12 Januari 2026

Lucu-lucuan Penguin Korea Ala Film Pororo The Movie: Sweet Castle Adventure

 

Pororo dan banyak kawannya (TMDB).

Daaaan, masih ada satu lagi film bagi anak (alias ratingnya Semua Umur) di minggu ketiga bulan Januari 2026 ini, berjudul Pororo The Movie: Sweet Castle Adventure, yang sedang tayang di sinema-sinema Indonesia.

Kali ini, Pororo adalah sejenis karakter animasi dari Korea Selatan sana, yang berbentuk Penguin, lengkap dengan topi pilot dan kacamatanya. Inovasi karakter Pororo cukup mendunia, yang merupakan awal kebangkitan budaya seni populer dari Korea Selatan, hingga sanggup menyaingi Hello Kitty dari Jepang, Mickey Mouse dari AS, dan Smurfs dari Eropa.

Bagi para penggemar film, tentu dapat mengingat bangkitnya Korea Selatan dengan pop-dansanya yang sempat merajai awal tahun 2010an lalu. Filmnya pun sangat berkelas ala film produksi Hollywood, walau cukup jarang mengemukakan khas budayanya sendiri.

Pororo adalah pionir dari kebangkitan tersebut. Bahkan hingga sekarang, sebanyak delapan musim kartun animasi telah ditelurkan, dari tahun 2003, 2005, 2009, 2012, 2014, 2016, 2020, dan 2023. Filmnya bahkan mencapai 12 banyaknya, yaitu pas tahun 2004, 2011, 2012, 2013, 2014, 2015, 2017, 2019, 2022, 2022, 2023, dan 2025. Tentunya, film berjudul Sweet Castle Adventure ini, adalah film ke 13-nya.

Masih banyak karya lainnya yang mengikutsertakan Pororo dan kawan-kawannya, namun ikoniknya penguin berwarna biru ini tidak hanya dari segi kelucuannya saja. Pororo diproduksi dengan menghilangkan bias budaya dan referensi sejarah, sehingga cukup familiar di seluruh belahan dunia. 

Selain itu, sejak awal, Pororo didesain untuk anak berumur 4 hingga 7 tahun, yang mengenalkan berbagai sikap, norma, moral, banyak nilai edukasi (alias life skill). Pada saat awal penayangannya di Korea Selatan, banyak anak di Korea Selatan mengikuti gaya Pororo saat mengangkat tangan untuk menyeberang jalan, makan dengan dikunyah 30 kali, mencuci tangan, dan berbagai 'nilai keseharian' lainnya.

Orangtua dari Korea Selatan yang menyukai karakter Pororo, saat itu menyarankan Iconix Entertainment sebagai studio produksi, dalam memasukkan adegan tersebut pada setiap episodenya. Iconix pun setuju, sehingga timbal-balik antara hiburan dan edukasi, khususnya pada anak Korea Selatan, semakin terjalin dengan baik.

Sinopsis Film Pororo The Movie: Sweet Castle Adventure

Kali ini, dunia Pororo sedang dalam musim dingin dan menjelang perayaan Natal. Di Kerajaan Dessert, sedang diadakan kompetisi memasak kue. Pemenangnya, akan mendapatkan lapisan topping dari Sinterklas.

Pororo dan kawan-kawannya yang kebetulan bertemu Sinterklas di jalan, akhirnya diminta untuk mengirimkan piala topping tersebut kepada Ratu di Kerajaan Dessert. Petualangan baru mereka pun dimulai, sambil menikmati momen di musim dingin. 

Namun, saat akan menyerahkan piala tersebut di Kerajaan Dessert, seorang tokoh produsen cokelat bernama Leo No. 5 menghalau mereka. Leo tidak rela, kompetisi dilaksanakan tanpa kehadiran cokelat buatannya. Pororo pun perlu mengamankan piala tersebut, sambil menghindari kejaran Leo.

Amankah kompetisi ini dengan perayaan musim dinginnya di Kerajaan Dessert? Jawabannya, tentu dapat disaksikan di keberagaman kue ala sinema Indonesia.

Jackie Chan Akhirnya Merasa Sepuh di Film Unexpected Family

Sepuh Jackie yang akhirnya istirahat (TMDB).

Okeh, saatnya melanjutkan animo film keluarga di awal tahun 2026, dengan ikut membahas The Man, The Myth, and The Legend Himself, Jackie Chan, dalam film sepuhnya berjudul Unexpected FamilyRemaja dan lebih tua, dapat menonton film ini karena rating umurnya adalah R13.

Film yang akan tayang di banyak sinema Indonesia ini, memang berbeda dengan mayoritas karya Jackie Chan, yang biasanya mengutamakan adu gelut beladiri. Kini, sang sepuh kembali sadar bahwa dirinya telah berumur 71 tahun, dengan berperan sebagai kakek tua di film Unexpected Family.

Karir Jackie Chan

Sebelum membahas lebih jauh filmnya, perlu diingat karir Jackie Chan yang telah melanglangbuana sejak tahun 70an hingga sekarang. 

Jackie pertama kali berperan sebagai pemeran ganda di film Bruce Lee terdahulu, berjudul Fist of Fury, tepatnya tahun 1972. Setelahnya pada tahun 1973, film Enter The Dragon menjadi langkah pro keduanya dalam film beladiri. Dari situ, Jackie mulai dikenal sebagai ahli beladiri yang cekatan di ranah perfilman HongKong.

Jackie bahkan sempat digadang sebagai penerus Bruce Lee, dengan direkrut oleh sutradara terkenal Willie Chan, yang berhasil menelurkan New Fist of Fury (1976). Namun, film ini gagal di sinema dan tidak cocok dengan gaya akting Jackie Chan.

Dua tahun berikutnya, tepatnya tahun 1978, Jackie Chan berperan dalam film Snake in Eagle's Shadow dan Drunken Master. Karena sutradara Yuen Woo-ping membebaskan gaya akting dan koreografi Jackie, maka hasilnya adalah sukses besar. Kedua film tersebut memulai jalur Jackie Chan sebagai aktor beladiri, namun berbumbu komedi.

Willie Chan yang sebelumnya berniat menciptakan Bruce Lee baru dalam tubuh Jackie Chan, akhirnya merasa cocok dengan gaya akting aslinya. Willie lalu turun berkecimpung sebagai manajer Jackie, selama 30 tahun lamanya. 

Dan kini, karir Jackie Chan sudah mencapai jangka 54 tahun lamanya, berjibaku sebagai aktor beladiri di puluhan film. Bahkan di tahun 2025 lalu, Jackie masih sempat berperan aksi dalam film Shadow's Edge pada bulan Agustus, dan sebagai sepuh dalam film Karate Kid: Legends pada bulan Mei.

Nah, akhirnya kembali ke film Unexpected Family, justru mengisahkan Jackie Chan yang berperan sebagai seorang kakek tua, yang sudah pikun dan sulit mengenali siapa keluarga atau tetangganya. 

Cocok memang, karena keterbatasan umur pun, sang legenda akhirnya berkarya tanpa aksi berlebihan lagi. Ditambah lagi, puluhan cedera telah menggerogoti tubuhnya sejak awal karir, yang entah sembuh sepenuhnya atau tidak, mungkin tetap menjangkit tubuh Jackie yang sudah sepuh.

Sinopsis Film Unexpected Family

Zhong Bufan (Peng Yuchang) baru saja melarikan diri dari kota kecil kediamannya, demi tinggal di ibukota Beijing. Tanpa arah yang jelas, kebetulan dia bertemu dengan kakek tua bernama Ren Jiqing (Jackie Chan), yang sudah pikun.

Ren yang ingatannya sudah campur aduk tidak jelas, malah mengira Zhong sebagai anaknya sendiri, yang telah lama tidak datang mengunjunginya. Serba salah, Zhong pun menghindari terus Ren, karena tidak ingin salah tanggap.

Sementara tetangga Ren yang tahu sikap nyentriknya, coba menghalau dirinya yang sering mengejar Zhong. Tetangga Ren memang sudah memaklumi, dirinya tinggal sendiri sudah lama, sementara ingatannya semakin kabur.

Namun, waktu berlalu cukup lambat, dan dedikasi Ren untuk terus menganggap Zhong sebagai anaknya, menyebabkan seluruh tetangganya terenyuh. Bahkan, seluruh tetangganya pun berinisiatif, untuk menemani Ren lebih dekat lagi, dengan berfokus pada Zhong sebagai anaknya.

Bagaimana akhir kisahnya? Dapat disaksikan ala panti jompo sinema Indonesia.

08 Januari 2026

Menjiwai Anime Ala Sutradara Makoto Shinkai

 

Akari yang sudah lama move-on (TMDB).

Daaan, akhirnya sampai di penghujung minggu dengan rangkaian kisah romansa menarik dari negeri Sakura sana, berjudul 5 Centimeters Per Second, yang tayang ulang di sinema Indonesia. Film ini diproduksi dengan arahan sutradara mantap bernama Makoto Shinkai, yang lihai membuat visual ciamik saat menjabarkan adegannya.

Penulis mau jujur, sebenarnya baru mengenal nama Makoto Shinkai, yang ternyata sering berkecimpung sebagai pemimpin produksi anime terkenal, dengan beberapa karya yang termasuk favorit saya (alias sempat ditonton).

Diantaranya adalah Byosoku 5 Senchimetoru (5 Centimeters Per Second; 2007), Kotonoha no Niwa (Garden of Words; 2013), Kimi no Nawa (Your Name; 2016) dan Tenki no Ko (Weathering with You; 2019). Seluruh anime ini, bisa dinikmati oleh rating umur Remaja (R13) keatas.

Arahan Makoto Shinkai pada setiap film anime-nya, khas dengan referensi lokasi langsung di dunia nyata. Lalu, digambarkan dengan indah ala anime, sebagai bagian adegan filmnya. Cukup sinkron memang, padahal banyak kisah filmnya kurang mudah dicerna.

Karena itu, di artikel pertama Monsterisasi ini, saya coba membahas seluruh 'Penjiwaan' berbagai film ini, yang ternyata cukup dalam. Mengingatkan pula, bahwa artikel Monsterisasi di blog ini adalah sejenis istilah (yang penulis kreasi sendiri) untuk mengenal penggambaran non-harfiah, dari karya seni tersebut.

Lokasi sebuah perlintasan rel (TMDB).

Byosoku 5 Senchimetoru (5 Centimeters Per Second; 2007)

Ya, mulai saja dengan film yang paling sulit dianalisis, sekaligus akan tayang di sinema Indonesia, akhir minggu ini. Memang sulit dianalisa, karena film Byosoku ini cukup realistis (P). Mungkin, satu anime Romansa paling realistis yang pernah saya tonton sendiri (agak relate kali ya?).

Pokoknya, bagaimanapun plot utama, adegan, dan jalan cerita yang terjalin dalam film anime ini, tonton saja sampai akhir. Film ini memang mengisahkan, hubungan jarak jauh (LDR), antara Takaki (Kenji Misuhashi) dan Akari (Yoshimi Kondou & Ayaka Onoue). Keduanya harus berjibaku, dengan perbedaan jarak, ruang dan waktu. Serta, keduanya hanya dapat berkomunikasi melalui media surat menyurat, dan ponsel saja.

Penulis bisa merekomendasikan, satu lagu di akhir film, yang terlihat layaknya credit song. Padahal, jika ditonton animasinya secara mendetail (saat lagu masih berlangsung) , maka terjawab sudah maksud cerita sejak awal film, hingga berakhir.

Takao dan Yukino yang masih terjebak hujan (TMDB).

Kotonoha no Niwa (Garden of Words; 2013)

Okeh, berlanjut ke Kotonoha no Niwa, yang memang lebih jelas dan dalam lagi penggambarannya, padahal hanya berdurasi kurang dari satu jam saja, sama seperti film sebelumnya.

Terlihat dalam adegannya, bahwa Takao (Miyu Irino) yang terjebak hujan saat berangkat sekolah, dan perlu berteduh di sebuah gazebo taman. Disana, dia bertemu dengan Yukino (Kana Hanazawa), seorang guru muda yang terlambat pula saat berangkat sekolah.

Dari situ, keduanya berkenalan, dan saling memahami profesi masing-masing. Takao bahkan berselirih, bahwa dirinya tidak begitu peduli dengan sekolah, dan bermimpi untuk bekerja sebagai seorang perajin sepatu. Sementara Yukino, tercengang dan kagum atas dedikasi Takao, setelah melihat katalog serta beberapa hasil karyanya.

Nah, tampaknya untuk menelaah kisah ini, perlu langsung mengacu ke istilah atau peribahasa bule, yang berselirih 'Someone's Shoes.' Arti dari istilah ini, adalah profesi seseorang dan segala keahliannya. 

Segitu saja sudah cukup jelas, bahwa Takao adalah seorang perajin sepatu, yang bersemangat untuk memberikan dasar langkah seseorang. Sementara Yukino adalah seorang guru, yang bertanggung jawab untuk membantu muridnya, dalam memiliki 'sepatu' tersebut, lalu melangkah maju menuju profesi masing-masing.

Ada satu adegan lagi, dimana Yukino yang penasaran dengan kemampuan Takao, lalu mencoba salah satu sepatu karyanya. Layaknya adegan dongeng terdahulu, bukannya maksud ini seperti kisah Cinderella, yang fokus pada sepasang sepatu? Apalagi, dengan referensi peribahasa dari Eropa itu sendiri, yang menguatkan gambaran dan maksud film ini.

Bahkan, bagi yang sudah cukup paham mengenai dua poin tersebut, kenapa tidak coba cek judulnya saja sekalian? Judulnya saja sudah Garden of Words, yang berarti Taman Kata-Kata. Maksud yang sudah sangat kentara, bahwa komunikasi antara guru dan murid, serta Kegiatan Belajar dan Mengajar, layaknya momen mengurus taman, beserta banyak tanaman, bunga, serta serangganya (^^).

Pertemuan keduanya pun selalu terjadi saat hujan deras tiba, sehingga keduanya 'terpaksa' telat ke sekolah. Air hujan, atau air pada umumnya, tentu sebuah 'nutrisi kesegaran' khusus, bagi siklus fotosintesis ala tanaman yang tumbuh.

Taki dan Mitsuha yang entah kenapa dipertemukan (TMDB).

Kimi no Nawa (Your Name; 2016)

Dan, berikutnya adalah anime yang begitu melejit nama Makoto Shinkai sebagai sutradara ciamik sedunia, dengan anime berjudul Kimi no Nawa. Penulis hanya bisa mengacu pada dua hal saja mengenai anime Romansa meriah ini, yaitu konsep Waktu dan Proses Berimajinasi.

Plot utama Kimi no Nawa, adalah saat Taki (Ryunosuke Kamiki) yang terbalik tubuhnya dengan Mitsuha (Mone Kamishiraishi). Keduanya pun ternyata berbeda waktu, karena kota hunian Mitsuha bernama Itomori, kondisinya telah berbeda dari sudut pandang Taki. Padahal, Itomori terus diceritakan selama anime berlangsung.

Dari situ, penulis langsung beranggapan, bahwa fantasi dalam film ini, memang tidak bisa dianggap harfiah lagi. Konsep waktu dalam Kimi no Nawa, kentara terasa perbedaannya. Jadi, jika ditelaah secara visual animenya, maka hasilnya adalah hubungan manusiawi yang cukup lekat, yaitu proses imajinasi di organ Otak.

Bayangkan saja, saat sepasang insan mengobrol berdua di sebuah kafe, sambil ngemil dan minum jus. Saat itu, sang cewek, alias Mitsuha, berselirih tentang kondisi kotanya dahulu, sebelum dia pindah ke kota hunian, dimana dia bertemu dengan sang cowok, alias Taki.

Mitsuha lalu mulai menjelaskan, bagaimana kondisi kota Itomori, saat dia masih tinggal disitu. Taki yang belum pernah berkunjung ke kota tersebut, dan tidak bisa mengeceknya karena kotanya sudah berbeda, akhirnya merangsang area visual korteks posterior di otak. Dengan begitu, Taki sanggup berimajinasi mengenai gambaran kota yang diceritakan Taki.

Sementara dari Mitsuha-nya sendiri, dia sanggup memiliki visual yang lebih tepat, karena memang dia tinggal dan melihat langsung seluruh momen di Itomori. 

Nah, dari hasil imajinasi sepasang insan tersebut, jika tercampur, maka akan saling berjumpalitan visualnya. Layaknya kedua manusia yang tengah mengobrol, maka visual yang muncul akan variatif, sesuai persepsi masing-masing.

Durasinya juga mirip, loh. Yaitu hampir dua jam lamanya, yang berarti waktu yang cukup untuk ngobrol ngalor-ngidul antar sepasang muda-mudi, di sebuah momen tertentu. Jadi menurut penulis, Kimi no Nawa mengisahkan secara abstrak, romansa apa yang terjadi diantara kedua insan manusia.

Hodaka dan Hina yang masih sanggup melihat keadaan (TMDB). 

Tenki no Ko (Weathering with You; 2019)

Oh ya, jujur saja (lagi), sebenarnya penulis baru menonton film Tenki no Ko saat tahun 2025 kemarin, hehe. Penulis memang terbiasa menghindari kisah Romansa dari Jepang sana, yang memang suka mendalam ceritanya. Biasanya sih, paling nonton anime horor atau Seinen, dan kadang Shonen.

Okeh, kembali ke Anime Tenki no Ko, yang menurut penulis lebih mengisahkan sebuah konsep utama lainnya, yaitu Ruang. Kali ini, tentu lebih kentara lagi penggambarannya, dengan berfokus pada satu lokasi kota, yaitu ibukota Tokyo yang sedang mengalami cuaca ekstrem.

Tenki no Ko, mengisahkan tentang Hodaka (Kotaro Daigo), yang baru melarikan diri dari kota kediamannya, dan memilih hidup di Tokyo. Kebetulan Hodaka bertemu dengan Hina (Nana Mori), seorang gadis cuaca sekaligus legenda urban, di atap gedung tua yang lengkap dengan gerbang Tori-nya.

Dari situ saja, konsep ruang sudah terlihat jelas, dengan adegan di atap gedung tua terbengkalai, dan gerbang Tori. Gerbang semacam ini, biasa ditempatkan sebagai Gapura masuk kuil Shinto, dan cukup dikeramatkan. Namun, jika gedung, gerbang, serta lokasinya saja sudah terbengkalai, maka kuil yang ada didalamnya sudah tidak digunakan kembali, alias angker. Di anime ini, tidak ada kuilnya.

Tenki no Ko berarti coba menggambarkan, bahwa diantara perkembangan jaman modern yang maju di Jepang, dengan sistem kepercayaan tradisional sudah mulai dilupakan. Layaknya, gedung tua serta gerbang Tori tersebut.

Lalu meloncat ke akhir film, dimana akhirnya Tokyo terendam banjir, mirip dengan julukan lamanya, yaitu Venice dari Asia. Salah seorang karakter dalam film ini, yaitu seorang nenek, berselirih bahwa Tokyo layaknya kembali ke jaman Edo, alias 200 tahun lalu, sekitar tahun 1868.  

Maka, akhir film menggambarkan, bahwa Tokyo sebenarnya kembali ke jaman tersebut. Yaitu, awal mula kota dengan banyak kanal ini, hingga dikenal sebagai Venice dari Asia.

Menurut penulis sendiri, walau Tokyo sedang mengalami banjir sebagai bencana dahsyat, ternyata hanya sebuah siklus saja. Bahkan, dokumentasi sejarah cukup menunjukkan, bahwa Tokyo memang belum pernah 'sekering' itu, sejak 200 tahun lalu. Bisa disebut sebagai perubahan geografis, namun tetap saja, 'ruangnya' malah kembali ke bentuk sebelumnya.

Okeh, tampaknya segitu saja. Ciao. 

07 Januari 2026

Repotnya Mengurus Prasmanan Ala Film Uang Passolo

Biba dan Rizky yang masih terbebani (TMDB).

Berikutnya, adalah film drama keluarga Indonesia yang lebih mengena lagi, berjudul Uang Passolo, yang tengah tayang di sinema Indonesia, dengan rating umur cukup membahana, yaitu R13 (Remaja).

Berbeda dengan ketiga film sebelumnya di minggu ini, Uang Passolo cukup mengingatkan, bagaimana drama paling mudah ditemui di keseharian, yaitu saat repotnya mengurus Prasmanan Pernikahan anggota keluarga. Tentu, bukan maksudnya kawin dan kawin lagi ala film lain, tetapi bagi yang sudah merasakan atau tidak, tentu ingat hiruk-pikuknya melaksanakan acara pernikahan. 

Oh ya, menariknya film Uang Passolo ini, mengadaptasi budaya Indonesia wilayah Timur, khususnya di Sulawesi, dengan gaya komedi khas dari sana. Tetapi, jika ditelaah kembali, justru keadaan seperti ini lumrah di seluruh Nusantara. Uang Passolo pun artinya uang Prasmanan, yang biasa berada dalam sebuah amplop, dan diberikan saat pengunjung tiba di meja tamu saat acara berlangsung.

Perlu diingat, budaya kekeluargaan di Indonesia, yang begitu lekat hingga leburnya istilah besan, dan cocok sebagai bagian dari keluarga besar. Budaya kekeluargaan tersebut, mengacu pula saat seorang anggota keluarga, menjelang pernikahan mereka. Tentu, seluruh keluarga besar ingin acara tersebut dimeriahkan.

Bahkan, jika mengingat budaya arisan keluarga Indonesia, momen pernikahan menjadi satu tahap dimana seluruh anggota keluarga, berkontribusi langsung. Tergantung dari budaya persukuannya, dan tradisi keluarga itu sendiri, maka keluarga besar tentu turun membantu dalam segi biaya dan persiapan lainnya.

Apalagi, momen tersebut kadang berujung hutang besar, kepada keluarga besar. Tentu, banyak yang tidak ingin terikat hutang sebesar itu, apalagi dengan urusan kedekatan keluarga pula. Namun, justru itulah menariknya. Bayangkan, tidak mirip film dan sinetron Indonesia yang mengedepankan kawin-cerai serta poligami, justru stigma buruk tersebut sangat melekat dalam budaya kekeluargaan Nusantara.

Istilahnya, budaya Nusantara sangat tidak menyukai kawin-cerai atau poligami, karena menjunjung tinggi asas kekeluargaan. Bahkan tidak hanya sebagai norma sehari-hari, namun ditunjukkan saat momen pernikahan, saat seluruh keluarga besar tidak hanya berkumpul, tetapi langsung berkontribusi.

Tentunya, momen pernikahan memang mengundang pula tetangga terdekat, keluarga besar lainnya, kenalan di pekerjaan, dan mungkin Para Pemburu Prasmanan sekaligus (Hehe).

Nah, justru karena hal tersebut, maka gengsi pernikahan semakin tinggi. Dan, penulis juga memiliki beberapa pengalaman aneh mengenai pernikahan di Nusantara. Bukan maksudnya membuka momen pribadi saat pernikahan, tetapi lebih mengemukakan tentang repotnya saat ada momen Prasmanan di jalan raya. 

Contohnya, saat sedang berlibur ke luar kota, yang memang saat itu tengah minggu liburan, kadang banyak jalan ditutupi oleh semacam area khusus. Ya, jalan tersebut ditutup karena sedang ada Prasmanan. Mobil serta motor harus berbalik, untuk melanjutkan perjalanan.

Kadang, momen tersebut tidak sepenuhnya memenuhi jalan raya. Tetapi, lokasi parkir yang sempit, serta banyaknya kendaraan yang perlu lewat, menyebabkan jalan yang macet parah. Belum lagi suara sound horeg yang keras, yang betulan meramaikan suasana jalan raya.

Ya, maklum saja kalau begitu, karena momen itu memang jarang dan cukup berharga. Pengemudi yang numpang lewat, mungkin sekalian saja menikmati, karena memang momen tersebut cukup langka terjadi, walau diundang sekali pun.

Okeh, saatnya kembali ke film Uang Passolo, yang jelas animonya mirip dengan acara kekeluargaan ala Nusantara ini. Oh ya, bahasanya pun khas dari Sulawesi sana, jadi siap saja untuk membaca terjemahannya.

Sinopsis Film Uang Passolo

Rizky (Imran Ismail) dan Biba (Masita Aspah) adalah sepasang muda-mudi yang siap menikah. Namun, keduanya justru ingin melaksanakan proses pernikahan yang sederhana, alias hanya mengundang keluarga besar saja.

Namun, orangtua dari kedua belah pihak, justru menolak acara sederhana tersebut. Mereka menginginkan anaknya melaksanakan acara pernikahan yang meriah, lengkap dengan undangan kepada ratusan tetangga dan kenalan.

Bahkan, Biba lebih miris lagi. Jika acara pernikahan besar jadi dilaksanakan, maka rumah ibunya digadai demi menutupi biaya. Sementara orangtua dari Rizky, berpendapat bahwa acara pernikahan yang besar undangannya, tidak hanya memperbanyak doa, namun menambah pula banyak berkah dan rezeki (langsung).

Pernikahan pasti tetap berlangsung, tetapi bagaimanakah caranya mereka semua mencapai tahap tersebut? Jawabannya, tentu dapat dicek melalui ritual pernikahan ala sinema Indonesia.

Makna Dibalik Horornya Film Malam 3 Yasinan

 

Keluarga Djoyodiredjo yang tengah berkabung (TMDB).

Sekarang, berlanjut menuju film keluarga berikutnya, walau lebih beratmosfer horor, ala film berjudul Malam 3 Yasinan, yang kini sedang tayang di sinema Indonesia, dengan rating umur D17 alias Dewasa.

Sebelumnya, saya perlu mengisahkan pula, satu posisi yang mengomentari film berjudul terlalu keagamaan ini. Sebenarnya telah beberapa kali saya sebagai penulis, menghindari film horor sejenis ini. Tetapi, jika ditelaah dari dasar ritualnya, dan dibandingkan dengan cuplikannya, maka khusus film ini cukup jelas dan bisa diangkat dalam artikel.

Memang, tradisi tahlilan, atau biasa disebut juga yasinan karena mengacu pada surah yang dibaca, bukanlah suatu bentuk tradisi asli Muslim. Tradisi semacam ini dilaksanakan sejak jaman terdahulu, demi berdoa kepada leluhur. Seperti dilansir dari Etnis, tradisi ini lalu bercampur akulturasi budayanya di Nusantara, khususnya Jawa, saat hadirnya Islam di Indonesia. 

Bahkan, ada satu organisasi Muslim bernama PERSIS, yang menolak sepenuhnya tradisi ini, karena bukanlah anjuran dari Islam. Tradisi ini dianggap akulturasi saja, dan bukanlah pedoman Syariah dari agamanya.

Dan kembali ke film Malam 3 Yasinan, maka penulis cukup mengerti, bahwa sineas perfilmannya mencoba mengangkat bahan horor yang cukup sesuai. Bahkan dalam beberapa poster filmnya, terlihat budaya Jawa yang kental, lengkap dengan Kupluk (Blangkon) dan nama keluarga khas dari Jawa.

Jika dibandingkan dengan film Nasional sejenis yang ikut mengadaptasi horornya budaya keagamaan Nusantara, justru Malam 3 Yasinan ini cukup sesuai dengan kondisi di ranah sosial masyarakat. 

Justru lebih parah di film lainnya, saat judul saja tidak sesuai dengan definisi dan deskripsi istilahnya sendiri. Malah bisa dibilang, tidak hanya menyepelekan, namun membodohi penontonnya, dengan salah arti dan makna. Bahkan, di beberapa adegan cuplikannya saja, tidak nyambung dengan judulnya sendiri (!)

Menurut penulis, justru film tersebut salah mengartikan, bahkan menyalahgunakan, wacana yang berasal dari Ensiklopedia. Contohnya adalah satu kalimat dari artikel di blog ini, berjudul Perubahan Dongeng di Abad 20 dan Perannya di Abad 21. Dari artikel yang diterjemahkan sesuai sumber aslinya ini, terdapat kalimat 'perubahan dan adaptasi tradisi tidak lagi dianggap sebagai merusak tatanan budaya.'

Dari situ saja, penulis sudah menganggap, bahwa perubahan yang diterapkan pada film, hanyalah arahan dari satu kalimat di Ensiklopedia saja. Sementara, mereka berkreasi dengan bebas tanpa arah yang jelas. Naudzubillah.

Sinopsis Film Malam 3 Yasinan

Samira (Shalom Razade), baru saja pulang ke kediaman keluarga besarnya, yang bernama Djoyodirejo. Kembalinya Samira, akibat saudari kembarnya, Sara, baru saja meninggal dunia dan segera dimakamkan. 

Selama ini, Samira memang tinggal jauh dari keluarga besar, akibat tekanan gengsi berlebihan sebagai keluarga ningrat, serta kompetisi antar keluarga Djoyodirejo. Padahal sebelumnya, keluarga ini sempat damai, (yang seperti dalam cuplikannya) dan sempat membuat video dokumenter dan foto bersama.

Namun, ternyata semenjak Samira tidak berada di rumah, keadaan banyak anggota Djoyodirejo memburuk seketika. Berbagai ketegangan berbeda, semakin meruak, dan berbeda dengan momen kehilangan seorang anggota keluarga.

Bahkan, kengerian ini muncul paling terasa, sesaat setelah ritual pemakaman Sara, yang dilanjutkan dengan tahlilan di rumah duka. Banyak kejadian mistis aneh, menerpa seluruh anggota keluarga Djoyodirejo, yang termasuk Samira itu sendiri.

Sanggupkah Samira menguak apa yang terjadi gerangan pada keluarganya? Atau malah terjerumus kembali dalam gelapnya kompetisi keluarga? Atau malah sosok Sara muncul kembali demi melindungi Samira seorang?

Jawabannya, tentu ada di ritual tradisi ala Sinema Indonesia.

Nah, dari segitu saja sudah cukup meyakinkan, bahwa film ini tidak menyalah-artikan syariah, serta mengedepankan ritual tradisi serta drama manusianya. Manusia tentu selalu dapat disalahkan, sementara budaya yang mengikat, justru memang disalah-gunakan oleh beberapa pihak.  

Okeh, Wassalam (lagi).

Mencari Tanah Harapan Baru di Film Greenland 2: Migration

 

Keluarga Garrity yang memilih migrasi (IMDB).

Okeh, berikutnya adalah film keluarga lainnya, namun dengan bumbu drama para penyintas bencana alam, berjudul Greenland 2: Migration, yang kini sedang tayang di sinema Indonesia, dengan rating R13 (Remaja).

Film ini tentu meramaikan kembali, ranah bencana alam dahsyat yang kurang diangkat oleh sineas perfilman dalam beberapa tahun terakhir. Mungkin, film ini mengingatkan tentang cuaca ekstrem, walau dalam filmnya lebih mengisahkan tentang jatuhnya komet di bumi, dan perubahan iklim setelahnya. Animo ini memang naik-turun dalam sejarah perfilman Hollywood. 

Pemainnya pun cukup mumpuni, yaitu Gerard Butler yang naik pamornya sejak film 300 (2006) terdahulu, dan Morena Baccarin yang ikut naik pamornya, sejak film Deadpool (2016).

Oh ya karena sedang membahas tentang bencana alam, coba cek film Spring dari tahun 2014 lalu. Yang paham, tentunya akan mengerti maksud film tersebut, walau mayoritasnya adegannya lebih menunjukkan horor-drama sekaligus.

Bagi yang kurang paham, mungkin nanti saya tulis di artikel Monsterisasi saja, ya...

Atmosfer Bencana Alam Dahsyat di Perfilman Hollywood

Perlu diingat, animo bencana komet dahsyat sebagai plot utama film, sempat ramai saat film Armageddon (1998) yang dirilis dengan penuh bintang, diantaranya Bruce Willis, Ben Affleck, Liv Tyler, Steve Buscemi, Owen Wilson, serta Ving Rhames. Bahkan, para penikmat film tentu masih mengingat, lagu latar berjudul Leaving On A Jetplane, dari penyanyi Chantal Kreavizuk.

Animo ini dilanjutkan kembali dalam film Deep Impact di tahun yang sama, dan masih berplot utama komet yang jatuh. Namun, dengan mengedepankan visual Tsunami yang melebihi tingginya gedung pencakar langit di New York, AS. Aktor pengisinya pun termasuk bintang, yang diantaranya adalah Morgan Freeman, Elijah Woods, and Jon Favreau.

Berikutnya adapula film Day After Tomorrow (2004), yang mengisahkan tentang dinginnya bumi setelah mencairnya kedua kutub bumi akibat pemanasan global. Film ini dibintangi pula oleh aktor ternama Jake Gyllenhaal.

Loncat beberapa tahun berikutnya, film berjudul 2012, dirilis pada tahun 2009. Film ini memang memanfaatkan ramainya teori kiamat bumi pada tahun 2012, padahal tahun tersebut adalah akhir dari kalender kuno milik Suku Maya terdahulu. 

Walau begitu, film ini sebenarnya mengacu pada patahan sesar di seluruh bumi, yang terpicu akibat masifnya pergeseran tektonik, dan menyebabkan bencana dahsyat di seluruh dunia. Aktor bintang yang mengisinya pun cukup terkenal, yaitu John Cusack, Woody Harelson, dan Chiwetel Ajiofor.

Animo yang sama pun dikembangkan kembali oleh film San Andreas (2015), yang diperankan oleh aktor Dwayne 'The Rock' Johnson, Paul Giamatti, dan Kylie Minogue. Berbeda dengan 2012, film ini lebih mengisahkan satu patahan sesar saja di California AS, yang memang bernama San Andreas.

Tahun 2022 lalu, sempat dirilis pula film yang mengisahkan tentang jatuhnya obyek antariksa menuju bumi, berjudul Moonfall. Walau berkisah fantasi ala sains-fiksi, namun cukup mantap dengan sepasang bintang ala Patrick Wilson dan Halle Berry.

Sinopsis Film Greenland (2020)

Okeh, dan tampaknya perlu kembali ke Greenland, yang disukai oleh penggemar dan kritikus film. Berbeda dengan daftar film diatas, justru film Greenland sangat berbumbu drama, dengan fokus karakter utama sebagai penyintas bencana. Tingkat bencana serta hingar-bingarnya kerusakan pun diminimalisir oleh film ini.

Tidak perlu mengisahkan terlalu banyak mengenai sinopsisnya, karena memang sengaja cuplikannya dibuat acak agar tidak membuka banyak plotnya. 

Disimpulkan sedikit saja, John Garrity (Gerard Butler) dan Allison Garrity (Morena Baccarin) adalah sepasang suami dan istri yang tengah mengadakan pesta di rumahnya bersama tetangga terdekat.

Namun, terdengar kabar berita komet bernama Clarke, yang akan tiba dalam waktu 24 jam di atmosfer bumi. Awalnya mereka menyepelekan, karena komet biasanya hancur sebelum menyentuh bumi. Namun, ketika anaknya yang bernama Nathan (Roger Dale Floyd) berteriak, mereka akhirnya dapat melihat langit yang berubah merah menyala.

Seluruh keluarga beserta tetangganya pun panik, dan dengan arahan dari berita tersebut, bergerak menuju lokasi bunker bagi penyintas di Greenland. Keluarga Garrity pun berjibaku hebat, melawan kemacetan, jatuhnya pecahan komet secara acak, brutalnya para penyintas yang depresi, serta tertahan oleh regu penyelamat yang sengaja memilah penyintas untuk dapat masuk bunker.

Bagi yang penasaran, dapat menyaksikan film pertama Greenland di banyak layanan siaran internet.  

Sinopsis Film Greenland 2: Migration

Dalam film keduanya, Allison, John, dan Nathan akhirnya berhasil memulai hidup baru di Greenland, setelah beberapa bulan tinggal dalam bunker, akibat bencana komet Clarke. Kini, keluarga Garrity telah bertahun-tahun lamanya selamat sejak jatuhnya komet, dan memulai hidup baru yang damai.

Namun, bumi memang sudah berubah sejak tibanya komet Clarke, dengan cuaca ekstrem yang terus mengancam planet ini. Tidak hanya bencana alam, ternyata kondisi alam yang berubah, menyebabkan Greenland sudah sulit ditinggali lagi. 

Sulitnya kondisi di Greenland, serta bencana alam ekstrem yang secara acak terus mengancam lokasi hunian, menyebabkan keluarga Garrity berinisiatif kembali. Ya, mereka mulai melaksanakan migrasi, demi menemukan tanah harapan baru. Tentu, yang dicari adalah lokasi layak untuk dapat ditinggali oleh manusia.

Dapatkah mereka menemukan kembali lahan yang cukup aman? Atau malah berujung petaka lainnya, seperti perjalanan pertama mereka menuju Greenland?

Jawabannya, tentu ada di siklus akhir dan awal dunia ala sinema Indonesia.

Sedikit Pendapat Akhir Dunia

Mengenai kisah akhir dunia, yang tentu banyak kisahnya dan kontroversinya, justru penulis ingin mengomentarinya dari segi para 'aktivis-nya.'

Terdapat beberapa kreator (di Internet), yang setiap merilis karya kontennya, terlalu mengedepankan kontroversi yang ada, layaknya bencana alam dan manusianya adalah suatu bentuk pro atau kontra.

Memang cukup bagus untuk meningkatkan pemantauan kita sebagai warga biasa. Namun, kontennya saja judulnya sudah click-bait, apalagi hingga rage-bait. Seakan, konten tersebut hanya ditujukan untuk memancing saja. Padahal kalau topiknya bencana alam, tentu dapat dicek dengan membaca beritanya, dokumenter berisi sainsnya, dan bahkan sedikit drama dari fiksinya.

Jadi, penulis hanya ingin mengomentari, bahwa konten seperti itu hanya dijadikan sebagai bahan obrolan saja, dengan para kreatornya yang jelas terlihat paranoid. Bahkan, penulis sempat menonton sebuah konten, yang jika ditelaah, tiga dari lima topik yang diutarakannya ternyata salah fakta dan data! Padahal, konten tersebut tidak mengomentari urusan Fiksi! Jadi, dimana sebenarnya kredibilitas mereka?

Lebih paranoid lagi, mereka layaknya seorang pemberontak, khususnya kepada 1 Persen Top Global, yang sudah dari jaman terdahulu, menjadi prioritas keamanan jika bencana alam dahsyat menimpa bumi. Terlalu paranoid-kah mereka? Menurut penulis sih iya, mereka paranoid. 

Kembali ke segi penulis sendiri, penulis menyimpulkan cuplikan dan referensi film seadanya, layaknya sastra dan seni yang memiliki penjiwaan tersendiri, dengan disandingkan ala balutan budaya yang ada. Jadi, berbeda dengan para 'influencer' ini, tulisan artikel saya memang lebih mirip sebuah bentuk studi dan penjiwaan, daripada dapat merubah pandangan para pembacanya.

Okeh, Wassalam.