. Seakan, kumpulan gim indie ini adalah tribute atau homage seri Silent Hill. Memang, beberapa gim akhirnya setelah nomor 4, sempat flop di pasar dunia gim.

Hingga akhirnya tiba di tahun 2024, tepat 10 tahun setelah gim PT dirilis. Tiba juga reka ulang Silent Hill 2, yang digadang sebagai seri terbaik waralaba gim ini. Kesabaran gamer selama 20 tahun terakhir pun, akhirnya terbayarkan. 

Ternyata, Konami menyiapkan pula perilisan sekuelnya berjudul Silent Hill F, pada tahun 2025. Berbeda dengan seri sebelumnya, justru gim ini berlatar di Jepang tahun 1960an, walau masih khas dengan cara gelut yang lambat dan taktis ala seri Silent Hill. Bagi yang cukup memahami etimologi perubahan makna bahasa Jepang, maka nama kota Ebisugaoka, berarti Silent Hill dalam bahasa Inggrisnya.

Apakah itu di puncak tangga? (GOG). 
Film Silent Hill

Okeh, karena seri gim-nya sudah cukup dijabarkan, maka coba beralih ke filmnya, yang ternyata cukup disukai oleh fans gim, sekaligus para penggemar horor. 

Film pertamanya di tahun 2006 dengan judul yang sama, masih mengikuti ritual ala gim-nya, yaitu karakter berbeda dengan atmosfer Silent Hill yang berbeda pula. Ya, uniknya rilis setiap serinya, adalah menyajikan sisi lain kota Silent Hill. 

Karena itu, improvisasi cerita di filmnya, dianggap wajar, dan bahkan diapresiasi para penggemar horor. Terlebih lagi, kehadiran beberapa monster seperti Kepala Piramid dan Suster Iseng, menjadi referensi langsung dari gimnya. 

Visual lain yang disukai penonton, adalah saat perubahan dimensi nyata ke horor, yang ditandai dengan suara sirene nyaring, lalu lokasi berkabut malah semakin gelap dengan dinding yang 'berdarah'.

Banyak penggemar suka pula dengan kisah di film ini, karena masih bertema keluarga atau rekan terdekat yang hilang, tentunya di Silent Hill. Sementara itu, karakter utamanya ternyata harus berjibaku dengan anehnya Silent Hill, padahal memiliki motivasi tersendiri untuk tetap berada disana.

Sekuelnya berjudul Silent Hill: Revelation 3D tidak semenarik film pertamanya. Padahal, film kedua ini melanjutkan ceritanya langsung. Bahkan, teknik tayangan 3D serta anehnya Silent Hill, masih kentara terlihat. Menurut penulis, film kedua ini agak maksa dari segi cerita, karena sebelumnya sudah beres di akhir film pertama.

Nah, bagaimana dengan penggambaran film Silent Hill 2 di filmnya tahun 2026 ini, bisa dicek langsung di sinopsisnya saja.

Sinopsis Film Return To Silent Hill

Bagi yang sudah memainkan gim-nya, tentu paham bahwa nama karakternya sama dengan filmnya ini. Maka, dapat direka bahwa jalan ceritanya akan mirip. Ada satu kisah aneh yang perlu dijabarkan dalam artikel ini, yaitu bagaimana satu karakter anaknya, berinteraksi dengan seluruh ide Silent Hill.

Pokoknya, James Sunderland (Jeremy Irvine) dengan jaket khasnya, tiba di Silent Hill akibat surat undangan dari istrinya yang hilang, Mary Crane (Hannah Emily Enderson). Di sana, dirinya heran dengan keadaan kota yang sepi, serta kehadiran banyak warga yang sama bingungnya. Kehadiran sesosok gadis kecil, ternyata dapat menguak arti tersasarnya James di Silent Hill.

Selain itu, khas Silent Hill 2 dengan radio 'pendeteksi' perubahan dimensi dan tebalnya kabut, disatukan dengan suara sirene dan perubahan dinding yang berdarah merah, terlihat kentara dalam cuplikannya.

21 Januari 2026

Diteror Kera Peliharaan Sendiri Ala Film Primate

 

Ben yang sudah terlihat mengerikan (TMDB).

Akhirnya, film horor dari ranah Hollywood yang berbeda, tiba juga di sinema Nusantara, berjudul Primate alias primata. Kini, sineas perfilman Hollywood masih sanggup berkreasi baru, dengan plot diteror hewan peliharaan sendiri.

Ya, film Primate ini memang mengisahkan sebuah animo film lama, yang berkutat pada serangan binatang liar, dengan segala keganasannya. Namun, di film ini lebih mengacu pada binatang peliharaan sejenis simpanse, yang terjangkit rabies dan meneror pemiliknya sendiri.

Memang, film ini mengacu pada satu isu sosial, saat seekor hewan peliharaan rumahan, yang dapat terjangkit penyakit berbahaya rabies, lalu menularkannya pada manusia di sekitarnya. 

Terlebih lagi, hewan tersebut adalah simpanse, yang bernalar tinggi, dengan fisik melebihi manusia. Banyak penelitian oleh ilmuwan, yang menunjukkan bahwa kepadatan dan jumlah jaringan otot kera, ternyata melebihi manusia, sehingga lebih kuat dalam beraktifitas fisik.

Sedikit Info tentang Rabies

Wacananya, adalah setiap hewan peliharaan rumah perlu divaksin virus Rabies, demi mencegah hilangnya nyawa hewan tersebut, serta manusia disekitarnya.

Menurut Biofarma, rabies disebabkan oleh infeksi virus lyssavirus yang menular melalui air liur, gigitan, atau cakaran hewan terinfeksi. Hewan yang menularkan virus ini contohnya adalah anjing, kelelawar, kucing, dan kera. Manusia pun dapat tertular virus ini dari hewan, walau tidak menular ke manusia lainnya.

Untuk mencegahnya, diperlukan vaksinasi hewan bersama manusianya, karena resiko virus tertular dari hewan liar lebih tinggi daripada hewan peliharaan. Pada hewan pun, terdapat dua tipe gejala, yaitu tipe ganas atau paralitik, seperti dilansir dari KlikDokter

Pada tipe paralitik, justru penderitanya akan paralisis atau lumpuh. Justru gejala sebaliknya pada tipe ganas, penderitanya akan hiperaktif, agresif, dan mudah marah. Karena itu, banyak film horor (zombie khususnya), menggambarkan infeksi virus ini, lalu menjadi buas seketika.

Padahal, masa inkubasi virus rabies sangat bervariasi. Penderita mengalami gejala, antara dua hingga tiga bulan, atau satu minggu hingga satu tahunnya. Semuanya, tergantung dari faktor lokasi gigitan, serta jumlah virus yang masuk. 

Nah, tampaknya film Primate ini mengisahkan seekor simpanse peliharaan, yang lupa tidak divaksin virus rabies, namun telah terjangkit lama tanpa adanya gejala. Karena itu begitu film baru dimulai, langsung mengacu pada horornya.

Sinopsis Film Primate

Lucy (Johny Sequoyah) adalah seorang mahasiswi, yang baru saja pulang ke lokasi rumahnya di Hawaii. Sambil pulang, dia mengajak pula beberapa teman kuliahnya untuk berkunjung.

Setelah tiba, Lucy mengenalkan hewan peliharaannya yang bernama Ben, yaitu seekor simpanse yang sudah terlatih. Lucy menyatakan, bahwa Ben telah diadopsi sejak kecil, sehingga cukup jinak dan cekatan.

Namun suatu malam saat Ben tengah tidur, sedikit celah di sisi kandangnya menyebabkan hewan pengerat kecil menerobos masuk. Ben terluka akibat gigitan hewan tersebut, dan melarikan diri dengan masuk ke dalam rumah.

Tidak berapa lama, gejala rabies ganas pun muncul dalam diri Ben, yang mulai meneror seisi rumah. Seluruh manusia yang tinggal, termasuk diantaranya Lucy, sulit dalam menghadapi kepintaran dan buasnya Ben.

Sanggupkah mereka selamat dari kejaran Ben? Atau berakhir begitu saja dan terjangkit rabies? Adakah yang mampu menghalau masalah penyakit serius ini?

Jawabannya tentu ada di keragaman virus hayati ala sinema Indonesia. 

Kembali ke Masa Kerajaan China Ala Film Back To The Past

 

Hong yang berasa Isekai (TMDB).

Okeh, saatnya film yang beda dari ranah China sana, berjudul Back To The Past, yang tayang di sinema Indonesia. Film ini cocok sebagai film aksi pertama yang rilis di tahun 2026, bagi banyak penonton remaja (R13) tentunya.

Film ini menyatukan antara unsur futuristik dan masa kerajaan China terdahulu, tepatnya jaman Dinasti Qin. Memang, kisahnya diawali dengan sebuah perjalanan waktu, ditambah beberapa anggota tentara modern yang cukup isekai.

Tampaknya, China mulai beralih ke film aksi gelut yang mumpuni dan lebih realistis, daripada kisah epik mitologi bersama Naga dan fantastisnya perang kolosal. Mungkin, sudah saatnya China mengadaptasi kembali segi perfilman HongKong terdahulu, yang lebih mengisahkan adu kungfu.

Mengacu pada animo ini, sebenarnya di tahun 2025 lalu ada dua film China yang dirilis dengan aksi mirip. Keduanya yaitu film Operation Hadal di bulan September, dan Dongji Rescue di bulan Oktober. Kedua film bertema aksi yang lebih modern, yaitu buru sergap di sebuah kilang minyak, dan sesi penyelamatan sandera di kapal laut jaman Perang Dunia.

Dan kali ini, kisahnya lebih menarik lagi. Karena, di film Back To The Past adalah kombinasi antara aksi persenjataan modern, dengan kisah kungfu ala China sana. 

Cukup menarik memang, karena biasanya para tentara modern dilatih beladiri tangan kosong, yang dibantu dengan senapan. Sementara jaman kerajaan lebih fokus pada senjata tombak, perisai, baju zirah, busur-panah, serta pasukan serbu berkudanya.

Terlihat pada cuplikannya, beberapa karakter yang memiliki pistol, senapan serbu, serta rompi kevlarnya. Mereka bahkan sempat memasang ranjau darat, demi menghalau kejaran pasukan berkuda. 

Okeh, saatnya mengecek sinopsisnya saja.

Sinopsis Film Back To The Past

Hong Siu-lung (Louis Koo) adalah mantan pasukan modern China, yang terjebak di jaman kerajaan Dinasty Qin, selama 20 tahun lamanya. Dirinya sempat melalui perjalanan waktu ke masa lampau, demi sebuah misi yang merubah sejarah.

Selama 20 tahun berada di lokasi pengasingan, dirinya sudah cukup terbiasa hidup ala jaman kerajaan. Lokasi tersebut sengaja dibangun demi memantau keadaan Hong, dengan wacana dari Kaisar Qin (Raymond Lam Fung). 

Sebenarnya, keanehan kisah 'isekai' Hong telah dipantau lama, sehingga Kaisar Qin penasaran dengan keberadaannya. Selama beberapa tahun awal tibanya Hong di Dinasti Qin, Kaisar sempat belajar banyak hal tentang perkembangan jaman di China dari Hong.

Hingga tepat tahun ke-20 sejak Hong tinggal, ternyata tiba kabar lainnya yang cukup mencengangkan seantero kerajaan. Kaisar Qin disergap oleh sekelompok pasukan, yang memiliki persenjataan (modern) sama dengan Hong. Hong dan Kaisar Qin pun perlu merencanakan bersama, agar dapat menghalau pasukan tersebut, yang tampaknya memiliki misi sama dengan Hong, 20 tahun lalu.

Sanggupkah Hong menghalau serangan pasukan modern? Atau malah tergiur untuk kembali ke masanya? Dan bahkan mencoba membereskan misi aslinya, sebelum tinggal nyaman di Dinasti Qin?

Jawabannya, tentu ada di sinema aksi kungfu ala Indonesia.

Chris Pratt Melawan Kecerdasan Buatan di Film Mercy

 

Chris yang terjebak kreasinya sendiri (IMDB).

Daaan seperti biasanya, ranah Hollywood pun kembali meramaikan ngerinya AI di film terbarunya berjudul Mercy, yang tayang di sinema Indonesia. Film yang diisi oleh Chris Pratt ini, memiliki rating R13, alias untuk remaja. 

Pada cuplikannya, film ini menyajikan aksi dan ketegangan berbeda, karena memiliki format cerita maju-mundur (alias banyak flashback), akibat tokoh utamanya yang terjebak dalam persidangan khusus AI.

Sedikit Kisah AI dari Ranah Hollywood

Memang, jaman AI kali ini perlu ditelaah dari segi urusan keamanannya. Seperti sebelumnya di film ala nusantara berjudul Esok Tanpa Ibu, beberapa masalah yang mengganggu manusia dapat terjadi akibat AI.

Jika ditelaah dari segi ranah film Hollywood, kisah AI yang agak rusak ini memang dimulai kembali sejak film futuristik, berjudul Deus Ex Machina di tahun 2016 lalu. Walau arti harfiahnya adalah plot armor, tetapi film ini bertema mengenai tentang perkembangan AI, hingga bisa berupa seorang robot.

Nah di film ini, AI yang sudah berbentuk robot ternyata sanggup mengembangkan kepribadiannya sendiri. Hingga akhirnya terjadi ketegangan antara kreatornya, satu jurnalis, dan beberapa AI berbentuk robot wanita. Cek saja bagaimana tegangnya tersebut, karena memang film ini lebih ke drama dan horor sekaligus.

Daaan, tentu tidak cocok rasanya membahas tema rusaknya AI, tanpa mengacu pada satu waralaba film yang meramaikannya, yaitu Terminator (1984, 1991, 2003, 2009, 2015, 2019). Ya, film yang khas dengan Arnold Schwarzenegger ini, memang awalnya mengisahkan tentang kekisruhan dunia akibat AI.

Sejak film awalnya di tahun 1984, memang mengisahkan sedikit bumbu perjalanan waktu, namun tetap berfokus pada AI, dengan sinkronnya para robot pembasmi, bernama Terminator. 

Kacaunya dunia di film Terminator, akibat kecerdasan buatan bernama Skynet, yang malah memberontak dan meretas senjata nuklir sedunia. Banyak lokasi di dunia, kini menjadi puing akibat radiasi nuklir, dan dijajah oleh robot humanoid bernama Terminator dari Skynet.

Dari segitu saja, sudah jelas bagaimana besarnya resiko aplikasi AI, yang tentu dijabarkan dengan heboh dalam film ini. Memang di film Terminator, AI sebenarnya dikembangkan demi keamanan negara, alias program eksperimen persenjataan dari Kementerian Keamanan Nasional AS. 

Kembali ke film Mercy, AI yang ditampilkan disini sudah memiliki kuasa tersendiri, bahkan hingga setara hukum. Ya, film ini mengacu pada sebuah program AI, yang memiliki posisi sebagai Hakim, Jaksa, dan Juri sekaligus dalam sistem peradilan hukum di AS. 

Dari cuplikannya pun terlihat, bahwa AS sudah dalam tahap dystopia, namun justru ditanggulangi oleh pemerintah yang totalitarian. Seluruh fungsi pengawasan dan pemantauan publik, dilaksanakan melalui ponsel, kamera pengawas, drone, dan bahkan pindaian satelit, oleh pemerintahnya.

Sinopsis Film Mercy

Keadaan di AS sudah kacau balau, dengan tingginya aksi kriminalitas dan kesenggangan sosial yang sangat berbahaya. Namun, pemerintahnya justru menerapkan pemantauan publik yang menyeluruh. 

Bahkan, pemerintah perlu mengembangkan sistem hukum AI, yang bernama Hakim Maddox (Rebecca Ferguson). Detektif bernama Chris Raven (Chris Pratt) adalah salah seorang anggota kepolisian, yang turut berkontribusi saat mengembangkan program AI berkuasa hukum ini.

Program ini didesain demi menyambungkan seluruh bukti dari pantauan ponsel, kamera pengawas, drone, pindaian satelit, serta kuasa hukum miliknya, dalam menyidang dan mengeksekusi langsung terdakwa. 

Sayangnya, justru Chris yang terjebak dalam sistem ini, akibat disangka membunuh istrinya sendiri. Chris yang tidak ingin mengalah begitu saja, hanya memiliki waktu 90 menit demi membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah.

Chris pun teringat, bahwa awal kisruh tersebut dimulai saat dirinya tengah melacak keberadaan bom besar, yang dikirimkan melalui sebuah truk trailer. Kasus tersebut memang berakhir buruk, sehingga banyak pihak keamanan kehilangan nyawa.

Chris yang tahu seluk-beluk Hakim Maddox, akhirnya mencoba bekerjasama, demi melacak petunjuk yang hilang dari kasus tersebut, sekaligus membuktikan dirinya tidak bersalah atas pembunuhan istrinya.

Sanggupkan Chris melalui seluruh proses sidang ? Atau malah terpaksa mengaku atas kasus ini? Dan malah, hancur sendiri akibat konspirasi besar dibaliknya?

Jawabannya, tentu ada di drama hukum ala sinema Indonesia.

20 Januari 2026

Sedihnya Ngobrol Dengan AI Ala Film Esok Tanpa Ibu

 

Sekeluarga yang masih lengkap (TMDB).

Nah, saatnya kembali ke jaman saat ini, yang lebih kentara dengan AI-nya, ala film Nusantara berjudul Esok Tanpa Ibu, yang tayang di banyak sinema Indonesia.

Kali ini, banyak aktor yang mengisinya pun berasa mega bintang, yaitu Ringgo Agus Rahman (yang kembali mengisahkan drama keluarga), Dian Sastrowardoyo (yang memang ahli dalam film drama). Keduanya ditemani oleh duo aktris-aktor muda yang tengah naik daun, yaitu Ali Fikry dan Aisha Nurra Datau. 

Sinopsis film ini memang mengisahkan cerita futuristik, tidak seperti kebanyakan film drama Indonesia. Ya, film Esok Tanpa Ibu ini mengisahkan tentang kecerdasan buatan (AI), yang kini sedang ramai digemari oleh banyak remaja dan pemuda-pemudi Indonesia. Ratingnya pun disesuaikan, yaitu untuk remaja (R13) keatas.

Sekilas tentang AI dan Remaja

Mengenai kisah perkembangan AI-nya itu sendiri, khususnya di kalangan warga yang mudah mengaksesnya, adalah sejak munculnya Siri di iPhone 4s dari Apple, pada tahun 2011 lalu. Siri memang dikenal sebagai asisten pribadi, tetapi karena keterbatasan spek ponsel, tidak membuka banyak peluang bagi pengembangan AI.

Lalu loncat ke 11 tahun berikutnya, ChatGPT dari OpenAI meramaikan ranah kecerdasan buatan di ponsel, pada tahun 2022 lalu. Banyak perusahaan lain, contohnya adalah raksasa Google, merilis pula Gemini untuk ponsel androidnya. Bahkan, sejak tahun 2022 hingga sekarang, bisa disebut sebagai jamannya balapan bagi para developer IT, untuk mengembangkan teknologi berbasis AI.

Nah (lagi), kini saatnya di tahun 2026 dengan hingar-bingar dari dunia AI di tahun sebelumnya, tampaknya perlu ditelaah dari segi efeknya bagi remaja. Beberapa kampus dan sekolah bahkan sempat mencanangkan Kurikulum Berbasis AI sebagai bagian dari pendidikannya. 

Namun, karena penulis sendiri (selalu) skeptis dengan AI, dan paham dengan perbedaannya bagi perkembangan anak, maka dilansirkan saja beberapa info dari pemerhati pendidikan. Penulis skeptis, karena AI lebih cocok dipakai oleh kaum tekno, yang sanggup memahami dan mengopreknya langsung, daripada dipakai sehari-hari. Apalagi, banyak gawean manual yang harus dikerjakan manusia. 

Terdapat pula beberapa kasus berujung kehilangan nyawa di luar sana, yang menyangkut hubungan langsung antara AI dan remaja. Berbagai kasus tersebut, adalah satu anomali, yang sempat mempengaruhi perkembangan anak akibat AI.

Bahkan menurut GentaQurani, yang melansir dari penelitian di kampus Universitas Gajah Mada (UGM), dengan melansir kajian oleh Guru Besar Prof. Ridi Ferdiana, menyatakan bahwa 77 persen generasi milenial hingga gen Z menggunakan AI dalam kesehariannya. Sementara 45 ribu dari 60 ribu mahasiswa di UGM, telah menggunakan AI secara intensif.

Sisi terang AI dalam keseharian remaja dan pemuda, adalah sebagai teman belajar yang cerdas. AI dapat menjadi sahabat belajar yang luar biasa bagi anak. Fitur guided learning dari Gemini AI, dapat membantu pelajar untuk memahami konsep mata pelajaran hingga kuliah.

Dengan begitu, seperti dilansir dari DCloud, hubungan remaja dan AI harus meliputi beberapa faktor. Diantaranya adalah pendidikan literasi digital, peningkatan kesadaran etika AI, pengawasan dan pendampingan, kurikulum berbasis AI di pendidikan, regulasi dan kebijakan yang mendukung, serta kerjasama antara industri dan pemerintah.

Namun kembali UGM, Prof. Ridi menyatakan beberapa resiko mengenai penerapan AI yang intensif. Diantaraya kemampuan berpikir kritis dan analisis menurun, sehingga tidak dapat menyelesaikan masalah secara mandiri. Daya ingat akan melemah, akibat mudahnya mencari informasi. Serta efek yang dikenal ramai sebagai brain rot, alias kondisi otak yang tumpul.

Kisah Ado yang Terinspirasi oleh AI bernama Hatsune Miku

Walau begitu, daripada membahas kisah mengerikan tentang AI, dan membahas acuan terpenting digital mengenainya, maka perlu dikenal pula dari segi lainnya, yaitu dunia hiburan. Kenapa? Karena blog ini memang berisi dunia seni hiburan, khususnya film dan banyak kisah berbudaya lainnya.

Dari segi ini, memang sedang kisruh dengan Hak Cipta dan urusan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) akibat AI, terdapat secercah harapan dari ranah lainnya. 

Yaitu, dengan mengacu pada seorang penyanyi terkenal bernama Ado, yang kini tengah ramai dibincangkan di ranah digital, dunia nyata Jepang, dan dunia musik internasional. Penyanyi ini seperti gabungan Vtuber dan Idol ala Jepang, namun dengan bumbu horor ala Gadis Gothik (GeGe). Namun, lagu dan vokalnya memang cukup kuat, sehingga layak disebut sebagai Diva dari Jepang. 

Nah, Ado ini sebenarnya mengidolakan Hatsune Miku sejak remaja, yang memberi inspirasi karirnya sebagai penyanyi di Jepang. Telah debut sejak tahun 2020 lalu, kini di tahun 2026, Ado sebenarnya baru berumur 23 tahun! Sebelum dia debut, Ado adalah bagian dari Utaite, yaitu semacam e-girl yang suka meng-cover lagu.

Okeh, tentunya cukup mengerti bahwa kisah ini, berarti sebuah cerita berbeda, bagaimana seorang penyanyi yang kuat meraih mimpinya berkat bantuan AI, dan berakhir sebagai Diva di Jepang. Ado bahkan sempat menyatakan, bahwa masa remaja dirinya, sering diisi dengan menonton Hatsune Miku pada konsol DS-nya.

Nah, karena sudah panjang lebar, dan akhirnya kembali ke dunia hiburan juga, maka coba kita cek saja sinopsis film Esok Tanpa Ibu. Perlu penulis tegaskan, isu sosial semacam ini memang sudah dikaji oleh banyak profesional. Sehingga, perlu diadaptasi pula sebagai bagian dari sebuah film, baik itu untuk hiburan, maupun meningkatkan kesadaran warga.

Sinopsis Film Esok Tanpa Ibu

Rama (Ali Fikry) adalah seorang remaja yang aktif, namun hanya dekat dengan ibunya saja, Laras (Dian Sastrowardoyo). Rama sering curhat dengan Laras, mengenai dirinya yang kurang dekat dengan ayahnya sendiri, yaitu Hendi (Ringgo Agus Rahman). Karena itu, ibunya yang kocak serta sering bercerita, menjadi bahan keseharian Rama.

Namun, suatu hari Laras mengalami kecelakaan, yang berakibat dirinya harus dirawat dan koma di rumah sakit. Rama yang memang sangat dekat dengan ibunya, merasa kehilangan minat untuk berdiam diri di rumah. Hubungan dirinya dengan Hendi, malah semakin kurang harmonis.

Suatu hari, Rama berkunjung ke rumah temannya, Zyla (Aisha Nurra Datau) yang lihai dalam hal Teknologi Informatika. Zyla menyarakan, untuk mengunggah seluruh video Laras, kedalam mesin kecerdasan buatan miliknya. Dengan begitu, Rama masih bisa mengobrol dengan ibunya.

Keseharian Rama pun diisi kembali dengan hadirnya Laras, walau dalam bentuk digital, pada gawai jam tangan pintar maupun komputernya. Namun, Hendi tidak menyukai Laras versi AI, dan mencoba membongkar instalasi tersebut dirumahnya. Rama dan Hendi sempat bersitegang, hingga akhirnya satu instalasi monitor besar, secara kebetulan memunculkan sosok Laras yang sehat walafiat.

Dapatkan keluarga ini menerima kehadiran AI bersosok ibu? Atau malah semakin galau dalam menunggu kesembuhan Laras di rumah sakit? 

Jawabannya, tentu ada di ranah kecerdasan buatan ala sinema Indonesia.